Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB III

Anak Nakal Season 2 BAB III

Anak Nakal Season 2 BAB II

BAB II
Aku mencintai kalian

Hari esoknya aku merencanakan bakal nembak Vira duluan. Aku pun mempersiapkan semuanya hari itu. Mulai dari hadiah, bunga dan lain-lain. Pandu sama sekali tak tahu rencanaku. Sengaja hari itu aku bertingkah seperti biasa. Tapi ketika aku bertemu dengan Vira, pandangan mata kami mengisyaratkan sesuatu. Aku pun berdebar-debar hari itu.

Bagai seorang petinju. Aku sedang galau. Galau misalnya nanti Vira nolak aku. Tapi aku tetap yakin aku pasti bisa dapatin Si Vira ini. Aku meng-SMS Vira ke nomor ponselnya.

“Jangan lupa nanti aku jemput ya?”

Dia pun membalas

“Iya, jemput jam enam?”

“Oke.”

Pandu sore itu tak pergi ke mana-mana, mobilnya bisa aku pakai malam itu. Karena jam sudah menunjukkan pukul lima aku pun berangkat. Dengan pakaian necis, parfum yang sangat wangi, khas parfum pria, setangkai mawar merah dan sebuah kotak perhiasan yang berisi kalung aku bawa. Melihat aku berdandan seperti itu Kak Putri keheranan.

“Mau kemana lu?” tanyanya.

“Mau kencan dong,” jawabku. “Udah ya!”

“Eh..eit..tunggu! Kakak ikut!” katanya.

“Hah? Ikut? Ikut kencan? Ogah ah. Bisa rusak suasananya nanti!”

“Siapa mau ikut kencan? Dasar dodol!” Kak Putri menonyor kepalaku.

“Aduh!”

“Anterin kakak ke rumah temen!”

“Temen apa temen hayoo?”

“Rese’, udah ah. Bentar tunggu kakak dulu!”

“Aku tinggal!”

“Kalau lu berangkat tanpa aku, awas aku laporin ama ayah kalau kamu gunain mobil buat kencan ama cewek!”

“Waduh, koq tega sih?”

“Makanya tunggu!”

“Ya sudah deh.”

Aku pun menunggu Kak Putri berdandan. Kurang lebih sepuluh menit kemudian dia sudah memakai jilbab, celana casual, kemeja dan jaket jins. Aku garuk-garuk kepala. Pake Jilbab tapi seksi amat?

“Ayo berangkat!”

Aku pun berangkat bersama kakakku. Dalam hati aku pun menggerutu, kenapa nggak naik taksi aja sih? Rumah teman Kak Putri cukup jauh, sehingga aku menghabiskan waktu setengah jam sendiri sebelum sampai ke rumah Vira. Tapi aku agak aneh melihat bangunan rumah kost teman Kak Putri ini. Bukannya itu tempat kos cowok? Ah, whatever. Aku pun segera pergi ke rumah Vira setelah itu.

Tepat pukul enam petang aku tiba. Aku lalu turun dari mobil. Vira langsung muncul dari dalam rumah. Alamaaak…ini manusia apa bidadari sih? Cakep banget. Dia memakai gaun berwarna biru. Sepatu hak tinggi, dan rambutya dibiarkan tergerai. Sebuah tas kecil tampak ia bawa dengan tangan kanannya.

“Hai,” sapaku.

“Hai. Lumayan, tepat waktu,” katanya.

“Iya dong,” kataku.

“Berangkat?” tanyanya.

“Oh, sebelumnya. Aku ingin ngasih sesuatu ama kamu,” jawabku.

“Apa itu?” Vira tersenyum kepadaku.

Aku mengeluarkan setangkai bunga mawar berwarna merah. Vira tertawa geli.

“Apaan sih?”

“Ini aku nembak kamu, masa’ kamu nggak sensitif sih?”

Dia menutup mulutnya sambil menahan tawa. “Aduuhh… Faiz, Faiz.”

“Vir, aku suka ama kamu, sejak pertama kali ketemu di Orientasi sekolah itu, aku sudah suka ama kamu. Tahu nggak sih selama setahun lebih aku suka ama kamu?”

Vira terdiam. Ia mulai melihat kesungguhan dari sorot mataku.

“Sebentar, aku kira kita mau jalan. Koq malah jadi ajang penembakan gini sih?” kata Vira. Damn, cakep banget dia malam ini. Kamu kalah Pandu, kamu kalah. Aku yang menang!

“Terima aja deh bunganya. Udah aku siapin lho, sampe toko bunganya aku beli juga,” gombalku.

“Gombal, tapi terima kasih bunganya!” Vira menerima bungaku. “Nggak beracun kan kalau aku hirup?”

“Beracun, ntar kamu bisa mati,” kataku.

Vira tertawa manis. Alamak, kalau dia terus-terusan ketawa macem gini, aku bisa pingsan di tempat deh melihat wajahnya yang cute itu. Dia menghirup bunganya. Wangilah. Dia melirik ke arahku.

“Tapi aku belum bisa jawab sekarang, nggak apa-apa kan?”

Hah? Waduh….kenapa?

“Kenapa?” tanyaku.

“Ya, nggak apa-apa. Gimana bisa jawab. Ada dua orang tampan, kaya, yang sama-sama jatuh cinta ama aku. Dan sama-sama nembak aku,” kata Vira.

Ebuset. Siapa?

“Siapa?”

“Pandu ama kamu, tapi aku tahu koq kalau kalian sudah ngejar aku dari dulu. Aku tetap menganggap kalian sahabatku. Kalian adalah teman-temanku. Pandu hari ini nembak aku di sekolah. Aku belum bisa jawab. Eh, malemnya kamu juga nembak aku. Kalian ini dua saudara yang kompak ternyata,” kata Vira.

Sialan. Si Pandu udah nembak duluan ternyata. Kalah lagi. Aku pun menampakkan muka kecut.

“Jadi kita jalan?” tanya Vira.

“Ya jadi dong, kalau kamu tak keberatan,” jawabku.

“Kalau keberatan aku biasanya naruh barangnya,” celetuk VIra.

“Kalau kamu berat, sini aku angkat,” balasku.

Kami pun tertawa lepas.

Selama kencan itu, tanganku tak terpisahkan dari tangan Vira. Aku begitu erat menggenggam tangannya. Pdahal dia belum ngasih jawaban mau nerima aku apa nggak. Kami nonton bioskop kemudian disusul makan malam. Kemudian saat jalan-jalan seseorang menelponku. Dari Danny.

Danny ini anak orang kaya juga, sering nantang aku balapan liar. Katanya dia barusan punya mobil baru, Lotus Elise Exige Roadster 2013.

“Hai Dan? Ada apa?” tanyaku.

“Kamu ada di luar kan? Aku telpon saudaramu katanya kamu sedang di luar,” kata Danny.

“Iya, kenapa?” tanyaku.

“Aku tantangin balapan nih. Satu lap aja. Sekalian mau ngetes mobil baru. hehehehe.”

“Mobil Lotus milikmu?”

“Iya dong. Gimana?”

“Taruhannya apa?” tanyaku.

“Sepuluh juta? Kecil kan?”

“Siapa takut, sekarang?”

“Iya dong. Aku tunggu di jalan tol.”

Danny kemudian menutup telponnya.

“Vir, ikut dulu sebentar yuk. Kita mau balapan,” kataku.

“Hah? Faiz, nggak bahaya tuh?”

“Udah tenang aja. Aku pasti menang koq,” kataku.

Aku pun melajukan mobilku memecah udara malam. Tak lama sih, hingga akhirnya aku sampai di dekat jalan tol. Tempat di mana aku bertemu dengan Danny. Kami pun sampai. Di sana ternyata sudah menunggu banyak orang.

“Woii…datang juga,” kata Danny.

“Hai, apa kabar?” aku melakukan tos dengan Danny.

“Wah, bawa gebetan lu?” tanya Henri. Dia ini bandar balapan liar.

“Sshh…Hari ini mau aku tembak,” kataku.

“Ohh..belum resmi, I see,” kata Henri.

“Gimana? siap?” tanya Danny.

“Siap, sudah full tank. Satu lap kan? Yakin bisa ngalahin aku satu lap?” tanyaku.

“Ayo buktikan saja!” kata Danny.

Aku segera masuk ke mobil. Danny pun juga masuk ke mobilnya. Mobil Lotus-nya cukup keren. Entah dia beli dengan harga berapa. Yang jelas pasti hampir nyentuh 1 M atau lebih mungkin. Kemudian kedua mobil bersiap untuk masuk ke jalan tol. Yang menjadi pemberi aba-aba adalah Si Henri.

“Oke, siapa yang sampai duluan di kilometer lima, maka dia yang menang. Kita sekarang ada di kilomoter dua puluh. Mengerti ya? Ayo!” kata Henri.

Dia mengangkat sapu tangannya. Aku sudah bersiap.

“Kamu yakin Iz?” tanya Vira.

“Udah nggak apa-apa, pasang sabuk pengaman! Kalau kamu takut, tutup mata aja. Aku akan melindungimu sampai garis finish,” kataku.

Vira pun memasang sabuk pengaman. Aku kemudian memasukkan gigi satu. Bendera diturunkan oleh Henri, aku segera menancapkan gas sedalam-dalamnya. Mobil Danny dan aku pun sama-sama seperti melompat. Yup, kami sudah berpacu dalam kecepatan tinggi. Vira sepertinya agak ketakutan melihat betapa cepatnya mobil ini melaju. Kecepatannya sudah lebih dari 100km dan terus naik. Dia mencengkram lenganku.

“Izz…Faizzz!!!!” jeritnya. Aku melewati sebuah truk gandengan, kemudian langsung melesat ke belakang bis, lalu mengambil arah kiri, kanan lalu melesat mendekati mobil LOtus yang sudah ada di depanku. Paling tidak sekarang si Danny kebingungan karena aku dan mobilnya bisa seimbang.

Mobil ini sudah aku modif bersama Pandu. Kuberi mesin turbo. Dan tentu saja satu lagi aku memasang NOS. Aku membuka sebuah kotak yang ada di dekat kemudi dan aku tekan tombol itu. Seketika itu mobil langsung melaju lebih cepat. Aku melihat Vira memejamkan mata. Jantung kami berpacu lebih cepat. Sedangkan mobil Lotus sudah jauh di belakang. Singkatnya malam itu aku menang balapan. Kami berkumpul lagi di tempat semula. Danny berkacak pinggang sambil menggeleng-geleng.

“Kalau aku tahu kamu pake NOS nggak bakal aku tantang kamu pake ini, dasar,” kata Danny.

“Oke, silakan transfer ke rekening biasa. Kau sudah tahu kan?” tanyaku.

“Iya, iya, lain kali aku akan balas,” kata Danny.

“Silakan saja, anytime bro!” kataku.

Vira yang masih shock menyandarkan tubuhnya di mobil sambil minum air mineral botol. Aku menghampirinya.

“Malam yang hebat kan?” tanyaku.

“Gila, kalau tahu aku tadi bisa melacu 200km/jam, nggak bakal deh aku jalan ama kamu,” kata Vira.

“Sorry, kalau aku membuatmu shock,” kataku.

“Jangan ulangi lagi,” katanya.

“Oke, aku janji,” kataku.

“Tapi, itu tadi pengalaman yang paling mendebarkan dalam hidupku. Kapan-kapan kau boleh koq paksa aku lagi,” Vira mengedipkan mata.

Aku tertawa geli. Menurutku itu adalah wajahnya yang paling kyut yang pernah aku lihat.

Pukul setengah sebelas aku nganter dia pulang. Acara malam itu kami habiskan dengan banyak bercerita dan bercanda. Dan tibalah kami akan berpisah.

“Vira, sebentar!” kataku.

Vira yang hendak masuk ke rumahnya itu berhenti dan berbalik. Aku mengeluarkan sbuah kotak yang aku hadiahkan untuk Vira. Kotak perhiasan berisi kalung.

“Apaan sih?” tanyanya.

“Ini buat kamu, buka aja!” kataku.

Ia menerima kotak itu. Dan ia sangat takjub. Tentu saja. Itu kalung perhiasan yang aku beli dari uang sakuku sendiri.

“Oh tidak, Faiz. Ini terlalu berharga. Aku tak bisa menerimanya, pasti mahal,” katanya.

“Nggak apa-apa, terima aja!” kataku.

“Tapi….” jari telunjukku menyentuh bibirnya.

Sekelebat kemudian bibirku sudah menempel di bibirnya. Kedua pasang mata kami terpejam. Terus terang itu reflek. Entah kenapa aku bisa menciumnya malam itu. Dadaku berdebar-debar. Tentu saja. Saat bibir kami berpisah dengan perlahan-lahan, mata kami kembali terbuka. Aku kemudian membuka kotak perhiasan itu dan memakaikan kalung tersebut ke leher Vira. Setelah first Kiss kita itu, Vira tak berkata apapun.

“Sorry, kalau aku tak menciummu sekarang, aku tak tahu kapan lagi akan menciummu. Seandainya kau lebih memilih Pandu, aku rela koq. Memang kita selalu bersaing. Tapi, aku tetap berharap kau bisa menerimaku dan memilihku,” kataku.

Vira mengusap pipiku.

“Makasih ya malam ini, sebenarnya aku mencintai kalian berdua. Dan sekarang kalian memberikan aku pilihan yang tersulit dalam hidupku. Tapi, kau bertindak lebih dulu menciumku. Ini first kiss kita, aku tak akan pernah melupakannya seumur hidupku. Aku sekarang bingung memilih siapa, Kalian jahat!” kata Vira.

Aku tersenyum hingga gigiku kelihatan.

“Sampai besok?” tanyaku.

“Mungkin malam ini aku mati saja deh,” kata Vira.

“Lho, koq?”

“Ciuman tadi hampir bikin jantungku copot tahu?!”

“Mau lagi?”

“Ih, maunya. Kamu lakuin lagi aku tabok…!”

Aku dengan gerak cepat menciumnya lagi. Tentu saja Vira gelagapan. Tapi ia pun akhirnya menyerah. Kami akhirnya berciuman sambil berpelukan. Dan kali ini lidah kami yang bicara. Dari ciuman biasa hingga kemudian french kiss. Aku lalu melepaskannya.

“Udah, dibilang kalau kamu lakuin lagi bakal aku tabok. Nih!” Vira pun menamparku.

“Aww…!” sakit, panas terasa di pipi.

“Lain kali jangan lakuin lagi. Kalau mau nyium ngomong dong!” kata Vira.

“Boleh nyium lagi?” tanyaku.

“Ngga…hhhmmmhh…” belum sempat ia berkata, aku sudah menciumnya lagi. Tapi tak selama sebelumnya.

Wajah Vira memerah. “Ishh..udah ah, kalau tetep di sini ntar bibirku dibawa pergi ama kamu. Udah sana pergi, ntar ketahuan bokapku tau rasa kamu.”

“Hihihihi, sekalian saja deh sini aku lamar kamu,” kataku.

“Ogah….dibilang tunggu jawabannya koq udah nyosor duluan,” kata Vira.

“Oh, jadi masih belum ada jawaban toh? kukira sudah. Koq tadi nggak menolak aku cium?”

“Soalnya, ciumanmu maut!” goda Vira.

Ia segera bergegas masuk ke rumah dengan wajah memerah.

Aku segera melompat-lompat, senang sekali hari itu. Berkali-kali aku berpose Yes, Yes Yes! Segera aku pulang.

Hari sudah larut ketika aku sampai di rumah. Dengan bersiul-siul aku masuk ke dalam rumah. Dengan wajah kemenangan aku pun segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri. Dan tentu saja. Wajah Vira yang baru saja kucium selalu terbayang hingga terbawa mimpi.

NARASI VIRA

Aduh……gimana ini…aku barusan dicium ama Faiz. Dia keren sih, ganteng, cakep, tajir, tapi saudaranya juga naksir aku. Sama-sama ganteng, cakep, tajir pula. Gimana dong? Moga aja tadi ciumannya nggak dilihat ama orang rumah, bisa berabe ntar.

“Siapa itu?” tanya ayah. Dia ternyata berdiri di jendela. Alamaaak, jadi ayah tahu semua. Mateng aku.

“T..temen koq yah,” jawabku.

“Temen koq sampe pake ciuman segala?” tanyanya.

“Tadi nggak sengaja, itu kecelakaan,” kataku.

“Kecelakaan? Koq sampe tiga kali?”

“Hush,…udah yah, kaya’ nggak pernah muda saja. Beruntung toh, si Vira dapat cowok anaknya konglomerat,” ternyata ibu juga ada di sebelah ayah. Jadi selama ini tadi mereka melihat.

“Tapi ya nggak bisa gitu dong bu, masa’ ciuman di luar?” tanya ayah.

“Apa bapak mau lihat mereka berdua ciuman di rumah ini?” tanya ibu.

Ayah tampak menampakkan wajah nggak suka.

“Ayah, ibu, udah. Vira mau tidur dulu. Emang dikira apaan?” dengan wajah malu aku pun segera pergi ke kamar.

Aku lalu mencopot gaun yang kupilih malam ini. Sesekali aku melihat kalung pemberian Faiz. Agaknya aku lebih memilih Faiz daripada Pandu. Faiz romantis, tapi Pandu tidak begitu. Pandu bicara apa adanya, tapi Faiz lebih lembut. Tapi, aku dari dulu naksir ama Pandu, bukan ama Faiz. Namun apa yang dilakukan Faiz hari ini, membuatku menilai Faiz lebih baik daripada Pandu. Keduanya bukan orang yang playboy sih, walaupun banyak cewek yang naksir. Bibirku….masih serasa bagaimana lidah dia membasahi bibirku. Ohh…tuhan….kenapa aku jadi memikirkan Faiz???

Faiz….kamu mimpiin aku nggak? Maaf Pandu, sepertinya aku harus memilih Faiz.

Hari Sabtu. Rencananya malam ini aku akan diajak keluar oleh Pandu. Aku hari ini berencana untuk memberikan jawaban kepada Pandu yang kemarin sudah menembakku. Kemarin ketika pulang sekolah aku bertemu dengan dia. Cara nembaknya beda dikit ama Faiz. Dia sama memberikan bunga kepadaku dan dia memberikanku hadiah coklat. Tapi aku tak suka coklat. Aku menerima saja hadiah itu tapi setelah itu aku berikan kepada teman-temanku. Aku bilang jawabannya nunggu besok.

Memang aku banyak yang dekati. Nggak cuma Pandu sama Faiz saja. Anak-anak cowok seangkatanku juga banyak yang dekati, tapi aku jual mahal dan cuek. Mereka cuma mendekati aku tapi tak pernah nembak aku. Beda dengan Pandu ama Faiz. Mereka entah darimana berani nembak senior mereka sendiri.

Namun entah kenapa hari ini aku dikejutkan dengan kabar dari Pandu. Dia pingsan saat jam pelajaran sedang berlangsung. Kenapa? Sebagai orang yang juga mencintainya, aku pun segera bergegas ke ruang UKS ketika jam istirahat datang. Saat itulah aku melihat seseorang yang tak aku kenal. Rambutnya berwarna putih keabu-abuan, namun tercukur rapi. Badannya tegap dan dia sedang berbicara dengan Faiz. Dari baju kemejanya yang necis dan sepatu hitamnya yang mengkilat, aku yakin dia pasti ayahnya Faiz. Seorang konglomerat yang menjadi dua puluh besar konglomerat di negeri ini. Doni Hendrajaya. Tapi kenapa sampai datang ke sekolah?

Aku pun menguping pembicaraan mereka.

“Faiz, sepertinya ayah ingin mengubah keputusan ayah,” kata ayahnya Faiz.

“Keputusan apa?” tanya Faiz.

“Ayah sebenarnya memang berpesan kepada pihak sekolah kalau-kalau Pandu pingsan secara tiba-tiba seperti ini. Sejak kecil Pandu menderita kelainan pada otaknya. Karena kelainan itulah dia selalu sakit-sakitan. Hilang keseimbangan dan seterusnya. Sebenrnya kita sudah menggunakan hampir semua cara untuk menyembuhkannya. Dokter dulu hanya mengatakan bahwa dia akan sehat-sehat saja sampai usia dua puluhan. Kalau misalnya kurang dari itu maka dia tak akan bisa ditolong lagi. Pandu sekarang ini sedang sekarat dan aku tak bisa menyerahkan perusahaan ini kepada dia. Aku ingin engkaulah yang memegangnya,” kata ayahnya Faiz.

“Hah? Ayah, ini nggak salah? Aku? Kenapa harus aku? Pandu yang lebih berhak! Dia…dia….”

“Aku tahu, Pandu yang seharusnya memiliki semuanya, tapi aku tak mungkin menyerahkan semua ini kepada orang yang sakit, ketahuilah itu. Aku tak tahu berapa lama lagi Pandu akan bertahan dengan keadaannya ini. Aku sangat bersedih, Faiz.”

Melihat ayahnya berkaca-kaca Faiz lalu memeluknya. Aku tak menyangka kalau Pandu sakit dan sedang sekarat.

“Tapi ini terlalu mendadak ayah, aku masih berharap setelah aku lulus aku bisa memikirkan hal ini, tapi…”

“Aku tahu, ini berat. Selesaikan saja sekolahmu, setelah itu kamu akan aku ajari untuk mengatur semuanya. Paling tidak, berikanlah kehidupan yang baik di saat-saat terakhirnya. Jangan tampakkan wajah sedih. Semuanya sudah aku beritahu tentang Pandu. Aku sebenarnya menyimpan hal ini sudah sangat lama. Hingga sekarang aku bisa mengatakannya. Ingat, berikanlah kebahagiaan kepada Pandu. Kau menyayangi saudaramu bukan?”

“Iya, tentu saja. Aku sangat menyayanginya.”

“Ya sudah ayah tinggal dulu. Ingat, jangan pernah kau tampakkan kesedihan. Buatlah hari-hari Pandu penuh dengan kebahagiaan.”

Setelah itu Pak Hendrajaya pergi dengan wajah murung. Aku hanya melihat Faiz sendirian berdiri merenung. Dan ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku terkejut. Melihatku berdiri di sini ia segera menghampiriku.

“Kau dengar semuanya?” tanya Faiz.

Aku mengangguk.

“Aku tak menyangka Pandu seperti itu keadaannya,” kataku.

“Aku juga tak menyangka,” kata Faiz.

“Aku sudah putuskan Faiz. Hari ini aku akan memberikan jawaban,” kataku.

“Jawaban?”

“Iya, aku hari ini akan memberikan jawaban kepada Pandu kalau aku lebih memilihmu.”

Tiba-tiba Faiz mencengkram pundakk hingga aku hampir saja terhuyung. “Vira, kamu tak tahu keadaan Pandu?”

“Iya, aku mengerti.”

“Kalau kau mengerti, seharusnya kamu tahu kalau kau mengatakan itu kepada dia akan lebih membuatnya shock. Tahukah kamu ia sangat mencintaimu. Sama seperti aku. Aku takut kalau kau menolak cintanya ia akan tambah parah sakitnya.”

“Tapi Faiz, aku mencintaimu. Aku sadar sekarang engkaulah cintaku. Dan aku sangat mencintaimu. Engkaulah yang aku pilih. Apa kamu ingin memaksaku mencintai Pandu sedangkan aku tak mencintainya?”

“Vira, aku juga mencintaimu sangat mencintaimu. Tapi aku tak tega melihat kondisi Pandu seperti ini. Kami bermain bersama, kami tumbuh bersama, kami melakukan kenakalan bersama. Aku tak tega kalau hatinya sampai rapuh karena dirimu.”

“Tapi, engkau bilang kalian bersaing secara sehat? Kalau kamu menyerahkan kemenanganmu kepada dia, maka sia-sia saja perjuanganmu selama ini.”

“Ini semua demi Pandu. Ia saudaraku. Apa yang harus aku lakukan kepada dia? Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan dia, Vira.”

Aku langsung memeluk Faiz. Aku mendekap dia sangat erat. Faiz pun kemudian membalas pelukanku. Diusapnya rambutku dengan lembut.

“Maafkan aku Vira, maafkan aku. Tapi aku mohon, biarkan Pandu menang. Biarkan dia bisa merasakan kebahagiaan dengan cintamu,” kata Faiz.

“Tapi, apa kamu tak memikirkan aku? Bagaimana aku bisa hidup dengan orang yang tidak aku cintai?” aku pun menangis. Faiz memegang wajahku. Kami bertatapan. Dan dia menciumku lagi. Ciuman bibirnya yang sangat lembut, ciuman yang penuh cinta yang berbeda dari tadi malam. Ciumannya kali ini seperti ciuman perpisahan. Lama dan aku tak ingin melepaskan bibirnya itu. Tapi….dia pun menyudahi ciumannya.

“Maafkan aku Vira. Sungguh aku sangat mencintaimu, tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang?” kata Faiz.

Aku memegang wajah Faiz, mengusap pipinya dengan lembut. Dia pun mencium tanganku. Menghirup parfum yang ada di tanganku. Oh…aku sangat mencintainya. Kenapa ini semua bisa terjadi? Apakah memang aku dan Faiz tak ditakdirkan untuk bersama? Tapi…kalau memang Faiz yang aku cintai menginginkan ini, aku akan melakukannya.

“Kalau memang engkau menginginkan ini, maka aku akan melakukannya Faiz. Hanya saja, aku melakukan ini karena semata-mata aku mencintaimu. Maka setiap kali ketika aku mengatakan mencintai Pandu nantinya, sesungguhnya aku mengatakan itu untukmu. Setiap kali nanti dia menciumku aku akan menganggap engkaulah yang menciumku. Setiap pelukan dia nanti, aku akan menganggap engkaulah yang memelukku. Engkaulah hidupku Faiz. Engkau, bukan dia.”

“Oh…Vira, maafkan aku!” kata Faiz.

Kami pun berpelukan. Sedih rasanya. Tapi inilah keputusanku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*