Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 19

Bundaku 19

Cerita Sebelumya : Bundaku 18

Part 19

Fuuh… sepertinya matahari hari ini tidak bersahabat, baru juga jam 8 pagi tapi panasnya minta ampun, sampe mandi keringat begini, mana haus lagi sial.

Sambil menjambak rumput liar, aku menebaskan ciluritku hingga rumput itu putus, bahkan ada yang sampe keakar-akarnya. Entah sudah berapa banyak rumput yang bernasib tragis ditanganku, tapi sepertinya mereka tidak ada habisnya, padahal telapak tanganku mulai terasa sakit.

Semangat Aldi… semangat… ingat siang ini kamu sudah ditunggu oleh Kak Nurul.

Ya, semalam Kak Nurul sempat sms aku, dia bilang siang ini dia memintaku untuk menemaninya, karena penghuni kos lainnya berencana ingin berlibur kepantai.

“Ah… capek !” Kuseka keringatku yang mengucur melalui keningku.

“Ehemm… hihi kasihan ya !” Kulihat dua santri wati sedang kasak kusuk dibelakangku, mereka tampak sedang mentertawakanku yang sedang menjalani hukumanku. Untung mereka cantik, kalau tidak mungkin aku akan segera melabraknya, gak tau apa orang lagi kepanasan.

“Itu, anaknya Umi Erlina kan ?” Tanya seorang santri kepada temannya, dilihat dari perawakannya, sepertinya ia satu tingkat dengan Kak Nurul.

“Bener… gak nyangka ya, anak seorang Ustadza bisa kayak gitu, malu-maluin aja.”

“Gak boleh gitu, kasihan tau !”

“Yakin kasihan… Yuk kita bantuin dia.” Tiba-tiba gadis berkerudung coklat tersebut menarik tangan sahabatnya mendekatiku, tapi aku tetap berpura-pura tidak menyadari kedatangan mereka.

Mereka berduapun jongkok didekatku sambil memperhatikanku yang sedang menebas rerumputan. “Assalamualaikum Akhi… lagi dapat hukuman ya ?” Godanya, aku hanya menoleh sesaat lalu kembali sibuk dengan pekerjaanku.

“Kamu Aldi ya, aku Yani ini sahabatku Naura.” Kata Yani sambil memperkenalkan sahabatnya, kali ini perhatianku fokus kearah mereka.

Dengan jarak kami yang begitu dekat aku dapat melihat wajah dan bentuk tubuh mereka lebih jelas, ternyata mereka berdua memang sangat cantik, dibalik gamis yang mereka kenakan aku dapat menebak kalau mereka memiliki lekukan tubuh yang sempurna.

“Iya aku Aldi, salam kenal ya.”

“Sama-sama, kami bantuin ya… ” Jawab Naura hendak mencabuti rumput dengan tangan telanjangnya, buru-buru aku menahan tangannya.

Duh… ternyata tangannya lembut juga. “Gak usah, nanti tangannya kotor mbak.” Kataku menolaknya dengan halus, padahal saat ini aku sedang sangat membutuhkan bantuannya.

“Gak papa, kita sudah biasa kok.” Ujar Yani.

Lalu gadis yang bernama Yani mengambil tempat didepanku, ia berjongkok memperlihatkan betisnya yang putih, memamerkan kuku-kukunya yang rapi, sementara Naura tetap berada disampingku sambil memulai mencabuti rerumputan tanpa rasa takut kalau nantinya kuku-kukunya lecet.

“Kalau boleh tau mbak kelas berapa ?” Tanyaku mulai berbasa-basi.

“Kami baru kelas satu aliyah. Kamu ?”

“Kelas 2 Stanawiya. Emangnya kalian gak takut nanti kukunya rusak.”

“Gaklah, asal rusaknya karena bisa deket dengan anaknya Ustadza Erlina kami iklas kok, hihihi… ” Jawab Mbak Yani, sekilas ia sempat merenggangkan kedua kakinya sehingga aku dapat melihat betisnya yang putih bersih tanpa cacat, sepertinya di balik kain panjang itu ia tak mengenakan celana panjang, membayangkannya saja sudah membuat penisku berdiri, apa lagi kalau sampai melihat dalamannya, huuuh… aku gak bisa bayangkan.

Naora bergerak kesampingku, membuat pandanganku beralih kearahnya, ternyata buah dada Naura cukup besar, aku baru sadar ketika ia tidak sengaja menyingkap kerudungnya.

“Jangankan kuku yang lecet, yang lainnya juga gak papa kalau buat kamu.” Timpal Naura.

“Emang yang lain itu apa ya ?” Tanyaku semakin berani, toh mereka duluan yang mulai.

“Apa ya… hahaha !” Jawab Naura tidak jelas, tapi aku cukup senang, karena tawanya membuat dia tidak sadar kalau kedua kakinya terbuka semakin lebar hingga aku dapat melihat paha mulusnya, duh… sedikit lagi aku dapat melihat dalemannya.

“Emang selain kuku apa ya yang bisa lecet ?” Ujar Yani pura-pura berfikir. Duh… saat dia sedang mengangkat kepalanya memandangi.langit seolah sedang berfikir aku dapat melihat leher Yani yang jenjang dari balik sela-sela kerudung coklat yang ia kenakan.

“Apa ya… ? Mungkin sesuatu yang bisa ngejepit kali !” Jawabku asal.

“Hahaha… emangnya apa yang bisa ngejepit.”

“Jari tangan !” Kataku sembari menunjukan kedua jariku.

“Kiraaaaiiiin… ” Kata Naura dengan nada suara yang mendesah.

“Hayoooo… pasti mikir.jorok ya ?” Tembak Yani, lalu Naura yang tidak terima langsung mendorong pelan tubuh Yani.

Siapa yang menyangkah dorongan pelan itu membuat Yani yang sedang berjongkok terjengkang kebelakang hingga terduduk, otomatis membuat bagian bawah gamisnya tersingkap cukup tinggi membuatku bisa melihat apa yang ingin kulihat.

Sepasang paha mulus hingga keselangkangannya menjadi santapan liar mataku, kain segita berwarna hijau yang melekat diselangkangannya cukup memanjakan mataku.

“Jahat ni Naura !” Rengek Yani sambil berusaha berdiri.

Reflek aku membantunya berdiri, sembari tersenyum geli.

“Maaf maaf… Aldi jadi dapat tontonan gratis ni.” Katanya Naura sambil melirikku, aku tersenyum kecut karena malu.

“Hahaha… itu gak sengaja kok.” Jawabku salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Sengaja juga gak apa-apa kok.” Jawab Naura yang membuatku terdiam seribu bahasa.

***

Sendirian lagi… padahal tadi aku cukup merasa terbantu dengan kehadiran mereka, tapi sayang kedatangan Ustadza Muna menghancurkan segalanya, duh gimana ya nasib mereka sekarang ? mungkin mereka juga nanti akan medapat hukuman yang sama denganku.

Ya, bagaimanapun juga disekolahku dilarang keras wanita dan pria yang bukan muhrimnya berdekatan dalam kondisi apapun, jadi wajar saja kalau Ustadza Muna sangat marah melihat Santrinya yang sedang tertawa cekikikan dengan Santri putra sepertiku.

Sudalah, mending aku segera selesaikan hukumanku agar aku bisa segera melampiaskan hasratku kepada Kak Nurul.

Yups… cukup satu tebasan maka hukumanku selesai. Kuangkat sedikit tinggi tanganku bersiap mengakhiri hukumanku hari ini, tapi tiba-tiba saja.

“Sakitnya tuh di sini… di dalam hatiku, sakitnya tuh disini… bla… bla… bla…” Terpaksa aku mengurungkan niatku untuk menebas rumput terakhir yang berada di genggamanku setelah mendengar seseorang bernyanyi dari balik tembok tepat didepanku yang sedang menebasi rumput.

Suara siapa tuh ? Kok ada suara airnya juga, jangan-jangan ini… Wa, gak beres ni.

Terpaksa aku mengurungkan niatku untuk mengakhiri hukumanku, aku berdiri lalu menepuk-nepuk pantatku membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel dicelanaku. Lalu sambil berjinjit aku mengintip dari balik lobang pentilasi.

Memang rejeki gak kemana, ternyata di balik tembok ini adalah kamar mandi, dan sekarang anaknya Ustadza Karima sedang membasuh tubuh telanjangnya dengan air sambil bernyanyi riang.

Sesuai dengan bentuk tubuhnya yang mungil, ukuran dadanya juga terbilang mungil dengan putting yang kecil berwarna pink, tepat dibawah perutnya terdapat garis yang membela bukit kecilnya, menambah keindahan pemandangan yang ia suguhi untukku.

Ular kobra diselangkanganku mulai bergerak liar meminta jatahnya, tapi aku tak memperdulikannya.

Misbah mengambil sabun cair lalu menumpahkannya ketelapak tangannya, ia memulainya dengan membasuh melumuri busah sabun tersebut kedadanya yang kecil, ia tampak telaten membersihkan dadanya berikut dengan puttingnya.

Lalu kedua tangannya bergerak keatas perutnya, dan turun menuju bukit kecil yang terselip diantara kedua pahanya.

Telapak tangannya dengan gesit menggosok-gosok selangkangannya, sesekali nyengir kuda, sepertinya Misbah sangat menikmati proses pembersihan vaginanya.

Ampuuun… kalau begini terus bisa-bisa aku nekat masuk dan memperkosanya. Sadar Aldi, ingat urusan bisa panjang kalau kamu sampe nekat memperkosa anaknya Ustadza Karima, belum lagi Bundamu bisa menanggung malu akibat perbuatan nekad kamu.

Sabar-sabar, ntar siang kamu bakalan dapat jatah dari Kak Nurul, kataku menenangkan ular kobra yang masih bersembunyi dibalik celanaku.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan ternyata Ustadza Karima yang masuk. Beliau terseyum lalu disambut oleh pelukan hangat dari anaknya, pemandangan yang aneh tapi menyenangkan untukku.

Keanehan itu semakin menjadi-jadi menurutku, karena Misbah tidak merasa canggung melucuti pakaian Ustadza Karima, dari kerudung hingga baju terusannya.

Ternyata di balik baju panjangnya, Ustadza Karima hanya mengenakan celana dalam yang berbentuk aneh. Ya… bentuknya aneh karena di bagian depan celana dalamnya terdapat benda panjang berbentuk penis.

Tidak… tidak… ini gila, mana mungkin Ustadza Karima yang alim itu punya hubungan segila ini dengan putri kandungnya sendiri.

Entalah, aku merasa dejavu dengan apa yang kulihat saat ini, mengingatkanku dengan Kak Sifa dan Kak Peni, tapi kali ini lebih gila lagi karena dilakukan oleh Ibu dan anak.

Misbah berjongkok, lalu telapak tangannya yang kecil menggenggam penis mainan Ustadza Karima, mengocoknya perlahan sambil tersenyum centil. Kali ini aku benar-benar sudah tidak tahan lagi, segera kukeluarkan senjataku dari balik celanaku sambil mengocoknya.

“Anak pintar !” Puji Ustadza Karima sambil membelai kepala anaknya.

“Umi, Misbah boleh gak kulumin kontolnya Umi ?”

“Boleh kok sayang, hisap yang dalam ya.” Jawab Ustadza Karima sambil membantu memasukan penis mainannya kedalam mulut putri kandungnya sendiri.

Lalu Misbah yang tampaknya sudah terbiasa dengan mainan Ustadza Karima mulai mengulumnya sambil memainkan payudarahnya sendiri.

Setelah merasa puas melihat anaknya mengulum penis mainannya, Ustadza Karima meminta Misbah untuk berdiri membelakanginya, lalu kulihat Ustadza Karima berjongkok, membenamkan wajahnya diantara selangkangan putrinya.

Aku tau yang dilakukan Ustadza Karima, dia saat ini pasti sedang menjilati vagina anaknya, melihat gelinjang tubuh Misbah, aku yakin anak itu sangat menikmati permainan lidah Ibu kandungnya sendiri.

“Umii… aahkk… Aahkk… ampuun Umi !” Rengek Misbah, kulihat wajahnya menegang menahan gejolak nafsunya.

“Sluupss… sluupss… memek kamu enak sayang, rasanya gurih… itil kamu juga enak asiiin… sluppss… sluup… !”

“Aah… Umi, Misbah mau pipis ni.”

“Pipisin sayang, gak usah ditahan !” Ujar Ustadza Karima yang semakin intens menggaruk-garuk lobang vagina anaknya.

Tak lama kemudian pinggul Misbah bergetar, lalu seeerr… seeerrr… seerr… Astaga Misbah ngencingin wajah Ibunya sendiri, dan parahnya Ustadzah Karima sangat menikmati air seni anak kandungnya sendiri.

***

Pertunjukanpun berlanjut, masih dengan posisi berdiri Ustadza Karima memeluk putri kandungnya dari belakang, lalu kulihat gerakan tangannya yang berada dibawah tepat didaerah selangkanganya.

Sambil memegangi mainannya, Ustadza Karima memasukan benda besar itu kedalam lobang vagina putrinya, perlahan dengan segera dorongan benda itu masuk kedalam vagina putrinya.

“Aahkk… perih Umi, pelan-pelan rasanya penuh !” Rintih Misba tak tahan.

“Sabar sayang, pasti kamu suka.”

“Aaahkk… Umiii… Aahkk… ahkk… !”

Kulihat Ustadza Karima mulai menggoyang-goyang pinggulnya maju mundur menyodok pinggul anak kandungnya sendiri. Entah apa yang ada dikepalanya Ustadza Karima sehingga ia tega menyetubuhi anaknnya sendiri.

Semakin lama kulihat Misbah semakin menikmati sodokan dari Ibu kandunya sendiri.

“Umiii aku mau keluar.”

“Iya sayang, keluarin yang banyaaak.”

Ustadza Karima semakin bersemangat memyetubuhi anak kandungnya sendiri, kedua tangannya melingkar menggenggam dadanya Misbah.

“Umiiii…. aku keluaaarrr… ” Pekikan Misbah diringi dengan getaran tubuhnya yang hebat, lalu setelah semenit kemudian tubuhnya ambruk kelantai, untunglah Ustadza Karima dengan sigap menangkap tubuh putrinya.

Sejenak kulihat dari raut wajah mereka berdua terpancar sebuah kepuasan, lalu sedetik kemudian raut wajah Ustadza Karima tampak murung.

“Terimakasih ya sayang, dan maafin Umi.” Ujarnya lirih sambil memeluk erat tubuh anak kandungnya.

“Gak papa kok Umi, Misbah senang kalau Umi bahagia.”

“Umi tau, karena kamu anak yang baik.”

“Misbah sayang Umi.” Balas Misbah.

“Umi juga sayang kamu… ” Merekapun berpelukan erat. Akhir dari hubungan terlarang itu berakhir mengharukan.

Sejenak aku termangu, mengingat kembali hubunganku dengan Bunda, entah kenapa aku jadi ingat Bunda. Kasihan Bunda jangan-jangan dia juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Ustadza Karima.

Keasyikan melamun aku jadi lupa dengan Ustadza Karima, saat kesadaranku kembali, kulihat Ustadza Karima dan putrinya Mizbah sudah tidak ada lagi didalam kamar mandi, mungkin mereka sudah kembali kekamarnya.

“Nyari siapa ?” Eh… aku diam mematung, suara itu sepertinya sudah tak asing lagi ditelingaku.

Mati aku…

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*