Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 18

Bundaku 18

Cerita Sebelumya : Bundaku 17

Part 18

“Bunda… !”

“Aaahk… Bunda juga mau sampe !”

Aku semakin cepat menghentak-hentak pinggulku, menyodok vaginanya dari belakang. Sementara kedua tanganku mencengkram erat pinggulnya agar posisinya tidak berubah.

Kurasakan urat-urat penisku mulai menegang, dibagian ujung kepala penisku terasa telah penuhterasa oleh cairan yang kapan saja bisa membuahi Ibuku sendiri.

Tubuhku bergetar, mataku mulai berkunang-kunang, rasa geli yang hebat mulai menyerang penisku, hingga akhirnya lahar panas itupun meledak menyembur deras masuk kedalam rahimnya. Persetan dengan kehamilan Bunda, yang penting aku berhasil mencapai klimaksku.

“Bundaaaa keluaaar… ” Pekiknya berbarengan denganku.

Tanpa melepas penisku yang mulai mengecil didalam vaginanya, aku memeluk tubuhnya dari belakang, sambil menikmati aroma keringatnya yang menurutku sangat memabukan.

“Bunda… !”

“Iya sayang, ada apa ?”

“Nanti kalau Bunda hamil gimana ?” Jujur terkadang rasa khawatir kalau nantinya ia hamil sedikit menggangguku.

“Emangnya kenapa kalau Bunda hamil ? kamu gak suka punya anak dari Bunda ?” Kudengar ada nada kecewa dari ucapannya membuatku merasa bersalah.

“Maaf Bunda, adek gak maksud gitu.”

“Sayang, Bunda malah ingin hamil dari kamu… Bunda ingin sekali mengandung anak kamu, jadi Bunda mohon hamili Bunda.” Katany yang membuatku sangat terkejut.

Apa Bunda serius ? Trus kalau Bunda beneran hamil, itu artinya aku beneran akan menjadi seorang bapak ? Tapi… ya sudalah, aku tidak ingin terlalu memikirkannya.

“Berarti, kita harus sering-sering ngentot dong Bunda ?” Kataku mencoba menggodanya kembali, berharap mendapatkan ronde keduaku.

“Iya dong sayang, kamu harus semakin sering nyodok memek Bunda.”

Perlahan aku mencabut penisku, lalu aku meminta Bundu terlentang sehingga aku dapat melihat tubuhnya secara sempurna, ah… Bunda memang sangat menggairahkan.

“Nanti apa kata orang, kalau mereka tau Ustadza Erlina suka di entotin sama anaknya sampe hamil, emang Bunda gak malu ya ? Apa Bunda udah gak punya malu lagi.” Kukecup lembut pipinya, sambil kedua jariku memainkan puttingnya.

“Kamu nakal sayang… Aahkkk… Bunda akan bilang kemereka kalau Bunda memang sudah resmi menjadi pelacur kamu.” Tubuh Bunda menggeliat seiring dengan puttingnya yang kutarik cukup keras.

“Pelacur kok gratisan.”

Kuangkat satu kakinya, lalu kuletakan kakinya yang jenjang keatas pundakku.

“Ugghk… Kamu taukan tau kalau Bunda ini pelacuran murahan.” Lenguhan Bunda menandakan ronde kedua sudah dimulai.

“Oh iya ya… Adek hampir lupa.” Kudekatkan bibirku didekat telinganya seiring penisku gerakan penisku yang menusuk semakin dalam. “Dasar memek murahan tidak tau malu.”

***

Hidupku kini terasa kian sempurna, setelah mendapatkan Kak Nurul, kini aku juga telah berhasil menaklukan Bunda. Setiap saat mereka berdua secara bergantian melayaniku hingga membuatku hampir melupakan Putri.

Ngomong-ngomong soal Putri, aku sudah lama tidak mengobrol dengannya, hubungannya dengan Kak Fuad semakin hari terlihat semakin akrab.

Tapi aku yakin, Putri tetap sama seperti Putri yang dulu, buktinya dia perna menyelamatkanku bersama Kak Vera saat aku dihajar maling malam itu, ya, Putri dan Kak Vera sama-sama belajar bela diri, tidak seperti diriku yang tidak bisa apa-apa, seandainya saja tidak ada mereka berdua entah apa jadinya aku sekarang.

“Hayo… kamu lagi mikirin apa ? Sore-sore kayak gini gak boleh ngelamun, ntar kesambet loh.” Ujar Kak Liza, entah semenjak kapan ia sudah berada didekatku.

“Kak Liza ngagetin aja nih.” Protesku.

“Hihihi… habisnya tumben matanya gak kearah kamar mandi.” Deg, seketika mukaku langsung merah padam.

Entah kenapa walaupun aku tau mereka semua tau kalau aku suka mencuri pandang, bahkan suka ngintipin mereka mandi, tapi tetap saja aku selalu merasa malu setiap mendengar sindiran seperti yang dilakukan Kak Liza kepadaku, walaupun sesekali kalau lagi kumatnya aku bisa berkata vulgar dan lebih berani menjawab godaan mereka.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi kebuka, sepasang lesbi keluar dengan langkah gontai. Huh… aku yakin mereka pasti habis bercinta, membayangkannya saja sudah membuat celanaku terasa sesak, apa lagi kalau bisa melihatnya secara langsung, seperti yang kulakukan beberapa waktu yang lalu.

Tapi kalau di ingat-ingat lagi, persetubuhanku malam itu bersama Kak Sifa dan Kak Peni terasa begitu nyata, tapi entah kenapa saat aku tersadar semuanya seolah hanya mimpi.

“Ya… ni anak bengong lagi.” Tegur Kak Liza, kali ini ia menyadarkanku dengan sedikit kasar, sebuah pukulan dipundakku nyaris membuatku tersungkur dari kursi tempatku duduk saat ini.

“Resek ni Kak Liza, gih buruan mandi, lagi kosong tuh.” Kataku setengah mengusirnya.

“Hehehe… iya deh, kamu mau ikut gak ?” Katanya, aku diam tak menanggapi ajakannya.

“Mau ikut gak ?” Ulangnya.

“Ogah… mending baca komik dari pada ikut mandi bareng Kak Liza.” Balasku sok jual mahal, padahal dalam hati aku sangat berharap bisa mandi bareng dengannya, tapi sepertinya mustahil.

“Yakin… ?” Katanya kembali menawariku.

“Kak… Kak Liza serius ?” Tanyaku, kali ini aku menanggapi ajakannya dengan mata berbinar.

“Dasaaaar Adeeekkk messuuum… ” Plataak… sebuah jitakan telak mengenai kepalaku, tak urung aku dibuatnya meringis kesakitan.

Huh dasar Kak Liza, awas saja nanti pasti akan kubalas.

***

Malamnya, sambil mengendarai sepeda aku bertandang kerumah Putri, pokoknya masalah antara kami berdua harus selesai malam ini juga, bermusuhan terlalu lama dengannya bukanlah hal yang baik untukku.

Sesampainya didepan pagar rumahnya, kulihat Putri sedang duduk sendirian di teras rumahnya. Segera kubuka pagar rumahnya, lalu memarkirkan sepedaku.

“Assalamualaikum… !”

“Waalaikumsalam… ” Jawabnya tanpa menoleh kearahku, Duh… judes banget ini anak.

“Sendirian… ?”

“Gak berdua.” Eh…

“Boleh duduk di sini.” Kataku sambil menunjuk kursi kosong yang ada disampingnya.

“Gak, sana pulang ! Tumben, ngapain kesini ?” Ternyata doi lagi kumat. Tapi walaupun begitu aku tetap memberanikan diri duduk disampingnya.

Cukup lama kami berdiam diri, Putri kulihat tampak sedang sibuk memainkan hpnya, berbbman ria entah dengan siapa. Cowok… ? Tidak… tidak… aku yakin saat ini dia pasti sedang tidak berbbman dengan Fuad.

“Lagi bbman sama siapa sih ?” Akhirnya pertanyaan itu muncul dari bibirku, rasa penasaran membuatku membuka obrolan, sebuah awal yang salah.

“Apa urusannya sama kamu ?” Jawabnya dengan mata mendelik kearahku.

“Gak ada, cuman pengen tau aja.”

“Bodoh… !”

“Put… ” Kuraih tangannya, dia berusaha menepisnya, tapi kali ini aku tidak akan perna lagi melepasnya.

“Lepasin gak… ?” Geramnya semakin kesal.

“Enggak… Pokoknya aku pengen ngomong.”

“Yaudah ngomong aja, tapi gak usah pake pegang-pegangan segala.”

“Kamu kenapa si Put ? Masak cuman gara-gara lupa jemput kamu jadi semarah ini sih ?” Kataku dengan sura sedikit keras, jujur aku mulai terbawa emosi.

“Cumaaan… dasar cowok gak berperasaan.”

“Ya udah aku minta maaf.”

“Gak… sekali gak tetap gak titik.” Dengan cepat Putri menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman tanganku.

“Kamu telat minta maafnya Al, sekarang aku sangat membencimu, ini semua salah kamu… pokoknya aku benci kamu.” Lanjutnya, lalu ia bergegas pergi meninggalkanku, sejenak kudengar suara bantingan pintu rumahnya yang cukup keras.

Siaaal… apa salahku coba ? Aku hanya lupa menjemputnya, bukan berarti dia bisa seenaknya saja mengusirku.

***

Hari ini, hari Jum’ad, hari libur yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untukku, tapi tidak untuk hari ini, setelah semalam aku harus pulang tidak membawa hasil, pagi ini aku harus menerima hukuman dari Ustadza Karima yang sempat tertunda.

Kulirik jam ditanganku, masih jam 6 pagi, rumah Ustadza Karima juga terlihat sepi, apa mereka masih tidur ? Ah… tidak mungkin, paling saat ini Ustadza Karima sedang bersantai dengan Ustad Muhklis.

Tok… tok… tok…

Ketukan pertamaku tidak mendapatkan jawaban dari sang pemilik rumah, membuatku mulai ragu, jangan-jangan Ustadza Karima memang masih tidur.

Kembali kucoba mengetuk rumahnya. “Tok… tok… tok… Assalamualaikum.” Aku diam sejenak menunggu jawaban.

“Waalaikum salam, tunggu sebentar !” Fuh… akhirnya ada juga yang menjawab, tidak lucukan kalau aku harus pulang lagi.

Tak lama kemudian pintunya terbuka, kulihat sesosok wanita bertubuh mungil membukakan pintu untukku, wajahnya yang polos dengan mata setengah menutup, menandakan kalau ia baru saja bangun tidur.

Jujur saja, mahluk kecil yang berada dihadapanku saat ini cukup membuatku mematung, melupakan tujuan awalku datang kerumah Ustadzah Karima.

Siapa yang tidak mengenal Misbah, Putri dari Ustadza Karima, selain cantik dia juga anak yang pintar, tahun lalu dia menjadi juara umum disekolahku. Jadi tidak heran kalau banyak teman disekolah sangat mengidolakannya.

Kini idola itu tepat dihadapanku, hanya mengenakan pakaian seadanya. Iya… seadanya, kaos tanpa lengan dan celana super pendek yang membalut ketat tubuh mungilnya, bahkan sanking ketatnya aku dapat melihat puttingnya yang ngejeplak dikaos yang ia kenakan.

“Cari siapa ?”

“Maaf, Umi ada ?” Tanyaku sedikit gerogi, ya wajar saja kalau aku gerogi didepan sang idola satu sekolah.

“Ooo… ada bentar ya.” Katanya lalu ia kembali masuk kedalam rumahnya.

Duh… bodoh-bodoh ! Kenapa aku tidak mengajaknya mengobrol sejenak, setidaknya aku bisa mengulur waktu untuk melihat lekuk tubuhnya lebih lama lagi.

Aku duduk diatas kursi yang terbuat dari rotan, mataku jauh memandang kearah sebuah gedung berlantai dua, yang kutau gedung itu adalah salah satu asrama Putri. Beberapa kali aku melihat santri wati keluar masuk dari dalam kamar mereka, bahkan beberapa tanpa sedang berbisik-bisik sambil melihat kearahku.

“Aldi, kirain gak datang tadi, sudah lama nunggunya ?” Aku segera berdiri lalu menyalaminya.

“Gak kok Umi, baru saja.”

“Kamu mau istirahat dulu, apa mau mulai sekarang ?”

“Sekarang aja deh Umi.” Toh mau sekarang apa nanti hasilnya akan tetap sama, lebih cepat malah lebih baik.

“Ini, sudah Umi siapkan. Tolong kamu tebasin rumput yang ada di belakang rumah Umi.” Ustadza memberiku celurit sebagai alat untuk membersihkan halaman belakang rumahnya yang sudah ditumbuhi rerumputan liar.

Ya… hukuman membersihkan halaman rumah seorang Ustad atau Ustadza sudah biasa disekolahku, sekalian menghukum mereka juga mendapat keuntungan lainnya, dengan begitu mereka tak perlu lagi repot membersihkan halaman rumah mereka. Istilah kata orang dulu, menyelam sambil meminum air.

Segera dengan membawa celurit, aku kebelakang rumahnya, dan ternyata rumput yang tubuh dibelakang rumah Ustadza Karima memang sudah sangat banyak dan cukup panjang, hari ini pasti akan menjadi hari yang melelahkan untukku.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*