Home » Cerita Seks Umum » Puji 1

Puji 1

Bab I: AKIBAT SERING DILILIT HANDUK

Kejadian yang tak pernah aku lupa sebab, telah menjadi pengalaman pertamaku yang tidak pernah terduga dan terencana. Ketika itu usiaku masih 14 tahun, kelas 2 SMP.

Ketika duduk di bangku kelas 2 SMP, aku sekolah pukul 12.00 WIB. Jadi, pagi-pagi aku menemani adikku yang masih kecil sebelum berangkat ke sekolah. Jam 09.30 WIB seperti biasa, aku titipkan adik kecilku ke rumah nenekku yang letaknya tidak seberapa jauh. Dan biasanya setelah mengantar adikku, aku selalu bermalas-malasan di kursi sambil nonton televisi dengan badan dililit handuk tanpa memakai celana dalam dan baju.

Seperti biasanya pula, tetanggaku sering ikut mandi atau buang air di rumahku pada jam 09.00 atau jam 10.00 WIB. Meski di rumahnya memiliki kamar mandi tapi persediaan airnya kurang. Berbeda dengan rumahku, selain ibuku menggunakan mata air yang mengaliri setiap rumah warga, ibuku juga memasang air PDAM. Sehingga air di rumahku tidak pernah kosong jika air dari pegunungan mampet atau kering.

Walaupun tetanggaku ini sering ikut mandi atau buang air di rumahku, tidak ada rasa iseng dalam pikiranku untuk mengintip atau tindakan-tindakan cabul lainnya. Walaupun di usiaku yang sudah 14 tahun, film porno sudah tidak asing bagiku. Sebab, pergaulan di sekolah yang mengenalkanku bukan hanya pada minuman keras, rokok, tetapi juga pada film porno baik bokef barat maupun asia. Sungguh, ketika itu tidak ada terlintas sedikitpun dalam benakku untuk melakukan hal-hal yang berbau seks terhadap tetanggaku ini yang usianya sudah lebih tua dari ayahku. Usianya sekitar 48 tahun ketika aku iseng bertanya kepadanya.

Sambil menunggu tetanggaku keluar dari kamar mandi, aku tetap tiduran di kursi sambil nonton televisi dengan tubuh bugil yang hanya dililit handuk.

Sampai akhirnya, tetanggaku selesai buang air dan keluar dari kamar mandi. Secara tiba-tiba, handuk yang melilit ditubuhku ditariknya dengan paksa namun, tanganku dengan refleks dan kuat menahan supaya handuk tidak sepenuhnya terlepas dan menampakan kelaminku. Hal tersebut membuat tetanggaku menjadi malu karena hendak memaksa melepas handukku dan langsung pergi ke luar rumahku.

Aku yang kaget dengan pengalaman tersebut mulai mengingat kembali kejadian yang mengejutkan itu. Betapa anehnya wajah seorang wanita yang sudah memiliki cucu tersebut dengan sorot mata seperti wanita dalam film bokef. Penuh nafsu dan menggairahkan. Maka tanpa pikir panjang, aku rapihkan kembali handukku dan segera melesat menuju rumahnya.

Di rumahnya, Bu Suti, aku mendapati ia sedang duduk di kursi panjang yang sudah tak karuan bentuknya sambil merokok. Aku beranikan diri duduk di sebelahnya.

“Bu, tadi ibu mau ngapain?”
“eng, eng, enggak cuma mau lihat burung kamu saja!” jawab Bu Imah dengan wajah so cuek.
“ooh. Kirain mau apa. Aku kaget sekali dengan perlakuan ibu yang tiba-tiba seperti itu.”
“udahlah, Dek Puji lupakan saja kejadian itu, ya!” jawabnya sambil menghembuskan asap rokoknya.
“bu, kalau ibu pengen lihat burungku, ayo bu di rumahku saja.” jawabku sambil berlalu dari rumahnya.

Di rumahku, aku duduk di kursi sambil menyalakan rokok yang sebelumnya aku ambil dari dalam tas sekolah di dalam kamarku. Sambil menghisap rokok, aku heran dengan ucapanku yang tadi aku ucapkan ke Bu Suti. Dag dig dug jantungku membayangkan bagaimana kalau Bu Suti nanti datang lagi ke rumahku ingin melihat kontolku?

Membayangkan hal tersebut malah membuat kontolku menegang dan mengeras. Dengan refleks aku elus kontolku dari luar handuk sambil membayangkan bersetubuh dengan tetanggaku, Bu Suti.

Sedang asik dengan kelaminku, tiba-tiba pintu rumahku dibuka oleh Bu Suti. Aku kaget, langsung tegak berdiri beranjak dari kursi karena takut perbuatanku itu diketahuinya.

Bu Suti pun menghampiriku. Dengan wajah so cuek dia menagih ucapanku yang hendak memperlihatkan burungku. Namun, aku diam saja sambil tetap berdiri dan berkata, “silakan ibu buka sendiri handukku! aku malu.” jawabku dengan jujur dan polos, maklum ketika itu usiaku masih 14 tahun.

Bu Suti mendekat ke hadapanku. Tanpa ragu dia angkat handukku dan nampaklah kontolku yang berkulit bersih dan berwarna sawo matang yang masih tegang dan keras gara-gara birahi yang melanda.

Terlihat sungging senyum di wajahnya. Memperhatikan kontolku yang berkedut-kedut karena birahiku yang semakin memuncak.

“Usiamu berapa, Dek Puji?” tanyanya tiba-tiba.
“sudah 14 tahun, sebulan yang lalu, bu!” jawabku dengan suara agak bergetar.
“wah, 14 tahun tapi burungnya sudah gede dan panjang.” dengan suara yang agak bergetar pula. Ketika itu aku tidak tahu kalau Bu Suti juga telah terbakar birahinya.
“eh kamu merokok, ya?” tanya Bu Suti, sambil matanya melihat rokok di jemari tangan kananku.
“iya, bu. Habisnya, aku kaget banget soalnya baru kali ini diginiin. Ibu jangan bilang-bilang sama mamah ya kalau aku ngerokok!” jawabku yang mulai takut jika diadukan oleh tetanggaku ini pada ibuku.
“iya, gak bakalan dibilangin kok!” jawabnya sambil beranjak hendak ke luar rumahku.

Dengan nafsu yang sudah cenat-cenut di ubun-ubun, aku tarik tangan kiri Bu Suti. Tampak kaget wajahnya memandang ke arah wajahku.

“Dek Puji kenapa?”
“anu bu, usia ibu berapa?” aku balik bertanya padanya.
“sekitar 48 tahun, udah tua, ya?” jawabnya sambil cekikikan.
“susu ibu kecil, tapi pantatnya montok, bu. Boleh gak, aku lihat memek perempuan yang udah tua kaya ibu?” tanyaku dengan polos.
“haha… iyalah susunya kecil, udah kendor. kan ibu udah punya 5 anak dan sudah punya cucu juga. Jangan, kamu gak boleh liat kan nanti kalau kamu udah besar kamu juga pasti bisa liat memek perempuan!” jawabnya sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.
“yah, ibu. Sekali aja bu. Bolehlah!” rengekku sambil menarik tangannya lagi.

Cukup lama juga ketika itu aku memelas supaya dapat ijin melihat memek perempuan. Sampai akhirnya Bu Suti pun menyerah dan setuju untuk memperlihatkan memeknya kepadaku. Sungguh, senang rasanya ketika rengekanku berbuah hasil.

Dag dig dug jantungku ketika Bu Suti melorotkan celana pendek berwarna biru tua sekaligus celana dalamnya yang berwarna coklat muda sampai setengah pahanya. Terlihat lebat dan hitamnya bulu-bulu memeknya.

“sudah ya!”
“tunggu bu, gak keliatan memek itu seperti apa.” jawabku dengan suara bergetar.
“ya ini, memek tu begini!” kata Bu Suti sambil menunjuk memeknya sendiri.
“aku liatnya cuma bulu aja, bu. Gak tau kalau di tengah-tengahnya gimana!” sanggahku berusaha melihat lubang memek kayak di film bokef yang menampakkan itil dan lubang memek dengan jelas.

Akhirnya Bu Suti beranjak menuju kursi. Kakinya di rentangkan sehingga begitu jelas lubangnya yang menganga bulat sebesar uang koin Rp.100 perak. Aku pun mendekat, sehingga wajahku berjarak mungkin sejengkal dari memeknya. Ketika itu, pertama kali aku dapat mencium bau memek perempuan. Baunya begitu khas dan hampir mirip bau ikan asin walaupun tidak setajam bau ikan asin.

Tanpa komando, aku dekatkan mulutku pada memeknya seperti dalam adegan film bokef yang cukup sering aku tonton bersama kawan-kawan sekolahku. Tangan Bu Suti, menjambak rambutku dan berusaha menjauhkan mulut dan lidahku dari memeknya yang dagingnya berwarna hitam keriput. Tapi, seperti seekor anjing, aku tetap bertahan dalam posisi berjongkok di depan memeknya dan terus melakukan jilatan-jilatan pada lubang memek dan itilnya yang menyembul di balik daging-daging hitam yang keriput.

“sssshhh aaaah oooooohhhh hhmmmm. ssu sssudaaaaah aduuuuuhh hmmmm.” ceracau Bu Suti yang semakin membuatku bergairah menjilat dengan cepat memeknya.

Lidahku begitu lincah dan lentur menjilat lubang memek dan itilnya. Perlakuanku yang demikian membuat Bu Suti semakin mendesah dengan diikuti gerakan pada pinggulnya, bergoyang, dengan pinggang yang melengkung-lengkung di atas kursi. Aku tetap dengan gairah menjilati dan berusaha meremas susunya yang masih dibalut kutang dan baju kaos berwarna ungu.

Hingga akhirnya, desahan hebat dan menjadi-jadi yang ke luar dari mulut Bu Suti menyadarkanku. Karena takut didengar tetangga, aku pun membimbing tubuh Bu Suti yang kurus dengan tinggi hampir sama denganku menuju kamarku. Waktu itu tinggiku masih 158 cm. Tanpa penolakan seperti sebelumnya, Bu Suti merelakan dirinya dibimbing menuju kamarku. Aku pun mempersilakan Bu Suti untuk rebahan di kasur milikku.

Segera aku buka handuk yang melilit pinggangku. Kemudiah aku beranjak mengarahkan kontol yang menurut Bu Suti gede dan panjang ke arah mulutnya. Tapi, Bu Suti hanya diam kaget dengan wajah melongo ketika aku dengan tiba-tiba menggesek-gesekan kontolku ke bibirnya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan perbuatanku.

“ayo bu dihisap!” pintaku dengan suara bergetar dan sedikit terbata.
“iih ibu belum pernah begituan. Pengalaman ibu paling cuma netein suami dan langsung enjot aja memek ibu.” jawabnya dengan suara bergetar pula sambil tangannya menahan perutku supaya kontolku tak sampai pada bibirnya lagi.

Dengan perasaan kecewa, segera aku mengangkangkan kakinya lebar-lebar. Aku jilatin dengan liar memeknya. Terasa asam dan sedikit bau pesing memeknya di lidah dan hidungku. Aku kombinasikan antara jilatan, sedot perlahan dan sedotan kencang pada lubang memek dan itilnya. Bu Suti tampak semakin bernafsu. Terlihat dari gerakannya memutar-mutar pinggulnya, menaik-turunkan pantatnya, dengan pinggang melengkung-lengkung di atas kasurku.

“oooouuuuhhhh ssssshhhh ennnaaaaakkk. Baaaarrrruuu peerrrrtaaaamaaa ibbuuu diigiinniiiiinnn emmmmhhh” desahnya.

Mendapat respon demikian, aku semakin bernafsu dan semakin menjadi-jadi memainkan lidah dan mulutku di memeknya.

“emmmmhhhh deeeekkk ayyoooo masssuuukkiiiinn ddddoooooongggg!” pintanya dengan mata merem melek.

Tanpa pikir panjang, aku pun beringsut ke atas tubuhnya yang sudah ia bugilin sendiri. Dengan posisi push up di atas tubuhnya, aku berusaha memasukan kontolku ke dalam memeknya. Tapi berkali-kali aku coba, berkali-kali juga kontolku meleset kadang ke atas, kadang ke bawah duburnya.

Dengan bernafsu birahi tingkat dewa, Bu Suti menggenggam kontolku dan mengarahkan pada liang memeknya yang basah penuh lendir memeknya. Dengan hentakan kuat, kontolku masuk ke dalam liang memeknya.

“ooooouuuuuhhh ssssshhhh pelaaaan-peeeelllaaaaannn doooonggggg. aaaauuuuwwww saaaakiiittttt.” desahnya sambil meringis.

Karena hentakan yang tak sabar itu, aku pun merasakan pedih di kepala kontolku. Maklum pengalaman pertama. Sambil merasakan pedih di kontolku tiba-tiba Bu Suti mulai menggerakan pinggulnya memutar, naik-turun dengan berirama. Aku yang merasakan kenikmatan akibat gerakannya sacara natural merespon dengan memaju-mundurkan kontolku dalam memeknya.

“emmmmhhh nikkkkmaaaattt yaaaa oouuuhhh emmmhhh ssssshhhh aaaahhh” desahnya yang membuatku semakin liar memompa kontolku. sehingga semakin lama kontolku semakin jauh terbenam dalam liang memeknya.

Terasa begitu nikmatnya, memek perempuan yang sudah punya lima orang anak dan sudah punya cucu ini. Memeknya mengempot-empot, dinding memeknya seolah meremas-remas kontolku. Jauh lebih nikmat jika dibandingkan dipompa dengan telapak tangan. Hangat dan agak lengket memeknya, membuatku seperti melayang-layang.

Keringat bercucuran di seluruh tubuhku. Pantatku pun terasa basah dan hangat oleh butir-butir keringat. Begitu juga Bu Suti, tubuhnya dibanjiri keringat. Wajahnya semakin cemerlang dengan peluh yang berbutir-butir mengaliri kening wajahnya.

Tercium aroma keringatnya begitu menggairahkan. Dengan tetap menggenjot memeknya, aku hisap, jilat, dan kenyot-kenyot payudara kecil, peot, dan kendor itu dengan rakus. Mungkin ukurannya hanya 32 b saja.

“eemmmmhhh aaaaahhh oooouuuuhhh emmmmmhhh aaaaahh.” erangannya.

Tak henti-hentinya ia mendesah, membuatku terus mengocok dan mengobok-obok memeknya dengan kontolku. Walaupun pegal terasa pada kedua tangan karena harus menahan badanku dalam posisi push up, aku tetap bertahan merasakan sensasi nikmat pengalaman pertamaku ini.

“emmmmhhhh aaaaahhhh leeeebbiiihhh ceeeppaaattt deeeeeekkk akuuuu keeeelluuuuaaaarrrr ssssshhhhh!” desah pintanya dengan suara bergetar. Dengan pantatnya semakin liar bergerak, dan mata merem melek merasakan sensasi nikmat tak berkesudahan.
“aaaahhhhh iiiyyaaaaa buuu aaaakkkuuu jugaaaa maaaauuuuu…” jawabku sambil mempercepat gerakanku.

Akibat gerakan Bu Suti yang menjadi-jadi, kepala kontolku terasa begitu geli dan gatal dibuatnya. Membuat aku tak sangguh menahan nikmatnya gelombang syaraf yang mengalir sampai ubun-ubun.

“aaaaaahhhhh keeeluaaaarrrr buuuu” desahku.
“eeeeemmmm eeennnnaaakkkk, ibbbbuuuuu keeelluuuuaaaar bannnnyyyyaaaaakkkk aaaaaahhhh!” celotehnya sambil memeluk erat tubuhku merasakan orgasme dahsyatnya.

Terasa kontolku seperti diremas, diperas habis spermanya oleh memeknya yang terus berkedut-kedut dan mengempot-empot.

Dalam pelukan Bu Suti, aku coba melihat jam dinding di kamarku. Jam sudah menunjukkan pukul 11.19 WIB. Artinya, lebih dari 1 setengah jam aku bergumul. Aku kaget sekali begitu lamanya melakukan persetubuhan ini. Padahal rasanya hanya sebentar. Maka aku segera melepaskan diri dari pelukan Bu Suti dan memakai handuk kembali menuju kamar mandi.

Sambil membenahi handuk, Bu Suti berkata padaku, bahwa aku anak hebat. Baru pertama bersetubuh tapi kuat bertahan sangat lama. Dengan bangga aku berjalan ke luar kamar untuk mandi.

Setelah selesai mandi, aku segera bergegas. Ketika masuk kamar, Bu Suti sudah tidak ada di kamarku. Aku pun langsung memakai seragam SMPku dan cepat-cepat biar tidak terlambat masuk sekolah.

Sambil lewat depan rumahnya, ku lihat Bu Suti sedang bersandar di kursi. Nampak wajahnya yang lelah dan bahagia ketika aku menyapanya. Sambil pamit berangkat sekolah dan menitipkan kunci rumah, aku bisikkan di telinganya, “nanti kita begituan lagi ya, bu!” pintaku sambil berlalu tanpa menunggu jawaban darinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*