Home » Cerita Seks Umum » Puji 8 (Tamat)

Puji 8 (Tamat)

BAB VIII Aku tidak menduga sebelumnya bahwa sahabatku yang bernama Dendy memiliki fantasy spontan dan menurutku sangat ekstrim. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya dengan wajahnya yang seperti anak baik-baik tapi ternyata dia benar-benar liar. Ibunya ia perkosa dan sekarang ibunya telah menjadi budak seks untuk memenuhi segala hasrat nafsu birahinya.

Setelah aku menggempur ibunya Dendy yang bernama Tante Meta, Dendy jadi semakin sering bersama-sama denganku. Sehingga aku tidak berani menghubungi Tante Meta sebab aku takut jika aku menghubungi Tante Meta akan terjadi hubungan istimewa antara aku dan Tante Meta. Dan jika itu terjadi besar kemungkinan hubungan aku dan Dendy akan menjadi buruk. Makanya, hp pemberian dari Tante Meta tidak aku gunakan dan aku simpan baik-baik di dalam kamarku.

Siang itu Dendy kembali menjemputku di depan sekolah. Setelah bercakap sebentar aku pun langsung naik ke atas sepeda motornya. Di perjalanan tak ada sepatah katapun yang ke luar dari mulutnya. Makanya aku pun santai saja dan gak peduli mau dibawa kemana pun juga.

Ternyata aku dibawa menuju rumahnya. Rumah besar dan mewah yang hanya dihuni oleh Dendy, Tante Meta, dan Bu Inah pembantunya. Walau aku belum pernah bercakap-cakap dengan Bu Inah tapi aku merasa sudah kenal baik sebab, Dendy kerap bercerita tentang pembantunya tersebut.

Masuklah aku bersama Dendy ke dalam rumahnya yang mewah tersebut. Di ruangan bersantai tempat menonton tv terlihat Tante Meta sedang duduk sambil membaca majalah. Aku menjadi menduga-duga, “pasti Dendy ngajakin aku ngentot ibunya lagi! makanya ia langsung ajak aku ke rumahnya.” bisikku dalam hati.

Kami pun berjalan mendekat menghampiri Tante Meta. Kemudian Tante Meta pun tersadar dengan kehadiran kami dan segera menyimpan majalahnya. Pipi Dendy dikecupnya dengan lembut. Begitu juga aku, ketika aku hendak mencium tangannya, Tante Meta dengan cepat mencium pipiku pula. Senang bukan main sebab, dengan begitu berarti aku dan Dendy disayangi oleh Tante Meta.

Dendy langsung pergi menuju kamarnya. Sedangkan aku ikut duduk bersama Tante Meta di sofa putih yang lembut dan empuk.

“kamu kok gak ngehubungi tente. Apa hp yang tante kasih rusak atau hilang?” tanya Tante Meta.
“ada tante hpnya baik-baik saja. Cuma beberapa hari ini Dendy kan sering sama-sama aku terus. Makanya aku belum ngehubungi tante karena takut Dendy tahu, nanti jadi salah paham.” jawabku dengan polos.
“oh begitu. Kamu sudah makan?”
“belum tante. Tar aja aku belum lapar kok.” jawabku sambil menonton tv.

Dendy sudah berganti pakaian. Ia segera duduk dan ikut ngobrol sambil meluk dan meremas-remas tubuh serta susu Tante Meta. Aku yang melihat hal tersebut cuma bisa geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum agak geli. Walaupun aku sebernarnya sangat terangsang melihat baju daster kuning yang dipakai Tante Meta terangkat karena ulah Dendy sehingga celana dalam hitam yang dikenakan ibunya itu terlihat mataku. Tapi aku mencoba biasa-biasa saja sambil mengalihkan pandangan ke arah tv.

“mam, di belakang ada orang yang lagi kerja ya?” tanya Dendy pada Tante Meta.
“iya, kebetulan mamah kan libur hari ini jadi mamah suruh orang betulin pintu dan jendela belakang. Kayunya udah rapuh dan ada dinding yang udah retak juga. Kebetulan Bu Inah kenal sama tukang bangunan jadi dipanggil aja ke sini suruh betulin.” jawab Tante Meta.

Setelah bincang-bincang itu Dendy segera nyelonong ke belakang. Aku dan ibunya ditinggalkan berduaan lagi. Kami pun ngobrol-ngobrol.

Ketika sedang asik ngobrol dengan Tante Meta, Dendy muncul disertai dua orang lelaki yang rupanya kuli bangunan yang sedang bekerja di rumahnya. Badan kuli itu hitam dengan wajah yang terlihat garang. Tapi tubuh mereka berbeda, yang satu sudah agak tua, tubuhnya tinggi dan perutnya agak buncit sedangkan yang satu tingginya sama denganku dengan badan kurus tapi berotot dan mungkin usianya 4 atau 5 tahun lebih tua dariku.

“liat bang, seksi gak tuh?” tanya Dendy kepada kedua kuli bangunan tersebut.

Kedua kuli itu tak menjawab apa-apa. Terlihat wajah mereka yang hitam dan garang itu menjadi padam karena malu. Namun, mata mereka sesekali tampang mencuri-curi pandang ke arah tubuh Tante Meta yang putih, seksi, dan mulus.

“kenapa bang diem aja? mau ngentot gak?” tanya Dendy pada kedua kuli tersebut.

Aku yang mendengar itu kaget bukan main. Mengapa Dendy sampai berbuat demikian? Aku tatap wajah Tante Meta dan tampaklah kulit wajahnya semakin pucat pasi. Aku tahu bahwa ibunya merasa dipermalukan oleh anaknya sendiri sekaligus gelisah karena memikirkan rencana anaknya.

“mah, buka dong bajunya, biar mereka bisa liat tubuh indah mamah!” pinta Dendy pada ibunya.

Tante Meta diam saja sambil matanya melotot buas ke arah Dendy. Sedangkan Dendy dengan tenang membalas tatapan tajam ibunya itu dengan wajah biasa-biasa saja sambil cengengesan. Aku menjadi merasa tidak nyaman berada dalam kondisi demikian. Awalnya aku merasa nyaman ngobrol dengan Tante Meta sampai kenyamanan itu hilang karena ulah Dendy yang membawa dua kuli bangunan itu ke dalam rumah dan meminta ibunya untuk telanjang.

Aku sesungguhnya kasihan pada Tante Meta karena pasti batinnya tertekan. Dengan santai, Dendy mendekati ibunya dan duduku di sampingnya.

“ayo dong mah, buka baju mamah. Biar mereka bisa liat tubuh seksi mamah. Aku janji tidak akan aneh-aneh lagi. Ini yang terakhir mah!” desak Dendy pada Tante Meta dengan suara agak berbisik.
“enggak den! mamah gak mau! kamu pikir mamah itu wanita murahan?” jawab mamahnya.
“mah, sekali ini aja. Udah ini Dendy gak minta macem-macem lagi. Dendy janji!” kata Dendy terus mendesak ibunya.

Tante Meta yang berada di sampingku terus berdebat dengan Dendy. Aku serba salah sehingga aku lebih memilih diam karena bingung harus berbuat apa. Terlihat Tante Meta sampai mengeluarkan air matanya. Ingin rasanya aku pergi karena aku pun merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi demikian.

Setelah perdebatan itu usai, akhirnya Tante Meta menuruti kemauan Dendy dengan syarat bahwa ini yang terakhir meminta Tante Meta menuruti kemauan Dendy. Dendy pun setuju dan berjanji bahwa ia tidak akan meminta yang macam-macam lagi.

Wajah Tante Meta tampak kacau ketika ia melepas dasternya. Tampaklah ia yang kini hanya mengenakan bh dan celana dalam berwarna hitam. Aku lihat kedua kuli itu melongo melihat Tante Meta.

“bang pada nunggu apa sih? ayo dong bang pada di buka juga bajunya!” pinta Dendy pada kedua kuli bangunan yang tak berkedip melihat keindahan tubuh Tante Meta.

Seolah tersadarkan oleh ucapan Dendy, kedua kuli itu kemudian membuka pakaiannya hingga tersisa celana dalam saja yang melekat ditubuh mereka. Dendy pun lantas menginstruksikan mereka untuk mendekat ke arah ibunya yang berada di sampingnya.

Dengan ragu-ragu kedua kuli itu berjalan mendekati Tante Meta. Setelah mereka berdiri dihadapan Tante Meta, Dendy menyuruh ibunya untuk mengoral kontol kedua kuli tersebut. Dengan wajah tak karuan, Tante Meta pun langsung melorotkan celana dalam kedua kuli itu dengan agak kasar. Tampaklah kedua kontol hitam di hadapan Tante Meta. Ukurannya cukup besar dan ukuran kontol kedua kuli itu hampir sama besar serta panjangnya.

Ragu-ragu Tante Meta mulai mengoral kontol kuli itu bergantian. Ketika mengoral kontol kuli yang sudah agak tua yang tubuhnya tinggi dan perutnya agak buncit, tangan Tante Meta mengocok-ngocok kontol kuli yang muda yang tubuhnya kurus tapi berotot. Begitu aksi Tante Meta secara bergantian memanjakan kedua kontol kuli tersebut.

Ketika Tante Meta sedang mengoral bergantian kontol kedua kuli bangunan yang sedang bekerja di rumahnya, Dendy pun melepaskan bh hitam yang dipakai Tante Meta sehingga susu besar dengan puting besar itu mulai bergelayut mengiringi gerakan Tante Meta memaju mundurkan kepalanya mengoral kontol. Tangan Dendy dengan gemas meremas-remas susu Tante Meta sambil tersenyum penuh gairah kemenangan.

Dendy pun membimbing tubuh Tante Meta agar berdiri agak menungging. Tante Meta pun menuruti dan mulai menunggingkan pantatnya sambil terus mengoral kontol kedua kuli itu secara bergantian. Dengan agak gemas Dendy meremas-remas pantat montok ibunya sebelum akhirnya mempersilakan aku untuk bermain dengan memek Tante Meta.

Entah mengapa, aku yang awalnya merasa tidak nyaman dan agak kesal karena ulah Dendy yang tega pada ibunya, kini dengan penuh gairah birahi mulai menurunkan celana dalam Tante Meta. Terlihat memek tembem dengan kulit putih mulus tanpa bulu itu begitu menggoda birahiku. Dengan perlahan kudekatkan wajahku untuk mencium, menjilat liang memeknya. Tercium bau harum dihidungku.

Memek Tante Meta basah oleh lendir birahinya. Dengan perlahan-lahan aku jilati itilnya, aku kenyot-kenyot perlahan, dan ku putar-putar lidahku perlahan di liang memeknya yang merah menggoda. Sehingga tubuh Tante Meta bergetar mendapat sensasi di memeknya.

“ssssshhhhhh ooooouuuhhhhhh.” desah Tante Meta sambil terus mengoral kontol kedua kuli itu secara bergantian.

Aku terus melakukan aksi menghisap, menjilat, dan mengenyot itil serta liang memek Tante Meta secara perlahan. Terlihat Dendy sudah bugil dan kemudian berdiri di antara kedua kuli itu untuk mendapat oral dari Tante Meta.

Setelah semakin basah memek Tante Meta oleh lendir birahi yang bercampur dengan liurku, aku mulai mempercepat gerakan lidah serta mulutku untuk menghisap, menjilat, dan mengenyot liang memeknya sampai itilnya yang sudah menonjol mengeras.

Aku semakin hanyut dalam birahi. Kini aku mulai menjilati dan menusuk-nusuk liang dubur Tante Meta dengan lidahku sambil jari tengah tangan kiri aku tusukkan ke dalam liang memek Tante Meta. Terdengar erangan dan desahan Tante Meta berkali-kali ke luar dari mulutnya. Aku kobel-kobel liang memeknya dengan jari tengahku. Terasa semakin basah dan hangat liang memeknya.

Belum sampai 10 menit, Dendy memintaku menghentikan aksiku yang sedang asik bermain dengan memek dan dubur ibunya. Aku pun menuruti dan segera bangkit berdiri. Kemudian Dendy menyuruh kuli yang masih muda untuk duduk di sofa. Ketika kuli itu sudah duduk di sofa, Dendy mengintruksikan ibunya untuk memasukkan kelamin kuli itu ke liang memeknya. Dengan posisi WOT sambil membelakangi tubuh kuli itu, Tante Meta membimbing kontol kuli tersebut menuju liang memeknya. Dengan perlahan Tante Meta mulai menurunkan pinggulnya menduduki kontol kuli bangunan itu yang sedikit demi sedikit terbenam di liang memeknya.

Dengan lincahnya, Tante Meta mulai mengoyang pinggulnya dan dikombinasi dengan kocokan naik turun dengan agak cepat. Sehingga kuli tersebut mengerang-erang penuh kenikmatan.

Dendy kembali berdiri dihadapan ibunya di ikuti oleh kuli yang agak tua. Dengan penuh nafsu Tante Meta mengulum kontolnya anaknya sambil sebelah tangannya mengocok-ngocok dengan cepat kontol kuli yang perutnya agak buncit itu.

Ketika aku hendak melangkah mendekat ke hadapan Tante Meta, aku lihat Bu Inah bengong melihat ke arah kontolku. Aku pun diam dan tak jadi melangkahkan kaki. Sampai akhirnya, mata kami saling tatap dan dengan wajah malu karena ketahuan sedang memperhatikan kontolku, ia pun segera menghilang ke dalam dapur.

Ketika aku berada di hadapan Tante Meta yang sedang mengoral secara bergantian kontol Dendy dan kuli itu, kontolku pun dikocok-kocok oleh tangan kirinya Tante Meta.

Tak sampai 5 menit, kuli kurus yang sedang ngentot memek Tante Meta itu telah mencapai orgasme sambil mengerang penuh kenikmatan. Ketika orgasme kuli yang masih muda itu surut perlahan-lahan Tante Meta melepaskan memeknya dari kontol pria tersebut. Terlihat sperma yang begitu banyak meleleh dari liang memek membasahi paha dan lantai rumahnya.

Kemudian Dendy meminat ibunya duduk di sofa sambi mengangkangkan kedua kakinya. Sehingga memek merah merekah itu terlihat begitu indah dengan bibir memeknya yang tembem. Dendy pun menyuruh kuli yang agak tua untuk memasukan kontolnya ke liang memek ibunya. Dengan penuh nafsu, kuli itu langsung mengarahkan kontolnya ke liang memek Tante Meta.

Setelah kontolnya terbenam, segeralah kuli itu menggenjot maju mundur dengan cepat. Tampak wajah Tante Meta menikmati genjotan kontol di dalam liang memeknya sehingga ia pun kembali mendesah-desah.

Aku dan Dendy segera naik ke atas sofa. Sambil berlutut di sebelah kiri Tante Meta, aku arahkan kontolku ke mulut Tante Meta sedangkan Dendy yang berlutut di sebelah kanan Tante Meta mendapat giliran dikocok oleh tangan kanan Tante Meta.

Terasa nikmat dan hangat sekali kontolku di dalam mulut Tante Meta. Sungguh rasanya enak sekali ketika kontolku dijilat, dikulum, dan disedot-sedot dengan lembut oleh Tante Meta. Begitulah secara bergantian Tante Meta memberikan oral dan kocokan pada kontolku dan kontol Dendy.

“sssssshhhhh aaaaaahhhh, ssssshhhhh ooooouuuuuhhh. eeeeehhhmmmm.” desah Tante Meta mendapat genjotan sangar dari kuli bangunan sambil mulut dan tangannya tetap mengoral dan mengocok kontolku dan Dendy secara bergantian.

Terlihat tubuh kuli itu sudah bercucuran keringat. Sehingga kulit hitamnya mengkilat. Ia begitu bernafsu menggenjot dengan cepat kontolnya masuk ke dalam liang memek Tante Meta yang tembem dan mulus tanpa bulu.

Ku lihat mulut kuli yang agak tua itu menganga karena desah yang ke luar karena merasakan nikmat pada kontolnya. Sehingga ia pun menghentikan gerakannya dan membiarkan kontolnya terbenam di dalam liang memek Tante Meta. Rupanya Tante Meta mendapat orgasme. Badannya meliuk-liuk kemudian mengejang-ngejang sambil tangannya mencengkram agak kuat kontolku dan kontol Dendy.

“oooooouuuuhhh sssshhhhh, aaaaauuuhhhh sssssshhhhh. oooooouuuuuuhhhh sssssshhhh.” lenguh Tante Meta ketika mendapat orgasme.

Ketika mereda orgasme Tante Meta, pria yang menindihnya kembali memompakan kontolnya ke dalam liang memek Tante Meta dengan cepat. “plok plok plok” bunyi khas tersebut kian nyaring terdengar.

Kontolku kembali mendapat kuluman, jilatan dan kenyotan lembut dari Tante Meta yang sudah kembali bernafsu sambil tangannya mengocok-ngocok kontol anaknya. kembali secara bergantian kontolku dan kontol Dendy dioral dan di kocok oleh tangannya.

Tak lama sesudah Tante Meta orgasme, pria kuli yang agak buncit perutnya itu kian mempercepat memaju mundurkan kontolnya ke dalam liang memek Tante Meta. Rupanya pria kuli itu kini sedang memburu orgasmenya. Dan akhirnya sambil mengerang cukup nyaring, pria itupun mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya mengejang sambil menurunkan kecepatan maju-mundurnya dengan perlahan ia menghentak-hentakkan pinggulnya seiring sperma yang meluncur dari lubang kencingnya ke dalam liang memek Tante Meta.

Tersungging senyum penuh kepuasan di wajah pria hitam setelah puas mengentot Tante Meta. Sedangkan nafasnya terengah-engah karena persetubuhan yang liar tersebut.

Dengan perlahan, pria tersebut mencabut kontolnya dari dalam liang memek Tante Meta. Spermanya pun ikut meleleh ke luar dari dalam liang memek Tante Meta.

“sudah puas bang? ayo tunggu apalagi silakan abang berdua kerja lagi di belakang!” perintah Dendy pada kedua kuli bangunan itu.

Setelah mengenakan pakaiannya kembali, kedua kuli itu pun segera melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumah Dendy untuk bekerja kembali.

Kini Dendy yang sudah sangat bernafsu, mengarahkan tubuh ibunya menuju pangkuannya. sambil saling mendekap, mereka ngentot dengan gaya WOT di atas sofa. Perlahan-lahan Tante Meta mengarahkan kontol anaknya ke dalam liang memeknya. Ketika kontol Dendy sudah berada di mulut liang memeknya, Tante Meta pun menurunkan pinggulnya perlahan-lahan membenamkan kontol anaknya ke dalam liang memeknya.

“aaaaaaahhhhhhh, sssssshhhhh.” desah Tante Meta saat kontol anaknya terbenam seluruhnya di dalam liang memeknya.

Aku segera bangkit berdiri di atas sofa menghadapkan kontolku kehadapan wajah Tante Meta. Tante Meta mengerti dengan maksudku, ia pun langsung mengoral kontolku dengan gemas. “Wow” mataku terbelalak ketika ujung lidah Tante Meta mengorek-ngorek liang kencingku. Walaupun agak ngilu tapi kenikmatannya sungguh luar biasa.

Tante Meta menggoyang pinggulnya dengan liar serta mengkombinasikan gerakannya dengan naik turun secara cepat mengocok kontol Dendy. Sambil tetap mengoral dan meremas biji pelerku dengan lembut, mulutnya terus mengeluarkan desah dan erangan.

Aku minta pada Tante Meta untuk membasahi kontolku dengan ludahnya. Tante Meta pun meludahi kontolku sambil diratakan oleh tangannya ke seluruh kontolku dari kepala sampai pangkal kontol.

Setelah cukup banyak ludah di kontolku aku segera turun dari sofa. Aku ludahi liang dubur Tante Meta dan meratakan ludahku diduburnya dengan jari tangan kiriku. Aku mulai arahkan kontolku ke dalam liang dubur Tante Meta. Aku mulai tekan pinggulku supaya kontolku dapat masuk ke dalam liang duburnya degan perlahan-lahan. Kepala kontolku sedikit demi sedikit menerobos masuk ke dalam lubang dubur Tante Meta. Sampai akhirnya kontolku merasakan begitu peret dan tercengkram di dalam liang duburnya.

Perlahan-lahan aku mulai memaju mundurkan pinggulku mengocok kontolku ke dalam liang duburnya yang peret dan mencengkram itu. Terasa sesak sekali. Sehingga aku merasakan kenikmatan tiada tara.

Ketika liang duburnya telah dapat menyesuaikan dengan kontolku, aku mulai maju mundur dengan agak cepat. Sehingga Tante Meta tak henti-hentinya mendesah dan mengerang ketika ia mencapai orgasme dengan kedua kontol yang tertancap di memek dan duburnya.

Terasa kedutan liang dubur dan cengkraman kuat pada kontolku yang terbenam didalam liang duburnya. Tubuhnya mengejang-ngejang. lenguhannya membahana karena agak keras ke luar dari mulutnya.

” oooooouuuuuuhhhhhhh sssssssshhhhhhh.” lenguhnya ketika Tante Meta orgasme.

Dendy memintaku mencabut kontol dari dalam lubang dubur ibunya sekaligus meminta ibunya untuk turun dari pangkuannya. Kemudian aku duduk di sofa dan Tante Meta pun segera bangkit kembali duduk di pangkuanku sambil memunggungiku. Dengan perlahan ia memasukan kontolku kembali pada liang duburnya. Tanpa kesulitan kontolku sudah terbenam di liang duburnya.

Dendy kemudian mengangkat kedua kaki ibunya sehingga punggung Tante Meta rapat dengan dadaku. Kulit punggunggunya yang basah dengan keringat terasa lembut menyentuh kulit dada dan perutku.

Kemudian Dendy mengarahkan kontolnya ke dalam liang memek Tante Meta. Setelah masuk, Dendy mulai mengocok maju mundur dengan cepat sedangkan aku dengan susah payah mulai menaik turunkan pinggulku menancapkan kontolku mengocok ke dalam liang dubur.

Walaupun cukup sulit, aku tetap merasakan desakan kontolku di dalam liang dubur Tante Meta yang peret dan mencengkram. Hangat liang dubur Tante Meta menjalar dari kepala kontol sampai pangkal kontolku.

Hampir 15 menit Dendy dan aku mengocok liang memek dan dubur Tante Meta dengan kontol kami, akhirnya Dendy mendapat orgasmenya. Dendy pun menghentikan gerakan maju mundurnya menikmati luncuran sperma dari kontolnya ke dalam memek ibunya.

Usai terkuras spermanya, Dendy kemudian melepas kontolnya dari dalam liang memek Tante Meta. Ia langsung pergi ke dapur tanpa mengenakan bajunya kembali.

Tante Meta kemudian turun dari pangkuanku setelah melepas ke luar kontolku dari dalam liang duburnya.

“ji, kita lanjut di kamar tante ya! cepet ambil baju kamu.” ajak Tante Meta padaku.

Aku segera bangkit dan memunguti bajuku yang berserakan di lantai. Kemudian mengikuti langkah Tante Meta menuju kamarnya.

Di dalam kamarnya, Tante Meta memintaku duduk dulu di kasurnya yang empuk dan dibalut sprei kasur yang lembut. Aku pun menuruti perintahnya sedangkan ia langsung menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk pipis dan membersihkan sperma di dalam liang memeknya.

Tak begitu lama menunggu, Tante Meta telah kembali. Ia langsung mendaratkan ciumannya di bibirku. Aku pun segera membalasnya sehingga kami berciuman dengan buas. Lidah kami saling lilit, saling hisap. Sehingga tak terasa liur meleleh dari dalam mulut dan membasahi dagu kami.

Perlahan aku mulai telusuri lehernya dengan lidahku. Aku kenyot-kenyot perlahan supaya tidak meninggalkan bekas merah pada lehernya. Sambil menjilat dan mengenyot-ngenyot lembut leher Tante Meta, aku mulai arahkan tanganku untuk meremas dan memilin susu besar dengan puting merah yang cukup besar dan keras.

Aku terunkan lidahku ke arah susunya yang besar dan kenyal itu. Aku jilati, aku hisap, dan aku kenyot-kenyot dengan gemas. Sehingga cukup banyak bekas cupanganku di kedua susu Tante Meta.

Tante Meta yang sudah sangat bernafsu sudah tidak tahan lagi sehingga tubuhku didorongnya cukup keras membuatku telentang di atas kasurnya. Dengan ganas ia naik di atasku. Tapi aku balas membanting tubuhnya sehingga Tante Meta telentang di sampingku.

Aku segera berjongkok di depan memek Tante Meta dan memikul kedua kakinya pada pundakku. Kemudian aku arahkan kontolku ke dalam liang memeknya dan mendorong kontolku secara perlahan-lahan masuk ke dalam liang memeknya. Terasa liang memeknya begitu sempit untuk ukuran kontolku yang panjangnya sampai ke udel dengan besar sekitar empat jari.

Ketika kontolku sudah terbenam, aku mulai memaju mundurkan kontolku dengan perlahan. Gayaku berjongkok memompa maju mundur pinggulku persis kodok yang hendak melompat. Sedangkan tanganku berpegangan sambil meremas-remas kedua susu Tante Meta yang besar dan kenyal.

“oooooouuuuuhhhhh jiiiii, ssssshhhhhhh oooooooouuuuuuhhhh.” desah Tante Meta menikmati kocokan kontolku pada memeknya.

Semakin lama, aku menambah kecepatan kocokan kontolku. Sampai akhirnya lebih dari 5 menit aku minta Tante Meta berganti gaya bercinta.

Sambil sama-sama berbaring miring, aku tusukkan kontolku ke dalam liang memek Tante Meta. Sebelah Tanganku aku gunakan untuk mengangkat sebelah kaki Tante Meta supaya aku lebih mudah melakukan tusukan maju mundur dengan leluasa dan cepat. Tapi belum sampai 5 menit, Tante Meta mengajakku berganti gaya bercinta lagi sebab ia merasa sulit bergerak mengimbangi gerakanku.

Doggy style menjadi alternatif kami. Tante Meta pun segera nungging di atas kasur sedangkan aku berlutut di belakang pantatnya. Aku mulai bimbing kontolku untuk masuk kembali ke dalam liang memeknya. Aku tusukkan kontolku dan memaju mundurkan pinggulku dengan cepat sambil kedua tanganku memegang kedua bongkahan pantatnya yang montok.

“oooooouuuuuhhhhh sssssshhhhhh, ooooooooouuuuuhhh ssssssshhhhhh.” desah Tante Meta yang tak henti-hentinya ke luar dari mulutnya.

Tante Meta mulai mengikuti gerakanku dengan menggoyang-goyang pinggulnya memutar-mutar. Terasa kontolku bagai diremas-remas. aku terus memaju mundurkan kontolku dengan cepat. Kurang dari 3 menit dengan gaya doggy style, Tante Meta mendapatkan orgasme kembali. Tubuhnya mengejang dengan pinggang meliuk-liuk seksi. Sedangkan memeknya berkedut-kedut dan mencengkram kontolku cukup panjang dan lama.

“aaaaaahhhhhhhh sssssshhhhhhh oooooouuuuuuhhhhhh.” lenguh Tante Meta menikmati orgasmenya.

Aku berhenti memaju mundurkan pinggulku supaya Tante Meta lebih menikmati orgasmenya. Terasa hangat cairan orgasmenya pada kontol dan membasahi sampai pangkal kontolku.

Ketika kedutan dan cengkraman memeknya sudah surut, aku segera mengocok kembali liang memeknya dengan cepat. Sehingga Tante Meta kembali mendesah. Tanganku yang sedari tadi diam di atas pantatnya yang montok, kini aku gunakan untuk meremas-remas dengan gemas kedua bongkahan pantat Tante Meta.

Tubuh kami sudah semakin memerah dan basah oleh keringat yang terus bercucuran. Sedangkan pinggulku terus mengocok maju mundur ke dalam liang memeknya.

Tampak dari gerakannya, Tante Meta sudah kelelahan sehingga aku menyarankan untuk berganti gaya.

Tante Meta setuju dan segera telentang sambil membuka pahanya lebar-lebar. Aku segera menindihnya dan memasukan kontolku ke dalam liang memeknya lagi. Sambil berpelukan aku genjot dengan cepat.

Kedua kaki Tante Meta saling silang di atas pinggangku. Sambil saling memeluk kami pun berciuman kembali tanpa menghentikan genjotan ke dalam liang memeknya.

“sssssshhhhh aaaaaaahhhhhh sssssshhhhh, aaaaaaaahhhhhh.” desah Tante Meta terasa hangat menjamah pipiku.

Aku percepat gerakanku ketika kontolku mulai merasakan gatal dan geli di dalam liang memek Tante Meta. Sehingga mulut Tante Meta pun terus mengeluarkan desahan diiringi erangan sambil memejamkan matanya. Sedangkan kedua tangannya mencengkram erat punggungku.

Tubuhnya mulai gelisah dan mengejang-ngejang. Aku rasakan kontolku dicengkram di dalam liang memeknya. Sedangkan kedutan-kedutan memeknya semakin kuat terasa. Dan kami pun sama-sama orgasme.

“aaaaaaaahhhhhhh sssssssshhhhhh, eeeeeehhmmmmm sssssssshhhhhh.” lenguhan orgasme Tante Meta terasa hangat nafasnya menyentuh kulit pipiku.

Aku hentikan genjotanku untuk menikmati sensasi orgasme kontolku yang menyemprotkan sperma sambil merasakan kedutan dan cengkraman memeknya yang hangat karena mengeluarkan cairan orgasmenya Tante Meta. Sungguh nikmatnya orgasme bersamaan.

Akhirnya, orgasme kami mereda. Sambil tetap berpelukan aku kecup bibir dan jidat Tante Meta dengan lembut. Perbuatanku itu ternyata direspon dengan senyum yang menawan dari Tante Meta yang cantik. Sungguh-sungguh cantik Tante Meta dengan senyum menawannya.

Perlahan-lahan, aku cabut kontolku dari lubang memeknya. Mengalirlah cairan spermaku dan cairan orgasme Tante Meta ke luar dari lubang memeknya membasahi sprei kasurnya yang lembut.

Aku pun segera bangkit dan meminta ijin menggunakan kamar mandi Tante Meta untuk mandi membersihkan tubuhku.

Setelah selesai mandi, aku lihat Tante Meta tertidur pulas di kasur. Aku pun menghampirinya dan menyelimuti tubuhnya yang masih telanjang. Kemudian dengan lembut aku kecup keningnya sebelum meninggalkan kamarnya.

Aku segera mencari Dendy di dalam kamarnya. Tampak ia sedang bersantai merokok sambil bertelanjang dada.

Kami pun menghabiskan waktu untuk merokok sambil bermain PS di kamar Dendy.

Sekitar pukul 9 malam, sesudah ikut makan malam bersama Tante Meta dan Dendy, aku pamit pulang. Selama makan malam, Tante Meta.

Selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*