Puji 5

BAB V : AKU MEMUASKAN ADIK KANDUNG IBUKU

Namaku Puji. Usiaku 16 tahun ketika kejadian bersama adik ibuku bermula. Aku sudah duduk di bangku SMA kelas 1. Tubuhku sudah menjadi lebih tinggi, yaitu sudah mencapai 165 cm. Badanku tidak kurus dan tidak besar, biasa-biasa saja layaknya tubuh remaja yang cuma getol olah raga paling banyak seminggu 2 kali.

Ketika aku masuk SMA, aku bahagia sebab, aku kebagian masuk sekolah siang. Artinya aku bisa bebas bersetubuh dengan tetanggaku yang bernama BU Suti. Bu Suti merupakan Binor seksi 50 tahun walaupun sudah punya 5 orang anak dan kini cucunya telah bertambah menjadi 3. Tingginya 158 cm, susunya 32B dengan puting panjang sebesar kelingking, serta pantatnya bulat dan bahenol sekali.

Namun, semua kurang sesuai dengan yang diharapkan. Makanya, persetubuhanku dengan Bu Suti jarang terealisasi. Sebab, adik ibuku yang berkuliah di kotaku kini tinggal bersama keluargaku. Kamarnya berada di samping kamarku. Adik ibuku ini biasa aku panggil Tante Cici. Dia orangnya baik sekali, perhatian, dan terbuka.

Aku baru tahu, kalau kuliah itu enak karena dari seminggu cuma 4 hari berkuliah, sisanya libur karena tidak ada mata kuliah. Jadi Tante Cici sering berada di rumah menemani aku dan adik kecilku yang kini usianya sudah 3 tahun untuk bermain.

Usia antara aku dan Tante Cici hanya berbeda 3 tahun saja. Makanya, walau baru sebentar tinggal di rumahku, aku dan tanteku cepat menjadi akrab. Tinggi badan Tante Cici lebih pendek sedikit dari Bu Suti. Mungkin 155/156cm. Tapi susunya yang bulat terlihat lebih menonjol dan lebih besar dari Bu Suti, mungkin sekitar 34C/D. Pantatnya cukup besar walau tidak sebahenol Bu Suti. Badannya sama langsingnya dengan Bu Suti. Rambut tanteku pendek sebahu sehingga lehernya begitu terlihat seksi.

Aku pernah ketika itu, nyelonong membuka pintu kamar Tante Cici karena mau meminjam cd musik. Aku kaget sebab, Tante Cici hendak berganti baju. Terlihat ia hanya mengenakan kutang hitam serta celana dalam hitam yang melekat pada tubuhnya. Pemandangan yang menggiurkan sekali. Namun, aku pun menjadi malu dan langsung menutup kembali pintu kamarnya. Tanteku yang telah selesai memakai pakaiannya ke luar dan menghampiri aku yang sedang duduk di kursi sambil menonton tv. Aku pun segera meminta maaf. Ia pun memaafkan dan berbuat seolah-olah kejadian itu tidak pernah terjadi sehingga membuatku menjadi lega.

Setiap pagi seringkali aku melihat tanteku ini menyapu dan mengepel rumah jika sedang libur kuliah atau kuliah di jam siang. Aku sering melihat dua susu montoknya itu bergelayut di balik bajunya yang berbelahan dada rendah baik pada saat sedang menyapu rumah maupun pada saat ia mengepel. Sungguh pemandangan yang indah walaupun melihat hal itu membuatku tersiksa akibat harus menahan konak dan gelora birahi.

Jika tanteku sedang menyapu atau mengepel rumah, aku sering iseng. Sengaja aku biarkan kakiku berada di lantai walaupun berkali-kali tanteku menyuruhku menaikan kaki ke atas kursi tempat aku duduk berdua bersama adikku tapi dengan sengaja aku tidak menuruti perintahnya. Hal tersebut sering membuat tanteku agak kesal walaupun tidak pernah ia marah. Malah ia sering mencubit paha jika aku sudah berbuat demikian. Sampai akhirnya ia sering mengklitiki pinggangku seusai mencubit pelan pahaku karena kenakalan dan sifat ke kanak-kanakanku.

Aku sering membalas mengklitiki pinggang tanteku sampai akhirnya kita berdua duduk sambil tertawa bersama sesudahnya. Ketika aku mengklitiki pinggangnya ia sering meronta ke sana ke mari sehingga, jari-jariku sering menyentuh susu montoknya secara tidak sengaja dan badannya sering pula berlabuh dipangkuanku akibat kegelian karena aku klitiki.

Aku sering gelisah ketika badan tanteku yang sedang aku kelitiki menindih pahaku sehingga posisi badan bagian atasnya berada dalam pangkuanku. Posisi demikian membuatku gelisah sebab, aku takut kontolku yang mengeras tegang diketahuinya.

Aku tidak pernah menyangka bahkan tidak pernah merencanakan untuk bersetubuh dengan tanteku yang tak lain adalah adik kandung ibuku sendiri. Selain seleraku lebih tertuju pada wanita tua seperti Bu Suti, aku pun menghormati ia sebagai adik ibuku. Tapi ternyata semuanya telah terjadi, aku menggauli tanteku hampir setiap ada kesempatan.

Kejadian awal bermula ketika nenekku (ibu dari ayahku yang rumahnya tak jauh dari rumahku) pergi dengan membawa serta adikku untuk berbelanja. Maka, pada pagi itu rumahku sepi hanya tinggal aku berdua dengan tanteku. Ibu dan ayahku sudah berangkat bekerja pagi-pagi.

Seperti pagi-pagi biasanya, tanteku menyapu lantai dan mengepel rumah. Aku yang duduk sambil menonton tv kembali iseng dengan tak mau menaikan kakiku. Tanteku yang menyaksikan ulahku itu langsung menyerangku.

“aduh Puji, kamu bandel ih!” ucapnya sambil mengeluarkan jurus mengklitiki pinggangku.

Aku yang mendapat serangan tak tinggal diam, aku balas mengklitiki pinggangnya. Ia tertawa kegelian sambil menggelinjang tak karuan. Akhirnya ia memeluk pinggangku erat dengan kepala berada tepat di perutku. Posisi demikian membuat kontolku yang sudah tegang dan keras tertindih oleh susunya yang montok. Sungguh membuat darahku berdesir. Birahiku menjadi naik namun masih dapat aku kendalikan.

Masih dalam posisi demikian, tanteku akhirnya menyerah dan memintaku menghentikan mengelitik pinggangnya. Aku pun berhenti. Ia kemudian melepaskan pelukannya pada pinggangku. Lalu ia bersandar di kursi sambil terengah-engah kecapean akibat dikelitiki. Tampak keringat membasahi wajahnya. Aku memang suka kepada wanita saat berkeringat. Seksi dan bercahaya.

Ia mengusap-usap lembut kepalaku sambil tetap duduk bersandar. Aku pun tak tinggal diam, aku lap keringat di wajah dan keningnya. Ia tersenyum manis melebihi biasanya. Tiba-tiba entah dorongan dari mana, aku berani mencium kening tanteku sendiri. Yang aku rasakan, secara tiba-tiba aku menjadi sayang kepada tanteku dan menjadi ingin lebih dekat dengannya.

Mendapat perlakuan demikian, tanteku tidak marah malah ia menyentuh lembut pipiku sampai akhirnya ia mencium lembut bibirku. Karena mendapat rambu tersebut, aku pun balas mencium bibirnya sampai akhirnya kita berciuman.

Awalnya memang berciuman biasa saja, tapi setelah cukup lama tiba-tiba lidah tanteku menerobos masuk ke dalam mulutku. Hal tersebut tidak aku sia-siakan untuk mengusap-usap lidahnya dengan lidahku dan mengenyot lidahnya dengan lembut. Tante Cici kemudian melingkarkan kedua tangannya melingkari leherku. Maka tanganku pun mulai berani menjamah susunya yang montok. Sambil tetap berciuman yang sudah semakin liar, aku usap memutar dan meremas-remas lembut susu tanteku.

“ssssshhhhhh eeeehhhhmmmm.” desah tanteku terasa hangat desahnya saat ia melepas bibir bawah untuk membuka mulutnya yang tak tahan untuk mendesah di tengah kesibukan berciuman liar denganku.

Aku hentikan ciuman liar. Aku cium dan jilati lehernya yang sudah basah oleh keringatnya. Tante Cici menjadi semakin bernafsu sehingga tangannya tak lagi melingkari leherku melainkan sudah meremas-remas kepala serta rambutku.

Secara perlahan, aku buka kaos putih yang dipakai tanteku. Sehingga tampak kutang hitam yang pernah aku lihat ketika aku nyelonong membuka pintu kamarnya dan mendapati ia hanya mengenakan kutang tersebut serta celana dalam berwarna hitam. Segera aku jilati bagian atas susunya yang tidak tertutup kutang. Aku hisap dan kenyot-kenyot perlahan sehingga membuat tanteku menjadi gelisah karena birahi yang semakin memuncak.

Tanteku kemudian membukakan kutangnya untuk memudahkanku bermain secara leluasa dengan susunya. Kulitnya yang putih membuat areola melingkar di tengah susunya tampak menggiurkan dengan warna coklat muda kemerah-merahan. Namun sayang, putingnya kecil sehingga hanya sedikit menonjol walaupun sudah menjadi keras di tengah susunya yang padat dan kenyal. Sungguh berbeda dengan puting susu Bu Suti yang panjang sebesar kelingking.

Aku hisap, aku jilat, aku kenyot-kenyot dengan lembut susu dan putingnya. Tanteku bergerak-gerak gelisah menandakan birahinya sudah semakin memuncak. Sampai akhirnya tangannya sudah berada di atas kontolku di luar celana pendek yang aku kenakan.

Tanteku mengusap-usap kontolku sedikit kasar. Namun, walau mendapat perlakuan demikian aku tetap liar memainkan lidah dan mulutku pada kedua susunya yang montok, kenyal, serta padat itu.

Tanteku kemudian berdiri melucuti celana pendek dan menurunkan celana dalamnya sendiri. Tampak memeknya begitu tembem tanpa ada bulu sedikitpun. “wow, seksinya!” bisikku di dalam hati.

Ia kemudian memintaku berdiri dan langsung menurunkan celana pendekku langsung dengan celana dalamnya sehingga kontolku yang sudah sangat keras menunjuk-nunjuk ke depan. Tampak ia kaget melihat kontolku yang besar dan panjang seperti Ibu Suti pernah katakan. Wajah tanteku semakin memerah tanpa berkedip melihat ke arah kontolku. Namun, tak lama setelah bengong karena ukuran kontolku, ia mulai menyentuh dan mengusap-usap lembut kontolku. Dengan lembut ia mulai memajukan wajahnya sehingga kontolku telah masuk terkulum mulutnya.

Tante Cici semakin liar bermain dengan kontolku. Ia mulai menjilati dan memaju mundurkan kepalanya. Tidak seperti Bu Suti, Tante Cici lebih mahir sehingga kontolku tidak pernah menyentuh giginya. Tak terlewatkan kepala kontolku ia kenyot-kenyot lembut sambil tangannya meremas biji pelerku secara lembut. Tampak ia begitu berpengalaman mengoral kelamin laki-laki. Sehingga muncul berbagai pikiran dalam otakku, “aneh, tanteku yang terlihat sebagai wanita baik-baik yang tidak suka keluyuran serta lugu ini begitu pandai mengoral kontol. Apa mungkin ia sering menonton film bokef? Jika begitu, tidak mungkin dari hasil menonton ketika baru mempraktekannya bisa sedemikian handalnya mengoral kontol laki-laki! Ada kemungkinan, ia sudah sering melakukan perbuatan serupa”. Segala pertanyaan mulai memenuhi kepalaku.

Melihat Tanteku sudah kelelahan, aku beranjak menuju pintu untuk mengunci pintu rumah karena khawatir ada orang yang masuk. Setelah mengunci pintu, aku suruh Tante Cici duduk sambil membuka kakinya lebar-lebar. Ia pun menuruti kemauanku.

Terlihat memeknya yang tanpa bulu dan tembem. Aku segera menjilati memeknya dengan perlahan dan lembut dari mulai liang memeknya yang kecil sampai itilnya. Hampir seluruh kulit tubuhnya menjadi merah ketika aku mulai sedikit-sedikit mempermainkan lidah dan mulutku pada memeknya.

“aaaaaaeeeeehhhhhh ssssshhhhh” desahnya sambil tubuhnya tak bisa diam bergerak kian kemari mendapat sensasi nikmat pada memeknya.

Aku coba mencolokan jari tengahku ke liang memeknya yang sudah sangat basah oleh cairan yang ke luar dari memeknya. Peret sekali dan agak sulit memasukan jariku pada liang memeknya yang kecil. Aku kocokan jari tengahku perlahan-lahan sambil mulutku mengenyot dan menjilati itilnya yang sudah sangat mengeras. Ia semakin mendesah dan mengerang sambil tangannya mencengkram agak kuat rambut serta kepalaku.

“eeeemmhhhh, ooouuuuuuhhhhh, eeessssshhhhhhh.” desah dan erangannya membuat suasana semakin birahi.

Aku terus jilat, hisap, dan kenyot itilnya dengan lembut dan terkadang dengan kenyotan kuat pada itilnya. Sedangkan jari tengahku sudah semakin leluasa mengocok liang memeknya. Perlakuan demikian berlangsung hampir 15 menit sehingga tanteku mencapai orgamsenya.

“aaaaaaaaahhhhh, ooooouuuuhhhhh jjiiiiiii!” erangannya mendapat orgasme sambil tangannya mencengkram kuat menekan kepalaku pada memeknya yang berkedut-kedut hebat sambil tubuhnya menggelinjang-gelinjang akibat orgasme yang melandanya.

Cairan orgasmenya membasahi tangan serta daguku. Perlahan kutarik jari tengah dari dalam lubang memeknya. Terdengar nafas Tante Cici masih terengah-engah. Aku pinta ia untuk nungging. Tanpa banyak basa-basi ia segera mengambil posisi nungging di atas kursi. Posisiku yang berdiri di bawah kursi menjadi lebih leluasa melakukan penetrasi kontolku ke dalam liang memeknya.

Sambil tangan kananku mencengkram pantat bulatnya yang lembut, aku arahkan kontolku menuju lubang memeknya dengan bantuan satu tangan kiriku. Cukup sulit kepala kontolku memasuki lubang memeknya yang peret. Namun, dengan dorongan agak kuat, aku dorong perlahan kontolku sampai akhirnya kontolku bisa terbenam di dalam liang memeknya dengan bantuan cairan memek dan sisa cairan orgasmenya. Memeknya mencengkram kuat dan masih agak peret ketika kontolku sudah seluruhnya terbenam. Dengan perlahan, aku mulai menggoyang-goyangkan pinggul dengan melingkar sebelum akhirnya aku maju mundurkan kontolku secara perlahan.

Akhirnya, liang memek Tante Cici sudah dapat menyesuaikan dengan kontol besar dan panjang milikku. Sehingga aku menjadi lebih leluasa memaju mundurkan kontolku di dalam liang memeknya.

“eeeemmmm jjiiiiii eeeemmmhhh enak jjjiiiii!” desah Tante Cici.

Aku semakin semangat memompa kontolku. Aku mulai menambah kecepatan sehingga bunyi “plok plok plok” menjadi semakin gencar dan keras terdengar.

“aaaahhhhhhh, aaaaaeeeeehhhhhh, ssssshhhhh, ooooouuuhhhh!” desah tanteku seiring gerakanku yang semakin cepat.

Sambil memaju mundurkan kontolku ke dalam memeknya, kini kedua tanganku ikut meremas-remas agak kuat pantat bulatnya. Terdengar desahan dan erangan tanteku semakin liar membahana. Karena nafsu birahi yang melanda kami, tak kami pedulikan suara-suara birahi ini walau akan terdengar oleh tetangga rumahku.

Tampak Tante Cici mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Dengan kecepatan penuh aku kocok terus memeknya dengan kontolku.

“jjjjiiiii! aku keluar! aaaaaooooouuuhhh, oooooouuuuuwwww, sssssshhhh!” erangannya saat mendapat orgasme keduanya.

Aku hentikan gerakanku, menikmati kedutan-kedutan memeknya pada kontolku yang masih terbenam kuat di dalam memeknya. Terasa kontolku pun tercengkram di dalamnya. Sungguh nikmat sekali.

Ketika gelora orgasme tanteku mereda, aku segera menelentangkan tubuh tanteku. Kemudian dengan penuh pengertian ia merentangkan kakinya lebar-lebar supaya aku lebih leluasa menusukan kontolku ke dalam lubang memeknya.

Bibir memeknya masih memerah. Dengan memandang memeknya membuatku menelan ludah sendiri. Sungguh indah memeknya. Tanpa bulu, tembem, dan merah.

Dengan mudah aku masukan kontolku. Sehingga setelah kontolku terbenam semakin dalam pada liang memeknya, aku mulai gerakan maju mundur dengan cepat. Gerakanku yang cepat membuat kedua susu montok dan kenyal tanteku bergoyang-goyang turun naik. Emh indah sekali susunya walaupun putingnya kecil dan tidak sebesar puting susu Bu Suti.

“aaaaaeeeeehhhh, eeeehhhmmmmm, oooooouuuuuhhhh!” Desah Tante Cici.

Aku terus mengocok memaju mundurkan kontol dengan cepat ke dalam liang memeknya. Terlihat mata tanteku terpejam dengan mulut menganga sambil tak henti-hentinya mengeluarkan desahan-desahan yang sangat sensual ditelingaku.

Aku raih kedua susunya yang bergoyang-goyang indah itu. Aku mulai remas-remas kedua susu montok, padat, dan kenyal tanteku itu dengan mengkombinasikan remasan lembut dan cengkraman agak kuat sambil terus memaju mundurkan kontolku dengan cepat di dalam lubang memeknya. Membuat tanteku menggelinjang-gelinjang di atas kursi dengan mata yang terus terpejam, pipi semakin merah, dan mulut menganga yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan serta erangan. Aku yang terus memompakan kontol dengan cepat mulai merasakan gatel dan geli pada kepala kontolku yang menandakan akan tiba orgasmeku.

“aaaaaoooouuuwwww, aaaaaaahhh, jiiii, aku keluaaaar!” erang tanteku. sambil memeluk tubuhku dengan erat.

Hampir berbarengan dengan orgasme tanteku, akhirnya aku pun mencapai orgasme. Aku cabut kontolku dari dalam lubang memeknya. Terlihat begitu banyak sperma tertumpah di atas perut tanteku.

Setelah usai kami memperoleh orgasme, aku gendong tubuh tanteku sambil berciuman kembali menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari segala cairan dan lendir birahi.

Setelah tubuh kami bersih, kami pun bersantai di kursi sambil berpelukan dan berbagi cerita. Sampai akhirnya, pertanyaan-pertanyaan dikepalaku menemukan jawabannya.

Ternyata tanteku sudah tidak perawan sedari kelas 3 SMA. Awalnya pacarnya hanya sering mengajak tanteku menonton film bokef dan meminta ia melakukan oral saja. Tapi, karena oral terlalu sering yaitu hampir satu tahun maka, pacarnya meminta lebih. Tanteku menolak sampai akhirnya pacarnya memperkosanya.

Tanteku merasa hancur tapi setelah melakukan perbuatan itu, pacarnya tidak lantas meninggalkannya. Hingga akhirnya Tante Cici lama-kelamaan menjadi percaya dan yakin bahwa pacarnya orang yang setia dan tidak akan menelantarkannya. Tetapi anggapannya salah, setelah cukup sering Tante Cici ngentot dengan pacarnya, si pacar tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkannya dan menjadi sulit dihubungi.

Aku pun terbuka kepada Tante Cici bukan hanya bercerita tentang pergaulan dengan kawan-kawan sekolahku saja, melainkan aku pun menceritakan bahwa sedari kelas 2 SMP aku sudah kehilangan keperjakaan. Aku sudah sering nonton bokef dan aku pun sering ngentot dengan Bu Suti yang tak lain adalah tetanggaku sendiri yang sering menumpang ikut ke kamar mandi rumahku.

Mendengar pengakuanku, Tante Cici kaget awalnya. Tapi ia pun paham dengan kondisi dan keadaanku sehingga kami berjanji tidak akan membocorkan aib ini pada keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*