Home » Cerita Seks Umum » Anak Nakal Season 2 BAB VII

Anak Nakal Season 2 BAB VII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB VI

BAB VII

Long Road for Love

Acara perkemahan Sabtu Minggu. Agak aneh saja karena entah bagaimaan Mas Faiz bisa ada di sana ikut sebagai panitia. Sebab aku tak pernah tahu kalau dia pernah ikutan ekskul pramuka. Perkemahan ini diselenggarakan di salah satu Bumi Perkemahan. Jangan harap deh seperti pegunungan atau hutan. Nggak. Ya namanya juga anak kota. Tapi memang ekskul kami setahun sekali mengadakan kemah ke salah satu pegunungan. Biasanya kemah akhir tahun. Karena ini perkemahan untuk anak kelas satu seperti aku yah, kemahnya ya di sini.

Agak lucu juga sih melihat Mas Faiz pakai baju pramuka dan menjadi seksi sibuk. Hihihi. Tapi semenjak jadian kita di malam itu, ia perhatiaaaaan banget. Sayaaaang banget ama aku. Dia saja bantuin aku bawa barang-barangku. Aku kemari nebeng dia pakai mobilnya. Dan selama perkemahan ini dia jagain aku ohhh…sooo sweeett.

Kegiatan perkemahan ini cukup padat sebenarnya. Ada permainan, games dan macam-macam. Pada malam harinya ada pesta api unggun. Semuanya mulai dari kelas satu dan panitia memberikan pertunjukan di sana. Intinya sih, acara itu cara yang menyenangkan. Setelah acara api unggun selesai, mas Faiz menemani aku di tenda panitia. Kami makan sebungkus nasi Padang berdua di sana.

“Cieee….makan sebungkus berdua…cieeee!” sindir beberapa orang panitia.

“Mau?” tanya Mas Faiz ke mereka.

“Oh, nikmati aja, kami tak mau merusak momen bahagia kalian,” kata panitia yang lain. Tiba-tiba ada seseorang yang memotret kami, JEPRET! Lampu blitznya mengejutkan kami. Saat itu aku dan mas Faiz menoleh ke arah yang motret.

“Waduh, kita dipotret mas, malu aku,” kataku.

“Udah…nggak apa-apa, tenang aja. Toh kalau dipublish juga nggak masalah,” kata mas Faiz.

“Tapi, aku malu,” kataku.

Ia memegang pundakku. “Nggak usah malu. Kau ini cewekku, udah resmi. Nggak perlu malu.”

“Udah resmi? Kaya’ orang nikah aja,” kataku.

Kami tertawa. Setelah makan malam itu. Aku mengambil gitarku. Mas Faiz, memintaku untuk menghibur para panitia. Aku sih nggak keberatan. Musik memang sudah menjadi hidupku. Aku pun memetik gitar dan mulai bernyanyi salah satu dari lagu-laguku. Alunan melodi pun mengalir. Ada satu hal yang aku pasti lakukan ketika main pentas. Terlebih kalau bermain solo. Aku selalu memejamkan mataku. Menghayati setiap sya’ir yang aku mainkan.

Malam gelap
Bintangku temani aku…..
Genggam tanganku
Ucapkan kata cintamu…..

Duhai Sang pangeran
Mimpikan aku dalam tidurmu….
Anggap aku putri tidurmu
yang siap untuk ciumanmu
Agar bangun dari mimpiku

Setelah aku selesai lagu itu. Aku membuka mataku. Betapa terkejutnya aku melihat seluruh tenda panitia penuh orang. Nggak cuma panitia, tapi juga seluruh anak-anak kelas satu. Mereka pun bertepuk tangan kepadaku.

“Hebaat, keren Iskha! Keren!” seru mereka semua. Aku mengangguk dan membungkukkan badan.

Mas Faiz tersenyum dan bertepuk tangan kepadaku. Lagu ini kupersembahkan untukmu mas. Engkaulah pangeranku. Malam kian larut dan aku kembali ke tendaku setelah itu. Mas Faiz membawakan aku selimut.

“Nih, buatmu!” katanya.

“Mas, bagaimana?” tanyaku.

“Ah, aku gampang. Paling juga bakal tidur bergerombol ama para panitia yang lain mirip anak kucing,” jawabnya.

Aku tertawa. “Dasar, ya udah. Emang harusnya kan gitu. Cowok ngasih sesuatu agar ceweknya nyaman.”

Ia mengucel rambutku. Ih…ada kebiasaan aneh sih ama Mas Faiz ini. Dia suka banget berantakin rambutku kalau sedang gemes. Selain dipeluk juga sih. Tapi terus terang ia orang yang paling honest, paling humble yang pernah aku kenal. Aku lihat teman-temanku yang udah punya cowok, biasanya si cowok grepe-grepe gitu, tapi dia nggak. Menurutku dia ini sosok cowok yang perfect. Dia memang pernah menciumku dan itu cuma sekali itu doang. Pegang tanganku juga nggak pernah lama-lama. Walaupun begitu ia pria yang paling perhatian. Aku tiap hari makin jatuh cinta kepadanya.

Setelah aku menerima selimut itu, aku pun masuk ke tenda bersama teman-temanku yang lain. Selimut yang diberikan Mas Faiz cukup lebar sehingga banyak muat beberapa orang.

Nailul pun berbisik kepadaku, “Duh, Iskha. Kamu ini ya, bisa merebut hati Faiz. Aduuh..iri aku.”

“Iya, ceritain dong, gimana dia nembak kamu?” pinta Ratna.

“Harus cerita? Ntar kalian tambah kepengen lho?” kataku.

“Cerita aja, kami denger koq. Anggap aja kamu lagi dongengin kami!” ujar Sulis.

Aku pun kemudian menceritakan bagaimana Mas Faiz berusaha mendekatiku dari awal. Awal pertemuan kita ketika aku manggung di parade band, kemudian juga bagaimana ia mulai mendekatiku, selalu datang di Kafe itu, kemudian menciumku malam itu sampai kepergok ayahku.

“Aduuuuhhh….Soooo Sweeeeettt!” seru semuanya.

“Aku jadi iri…hiks….nggak nyangka ya anak konglomerat bisa seromantis itu,” kata Nailul.

“Eh, gosipnya gebetannya sekarang jalan ama saudaranya kan?” celetuk Ratna.

“Iya, Vira. Anak kelas XII itu. Denger-denger mereka dulu ngerebutin dia. Tapi kaya’nya Faiz kalah,” kata Sulis.

“Vira, anak kelas XII? Senior dong,” kataku.

“Iya, dia cukup cakep lho. Primadona di sekolah ini,” kata Nailul.

Entah kenapa aku cemburu. Cemburu kepada masa lalu Faiz. Faiz juga pernah cerita tentang gebetannya yang direbut oleh Pandu. Tapi apakah memang dia sudah melupakan Vira? Apakah mendekatiku ini adalah salah satu pelarian dia? Tapi tidak. Ia sangat jujur kepadaku. Ia sangat mencintaiku.

“Udah ah, tidur. Ngantuk!” kataku.

“Cieee…cemburu nih yee,” ejek Nailul.

“Ah kalian, udah ah nggak mau denger,” kataku sambil menutup telingaku.

Semuanya ngikik. Kami pun mencoba tidur hingga pagi.

****

NARASI FAIZ

Acara perkemahan itu selesai. Kami kembali ke kehidupan normal. Cieh, normal. Apaan emangnya? Maksudnya kita masuk pagi, pulang siang, menikmati pelajaran di kelas. Hubunganku dengan Iskha mulus-mulus saja. Foto kami sedang makan di perkemahan itu jadi hot topic. Bahkan sempat masuk ke berita gosip. Aku maklum dan sadar, statusku sebagai anak orang konglomerat masih melekat, dan Iskha sebagai seorang musisi, tentunya juga dilirik.

Iskha dan aku makin dekat. Ia juga sudah tak malu-malu lagi jalan denganku. Ia tak peduli ada wartawan yang curi-curi foto saat kami bergandengan atau jalan bareng. Beritanya sih cukup heboh ketika aku dan dia bergandengan tangan di taman. Sampai di koran ada judul “ANAK KONGLOMERAT BERPACARAN DENGAN MUSISI” Aku dan Iskha tak menghiraukan tulisan tabloid remaja itu. Memang sih banyak yang patah hati pastinya. Aku juga masih ingat bagaimana itu surat-surat cinta aku baca semuanya. Yup semuanya. Total ada 345 surat yang aku baca. Semuanya menyatakan suka ama aku. Tapi maaf sekali aku sudah memilih Iskha.

Hari ini aku ingin main ke rumahnya. Tentu saja sekaligus berkenalan ama keluarganya.

Kalau pakai mobil rasanya terlalu berlebihan. Aku pun iseng aja sih hari MInggu pergi ke rumahnya pakai sepedaku. Sekalian olahragalah. Aku melihat seorang anak kecil laki-laki berkacak pinggang di pagar. Aku turun dari sepedaku.

“Pagi, kakakmu ada?” tanyaku.

“Kak Iskha sedang nggak bisa diganggu, mau apa kamu anak muda?” kata anak kecil ini. Anjrit, sombong banget. Pake logat wayang lagi. Tapi lucu juga.

Dari pintu muncul Iskha. Dia tampak memakai kaos dan celana legging. Dia membawa bak di pinggangnya. Oh, sedang nyuci-nyuci.

“Udah dek, sana main sana!” perintah Iskha kepada adiknya.

“Siap tuan putri!” kata adiknya. Ia segera berlari keluar pagar. Tampak teman-temannya yang lain sedang bermain bola. Jalanan di depan rumah Iskha memang sepi kalau hari minggu seperti ini. Melihatku yang datang Iskha langsung menyambut.

“Masuk mas, maaf lho aku sedang nyuci-nyuci,” katanya.

“Rumahmu sepi?” tanyaku.

“Cuma ada ibu. Ayah sedang jadi masinis,” katanya.

“Oh iya, ayahmu masinis ya?”

“Duduk deh, aku buatin minum dulu!”

“Ah nggak usah repot-repot!”

“Udah, duduk aja!”

Aku kemudian masuk ke halaman rumahnya. Kuparkir sepedaku di halamannya. Iskha menaruh bak yang berisi pakaian yang sudah dicucinya itu di halaman. Dia segera masuk ke dalam rumah. Aku kemudian duduk di kursi yang ada di teras.

Seorang ibu-ibu paruh baya muncul.

“Ehh…ada tamu,” ibu-ibu ini aku salami. “Temennya Iskha?”

“Iya, bu,” kataku. Iyalah, masa’ temennya adeknya yang kecil itu? Eh, beliau kan udah tahu kalau aku kemarin ke rumahnya jemput Iskha pake mobil, masa’ lupa?

“Temen atau pacar?” wuih, langsung to the point.

“Dua-duanya,” jawabku nyengir.

Ibunya kemudian berbisik, “Koq nggak bawa mobil nak? Kemarin kan bawa mobil sepertinya?”

“Kepengen olah raga bu, lagian ribet kalau harus bawa mobil segala,” jawabku.

Iskha pun kembali membawa nampan berisi minuman Nutrisari. Dia lalu menaruhnya di meja kecil di serambi. Iskha lalu duduk di kursi yang kosong. Sementara ibunya masih berdiri.

“Diminum mas!” kata Iskha.

Aku kemudian meminumnya.

“Kapan ngelamar Iskha?” tanya ibunya tiba-tiba sambil nyengir entah beliau bercanda atau tidak.

Aku pun nyembur dan tersedak. Uhukk!!

“Ih, ibuuu….koq tanya gitu? Udah sana ibu kan banyak kerjaan. Ntar pelanggannya pada kabur jahitannya belum selesai,” kata Iskha yang sedikit malu ibunya tanya begitu.

“Ya ya ya,” ibunya pun kembali masuk ke dalam rumah.

“Mas nggak apa-apa?” tanya Iskha. “Maafin ibu ya!”

“Ah, nggak apa-apa koq, mungkin ibumu cuma bercanda,” kataku.

Tiba-tiba wajah beliau muncul lagi, “Aku nggak bercanda lho, beneran.”

“Ibuuuuuu!” Iskha menjerit gemas. Sang ibu balik lagi ke dalam. Aku jadi ketawa melihat hal itu. Akhirnya aku nggak jadi canggung di rumah ini. Ibunya bisa menerima baik diriku. Iskha tersenyum kepadaku. Ia sedikit malu sih.

“Boleh aku bantu jemur pakaiannya?” tanyaku.

“Ah, nggak usah mas, nggak usah. Aku bisa sendiri koq,” katanya.

“Udahlah, aku bantu yah?!” kataku menawarkan diri.

“Nggak usah mas beneran, nggak usah,” katanya.

Aku berdiri dan beranjak ke bak jemuran tadi. Iskha mengejarku dan memegang tanganku. Oke, ini momen yang ehm…sebenarnya, tangannya memegang tanganku dan matanya dekat banget ama mataku. Yah, anggap saja seperti di sinetron-sinetron itu. Padahal kami sudah kurang lebih dua minggu pacaran, tapi masih saja seperti baru jadian kemarin.

“Aku bantu ya?” tanyaku lagi.

“Nggak usah mas!” jawabnya. Tapi tak ada penolakan. Aku pun mengambil sehelai baju dan meremasnya lalu menjemurnya. Iskha pun ikut-ikutan. Ia tak bisa mencegahku. AKhirnya jadi kami berdua menjemur baju-bajunya.

Dan….., “Eit, yang itu nggak usah!” kata Iskha sambil merebut sesuatu dari tanganku.

Wajahku memerah saat itu. Itu celana dalamnya. Hehehe. Aku mengambil lagi dari bak.

“Itu juga nggak usah! Aku bisa sendiri!” ia kembali merebut dari tanganku. Sebuah bra. Bra miliknya?

“34 C?” gumamku.

“Ih, dasar mata keranjang!” katanya sambil menjulurkan lidah. Ia lalu menjemur pakaian dalamnya tadi.

Setelah selesai menjemur ia lalu menemaniku duduk di serambi. AKu masih tersenyum-senyum mengingat peristiwa tadi.

“Ngapain ih senyum-senyum, senewen?” tanyanya.

“Lucu aja sih mengingat yang tadi,” jawabku.

“Mas ini, udah ah. Aku malu lho,” katanya.

Aku menatapnya lagi. Aku cuma ingin menatap wajahnya. Ini saja sudah membuatku senang. Aku bisa melihat wajah Iskha yang natural tanpa make-up. Ia cantiknya alami. Tak ada bedak, tak ada lipstik. Ia membetulkan kacamatanya.

“Apaan sih ngelihatin melulu,” katanya.

“Seneng aja ngelihatin kamu,” kataku.

“Udah ah, aku malu dilihatin terus. Aku tinggal lho,” ancamnya.

Aku kemudian mulai berbicara ke yang lain, “Adikmu lucu juga yah.”

“Masih SD ya lucu-lucunya, kalau sudah SMA ya udah nggak lucu lagi mas. Kaya’ kita-kita ini, hehehe.”

“Biasa aja kamu. Trus, kira-kira enaknya kapan yah?”

“Apanya?”

“Ngelamar kamu.”

“Idiiih, masih sekolah juga koq. Aku aja belum 17 mas. Masih 16 tahun, bulan depan baru 17 tahun,” katanya.

“Ah, I see. Kapan?”

“Aku ultahnya 20 September.”

“Catet. Mau hadiah apa?”

“Hadiah? Entahlah, aku nggak pernah ngerayain ulang tahun soalnya. Pasti Mas Faiz sering ngerayain ultah.”

“Yah, cuma dirayain ama saudara-saudara aja. Paling juga nraktir mereka, trus mereka bikin sureprise gitu.”

“Hihihi, pasti seru ya punya banyak saudara gitu.”

“Maybe. Tapi yang paling seru mungkin kalau seluruh saudaraku ngumpul semua, bisa rame itu rumah. Kami ngumpulnya setahun sekali sih. Pas lebaran gitu.”

Kami kemudian diam. Terdengar suara mesin jahit yang bekerja di dalam rumah. Ibunya Iskha mulai menjahit baju-baju pesanan. Agak lama kami diam, hingga Iskha memulai pembicaraan lagi.

“Aku kemarin iseng sih mas, nyari orang yang bernama Vira,” katanya.

Deg! Ngapain dia nyari Vira?

“Kenapa?” tanyaku penasaran.

“Aku ingin tahu saja, seperti apa sih wanita yang mas suka sebelum aku. Ternyata kalau dilihat-lihat Vira itu cantik ya, aku aja kalah. Dia wanita yang ideal, sempurna, perfect. Aku juga tahu dia selalu dapat peringkat di kelas, cerdas dan luar biasa pokoknya. Aku jadi tahu selera mas Faiz itu tinggi banget. Aku sepertinya nggak ada apa-apa,” katanya. Lho, koq dia jadi minder sih?

“Jangan gitu dong. Dia udah masa lalu, kamu sekarang masa depanku,” kataku. Aku kemudian beranjak dan berlutut di depannya. “Iskha, jangan pikir yang aneh-aneh. Aku sudah memilihmu dan aku sudah jujur kepadamu tentang perasaanku.”

“Iya, aku tahu. Mas baik, mas sangat pengertian, sayang, dan selalu melindungiku. Hanya saja aku takut!” Iskha menyatukan tangannya dan mendekap dadanya. “Aku takut dia akan merebut mas dari aku. Aku cemburu. Aku cemburu mas akan balik lagi ke dia suatu saat nanti.”

Aku lalu mendekapnya. Kepalanya bersandar di pundakku. “Jangan begitu Iskha, kau adalah milikku sekarang. Dan akan begitu seterusnya. Kau cemburu, itu artinya kau juga sangat mencintaiku.”

Iskha membalas pelukanku. Aku kemudian menempelkan dahiku ke keningnya. Dari apa yang ia utarakan, aku tahu sekarang. Bahwa perjalanan cinta kami masih panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*