Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB VI

Anak Nakal Season 2 BAB VI

Anak Nakal Season 2 BAB V

BAB VI

Pedekate

Aku di ruangan Bu Lina. Dia mau menerima konseling hari ini. Padahal biasanya yang ngantri banyak.

“Nak Faiz, mau konseling apa hari ini?” wajah Bu Lina yang cantik dan alim dengan kerudungnya itu menyejukkan hatiku. Jadinya nyaman banget untuk konseling. Apa emang semua psikolog seperti ini ya?

“Gimana sih bu untuk move on?” tanyaku.

“Kamu sedang gagal move on?” tanyanya. “Diputusin pacar?”

“Nggak juga sih, tapi boleh dibilang orang yang aku suka sekarang sama orang lain. Aku masih belum bisa melupakannya,” kataku.

“Hmmm…susah nih, biasanya kalau orang yang seperti ini karena ia sangat cinta ama si cewek, bener nggak?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Sebenarnya kunci biar bisa move on itu adalah berpikir positif untuk masa depanmu. Gini saja deh Faiz, berapa sih penduduk di dunia ini?” tanyanya.

“Kurang lebih 2 milyar,” jawabku.

“Ada dua milyar lebih, anggaplah presentasi cewek lebih banyak, misalnya 1,2 Milyar misalnya. Dan 100 jutanya ada di Indonesia. Masa’ kamu harus menyia-nyiakan 100 juta itu hanya untuk satu orang cewek?” kata-kata Bu Lina ini langsung menusuk.

“Benar juga sih Bu,” kataku.

“Nah, jangan sia-siakan waktumu hanya untuk satu hal yang sudah lalu,” katanya.

“Tapi masalahnya aku masih suka ama dia bu, masih cinta,” kataku.

“Kamu harus membuka diri dan jangan menutup diri seperti itu! Masa’ kamu harus melakukan friendzone kepada yang lain? Kamu itu anak konglomerat, udah cakep, kaya lagi. Berapa banyak di sana cewek-cewek yang ngantri ama kamu?”

Aku mengangkat bahu, “Emang banyak?”

“Duuhh…ibu hampir pasti tiap minggu ada yang konseling ada yang naksir kamu tapi kamunya cuek,” kata Bu Lina.

“Oh ya?”

“Iya, hampir tiap kelas ada yang naksir kamu. Kamu pernah buka lockermu nggak sih?”

Aku jarang membuka lokerku. Mungkin karena aku tiap hari membawa mobil sehingga rasanya nggak perlu sih untuk nyimpan sesuatu di loker. Tapi terkadang saja aku membuka lokerku kalau mau olahraga. Memang ada banyak surat-surat cinta di sana, tapi tak pernah aku baca satu pun.

“Jarang sih, tapi memang ada banyak surat cinta. Aku tak pernah baca,” kataku.

“Nah, tuh. Masa’ dari semua cewek yang kirim surat cinta itu tak ada satupun yang engkau pilih?” tanyanya.

Aku mengangguk-angguk. Memang aku harus membuka diri. Selama ini aku terlalu fokus kepada Vira. Sadar woi, Vira itu masa lalu, kataku dalam hati

“Kira-kira kamu punya pandangan sekarang siapa yang kamu suka?” tanya Bu Lina sambil memajukan wajahnya. Matanya yang tajam itu seperti menusukku.

Aku mengalihkan pandangan dan melihat ke luar jendela. Saat itulah dari luar aku melihat seseorang. Iskha. Ia sedang mengikuti pelajaran olahraga. Kelas X-2 sedang berlari-lari mengelilingi lapangan untuk pemanasan. Aku tersenyum, kemudian berdiri.

“Bu Lina, mungkin memang benar. Aku harus membuka diriku, terima kasih. Saya pergi dulu,” kataku.

“Naah…gitu dong,” kata Bu Lina. “Silakan!”

Mulai saat itu aku mulai mendekati Iskha. Aku ingin membuka diriku untuknya. Aku pun mulai mencari tahu dia ikut ekskul apa aja sih, apa saja kegiatannya, kapan dia akan manggung, dan apa saja lagu-lagu ciptaannya. Untuk hal ini sangat mudah bagiku. Tinggal suruh anak buah ayahku untuk melakukannya selesai. Besoknya aku bisa tahu semuanya. Di sekolahan juga sangat mudah untuk mengetahuinya. Aku tinggal mengikuti dirinya saja saat jam istirahat, juga ketika dia ikut ekskul. Iskha masih sendiri. Dia tidak punya cowok, lucunya adalah setiap cowok yang mendekati dia pasti kena tonjok dan besoknya nggak berani dekat dengan dia. Wah, tipe yang sulit ditaklukkan nih, ujarku dalam hati.

Setelah beberapa hari mengikuti Iskha, aku pun mulai menyukai cewek ini. Dia itu periang. Mungkin itu alasannya dia pakai lensa kontak ketika manggung karena ia memakai kacamata minus. Jadi bukan sekedar gaya-gayaan, tapi emang sih dia selalu memakai lensa kontak berwarna merah. Sebentar lagi ada acara perkemahan, dia ikut pramuka sih. Jadi pastinya dia akan ikut acara itu. Aku pun berniat untuk bisa ikut juga.

Aku yang sudah jarang membuka lokerku pun akhirnya kubuka. Langsung saja ratusan mungkin pucuk surat berhamburan keluar. Alamaaak,…sebanyak ini?? Aku pun memungutinya satu per satu dan memasukkannya ke ranselku. Hampir saja ranselku sendiri nggak muat.

“Ciee, yang dapet surat cinta,” tiba-tiba Iskha menyeletukku

“Hai Is!” sapaku.

“Hai mas,” balasnya.

“Koq sendirian?” tanyaku.

“Emang ngambil barang di loker harus ditemenin?” tanyanya.

“Nggak juga sih,” jawabku.

Aku melihat lokerku dan lokernya berseberangan alias berhadap-hadapan. Ia lalu menutup lokernya dan menguncinya dengan memutar kombinasi sembarangan. Aku kemudian berlari-lari kecil mengejarnya.

“Masih naik sepeda?” tanyaku.

“Iya, kenapa?” tanyanya.

“Kalau boleh, kalau boleh lho. Aku ingin jemput kamu tiap hari,” kataku.

“Nggak usah deh mas, makasih,” katanya.

“Aku nggak keberatan lho,” kataku.

“Aku yang keberatan. Ntar disangka yang nggak-nggak lagi sama temen-temen. Dianggap pacaran juga. Aku kan bukan siapa-siapanya mas,” katanya.

“Mau jadi temenku kalau gitu?” tanyaku.

Ia tersenyum manis. Duh, manisnya senyuman itu.

“Mas emangnya ngapain sih? Kalau kepengen temenan ya temenan aja gitu kan?” katanya.

“Mau jawaban jujur apa jawaban tidak jujur?” tanyaku.

“Ya jujurlah, masa’ bohong sih?”

“Aku jujur suka ama kamu, tapi karena aku belum mengenalmu aku paling tidak kepingin jadi temanmu. Kau bisa mengenalku aku bisa mengenalmu, terus terang selama ini aku tak pernah membuka diriku kepada orang lain,” kataku.

Dia tertawa kecil. “Oh, begitu.”

“Koq tertawa?”

“Aku ini orang kecil mas, bisa masuk ke sekola ini aja pake beasiswa. Mas enak orang kaya bisa bayar sekolah ini buat masuk. Aku nggak bisa mas. Apa mas yakin suka ama aku?” tanyanya.

“Aku tak masalah dengan itu semua,” kataku.

“Trus, kalau misalnya mas suka sama aku nanti cewek-cewek yang lain gimana dong? Mereka patah hati semua dong? Tuh surat cintanya seabrek,” katanya sambil menepuk-nepuk ranselku.

Aku berdiri di hadapannya. Aku tatap wajahnya lekat-lekat. Entah kenapa aku berdebar-debar. Tidak, tidak, tidak. Aku belum mengenal Iskha. Nggak mungkin aku menciumnya sekarang. Ia bukan Vira. Ia orang lain. Kalau Vira sudah aku kenal cukup lama, tapi ini bukan. Dia masih bersih, polos, kalau sampai aku melakukannya bisa timbul gosip yang nggak-nggak. Sabar aja.

Aku mengangkat jari kelingkingku. “Friends?”

Ia menatap ke langit. Lalu menatap wajahku, kemudian ia menyambut jari kelingkingku dengan jarinya. “Ok.”

Kami lalu berjalan beriringan lagi.

“Kamu setelah ini konser di mana lagi?” tanyaku.

“Mungkin ngamen di kafe mas. Kafe Brontoseno,” jawabnya. “Kami sering di sana sih, bawain lagu-lagu accoustik.”

“Oh ya? Wah, bakal jadi tempat nongkron favoritku nih,” kataku.

Iskha berhenti berjalan. Aku juga berhenti.

“Mas Faiz serius suka ama aku?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

“Kalau kau tanya kenapa, aku tak punya alaasan yang tepat untuk mencintaimu. Kalau kau tanya bagaimana, maka aku bisa jawab. Aku percaya kepada cinta pada pandangan pertama. Dan aku telah menyukaimu sejak kamu manggung itu. Bundaku berkata, kalau aku sampai berdebar-debar hingga dadaku sesak karena melihat seorang gadis, maka aku telah menemukan cinta sejatiku,” jawabku.

“Biasanya kalau orang yang baru kenal bilang cinta, itu gombal dan playboy,” kata Iskha. Ia lalu bergegas meninggalkanku.

Aku membiarkannya pergi ke tempat parkir untuk mengambil sepeda kayuhnya. Benarkan apa yang aku bilang, dia sulit ditaklukkan.

Ternyata memang benar. Selain sulit ditaklukkan ada masalah lain yang ada pada diri Iskha. Dia ini tak mempedulikan kekayaan orang ataupun kedudukan orang. Di matanya semua orang itu sama. Maka dari itulah aku baru tahu dia bisa bergaul dengan banyak orang, tidak seperti aku. Kedudukanku sebagai anak seorang konglomerat malah menjauhkanku dari teman-temanku yang kehidupan ekonominya di bawahku. AKu pun mulai dekati mereka semua.

Aku pun mulai berubah. Aku mulai menyapa mereka, becanda bersama mereka. Bahkan yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya aku pun mengajak mereka main ke rumahku. Kami belajar bersama di rumahku. Kedatangan teman-temanku tentu saja merupakan hal yang baru di rumah. Selama ini jangankan satu orang, niat mengundang mereka saja tidak pernah.

Bundaku menyeletuk, “Faiz, tumben kamu ngajak temen-temenmu.”

Aku hanya tersenyum. Perubahan kepada diriku itu pun dirasakan oleh seluruh anggota keluargaku. Aku sekarang lebih banyak membuka diri.

Dan setiap sore hingga malam aku selalu di Kafe Brontoseno, tempat di mana Iskha ngamen di sana. Hanya saja ia agak beda. Tak pakai lensa kontak, sangat natural dengan kacamatanya. Rambutnya diikat, pakaiannya casual. Santai sekali. Ia memetik gitarnya dan bernyanyi beberapa lagu kontemporer.

Melihatku ada di salah satu meja ia tersenyum kepadaku. Aku melambaikan tangan kepadanya. Ia pun menggeleng-geleng.

NARASI ISKHA

Apaan sih dia itu? Pertama kali bilang cinta aku. Trus ingin lebih kenal aku dengan menjadi teman. Dan ini malam ketiga dia selalu ada di kafe ini melihatku bernyanyi. Dia selalu menyapaku. Dan pasti duduk di sebelah sana. Kata pelayan di kafe ini tipsnya pasti gedhe kalau dari dia. Aku agak nggak enak sih karena selalu diperhatikan olehnya.

Tapi dia termasuk yang paling gigih ngejar aku. Bayangin aja nih, aku tak pernah ngasih tahu nomor ponselnya eh, tahu-tahu dia sudah SMS aku aja. Dapat dari mana pula? Dia tiap pagi sudah ada di pagar sekolah, cuma untuk say “Hai, selamat pagi?!”

Dia tahu kalau aku tiap pagi nggak pernah sarapan sehingga makan di kantin. Eh dia sudah ada di sana. Dan berusaha nemenin aku. Lama-lama hatiku lumer juga deh. Sudah hampir seminggu ini dia ada di kafe tiap malam. Memang nggak menyapaku, cuma melambaikan tangan saja. Duduk di sana sampai kafenya mau tutup. Dia berkali-kali nawari aku tumpangan, tapi selalu kutolak.

Hari ini dia memakai kemeja putih bergaris vertikal berwarna coklat. Dia memakai jas berwarna hitam. Sejak dia duduk selalu memperhatikan aku. Aku akhirnya takluk. Mataku tak bisa pergi dari dirinya. Duh, mas Faiz…kau bikin aku deg-deg-ser.

Hari ini selesai juga akhirnya aku ngamen di sini. Sang manajer pun memberikan kami amplop sebagai upah kami mengisi musik di kafe ini. Setelah itu di ruang belakang aku membagi uangnya bersama teman-temanku yang lain. Lumayanlah buat jajan. Tapi aku tetap akan memberikan uang ini buat ibu dan ayah. Setelah itu aku kembali ke ruang depan. Kulihat Faiz ada di luar kafe, berjalan mondar-mandir. Aku membawa gitarku di punggung.

“Mas Faiz? Masih di sini?” tanyaku.

“Iya, nunggu kamu,” jawabnya.

“Nggak usah ditunggu mas,” kataku.

“Anak gadis jalan sendiri itu nggak aman. Aku mau nemenin kamu,” katanya.

“Aku naik sepeda lho mas, mas kan naik mobil,” kataku.

“Nggak koq. Aku juga naik sepeda tuh!” katanya sambil menunjuk ke sebuah sepeda gunung yang terparkir di sebelah sepedaku.

Aku menggeleng-geleng. Hebat ya perjuangannya pedekate ke aku. Aku menghela nafas.

“Oke?” tanyanya.

“Yah, baiklah,” kataku.

Kami pun mengambil sepeda kami masing-masing. Setelah itu kami mengayuhnya. Sepedaku ini satu-satunya kendaraanku untuk pergi ke mana-mana. Memangnya gimana lagi? Sepeda motor? Belum mampu kami beli. Sepeda motor itu pun dipakai ayah buat kerja. Aku jadi malu sendiri bersepeda begini ama Faiz. Agak aneh aja sih, bajunya senecis gitu, tapi naik sepeda ontel. Aduhhh…

“Kenapa?” tanyanya.

“Hah? Apa mas?” aku yang dari tadi melamun tersadar.

“Kenapa koq diem? Aneh ya melihat anak orang kaya naik sepeda?” tanyanya.

“Iya sih, mas ini kekeuh juga ya?”

“Kamu kenapa belum punya pacar? Padahal aku yakin pasti banyak yang naksir ke kamu. Aksi kamu di panggung luar biasa, pasti salah satu fansmu bakal tertarik.”

“Nggak juga mas. Lha mas sendiri? Koq masih single? Apa jangan-jangan mas sudah punya pacar?”

“Aku ini biar pun anak orang kaya, menghargai perempuan lho. Aku ada sih dulu gebetan, tapi sudah lewat. Direbut ama Pandu.”

“Oh, siapa itu Pandu?”

“Kakakku, saudaraku. Kami memang selalu banyak bersaing dalam segala hal. Bahkan sampai urusan cewek pun kami bersaing. Tapi kami bersaing secara fair, adil, nggak ada saling menjatuhkan.”

Aku cukup kagum kepadanya. Dia bicara jujur apa adanya. Kemudian kami ngobrol ngalor ngidul soal sekolahan, soal temen, soal baju, sepatu, film, musik, hingga tak terasa aku sudah sampai di depan rumahku. Aku agak malu juga sih ketika Faiz melihat rumahku yang kecil. Halamannya kecil, berpagar besi yang dicat kuning. Tampak sebuah lampu neon menerangi halaman dan pagar. Pintu rumahku dicat warna coklat. Sebuah kaca besar ada di sebelahnya dan di terasnya ada kursi dan meja untuk menyambut tamu. Di halaman yang kecil itu banyak tumbuh bunga-bunga peliharaan ibu.

Faiz turun dari sepedanya. Aku juga.

“Makasih mas, udah nganter,” kataku.

“Tidak, akulah yang berterima kasih, kau mau menunjukkan rumahmu,” katanya.

“Aku sejujurnya malu. Kondisi rumahku seperti ini. Pasti rumah mas lebih gedhe dari ini kan? Lebih mewah.” kataku.

Ia tersenyum. “Nggak juga. Kalau kamu ingin main ke rumahku. Pintu rumahku akan selalu terbuka.”

“Anak cewek koq pergi ke rumah anak cowok? Nggak kebalik?”

“Yah, kalau kamu ingin main aja. Temen-temenku juga main ke rumahku koq. Nggak usah malu. Sudara-saudaraku pasti akan menerimamu nanti.”

“Nggak ah mas, malu aku.”

Kami terdam sebentar. Faiz mendekat kepadaku. Eh…mau apa dia? Nggak, tunggu…jangan…! Bagai slowmotion waktu serasa melambat. Tangannya memegang pundakku. Dan perlahan-lahan aku seperti dibius olehnya. Wajahnya mendekat kepadaku, lebih dekat-lebih dekat. Oh tidak…ini first kiss…jelas ia akan menciumku. Oh Tuhan….ini first kissku dengan seorang laki-laki. Kumohon tolaklah Iskha, tolaklah dia. Kamu yakin dia cinta sejatimu? Dorong dia! Dorong!

Tapi aku tak sanggup mendorongnya. Tubuhku seperti terkena paralysis. Dadaku naik turun. Dia sudah menempelkan bibirnya ke bibirku. Bau nafasnya yang harum aku hirup. Lidah kami bertemu. Ciuman ini, luar biasa. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Mataku terpejam. Aku resapi setiap sentuhan bibirnya di bibirku. Ia mengecupku menghisap salivaku. Lidahnya pun membasahi bibirku. Oh…tidak…Ya Tuhan, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta ama dia.

Sialan kamu Faiz, kau telah mencuri hatiku, telah mencuri ciuman pertamaku. Ia pun melepaskan ciumannya setelah entah berapa lama kami berciuman. Mata kami saling bertatapan. Ia mengusap pipiku, aku memejamkan mataku merasakan belaian lembut tangannya. Baiklah saudara-saudara, aku Iskha, telah takluk kepada pemuda ini.

Sudah Faiz, pergilah. Aku tak mau mati berdiri di tempat ini. Cukup ciumanmu bisa buat pingsan diriku kalau kau lakukan lagi. Ya Tuhan tolong, sudahi ini. Iya, aku mengaku kalah. Aku suka dia, aku cinta dia. Faiz, aku cinta kamu.

“Ehm! Ehm…!” tiba-tiba sebuah deheman memecah keheningan. Arrgghh…itu ayah!!! Dia berdehem di dalam rumah dengan deheman yang keras sampai terdengar keluar.

Kami langsung salah tingkah. Faiz hampir saja menjatuhkan sepedanya, kalau ia tak cepat tanggap.

“Sebaiknya aku segera masuk,” kataku dengan salah tingkah.

“Iya, sebaiknya aku juga pulang. Sudah malam,” katanya.

“Sampai besok,” kataku.

“I..iya, sampai besok,” katanya.

Pintu terbuka tampak ayahku dengan baju kaos dan sarungnya keluar. Dia menatap Faiz dari jauh. Mungkin dalam hatinya mengumpat siapa beraninya deketin anak gue? Aku dengan wajah memerah langsung masuk ke dalam rumah. Dan karena salah tingkah gitar yang aku bawa dipunggungku pun membentur pintu sehinga menimbulkan suara gaduh. Faiz tampak mengangguk hormat kepada ayahku. Aku meletakkan gitar ke kursi sofa.

“Siapa itu?” tanya ayah menginterogasiku.

Aku tak menghiraukannya. Aku segera keluar lagi dan berteriak, “Mas Faiizz, AKU JUGA PADAMU!”

“YEEESSS!!!!” seru Faiz sambil melompat.

“Heh! Ini sudah malem koq teriak-teriak? Masuk sana!” aku ditempeleng ayahku.

“Aduh! Iya yah, iya,” kataku.

Faiz tampak kegirangan ia segera mengayuh sepedanya sambil bersiul-siul. Aku langsung masuk ke kamarku. Aku sangat malu. Malu sekali mengatakannya. Faiz…aku cinta kamu.

(bersambung……)

oke cara ngungkapin ke Iskha ini kisah nyata. Nubi ngalami sendiri nyium di depan rumahnya dan dipergoki ayahnya. Suwer itu momen yang menegangkan sekaligus mendebarkan. Dan iya, Iskha juga berteriak gitu ke aku. Ah…benerkan nubie jadi ingat ama do’i.

Duh….Iskha….kangen ama kamu. hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*