Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB I

Anak Nakal Season 2 BAB I

Cerita Sex Sedarah Anak Nakal Season 2

BAB I

Warisan

Namaku Faiz. Boleh dibilang kehidupanku lumayan unik. Aku hidup dengan banyak saudara. Mereka adalah Putri, Icha dan Rendi. Aku anak nomor dua. Ayahku sendiri sangat kaya. Beliau menguasai bisnis toko waralaba bahkan sekarang pun menjadi pialang saham. Tidak hanya itu bisnisnya pun juga bergerak di bidang properti. Hampir semua gedung di kota ini perusahaannya yang membuat. Bahkan beberapa perumahan elit pun adalah dari perusahaannya. Jadi dengan kata lain, sangat tajir. Istrinya saja ada empat. Hebat kan?

Hanya saja dalam mendidik anak, dia tidak pernah pandang bulu. Walaupun punya istri empat dan juga masing-masing istrinya punya anak, bukan berarti salah satunya yang paling dimanja. Ayahku memegang prinsip keadilan. Well, di jaman segini ternyata masih ada yang punya rasa keadilan setinggi ayahku. Baiklah, ini adalah kisahku. Lebih tepatnya kisah perjalanan hidupku hingga aku mendapatkan cinta sejatiku. Hanya saja, untuk mendapatkannya tak semulus jalanku.

Cerita ini dimulai ketika aku masih duduk di bangku SMA. Di sekolah ini aku satu kelas dengan saudara tiriku Pandu. Dan kami semua tahu kalau Pandu ini anak yang paling disayang oleh ayahku. Bahkan kandidat terkuat untuk bisa mewarisi perusahaan ayahku sekarang ini. Kami tak iri bahkan kagum kepadanya. Sebab selain Pandu ini anaknya pintar, dapat beasiswa, dia adalah anak dari istri pertama ayahku. Makanya yang paling disayang, menurut beliau wajahnya selalu mengingatkan dia kepada mendiang istrinya yang telah tiada.

Sebenarnya Pandu ini orangnya baik, bahkan terlalu baik. Sekalipun di sekolahan dia dibully ia tetap mengalah. Akulah yang hampir setiap hari membela dia. Sekalipun dia kandidat terkuat mewarisi kerajaan ayahku, dia punya kelemahan yaitu penyakit asma. Penyakitnya ini sudah dideritanya sejak kecil. Sebagai anak kesayangan nomor dua, ayahku berpesan kepadaku untuk menjaga Pandu. Maka dari itulah aku dan Pandu selalu bersama, kami berbagi kenakalan bersama, kami juga berbagi kesenangan bersama, sedih juga bersama-sama. Lucunya juga dalam masalah cinta, kami juga mencintai orang yang sama. Bahkan tak jarang kami selalu bersaing untuk mendapatkan apapun. Termasuk juga cinta.

“Pan, masih ada ekskul?” tanyaku.

“Iya, kenapa?” tanyanya.

“Ya udah deh, aku tunggu aja kalau gitu,” jawabku.

“Kalau ada acara tinggal pulang aja!” katanya.

“Ebuset, kita berangkat pake mobilmu monyong!” kataku.

Pandu ketawa, “Oiya lupa. Ya sudahlah tunggu aja, hari ini ada latihan soalnya.”

“Ngomong-ngomong, kamu serius ya ama ekskul nyanyi ini? Mau jadi penyanyi?”

“Nggak taulah Iz, kamu tahu sendiri kalau aku ikut ekskul sepak bola misalnya, bisa mati aku cuma disuruh lari 100 meter aja.”

“Bener juga sih. Oke deh, aku tunggu di perpus!”

“Nah, gitu dong, sekali-kali ke perpustakaan biar pinter. Nggak lihat bokep mulu.”

“Halah, situ juga suka lihat.”

Kami tertawa bersama lalu melakukan tos sebelum cabut ke tempat masing-masing.

Aku menuju ke perpustakaan. Perpustakaan sekolahan ini buka sampai sore. Setelah pulang sekolah memang beberapa orang anak masih duduk-duduk di bangku bahkan ada yang asyik bermain basket di lapangan basket. Beberapa di antaranya mengikuti ekskul. Pengunjung perpustakaan seperti biasa, sepi. Deretan rak buku memanjang seperti labirin berjejer buku-buku pelajaran, kamus, ensiklopedia dan buku-buku yang lain. Minus buku komik ataupun buku stensilan tentunya. Emang sekolah apaan?

Di perpustakaan pun aku iseng saja mencari buku sejarah. Entah kenapa kepengen banget baca buku sejarah. Maka aku ambil sebuah buku yang cukup tebal. Judulnya Di Bawah Bendera Revolusi. Eh, ini tulisannya Bung Karno. Lumayanlah untuk dibaca-baca. Tebel banget, mungkin ada sampai seribu halaman lebih. Aku pun mengambil tempat untuk membaca di sebuah meja yang kosong. Aku pun membuka bukunya dan …… apa-apaan nih ejaan kuno semua. Jadi penulisannya masih memakai ejaan lama ternyata. Aku pun mulai menyesuaikan diri dengan membaca huruf “DJ” dibaca menjadi “J”, huruf “J” dibaca menjadi “Y” ataupun “OE” menjadu “U”.

Selagi asyik membaca saat itulah ada seorang cewek ikut mengambil tempat di mejaku. Cewek ini siapa yang tidak kenal. Dia ini cewek senior yang sama-sama disukai oleh aku dan Pandu. Namanya Vira. Rambutnya panjang, bau parfumnya itu sangat khas. Semacam parfum Perancis mungkin. Dan anaknya ini cukup kalem. Mungkin karena kalemnya ini kita jadi suka ama dia. Soal wajah, dia manis banget. Kulitnya putih. Waktu melihatku ada di perpustakaan dia nyeletuk.

“Tumben ada di perpustakaan,” kata Vira.

Biarpun dikata dia seniorku, dia cukup kenal denganku. Ya iyalah, anak orang terkaya di kota ini masa’ nggak dikenali. Dan Vira ini cukup kenal baik dengan aku. Aku pernah ngajak dia nonton bareng atau sekedar jalan bareng. Sama juga ama Pandu, ia juga diajak jalan bareng ama Pandu. Mungkin dia tahu kalau kita saingan merebutkan dia.

“Yah, nunggu Si Pandu tuh,” kataku.

Dia tersenyum. Kumelirik buku yang diambilnya, buku Kamus bahasa Indonesia. Sepertinya ia sedang ada tugas. Ia mencatat sambil melihat kamus. Untuk beberapa menit lamanya ia tak melihatku karena sibuk menulis sedangkan aku sibuk melihat dia. Waduuh…pokoknya di dekat cewek ini rasanya aku bisa melihat taman-taman surga.

“Apaan?” tanyanya. Lamunanku pun langsung buyar.

“Eh, iya? Ada apa?” tanyaku.

“Kamu itu lho. Dari tadi melihatku terus, apa ada yang aneh ama mukaku” katanya.

“Oh tidak. Sama sekali tidak. Kau perfect koq,” jawabku.

Ia menutup kamusnya. “Aku mau cabut, sampai besok yah.”

“Eh, gitu aja?” tanyaku.

“Emang ada apa?”

“Ntar malem minggu kosong nggak? Boleh dong kita nonton bareng lagi. Ada film bagus lho.”

Vira tersenyum sambil menggeleng-geleng. “Bilang aja mau ngajak kencan.”

“Iya, emang mau ngajak kencan,” jawabku.

“Sayangnya, aku sudah dibooking ama saudaramu besok Sabtu,” katanya.

“Hah? Sialan. Keduluan deh,” kataku.

Vira beranjak dari tempat duduknya, “Maaf ya, sampai nanti.”

Aku memukul telapak tanganku sendiri. Sialan si Pandu, lebih gesit gerakannya daripada aku. Tapi aku ikhlas koq misalnya kalau Pandu bisa dapetin Vira. Kami sudah sepakat siapa pun yang dipilih oleh Vira maka dia harus menerimanya. Hanya saja aku tak pernah melihat mereka berdua jadian koq. Jadi ya tetep aja pe-de-ka-te dong.

“Tumben kamu di perpus?” celetuk seseorang. Dia adalah Bu Lina guru BP-ku.

“Eh, ibu. Belum pulang bu?”

“Justru aku yang harusnya tanya ama kamu, koq belum pulang?”

“Sedang nunggu Pandu bu.”

“Oh, begitu,” Bu Lina kemudian meninggalkanku. Beliau ini guru idolaku. Jilbabnya lebar, masih belum punya suami. Dia barusan lulus dua tahun yang lalu. Boleh dibilang dari semua guru di sekolahan beliaulah yang paling banyak ditaksir cowok-cowok. Dan kalau cowok konseling ama dia, lamaaaaa banget. Aku juga sering konseling ama beliau ini dan juga ikut-ikutan lamaaa banget kalau konseling. Hanya saja Si Pandu nggak suka ama Bu Lina ini. Mungkin dari sisi ini aku menang dari Pandu.

Aku lalu melanjutkan membacaku sampai entah berapa lama. Pokoknya ketika Pandu menelpon, aku segera cabut dari perpustakaan. Pandu keluar dari salah satu ruang ekskul bersama beberapa group vokalis lainnya. Setelah bertemu denganku kami pun pulang bersama memakai mobil Honda Jazz warna putih.

“Eh, gila kamu ya, udah ngajak si Vira jalan besok Sabtu, padahal aku mau ngajak dia,” kataku.

Pandu tertawa. “Makanya siapa cepat dia dapat.”

“Dasar, awas ya aku nggak mau kalah,” kataku.

“Kamu bakalan kalah deh, besok Sabtu ini aku mau nembak dia,” katanya.

“Buset, yang bener?”

“Lihat saja ntar!”

Aku lalu menengadahkan tangan dan mulutku komat-kamit.

“Ngapain?”

“Berdo’a biar kamu nggak diterima.”

“Sialan lu!” Pandu memukul bahuku. Aku pun terkekeh-kekeh.

“Eh, hei lihat jalan! Lihat jalan!”

Agaknya jalanan macet membuat kami harus berjibaku dengan penuh kesabaran hingga sampai di rumah. Rumah kami ada di sebuah perumahan elit. Pandu tinggal bersama kami. Rumah dijaga oleh dua orang satpam yang berjaga bergiliran. Begitu mobil kami tiba sang satpam segera membuka pagar. Setelah mobil terparkir di dalam garasi, aku langsung melompat keluar dengan membawa ranselku.

Aku kemudian masuk ke rumah lebih dulu disusul Pandu. Di dalam aku melihat ibuku sedang menata meja makan.

“Udah makan Iz?” tanyanya.

“Belum bunda,” jawabku.

“Ini masih tersisa banyak. Saudara-saudara kalian juga belum pulang koq, cuma Kak Putri saja yang sudah ada di rumah duluan,” kata ibuku.

“Asyiik, mari makan!” kata Pandu.

“Pandu, hayo….ganti baju dulu!” kata ibuku sambil menjewer Pandu.

“Aduh duduh…iya Bunda Aula, iya!” kata Pandu. Ia mengambil sepotong lauk tempe yang ada di atas meja makan lalu berlari meninggalkan meja makan.

“Dasar Pandu!” gerutu ibuku.

Aku mencium tangan ibuku. Kemudian segera bergegas ke kamarku untuk mandi lalu ganti baju. Setelah wangi dan ganti baju aku menuju meja makan. Tampak Pandu sudah ada di sana. Aku kemudian menghabiskan nasi dengan sayur asem dan lauk tempe. Jangan dibayangkan orang tajir makannya spagheti atau pizza atau yang lain. Makanannya ya sama seperti penduduk lokal. Emang kita alien?

Setelah kenyang dan membereskan alat makan aku ke ruang keluarga. Di sini aku melihat Kak Putri ada di ruang tamu sedang menonton tv.

“Acaranya apa kak?” tanyaku.

“Lagi nonton film nih, Transformers,” ujarnya. Ternyata dia sedang nonton HBO.

“Nggak kuliah?” tanyaku.

“Dosennya nggak masuk, makanya pulang duluan tadi,” katanya.

“OH gitu ya?”

Aku melihat Pandu tampak sedang menelpon seseorang. Ia menjauh dariku, tapi aku bisa dengar jelas bagaimana dia mesra banget dengan lawan bicaranya. Arggh…sialan, itu pasti Vira.

“Iya dong, besok aku jemput yah? Si Faiz? Lagi nonton tv tuh ama kakaknya,” kata Pandu sambil melirik ke arahku.

Aku lalu menggaruk-garuk rambutku padahal tidak gatal. Rambutku makin kusut.

“Ngapain?” tanya KAk Putri.

“Kalah deh ama Pandu,” kataku.

“Soal cewek?” tanya Kak Putri.

“Ho-oh,” jawabku.

“Hahahaha….kasihan deh lu.”

“Ini kakak nggak belain malah ngejek, huuh..sini remotenya!” kataku sambil merebut remote dari tangan Kak Putri.

“Eits..nggak boleh! Enak aja aku yang pegang duluan koq.”

“Sini!”

Aku dan Kak Putri pun bergelut berebut remote. Kak Putri ini memakai hotpants dan T-Shirt, jadi beberapa kali aku berebut remotenya hampir pasti aku juga memegang pahanya atau pun terkadang menyenggol payudaranya. Tapi karena kami saudara, apapun yang aku lakukan nggak ada efeknya. Aku juga begitu nggak ada rasa sebenarnya. Hanya saja, nanti perasaan itu pun muncul. Tapi belum sekarang.

Ketika kami berebut remote tiba-tiba ada tangan lain yang merebutnya. Kami berdua melihat Icha. Dengan tenang Icha memindah Channel ke Animax. Dan tampillah acara anime kesukaannya.

“Aaarrgghh…Ichaaaaa!” keluh kami berdua.

“Kalau kalian tak tahu cara gunain remote, biar aku aja!” katanya dengan nada datar lalu duduk di sofa dengan santai.

Satu hal kenapa kami tak berani merebut remote dari tangan Icha. Sebab kalau ia marah, maka ia akan menjerit dengan suara melengking yang akan mengakibatkan ibu marah besar dikira kami berbuat sesuatu kepadanya. Dan oleh karena itu, aku dan Kak Putri mengalah.

“Kamu sih!” Kak Putri memukulku dengan bantal sofa.

Icha ini masih SMP. Sama seperti Rendi mereka hanya terpaut satu tahun.

Begitulah hari-hari kami, keseruan di rumah. Berebut remote tv, bercanda, kadang juga kami musuhan antara satu sama yang lain. Bisa dibilang membuat bunda benar-benar naik pitam. Nggak ada yang salah kan? Normal bukan? Iya. Normal. Tapi hanya sesaat.

Hari ini ayah tidak ada di rumah, karena ia ke rumah istrinya yang lain. Biasalah, orang kalau sudah punya banyak istri harus menggilir istrinya dengan adil.

Hari sudah larut dan aku berada di kamarku. Iseng aku pun menelpon Vira. Awal mula aku dan Pandu suka ama Vira ini adalah ketika Masa Orientasi Sekolah. Vira jadi salah satu kakak seniornya. Dan dari situlah aku dan Pandu akhirnya berusaha untuk mencari perhatian dia, tanya nomor telepon dan seterusnya. Apalagi kita semua tahu ternyata Vira ini memang primadona di sekolah ini. Dan yang pasti dia ini jomblowati tulen berkualitas.

“Halo?!” sapa Vira.

“Halo Vir, lagi ngapain?” tanyaku.

“Lagi mau bobo’, ada apa?” tanya Vira.

“Oh, sudah mau istirahat yah?”

“Iya nih, udah ngantuk. Takut besok nggak bisa bangun.”

“Kalau nggak bisa bangun aku bangunin deh.”

“Ih, emangnya situ jam beker?”

“Kamu kepengennya aku jadi jam beker? Boleh deh.”

“Hahaha, ada ada saja. Ada apa nelpon jam segini. Udah jam sebelas nih.”

“Oh, iya. Aku nggak lihat. Maklum biasanya nggak tidur waktu malem.”

“Lho, emangnya kenapa? Insomnia.”

“Aku ini sejenis batman. Keluarnya malem. Kalau siang tidur.”

“Huuu…ngaco ah. Batman jadi-jadian kali.”

“Masalah kalau malam aku itu sedang terbang mencari sesuatu.”

“Emang cari apaan?”

“Mencari dirimu di hati aku.”

“Adudududuh…rayuannya maut. Hihihihi.”

“Sayang ya besok Malem Minggu kamu mau jalan ama Pandu. Padahal kepengen banget ngajak kamu nonton.”

“Kenapa nggak besok aja? Kan besok hari Jum’at. Kalau kamu mau ngajak keluar, aku free koq”

“Yang bener?”

“Iya, lagian kalau hari Jum’at bioskopnya ada nonton hemat kan?”

“Betul betul betul.”

“Ya sudah, aku mau bobo’ nih.”

“Besok habis pulang sekolah ya? Atau malemnya?”

“Malem dong, ntar aku nanti dicari nyak ama babe gara-gara nggak pulang habis sekolah.”

“Asyiiikk…oke deh. Sampai besok yah. Dan jangan lupa!”

“Apaan?”

“Mimpiin aku dong.”

“Huuu…emangnya bisa mimpi dipesen?”

“Bisa aja.”

“Gimana caranya?”

“Sebut namaku tiga kali sebelum tidur, bayangin wajahku, ntar pasti bakal ketemu.”

“Huu..emang apaan? Udah ah, bobo’ dulu cowok cakep.”

“Selamat tidur cewek cantik.”

Aku pun menutup teleponnya. Yes…besok aku mau jalan ama Vira. Wooohooooo!

(bersambung……)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*