Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB IX

Anak Nakal Season 2 BAB IX

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB VIII

BAB IX

Horizon

NARASI HANI

Akhirnya kejutan itu pun tiba. Lampu tiba-tiba gelap. Tentu saja mbak Iskha agak bingung, tapi ia sangat senang ketika dari sudut ruangan ada lilin menyala bertuliskan angka 17, yang membawa tentu saja Mas Faiz. Dia menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Setelah itu mbak Iskha meniup lilinnya. Mas Faiz lalu mencium kening dan pipinya. Aduhhhh…sooo sweeeettt…

Mas Faiz meletakkan kue ulang tahu itu kemudian lalu mengambil mic.

“Kawan-kawan semua. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas kehadian kalian. Sekali lagi terima kasih. Dan tidak lupa untuk Iskha tercinta, aku do’akan semoga usia kamu dalam keberkahan selalu,” kata mas Faiz yang kemudian disambut “Aamiin” oleh semua orang yang ada di sana. “Spesial juga, ayahku datang hari ini. Ingin melihatmu.”

Mbak Iskha pasti terkejut. Ia tak menyangka bakal ketemu orang tuanya Mas Faiz. Tentu saja, orang sesibuk Hendrajaya sampai menyempatkan diri menemui mbak Iskha ini luar biasa. Mbak Iskha menundukkan wajahnya. Tapi dagunya kemudian diangkat oleh Pak Hendrajaya.

“Pantas saja, putraku memilihmu. Ada pancaran seperti ibunya di matamu. Kamu setuju Faiz?” tanya Pak Hendrajaya.

“Iya yah,” jawab Faiz.

Iskha hanya tersenyum.

“Ada kejutan juga sebenarnya. Ini spesial buat kamu,” kata Mas Faiz. “Silakan pak bawa masuk!”

Pintu kafe pun terbuka lebar. Iskha bingung ada apa sih sebenarnya? Dan begitu terkejutnya dia melihat sebuah piano besar masuk ke dalam kafe. Iskha menutup mulutnya yang menganga. Matanya berkaca-kaca.

“Yaaa ampuuun…mas Faiz, kau beri aku ini?” tanya Iskha.

Piano pun diletakkan di tengah ruangan kafe.

“Mas Faiz…..ini…oh tidak, aku tak percaya,” kata Iskha berkali-kali.

“Ini nyata koq, sentuh saja!” katanya.

Masih tetap tak percaya Iskha pun menyentuh piano besar itu. “Beneran!”

Kemudian dia membuka penutup tutsnya. Ia pun menekan tombolnya. “Beneran juga!”

Iskha lalu melompat dan memeluk Mas Faiz. Mungkin saking gembiranya, karena memang Iskha sudah ngebet kepengen punya piano sendiri. Dan kini cowoknya ngasih hadiah itu. Dia mencium bibir Faiz, mereka berciuman di depan umum bo’, bikin iri aja. Sekali dicium, kedua kali, ketiga kali.

“Mas, makasih. Makasih, makasih, makasih…hhhmmmmmuuaachh,” Iskha tak henti-hentinya menciumi Faiz dan ia sangat terharu.

“Coba saja pianonya!” kata Mas Faiz. Ia lalu mengambil kursi dan mempersilakan Iskha untuk duduk di sana.

Iskha pun duduk. Aku bisa lihat sorot matanya yang bahagia. Lalu ia pun menekan piano itu, alunan kunci-kunci dan nada bersuara merdu memecah keheningan meluapkan kegembiraan. Aku melihat Pak Hendrajaya duduk di sebuah meja bersama anak remaja tadi. Mereka asyik menonton Iskha yang memainkan piano itu. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku langsung katakan siapa diriku?

Iya, harus. Aku harus mengatakannya. Aku harus punya cara bagaimana bisa bicara dengan dirinya.

Aku mencoba untuk mendekat ke Pak Hendrajaya. Ketika semua orang sedang melihat bagaimana Iskha memainkan piano itu, aku berjalan ke arah Hendrajaya. Ke arah ayah kandungku. Aku benar-benar gemetar. Orang yang ada di depanku ini….ayah kandungku. Entah kenapa aku lama sekali berjalan ke arahnya entah takut entah kenapa. Perasaanku campur aduk, antara senang, haru dan sedih.

Baiklah, aku dan dia hanya berjarak dua kaki. Dia dan anaknya sedang menikmati makanan yang ada di meja. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Speechlees. Entah kenapa aku seperti terkena paralysis. Bengong. Kenapa? Padahal hanya tinggal bilang, “Aku adalah anakmu!” AKu hanya berdiri mematung.

“Hai?!” aku dikejutkan oleh tepukan di pundak.

“Mas Faiz, kaget aku!” kataku.

“Ngapain koq bengong?” tanyanya.

“Nggak apa-apa mas,” jawabku.

“Ayah, makasih sudah datang. Hai Jun? kelaperan ya?” tanya Mas Faiz.

“Iya mas, enak lho!” adiknya itu sedang makan kue dengan lahapnya.

“Jarang aku lihat kalian berdua jalan begini,” kata Mas Faiz.

“Yah, sekali-kali boleh kan?” kata Pak Hendrajaya.

“Oh ya. Kenalin ini yah, ini temennya Iskha, namanya Hani,” kata Mas Faiz.

“Hani?” kata Pak Hendrajaya.

Aku mengangguk.

“Sudah lama kerja di sini?” tanyanya.

“Baru beberapa bulan pak,” jawabku.

“Ayah, kalau boleh ayah bantu dia. Dia ini putus sekolah, nah untuk menyambung hidupnya ia kerja di sini. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Kasihan lho yah,” kata Mas Faiz.

“Ah, Mas Faiz. Nggak usah repot-repot!” kataku.

“Hmm…nggak boleh gitu!” kata Pak Hendrajaya. “Kamu nggak boleh merasa malu untuk dibantu kalau memang harus dibantu. Jangan begitu. Ya sudah, kamu mau sekolah di sekolahan yang sama dengan Faiz?”

Aku bingung sekarang. Mau menolak nggak enak, tapi kalau menerima juga rasanya nggak enak. Aku bingung.

“Nggak usah bingung, jawab saja!” desak Mas Faiz.

“I…iya deh,” kataku.

“Nah, begitu. Nggak masalah, aku akan mengurus semuanya besok. Lagian sekolah itu juga sahamnya punyaku juga. Baju dan lain-lainnya kamu siapin. Sekali lagi, putus sekolah itu nggak baik!” ujar Pak Hendrajaya.

“Trus, pekerjaan saya?” tanyaku.

“Nggak usah khawatir. Aku dan Pak Liem itu kenal baik. Kalau cuma satu saja pegawainya minta ijin untuk masuk agak sore karena sekolah, ia pasti mengijinkan. Pasti ada kelonggaran buatmu!” ujar Pak Hendrajaya.

“Makasih pak, makasih!” aku langsung memeluk beliau. Oh, ayahku…makasih. Sementara ini biarlah seperti ini. Yang penting aku ingin bisa dekat dengan ayahku dulu. Ia menepuk punggungku.

“Wah, selamat ya Hani, kamu akhirnya bisa melanjutkan sekolah lagi,” kata mbak Iskha.

Aduhh..aku jadi terharu. Ini merupakan momen yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.

****

NARASI VIRA

Faiz, satu kata itu yang selalu ada di hatiku. Baik aku ketika sendirian, ketika aku makan, ketika aku tidur, ketika aku di sekolah, kemanapun aku memandang, wajahnya selalu ada di benakku. Aku merindukan dirinya. Aku selama ini hanya menampakkan cinta palsu kepada Pandu. Sebenarnya aku sangat kasihan kepadanya. Rasa ibakulah yang membuatku bertahan kepadanya. Dia sebenarnya sangat sayang kepadaku, sangat mencintaiku. Dia juga lembut kepadaku. Sayangnya aku tak bisa mencintainya.

Aku sudah belajar untuk mencintainya. Menanggapnya adalah Faiz, tapi tak bisa. Dia memang lembut, tapi tidak selembut Faiz. Senyumnya juga manis, tapi tak semanis Faiz. Perlakuannya kepadaku mengingatkanku kepada Faiz. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kalau seperti ini terus, aku bisa mati.

Apalagi sekarang ketika aku tahu Faiz sudah punya tambatan hati lagi, hatiku hancur sekali. Melihat foto-foto dia bersama Iskha. Aku hancur. Dia sangat mencintai Iskha. Dia sudah melupakanku. Oh, Faiz….kembalilah kepadaku. Aku membutuhkan dirimu. Peluklah aku, aku rindu pelukanmu. Aku rindu ciumanmu. Aku merindukan first kiss kita. Aku merindukan semuanya. Faizku.

Ponselku berdering. Dari Pandu. Aku segera menghapus air mataku. Aku kemudian berdehem membersihkan air mataku yang masuk ke kerongkongan dan berusaha agar suaraku tidak serak.

“Halo?” sapaku.

“Halo sayang, lagi ngapain?” tanyanya.

“Lagi istirahat, capek nih,” jawabku.

“Oh, aku mengganggu?” tanyanya.

“Nggak juga sih. Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa, cuma kepingin ganggu kamu aja.”

“Selamat deh, kamu berhasil.”

“Hehehe. Sorry ya malam-malam nelpon. Aku kangen sama kamu nih.”

“Besok juga kan bisa ketemuan.”

“Tapi aku inginnya sekarang.”

“Emang bisa teleport ke sini?”

“Wah, sayangnya nggak bisa.”

“Huuu…”

“Tapi kamu sudah masuk ke hati aku lho.”

“Dasar gombal.”

Pandu tertawa. Kami pun ngobrol panjang di telepon itu. Pandu sebenarnya orangnya asyik, terbukti dia bia membuatku nyaman. Ngobrol dengan dia malam ini bisa menenangkan hatiku yang sedang galau. Paling tidak, untuk sesaat aku yang kehilangan Faiz ini bisa terobati. Walaupun tidak sepenuhnya, tapi horizon kerinduanku bisa tertutupi oleh hiburan dari dirinya.

Pandu, maafkan aku. Maafkan kami. Aku masih mencintai Faiz. Aku tak bisa melupakannya. Dia adalah hidupku, nafasku, biarpun dia sudah bersama Iskha, aku tetap mecintainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*