Puji 6

BAB VI: Tak Puas Dengan Kekasih

Hampir setiap hari aku jarang di rumah. Dan sekalinya pulang ke rumah pun paling hanya untuk tidur, ganti baju, atau minta uang untuk bekal sekolah. Selebihnya aku habiskan untuk nongkrong bersama teman-teman sekolah atau keluyuran bersama Dendy. Jika Dendy mengajakku bermain ke rumahnya, sudah pasti di rumahnya akan ada acara ngentot ibunya. Makanya aku tak pernah menolak bila Dendy mengajak ke rumahnya. Mana bisa nolak jika di rumah Dendy aku selalu disuguhi tubuh putih mulus dan montok ibunya yang bernama Tante Meta.

Setelah ke luar dari gerbang sekolah, aku lihat ke tempat biasa Dendy menjemput ternyata ia tidak ada di sana. Ia tidak menjemputku hari ini. Maka aku putuskan untuk pulang saja ke rumah. Lagi pula, orang tuaku sudah sering marah-marah setiap pagi. Mereka kecewa karena aku jarang di rumah dan menjadi sering keluyuran.

Sengaja aku singgah dulu di tempat biasa aku dan kawan-kawan nongkrong sepulang sekolah. Namun tak lama aku pamit pada kawan-kawan dengan alasan yang aku buat-buat. Mereka ada pula yang mencibir tapi aku santai saja sambil tertawa renyah.

Di perjalanan pulang menggunakan angkot, aku berpikir bahwa aku memang salah karena sering membuat orang tuaku khawatir. Hampir setiap hari aku keluyuran dan pulang malam. Tapi aku pun tak bisa menolak ajakan teman-temanku untuk nongkrong atau menolak ajakan Dendy sahabatku untuk keluyuran.

Setibanya di depan rumah, aku melihat ada sepeda motor terparkir di halaman rumahku. Entah motor siapa. Tak pakai pikir lama-lama, aku pun segera masuk ke dalam rumah. Terlihat ada sepasang sepatu kulit berwarna hitam di teras rumah. Rupanya di rumah sedang ada tamu. Namun, ketika aku membuka pintu rumah keadaan di dalam sepi sekali. Maka aku putuskan untuk menyimpan tas dan berganti pakaian di dalam kamarku.

Ketika hendak membuka pintu kamar, aku mendengar suara orang. Aku pun melangkah mencari sumber suara tersebut. Rupanya suara itu berasal dari dalam kamar Tante Cici. Ia adalah adik kandung ibuku yang sudah hampir setahun ikut tinggal di rumahku untuk meneruskan kuliah di kotaku.

Aku dekati pintu kamarnya. Suaranya semakin jelas terdengar sedang bicara sambil cekikikan. Rupanya Tante Cici tidak kuliah hari ini. “Tapi siapa yang sedang bersamanya di dalam kamar?”

Aku pun segera mengambil kursi. Aku gunakan kursi itu untuk melihat orang di dalam kamar Tante Cici melalui lubang ventilasi kamarnya.

Saat aku mengarahkan pandangan melalui ventilasi, terlihat di dalam kamar Tante Cici sedang telentang di atas kasur. Wajahnya merah dengan mata sayu. Tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh Tante Cici. Tangannya menjambak rambut seorang lelaki yang sedang membenamkan kepalanya diantara selangkangan Tante Cici. Lelaki itu sedang mengoral memek Tante Cici yang tanpa bulu dan tembem bibir memeknya. Rupanya di dalam kamarnya, Tante Cici sedang bercinta dengan seseorang.

Aku pun turun dari kursi yang aku jadikan pijakan untuk melihat ke dalam kamar Tante Cici. Segera aku menuju ke dalam kamar.

Setelah berganti baju, aku ambil rokok dalam tasku dan segera menuju kursi di ruangan tempat biasa menonton tv. Aku pun duduk dan bersantai. Tapi sengaja tv tidak aku nyalakan supaya tidak menimbulkan kecurigaan dari Tante Cici yang sedang bercinta.

Selama merokok pikiranku tak karuan. Aku merasa jengkel dan tiba-tiba merasa dikhianati pula atas apa yang dilakukannya bersama lelaki lain di dalam kamarnya. Tapi aku coba merenung dan meredakan suasana hatiku. “benar, aku tak punya hak untuk marah apalagi melarang-larang Tante Cici.” bisikku dalam hati.

Aku mendengar dari arah kamar Tante Cici suara desahan-desahan semakin sering terdengar cukup nyaring. Tapi aku biarkan saja walaupun ada keinginan dalam batinku untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan.

Semakin lama aku duduk semakin bertambah besar pula desakan batinku untuk melihat keadaan di dalam kamar Tante Cici. Akhirnya aku putuskan untuk mengintip kembali.

Melalui ventilasi aku melihat sosok pria yang berada dalam kamar Tante Cici. Pria itu berkulit putih dan memiliki perut yang buncit. Aku lihat wajahnya cukup berumur walaupun rupanya rapih tanpa kumis dan jenggot. Ia telentang di atas kasur. Sedangkan Tante Cici bergerak turun naik mengocok kontol lelaki itu ke dalam liang memeknya. “Tante Cici emang liar kalau ngentot dengan gaya WOT.” bisikku dalam hati merasa kagum dengan kelincahan Tante Cici.

Aku mendengar desahan lelaki yang tidak aku kenal itu beradu dengan desahan yang ke luar dari mulut Tante Cici. Mereka saling memburu gelombang-gelombang birahi.

Tangan lelaki itu menggapai kedua susu Tante Cici yang berukuran cukup besar. Aku masih ingat benar, susu Tante Cici yang lembut, padat, dan kenyal itu terasa nikmat sekali dalam telapak tanganku. Dengan kedua telapak tangannya, lelaki itu meremas-remas dengan gemas kedua susu Tante Cici.

“ssshhhhh oooooouuuuuhhhhh.” desah Tante Cici sambil memutar-mutar pinggulnya.

Mata lelaki itu terpejam dan terkadang kelopaknya terbuka sedikit menggambarkan betapa nikmatnya goyangan yang diberikan Tante Cici. Sungguh permainan yang panas walaupun aku berpendapat bahwa lelaki itu tak bisa mengimbangi keliaran nafsu birahi Tante Cici.

Mungkin kurang dari 10 menit aku berdiri di atas kursi mengintip melalui ventilasi ke dalam kamar Tante Cici. Tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan lenguhan-lenguhan cukup panjang sambil ia menghentak-hentakan pinggulnya naik turun. Tak lama terlihatlah cairan putih kental ke luar dari dalam lubang memek Tante Cici membasahi batang sampai ke biji kontol lelaki itu.

Walau lelaki itu sudah orgasme, Tante Cici terus memutar-mutar pinggulnya. Tapi semakin lama Tante Cici berbuat demikian, terlihat kontol si lelaki itu malah menciut dan ke luar dengan sendirinya dari dalam liang memek Tante Cici.

Tante Cici pun turun dari atas tubuh lelaki itu. Terlihat wajah Tante Cici muram. Sepertinya Tante Cici kecewa karena dirinya tidak mendapat kepuasan. Berbeda halnya dengan Tante Cici, lelaki buncit itu tetap berbaring dengan mata terpejam dan menyunggingkan senyuman setelah beroleh kenikmatan. Aku merasa kasihan juga melihat Tante Cici sampai demikian.

Tiba-tiba lelaki itu melihat jam tangannya yang mewah, ia segera bangkit melap cairan spermanya yang melekat di kontol dan biji pelernya. Melihat hal itu, aku segera turun dari kursi dan kemudian membawa kursi tersebut ke tempat semula.

Aku kembali duduk di kursi ruangan tempat menonton tv. Aku nyalakan sebatang rokok sambil duduk bersandar.

Kurang dari 2 menit, mereka pun ke luar dari dalam kamar dengan pakaian lengkap. Tawa mereka terhenti ketika mata mereka beradu pandang denganku. Terlihat wajah mereka berubah menjadi gugup. Apalagi wajah lelaki itu sepertinya malu karena telah ngentot Tante Cici di rumahku.

“ji, ini pacar tante. Sini kenalin.” kata Tante Cici dengan agak gugup.

Aku pun segera menghampiri mereka dan berkenalan. Tubuh lelaki itu rupanya pendek, badannya agak besar, dan perutnya buncit terlihat sesak dari balik kemeja yang dipakainya. Lelaki itu bernama Toni.

Setelah basa-basi dan memberikan uang Rp. 100.000 padaku yang katanya untuk membeli rokok karena melihatku sedang memegang rokok, ia pun pamit hendak kembali ke kantornya. Aku pun mempersilakannya sambil ikut dengan Tante Cici mengiringi Toni sampai ke depan rumah.

Setelah lelaki itu berlalu dari rumahku. Aku kembali bersantai di kursi. Aku nyalakan tv biar tidak terlalu sumpek dan penat. Sedangkan Tante Cici dengan berbekal handuk langsung menuju kamar mandi.

Hampir satu jam aku duduk menonton tv, tiba-tiba Tante Cici yang sudah wangi dan berpakaian seksi menghampiri dan duduk di sebelahku. Mataku tergoda melihat Tante Cici memakai celana legging hitam dan tangtop putih. Tapi sebisa mungkin aku tahan supaya aku tidak terlihat bernafsu dengan tatapan mesum oleh Tante Cici.

“ji, itu tadi pacar Tante yang sekarang. Orangnya lumayan dan udah mapan. Kemarin uang semesteran kuliah tante juga dia yang bayarin.” kata Tante Cici tiba-tiba tanpa aku tanya.
“ya baguslah berarti Toni baik sama tante. Tapi dia serius gak sama tante?” tanyaku pada Tante Cici.
“gak tau sih, tapi dia pernah ngajakin tante tunangan.” jawab Tante Cici.
“oh gitu. Nanti kalau tante ada firasat Toni gak serius lebih baik tante akhiri hubungan tante biar gak ketipu lagi sama lelaki dan gak sakit hati terus-terusan.” kataku so dewasa.

Tante Cici pun manggut-manggut. Tak lama kemudian ia bersandar di pundakku. Dengan spontan aku langsung mengusap-usap lembut kepala Tante Cici yang berbau harum sampo.

“ji, tumben sih ada di rumah? Biasanya kamu keluyuran dan baru pulang malam. Itupun langsung tidur. Aku tuh sebenernya kangen pengen ngobrol-ngobrol sama kamu tapi sepertinya kamu gak ada waktu karena gak pernah ada di rumah.” kata Tante Cici sambil tetap menyandarkan kepalanya di bahuku.
“iya, kemarin-kemarin kan emang teman-teman sering ngajak nongkrong dan kadang-kadang si Dendy sering ngajakin pergi juga. Gak tau kenapa, agak sulit nolak ajakan temen, takut dan gak enak sama mereka.” jawabku.

Lama bercakap-cakap, aku pun mulai memberanikan bertanya mengenai aktivitas seksnya dengan Tony.

“tan, maaf tadi aku intipin ketika tante lagi gituan sama Toni.” kataku dengan jujur membuat Tante Cici kaget mendengarnya.
“ih kamu, ji! Kamu kan udah sering gituan ma tante. Masa sih masih suka ngintip-ngintip segala?” jawab Tante Cici sambil terheran-heran bertanya.
“ya kan tadinya cuma mau mastiin di rumah ada siapa. Eh denger suara yang sedang mesum. Penasaran dengan asal suara ya aku liat aja ke dalam kamar tante.” kataku dengan apa adanya.
“jangan bilang-bilang ke mamah kamu ya!” pinta Tante Cici padaku.
“santai aja kali tan. Puji gak akan bilang-bilang kok.” kataku pada Tante Cici sehingga membuat matanya berbinar kembali dan langsung mencium gemas pipiku.
“oh iya, tan. Tadi aku lihat ketika Toni udah orgasme, wajah tante kok terlihat kecewa, kenapa tan?” tanyaku.
“ah tau deh, beda sama kamu. Dia tuh udah itunya kecil, cepet loyo lagi. Mana udah ke luar dia tuh suka langsung buru-buru pergi.” jawab Tante Cici kecewa.
“mungkin dia buru-buru takut ada apa-apa di kantornya. Jadi gak bisa lama-lama apalagi ngasih kepuasan sama tante, bisa-bisa ia terlambat datang ke kantor.” kataku mencoba mengobati kekecewaan Tante Cici.
“ji, kita gituan yu! kamu udah lama juga gak gituan ma tante, pasti udah kebelet pengen!” pinta Tante Cici.

Aku pun mengangguk mengiyakan walaupun Tante Cici salah menebak dan begitu so tau mengatakan aku kebelet pengen ngentot. Padahal selama ini hasrat seksualku selalu tersalurkan. Dengan Tante Meta ibunya Dendy yang selalu menjadi pelampiasan birahiku dan Dendy , aku selalu puas dalah hal ngentot. Sehingga aku tidak merasa bahwa aku kebelet pengen ngentot.

Dengan liar, Tante Cici mencium dan menjilati leherku. Bulu kudukku sampai berdiri merasakan kegelian yang nikmat di kulit leherku. Baru kali ini aku mendapat perlakuan demikian. Sungguh nikmat rasanya.

Penuh nafsu, Tante Cici menarik bajuku ke atas tapi aku hentikan perbuatannya sambil mengajaknya pindah ke dalam kamar tidurku. Tante Cici pun menuruti ajakanku dan ikut melangkahkan kaki ke dalam kamarku.

Aku buka kaos hitamku dan berbaring di atas kasur. Tante Cici memulai kembali serangannya. Ia menindih tubuhku dan langsung melumat bibirku sehingga aku pun membalas ciuman liarnya sambil tangan kananku mendekap mengusap punggungnya serta tangan kiri membelai lembut kepalanya.

Kami berciuman dengan liar. Lidah kami saling usap, saling jilat, dan saling mengemut lidah serta bibir sampai ludah kami belepotan di pipi serta dagu kami.

Kemudian Tante Cici mendaratkan ciuman dan sapuan lidahnya di leherku lagi. Kembali bulu kudukku meremang mendapat rangsangan geli yang nikmat tersebut. Ia terus menurunkan lidahnya pada dadaku. Dijilat dan diemut-emutnya dengan lembut susu serta putingku. Terasa lidahnya yang dingin menyapu kulit serta susuku. Aku baru tahu, bahwa lelaki pun sangat terangsang bila susu dan putingnya dimainkan oleh lidah serta mulut perempuan. Sensasi nikmat terus menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku biarkan Tante Cici memperlakukanku demikian sebab, aku ingin tahu sejauh mana kenikmatan terasa dan tercipta. Biar aku pun semakin tahu di mana serta bagaimana titik-titik kenikmatan itu. Dengan merasakannya sendiri tak menutup kemungkinan aku menjadi semakin tahu dan mngerti yang harus aku lakukan untuk memuaskan wanita.

Kini sapuan lidah Tante Cici telah berada di udelku. Agak eneg memang namun aku masih bisa merasakan kenikmatan serta sensasi yang menggelitik. Di korek-korek udelku dengan lidahnya sebelum ia mengenyot-ngenyot udelku dengan gemas.

Akhirnya Tante Cici membuka celana jeans biru yang aku pakai. Dengan penuh nafsu ia turunkan juga celana dalam yang melekat menutup kontolku sehingga kontolku yang sedari awal telah terangsang menjulang keras dengan gagahnya.

Tante Cici langsung mengusap-usap lembut kepala kontolku sebelum ia melahapnya untuk dikulum di dalam mulutnya. Kepala Tante Cici mulai turun naik mengulum kontolku sambil sebelah tangannya meremas-remas lembut biji pelerku. Sensasi hangat dan nikmat tak henti-hentinya menjalar keseluruh tubuhku.

Tak sampai di situ aksi Tante Cici. Ia kemudian menjilati kontolku dari mulai lubang kencing sampai pangkal kontol dengan lidahnya yang liar menyapu dan memutar-mutar di seluruh permukaan kulit kontolku. Biji pelerku pun ia kenyot-kenyot lembut dengan mulutnya membuatku sedikit menggelinjang karena sensasi nikmat yang aku rasakan.

Lama bermain dengan kuluman, jilatan, dan hisapan lidah serta mulutnya di kontolku, Tante Cici memintaku tetap berbaring sambil sedikit mengangkat pinggul. Karena penasaran akan diapakan, aku pun menuruti perintah Tante Cici dengan mengangkat pinggul sambil memegang kedua kakiku.

Mulut Tante Cici kembali mengemut-emut biji pelerku sambil tangannya mengocok-ngocok turun naik dari kepala sampai pangkal kontolku. Sebelum akhirnya lidah Tante Cici menjilati area duburku. Dengan spontan aku kembali bergelinjang di atas kasur. Ketika lidahnya menyentuh dubur, aku bagai tersengat arus kenikmatan yang terus merambat keseluruh tubuh. Pengalaman yang tidak pernah akan aku lupakan.

Lidah Tante Cici begitu lentur bergerak memutar menjilati seluruh permukaan duburku. Sambil sebelah tangannya tidak berhenti mengocok dan meremas-remas lembut kontol serta piji pelerku yang bulat penuh. Diperlakukan demikian aku menjadi mabuk kepayang.

Berkali-kali aku menggelinjang sambil mengerang karena sensasi geli nikmat yang terus menjalar ke seluruh tubuhku. Namun, Tante Cici tak menghentikan aksinya malah ia semakin asik menyiksaku dengan sapuan lidah yang lincah dan kelembutan tangannya bermain dengan dubur, kontol, serta biji pelerku.

Kini lidah Tante Cici terasa meruncing menusuk-nusuk duburku. Sehingga aku merasakan sensasi aneh yang nikmat membuat mataku sesekali merem sesekali terbelalak merespons setiap aksi Tante Cici. Sensasi aneh menggelitik sampai ke ubun-ubun.

Hampir 10 menit aku dipermainkan Tante Cici, kini aku balas mempermainkan dia. Aku lucuti seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya sampai tak ada sehelai benangpun ditubuhnya. Aku mulai aksiku menjilati dan mencium-cium kecil lehernya yang putih dan mulus itu. Sehingga Tante Cici merespon dengan membelai rambut dan punggungku.

Aku telusuri lehernya dengan lidah dan mulutku sampai akhirnya aku jilati bagian belakang telinganya. Tante Cici tampak menggelinjang akibat sensasi nikmat yang menjalar ditubuhnya. Berulang-ulang aku berbuat demikian dari leher ke belakang telinga kirinya kemudian balik lagi ke leher dan naik lagi kebagian belakang telinga kanannya secara lembut dan berulang-ulang dengan sapuan lembut lidahku dan ciuman kecil bibirku.

Melihat Tante Cici semakin terangsang, aku mulai menurunkan sapuan lidahku menyusuri leher sampai di area susunya yang cukup besar. Susu Tante Cici terasa halus, berkulit putih dengan urat-urat hijau yang nampak menghiasi kedua susunya, lingkaran tengahnya berwarna coklat kemerah-merahan, sedangkan putingnya kecil dan kurang menonjol. Aku terus jilati kedua susunya secara bergantian sambil bergantian pula membelai susunya yang padat berisi dan kenyal dengan telapak tanganku.

Tante Cici tak henti mendesah sambil tangannya tak lagi membelai rambutku melainkan telah mencengkram rambut cukup erat. Sedangkan matanya terpejam dan sesekali kelopaknya terbuka sedikit, memperlihatkan hanya warna putih biji bola matanya.

Kulit putih Tante Cici sudah agak kemerah-merahan, rupanya Tante Cici sudah sangat terangsang. Aku terus telusuri tubuhnya dengan lidahku. Aku gunakan lidahku untuk menjilat-jilat udelnya secara memutar-mutar perlahan. Sedangkan kedua tanganku meremas-remas lembut kedua susu Tante Cici yang montok dan halus.

Berkali-kali Tante Cici mengelinjang-gelinjang di atas kasur. Aku segera menurunkan perlahan sapuan lidahku pada memeknya yang tebal dan tembem.

Kini memek putih dan mulus tanpa bulu milik Tante Cici, aku jilat-jilat mulai dari lubang memek sampai itilnya. Secara lembut aku sapukan lidahku menyusuri liang memek dan kemudian menjilat secara melingkar pada itilnya. Dengan demikian, kepalaku menjadi sasaran kedua tangan Tante Cici yang terkadang menekan kepalaku dan terkadang mendorong kepalaku dari memeknya yang basah dan berlendir.

Aku mulai kombinasikan antara menjilat dan mengenyot-ngenyot seluruh area memeknya. Sampai akhirnya aku mulai tusukan jari tengahku ke dalam liang memeknya yang basah oleh lendir dan terasa hangat dijariku. Sedangkan mulutku, aku gunakana untuk mengemut secara lembut itil Tante Cici. Sambil mengemut itilnya dengan lembut, lidahku bergerak berputar mengusap-usap itilnya yang berada dalam mulutku.

Tubuh Tante Cici semakin bergelinjang-gelinjang diiringi desah serta lenguhan. Aku hentikan sejenak aksiku untuk meminta Tante Cici menaikkan pinggulnya. Tanpa berkata apa-apa, Tante Cici mulai mengangkat pinggulnya sambil menahan kedua kakinya. Persis apa yang aku lakukan sebelumnya.

Aku mulai telusuri kembali area memeknya dengan lidah sampai akhirnya lidahku telah sampai di anusnya.

“ooooooooouuuuuhhhhhhhh sssssssshhhhhh.” Desah dan lenguhan Tante Cici ketika lidahku menyapu memek dan duburnya.

Sambil terus menjilati dubur Tante Cici, jari tengahku tak berhenti ke luar masuk liang memeknya. Dan tak lama kemudian, Tante Cici terus menggelinjang, melenguh, dan tubuhnya mengejang-ngejang. Tarasa di jari tengahku, memek Tante Cici berkedut dan mengempot-empot sambil melelehkan cairan orgasmenya ke luar dari liang memeknya membasahi jari dan tanganku.

Aku lihat senyum mengembang di wajah Tante Cici. Aku dekatkan wajahku mengecup lembut keningnya.

Tidak lama setelah orgasmenya reda, Tante Cici menaiki tubuhku yang telentang di atas kasur. Dengan lembut ia kocok-kocok kontolku sebelum akhrinya secara perlahan ia masukkan kontolku ke dalam liang memeknya yang terasa sempit dan hangat.

Walaupun memeknya penuh dengan lendir dan telah diguyur cairan orgasmenya, tetap saja tak mudah bagi kontolku untuk masuk ke dalam liang memeknya. Sehingga sambil menggoyang-goyang pinggulnya, Tante Cici perlahan-lahan menekan pinggulnya turun supaya kontolku bisa masuk lebih dalam.

Ketika kontolku sudah terbenam lebih dalam di liang memeknya, Tante Cici kembali bergerak memutar pinggulnya sambil mulutnya terus mengeluarkan desahan-desahan yang menurutku sangat sensual. Sampai akhirnya bergantian ia bergerak memutar-mutar pinggulnya dengan mengocok kontolku turun naik secara lembut. Sambil terus mendesah dan melenguh, aku melihat sesekali Tante Cici menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya.

“aaaaaaahhhhhhhh ssssssshhhhhh, aaaaaaaahhhhhh ssssssshhhhhhh.” desah Tante Cici sambil tangannya meremas-remas susuku yang bidang.

Semakin lama gerakan Tante Cici memutar dan naik turun mengocok kontolku semakin cepat. Sehingga aku pun berbuat hal yang sama untuk mengimbangi gerakannya dengan menaik turunkan pinggulku.

Sampai akhirnya tubuh Tante Cici meliuk-liuk di atas tubuhku. Kemudian ia mulai menghentak-hentakan pinggulnya. Terasa oleh kontolku bahwa memek Tante Cici mulai berkedut dan mengempot-empot kontolku seiring cairan hangat orgasmenya meleleh ke luar dari dalam liang memeknya.

“oooooooouuuuuhhhhhhhhh sssssssshhhhh, oooooooouuuuuuhhhhh sssssshhhhhhh, aaaaaaaaahhhhhhh.” lenguhan Tante Cici sedikit berteriak mendapatkan orgasmenya.

Tubuhnya mengkilat oleh peluh. Kemudian ketika gelombang orgasme Tante Cici mereda, ia menelungkup di atas tubuhku tanpa melepas kontolku yang masih terbenam di dalam lubang memeknya. Aku usap-usap lembut punggungnya. Aku belai-belai lembut rambutnya.

Sampai akhirnya mata kami saling menatap. Terlihat wajahnya berseri penuh kepuasan. Aku pun kembali mengusap lembut kening dan pipinya yang berkeringat.

Tante Cici kemudian mendaratkan ciumannya di bibirku. Dengan lembut aku kenyot bibirnya perlahan. Lidahnya terjulur menerobos masuk ke dalam mulutku. Tak aku sia-siakan, aku jilati lidahnya di dalam mulutku sambil mengulumnya secara lembut.

Tak lama kemudian, Tante Cici kembali bangkit dan mulai memutar-mutar pinggulnya sehingga kontolku yang terbenam di dalam lubang memeknya kembali merasakan cengkraman otot memeknya.

Namun, dengan lembut aku pinta Tante Cici untuk melanjutkan bercinta dengan gaya doggy style. Tante Cici pun menuruti kemauanku segera melepas kontolku dari dalam liang memeknya.

Tante Cici nungging di atas tempat tidurku tampak sudah siap aku tusuk memeknya yang putih mulus dan tembem itu dengan kontolku. Aku arahkan kontolku ke dalam liang memeknya. Tanpa kesulitan, kontolku yang telah basah oleh lendir dan cairan orgasmenya menerobos ke dalam liang memeknya.

Aku mulai memaju mundurkan kontolku dengan cepat. “plok plok plok” bunyi selangkanganku beradu dengan pantatnya yang bulat padat semakin keras terdengar seiring gerakan maju mundur pinggul secara cepat mengocokan kontolku ke luar masuk ke dalam lubang memeknya yang merekah.

“aaaaaaahhhhhhh ssssssshhhhh, aaaaaaaaaahhhhhh ssssssshhhhhh.” desah Tante Cici sambil kedua tangannya mencengkram erat sprei tempat tidurku.

Aku terus mengocok memaju mundurkan pinggulku dengan cepat. Sambil terus gerak maju mundur, aku meminta ijin kepada Tante Cici untuk mencoba melakukan anal seks. Tapi Tante Cici menolak karena takut sakit dan perih. Tapi ia berjanji padaku, jika ia sudah siap, ia mau melakukan anal seks denganku.

Sempat aku kecewa namun, karena mendengar Tante Cici berjanji akan memberiku anal seks maka hilanglah kekecewaanku. Sehingga gairahku memburu kenikmatan tidak surut.

Dengan penuh gairah memburu puncak kenikmatan, aku terus menggenjot secara cepat. Sedangkan Tante Cici semakin keras mendesah sambil tetap mencengkram sprei kasurku.

“aaaaaaaaaahhhhhhhhh ssssssssshhhhh, aaaaaaaaaahhhhhh sssssshhhhhhhh.” desah Tante Cici terdengar memenuhi ruangan kamarku.

Kontolku ke luar masuk liang memek Tante Cici dengan cepat. Sampai akhirnya, aku mulai merasakan kegelian dan rasa gatel pada kontolku. Tak lama lagi spermaku akan mendesak hendak ke luar. Maka aku tidak mengendurkan aksi memaju mundurkan pinggul mengocok kontol ke luar masuk di liang memek Tante Cici.

Sesaat aku akan orgasme, Tante Cici mendahului dengan kembali orgasme. Memeknya berkedut-kedut sambil mengempot-empot sehingga kontolku yang sudah gatel dan merasakan geli terasa dicengkram dengan kuat.

Sambil merasakan cengkraman kuat otot memeknya Tante Cici, aku hentak-hentak pinggulku menghantam pantatnya yang bulat padat sampai akhirnya aku berhenti menghentakan pinggulku untuk menyemburkan spermaku ke dalam liang memek Tante Cici.

“aaaaaaaaahhhhhhh sssssshhhhhhh, oooooooouuuuuhhhhhh sssssssshhhhhh, eeeeeeemmmmmhhhhh ssshhhhh.” lenguhan Tante Cici ketika orgasmenya melanda sambil menikmati hangatnya spermaku di dalam memeknya.

Setelah gelombang orgasme kami mereda, aku cabut perlahan kontolku dari dalam liang memek Tante Cici. Sehingga cairan orgasme kami yang tertinggal di dalam liang memeknya ikut meleleh ke luar membasahai sprei tempat tidurku.

Aku merebahkan tubuhku di samping Tante Cici. Sambil mengatur nafas yang terasa terengah-engah. Tante Cici kemudian merebahkan kepalanya di atas dadaku sambil tangan kirinya mengusap-usap secara lembut perutku yang basah oleh keringat.

“tan, apa gak takut kalau tante nanti hamil?” tanyaku sambil membelai-belai lembut rambutnya.
“ya mudah-mudahan aja gak hamil dulu, makanya setiap mau melakukan hubungan seks, aku pasti minum pil terlebih dahulu.” jawab Tante Cici sambil tangannya tetap mengusap-usap perutku dengan lembut.

Sambil tetap berbaring di atas kasur, Tante Cici bercerita banyak. Awalnya ia merasa cemas karena takut kalau-kalau ia hamil setelah ngentot pertama kali denganku. Namun, seminggu setelah ngentot denganku, ia kembali mens.
Makanya karena sering dilanda cemas setelah ngentot, untuk berjaga agar ia tidak hamil dan masih bisa ngentot dengan menumpahkan sperma di dalam memeknya, Tante Cici pun sering pergi ke bidan dan memilih menggunakan pil kb.

Ketika asik ngobrol dengan Tante Cici, aku sedikit terperanjat ketika melihat jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Sebab, orang tuaku pasti sudah pada pulang bekerja. Aku berdoa dalah hati mudah-mudahan aksiku dengan Tante Cici tidak diketahui oleh orang tuaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*