Home » Cerita Seks Umum » Kisah Irwan 6 : Semua Karena Cinta (Tamat)

Kisah Irwan 6 : Semua Karena Cinta (Tamat)

Kisah Irwan 5 : Pelabuhan Hati

Sudah hampir setahun hubunganku dengan Yanti, aku mulai amat meyakini, SheÔÇÖs The One.
Ya.. rasanya memang dialah belahan jiwaku.. banyak kesamaan dan kecocokan antara kami, perbedaan yang ada pun tetap serasi..
menghabiskan waktu dan berbicara dengannya selalu menyenangkan, wawasannya luas, pandangannya juga dinamis.

Pengertiannya padaku amat kusuka, dia selalu membebaskan aku, tidak pernah menuntut waktuku secara berlebihan.

Menurutnya, bolehlah aku sesekali menikmati malam minggu tanpanya, bersosialisasi dengan teman-temanku dan memang sesekali aku suka ngumpul sama teman kuliah, kadang Yanti kuajak.

Satu momen kenangan yang kuingat yaitu tak lama setelah orangtua yanti pulang, aku sedang ngapel di rumahnya.

ÔÇØWan, orangtuaku sangat suka dan senang sama kamu. Ayahku bahkan selalu menanyakanmu kalau sedang menelepon.ÔÇØ

ÔÇØOh ya..? Wah bagus deh Yan, jadi mulus jalan hubungan kita..!ÔÇØ

ÔÇØKata mereka, kamu orangnya sopan, baik dan juga menyenangkan kala berbicara.
Heh, jangan GeEr gitu dong..!ÔÇØ

ÔÇØEnggak.. enggak GeEr kok Yan, cuma nyengir aja hehehe..!ÔÇØ

ÔÇØMereka senang karena kini aku di Jakarta ada yang menemani. Tapi mereka tetap berharap aku bisa menjaga diri.ÔÇØ

ÔÇØIya.. aku akan jagain kamu, walau kadang berat..!ÔÇØ

ÔÇØBerat kenapa Wan..? Kok kamu ngomong gitu..!ÔÇØ

ÔÇØDeh.. jangan ngambek gitu dong Yan, maksudku berat menahan diri, habis kamunya terlalu seksi sih hahaha..!ÔÇØ

ÔÇØHuh.. dasar mata keranjang..!ÔÇØ

Yanti lalu mencubitku, pandangan kami bertemu..
Aku kemudian mengecup bibirnya, lembut dan hangat, lama kami berciuman..
tanganku jadi kumat, mulai meremas teteknya, namun kali ini Yanti malah mendekap tanganku, membiarkan.

Kemudian.. astaga.. tangan Yanti mengelus celanaku, meremas pusaka di balik celanaku.
Baru kali ini Yanti melakukannya. Kami tetap berciuman.
Ketika akhirnya tangan Yanti mulai menarik resleting celanaku, aku menghentikan ciumanku.

ÔÇØKok.. ka..kamu ngapain Yan..?ÔÇØ

ÔÇØIni hadiah dariku, karena kamu sudah baik dan sayang sama aku selama ini..
tenang saja, aku tetap dangan komitmenku, aku hanya mau kasih kamu hadiah kecil, karena kamu sudah sabar dan bisa menahan diri.ÔÇØ

Untuk memudahkan, Yanti kemudian membuka celanaku, menurunkan sedikit, masih menyisakan CD-ku..
tangannya mulai membelai CD-ku, lembut dan penuh erotisme, kontolku langsung bereaksi, lama Yanti memainkan dan membelai CD-ku..

Akhirnya tangannya menyusup ke balik CD- ku, kini kulit halus tangannya langsung bersentuhan dengan kontolku, halusnya.

Kulihat wajahnya agak mengernyit, lalu dengan lembut dia menarik CD-ku sebatas paha..
terbebaslah kontolku dan mengacung dengan perkasa..
Kulihat Yanti sedikit terbelalak melihatnya, namun dapat menguasai diri, tangannya kini mulai mengelus dan membelai kepala kontol dan bijiku.

ÔÇØKamu nikmati aja ya Wan, tapi ingat jangan minta lebih..!ÔÇØ

ÔÇØI..iiiya, Yan..ÔÇØ

ÔÇØKalau cuma ini aku juga bisa, kupikir kalau hanya sebatas ini masih okelah..!ÔÇØ

Lalu tangannya mulai mengocok batang kontolku, matanya menatap mataku, gila erotis banget, sih..
Jujur, kadang hal kayak gini menimbulkan sensasi yang lain dan berbeda.

Lama ia mengocok dan memainkan bijiku, kontolku sudah agak memerah, lalu.. astaga.. kejutan lagi,
ia mendekatkan mulutnya, lidahnya mulai menjilat kepala kontolku..
sebenarnya aku rada berpikir, mungkin Yanti pernah melakukan hal ini dengan pacarnya dulu..

Tapi.. hei, adil sedikitlah Wan, dulu dia belum dan sama sekali tidak kenal kamu, apa yang dulu ia lakukan tidak ada kaitannya dengan sekarang.

Lidahnya mulai menjelajahi seluruh permukaan kontolku dan juga bijiku, perlahan namun penuh kenikmatan.

Sesekali tangannya mengocok kontolku, lalu akhirnya mulutnya mulai mengulum dan menghisap kontolku, perlahan juga namun pasti.

Tanganku, mulai mencari kegiatan, kupikir kali ini pasti Yanti tidak akan melarang, tanganku menyusup ke balik kaosnya, terasa BHnya yang membalut teteknya yang cukup besar..

Yanti tidak melarang, tanganku mulai meremas teteknya, sangat kenyal dan kencang..
aku tidak menarik kaosnya, hanya tanganku yang beraksi di baliknya, walau tidak melihat, toh yang penting rasanya sama enak.

Kini tanganku dengan nakalnya menerobos ke balik BH-nya..
terasa putingnya yang agak besar dan mancung, kupilin-pilin, pelan tapi pasti putingnya mlai membesar dan terasa keras di jariku..
sementara yanti tetap dengan konstant menghisap, mengulum dan mengemut kontolku, memang belum seenak yang biasa kudapat dari mama, kak Erni.

Tante Ani atau tante Vera, tapi bagiku tidak maalah, ini hanya masalah jam terbang.. lama-lama juga terbiasa.
Entah sudah berapa lama, aku tak tahu, yang penting hanya merem-melek menikmati, ketika akhirnya kurasakan denyut enak di kontolku, aku segera agak mengangkat pantatku..

Yanti tampaknya tahu aku mau klimaks, ia sudahi mengulum kontolku, lalu satu tangannya mengocok kontolku..
satu tangannya lagi dengan cepat mengambil tissue dari kotak tissue di meja, akhirnya spermaku keluar di tissue yang sudah ia siapkan.
Lemes banget tapi enak, kontolku agak memerah.

ÔÇØYan.. tadi enak banget, kenapa.. tumben..?ÔÇØ

ÔÇØWan, jujur saja dulu aku melakukan ini pada mantan pacarku..
tapi tentunya setelah menjalani masa pacaran yang cukup lama, aku hanya bisa melakukan ini, tak bisa memberi lebih.
Kalau hanya segini, aku pikir masih wajar dan bisa kutolerir.
Kupikir hubungan kita sudah cukup lama dan kamu berhak mendapat sedikit lebih dariku..
Kamu suka kan..?ÔÇØ

ÔÇØSu..suka banget yang, sering-sering saja hehehe..!ÔÇØ

ÔÇØMaunya.. sudah pakai lagi celananya..!ÔÇØ

Demikianlah, tahap demi tahap kulalui, tidak langsung main tubruk saja..
tapi anehnya aku sangat menyukai dan menikmatinya, bagiku ini adalah bagian dari tahap hubunganku dengan Yanti.
Justru menunggu sensasi demi sensasi berikutnya terasa menyenangkan dan memberi kenikmatan tersendiri.

Aku suka cara Yantiku memperlakukan aku, dia, gadis yang memegang komitmentnya, namun juga mengerti kondis pacarnya dan memberikan jalan keluar yang bisa membuatnya tetap dangan komitmentnya, aku suka sekali.
——-

Usiaku kini hampir 23, mama juga sudah hampir 43 tahun, Yanti sudah 27 tahun.
Hampir 2 tahun sudah hubungan kami berlanjut.

Kuliahku sudah hampir selesai, aku baru saja menyelesaikan dan menyetor skripsiku, jujur saja sejak kenal Yanti aku amat termotivasi, aku belajar dengan giat, skripsikupun amat terbantu.

Kini aku santai dan tinggal menunggu hasil akhir dan wisuda, sudah tidak perlu rutin ke kampus.
Mama menanyakan apakah aku mau bekerja secara penuh atau mungkin mau melanjutkan kuliahku lagi, karena mama tahu nilaiku bagus.

Aku bilang cukup dulu deh kehidupan belajar, saatnya memulai kehidupan dunia pekerja, mama akhirnya memberikan dan menjadikan aku asisten pribadi atau mungkin lebih tepat wakilnya, kini semua urusan kantor bisa melalui aku atau mama.

Kak Erni sendiri kini tinggal di jakarta, tinggal di rumahnya sendiri, menikmati kehidupan berumah tangga, tentu kami masih melakukan, namun dengan hati-hati, demi keamanan kami memilih hotel atau kalau memungkinkan di rumah aku.

Tapi nampaknya ia bosan hanya di rumah, kebetulan kak Indra tidak melarangnya bekerja, jadilah ia bergabung di Perusahaan mama, tugasnya sesuai keahliannya yaitu untuk recruitment dan kepegawaian.
Rencananya nanti ia akan menggantikan Bu Fenny yang akan pensiun, sebagai kepala SDM dan Operasional.

Hubunganku dengan tante Ani dan tante Vera..?
Masih berlanjut, mungkin tidak sering namun sesekali masih sering kami bertemu menyalurkan hasrat.

Sedang aku sendiri kini mulai berpikir serius untuk menikahi Yanti, kebetulan mama juga sudah sering menyinggung hal ini, aku sendiri belum bisa menjawab kapan.. sering aku melamun memikirkan hal ini,
baik saat di kantor maupun di rumah.

Aku menikmati setiap detik dan setiap waktuku dengan Yanti, duniaku terasa lengkap dengannya, aku amat sangat menginginkannya sebagai istri.

Namun hatiku bimbang.. masih ada masalah yang tidak bisa aku lepaskan dan lupakan.. mama.
Aku memikirkan, mungkin atau pasti mama akan mengatakan ia rela mengakhiri hubungan denganku, namun aku tidak.

Dan juga aku yakin dan percaya kalaupun mama mengatakan ia rela..
namun itu hanya demi kebahagianku, aku percata itu, wanita seusia mama saat ini sedang panas-panasnya dalam hubungan seks..
bahkan aku mengakui sendiri, belakangan mama jauh lebih menuntut, selalu minta dipuasi..
libidonya sedang meningkat, jadi aku juga harus tetap memikirkan kebahagiaan mamaku.

Sangat dilematis, di satu sisi aku amat mencintai Yanti dan ingin mengajaknya menikah, namun di sisi lain, aku juga tak mau mengakhiri hubunganku dengan mama.

Terlebih mama sudah mengatakan, kalau akan menikah, aku tidak perlu beli rumah, rumah yang sekarang sudah cukup dan banyak kamar kosong.
Mama mau aku dan Yanti tinggal di sana menemaninya.

Tingkat hubunganku dengan Yanti kini sudah mencapai level tertinggi.. kami saling memahami dan pengertian, saling tahu isi hati masing-masing.. memang Yanti tidak pernah mendesakku untuk menikahinya, ia ingin aku menyelesaikan kuliahku dahulu, namun aku tahu pasti isi hatinya.
Pusing aku memikirkan mencari jalan keluarnya.

Saat ini Jumat malam, bete deh, tadi sore Yanti pulang ke Semarang, katanya ada sepupunya akan menikah, sebenarnya ia mengajakku, namun aku bilang aku ada janji sama teman, dia mengerti dan
tidak marah. Berarti sampai Senin baru aku bisa ketemu lagi.

Lagi melamun, HP-ku berbunyi, SMS masuk, lho.. tante Vera, sudah lumayan lama tak ketemu memang.
Isinya singkat saja, dia tanya apakah aku bisa menemaninya 2 hari ini di hotel X..?
Tumben di hotel pikirku, kujawab saja bisa.

Tak lama ia membalas, nanti datang jam 10an saja, nomor
kamarnya nanti akan ia SMS, ditambahkan lagi olehnya supaya aku naik taxi saja.
Walau bingung dengan kemauannya, aku iyakan saja. Lumayanlah, refreshing..

Kulihat jam, masih jam 7 kurang, kucari mama, mama lagi santai nonton TV..
Aku bilang aku ada acara sama teman kuliah, tadi mereka telepon aku, hitung-hitung kumpul menjelang akhir kuliah, acaranya di Anyer, nginap, aku minta izin mama, mama memperbolehkan.
Beres sudah.

Mungkin karena aku mau pergi menginap, kulihat mama melirik menggoda ke arahku dan mulai membuka dasternya, nampaknya minta dipuasin dulu sebelum kutinggal, munta dikasih jatahnya dulu. Kurang lebih 2 jam kami bergumul dengan panasnya.

Setelah itu aku mandi dan siap berangkat, aku bilang mama, aku naik taxi, nanti ikut teman.
Sewaktu di Taxi, ada SMS masuk, tante Vera memberitahu nomor kamarnya.

Setelah kubaca dan kuingat maka segera kuhapus semua SMS darinya, Yanti memang tidak terlalu sering membuka HPku, tapi berhati-hati itu perlu kan.

Tak lama tibalah aku di hotel X, segera menuju lift dan akhirnya aku ketuk pintu kamarnya.
Tante Vera membuka pintu, astaga.. baju tidurnya seksi sekali, super mini dan super tipis, di baliknya tante Vera tidak memakai pakaian dalam lagi, putingnya terlihat jelas, juga rambut kemaluannya yang agak lebat.

Dia tersenyum padaku dan mempersilakan aku masuk.
Aku berjalan mengikutinya dari belakang, pantatnya nampak montok sekali, membuat kontolku langsung mengeras, basa-basi percakapan nati saja deh, langsung ke menu utama saja pikirku.
Segera saja aku memeluknya dari belakang, langsung membaringkannya di ranjang.

Aku gumuli dan ciumi bibirnya dengan panas, tanganku meremas-remas teteknya, memainkan putingnya, tante Vera membalas ciumanku sambil tertawa kecil.

ÔÇØUgh..nggak sabaran amat kamu, Wan..!ÔÇØ
ÔÇØSalah tante sendiri, memakai busana yang terlalu mengundang, jadi adikku langsung nyetrum..ÔÇØ

Kini tanganku telah beraksi membelai dan memainkan belahan memeknya, kumainkan jariku naik-turun pada belahan memeknya, lama kelamaan belahannya makin melebar dan terasa sedikit basah, kutuukkan jari tengahku ke liang memeknya, tangan tante Vera sendiri mulai membuka resleting celanaku dan meraih kontolku, dielus dan diremas-remasnya.

Setelah cukup puas dengan pembukaan awal ini, aku bangkit sebentar membuka seluruh pakaianku, tante Vera juga membuka baju tidur dan CD-nya.

Aku lalu mulai menghisap putingnya, kujilati dan kumainkan lidahku pada kedua putingnya, membuat putingnya mekar dan membesar, terasa nikmat saat kukulum dengan lidahku.

Akhirnya segera aku menuju selangkangannya, tante Vera mengambil bantal, ditaruhnya di kepala ranjang, ia bersandar di bantal tersebut, kakinya ia lebarkan memperlihatkan keindahan yang memabukkan pada selangkangannya.

Terlihat liang memeknya yang agak merah merona mempesona, kumainkan lidahku menjilati liang memeknya, lalu kucari itilnya dan kumainkan dengan nikmat dan cepat dengan lidahku, enak sekali menggoyang-goyang itilnya dengan ujung lidahku.

Tante Vera mendesah penuh kepuasan, sesekali tangannya menarik dan meremas rambutku lembut. Aku makin bersemangat mengerjai itilnya, jari tengahku juga berpartisipasi menusuk liang memeknya, kombinasi kenikmatan untuk memeknya.

Desahannya makin cepat dan sering, pinggulnya sesekali bergetar dan tak lama dia orgasme. Setelah diam sejenak, gantian aku disuruhnya berbaring.

Tante Vera langsung memainkan lidahnya menjilati seluruh kontol dan bijiku, sesekali sapuan lidahnya menjilati sampai batas luar liang pantatku, ganas dan enak lidajnya menjelajahi kontolku, lalu bibirnya yang seksi mulai mengulum dan memasukkan kontolku ke mulutnya, dipompanya dengan cepat, terasa cengkraman yang kuat namun tidak menyakitkan, bahkan nikmat.

Lidahnya tetap menggelitik dan bermain.
Sesekali ia berhent sejenak memompa, hanya mengemut dan menghisap saja, membuat kontolku berdenyut-denyut, bijiku juga mendapat pijatan spesial dan sensual.

Makin mahir saja tante Vera dalam urusan emut-mengemut ini.
Lama juga kontolku menapatkan servis maksimal dan sensasional dari mulutnya, tapi aku tidak mau keluar dengan hisapan mulut saja.

Kutatap wajahnya, memberi tanda untuk menghentikan aksinya. Tante Vera akhirnya menghentikan
emutannya.

Segera kubaringkan dia, aku segera bersiap di atasnya, kakinya ia lebarkan, membuka dan memperlancar jalan masuk menuju gerbang kenikmatannya.

Tanpa tunggu lama segera aku arahkan kontolku ke liang memeknya..
Blesss..!

Mudah saja kontolku menerobosnya, liang memeknya sudah basah karena rangsanganku tadi.
Kupompa kontolku dengan kecepatan sedang-sedang saja.
Tanganku sesekali meremas dan memainkan teteknya.

Tante Vera terus menatap wajahku yang sedang berkonsentrasi memompanya.
Entah kenapa, namun sekilas aku melihat ada kesedihan pada tatapan matanya.

Namun aku tidak terlalu memikirkannya saat itu, sedang enak dengan pompaanku..
liang memeknya terasa pas banget dengan kontolku, tidak sempit atau longgar, pompaanku terasa lancar dan nikmat..

Sesekali aku mainkan kontolku di memeknya, hanya menusuk-nusukkan kepala kontolku aja di liang memeknya, membuat ia kegelian dan terkikik pelan.

Aku lalu mulai mencium bibirnya, hangat dan lembut, tante Vera membalasnya, lama kami berciuman sambil kontolku tetap menggoyang memeknya.

Memang kurasakan kali ini tante Vera memberikan perlawanan yang mengimbangiku, pinggulnya berirama bergoyang mengikuti pompaanku, sementar ciumannya juga penuh kemesraan.

Tangannya merangkul pundakku dengan kuat, kakinya sendiri melingkar di pantat dan pinggulku.
Aku mulai mempercepat pompaanku, kini lidahku mulai menjilati leher dan telinganya membuatnya geli-geli syuurrr..

ÔÇØAwww.. geliiii.. Wan.. Ugh..!ÔÇØ
ÔÇØTerussss.. Yanggg.. dalaammm mm..!ÔÇØ
ÔÇØOhhhhh.. Ohhh.. Ahhhhhhhh ÔÇØ

Dia kembali orgasme, aku hentikan pompaanku, lalu turun dari ranjang, segera menuju sofa, aku duduk di situ, tak lama tante Vera datang menghampiri, segera duduk di pangkuanku, posisinya menghadapku..

Kedua kakinya ia tekuk seperti berjongkok, berada di pinggiran pahaku, ia menaikkan pinggulnya, lalu menurunkannya, menancapkan kontolku ke dalam liang memeknya, kali ini ia yang mengendalikan goyangannya, tangannya kembali merangkulku..

Aku dekatkan mulutku ke arah teteknya, tetek dan putingnya aku lumat habis-habisan, gemas, aku beri cupangan pada teteknya, membuatnya tersenyum.

Goyangannya makin cepat, sementara kami kembali berciuman dengan mesra.
Kedua tanganku memegang pantatnya, meremas-remasnya.

Entah berapa lama kami bermain dengan posisi itu, berapa lama kami berciuman, juga tante Vera kembali orgasme, kali ini kurasakan permainan kami amat santai dan mesra.

Akhirnya kurasakan denyutan itu dan..
Crooot.. croot..! Spermaku menyembur kuat, kupeluk dia dengan kuat, lalu kami terdiam lama, saling berpelukan.

Akhirnya ia bangun, mencabut kontolku dari memeknya, ia jilati sisa sperma yang masih ada di kontolku..
lalu Ia duduk di sampingku, kepalanya bersandar di dadaku, aku membelai rambutnya.

ÔÇØYang tadi enak sekali Wan..!ÔÇØ
ÔÇØIya tan..!ÔÇØ

ÔÇØWan.. tante ada mau omong sesuatu sama kamu..!ÔÇØ
ÔÇØSerius amat sih tan, lagian tumben kok pakai nginap di hotel segala..!ÔÇØ

Tante Vera lalu bangun, kulihat membuka kulkas di kamar hotel, mengambil minuman ringan dan air mineral, diberinya satu padaku, aku ambil celanaku, kurogoh kantongnya, mengambil rokok dan Zippoku, kunyalakan satu, tante Vera duduk di sofa di depanku, kami masih tetap tanpa busana, kembali bercakap..

ÔÇØTante sengaja memilih hotel kali ini, biar lebih enak, juga karena kali ini sebagai moment special dan..,ÔÇØ kulihat raut kesedihan di wajahnya.

ÔÇØDan apa tan..? Tante kenapa..? Sakit..? Kok mendadak sedih begitu.ÔÇØ
ÔÇØNggak.. nggak, tante rada berat ngomongnya..!ÔÇØ

ÔÇØBicarakan saja, tan. Kalau tidak diomongin, mana Irwan tahu masalahnya..ÔÇØ
ÔÇØI.. iiya.. maksud tante, kali ini juga sebagai moment perpisahan kita Wan.ÔÇØ
ÔÇØMaksud tante..?ÔÇØ

Aku jujurnya tidak terlalu terkejut, karena sedari dulu memang sudah siap kalau hubungan ini akan berakhir. Namun tante Vera nampaknya agak sulit mengutarakannya.

ÔÇØYang harus kamu ketahui, selama tante berhubungan dengan kamu, tante puas dan bahagia, itu kamu sangat memuaskan, bikin tante kangen terus..ÔÇØ

ÔÇØHehehe.. kalau itu jangan dibahas deh, Tan.ÔÇØ

ÔÇØHehehe.. iya.. iya, oke Wan, tante serius deh, tante akan meninggalkan Jakarta bulan depan dan akan menetap di Kalimantan..ÔÇØ

ÔÇØHah.. Kalimantan..? Jauh amat tan, lagian ngapain ke sana..?

Kulihat tante Vera terdiam sesaat, meneguk minumannya sebelum kembali meneruskan berbicara.
ÔÇØKamu tahu umur tante makin bertambah. Tante belum punya keturunan.
Tante tahu kamu bisa memenuhinya, tapi mama kamu bisa ngamuk kan..?
Juga keluarga tante pasti bertanya.

Keluarga tante sudah mendesak agar tante menikah lagi.
Nah, adik tante kebetulan mengenalkan tante dengan seorang pengusaha, duda, bisnisnya memang di sana, sudah hampir setahun tante berhubungan dengannya, tante juga sreg dengannya.
Ya, kalau tak ada perubahan, 2 bulan lagi kami akan menikah. Kok diam..? Kamu marah, Wan..?ÔÇØ

ÔÇØMarah..? Nggaklah, itukan hak tante, Irwan nggak bisa melarang.
Malah Irwan turut senang dengan keputusan tante.ÔÇØ

Suasana jadi hening sejenak.
Tante Vera nampak sedang tenggelam dengan pikirannya, sedang aku hanya diam menyaksikannya..
sebenarnya kontolku sudah bangun lagi melihat tante Vera yang duduk tanpa busana itu.

ÔÇØRumah di Jakarta tante akan jual Wan, percuma, nggak ada yang tinggalin.
Si mbok kayaknya bakalan pulang kampung, nggak mungkin tante ajak ke sana.ÔÇØ
ÔÇØIya, tan..!ÔÇØ

ÔÇØSesekali tante pasti akan ke Jakarta dan kalau ke Jakarta pastinya tante akan menelepon kamu, Wan..!ÔÇØ
ÔÇØTerserah tante saja, yang penting tetap aman..!ÔÇØ

Tante Vera bangun dari duduknya, mengambil tasnya, mengeluarkan amplop coklat ukuran sedang, lalu mengulurkannya padaku.

ÔÇØWan, selama menjalin hubungan dengan kamu, tante merasa senang dan puas.
Semua gairah dan hasrat tante benar-benar dapat tersalurkan.
Tante tidak menyesali hubungan ini, malah menikmati dan mensyukurinya.
Mungkin kalau jalannya mudah dan tidak akan menimbulkan polemik, tante mau kamu nikahi, Wan, tapi itu mustahil kan..?
Kamu terima ya, hadiah dari tante, sekaligus tanda perpisahan kita, tante harap kamu tidak menolaknya.ÔÇØ

ÔÇØApaan nih tan..?ÔÇØ
ÔÇØKamu buka saja, tante ingat dulu kamu pernah ngomong sambil lalu, jadi tante belikan saja buat hadiah kamu.ÔÇØ

Aku membuka amplop coklat tersebut, penasaran, kulihat ada kunci, BPKB dan STNK, kulihat STNKnya, STNK untuk mobil Sedan X..
memang aku ingat dulu pernah ngomong kalau aku suka tipe mobil ini, sewaktu menonton TV acara otomotif di rumah tante Vera.

Kuperhatikan lagi namanya atas namaku, alamatnya juga sesuai KTP-ku.
Aku memandang tante Vera, aku tahu harga yang ia bayarkan sangat bisa ia jangkau..
dengan uang peninggalan papa juga pemasukan dari saham yang ia punya, tapi rasanya terlalu mewah dan berlebihan buatku..
belum lagi gimana aku menjelaskan ke mamaku, memang tabunganku sendiri lebih dari cukup buat beli mobil ini, tapi tidak mendadak begini.

ÔÇØKamu suka Wan..? Mobilnya ada di parkiran, nanti kamu bisa bawa pulang, tante ikhlas kok membelikannya buat kamu.ÔÇØ
ÔÇØBukannya tidak suka, tan, tapi ini terlalu mendadak dan terlalu mahal buat Irwan..ÔÇØ

ÔÇØNggak.. tante benar-benar senang kok membelikannya buat kamu. Kamu harus terima, kalau menolak tante akan kecewa.
Selama ini tante tidak pernah memberi apapun ke kamu, untuk kali ini tante ingin memberikan pemberian kenangan yang spesial, kamu harus menerimanya.ÔÇØ

ÔÇØAduh.. gimana ya..!ÔÇØ
ÔÇØYa..nggak gimana-gimana, kamu terima saja, beres.ÔÇØ

Aku diam, menyalakan sebatang rokok kembali.
Memang aku senang, tapi aku juga tidak bisa begitu saja membawa pulang mobil itu ke rumah.
Aku diam sejenak, berpikir.

Tante Vera juga diam memandangku. Akhirnya sambil menghembuskan asap rokok, aku berbicara.
ÔÇØBaiklah.. Irwan terima dan terimakasih sekali, sungguh terlalu mahal hadiah dari tante.ÔÇØ

ÔÇØNah begitu dong, tante senang kamu menerimanya dan nggaklah.. mahal atau murah itu relatif.
Bagi tante itu cocok dan sepadan untuk kamu. Tante ikhlas membelikannya.ÔÇØ

ÔÇØTapi.. begini tan, Irwan taruh dulu di rumah tante ya..!ÔÇØ
ÔÇØLho.. kok begitu..? Memangnya kenapa..? Katanya kamu terima.ÔÇØ

ÔÇØIya.. tapi tan, Irwan musti cari akal dulu, nggak bisa bawa pulang begitu saja, nanti mama akan banyak nanya.
Jadi Irwan taruh dulu ya di rumah tante. Oke..?ÔÇØ
ÔÇØBaiklah.. kamu benar juga, tante setuju.ÔÇØ

Aku lalu mematikan rokokku, meneguk miniman, lalu berdiri menghampirinya, kukecup pipinya dan kupeluk dia sebagai tanda terimakasih.
Setelah itu..? Aku dan tante Vera kembali tenggelam dalam panasnya permainan seks yang membara.

Dua hari itu kami habiskan dengan penuh gelora dan gairah.
Kami melakukannya tanpa henti, berhenti hanya untuk makan saja.
Kami menghabiskan waktu terakhir kami untuk mengukir semua kenangan ini.

Kami tidak tahu kapan akan bertemu kembali, tapi kami tahu bahwa keindahan dan panasnya hubungan ini akan selalu tersimpan dalam salahsatu ruang hati kami selamanya.

Akhirnya minggu siang aku mengantar tante Vera denagn mobil baruku hadiah darinya.
Di rumahnya kami sempat bermain sebentar, lalu tante Vera bilang mulai besok ia akan sibuk mengurus surat-surat pernikahan, surat-surat perusahaan, surat penjualan rumah, mungkin akan sulit bertemu aku lagi.

Lagipula adiknya akan menginap menemani sekalian membantu membereskan barang untuk indah.
Dia bilang nanti kalau aku datang mengambil mobil dan ia tidak ada, bawa saja.
Tante Vera lalu memelukku lama, hanya memelukku tanpa kata.

Akhirnya ia melepaskan pelukannya, tersenyum dan mengecup pipiku.
ÔÇØTerimakasih untuk semua kenangan yang telah kita jalani selama ini Wan.
Tante tidak mau menangis dan meneteskan air mata, biarlah saat ini kita kenang dalam senyum dan bahagia.ÔÇØ

ÔÇØSama-sama tan, Irwan juga berterimakasih.
Semoga tante berbahagia dan bisa menjalani hidup baru yang lebih baik.ÔÇØ
Kami kembali berpelukan, meresapi moment ini, tanpa pernah tahu kapan dan mungkinkah kami akan berjumpa lagi.
Akhirnya kami berpisah.

Aku pulang naik Taxi, dalam Taxi aku hanya diam, berpikir.. akhirnya satu hubungan telah berakhir..
Tante Vera semoga kau berbahagia.

Sesampainya di rumah mama sedang pergi, mungkin belanja atau ke rumah kak Erni..
ya sudah, aku bisa tidur setelah 2 hari ini lembur menggarap tante Vera.
Yanti belum menghubungi aku, mungkin repot. Akhirnya aku tertidur.

Malamnya aku bangun, mama menyuruhku mandi, setelah itu kami makan, mama menanyakan acaraku kemarin dengan teman-teman, aku bohong saja bilang menyenangkan.
Badanku sudah kembali segar sata ini.

Setelah makan, kami nonton TV, sebentar saja, karena baru sebentar nonton, kontolku sudah tidak sabar minta dicelupkan ke memek mama.
Setelah puas bergumul dengan mama, kami berbaring, aku mendapat ide.

Aku bilang ke mama, aku mau jual motorku juga mobil yang satu lagi, nanti hasilnya aku tambah dengan uang punyaku buat beli mobil sedan X, yang aku suka.

Kubilang juga, aku kasihan sama Yanti kalau sering naik motor.
Mama setuju, bahkan dia bilang, untuk kurangnya nanti dia akan menambahkan.
Ya sudah, berarti urusan ini sudah beres. Kumatikan TV, kuajak mama ke kamarnya, menyambung acara panas kami.

Tak butuh waktu lama, kurang dari seminggu motor dan mobil sudah terjual, mama lalu mentransfer sisa kekurangannya ke rekeningku..
ÔÇôSebenarnya sih nggak kurang, cuma akal-akalan biar mama nggak curiga, bisa kiamat kalau mama tahu aku dapat hadiah mobil dari tante Vera, apalagi kalau sampai tahu kalau aku begituan sama tante Vera.ÔÇô.

Tak sampai dua minggu mobil dari tante Vera sudah bisa kubawa, aman dan mama tidak akan pernah curiga.
Berarti urusan ini sudah beres.

Tiga bulan kedepannya kujalani dengan banyak berpikir, Yanti bukannya tidak tahu kalau aku sedang memikirkan sesuatu hal, tapi aku belum siap menceritakan masalah ini, belum waktunya.

Beban pemikiran sedikit terlupakan ketika aku diwisuda, mama, Kak Erni dan kak Indra juga Yanti menghadiri wisudaku.
Semua senang, aku sendiri diwisuda dengan nilai yang amat memuaskan.

Kini aku benar-benar sudah selesai melalui dunia pendidikanku dan memulai karir penuh sebagai pekerja.

Sedikit demi sedikit mama mulai mengalihkan pekerjaannya ke aku, memberiku tanggungjawab dan kepercayaan lebih.
Aku sendiri makin menikmati keasikan menjalani kehidupan dunia kerja.

Tanpa terasa kini usiaku sudah memasuki umur 23 tahun, bahkan hampir 24, masa pacaran sudah kujalani hampir 3 tahun, mama dan kak Erni sendiri sudah mulai sering menanyakan kapan aku mau menikah.
Yanti sendiri tetap sabar.

Suatu malam aku sendiri di kamarku, mendengarkan musik dengan lagu romantis sambil merokok..
frekuensi merokokku agak naik belakangan ini, kembali aku larut dalam pikiranku..
jujur saja aku ingin segera mengakhiri masa pacaranku dengan Yanti dan mulai bab baru.

Ya.. aku ingin menikahinya, tapi masalah hubunganku dengan mama amat sangat menjadi problema yang belum mampu aku temukan jalan keluarnya, memberitahu hal ini ke Yanti tidak semudah membalik telapak tangan.

Tak terasa hampir setengah bungkus rokok kuhisap.. ya, nampaknya memang sudah tiba waktunya..
makin ditunda maka aku tidak akan pernah tahu jawabannya.

Prinsipku pasti, tidak ada rahasia, bisa saja aku tetap menikahi Yanti dan merahasiakan hubunganku dengan mama, namun otakku sudah memperhitungkan, akan banyak masalah kalau hal itu kulakukan.

Baiklah.. keputusanku sudah bulat, besok aku akan bicara kepada Yanti, mungkin inilah pembicaraan paling penting dalam hidupku.

Kumatikan lagu yang sedang menyala, malam ini tidak ada acara panas dulu dengan mama, aku butuh istirahat, menyiapkan mental.

Sabtu siang, kantor libur, aku menuju rumah Yanti, seperti biasa Yanti menyambutku dengan senyumnya yang manis.
Menanyakan apakah aku sudah makan atau belum.

etelah lama kami berbincang ringan aku segera menetapkan untuk memulai niatku.

ÔÇØYan.. aku mau ngomong sesuatu.. serius ke kamu.ÔÇØ

ÔÇØDuh.. ngomong saja Wan, formal banget sih.ÔÇØ

ÔÇØSerius nih.. Yan, sudah lama kita berpacaran, aku amat ingin meresmikan hubungan ini ke jenjang pernikahan, tapi ada hal-hal yang perlu aku bicarakan..ÔÇØ

Kulihat wajah Yanti bercampur aduk, senang, tegang menjadi satu, nampaknya Yanti memang sudah menunggu aku mengajaknya menikah.
Tapi juga ia tegang menunggu apa kiranya hal yang ingin aku sampaikan.

ÔÇØBicaralah Wan, kalau itu penting untuk hubungan kita, aku siap mendengarkan.ÔÇØ

ÔÇØBaiklah.. tapi sebelumnya aku ingin kamu mendengarkan dahulu.
Yang ingin kusampaikan adalah hal yang amat sangat rahasia, aku tidak tahu bagaimana reaksimu, tapi apapun itu baik atau buruk, aku minta kamu memegang rahasia ini, aku percaya kamu bisa memegang
amanat ini.ÔÇØ

Dan aku mulai membuka rahasiaku.
Rasanya seperti Deja Vu, seperti saat aku menceritakan hal ini ke kak Erni dan tante Ani.

Aku ceritakan awal mula hubunganku dengan mama, alasan hubungan ini, sama persis dengan saat dulu aku menerangkan hal ini ke kak Erni dan Tante Ani.
Bedanya Yanti tidak pernah menyaksikan.

Ekspresi wjah Yanti tidak bisa kulukiskan, marah, kaget, sedih, bingung, semua menjadi satu ketika aku mengakhiri penjelasanku.

ÔÇØJadi begitulah Yan, itulah rahasiaku, aku hanya bisa berharap kamu memegang rahasia ini, aku percaya kamu, makanya aku berani menceritakan hal ini.

Satu hal yang harus kamu ingat, aku tidak bisa memulai babak baru hubungan kita dengan menyimpan rahasia.

Aku mau menikahimu tapi aku mau jujur ke kamu.
Aku sayang kamu, cinta kamu, tapi aku juga sama menyayang mama, aku tidak bisa memilih atau menepikan kalian.

Kalian adalah wanita yang aku sayangi dan cintai dalam hidupku.
Sekarang aku lega sudah membuka semua ini kek kamu. Keputusan ada padamu..ÔÇØ

ÔÇØWan.. i.. ini bohong kan, kamu sedang becanda kan..? Katakan ini bohong, Wan.. katakan Wan.ÔÇØ

Aku tak mampu memandang wajah Yanti lama-lama..
Kulihat air matanya menetes saat aku hanya mampu menggelengkan kepala, menyatakan aku serius dengan ceritaku tadi.

Yanti hanya menangis tanpa suara, aku sangat tersiksa melihat pujaan hatiku bersedih, aku coba
merangkulnya untuk menenangkannya.
Tapi Yanti menepis tanganku.

ÔÇØWan.. ka..kamu pulang saja sekarang, hal ini terlalu gila dan berat rasanya buat aku.
Aku amat terkejut dan sampai detik ini tidak bisa dan tidak mau mempercayainya. Kumohon kamu pulang saja Wan.ÔÇØ

ÔÇØTa.. tapi Yan..!ÔÇØ

ÔÇØWan.. tolong dengar permintaanku.. pulang. Biarkan aku sendiri.
Kamu tidak usah takut, aku tidak akan mebocorkan rahasiamu dan mamamu, tolong sekarang kamu tinggalkan aku sendiri, Wan..ÔÇØ

Akhirnya karena bingung dan juga tidak tahu harus bicara atau melakukan apapun, aku melangkah keluar, aku ragu apakah mau mengecup Yanti dahulu..
Tapi sudahlah, momentnya amat sangat kacau saat itu, aku hanya mengatakan secara lirih, aku pulang dulu, lalu menuju ke mobilku.

Lama aku mengendarai mobil dalam keheningan, pikiranku kosong, untung saja tidak menabrak. Akhirnya kuarahkan mobilku ke pantai, hari belum terlalu sore.

Kuparkir mobilku, aku duduk di tepi pantai, suasananya agak ramai, tapi aku berhasil menemukan tempat yang agak sepi.
Sambil merokok, aku tenggelam dalam pikiranku.

Ya.. semua sudah kukatakan, kini aku hanya bisa menanti dan berharap pengertian Yanti.
Aku memang percaya, kalaupun endingnya buruk, Yanti pasti tetap akan memegang rahasia ini.
Aku tahu betul pribadinya.

Memang aku masih berbohong padanya, aku hanya menceritakan hubunganku dengan mama, tidak menceritakan hubunganku dengan kak Erni dan tante Ani, tapi.. hei, tidak ada manusia yang sempurna.

Lagipula yang paling krusial memang hubunganku dengan mama, kalau kami menikah, kami akan tinggal serumah dengan mama.

Kini tinggal menunggu, semoga.. ya semoga semua bisa berakhir dengan baik, aku sendiri tidak tahu bagaimana aku menjalani hidupku bila hubunganku berakhir dengan Yanti, aku sudah teramat yakin bahwa Yanti adalah pelengkap aku dalam menjalani sisa hidpku nanti.

Akhirnya langit memerah, matahari dengan ceriah dan indahnya seakan meledek kegundahan hatiku mulai terbenam, aku melangkah ke tempat mobilku kuparkir. Pulang.

Sesampainya di rumah, aku bersikap biasa, tidak dan belum bisa menceritakan hal ini ke mama.
Mama hanya bertanya kenapa jam segini sudah pulang, kujawab singkat saja, Yanti ada acara sama temannya.

Malamnya Yanti tidak SMS atau menelepon, aku juga tidak SMS atau meneleponnya.
Biarlah, kini waktu tegang dan krusial bagi hubungan kami.
Perlu ketenangan untuk berpikir dan membuat keputusan.
Malam itu aku sedikit ogah-ogahan melayani mama.

Senin pagi di kantor juga Yanti bersikap dingin dan berusaha selalu menghindariku, tapi sikapnya pada mama dan kak Erni tetap seperti biasa.
Ya sudah pikirku.. biarkan saja dulu.

Tetapi ternyata sampai hampir satu setengah bulan sikapnya tetap sama, dingin dan acuh.
Menghindariku terus.

Mama dan kak Erni tidak curiga karena sikapnya di depan mereka tidak berubah.
Mama tahunya kalau sabtu atau minggu aku ngapel ke rumahnya, padahal kalau aku ke sana, pintu selalu terkunci dan aku akhirnya ngelayap ke mana saja.

SMS atau teleponku selalu diabaikan.
Berbicara seperlunya saja dan juga kalau di kantor dan hanya berhubungan dengan kerjaan kantor saja.

Semakin lama, akhirnya aku tersiksa dan jadi kesal juga, bagiku lebih baik utarakan saja apa maunya, jangan biarkan semuanya berlarut-larut.

Ketika masa dingin dan acuh ini hampir memasuki 2 bulan, aku sudah memutuskan, cukup sudah, bagaimana caranya aku harus bisa membuatnya berbicara langsung ke aku, bila memang harus berakhir, sepahit dan seberat apapun harus kuterima dan kujalani.

Sabtu siang nanti aku akan ke rumahnya, harus ada penyelesaian kali ini.

Dan seperti telepati saja atau kontak batin, sabtu pagi ketika aku bangun, masih bermalas-malasan, HP-ku berbunyi, masih mengantuk kuraih HP-ku, ada pesan masuk, kulihat pengirimnya.. hah.. Yanti.

Langsung saja aku terjaga penuh dan segera bangkit, duduk di tempat tidur.. tegang, menarik nafas sebentar, kubuka pesannya..
Nanti siang, tolong datang ke rumahku.. kita perlu bicara mengenai hubungan kita.

Singkat, padat, resmi dan jelas.
Aku sengaja memutuskan untuk tidak berpikir, biarlah semua mengalir, siang ini akan ada jawaban, manis atau pahit aku tidak tahu..
tapi sudah pasti siang ini, beberapa jam lagi, jadi aku tidak mau membebani otakku dengan pemikiran yang macam-macam.

Sekarang aku hanya perlu tenang dan rileks, kutaruh HP-ku dan aku mulai meraba dan menjamah tubuh mama yang masih tertidur, ini yang paling tepat untuk menenangkan pikiranku.

Tetek dan memek mama akan membuat pikiranku tenang dan meredakan keteganganku, selalu dan pasti.
Pagi itu aku habiskan dengan bergumul dengan mama.

Siangnya aku berangkat menuju rumah Yanti, sesampainya di sana, Yanti sudah menunggu, ia mempersilakan aku duduk, masuk ke belakang, mengambil minuman.

Sewaktu datang tadi, aku mencoba membaca isi hatinya dan juga ekspresi wajahnya, namun tidak berhasil..
sikapnya tenang dan netral, wajahnya tidak menunjukkan suatu emosi apapun.

Akhirnya ia kembali dan membawa minuman, mempersilakanku minum, ia duduk di sofa dekatku,
menungguku menyelesaikan minumku.

ÔÇØWan.. maaf telah mengabaikan kamu hampir 2 bulan ini.ÔÇØ

ÔÇØTerus terang, awalnya aku bisa maklum Yan, tapi akhirnya memang kesal juga. Untung akhirnya kamu SMS aku hari ini.ÔÇØ

ÔÇØYa sudah.. kali ini aku butuh waktu untuk mencerna dan menenangkan pikiranku. Apa yang kamu utarakan amat mengejutkanku.ÔÇØ

ÔÇØJa.. jadi ba..bagaimana, Yan..?ÔÇØ

Kutatap wajahnya, ekspresiku amat tegang saat itu.
Berharap, tapi jujurnya amat sangat tidak siap untuk kecewa.Yanti diam sejenak, lalu mulai bicara.

ÔÇØKalau aku bilang sebaiknya kita mengakhiri hubungan ini, kamu bisa menerimanya Wan..?ÔÇØ
Jeder.. Duar.. Bluk..!
Aku walaupun sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kemungkinan terburuk ini, tetap saja syok saat mendengarnya langsung dari mulut Yanti.

ÔÇØKa..kalau secara jujur, tentu saja tidak Yan.
Tapi kalau kamu sendiri mau mengakhiri, apa dayaku, kalau hubungan ini hanya sepihak saja, tentunya tidak akan bisa berhasil.
Tapi tetap saja aku tidak bisa Yan, aku sudah terlalu dalam mencintaimu.ÔÇØ

ÔÇØSudah aku duga, pasti kamu tidak bisa menerimanya. Aku juga sama Wan, aku juga teramat sayang dan cinta sama kamu.ÔÇØ

ÔÇØLalu kenapa kamu menanyakan hal itu, Yan..?ÔÇØ

ÔÇØAku perlu tahu, apa jawabanmu kalau aku memintamu mengakhiri hubungan kita.ÔÇØ

Aku hanya diam, memandang wajahnya, bola kini ada di Yanti.. aku hanya bisa menunggu..
Sebingung apapun aku harus mengikuti alur dan juga arah pembicaraan yang ia buat.

Jadi aku hanya diam menunggu ia kembali berbicara.

ÔÇØJujurnya aku amat senang ketika kamu membicarakan niatmu untuk menikah denganku Wan, aku memang menunggunya.
Aku menunggunya karena aku mencintai dan menyayangimu.
Bukan karena hal lain. Tapi aku amat sangat terkejut dan kaget, marah, kecewa, sedih bahkan muak dengan ceritamu waktu itu.ÔÇØ

ÔÇØMa..maafkan aku Yan, tapi memang itu kenyataan dan keadaannya..ÔÇØ

ÔÇØLama aku merenungi dan memikirkan semua hal ini, semua awal, alasan dan juga kejujuranmu aku pikirkan terus, bolak-balik aku pikirkan.
Mungkin di awalnya yang bicara dalam pikiranku adalah kemarahan dan emosi.
Berat.. bahkan teramat berat untuk aku pikirkan, namun lama-kelamaan saat sudah reda kemarahanku aku bisa berpikir secara jernih..ÔÇØ

Sampai sini Yanti diam, mengambil minuman, meneguknya, nampak menenangkan dirinya..
Aku hanya diam saja menunggu dengan perasaan tak menentu.

Aku tak berani memulai percakapan, masih menunggu keputusan final apa yang akan ia lemparkan hari ini.

ÔÇØNampaknya kamu amat menyayangi mamamu, aku bisa melihatnya selama kita berpacaran..
namun rupanya jauh sebelumnya kalian sudah berhubungan dan nampaknya kamu tidak bisa mengakhirinya, karena rasa sayang dan juga alasan yang telah kamu utarakan..ÔÇØ

ÔÇØBe.. betul, Yan. Berat bagiku untuk memilih. Aku juga sayang mama..ÔÇØ

ÔÇØBaiklah.. Wan, memang aneh mendengarnya, tapi ketika aku sudah tenang, aku mulai bisa menerima penjelasanmu dan alasanmu.
Memang kalian tidak merugikan siapapun.
Hubungan kalian sudah berlangsung sebelum kamu mengenalku.
Mungkin mamamu juga tidak bisa memberikan hatinya ke pria lain karena kecewa dengan perlakuan almarhum papamu.ÔÇØ

ÔÇØTe..terimakasih kalau kamu bisa mengerti. Yan.ÔÇØ

ÔÇØLalu kita bertemu, menjalani masa pacaran, mengenal lebih dalam satu sama lain dan cocok, kamu memutuskan untuk menikahiku, tetapi tentu menjadi dilematis bagimu, seperti katamu, kamu bisa saja tidak memberitahuku, namun kamu tidak mau berdusta padaku.
Untuk point ini, aku hargai kamu mau jujur padaku, Wan..ÔÇØ

ÔÇØYa..memang benar, aku tidak mau berdusta mengenai hal ini, karena kalau kita menikah, kita akan tinggal bersama mama dan karena aku tidak mau mengecewakan mama, maka aku belum bisa mengakhiri hubunganku dengannya, jadi kamu harus punya pengertian.
Maaf, bukannya aku konyol, tapi begitulah situasinya Yan.ÔÇØ

ÔÇØYa.. aku paham. Jadi rasanya sudah aku utarakan aku mengerti situasi dan alasanmu untuk menceritakan hal ini.ÔÇØ

Sampai sini yanti kembali diam, wajahnya tetap netral, sulit membaca isi hatinya.
Yanti malah menanyakan apakah aku mau tambah minum, aku menggeleng, Yanti kembali diam.

Aku jadi ikut diam, lama kami hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Lama-lama kau tidak tahan, jadi gelisah..dengan sedikit gugup aku beranikan bertanya.

ÔÇØJa.. jadi..ba..bagaimana ke..keputusanmu mengenai hu..hubungan kita..?ÔÇØ

Yanti malah hanya memandangku, melihatku dengan ekspresi seakan pertanyaanku itu aneh dan tidak patut aku tanyakan. Aku jadi salah tingkah dan tambah tegang.

ÔÇØBagaimana apanya..? Jangan tanyakan itu, aku masih bingung, Wan.ÔÇØ

ÔÇØNggak.. nggak bisa Yan, aku sudah jujur dan siap menanggung resiko, memberi waktu untuk kamu berpikir..
Jadi rasanya tidak adil kalau kamu menunda atau tidak memberikan kejelasan.
Pokoknya kamu harus memberikan kejelasan mengenai hubungan kita hari ini.

Manis atau pahit, itu resikoku, tapi aku tidak mau kalau kamu membiarkan aku menunggu dan terombang-ambing lagi.
Cinta dan sayangku teramat besar, kalaupun kamu menolak, aku harus bisa menerima dan mendoakan kamu bisa mendapatkan yang terbaik.ÔÇØ

Aku meluapkan semua kesalku, ya, bagiku sepahit apapun resikonya, mau tak mau akan dan harus kuterima, tapi aku tak mau menunggu lama lagi.

Kembali Yanti menatapku dengan ekspresi ganjil dan aneh, lama ia memandangku, wajahnya tetap netral dan tanpa ekspresi.

ÔÇØLho.. kenapa kamu marah begitu Wan..?ÔÇØ

ÔÇØLha iyalah, aku mau kejelasan, aku sudah jujur dan siap dengan segala resikonya, jadi tidak mau menunggu lagi, YanÔÇØ

ÔÇØWan.. Wan, aku memang jujur waktu aku mengatakan aku masih bingung.. bingung menentukan bulan apa kira-kira kita akan menikah.ÔÇØ

ÔÇØA.. APA..?ÔÇØ

Jeder.. Duar.. Bluk..!

Kembali Yanti membuatku KO dengan jawabannya. senang sih mendengarnya, tapi di tengah situasi ini pastinya kaget mendengar jawabannya yang santai dan tenang, sementara hatiku sendiri kebat-kebit.
Kupandang wajahnya, kali ini ekspresi wajahnya amat.. amat sangat ceria.

ÔÇØYang.. yang benar Yan.. serius nih.ÔÇØ

ÔÇØWan.. Wan, tenang.. dan dengarkan aku. Penjelasanku akan panjang kali ini.
Nah sekarang dengarkan ya..

Seperti kataku, akhirnya aku bisa menerima dan mengerti alasan dan kondisi kamu, juga amat menghargai kejujuranmu yang siap mempertaruhkan hubungan kita, dari situ juga aku menarik kesimpulan memang kamu juga menyayangi dan mencintai mama kamu.

Memang betul lama aku memikirkan.. lanjut.. tidak.. lanjut.. tidak, namun akhirnya aku harus jujur, masa-masa aku mengenal dan menjalani hubungan bersamamu adalah moment terindah dalam hidupku, aku merasa disayangi, dilindungi, dicintai dan diperhatikan.
Sikap mama kamu, kak Erni juga sama.
Memang hubungan kamu dengan mamamu sulit diterima, tapi hal itu sudah terjalin sebelum mengenalku.

Wan, aku mau kamu tahu, aku juga sayang dan cinta sama kamu, siap menerima kamu apa adanya..
aku mau karena kamu bukan karena motif apapun, bahkan kamu bisa membuat perjanjian pra nikah, aku tidak mengejar materi.

Keluargaku juga mampu. Aku bisa menerima konsekwensinya, aku juga sayang mamamu.
Mencintai dan menyayangi berarti mau menerima semua kelebihan dan kekurangan, kebaikan dan keburukan pasangannya.
Jadi, aku tidak akan mempersoalkan hubungan kamu dengan mama kamu.ÔÇØ

Sampai sini Yanti berhenti dan menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan bicaranya.

ÔÇØSecara logika, etika, ataupun sudut pandang apapun hal ini tidak wajar, namun bila memang itu yang harus aku relakan, maka aku rela dan ikhlas.
Ikatan dan hubungan antara kalian sudah terjalin secara kuat dan lama, sudah pasti sulit menghentikannya.
Jadi biarlah nanti waktu secara alami yang memutuskan dan mengakhirinya.
Juga lebih mudah bagiku menerimanya bila wanita itu adalah mamamu, jadi itulah keputusanku.ÔÇØ

Lama aku terpana setelah mendengar penjelasannya.
Terharu, kagum, makin sayang dan cinta dengan keterbukaan dan juga pengertiannya.
Yanti memang penuh kejutan dan sulit ditebak.

Setelah tenang dan bisa menguasai euforia ini, aku seperti tersadar, langsung aku berdiri dan berlutut di hadapannya.
Waktu itu tidak benar, jadi kali ini harus dengan cara yang tepat dan sesuai.
Romantis banget gayaku saat itu..

ÔÇØYanti Wulandari.. ma..maukah kau menikah dan menerimaku apa adanya.ÔÇØ
ÔÇØYa.. Irwan Setiawan, aku mau.ÔÇØ

Lama kami saling berpandangan, penuh rasa senang, haru, bahagia.
Kami lalu berpelukan, erat sekali.. dan akhirnya berciuman dengan lembut dan mesra.

Lega rasanya akhirnya beban berat itu bisa terangkat dan berakhir indah.
Airmata haru dan bahagia mengalir membasahi pipi Yanti. Akhirnya kami kembali bercakap-cakap.

ÔÇØKamu hebat Yan, bisa menjaga ekspresimu, aku sampai tegang menebak jawabanmu.ÔÇØ
ÔÇØYa.. itu sebagai hukumanmu, Wan, kamu sudah membuat aku berpikir keras selama hampir 2 bulan ini.ÔÇØ

Kami kembali melanjutkan bercakap, didominasi mengenai rencana pernikahan, aku mengajak Yanti menemui mama sore ini, Yanti setuju.

Dia bilang dia mandi dulu dan menyuruhku menunggu, aku menunggu.. terdengar suara air dari kamar mandi..
pikiranku senang dan tenang, dadaku terasa lega karena beban itu sudah terangkat.

Tak lama kudengar suara Yanti memanggil dari kamar, aku segera melangkah ke arah kamarnya..
Yanti sudah selesai mandi, paling minta pendapat mau pakai baju apa.

Pintu kamarnya dibuka, Yanti hanya membalut tubuh indahnya dengan handuk saja, tapi aku tidak punya pikiran macam-macam.

ÔÇØMasuk saja, Wan, duduk di situ saja, di pinggir kasur.ÔÇØ

Aku masuk dan duduk, sementara Yanti kulihat membuka lemari bajunya, menanyakan baju ini atau yang itu cocok nggak, aku memberi saran, akhirnya ia berhasil memutuskan memakai baju yang mana, aku bersiap bangkit dan mau keluar.

Yanti kembali berbicara.
ÔÇØWan, aku senang sekali akhirnya kita akan segera menikah.ÔÇØ
ÔÇØAku juga Yan..senang dan bahagia.ÔÇØ

ÔÇØJujur saja, Wan, 2 bulan belakangan adalah masa terberat dalam hubungan kita, namun juga masa paling penting, karena itu adalah pijakan untuk menuju babak baru.ÔÇØ

ÔÇØAku sependapat Yan.ÔÇØ

Kulihat Yanti menutup pintu lemari dan berbalik berjalan ke arahku, masih mau bicara pikirku.
ÔÇØWan, kurasa aku memang akan melanggar janjiku, tapi tidak sepenuhnya..!ÔÇØ

ÔÇØAku nggak paham Yan.ÔÇØ

Dan tanpa kuduga Yanti melepaskan ikatan handuknya..
Astaga.. indah sekali tubuhnya, proporsional dan menggairahkan.. baru kali ini kulihat tubuhnya tanpa busana dalam jarak dekat dan sejelas ini.

ÔÇØYan..a..apa yang kamu lakukan..?ÔÇØ

ÔÇØAku pernah berjanji akan memberikan milikku yang paling berharga hanya untuk suamiku saja.
Memang sepatutnya pada saat malam pertama, tapi aku rasa aku akan melanggarnya, tapi tidak parah-parah amat..
tetap akan kuberikan pada kamu yang akan segera menjadi suamiku, mungkin hanya mempercepat waktunya..ÔÇØ

ÔÇØTa.. tapi Yan, kamu..se..serius..?ÔÇØ
ÔÇØWan.. aku menginginkannya, saat ini.ÔÇØ

Aku terpana mendengar kalimatnya yang terakhir, sangat lembut saat ia mengatakannya.
Segera aku berdiri, kupandangi kembali tubuhnya, teteknya besar dan indah, bulat dan masih kencang, putingnya besar dan coklat kemerahan dikelilingi lingkaran aerola yang menawan, memeknya dihiasi rambut kemaluan yang lumayan lebat namun tertata rapi.

Aku segera mendekat.
ÔÇØKita lakukan pelan-pelan saja ya, aku mau kamu menikmati moment pertamamu secara berkesan dan tidak menyakitimu, Yan.ÔÇØ

ÔÇØIya.. kamu bimbing aku ya, kamu kan lebih berpengalaman.ÔÇØ

Segera kubimbing Yanti, membaringkan ia ke tempat tidur, aku membuka baju dan celanaku.
Perlahan aku naik ke tempat tidur, mulai menciumi bibirnya, lembut dan hangat, lidah kami saling bertautan, tanganku sesekali membelai rambut dan wajahnya.

Yanti juga memeluk bahuku dengan penuh rasa sayang.
Kali ini selain nafsu bicara, juga diselimuti rasa cinta yang membara.

Puas berciuman, aku hentikan ciumanku, kupandang sejenak wajah Yanti, kami saling tersenyum, lalu aku mulai mengarahkan mulutku ke teteknya..
Indah sekali teteknya, indah dan montok, masih kencang, kontolku tambah keras saja.

Segera tangan dan mulutku menjelajahi dan melumatnya dengan lembut.
Yanti mendesah saat putingnya kujilat dan kuhisap dengan gemas, puting yang tadinya malu-malu, akhirnya mengembang dan membesar, enak sekali saat kukulum dengan lidahku.

Mungkin karena pertamakali aku bisa sepuasnya memandang dan memainkan teteknya, maka cukup lama aku beraksi di sana.

Akhirnya sampailah aku ke lembah indah miliknya, Yanti nampak malu dan agak menutupi memeknya, namun kucegah dan kutepis dengan halus tangannya, indah dan menawan sekali belahan memeknya, masih rapat dan dihiasi rambut kemaluan yang lebat namun tertata rapi, menambah keelokannya.

Mulutku mulai mendekat dan menciumi rambut kemaluannya, aku bertekad membuat Yanti mengalami rangsangan semaksimal mungkin, agar tidak terlalu sakit saat nanti kumasuki.

Jariku dengan lincah dan lembut mulai membelai dan mengelus belahan memeknya, perlahan terasa bunyi cairan, memeknya mulai basah, aku dekatkan lidahku, perlahan dan lembut kulebarkan memeknya, nampaklah liang memeknya, merah jambu dan sangat harum aromanya, membuat aku mabuk kepayang.

Kusapu liang memeknya lembut dengan lidahku, itilnya pasrah menanti kujilati, akhirnya memang kumainkan dan kujilati itilnya dengan lidahku..
Yanti kelojotan merasakan untuk pertamakali dalam hidupnya betapa nikmatnya saat itilnya dijilat dan dimainin dengan lidahku.

Sengaja aku terus menjilati dan sesekali mengulum lembut itilnya..
Memek Yanti sudah basah digarap oleh permainan lidah dan mulutku, aku tak mau memainkan dengan jariku takut kelupaan nanti malah kusodok pakai jari.

ÔÇØUgh.. Wan.. geeellliii.. ta piiiii.. eeennnaaakkk..!ÔÇØ Yanti terus mendesah dan menggoyangkan pinggulnya.

ÔÇØOoohhh.. Sumpaaahhhh.. eee nnaaaaakkk.. aaahhh hh..! Awwwww.. Wannn.. Ughhhhh..!ÔÇØ

Memeknya sudah basah sekali, namun aku terus saja menggarap itilnya dengan lidahku..
Aroma memek Yanti sungguh memabukkan nafsuku, harum dan enak.

Entah sudah berapa lama dan juga makin sering saja Yanti mendesah dan mengerang, akhirnya Yanti mengejang dengan kuat dan hebat..
Orgasme pertamanya.

Wajah Yanti nampak kelelahan dan juga puas penuh kenikmatan, aku hentikan goyangan lidahku pada itilnya, memberinya waktu beristirahat dan juga menikmati sensasi yang baru pertamakali ia rasakan.

ÔÇØYan, benar kamu mau..?ÔÇØ
ÔÇØWan.. jangan tanya lagi ah.. ayo dong lanjutin.. enak sih.ÔÇØ

ÔÇØBaiklah nanti kalau sakit kamu bilang saja, atau kalau memang kamu tak tahan, bilang saja biar aku hentikan.ÔÇØ
ÔÇØKamu nggak mau aku hisapin..?ÔÇØ

ÔÇØKali ini nggak, aku nggak sabar mau masukkin punyaku ke punyamu, Yan. Kan untuk selanjutnya bisa.ÔÇØ
ÔÇØHuh dasar kamu ini.. hehehe.ÔÇØ

ÔÇØYan, nanti aku keluarin di luar ya..?ÔÇØ

ÔÇØJangan Wan, di dalam juga aku tidak keberatan, ini sudah jauh dari masa suburku.. juga kalaupun jadi tidak masalah, toh kita sudah mau menikah.. di dalam saja, biar kamu juga enak.ÔÇØ

ÔÇØKalau kamu yakin, baiklah.ÔÇØ

Aku segera menaikkan tubuhku, memposisikan tubuhku di atas tubuhnya, kusuruh Yanti melebarkan kakinya, dengan lembut dan perlahan sekali, aku dekatkan dan arahkan kepala kontolku ke liang memeknya..

Mula-mula kepala kontolku sengaja aku gesek-gesekkan dulu, memeknya sudah basah, syukurlah, jadi akan memudahkan dan mengurangi sakitnya.

Setelah yakin, akhirnya perlahan aku coba benamkan kontolku.
Meleset.. coba lagi.. meleset lagi, akhirnya setelah beberapakali berusaha..

Slepp.. Jleb..!
Perlahan terasa kepala kontolku sedikit menerobos liang memeknya.
Kulihat wajah Yanti, belum apa-apa.

“Aughh.. Wann..”

Kutekan lagi perlahan, Yanti menjerit pelan dan agak meringis, aku jadi berhenti, namun Yanti tersenyum dan mengangguk, kutekankan lagi, Yanti menahan jeritannya dan wajahnya meringis..

Akhirnya kontolku yang panjang amblas seluruhnya, saat kontolku amblas seluruhnya Yanti menjerit agak keras, ringisannya juga nampak semakin kuat..

Aku sengaja mendiamkan kontolku, memang rasanya sempit sekali, terasa ada sedikit cairan mengalir membasahi belahan pahaku dan belahan paha Yanti.

ÔÇØSakit yang..?ÔÇØ

ÔÇØSakit dikit Wan, nggak apa-apa kok, terusin saja, kalau memang sakit sekali aku bilang ke kamu.ÔÇØ

Setelah mendapat persetujuannya, aku mulai dengan perlahan memompa kontolku.
Mula-mula Yanti meringis dan menjerit pelan..

Saat itu memang terasa kesat dan sulit sekali menggerakkan kontolku, sesekali aku berhenti, memberi waktu pada Yanti.

Akhirnya setelah beberapa lama secara perlahan aku memompa, kurasakan pompaanku mulai melancar,
seperti ada pelumasnya, kontolku makin mudah bergerak dalam liang memeknya, wajah Yanti juga sudah mulai tidak terlalu meringis.

Kupercepat sedikit pompaanku dan kini terasa benar-benar lancar gerakan kontolku.
Sensasinya memang beda, sempit juga terasa kuat sekali cengkeramannya pada kontolku.

Baru kali ini aku alami.
Aku jadi nafsu dan bergerak dengan cepat.

ÔÇØAw.. jangan terlalu cepat Wan, sakit.ÔÇØ
ÔÇØUps.. sori..sori, habis memek kamu enak sekali terasa Yan.ÔÇØ

Aku mulai mengurangi kecepatanku, kini sambil memompa kontolku, aku mulai menciumi bibir Yanti..
Yanti membalasnya, mula-mula ciuman ringan dan lembut, akhirnya menjadi saling berciuman dengan panas..
tanganku juga mulai meremas teteknya, terasa keras dan kenyal di tanganku.

Lidahku kini mulai beraksi menjilati leher dan wilayah telinganya, membuat Yanti kegelian dan terengah-engah..
kini ia mulai mendesah nikmat, pertanda mulai menikmati pemainan ini.
Aku ingin memberikan kesan pertama yang indah padanya.

Memek Yanti kini benar-benar basah dan terasa mulai lancat sekali saat kontolku bolak-balik memompanya, kupercepat sedikit pompaanku..

Yanti tidak mengeluh, nampaknya sudah mulai merasakan sensasi dan enak pada memeknya, aku jadi gemas, sambil kusodok, aku mulai menghisapi putingnya, putingnya benar-benar sudah mancung dan mengeras, makin enak buat dihisap.

Yanti menaikkan kedua tangannya ke atas sambil mendesah nikmat, lidahku kini menjilati keteknya, memang bersih dan tak berbulu, aromanya juga wangi dan harum.

Kupompa kontolku dengan kecepatan tetap, memang terasa agak ngilu kontolku, mungkin karena sempitnya liang memek Yanti, namun juga terasa nikmat.

Memang Yanti belum berpengalaman, selama kusodok, ia belum bisa mengimbangi, namun itu hanya
masalah waktu, kalau sudah terbiasa nant juga pintar kok hehehe.

ÔÇØUgh.. Wannn.. enaaak.. Aahhhh..!ÔÇØ
ÔÇØIya.. aku jugaaaa.. Yan..!ÔÇØ
ÔÇØTerussss Wan.. Ohhhhhh.. Awwww..!ÔÇØ

Yanti mengejang kembali, orgasme pertamanya saat memeknya dipompa kontol..
Kali ini aku tak berhenti, tetap saja memompa kontolku, membuatnya belingsatan, mendesah dan mendesah, matanya merem melek menahan nikmat gerakan kontolku pada memeknya.

Gemas aku melihatnya, kucari teteknya, kucupang dekat putingnya, meninggalkan bekas merah panjang.
Aku tidak berpikir untuk merubah posisi, untuk pertamakali, biarlah gaya tradisional ini saja, masih ada kesempatan dan waktu untuk gaya lainnya.

Yanti makin kuat mendesah dan memelukku, rasanya aku juga tidak mampu menahan lebih lama lagi..
liang sempitnya kemaluannya itu membuat rasa nikmatku sangat tinggi.. juga mempercepat reaksiku untuk keluar..
kupercepat sedikit pompaanku dan akhirnya..

Crett.. crett..!
Menyemburlah spermaku dengan kuat membasahi memeknya..
Yanti mengejang saat spermaku menyemprot kuat dalam liang memeknya.
Aku lemas, kucari bibirnya, lama kami berciuman dengan hangat.

Akhirnya kuhenikan ciumanku, kucabut kontolku dan perlahan kubaringkan tubuhku di sampingnya.
Saat itu baru kulihat nampak sedikit bercak darah membasahi pahanya, juga membekas di pahaku, sedikit membasahi sprei.

Baru kali ini aku melakukan hubungan dengan seorang perawan.
Memeknya nampak memerah dan juga masih nampak bekas darah perawannya bercampur cairan putih spermaku.

Aku segera turun mengambil handuk yang tergeletak di lantai.
Kubantu Yanti menyeka dan membersihkannya.

ÔÇØYan, terimakasih telah memberikan aku milikmu yang paling indah dan berharga..ÔÇØ
ÔÇØAku senang Wan, aku tidak menyesalinya, akhirnya aku bisa memberikan milikku pada orang yang paling kucintai dan kusayangi.ÔÇØ

Lalu kami berpelukan dan berciuman kembali, setelahnya kami berbaring, penuh rasa bahagia.
Yanti bilang padaku awalnya memang sakit, namun lama-lama ia menikmati dan merasa enak, ternyata rasanya begitu indah.

Aku bilang ke dia, masih banyak rasa nikmat dan indah juga posisi dan gaya yang bisa kuajarkan.
Yanti mencubitku gemas.

Yanti mengajakku ke kamar mandi mencuci kontolku dan memeknya, lalu balik ke kamar lagi..
Kali ini Yanti meng-Oral kontolku, kami lalu bermain seronde lagi.

Setelah puas kami lalu mandi bersama dan bersiap menuju ke mama untuk menyampaikan kabar gembira rencana pernikahan ini.

Hari belum terlalu sore ketika kami sampai ke rumahku, nampak mama sedang membaca majalah di ruang tamu, mama tersenyum melihat kedatangan yanti, Yanti menghampiri memberi salam dan mencium mama.

Mama menyuruh Yanti duduk, lalu mama ke dapur menyiapkan minuman dan makanan ringan.
Tak lama mama kembali membawa 3 gelas minuman ringan dan cemilan.
Setelah mama duduk juga, aku memulai pembicaraan.

ÔÇØMa, ada yang ingin kami bicarakan.ÔÇØ
ÔÇØAda apa Wan..?ÔÇØ

ÔÇØMa, hari ini aku sudah melamar Yanti, kami akan segera menikah, tinggal menunggu restu dari mama dan orangtua Yanti.ÔÇØ

Mama nampak kaget bercampur bahagia, Raut wajahnya amat senang.
Sesaat nampak kesulitan berbicara karena rasa senangnya.

ÔÇØBe..benarkah itu Wan, Yan..?ÔÇØ
ÔÇØIya tan..!ÔÇØ

ÔÇØAduh.. mama senang sekali mendengarnya.
Tentu saja mama akan memberikan restu mama, bahkan memang sedari dulu mama berharap kalian cepat-cepat menikah.
Wah.. wah.. banyak yang harus diurus dan dibicarakan nih.ÔÇØ

ÔÇØJangan terlalu repot, tan..!ÔÇØ
ÔÇØAduh.. Yanti, mulai sekarang kamu jangan manggil tante lagi dong, kamu harus panggil mama.. sini kalian, mama bahagia sekali..ÔÇØ

Kami menghampiri mama, mama memeluk dan menciumi pipi kami dengan senang, airmatanya menetes, juga Yanti, air mata bahagia. Sedang aku agak berkaca-kaca haru.

Akhirnya setelah semua kembali tenang, aku memulai kembali pembicaraan.
ÔÇØMa..ÔÇØ
ÔÇØIya Wan, kenapa..?ÔÇØ

ÔÇØMa, nanti kita akan tinggal di sini seperti kata mama.ÔÇØ

ÔÇØIyalah.. harus itu, mama akan marah kalau kalian sampai meninggalkan mama.
Rumah ini lebih dari cukup kok untuk kita semua.ÔÇØ

ÔÇØTerus ma, ada hal penting lainnya.ÔÇØ

ÔÇØHal apa Wan, kalau soal lamaran, resepsi, nentuin hari atau serah-serahan, nanti mama rembukan sama orangtua Yanti ya.ÔÇØ

ÔÇØBukan ma.. bukan itu, ini soal kita. Soal hubungan kita.ÔÇØ

Mama nampak seperti membeku mendengar ucapan terakhirku, karena aku mengucapkannya di depan Yanti.
Kulihat mama nampak terkejut sekali, mungkin ia pikir aku kok sampai ngomong hal kayak gini depan Yanti.

ÔÇØMa, Yanti sudah kuberitahu.. tenang ma, mama dengar saja dulu ya.
Aku memang menceritakan hal ini ke Yanti.
Maaf ma, tapi aku harus, aku nggak bisa menikah tapi tak jujur.
Aku percaya padanya maka aku berani menceritakan rahasia kita.
Aku terpaks, karena aku tak mau mengakhiri hubungan kita.

Aku percaya, mama pasti akan bilang tak apa kalau aku mau mengakhiri saat aku menikah dengan Yanti, tapi aku tak bisa, apalagi kita masih akan serumah.
Juga aku yakin mama juga belum bisa mengakhirinya.

Kalaupun mama bilang tak apa, itu karena untuk kebahagian aku dan Yanti, tapi mama sendiri berkorban.
Aku tak mau hal itu, ma. Aku sayang dan mencintai mama dan yanti, tak akan bisa memilih salahsatunya.
Jadi aku ceritakan semuanya, sebelum mengajak Yanti menikah.
Dia sudah tahu semuanya, segalanya dari awalnya. Dan dia bisa menerima itu..ÔÇØ

Mama masih diam, entah apa yang ia pikirkan, wajahnya campur aduk, tapi juga ada ekspresi malu pada wajahnya, mungkin malu pada Yanti.
Yanti nampak menyadarinya, ia mendekat ke mama, memegang pundak mama.

ÔÇØMa, Yanti sudah diberitahu Irwan.
Singkatnya memang awalnya Yanti kaget, namun setelah beberapa waktu memikirkan, Yanti bisa paham, mengerti dan menerima.

Mama, Yanti tak keberatan kok, kalau setelah menikah nanti, Irwan tetap berhubungan sama mama. Yanti juga mau mama bahagia.
Ma, mama jangan marah atau sedih apalagi malu, sungguh Yanti ikhlas dan bisa menerimanya.
Kita tidak usah membahas atau berdebat lagi, keputusan Yanti sudah mantap..ÔÇØ

Mama nampak agak terguncang, lama ia diam, lalu ia memeluk Yanti dengan lembut dan penuh rasa sayang.
Dibelainya rambut Yanti. Dikecupnya pipi Yanti.

ÔÇØYanti, sungguh.. mama tidak tahu harus bicara apa lagi.ÔÇØ
ÔÇØSudahlah ma, sudahlah.. tak apa.ÔÇØ

ÔÇØSungguh mama tidak mengerti jalan pikiran si Irwan, sejujurnya mama sudah siap mengakhiri hubungan kami kalau kalian menikah.
Tapi Yan, sungguh besar hatimu..ÔÇØ

Akhirnya masalah paling penting telah selesai dan mendapatkan jalan keluar, semua karena Yanti yang berhati besar mau menerima hal ini.

Setelah suasana kembali netral, mama kembali larut dalam euforia rencana pernikahan kami..
Ia menelepon kak Erni, yang dalam waktu setengah jam kurang sudah tiba di rumah dan membuat suasana jadi ramai.

Singkatnya, mama menjadi super sibuk 3 bulan ke depan.
Mengumpulkan anggota keluarga, rapat, berunding.

Diputuskan bahwa 1, 5 bulan ke depan kami akan ke Semarang melamar Yanti, tentu saja orangtua Yanti senang juga dengan rencana pernikahan kami.

Hubungan via telepon terus menerus terjadi.
Mama meminta Yanti untuk tetap bekerja, karena mama sudah percaya dan juga senang dengan kerja Yanti selama ini.

Aku juga tidak keberatan.
Semua urusan lamaran, serah-serahan, dipusatkan di rumahku, seminggu sebelum hari lamaran,
anggota keluarga besarku mulai berdatangan membantu dan juga sekalian bersilaturahmi.

Akhirnya keluarga besar kami bertolak ke Semarang. Acara lamaran berlangsung lancar.
Dari hasil rembukan, akad nikah ditetapkan 1 bulan lagi.
Resepsinya di 2 kota. Semarang dan Jakarta.

Tadinya aku dan Yanti maunya hanya di Semarang saja, biar tak capai, namun mama keberatan, katanya, ia tak akan mengadakan acara perkawinan lagi, aku yang terakhir, juga banyak relasi dan rekan bisnis kami di Jakarta.
Tak ada salahnya diadakan di Jakarta juga.

Akhirnya semua sepakat.
Menunggu hari perkawinan memang menegangkan. Memang aku tak sibuk mengurusnya, semua dihandle mama dibantu kak Erni dan tante Ani.

Mama juga menyiapkan kamar untuk aku dan Yanti nantinya, perabotannya mama beli baru, katanya tempat tidur dan perabotan lamaku itu untuk bujangan, bukan untuk pengantin baru.
Urusan gedung, undangan, seragam, beres.

Setengah bulan sebelum hari H, Yanti pulang ke Semarang. Siap-siap dan juga dipingit kali hehehe.
Kadang di malam hari, aku jadi sulit tidur, biasanya aku duduk di dekat kolam renang, merokok sambil ngopi dan berpikir.

Sudah semakin dekat babak baru kehidupan yang akan kutempuh, sambil mengingat perjalanan hidup yang telah kulalui.

Hidupku, terlepas dari bisa diterima atau tidak oleh orang lain, sudah lengkap, apa yang telah kulalui, bagiku indah dan wajar, tidak ada yang aku rugikan.

Lalu aku menemukan Yanti, belahan jiwaku, sosok yang menarik, penuh kecerian, kejutan, hidupku bahagia, setiap sel tubuhku selalu menginginkan dan mendambakannya.
Dialah pelengkap hidupku.

Biasanya kalau sudah selesi melamun, aku akan naik ke kamar mama, menggarap mama habis-habisan, belakangan ini memang permainan kami makin meningkat dan makin panas saja.
Mungkin karena mama tahu bahwa sebentar lagi aku tak bisa sesering mungkin menemaninya.

Tante Ani suatu hari bahkan menyempatkan menginap, tanpa membawa anaknya dan kami habiskan hari itu bertiga, memacu gairah kami sampai puncak kenikmatan tertinggi.
Pokoknya sampai 3 hari sebelum berangkat ke Semarang, benar-benar kering spermaku terkuras.

Akhirnya tibalah hari keberangkatan kami, kami serombongan besar menuju Semarang.
Hari sakral itu tiba, Yanti nampak cantik sekali dan anggun dengan busana dan riasannya.

Suasana menjelang akad nikah kulalui dengan tegang dan khidmat..
Sungguh plong setelah akhirnya aku resmi menjadi suami Yanti, mama menangis bahagia, orangtua Yanti juga.

Aku memeluk dan mencium pipi Yanti, kubisikkan di telinganya, aku bahagia, akhirnya bisa menikah
dengannya.
Yanti juga membisikkan hal yang sama.
Aku pandangi wajahnya, ya.. akhirnya aku menemukan pelabuhan hatiku.

Acara resepsi baik di Semarang dan Jakarta berlangsung meriah dan sukses.
Keluarga, rekan, relasi, teman datang memberi restu dan ucapan selamat.
Semua orang bilang betapa serasinya aku dan Yanti.

Akhirnya segala hiruk-pikuk urusan pernikahan ini pun selesai.
Semua lelah namun bahagia dengan hasilnya.

Kehidupan setelah itu berjalan terus.. kini aku dipercaya menjadi wakil mama, mama mulai mengurangi frewkensi kerjanya.

Yanti tetap bekerja dan kini sedang mama persiapkan untuk mengepalai bagian keuangan saat pak Budi pensiun nanti.
Kak Erni positif hamil, membuat kami semua senang.

Bagaimana dengan kehidupan seks kami di rumah..? Tetap membara dan panas, yanti tentunya sudah pandai dan terbiasa..
tentunya aku bilang kalau aku suka ia memelihara bulu keteknya dan juga tetap membiarkan rambut kemaluannya lebat, karena aku terangsang dan sangat gairah dengan tipe seperti itu dan Yanti sebagai rasa sayang dan cintanya menuruti mauku.

Kehidupan seks kami amatlah membara dan bergairah, kami saling membutuhkan dan berusaha memuaskan satu sama lain.

ÔÇØAhhh.. Awww.. terus.. yang..!ÔÇØ
ÔÇØSssshh.. ennnaaakkkkk..!ÔÇØ
ÔÇØDikiiittt.. lagi.. ÔÇØ

Yanti mendesah dan menarik rambutku, sementara jari dan lidahku beraksi memainkan memek dan itilnya.

Kakinya makin lebar ia kangkangkan. Itilnya terasa besar dan pas sekali saat dimainkan oleh lidahku.
Jari tengahku dengan lancar menyodok memeknya.

Kombinasi kenikmatan yang membuat Yanti kelojotan dan terus mendesah.
Itilnya tanpa henti kugoyang ke kiri-kanan, atas-bawah, membuatnya merem melek.
Tak butuh waktu lama, ia mengejang dan mengalami orgasme.

Kini giliranku, Yanti segera menghampiri kontolku, tangannya mulai meremas dan mengocok kontolku lembut..
sesekali ia mainkan liang pipisnya dengan ujung jempolnya.

Lalu lidahnya dengan ganas mulai menjilati kepala kontolku, mengemutnya dengan kuat dan nikmat, sementara batang kontolku ia kocok dengan lembut.
Sesekali tangannya ikut memijat bijiku.

Kontolku pasrah diemut dan dihisap oleh mulutnya, cepat dan halus sekali tekniknya, hanya kenikmatan yang kurasa, membuat seakan melayang.

Lidahnya sangat nakal sekali, menggelitik titik-titik kenikmatan pada kontolku.
Untunglah daya tahanku termasuk prima kalau tidak bisa ngecret terus tiap diemut Yanti.
Akhirnya aku merasa cukup dan segera memberi tanda agar Yanti bersiap untuk kusodok.

Aku berbaring di samping Yanti, dia segera mengangkat satu kakinya ke atas, kepalanya bersandar di satu tanganku, sambil mencium bibirnya, kumajukan pinggulku, mulai memasukkan kontolku..

Blesss..!
Enak banget.. kontolku menghujam liang memeknya dengan lancar, hangat dan sempit, segera kumulai pompaanku..
Tanganku yang satu mulai jahil meremas teteknya, makin besar saja rasanya tetek Yanti saat ini, mungkin karena sudah sering kujamah hehehe.

Yanti mengangkat satu tangannya, mempertontonkan bulu keteknya segera kuciumi dan kujilat dengan lidahku, kontolku kuhujamkan sedalam mungkin..

Saat menarik keluar sengaja aku tarik sampai batas kepala kontolku, menggelitik itilnya, membuatnya mendesah kegelian.
Sesekali tangan Yanti mengelus dan membelai bijiku.

Pompaanku makin kupercepat, remasanku pada teteknya semakin kuperkuat, terasa putingnya yang keras.

Cukup lama sudah aku memompa memeknya, desahan, rintihan, keringat kami bercampur menjadi satu menghiasi kenikmatan yang sedang kami lakukan.

Akhirnya terasa denyutan pada kontolku, tak perlu waktu lama menyemburlah spermaku, membuatku mengejang dan mendesah pelan.

Setelah diam sejenak, aku cabut kontolku, mencium Yanti sebagai terimakasihku atas kenikmatan yang sudah ia berikan.
Yanti tersenyum padaku.

ÔÇØMudah-mudahan aku cepat hamil ya, yang..!ÔÇØ
ÔÇØSemoga saja, usaha kita sudah lebih dari maksimal banget sih hehehe..!ÔÇØ

ÔÇØHuh.. nakal deh kamu, aku capek nih, mau tidur dulu, habis kamu nggak puas sih kalau cuma seronde doang..!ÔÇØ

ÔÇØYa.. kan kamu juga ada andil, tubuh kamu terlalu menggoda sih, ya sudah kamu istirahat dulu deh.
I love You, Yanti.ÔÇØ

Yanti pun tersenyum, lalu memejamkan matanya, mungkin benar-benar capek, karena baru saja 3 ronde kugarap, hanya istirahat sebentar.

Tak lama ia terlelap, akupun bangkit dari tempat tidur, kubuka pintu kamar, ke dapur dulu, minum biar segar.
Lalu aku naik kembali ke atas, menuju kamar mama, kubuka pintunya, kulihat mama sudah terlelap, hanya memakai baju tidur mini, namun aku tahu kalau sudah dijahili, mama pasti suka.

Segera aku naik ke ranjangnya, melebarkan perlahan kakinya.
Dan selanjutnya.. sudah tahu kan..?

Ya..begitulah rutinitasku sekarang, Yanti, Mama, keduanya dapat memiliki dan kumiliki, kami saling mengerti dan memahami.

Untuk menghormati dan menghargai pengertian Yanti, maka aku tidak pernah ke kamar mama sebelum Yanti tidur.
Biasanya setelah aku selesai menggarap Yanti dan Yanti sudah tidur, baru aku ke kamar mama.
Dan akan kembali lagi ke kamarku sebelum Yanti bangun. Itupun juga tidak terlalu sering.

Kami tidak pernah 3Some. Terlalu muluk menurutku, aku yakin mama pasti tak akan mau.
Baginya pengertian Yanti saja sudah teramat berarti, tak perlu ditambah yang macam-macam lagi.

Mama sendiri juga tak terlalu menuntut aku harus meladeninya tiap malam, yang penting frekuensiku masih tetap tinggi untuknya.

Hubunganku dengan kak Erni dan Tante Ani sendiri masih berlanjut, walau tak terlalu sering, hanya kalau kami sedang mau dan kangen saja, juga situasinya memungkinkan.

Yanti sendiri tak pernah tahu atau curiga kalau aku juga menggarap mereka.
Bagaimana dengan tante Vera..?
Akhirnya ia memang mendapatkan yang ia mau, ia mempunyai keturunan.

Sesekali ia ada urusan ke Jakarta dan setiap ia di Jakarta ia akan menelepon aku, untuk sekedar bernostalgia melakukan hubungan.
Kak Erni juga sudah mempunyai satu anak, perempuan, anaknya lucu dan mirip suaminya.

Oh ya, waktu kak Erni hamil, aku lumayan sering begituan sama dia, karena aku suka sekali melakukannya dengan wanita yang hamil..
Rasanya ada beda.. spesial tersendiri dan juga kak Erni memang mengakui saat hamil ia memang jadi doyan begituan..
mungkin akan kuceritakan di lain kisah.
——————————-

PENUTUP DARI KISAH YANG PANJANG INI..

Waktu memang tak bisa dihentikan, berlalu tanpa terasa, usia perkawinanku sudah memasuki
tahun ke 3, perkawinan yang harmonis dan bahagia. Usiaku kini 27, Yanti 31, mama 47.

Kini aku menjadi orang nomor satu di Perusahaan, menggantikan mama, yang memilih menjadi komisaris, datang hanya sesekali saja di kantor.

Yanti menjabat sebagai Direktur Keuangan, Kak Erni mengepalai SDM dan Operasional.
Roda bisnis Perusahaan kami berjalan dengan baik dan terus berkembang, tak ada masalah berarti.

Di sisi kehidupan berkeluarga, aku dan Yanti akhirnya memiliki anak pertama, laki-laki, sekarang usianya 1 tahun, menggemaskan dan tampan sekali, yang bisa membuat mama betah di rumah..

Mama sangat sayang sekali pada anak kami, bahkan bisa dibilang memonopoli perawatannya, walaupun kini di rumah kami memakai pembantu dan baby sitter yang tinggal di rumah.
Boleh dibilang kebahagian dan hidupku sudah lengkap.

Aku masih tetap menjalani hubungan dengan mama, hanya sudah berkurang frekuensinya, juga harus jauh lebih hati-hati karena kini di rumah ada pembantu dan baby sitter yang tinggal.

Sampai saat ini aku tetap tidak mau memikirkan terlalu mendalam, apakah perbuatanku dan mama benar atau salah, baik atau buruk..
biarlah.. itu akan selalu menjadi tanggungjawab kami sendiri, bagiku apa yang sudah kujalani adalah indah dan membahagiakan satu sama lain, kami menyadari dan menikmatinya, tak ada yang dirugikan, jadi cukup itu saja peganganku.

Sedangkan Yanti sendiri..?
Selain mama, Yanti adalah hal terbaik yang pernah terjadi dlam hidupku, hidupku lengkap dengannya, kami melewati sedih, bahagia, suka dan duka dengan saling memahami dan mengerti.

Kami saling menerima dan memberi, kadang tingkat pengertian kami tak perlu diucapkan dengan kata lagi, hanya dengan saling memandang sudah cukup..

Yanti adalah cinta pertama dan terakhirku, selalu menjadi yang terbaik..
Yanti adalah dermaga yang tenang yang akan selalu menjadi pelabuhan hatiku.
—- TAMAT —-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*