Home » Cerita Seks Umum » Puji 4

Puji 4

BAB IV: BU SUTI KEENAKAN MAIN BERTIGA

Badanku terasa lemas walau hasrat birahiku masih menggebu-gebu. Sambil bersantai mendengarkan musik di dalam kamar tidur, tiba-tiba terlintas lamunan birahi. Aku membayangkan tubuh Bu Suti yang tingginya 158 cm, susu ukuran 32B yang kecil dan sudah kendor dengan puting sebesar kelingking, rambut panjang sepunggung, serta pantat yang bahenol itu aku gempur bersama kawan sekolahku. Emh rasanya pasti nikmat sekali.

Kawan baikku yang bernama Dendy itu mesti bisa merasakan tubuh Bu Suti sebab, sensasi memeknya yang mengempot nikmat walau sudah punya 5 orang anak dan 2 orang cucu tapi masih sangat menggairahkan. Jadi, ia gak bakalan rugi memberikan keperjakaanya pada Bu Suti.

Aku lihat, jam dinding kamarku menunjukkan pukul 1 siang lebih. Teringat telphone dari kawanku yang mengabarkan bahwa ia akan tidur di rumahku. Jantungku berdebar-debar sebab, aku tidak tahu bagaimana caranya mengajak kawanku itu ngentot dan aku pun bingung bagaimana supaya Bu Suti mau aku entot bersama dengan Dendy. “aah pusing.” keluhku sambil menutup kepalaku dengan bantal.

Memang aku ingin bersetubuh threesome tapi aku bingung bagaimana caranya supaya mereka mau dan tidak menolak. Jika yang menolak Bu Suti tidak jadi masalah, nah, kalau yang nolak Dendy bagaimana? Bisa malu oleh kawan-kawan sekolahku karena ngajak-ngajak temennya ngentot.

Memang aku menjadi ragu, karena hal ini terlalu beresiko terutama untuk hubungan pertemananku dengan Dendy. Hubungan kami bisa baik jika ia menerima ajakanku tapi sebaliknya jika ia menolak.

Haduh, mungkin ini gara-gara aku dan kawan sekolahku terlalu sering menonton bokef barat yang dalam adegannya satu wanita dihajar 2 laki-laki. Otakku jadi terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Aku menjadi pusing sendiri memikirkannya.

Ketika sedang gelisah bergelut dengan pikiranku sendiri, pintu kamarku ada yang mengetuk. Aku kira Dendy tapi ternyata Bu Suti dengan kedua cucunya yang masuk karena rumahku tidak dikunci, datang sambil membawakan makan siang.

“dek, ini makan siang dulu.” kata Bu Suti sambil menunjukkan nasi dan lauk pauknya.
“aduh bu, repot-repot segala. Padahal aku belum lapar. Cukup makan nanti malam aja.” jawabku karena memang biasa makan cuma 2 kali sehari.
“lho, udah ibu buatin untuk kamu. Dimakan, ya!” katanya sambil tersenyum manis yang aku jawab dengan anggukan kepala.

Akhirnya aku mengikuti langkah Bu Suti yang diiringi kedua cucunya munuju meja makan.

“heh deni, riki, mau maen PS gak?” tanyaku pada kedua cucu Bu Suti.
“mau, kak!” jawab si Riki tanpa malu-malu, berbeda sama kakaknya si Deni yang cuma nyengir kemalu-maluan.
“ayo ikut!” kataku sambil menggiring kedua anak itu menuju kamarku.

Aku nyalakan TV dan PS. Mereka memilih cd game CTR, aku bantu memasangkannya. Setelah mereka bermain PS, aku kembali ke meja makan. Tampak Bu Suti sedang duduk menunggu.

“ayo bu, makan bareng-bareng.” pintaku pada Bu Suti.
“Ibu udah makan tadi sama Deni dan Riki. Silakan Dek Puji aja makan yang banyak biar ibu temenin di sini sambil nunggu mereka selesai main PS.” kata Bu Suti sambil mengambilkan nasi untukku.

Aku pun makan sendiri sambil ditemani ngobrol oleh Bu Suti. Dia bercerita banyak tentang keluarganya. Ia bercerita tentang kesulitan hidup ia dan kelima anaknya yang semuanya sudah menikah dan berpencar tempat tinggalnya. Hanya kedua cucu dan suaminya saja yang kini memberi warna di rumahnya. Walau demikian, ia masih saja merasa kesepian sebab, kelima anaknya jarang sekali datang untuk menjenguknya. Padahal ia tidak mengharapkan untuk diberi uang oleh anak-anaknya yang nasibnya tidak lebih baik darinya.

Bu Suti pun bercerita mengenai hubungan asmaranya. Ternyata ia dahulu menikah karena ia dihamili oleh lelaki yang kini jadi suaminya ketika usianya baru 14 tahun. Bu Suti hanya lulusan Sekolah Dasar. Ketika itu di usia 14 tahun ia berkenalan dan akhirnya menjalin hubungan cinta dengan seorang lelaki yang usianya 15 tahun lebih tua darinya.

Perkenalan mereka di mulai saat suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan sering mampir di warung nasi milik orang tuanya Bu Suti untuk makan. Karena sering bertemu, Bu Suti menjadi lebih akrab dengan suaminya tersebut. Sering diajak jalan-jalan dan sepulangnya dari jalan-jalan, Bu Suti sering diajak mampir pada sebuah bedeng. Di bedeng itu Bu Suti sering disetubuhi sampai akhirnya ia hamil dan terpaksa dinikahkan oleh orang tuanya.

Selama menikah, memang ia sering disetubuhi suaminya namun, ia jarang mendapat kepuasan. Walau demikian, tidak pernah terpikir olehnya untuk berselingkuh.

Sedari 2 tahun lalu, birahi Bu Suti sering menggebu-gebu. Tetapi sang suami sudah tidak berdaya lagi setelah seharian bekerja tubuh tuanya terlalu lelah untuk melakukan hubungan suami istri. Sejak saat itu, Bu Suti sangat kesepian namun, sejak setahun yang lalu ia merasa terbantu olehku karena aku bisa memberinya kepuasan. Itu sebabnya, ia sulit menolak ajakanku ketika aku menginginkan bersetubuh dengannya karena ia pun memang menginginkannya. Aku tak banyak komentar dan lebih sering manggut-manggut saja sambil mendengarkan ia bercerita.

Aku kaget, ketika Bu Suti mengatakan alasannya mengapa dulu ia nekat ingin membuka handuk yang aku pakai. Dan ternyata akibat ia sering mendengar dari para tetangga yang sering membicarakan kontolku, para tetanggaku itu bergosip ria menyebarkan obrolan mengenai kontolku yang gede dan panjang.

Makanya Bu Suti yang udah lama tidak bersetubuh dengan suami menjadi ingin membuktikan dengan melihat langsung biar gak penasaran karena memang kebetulan ia sering numpang buang air atau mandi di rumahku dan sering melihat aku pagi-pagi cuma pakai handuk sebelum berangkat sekolah. Aku yang sempat terkaget-kaget dengan pengakuannya akhirnya tak mampu membendung tawa.

Aku ingat, dulu ketika aku dan teman-teman sedang bermain di dekat rumah Tante Susi tiba-tiba Tante Susi ke luar dari rumahnya karena kami yang sedang bermain membuat kegaduhan. Ia kemudian membuka bajunya memperlihatkan susunya yang montok. Walaupun waktu itu usia kami masih kecil. Baru masuk SMP. Tapi kami sudah punya ketertarikan pada tubuh lawan jenis. Mendapat pemandangan gratis, kami yang sedang asik bermain menjadi terpana melihatnya.

Tapi yang naas, sesudah Tante Susi memperlihatkan susunya yang montok, Tante Susi yang bekerja sebagai terapis di spa itu memaksa kami untuk memperlihatkan kontol kami kepadanya. Kami masih polos sehingga dengan dipaksa olehnya, satu persatu dari kami membuka celana dan memperlihatkan kontol kami padanya.

Aku menduga, pasti yang menyebarkan berita ini awalnya adalah Tante Susi. Sebab, selain ia tidak ada lagi yang pernah melihat kontolku. Ibuku saja, terakhir melihat kontolku ketika aku di sunat pada saat duduk di kelas 2 SD. Karena sesudah di sunat, aku tidak mau dimandikan lagi oleh ibuku.

Sungguh tak menduga sebelumnya, akibat aku memperlihatkan kontolku pada Tante Susi ternyata jadi buah bibir. Walaupun aku sedikit bangga karena menurut pendapat para tetanggaku khususnya Tante Susi, kontolku gede dan panjang. Tetapi secara manusia, malu juga karena telah menjadi buah bibir.

Akhirnya aku selesai makan dan minum. Aku beranjak menuju ke dalam kamar mengambil rokok dan kemudian kembali menemui Bu Suti.

“bu, rokok?” tanyaku sambil menawarkan rokok mild pada Bu Suti.
“boleh, dek.” jawab Bu Suti sambil mengambil sebatang.

Bu Suti kemudian duduk di kursi sebelahku.

“bu, bagaimana dengan rencana begituan bertiga, apa ibu udah siap?” tanyaku memberanikan diri biar kepala tidak terlalu pusing.
“aduh Dek Puji, ini dubur ibu masih sakit dan agak perih akibat begituan yang tadi pagi aja belum ilang.” jawabnya dengan wajah agak cemas.
“untuk sementara paling ibu kulum burung sama ngasih memek aja gimana, bu?” saranku pada Bu Suti.
“emang harus malam ini ya, dek? tanya Bu Suti.
“jika ibu siap malam ini kenapa enggak!” jawabku sambil tersenyum penuh harapan.
“iya deh. Tapi ingat, dubur ibu jangan diapa-apain!” ucapnya dengan wajah serius.
“iya bu, aku janji gak akan ngapa-ngapin duburnya.” jawabku tak kalah serius.

Lama kita ngobrol dan kedua cucunya pun masih asik bermain PS di kamarku. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Sambil minum kopi dan merokok bersama Bu Suti, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Segera aku beranjak menuju pintu.

Ternyata Dendy kawan sekolahku yang datang. Usianya sama denganku yaitu 15 tahun. Badannya lebih tinggi dan lebih besar. Tingginya sekitar 163 cm sedangkan tinggiku paling 160/161 cm. Ia teman terdekatku. Makanya, aku sering pergi atau bermain bersamanya. Minum-minum bareng sampai nonton bokef bareng. Tapi tidak tahu kenapa, sudah hampir 3 tahun aku mengenalnya, belum sekalipun aku diajak main ke rumahnya.

“katanya di rumah kamu sendiri. Itu ada suara yang main ps!” keluhnya merasa dibohongi.
“itu cucu tetanggaku. Yuk, aku kenalin sama Bu Suti!” jawabku sambil membawa Dendy ke dapur bertemu Bu Suti.

Tampak Bu Suti sedang mencuci piring. Melihat Bu Suti dari belakang memang menggairahkan sekali. Sebab, pantatnya sungguh bahenol dan menonjol sekali.

“bu, kenalin ini Dendy teman sekolah Puji.”

Mereka pun berkenalan. Dengan penuh rasa hormat Dendi mencium tangan Bu Suti.

Setelah piring-piring selesai dicuci dan basa basi dengan kami, Bu Suti pamit pulang.

Dendy segera menyalakan rokok yang dibawanya. Tampak wajahnya lebih tenang.

“ji, aku bawa vodka. Aman gak?” kata Dendy.
“aman. Udah gak ada siapa-siapa ini di rumah! Lagian gak apa-apa kalau ketahuan Bu Suti juga, aku udah cerita banyak tentang kebiasaanku dengan kawan-kawan di sekolah.” jawabku penuh keyakinan.
“wah mantap, ji!” ujar Dendy sambil membuka botol vodka.

Kami pun ngobrol-ngobrol sambil menikmati vodka yang dibawa oleh Dendy. Karena terbantu oleh efek vodka, aku menjadi leluasa menceritakan segala pengalamanku bersama Bu Suti.

Terbuai dengan ceritaku, Dendy hanya diam melongo. Mungkin dia kurang percaya dengan apa yang aku ceritakan.

Aku pun menyampaikan keinginanku untuk menyetubuhi Bu Suti bersama dengannya. Dendy agak terkejut tapi ia pun mulai menampakan ketertarikan. Walaupun ia merasa bahwa aku becanda. Di samping itu, ia merasa ragu karena takut Bu Suti enggan.

Maka aku katakan bahwa sebelumnya, aku telah membicarakan semuanya dengan Bu Suti dan ia telah setuju. Sampai akhirnya Dendy pun yakin dengan perkataanku dan ia setuju, mau ngentot bertiga. Dengan demikian, hilang semua beban pikiranku.

Sekitar pukul 7 malam, Bu Suti kembali ke rumahku untuk membuatkan makan malam. Jantungku berdebar. Tiba-tiba sekali perasaanku jadi tidak karuan. Sebisa mungkin aku mencoba biasa-biasa saja. Aku coba basa-basi terlebih dahulu dengan Bu Suti.

“bu, padahal ajak aja suami sama cucu-cucu ibu makan bareng-bareng di sini.” kataku pada Bu Suti untuk menghilangkan grogi.
“suami sama cucu udah pada makan tadi. Malah sesudah makan suami ibu langsung tidur. Mungkin cape pulang kuli.” jawab Bu Suti.

Seolah mendapat kode dari Bu Suti, aku segera menghampirinya. Aku peluk ia dari belakang. Ia tak mempedulikan perbuatanku karena ia sedang sibuk menyiapkan bumbu-bumbu untuk membuat masakan. Aku sibak rambutnya lalu aku cium leher dan tengkuknya sambil tanganku meremas-remas susunya dari balik daster merah yang sudah bladus warnanya.

Dendy hanya diam menyaksikan ulahku. Terlihat wajahnya melongo melihat aksi yang bukan omong kosong belaka. Ia menjadi yakin, bahwa aku memang sering ngentot dengan Bu Suti.

Aku balikan tubuh Bu Suti supaya berhadap-hadapan denganku. Tampak keraguan di wajah Bu Suti. Aku tahu bahwa ia merasa risih karena keberadaan kawanku. Tapi dengan penuh nafsu aku ciumi leher jenjangnya sampai akhirnya bibir kami bertemu dan kami berciuman. Tubuh Bu Suti sedikit gemetar mungkin ia masih merasa risih dan tidak nyaman.

Tanpa mengindahkan kondisi Bu Suti, aku bimbing ia menuju kamar tidurku. Sebab, aku merasa tidak begitu nyaman jika ngentot di dapur. Sambil beranjak dari dapur aku memberi kode pada Dendy supaya ia ikut menuju kamar tidurku.

Di dalam kamar, kami kembali berciuman. Lidah kami saling melilit, saling menjilat, saling mengenyot lidah dengan lembut. Kini aku merasakan Bu Suti sudah jauh lebih tenang dan santai. Aku minta Dendy yang sedari tadi berdiam diri untuk menelanjangi Bu Suti. Dengan agak ragu-ragu ia mulai membuka kancing-kancing daster Bu Suti. Ia lepaskan daster merah dari tubuh Bu Suti sehingga tampaklah kutang dan celana dalam abu-abu yang dipakai Bu Suti.

Aku mulai membuka bhnya. Sehingga susu ukuran 32B yang kendor dengan puting panjang sebesar kelingking itu bergantungan dengan bebas. Aku lahap susu sebelah kirinya sedang susu sebelah kanan sudah menjadi bulan-bulanan lidah serta mulut Dendy. Kami mulai semakin lincah bermain dengan susu Bu Suti. Kami jilat-jilat lingkaran hitam di tengan susunya, kami pilin-pilin puting panjang Bu Suti dengan lidah.

“sshhhhhhh, aaaaahhhh.” desah Bu Suti sambil tangannya mencengkram lembut rambutku dan Dendy.

Aku jilat-jilat, aku hisap, aku kenyot-kenyot susu Bu Suti dengan lembut dan perlahan. Berbeda dengan Dendy, ia begitu bernafsu bermain di susu kanan Bu Suti. Ia menjilat, menghisap, dan mengenyot susu kendor itu dengan begitu rakus sampai liur dari mulutnya begitu basah pada susu Bu Suti dan menetes membasahi perut Bu Suti dan lantai kamarku.

Mendapat aksi yang berbeda, Bu Suti semakin menjadi-jadi. Ia mendesah disertai erangan-erangan penuh kenikmatan sambil tangannya tak lepas mencengkram dan menjambak rambutku dan Dendy dengan cukup kuat.

Aku mulai turunkan celana dalam abu-abunya sampai terlepas dari tubuhnya. Terlihat bulu-bulu lebat menghiasi memeknya. Dengan perlahan aku tuntun Bu Suti untuk berbaring di atas kasurku. Dengan begitu Dendy terpaksa menghentikan gerilyanya pada susu kanan Bu Suti. Dendy memanfaatkan kondisi tersebut untuk menelanjangi dirinya sendiri.

Dengan lembut aku cium memek Bu Suti. Aku lakukan jilatan perlahan-lahan dan lembut pada itilnya. Aku kenyot-kenyot kecil itilnya secara lembut. Sedangkan Dendy sudah menikmati kuluman mulut Bu Suti pada kontolnya yang besarnya tidak sebesar punyaku tapi panjangnya hampir sama.

Sambil merasakan kuluman, hisapan, dan kenyotan pada kontolnya, dengan penuh nafsu Dendy meremas-remas kedua susu Bu Suti. Sedangkan aku menikmati bermain pada liang memek dan itil Bu Suti. Aku jilat-jilat dan kenyot-kenyot itil beserta liang memeknya. Aku tidak berani bermain-main dengan duburnya selain sudah berjanji pada Bu Suti, tampak pula duburnya merah dan agak bengkak akibat aku entot dengan buas tadi pagi.

“aaaauuuuhhhh, oooouuuuhhhhh, eeeeehhhhmmm.” desah Bu Suti disela-sela kesibukannya melahap kontol Dendy.

Dendy pun mengerang-ngerang dan meringis. Mungkin merasakan ngilu pada kepala kontolnya yang sering bersentuhan dengan gigi Bu Suti. Sungguh kamar ini menjadi terasa penuh sesak dengan nuansa-nuansa birahi.

“Ouuuuuhhhh, aaaaauuuuuwwww, eeeeehhhhm, ayo masukin kontolnya ehmmm, oooouuhhhh!” pinta Bu Suti disertai desahan penuh kenikmatan.

Tampak Bu Suti sudah tidak tahan dengan aktivitas ini. Maka aku segera melucuti seluruh pakaianku dan mempersilakan Dendy untuk mengentot memek Bu Suti terlebih dahulu.

Dengan gaya WOT, Bu Suti mulai mengarahkan kontol Dendy yang sudah licin oleh baby oil ke dalam memeknya. Dengan perlahan Bu Suti menurunkan pantatnya hingga sedikit demi sedikit kontol Dendy telah tertelan ke dalam liang memek Bu Suti. Aku yang sudah telanjang bulat segera memberikan kontolku untuk dimainkan oleh mulut Bu Suti yang lumayan tebal bibirnya.

Bu Suti mulai bergoyang memutar-mutar pinggulnya, memaju-mundurkan pantatnya, dan bergerak naik-turun untuk mengocok kontol Dendy yang sudah terbenam di dalam memeknya. Sedangkan kontolku yang berada dalam mulutnya, ia hisap, ia jilat, ia kulum, dan ia kenyot-kenyot dengan perlahan. Terasa basah dan hangat kontolku di dalam mulut Bu Suti.

“aaaaoooouuuu, sssshhhhh, aaaaaaaahhhh.” desah Bu Suti sambil melepas kontolku dari dalam mulutnya untuk ia kocok-kocok menggunakan tangannya dengan agak gemas.

Dendy begitu menikmati permainan Bu Suti sehingga desahannya membahana seiring desahan yang ke luar dari mulut Bu Suti. Dendy dan Bu Suti berciuman sambil saling berpelukan. Aku segera mengambil posisi di belakang pantat Bu Suti yang masih mengocok-ngocok kontol Dendy di dalam memeknya.

Dengan perlahan aku dorong kontolku yang sudah sangat licin oleh baby oil ke dalam liang memeknya yang sudah terisi kontol Dendy. Bu Suti terdiam sesaat, memberi kesempatan padaku untuk memasukan kontolku ke dalam memeknya. Susah payah kontolku menekan dan mendorong supaya bisa masuk ke dalam lubang memeknya. Namun sia-sia. Hanya sebatas kepala kontolku saja yang tertelan. Betapa sulit dan sesaknya liang memek Bu Suti sehingga tidak mampu menampung 2 kontol bersamaan di dalam liang memeknya.

Agak kecewa, aku tarik ke luar kontolku yang masih licin oleh baby oil dari dalam liang memeknya. Akhirnya Bu Suti menegakan badannya dan leluasa kembali menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk mengocok kontol Dendy. Dengan posisi WOT di atas tubuh Dendy yang telentang, aku yang berada di belakang punggung Bu Suti mengarahkan kontolku untuk dijepit oleh ketiak Bu Suti yang dipenuhi bulu lebat dan hitam.

Terasa, walaupun bukan liang memek tetapi sensasinya luar biasa, apalagi keteknya yang berbulu begitu menggelitik kontolku. Dengan perlahan supaya kontolku tetap terjepit di ketiaknya, aku mulai memaju mundurkan kontolku.

“aaaaaahhhhh, sssshhhhh, ooooouuuuuhhhh!” desah Bu Suti merasakan sensasi nikmat pada liang memek dan rasa geli nikmat pada ketiaknya. Apalagi tangan Dendy dengan penuh nafsu tak henti-hentinya meremas kedua susunya yang bergelantungan.

Dendy yang sudah terbakar birahi mulai menghentak-hentakan pinggulnya turun naik sehingga, tubuh Bu Suti yang berada di atasnya ikut terhentak-hentak. Aku lepaskan kontolku dari ketiak Bu Suti supaya Dendy leluasa mencapai orgasmenya.

“aaaaaahhhhh, oooooouuuuuuhhh!” erang Dendy bersamaan dengan Bu Suti mencapai orgasmenya.
“emhhhh, aaaaaauuuuhhhh, aaaaauuuhhhh.” lenguhan Bu Suti sambil telungkup menindih dan memeluk tubuh Dendy erat-erat.

15 menit sudah Dendy ngentot akhirnya Dendy dan Bu Suti mencapai klimaks. Kini Bu Suti membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dendy langsung bangkit mengambil tisu basah untuk melap cairan-cairan birahi pada kontol dan juga memek Bu Suti yang semakin merekah.

Ku lihat Bu Suti kembali bergairah setelah Dendy menghisap, menjilat, dan mengenyot kedua susunya. Bu Suti merentangkan kakinya lebar-lebar. Aku mendekat dan segera menghujamkan perlahan kontolku pada liang memeknya. Baby oil yang banyak ditumpahkan pada kontolku sangat membantuku dalam melakukan penetrasi ke dalam liang memeknya. Tanpa kesulitan, kontolku terbenam seluruhnya di dalam lubang memeknya.

Aku mulai menggoyang pinggul dan perlahan memaju-mundurkan kontolku. Terasa kontolku tercengkram di dalam liang memeknya dan memek Bu Suti pun mulai mengempot-empot kontolku. Sungguh nikmat sekali rasanya.

“aaaaahhhhh, ssshhhh, aaaaaahhhh!” desah Bu Suti agak keras membahana sambil tangannya mengocok-ngocok kontol Dendy yang sudah mengeras kembali dengan gerakan cukup cepat.

Aku tetap menjaga gerakan memaju-mundurkan kontolku di dalam lubang memeknya secara perlahan dan lembut. Sesekali Bu Suti memutar-mutarkan pinggulnya sambil tak henti-hentinya mendesah dan mengerang.

“eeeehhhhm, dek, eeeehhhmmm, ooouuuhhhh, sssshhhh, agak cepat dek! Oouuuuhhhh.” pintanya sambil terus mendesah.

Sesuai pintanya, aku mulai percepat gerakan memaju-mundurkan kontolku mengocok ke dalam lubang memeknya. Ku lihat itil Bu Suti sudah mengeras merah dan sambil tetap memaju mundurkan kontolku, aku usap-usap lembut itilnya.

Tak Butuh waktu lama, di bawah 15 menit Bu Suti kembali mencapai orgasme. Terasa memeknya berkedut-kedut dan mencengkram kuat kontolku yang masih terbenam di dalam memeknya. Aku hentikan genjotanku untuk menikmati kenikmatan kedutan dan cengkraman kuat memeknya pada kontolku.

Setelah mereda gelombang orgasme Bu Suti, aku minta ia untuk mengambil posisi berbaring menyamping. Aku ikut berbaring di belakangnya. Dengan perlahan aku masukan kontolku dari arah belakang ke dalam memeknya. Aku angkat sebelah kakinya supaya lebih mudah memaju mundurkan kontolku lebih dalam di liang memeknya.

Dendy yang berlutut di depan Bu Suti mendapat kocokan tangan dan kuluman mulut Bu Suti. Melihat keadaan tersebut membuatku semakin bersemangat memaju mundurkan kontolku dengan cepat.

“aaaaaeeeehhhh, oooouuuhhhh, aaaaaahhhh.” desahan Bu Suti merasakan kelincahan gerakan kontolku di dalam lubang memeknya.

Badan kami sudah semakin terlihat bercahaya karena basah oleh keringat di sekujur tubuh. Dengan bernafsu aku remas-remas susu Bu Suti sehingga erangan dan desahannya semakin keras ke luar dari mulutnya.

Kontol Dendy dikocok dan dikulum mulut Bu Suti dengan cepat. Terdengar nafas Bu Suti yang terengah-engah disertai desah dan erangan. Terasa kontolku sudah mulai gatal dan geli.

“bu, aku mau keluar! oooouuuhhhh!” eranganku sambil terus mempercepat gerakanku memburu orgasme.
“tahan, deek! eeeehmmmm, ibu bentar lagi keluar sshhhhhh, aaaahhhhh!”

Aku tahan rasa gatel dan geli di kontolku. Tampak tubuh Dendy sedikit bergetar menikmati kuluman mulut dan kocokan tangan Bu Suti dengan cepat. Tak lama berselang Dendy pun menumpahkan semua spermanya di mulut Bu Suti.

“ooooouuuuhhhhh, aaaaaahhhh, aaaaahhhh, ibu keluar, dek! Oooouuuuhhhh, eeeehhhmmm.” erangan Bu Suti membuat sperma Dendy yang berada dalam mulutnya meleleh membasahi pipi dan kasur.

Merasakan kedutan hebat, kontolku yang terasa dicengkram di dalam memeknya tak kuat menahan geli dan gatal yang begitu nikmat. Hingga akhirnya tubuhku bergetar dan tumpahlah spermaku sebanyak-banyaknya di dalam lubang memek Bu Suti.

Aku peluk tubuh Bu Suti erat-erat sambil menciumi punggungnya. Sebelum akhirnya aku cabut kontolku dari dalam memeknya dan berbaring telentang. Sungguh rasa lelah yang nikmat.

Bu Suti berdiri dan segera beranjak dari kamar tidurku untuk membersihkan cairan yang membasahi tubuhnya di kamar mandi. Aku memandang Dendy dan kami pun tersenyum puas.

Dendy duduk di kursi kamarku. Ia mulai bercerita mengenai pengalamannya. Dendy mengatakan, bahwa ini bukan pengalaman ngentot yang pertama baginya tapi, ngentot bertiga baru kali ini dia mendapatkan kesempatannya. Dan Ia sangat menikmatinya. Rasanya lebih nikmat dan lebih mendebarkan daripada cuma ngentot berdua.

“emang kamu udah pernah ngentot sebelumnya?” tanyaku karena tak yakin ia pernah ngentot. Sebab, walau ia teman terdekat dan sering nonton bokef bareng tapi ia tidak pernah cerita mengenai aktivitas yang berbau seks.
“aku udah sering, makanya aku bisa ngentot cukup lama kan? kalau pengalaman pertama gak mungkin bertahan cukup lama.” jawabnya tanpa ada ragu sedikitpun.

Mendapati jawaban Dendy, aku menjadi ingat pengalaman pertamaku dengan Bu Suti. Waktu itu Bu Suti memujiku sebab, untuk pengalaman pertama aku kuat dan mampu bertahan lama. Maka, ada kemungkinan Dendy pun dipengalaman pertamanya kini, tak jauh berbeda dengan pengalamanku yang mampu bertahan gak cepet ke luar sperma.

Karena tak yakin bahwa Dendy pernah ngentot sebelumnya, aku meragukan jawabannya. Sampai akhirnya Dendy menceritakan semuanya dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Ia juga menyampaikan bahwa wanita yang sering ngentot dengannya adalah pembantu dan ibunya sendiri. Oleh karena ia sering ngentot dengan pembantu dan ibunya sendiri maka, ia gak berani ajak teman-teman main ke rumahnya. Aku terkejut sekali mendengar ucapan Dendy tapi tidak begitu mempercayainya sampai aku bisa membuktikannya langsung.

Akhirnya Dendy berjanji, akan mencoba membicarakan perihal ngentot bertiga dengan ibunya. Seperti yang aku lakukan pada Bu Suti. Jika ibunya tidak berkenan ngentot bertiga, Dendy akan mengupayakan membujuk pembantunya supaya mau ngentot bertiga. Walau aku masih belum yakin, aku menyetujui niatnya biar kawan baikku itu senang.

Akhirnya Bu Suti kembali dengan berbalut handuk. Ia segera meraih daster, bh, dan celana dalamnya yang berserakan di dalam kamarku. Aku bangkit dan mencium pipi Bu Suti sambil mengucapkan terima kasih. Dendy pun ikut mencium pipi Bu Suti.

Malam itu, kami ngobrol sambil makan-makanan yang dibuatkan oleh Bu Suti. Sekitar pukul 10 malam, Bu Suti pamit pulang karena khawatir cucu dan suami mencarinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*