Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB IV

Anak Nakal Season 2 BAB IV

Anak Nakal Season 2 BAB III

BAB IV

Move On

Erik adalah teman baikku. Aku belum banyak memperkenalkannya tapi kalau ditanya teman baikku selain Pandu di sekolahan pasti Erik. Sebenarnya boleh dibilang aku dan Erik ini juga sahabat dekat. Bahkan dia adalah orang yang pertama kali aku beritahu tentang keadaan Pandu.

“Bro, aku turut berduka yah,” katanya.

“Thanks,” kataku.

“Btw, biar kamu nggak berduka terus. Mau aku ajak ke pergelaran musik?” tanyanya.

“Pergelaran musik? Di mana?”

“Di Srikandi Hall, yaelah itu kan punya bokap lu sendiri.”

“Walaupun bokapku banyak bangun gedung, bukan berarti anaknya tahu gedung yang dijadiin acara kan? Emang pergelaran musik apaan?”

“Ya ampun, kamu ini nggak gaul! Hampir semua band terkenal ada di sana malam ini. Ada pendatang baru tuh, sebuah band personelnya cewek semua. Musiknya ngerock, dan yang jadi perhatian adalah ciri khas vokalisnya.”

“Emang kenapa ama vokalisnya?”

“Kamu suka nonton Naruto kan?”

“Ya, trus apa hubungannya?”

“Tuh mata vokalisnya mirip Sharingan! Keren abis deh performnya.”

“Kayaknya asyik tuh, boleh-boleh! Kujemput atau ketemu di sana langsung.”

“Halah, ketemu saja langsung males aku dijemput. Emang gua pacar lu gitu?”

Aku ketawa keras. Akhirnya malam itu aku dan Erik menonton pergelaran musik. Ada banyak band yang manggung kelihatannya. Tapi mungkin yang bisa aku kenali cuma dua band ternama yaitu Kotak band ama Repvblik. Ini seperti parade sepertinya. Aku juga melihat tadi sepertinya untuk amal. Aku dan Erik langsung menuju ke depan panggung.

“Gila rame banget!” kataku.

“Yoi, hebat kan?” kata Erik menyetujui.

Aku memang sudah harus melakukan hal-hal seperti ini, biar bisa move on. Vira sekarang sudah bersama Pandu. Aku harus merelakan itu. Dan aku tak mungkin untuk merebut dia dari Pandu sekarang. Acara memang belum mulai tapi yang nonton sudah begini banyak. Bisa muat nggak nih Hall-nya?

MC pun muncul langsung disambut riuh tepuk tangan.

“Selamat malam semuanya, Apa kabaaaaar??” kata sang MC yang kemudian disambut riuh tepuk tangan. “Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselenggaranya acara ini. Kemudian juga kepada Hendrajaya Group yang telah memberikan izin untuk mengadakan parade Band Indonesia.”

Aku kemudian melihat beberapa orang cewek yang bergerak berlari ke belakang panggung.

“Ayo Iskha! Cepetan!” seru seorang cewek yang paling depan.

Tak disangka sang cewek yang dipanggil Iskha menjatuhkan sesuatu. Sebuah kotak kecil. Aku beringsut ke arahnya mengambil kotak itu. Sepertinya ia tak sadar. Aku ambil kotak itu ternyata kardus kontak lens. Aku pun bergegas menuju ke belakang panggung untuk mengejarnya.

“Aduh…koq bisa jatuh sih? Kamu ini gimana? Padahal kita perfom pertama lho!” kata salah seorang cewek.

“Tadi aku taruh di saku koq. Jatuh mungkin,” kata cewek yang dipanggil Iskha tadi.

“Maaf,” kataku. “Jatuhin ini?”

Iskha langsung menjerit, “Iyaaaaa,….makasih ya mas.”

“Syukurlah! makanya hati-hati!” seru temannya yang lain.

Cewek itu lumayan cakep. Gayanya imut. Dia menerima kardus kontak lens itu. Ia mengeluarkan isinya dan langsung memasangkannya ke matanya. Dan dalam sekejap, matanya langsung menyala merah. Alamak, dia vokalis yang diceritain ama Erik?? Entah kenapa saat itu juga dadaku berdebar-debar. Dadaku sampai sesak. Aku terpana sejenak. Kalau boleh dibilang Iskha ini cewek yang entah bagaimana bisa langsung menusuk jantungku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Tonton aku ya mas!” katanya. Ia mengedipkan matanya.

“O…Ok, iya. Aku ada di depan koq,” kataku.

“Dan inilah dia penampilan pertama kita dari band The Zombie Girls!” kata sang MC. Serentak seluruh penonton bersorak. Iskha tersenyum kepadaku lalu meninggalkanku naik ke panggung.

Aku kemudian segera kembali ke tempatku semula. Erik heran melihatku.

“Dari mana lu?” tanyanya.

“Dari…ah lupakan,” kataku.

Saat itulah Iskha menyapa para penonton, “APA KABAR SEMUANYAAA??”

Sambutan riuh tepuk tangan menggelora di gedung itu. Keren. Dia bisa membuat seluruh penonton tergerak. Padahal dia bukan band papan atas. Aku yakin mereka pasti bisa jadi band besar suatu saat nanti. Mataku dan mata Iskha bertemu. Ia tersenyum kepadaku. Iya, ia tersenyum kepadaku. Aku melambaikan tangan kepadanya.

Hentakan musik rock pun dimulai. Keren, peformanya keren. Aku suka ama band ini. Ama lagu-lagunya. Seluruh penonton bersorak sorai, melompat-lompat. Semuanya dibius oleh penampilan Iskha dan kawan-kawannya. Aku berada di sana sampai selesai. Menonton band-band papan atas pentas pun bukan sebuah hal yang sia-sia rupanya. Pertujunkannya keren. Ternyata parade band ini juga untuk amal. Dan terakhir ditutup oleh penampilan The Zombie Girls lagi. Setelah itu kami pulang.

“Gimana keren nggak?” tanya Erik.

“Keren bro, keren!” kataku.

“Ya udah, nggak nyesel kan aku ajak?”

“Nggak, sama sekali nggak.”

“Baguslah kalau begitu,” kata Erik. Kami pun berpisah malam itu.

Terus terang wajah Iskha terbayang-bayang terus di benakku. Aku tak bisa melupakannya. Apakah aku sekarang ini sudah move on?

***

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku sudah ada di sekolah. Hari ini dengan sangat terpaksa aku naik taksi. Mobilku mogok nggak bisa distarter. Sepertinya Akinya mati. Lagian aku juga lupa nggak ngecek. Aku punya mobil sendiri sih, Pandu juga punya mobil sendiri. Mobilku Honda City Type Z, tapi aku sudah modifikasi sampai mirip mobil sport. Beda dengan Pandu. Ia lebih milih selamat, mobilnya Honda Jazz, keluaran Pabrik. AKu nggak suka sih ama mobilnya.

Aku hari ini duduk di sebuah tempat duduk di pinggir lapangan basket. Nggak ada kerjaan, bel masuk juga belum bunyi koq. Dan biasanya juga kalau lagi suntuk aku duduk-duduk di sini. Aku mulai merenung tentang diriku, tentang Vira. Aku harus bisa melepaskan diri dari bayang-bayangnya. Aku sudah harus merelakannya. Karena dia memang sudah bukan lagi milikku. Ia milik Pandu. Hari ini saja aku melihat mereka bergandengan tangan dengan mesranya. Daripada sakit hati melihat mereka, aku selalu menghindar. Bahkan sekarang aku berangkat sekolah tidak bersama Pandu lagi. Pandu bisa mengerti keadaanku. Dia sengaja membiarkanku. Kami sudah sepakat memang siapapun yang dipilih oleh Vira harus ikhlas. Tapi aku tidak.

Move On aku harus bisa meninggalkan semua ini. Saat aku merenung itulah kumelihat seorang cewek dengan menuntun sepeda menuju tempat parkir. Rambutnya sebahu, dikuncir. Aku sepertinya tahu dia. Dia menoleh ke arahku. Tak salah lagi. Di Iskha. Eh, dia sekolah di sekolah ini?? Koq aku nggak pernah tahu ya?

Aku langsung beranjak menghampirinya.

“Iskha?” sapaku.

Dia menoleh ke arahku. Ia memicingkan mata dengan kacamata minusnya. Aku yakin dia Iskha. Dia memicingkan matanya mengamatiku.

“Ya mas?” sapanya balik.

“Kamu Iskha ya? vokalis band The Zombie Girls?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Aku yang kemarin menemukan kontak lens,” kataku.

“Oh…ya ampuuun, itu ternyata mas ya? Aku nggak nyangka kita ternyata satu sekolah,” katanya.

“I..iya, hehehe,” kataku.

KRIIINNGGGG! bunyi bel masuk. Ah sial, kepingin ngomong banyak juga.

“Wah, bel masuk. Nanti disambung ya mas,” katanya.

“Ok, sampai nanti. Eh, kamu kelas berap sih?” tanyaku.

“Aku kelas X-2”, jawabnya.

“Oo…adik kelas rupanya,” kataku.

Ia pun bergegas pergi ke tempat parkir dan segera masuk kelas. Aku juga demikian.

****

NARASI ISKHA

Nggak nyangka ketemu fans di sekolah ini. Eh, apa dia fansku? Paling juga cuma penonton biasa. Aku nggak pernah kenal dia. Apa mungkin karena nggak pernah masuk organisasi ya? Aku sudah ikut beberapa ekskul tapi nggak pernah lihat dia. Eh, namanya juga siapa sih dia? Aku belum sempat nanya. Tapi cakep juga.

“Iskha!” panggil Nailul.

“Eh, hai!” jawabku.

“Koq hai? Ngelamun aja. Ada apa sih?” tanyanya.

“Nggak apa-apa koq,” jawabku.

“Biasanya cewek ngelamun sambil senyum-senyum sendiri itu lagi jatuh cinta,” katanya.

“Sok tahu. Emangnya aku senyum-senyum sendiri?” tanyaku.

“Lha? Nggak sadar? aku sampai ngira kamu ini senewen tadi.”

“Hush! Udah ah!”

Aku kemudian konsen lagi ke pelajaran yang dibawakan oleh Pak Andi, guru Matematika kami. Pelajaran itu berlangsung cukup lama menurutku, atau mungkin hanya perasaanku saja. Ketika jam istirahat tiba aku pun keluar mencari kantin. Karena kebiasaanku kalau pagi nggak pernah sarapan. Keluargaku dari keluarga biasa. Mendapatkan beasiswa untuk bisa di sekolah elit ini adalah sebuah kebanggaan bagi mereka. Aku pun membantu mereka dengan manggung di atas pentas. Ibuku bekerja di rumah sebagai seorang penjahit. Ayahku bekerja sebagai masinis kereta api. Jarang pulang kalau mudik. Fiyuuhh…sibuk bukan?

Tak berapa lama kemudian aku sudah sampai di sebuah kantin. Langsung saja aku memesan nasi campur dan segelas air. Walaupun ini sekolah elit tapi menunya masih menu warteg. Enak lho. Saat pesananku sudah ada di nampan, Nailul memanggilku.

“Iskha, sini!!” katanya.

Aku pun segera menuju ke mejanya dan meletakkan nampanku di sana. Bersebalahn dengan nampan dia yang berisi frenchfriess dan hamburger, serta segelas minuman bersoda. Kontras memang, fast food dan nasi campur.

“Hihihi, belum sarapan ya tadi?” tanyanya.

“Iyalah, boro-boro sarapan. Telat iya,” kataku.

“Kamu kapan naik panggung lagi?” tanya Nailul sambil memakan hamburgernya.

“Barusan kemarin malem naik panggung. Untuk berikutnya ya nunggu kontrak lagi,” jawabku.

“Oh, enaknya jadi anak band. Honornya gede nggak sih?”

“Hmm…bayangin aja deh. Lima juta dibagi lima, berapa dapatnya?”

“Heh? Sedikit amat? Dibagi ama lima personel ya?”

“Maklumlah, kita masih band lokal. Belum seterkenal band papan atas. Mau gimana lagi?”

Saat itulah aku melihat cowok tadi pagi. Dia memesan sesuatu.

“Wah, itu Faiz,” celetuk Nailul.

“Siapa Faiz?” tanyaku.

“Lho, kamu nggak tahu?”

Aku menggeleng.

“Kamu lihat cowok yang sedang memesan sesuatu itu?!” Nailul menunjuk ke cowok itu.

“Itu?”

“Iya, dia itu anak paling kaya di sekolah ini. Masa’ kamu nggak tahu?”

Aku menggeleng.

“Ya ampun, kamu kemarin konser di gedung bapaknya tahu? Dia ini anak konglomerat. Bapaknya berada di peringkat dua puluh besar orang terkaya di Indonesia!” jelas NAilul.

Aku melongo. Nggak percaya. Dan yang lebih tak kupercaya lagi adalah dia pesen nasi pecel ama teh anget. Anjir itu anak konglomerat makan nasi pecel ama minum teh anget? Ah, tapi kan tidak setiap orang kaya punya selera luar negeri juga kale.

“Duh, Iskh. Kalau aku jadi pacarnya aku klepek-klepek deh,” kata Nailul.

“Ah, lebay kamu,” kataku.

OK, ini agak aneh, karena tiba-tiba Faiz berjalan melintas di meja kami dan menoleh ke arahku. “Lho, kamu?”

“Hai,” kataku nyengir.

“Sarapan juga?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Boleh duduk di sini?” ia minta izin.

“Ya,…silakan!” kataku. Ngapain juga minta ijin? Udah tahu mejanya panjang koq. Bisa buat enam orang.

Dia duduk di hadapanku. OMG, koq aku berdebar-debar gini ya?

“Aku belum mengenalkan diri. Namaku Faiz. Kamu temannya Iskha?” katanya.

Nailul terbata-bata menjawab, “I…iya.”

Aku dan Nailul benar-benar canggung. Anak konglomerat bo, di depanku. Ganteng, cakep, rendah hati lagi. Mimpi apa aku semalem bisa duduk di hadapannya. Koq bisa ya dia bikin aku deg-deg-ser? Ketemu aja baru sekali.

“Kalian nggak makan?” tanyanya yang sudah melahap nasi pecelnya.

“Eh…i…iya,” kataku.

Aku pun melahap nasi campur yang aku pesan tadi. Entah kenapa sarapan itu terasa aneh. Aku selalu menudukkan wajahku. Takut melihat wajahnya. Nailul juga gitu. Aku buru-buru menghabiskan sarapanku sampai pipiku terlihat tembem. Dan buru-buru juga pergi. Nailul pun demikian. Melihatku buru-buru pergi Faiz tiba-tiba mencegahku.

“Tunggu!” katanya.

Mulutku masih penuh, hampir saja tersedak.

“Minum dululah, nggak baik makan buru-buru seperti itu. Minumanmu masih penuh!” katanya.

Aku berbalik lagi dan meminum air putih yang aku pesan tadi. Faiz menatap wajahku ketika minum. Oh tidak, ia bikin aku malu. Segera setelah itu aku pergi meninggalkannya.

Aku sudah sampai di kelas dan aku menjerit bersama Nailul.

“Gilaaaa!!! Apaan itu tadi?” tanyaku.

“Kamu sendiri apaaan? Koq ia bisa tahu kamu?”

“Kemarin ia nonton konserku. Aku nggak tahu siapa dia!”

“Keren kan? Cakep kan? Aduuuhhh…”

Kami berdua histeris pokoknya. Tapi satu hal yang aku catat adalah Faiz ini beda dengan cowok yang aku kenal sebelumnya. Ia tak jual mahal. Ia baik dan aku bisa lihat dari pertama kali kami bertemu di konser itu. Entah kenapa setelah itu aku jadi terbayang dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*