Home » Cerita Seks Mama Anak » Kisah Irwan 5 : Pelabuhan Hati

Kisah Irwan 5 : Pelabuhan Hati

Kisah Irwan 4 : Pembalasan yang Sempurna

Bagian 5 : Pelabuhan Hati
ÔÇô Ketika Hati Bertaut ÔÇô

Tak terasa kini aku sudah memasuki tingkat 3 kuliahku, usiaku hampir 21 tahun, mama sendiri kini sudah berusia hampir 41 tahun.
Kak Erni sendiri sudah hampir selesai kuliahnya, bentar lagi wisuda, masih pacaran dengan Kak Indra, tampaknya awet sekali hubungan mereka dari SMA.

Aku sendiri masih terus menjalin hubungan dengan mama, kak Erni, tante Ani dan tante Vera.
Di luar itu aku juga pernah beberapakali melakukannya dengan anak kampusku, baik setingkat, anak tingkat atas atau bawah, sejurusan atau jurusan lain.

Juga pernah dengan dosen yang bahenol.
Namun untuk teman dekat atau pacar tetap saja belum punya, bukannya tidak mau, tapi belum ketemu juga yang pas dengan hati dan kriteriaku.
Mama sendiri juga tak hentinya menanyakan da mendorongku untuk mencari pacar, aku hanya bisa mesem saja.

Pulang kuliah, aku pacu motorku, tidak ada kegiatan atau tujuan, mau ke tante Ani atau tante Vera malas.
Ke mana ya enaknya, ah.. main ke kantor mama saja, sudah cukup lama tidak ke sana.
Aku mampir sebentar ke restaurant, beli makanan buat aku dan mama, biasanya mama memang makan siang di kantornya agak siang sedikit.

Lalu kuarahkan motorku ke daerah kantor mama.
Kantor mama sendiri baru pindah, perusahaannya baru membangun kantor 5 lantai..
tadinya menyewa di gedung X, namun biayanya mahal, lalu akhirnya diputuskan membeli tanah dan membangun gedung sederhana sendiri, sebagai kantor pusat dan juga hitung-hitung asset.

Kuparkir motorku, satpam yang melihatku menyapaku, sudah kenal.
Lalu aku masuk ke dalam, bercakap sebentar dengan receptionist dan beberapa karyawan, lalu segera menuju lantai 5, ruangan mama.

Lantai 5 memang tempat mama dan juga ruangan beberapa direksi lainnya.
Namun ruangan mama paling besar.

Sekretaris mama tersenyum melihatku, kami bicara sebentar, lalu sekretaris mama menelepon ruangan mama, memberitahu kedatanganku.
Tak lama aku sudah duduk di sofa dalam ruangan mama.

Kutanya mama sudah makan..?
Lalu mama menelepon ke ruang pantry meminta OB mengantar piring, sendok dan minuman.

Tak lama terdengar ketukan di pintu. Setelah OB tiba, dia segera menuang makanan ke piring dan lalu meninggalkan ruangan.
Mama lalu menelepon sekretarisnya, meminta agar sejam ke depan jangan diganggu dan menahan telepon masuk, karena mau istirahat dulu.

Mama lalu berdiri, melepas blazernya, aku yang lagi mengawasi mama mendadak jadi mau..
Segera aku berdiri, berjalan ke arah mama, kupeluk mama dari belakang, kuciumi lehernya yang putih..
tanganku mulai meremas-remas teteknya di balik kemeja kerjanya.
Mama menggelinjang kegelian, berusaha menepis tanganku perlahan.

ÔÇ£Wan.. ngapain sih ah kamu ini.. ini kan di kantor, nanti saja di rumah,ÔÇØ

ÔÇ£Ah.. Irwan lagi kepingin nih ma, lagian sekali-kali ganti suasana dong.ÔÇØ

ÔÇ£Duh, kamu ini macam-macam saja, ya sudah mama juga mau deh, tapi jangan lama-lama ya, sana kamu kunci pintunya,ÔÇØ
ÔÇ£Oke boss..ÔÇØ

Aku dan mama tidak khawatir ketahuan atau terdengar, karena ruangan mama berada di pojokan dan dindingnya tebal.

Dengan cepat aku mengunci pintu dan segera kembali ke mama, kini aku dan mama berhadapan..
segera kucium bibirnya, mama juga balas menciumku, tangannya meremas tongkol di balik celanaku.

Aku juga segera membuka kancing baju mama satu persatu, nampak tetek besarnya yang terbungkus BH ketat..
kulepaskan kaitan BHnya, segera saja mulutku melumat tetek mama..
Aroma tubuh mama yang masih bekerja di kantor terasa enak di hidungku, menambah rangsangan.

Sementara tangan mama mulai membuka kancing celanaku, memelorotkan celana dan CD ku, membebaskan penghuninya, kini tangan mama menggenggam dan mengocok-ngocok tongkolku.

Sementara itu kini aku mulai menciumi ketek mama, tanganku juga melepaskan rok dan CD mama, kini kami sudah sama-sama telanjang.

Aku lalu duduk di pinggir meja kerjanya, mama berlutut mulai memberi tongkolku kuluman dan hisapan nikmat dengan mulutnya.
Aku remas-remas rambut mama. Tidak terlalu lama mama meng-oralku.

Lalu aku turun dan gantian mama kududukkan ke meja, kakinya terjuntai ke bawah..
Kurenggangkan kakinya, melebarkan memeknya yang indah dan menawan.

Aku berjongkok dan mulai membasahi memeknya dengan jilatanku..
kujilati liang memeknya dan itilnya sesaat, hanya agar basah saja dan memudahkan penetrasiku.

Tidak perlu lama-lama kali ini, nanti kalau di rumah bisa lama, saat ini secukupnya saja.
Setelah kurasa memek mama sudah basah dan terlumas dengan baik..

Aku segera berdiri, kutarik sedikit kaki mama ke depan, lalu tongkolku yang sudah dalam kondisi sempurna dan terbaiknya segera kuarahkan ke liang memeknya..

“Hnggghh..”

Jleebb..!

“Hhhh..”

Mama agak mendesah saat tongkolku menerobos liang memeknya. Enak sekali..!

Lalu aku mulai memompa tongkolku, mula-mula perlahan lau kecepatannya makin bertambah.
Sementara mama yang tahu aku suka dengan bulu keteknya, mengangkat kedua tangannya ke atas memperlihatkan bulu keteknya..
tanganku segera membelai dan memainkan keteknya bergantian sambil meremas-remas tetek besarnya.

Mama makin melebarkan kakinya, memudahkan sodokan tongkolku, mulutnya mulai mendesah merasakan nikmat dunia.

Sesekali saat menarik keluar tongkolku, posisinya kumiringkan ke atas biar makin menggesek itilnya.
Sesekali kami berciuman dengan hangat dan mesra.

Aku kini memompa tongkolku pada kecepatan penuh, keluar masuk dengan cepat.
Mama makin menggoyangkan pinggulnya, tangan mencengkram erat pundakku, kakinya mengapit pantatku..
desahannya makin cepat dan akhirnya muncratlah cairan orgasmenya.

Aku segera menghentikan pompaanku, kucabut tongkolku dari memeknya yang sudah basah itu.

Segera mama kusuruh berdiri, kubalikkan badannya, aku di belakangnya, mama kini kusuruh nungging..
tetek besarnya menempel di kaca meja kerjanya, kakinya kurenggangkan, lalu kusarangkan tongkolku ke liang memeknya dari belakang.

Tanganku memegang pantatnya. Segera saja kumulai pompaanku dengan cepat.
Sesekali tanganku menepak lembut pantatnya. Jariku terkadang memainkan liang pantatnya.

Tangan mama tak mau ketinggalan, diarahkan satu tangannya ke memeknya dan mulai memainkan itilnya.
Kumaksimalkan pompaan secepat dan sedalam mungkin, tanpa jeda, mama hanya mengerang dan mendesah saja..
aku juga merasakan aku mau klimaks sedikit lagi.

Segera aku tindih badan mama dan tanganku meremas kuat teteknya saat aku semprotkan spermaku ke dalam liang nikmatnya.

Setelah diam sesaat, aku cabut tongkolku, mama lalu jongkok menjilati sisa spermaku.
Mama kemudian mengambil tissue membersihkan memeknya dan tongkolku.
Lalu mama dan aku berpakaian, aku tak lupa membersihkan meja mama dari bekas keringat dan bekas tubuhnya.

Setelah membuang tissue ke tong sampah, aku dan mama lalu duduk di sofa tamu untuk menyantap makan siang.
Mama dan aku bercakap-cakap ringan..

ÔÇ£Dasar kamu nggak sabaran amat sih Wan.. nanti di rumah kan bisa sepuasnya..ÔÇØ
ÔÇ£Ah sesekali ma, buat variasi, kalau di rumah nanti lain lagi..heheheÔÇØ

ÔÇ£Huhh.. maunya tuh..,ÔÇØ mama hanya tertawa meledekku, lalu kami teruskan makan sambil bercanda..
ketika selesai mama menelepon ruang pantry, menyuruh OB membereskan piring.

Setelah OB selesai membereskan, mama masih duduk di sofa, masih santai dan mulai berbicara lagi, agak serius..

ÔÇ£Wan, kamu kan sebentar lagi sudah selesai kuliah.
Lagipula setelah pulang kuliah kan,waktu luang kamu banyak, gimana kalau kamu sepulang kuliah kamu sering ke kantor, mulai belajar bekerja.ÔÇØ

ÔÇ£Maksud mama magang..?ÔÇØ

ÔÇ£Bukan magang sih tepatnya, nantinya kan kamu dan kakak kamu yang akan meneruskan usaha mama..
jadi mama kira sudah saatnya kamu belajar mengelola perusahaan ini, jadi saat kamu sudah kelar kuliah, kamu sudah bisa paham.

Nantinya kak Erni pun akan mama tawarkan, namun karena dia wanita, tentu saja mama tidak keberatan kalau memang seandainya dia di kedepannya nantu memilih menjadi ibu rumah tangga mengikuti suami, sedang kamu sebagai anak lelaki, tentunya mama berharap lebih.ÔÇØ

ÔÇ£Boleh saja ma, tapi tidak harus tiap hari kan..?ÔÇØ

ÔÇ£Ya.. ya.. mama sih mengharapkan kamu bisa serius, mungkin pertamanya kamu masih canggung, tapi mama yakin kalau kamu sudah paham dan mengerti dunia kerja kamu malah akan menyukainya. Gimana kalau mulai besok kamu coba.ÔÇØ

ÔÇ£Baiklah ma, memang ada benarnya kata mama, nggak ada salahnya Irwan mulai belajar tentang bisnis mama, toh nantinya Irwan yang akan meneruskan. Oke, Irwan setuju, tapi dengan syarat..ÔÇØ

ÔÇ£Syarat apaan yang..!?
ÔÇ£Ruangannya di sini ya, seruangan sama mama hehehe..ÔÇØ
ÔÇ£Huh.. dasar nih anak, kagak ada puasnya..ÔÇØ

Akhirnya aku mulai belajar bisnis mama.
Walaupun sudah mengenal dan dikenal oleh hampir semua karyawan, namun mama memperkenalkanku secara resmi dan menjelaskan bahwa mulai hari itu aku akan mulai belajar sedikit demi sedikit di perusahaan..
Mama juga berpesan jangan melihat aku sebagai anaknya, bila memang harus tegas dan perlu dinasehati jangan sungkan. Ini demi proses pembelajaranku.

Para karyawan dan direksi lainnya juga tahu bahwa suatu hari nanti aku yang akan menerus usaha mama dan memimpin mereka, jadi mereka mengajari dan membimbing aku dengan terbuka dan serius.

Jadi sepulang kuliah aku segera ke kantor mama..
Awalnya memang masih agak malas, kadang 2 hari sekali, namun seperti kata mama, lama-kelamaan aku mulai menyukai kondisi dunia kerja, ada yang sejalan dengan teori yang kudapat dari kuliah, namun lebih banyak praktek dan situasi langsung sesuai kondisi.

Aku mulai rajin dan datang secara rutin setiap hari, kalaupun tidak datang itu jarang.
Bahkan saat libur kuliah, aku berangkat dan pulang bareng mama.
Para karyawan mama juga senang, karena menurut mereka aku cepat belajar dan mau menerima arahan, juga memiliki jiwa bisnis seperti mama.

Pada kak Erni yang sebentar lagi wisuda mama juga menawarkan untuk ikut bekerja, namun kak Erni bilang dia mau mempraktek ilmu psikologinya di Bandung dulu, nanti kalau sudah merasa cukup dia akan bergabung, mama setuju saja.

Dengan rutinnya aku sepulang kuliah ke kantor mama, bukan berarti ÔÇ£jam senangkuÔÇØ berkurang, dengan mama bahkan bisa langsung di ruangannya.

Dengan kak Erni, tidak masalah karena biasanya kami melakukan kalau dia pulang ke Jakarta.
Dengan tante Ani, juga tetap biasa.

Dengan tante Vera mungkin agak bergeser jamnya, biasanya bisa siang sepulang kuliah..
namun kini aku bilang ke mama, kalau sudah pulang jam kantor, aku mau main ke rumah teman atau ketemu teman di sini atau di situ dulu..
biasanya mama tidak masalah, mungkin dia pikir biasanya aku main sama teman sepulang kuliah, namun kini bergeser sepulang jam kerja.

Sore itu aku sudah berada di rumah tante Vera, dia sudah tahu kegiatan baruku.
Tante Vera kini tinggal dengan pembantunya, pembantunya sendiri sudah agak tua, selalu berada di dapur atau di kamarnya, hanya akan datang jika dipanggil, tipenya memang penurut dan tidak banyak omong.

Aku sendiri diperkenalkan sebagai Anak tirinya.
Sore itu tante Vera mengenakan baju tidur yang seksi sekali, sedikit transparans..
Aku dan dia sih memang sudah paham, setiap ketemu pasti ujungnya ya akan begituan.

Lekuk tubuhnya nampak jelas, belahan dadanya terbuka lebar, seakan baju tidur itu tak mampu menampung teteknya yang cukup besar.

CD hitamnya nya agak terlihat kontras dengan baju tidurnya.
Glek.. tanpa sadar aku meneguk ludah.

Walau pernah kuutarakan bahwa aku suka jika wanita memelihara bulu ketek..
Namun nampaknya tante Vera enggan dan tetap membiarkan keteknya bersih terawat..
Ya, sudah.. tak apa, toh itu sesuai selera masing-masing orang.

Di meja telah tersedia kopi dan kue.
Dipersilakan aku minum dan memakan kue. Kami lalu mulai bercakap..

ÔÇ£Gimana kerjanya..? Senang nggak..?ÔÇØ
ÔÇ£Bukan kerja sih tan, aku baru tahap belajar dan jujur saja aku memang mulai menikmatinya.ÔÇØ

ÔÇ£Pantaslah, terlihat dari wajah kamu yang lelah, kasihan, capek sekali tampaknya..ÔÇØ
ÔÇ£Iya sih, tapi aku senang kok..ÔÇØ
ÔÇ£Ayo habiskan kopimu, tunggu tante sebentar di kamar, nanti akan tante buat kamu rileks..ÔÇØ

Lalu aku segera menghabiskan kopiku dan berjalan ke kamarnya..
segera kubuka baju dan celanaku, hanya tinggal CD saja dan segera membaringkan diri, aku pejamkan mataku, memang cukup lelah aku..

Dari luar terdengar suara tante Vera memanggil pembantunya, tak lama terdengar suara percakapan, aku sebenaranya penasaran, selama ini entah apa yang ia bilang ke pembantunya kala aku ada di kamarnya, tapi bodoh amat, pembantunya juga tampaknya tidak banyak omong dan tidak mau tahu urusan majikannya.

Lalu tante Vera masuk kamar, mengunci pintu, tersenyum padaku, menanggalkan baju tidur, BH dan CDnya kini sudah telanjang bulat, lalu segera ke arahku, dipelorotkan CD-ku.

Tanganku mulai jahil, tapi segera ditepis dan ia tersenyum sambil bilang sabar dulu, biar aku tetap berbaring dan dia buat aku rileks dulu.

Disuruhnya aku tengkurap, kudengar ia membuka laci.
Tak lama aku merasakan punggungku di tetesi baby oil, tangan halusnya mulai memijat pundak dan punggungku, kurasakan rambut kemaluannya bergesekan dengan pantatku.

Tidak hanya tangan, tetapi sesekali teteknya ditempelkan ke punggungku, pijat tetek nih pikirku, bisa saja tante Vera.

Lepas dari punggung, tangannya mulai memijat dan memainkan pantatku, enak sekali tangannya membelai dan memujat pantatku.

Tanpa sadar tongkolku mengeras, posisinya agak kurang nyaman nih, sambil tengkurap sih..
Untunglah tak berapa lama tante Vera, menyuruhku berbalik, kini ia menduduki perutku, kembali kurasakan gesekan rambut kemaluannya di atas perutku..

Kembali badanku ia tetesi baby oil, lalu tangannya mulai memijat dadaku, matanya terus menatapku, seksi sekali.

Tanganku kini mulai membelai dan memainkan teteknya yang menggelantung indah di hadapanku.
Sesekali ia juga menggesek dan memijat dada dan perutku dengan teteknya.

Akhirnya ia turun ke arah tongkolku yang sudah berkibar dari tadi.
Agak merendah, ditaruhnya tongkolku di antara belahan teteknya, ditangkupkan tangannya menjepit kedua teteknya..
tongkolku terjepit pasrah di tengahnya, lalu ia mulai mengocok tongkolku.

Oh.. Nyamannya, membuat rasa lelahku hilang, rasanya nikmat, karena tetek tante Vera itu masih kencang dan keras, jadi rasa jepitannya mantap.

Tanpa sadar aku mendesah, tante Vera hanya tersenyum melihat ulahku.
Cukup lama dia memberiku Titfish, lalu ia mulai menjilati tongkolku dengan lidahnya, memainkan kepala tongkolku dan menjilati batang dan bijiku.

Akhirnya mulutnya mulai menghisap dan mengemut-ngemut tongkolku, top banget rasanya.
Aku hanya bisa meremas rambutnya, apalagi sambil menghisap, matanya tak hentinya memandangku, nafsuin banget.

ÔÇ£Tan, nanti aku mau nyodok pantat tante ya..ÔÇØ
ÔÇ£Hmmmpp.. Hooollleehhh.ÔÇØ katanya sambil sibuk mengulum tongkolku.
ÔÇ£Tan, balik dong, nggak enak nih nganggur, kasih memeknya sini, biar aku bisa basahi.ÔÇØ

Segera tante Vera memutar badannya, 69, kini aku mulai melebarkan belahan memeknya, kugosok dengan jariku, lalu kulebarkan, nampaklah liang memeknya yang kemerahan mengundang.

Lidahku segera menggempurnya, tiada satu bagian yang tersisa dari sapuan lidahku, liang memeknya kusodok dengan ujung lidahku, lalu jariku menggantikan lidahku mengocok liang memeknya..

Kini lidahku sibuk menjilati itilnya..
Tante Vera agak kelojotan saat itilnya kumainkan habis-habisan dengan lidahku, hisapan mulutnya di tongkolku makin kuat.

Puas dengan itilnya, segera kumainkan liang pantatnya..
jariku tak ketinggalan sesekali menyodoknya, akhirnya kuambil baby oil dan kutuangkan ke wilayah liang pantatnya.

Lalu aku bilang ke tante Vera, aku sudah tidak sabar nih mau masukkin tongkolku..
Dia segera menghentikan kulumannya, melihatku, menunggu posisi yang kuinginkan dan aku memberikan kode agar ia berbaring.

Aku segera menekuk kedua lututnya, kurenggangkan kakinya melebar..
Yess.. pantat dulu pikirku, kuolesi baby oil ke tongkolku, lalu perlahan jariku mulai melebarkan liang pantatnya..

Pelan-pelan kusodokkan tongkolku ke liang pantatnya, wajahnya agak mengernyit..
Terdengar rintihannya pelan, aku mulai menekankan sedikit demi sedikit tongkolku, akhirnya masuk semuanya..

Kulihat wajahnya masih mengernyit, aku diam sebentar, memberikan waktu baginya dan aku untuk membiasakan diri.

Lalu perlahan mulai kupompakan tongkolku, mula-mula agak pelan, lalu ketika liang pantatnya makin mekar dan melebar kupompa dengan normal.

Kini sudah lancar dan enak, kulihat wajahnya juga sudah menikmati..
Maka pompaanku mulai kupercepat. Mulutnya mendesah dan tangannya mulai memainkan putingnya sendiri..
jariku sendiri sibuk memainkan itilnya.
Cukup lama aku memompa tongkolku sambil memainkan itilnya.

ÔÇ£Oh Yesssss.. Ohhhh.. Yeaahh..ÔÇØ Jeritan lirihnya mulai mengeras.
ÔÇ£Cepeeettt.. Wannnn.. Hhhhhh..ÔÇØ
ÔÇ£Dikkkiiiiitttt.. lllaaaaggiiiii..ÔÇØ

Serr.. Serr..!
Kurasakan cairan hangat di jariku, saat memeknya menyemburkan orgasmenya..
Segera kuarahkan jariku ke mulutnya dan dia menjilati jariku tersebut.

Aku terus memompa pantatnya, kini kucabut tongkolku dan, karena memeknya sudah basah, mudah saja tongkolku menerobosnya.

Kupompa dengan cepat, kini mulutku mulai bergerilya menggerayangi leher, bibir, tetek dan putingnya..
Kurasakan tante Vera mendesah dan menggeliat, sementara tongkolku bergantian menyodok liang memek dan liang pantatnya.

Kini mulutku dengan nyaman menghisap putingnya, sesekali kugigit lembut.
Sodokan tongkolku kini di liang pantatnya, makin cepat dan kuat, desahannya makin liar dan tangannya sesekali meremas rambutku.

Kurasakan tubuhnya menggeliat makin kuat, aku sendiri juga sudah dekat batasku, lalu dengan waktu hampir bersamaan kami klimaks.

Sensasional dan nikmat. Kucabut tongkolku dan berbaring di sampingnya.
Tante Vera menjilati tongkolku dan membersihkan sisa spermaku.
Lalu berbaring di sampingku dan memelukku.

ÔÇ£Tante puas deh kalau sudah kamu masukin. yang..ÔÇØ
ÔÇ£Sama-sama Tan, aku juga puas, sama-sama enaklah, kagak ada masalah.ÔÇØ
ÔÇ£Ya sudah kamu siap lagi kan..!?

Sebelum pulang, aku masih sempat menghajarnya 2 ronde lagi dan aku pulang meninggalkan tante Vera yang lemas tapi tersenyum puas.

Sebelum pulang ia menciumku dan memintaku untuk sering datang.
Tidak masalah pikirku, untuk sesuatu yang nikmat, mana mungkin aku menolak.
Tinggal sesuaikan dengan jadwalku saja.

Tanpa terasa kini sudah 6 bulan aku belajar bekerja di tempat mama, semua unit dan divisi kusinggahi, aku memang harus memahami dan mengerti fungsi semua divisi.

Biasanya aku ada di tiap divisi sampai aku sendiri benar-benar merasa mengerti dan paham sistem, cara dan alur kerjanya.
Setelah itu aku akan pindah, para karyawan dan kepala divisi sendiri amat membantu, mereka memberiku juga tugas untuk kukerjakan sambil mengetes sejauh mana pemahamanku dan nampaknya mereka senang atas cara kerja dan pemahamanku, kalau kata mereka otakku encer dan cepat beradaptasi.

Tanpa terasa semua divisi sudah kusinggahi, kadang kalau aku libur dan memang ada waktu mama atau karyawan yang lain akan mengajakku bila ada tugas ke daerah atau kantor cabang.
Pokoknya secara bertahap aku mulai menunjukkan progress dan kemampuanku.

Mama sendiri senang dengan laporan yang diterimanya, mama percaya laporan yang diterimanya bukan hanya karangan bawahannya agar dia senang saja, namun mama juga mengamati sendiri.

Biasanya kalau mama senang, aku langsung mendapat hadiah special di ruangannya hehehe.
Secara dasar aku sudah paham, tinggal memantapkan dan mendalami saja mengenai unit-unit dan divisi bisnis.

Dari semua itu, aku kini mulai dan memang mama wajibkan untuk lebih mendalami divisi keuangan, karena memang di situ adalah salahsatu titik vital perusahaan.

Divisi ini sendiri dikepalai oleh Pak. Budi, dengan 10 karyawan di dalamnya.
Aku jujurnya memang suka berada di divisi ini, karena memang sesuai dengan ilmuku dan merasa tertantang untuk memahaminya.
Dari semua itu ada satu alasan penting..

Namanya mbak Yanti, usianya 25 tahun, 4 atau 5 tahun lebih tua dariku, posisinya kini supervisor divisi keuangan di perusahaan mamaku.

Awalnya memang biasa saja, wajahnya memang cantik sekali dan secara kriteria fisik memang sesuai kriteriaku, kuning langsat, tinggi sekitar 170 CM, dadanya juga besar walau sering memakai baju kerja longgar, namun mataku yang sudah terlatih tahu pasti itu.

Wajahnya yang sudah cantik, makin cantik saja karena kalau dandan juga secukupnya, malah terlihat natural.

Jujurnya, secara fisik amat menarik, namun awalnya memang aku tidak ada perasaan apapun, tapi memang kedekatan bisa tumbuh kalau sering bertemu dan berkomunikasi.

Aku sangat menyukai berbicara dengannya, orangnya cerdas, polos, apa adanya dan juga tidak canggung bicara denganku yang anak boss, gayanya netral saja seperti aku rekan kerjanya, amat natural.

Untuk urusan kerja amat professional dan pandai, pak Budi sendiri amat mengandalkannya.
Karena Pak Budi tidak mungkin mendampingiku setiap aktu, maka ia mempercayakan mbak Yanti untuk membimbingku, aku dan dia bisa bekerjasama dengan baik, dia mengajariku dengan tekun dan juga senang karena kau cepat mengerti.

Dari yang kutahu, dia sudah 3 tahun bekerja di perusahaan mamaku, sebenarnya dulu juga aku sudah kenal, tapi ya cuma kenal saja, karena aku jarang ke kantor mama dan juga jarang bertemu dengannya, kini saat aku mulai intens belajar di kantor mama dan sering bercokol di divisi keuangan, mau tak mau sering ketemu dengannya.

Dulu mama sering ada urusan sama bank X, kebetulan kepala cabangnya Pak Suryo, mempunyai anak perempuan yaitu mbak Yanti..
kuliah jurusan ekonomi, yang sedang mau skripsi dan butuh magang..
Dia menanyakan ke mama, apakah boleh ditempatkan di perusahaan mama, mama mempersilakan.

Rupanya prestasi dan kemampuan bekerjanya dinilai amat baik oleh Pak Budi dan karyawan lainnya, juga orangnya supel dan komunikatif, Pak Budi merekomendasikan untuk merekrutnya karena bisa menjadi asset yang baik bagi Perusahaan.

Ketika mama menawarkan bekerja selepas wisud, mbak Yanti setuju dan dalam waktu singkat karena memang pandai dan kompeten sudah bisa menjabat supervisor.

Mama sendiri mengakui dan menghargai kemampuannya.
Ayah mbak Yanti sudah pensiun dan memilih menetap di kota keluarganya Semarang, meneruskan usaha keluarganya, bersama istri dan adik Mbak Yanti, jadilah kini mbak Yanti sendiri menempati rumah orangtuanya di Jakarta.

Awalnya aku sering memanggilnya Mbak, namun suatu hari dia memintaku memanggilnya dengan namanya saja..
ÔÇ£Umurku dan kamu kan nggak beda jauh Wan, aku malah canggung dipanggil Mbak sama kamu..,ÔÇØ begitu katanya.

Aku sendiri tak tahu apa yang berkecamuk di dadaku setiap berada dekat dan bicara dengannya, rasanya indah saja, kalau dia kebetulan dinas memeriksa keuangan kantor cabang atau sedang sakit, rasanya sunyi banget di kantor.

Aku mulai sering memikirkannya dan sering menelepon atau mengirimkan SMS saat di rumah.
Aku nyaman dan bahagia dekatnya. Apakah ini yang namanya cinta..!?

Dadaku berdebar kalau memikirkannya.
Aku sering mengajaknya makan siang bersama, kadang sepulang kantor aku ajak dia jalan ke mall, atau makan, lalu mengantarnya pulang, dia juga tidak menolak.

Tapi aku tidak tahu pakah dia sudah punya pacar atau menganggap aku sebagai apa baginya..
Belum pernah aku sebingung dan seberdebar ini, pusssiiiingggg, ya tapi ini adalah bagian dari perjalanan hidup, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku.

Karena belum pernah menyatakan cinta kepada wanita, jujur saja aku bingung juga, namun ini patut dan harus kucoba.

Suatu hari, Jumat sore, sewaktu mengantarnya pulang, aku mampir dan menunggunya yang menyiapkan minum untukku.
Ketika dia datang, kami mulai bicara ringan saja, sampai akhirnya..

ÔÇ£Yan, boleh aku tanya sesuatu ke kamu..?ÔÇØ
ÔÇ£Tanya apaan sih,Wan, serius amat sih.. ya bolehlah.ÔÇØ

ÔÇ£Enggg.. enggg.. anu..ÔÇØ
ÔÇ£Anu apaan sih.. kok bingung gitu..?ÔÇØ
ÔÇ£Kamu sudah punya pacar belum..?ÔÇØ

ÔÇ£Duh.. kamu mau nanya itu saja kok bingung, dulu aku pernah pacaran, 2 kali namun memang belum jodohku, kini aku sedang menikmati pekerjaanku, Wan.. jadi walau saat ini aku sendiri, aku tidak terlalu memikirkannya.
Kenapa kamu nanya kayak gini..?ÔÇØ

Deg.. Yes.. yes.. dia masih sendiri.. dia masih sendiri.. sorakku dalam hati, lalu setelah menghela nafas dan menenangkan diri aku lanjutkan bicaraku

ÔÇ£Yan, gimana ya.. kamu mau percaya atau tidak terserah, aku juga bingung ngomongnya, sampai detik ini aku nggak pernah pacaran..
tapi aku suka sekali sama kamu, baru kali ini dalam hidupku aku merasakan hal seperti ini, kamu ma.. mau jadi pacarku..?ÔÇØ

ÔÇ£Ha..?ÔÇØ

ÔÇ£Aku tahu aku mungkin tidak sempurna, namun aku mau berusaha menjadi yang terbaik buat kamu.ÔÇØ
ÔÇ£Stop.. stop dulu, Wan.ÔÇØ
ÔÇ£Ngg.. aku salah ngomong ya, kamu marah..!?ÔÇØ

ÔÇ£Nggak, dengar dulu, Wan, jujur aku kaget mendengarnya.
Aku akui kamu memang ganteng dan menarik, namun aku ini lebih tua darimu, lebih pantas jadi kakakmu, juga apa kata mama kamu.
Maaf, Wan, jangan marah ya.. aku menganggap kamu sebagai sahabat yang baik.ÔÇØ

ÔÇ£Hei.. hei.. Yan, beda usia bukan alasan, beda usia kita tidak jauh kan..?
Terus apa hubungannya sama mamaku..?

Bukan dia yang menjalankan hubungan ini, tapi aku, lagipula kalau aku menjalani hubungan yang baik, pastinya dia tidak akan keberatan, ini masalah hati, tidak ada hubungan dengan Perusahaan, mamaku atau aku ini anak siapa.

Aku jujur dengan perasaanku, aku memang menyukai dan mencintaimu, aku bisa terima kalau kamu menolakku dengan alasan memang kamu tidak menyukaiku, tapi kala alasannya umur atau urusan kerja, nggak bisa dong Yan.
Sekarang aku sudah jujur, kuharap kamu mau jujur dan memberikan jawaban sesuai hatimu..ÔÇØ

Aku mengatakan semuanya dengan tenang, walau jengkel namun kutekan emosiku.
Yanti nampak tercengang mendengar perkataanku.
Suasana jadi canggung dan lama kami terdiam, akhirnya aku minum minumanku.

Lalu terdengar suara Yanti.
ÔÇ£Wan, beri aku waktu ya, jangan menuntut jawabanku sekarang. Biarkan aku memikirkannya.
Aku pasti akan menjawabnya. Hanya beri aku waktu.ÔÇØ

ÔÇ£Baiklah.. aku tidak akan memaksa, aku juga tidak mau kamu menjawabku karena terpaksa.
Sekarang aku pamit dulu ya Yan. Sampai nanti.ÔÇØ

Lalu aku berdiri, Yanti mengantarku samapi depan, lalu aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, mama sudah menunggu, aku bilang habis dari mall sebentar, cari CD music.
Mama mengajakku makan. Pikiranku entah ke mana.

Malamnya aku melakukan hubungan dengan mama, tapi tidak konsentrasi, juga hanya satukali saja. Besoknya belum juga ada kabar.
Minggu pagi juga sama. Bete, tegang, grogi campur satu, butuh pengalih stress nih, ah ke mana enaknya..?

Kuambil HP ku, kutelepon tante Ani, kubilang aku lagi mau nih, tapi dia bilang ada Om Heri di rumah..
sebenarnya dia juga mau, akhirnya dia bilang ketemu di hotel X saja sejam lagi, nanti dia akan bilang ke Om Heri mau ke rumah temannya.

Segera aku mandi, pamit ke mama, bilang mau ke kampus ada acara kemahasiswaan, pulang agak sore.
Segera kupacu motorku.

Hotel X sendiri termasuk hotel bagus dan agak mahal, tidak masalah, tabunganku kan banyak,nggak akan berkurang..
Kadang tante Ani yang membayar, tidak terlalu sering sih kami ke hotel, hanya kalau sama-sama mau dan situasi tidak mendukung..

Kami memilih hotel yang agak bagus, sebab lebih aman dan privacy terjaga, kutelepon HP tante, dia masih di taxi sedikit lagi sampai.

Aku segera menuju receptionist, memesan kamar, mengisi data, membayar dan diantar bellboy ke kamar.
Kuberi uang tip. Kuangkat telepon memesan minuman dan makanan ringan ke Room Service, ku SMS tanteku memberitahu nomor kamarnya.

Biasanya tanta akan segera menghapus SMS nomor kamar, takut Om Heri membacanya.
Tak lama Room Service datang. Lalu tante Ani sampai, langsung ke kamar, praktis kan..?
Nggak berbelit lagi, sampai lobby, langsung ke lift dan menuju kamar.

Tante Ani memang sudah agak lama tidak berhubungan, anaknya kini sudah 2, yang paling kecil baru setahun kurang.

Tante Ani duduk dan meminum minuman yang kupesan, kuperhatikan bagian dadanya, memang nampak lebih besar, karena masih menyusui.
Tante Ani sadar aku sedang melihatnya.

ÔÇ£Tumben, Wan, memang tante juga sudah lama nggak main sama kamu.
Jatah kamu dari mamamu kurang.?ÔÇØ
ÔÇ£Ah nggak kok tan, memang sudah lama sih, Irwan kangen, juga lagi mau nenen susu.ÔÇØ

ÔÇ£Ya sudah sabar dulu, tante juga sudah lama nggak ngerasain tongkol kamu, tapi tante santai dulu.
Santai saja, tadi tante bilang ke Om kamu ada perlu mau antar teman cari baju, jadi pulangnya agak lama..
lagipula dia tidak akan kehilangan, sibuk main sama anak-anak.ÔÇØ

Aku kembali duduk, tante Ani kini nampak sudah mulai rileks, lalu dia berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur..
Dia mulai membuka baju dan celananya, lalu berbaring hanya mengenakan BH dan CD berenda, dia memanggilku, katanya biar aku yang buka.

Tanpa disuruh lagi aku segera berdiri, membuka baju dan celanaku, CDku..
Segera aku naik ke atas tempat tidur, makin mempesona saja tubuh tante Ani.

Aku mulai meraba BHnya, teteknya makin besar saja, kubiarkan tanganku meremas teteknya yang masih ber BH itu.. sedang tanganku yang lain mengelus gundukan di balik CDnya, tongkolku mulai On.

Kuangkat tangannya, kujilati dan kuciumi bulu keteknya bergantian.. harum parfum dan aromanya sangat merangsang.

Lalu kulepaskan BHnya.. Wooow..!
Teteknya seakan meloncat keluar, memperlihatkan putingnya yang besar, tanganku yang satu segera memelorotkan CD nya.

Kini aku berbaring di sampingnya, tante Ani paham dan agak menaikkan dan memiringka tubuhnya, mengarahkan kedua tetek besarnya ke arah mukaku.

Segera saja mulutku dengan rakus menyerbunya, putingnya mula-mula kujilati lalu kuhisap dengan gemas, nampak cairan susu yang sudah familiar membasahiku mulutku.

Sementara teteknya tengah kugempur, tangan tante Ani mulai membelai biji dan tongkolku, sesekali dikocoknya batang tongkolku.

Aku masih belum puas menetek dari teteknya. Bergantian putingnya kuhisap.
Kini puting itu sudah membesar dan mengeras. Sesekali kudengar desahannya.
Kembali aku menyerbu keteknya.

Puas dangan itu, aku kembali berbaring.
Tante Ani langsung turun ke arah tongkolku, lidahnya menjilati bijiku dahulu, lalu mulutnya mulai mengulum dan menyedot-nyedot lembut bijiku, tangannya meremas dan mengocok batang tongkolku.

Puas memainkan bijiku, konsentrasinya diarahkan ke kepala dan batang tongkolku, habis semuanya dia jilati, hisap dan emut-emut.

Nampaknya dia lapar juga dengan tongkolku. Kelojotan aku dia oral.
Dikulumnya tongkolku dengan cepat dan nikmat, setelah agak lama kurasakan aku mau keluar.
Kukatakan aku mau keluar.

Maka mulutnya mulai dibukanya, tangannya mengocok tongkolku, akhirnya menyemburlah spermaku ke arah mulutnya dan juga membasahi teteknya.
Ditelannya sperma di mulutnya sampai tuntas, lalu dia jilati sisa sperma di tongkolku.

Dia berdiri sebentar ke kamar mandi dan mengambil handuk memersihkan sperma di teteknya.
Aku berbaring memulihkan kondisi. Baru saja dia kembali dan naik ke atas tempat tidur, segera kuserbu dia, kakinya kulebarkan..

Kini giliran lidahku memainkan memeknya, rambut kemaluannya yang lebat kuciumi, kini basah oleh jilatanku..
lalu kujilati memeknya, tercium aroma wangi yang enak, lidahku mulai menjilati itilnya.
Itilnya kugoyang ke sana ke mari dengan lidahku, terasa mulai mengeras,jariku dengan cepat menusuk liang memeknya.

Terdengar desahannya, aku terus saja menggarap itil dan liang memeknya.
Semakin ia mendesah semakin kuat rangsangannya padaku, apalagi melihat rambut kemaluannya yang luar biasa lebat makin menambah nafsuku.
Setelah lama tubuhnya pun mengejang dan mengalami orgasme.

Tanpa banyak buang waktu, segera kutindih tubuhnya, mulutku menyerbu teteknya..
Sementara tongkolku langsung menerobos liang memeknya yang sudah sangat basah, kupompa tongkolku dengan sangat cepat dan setiap sodokan kulakukan sedalam mungkin..
Tante Ani terengah-engah dengan serbuanku, aku benar-benar melampiaskan rasa stressku.

Kuhajar memeknya segila mungkin.
Tante Ani hanya bisa mengerang dan mendesah pasrah dan keenakan.
Mulutku seakan tak kenal lelah menjilati dan menciumi tetek, puting, bibir, leher san keteknya.
Semakin kuat dan cepat sodokanku semakin kuat teteknya bergoyang.

ÔÇ£Ugh.hh.. gi..lllaaaa.. kaam.. muuu Wannnn..ÔÇØ Tante mengerang-merintih tersengal.

ÔÇ£Tum.. bennnn.. Aawwww.. kaaa.. muuu.. nafffs suuuu baa.. nggeeett..ÔÇØ sambungnya sembari menggeliat-geliat penuh nukmat.

ÔÇ£Yesss.. Ahhh..Ohh-oohh-oohhhh.. terrusss Wannnn..ÔÇØ lenguhan Tante kian santer terdengar.. riuh.

Makin liar saja tongkolku menghajar liang memeknya, tanganya hanya bisa memeluk erat pundakku, pinggulnya bergoyang mengimbangi gerakanku, desaham, erangan nikmatnya semakin kuat dan jebol juga akhirnya dia, kembali orgasme.

Aku tetap tidak mengurangi seranganku.
Wajah tante Ani kini bercampur aduk, rasa puas, nikmat, enak terlihat, matanya merem melek, kedua tangannya terangkat ke atas, benar-benar sudah pasrah memeknya dibombardir oleh keponakan tercintanya ini.

Entah kenapa walau sudah sekuat dan secepat mungkin aku memompanya, belum juga ada tanda-tanda akan keluar, bahkan tante Ani mengalami orgasme sekali lagi, wajahnya kini sudah lelah, namun penuh kepuasan dan tidak meminta berhenti.

Tubuhnya dan tubuhku sudah berkeringat. Sodokanku makin lancar di memeknya yang basah.
Mulutku terus menjilati keteknya, kupeluk erat tubuhnya.

Akhirnya aku merasakan denyut sinyal pada tongkolku.. makin erat kupeluk tubuhnya dan tongkolku memuncratkan sperma ke liang memeknya..

Aku masih terus memeluknya. Diam, lemas, puas.
Akhirnya kucabut tongkolku dan berbaring di sampingnya.
Terlihat spermaku mengalir keluar membasahi memeknya.

ÔÇ£Gila kamu Wan, sampai semaput rasanya tante kamu entot kayak tadi.ÔÇØ
ÔÇ£Yang penting tante suka kan.ÔÇØ

ÔÇ£Kamu lagi kenapa sih..?ÔÇØ
ÔÇ£Duh.. namanya juga kangen tanteku sayang..ÔÇØ

ÔÇ£Ya sudah.. biarkan tante istirahat dulu, nanti kamu bisa mulai lagi.ÔÇØ

Akhinya aku menggarap tanteku 2 ronde lagi, satu di tempat tidur, satu di kamar mandi.

Setelah selesai berpakaian, tante menciumku, lalu kami pulang, tante memilih pulang sendiri, jalannya agak mengegang saat kulihat tadi, mungkin memeknya masih panas kugarap habis-habisan.
Akupun segera pulang. Lumayan bisa mengurangi keteganganku.

Sesampainya di rumah, aku temani mama mengobrol, lalu mama memasak makan malam dan sesudahnya kami nonton TV, malamnya aku bilang ke mama aku lagi capek, memang benar sih tadi aku habis-habisan ngentotin tante Ani dan memilih tidur di kamarku.

Sesampainya di kamar masih jam 10-an, besok aku bolos kuliah saja ah, malas.
Kembali pikiranku memikirkan Yanti, mataku tak bisa terpejam.

Pusing aku memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan nanti.
Aku hanya bisa uring-uringan saja di ranjangku, mana mataku tak kunjung mengantuk, hampir 2 jam sudah aku tetap melek..
tiba-tiba terdengar bunyi HP-ku ada SMS masuk rupanya, siapa ya..?
Tumben malam-malam, aku segera duduk dan mengambil HP-ku.

Dari Yanti.. deg.. jantungku berdetak, sudah 2 hari sejak aku menyatakan perasaanku..
sejak saat itu dia tidak menelepon atau membalas SMS-ku, baru sekarang.

Dengan tegang kubuka SMS darinya, kubaca isinya:
Wan, terimakasih sudah jujur padaku dan memberi waktu agar aku bisa berpikir.
Maaf ya,Wan sejujurnya saja..

Hah, sial kenapa terputus sampai sini saja isinya..?
Aku jadi tegang, kesal, marah, penasaran.. sejujurrnya saja..apa..?
Menolakku atau marah padaku. Duh Yanti, tega banget sih kamu bikin aku setegang ini.

Lama aku diam, memikirkan apa sebaiknya aku menelepon atau mengirim SMS balik..
tiba-tiba HP-ku kembali berbunyi, ada SMS masuk lagi, dari dia Yanti..

Dengan tegang dan tak sabar aku buka dan baca, isinya singkat saja, aku hanya terpaku dan bengong membacanya:
Aku Juga Cinta Sama Kamu..

Yessssss..! Tanpa sadar aku berteriak dan melonjak kegirangan, untung mama sudah tidur, rasanya terangkat sudah keteganganku selama ini.

Kubaca dan kupandangi terus kalimat itu pada layar HP- ku, masih belum percaya.

Aku hanya bisa nyengir seperti orang bloon saja, ketika akhirnya bisa menguasai emosiku, aku memutuskan untuk meneleponnya..
namun kembali HP-ku berbunyi, ada SMS masuk lagi dari dia, segera kubaca dan kubuka.

Ya, kupikir kita bisa mencoba menjalaninya.
Kini kamu tidur ya, bicaranya besok saja, mimpi yang indah ya, Irwan sayang.

Aku urungkan niatku meneleponnya, segera kuketik dan kukirim SMS balasanku:
Terimakasih sudah menerimaku dan memberiku kesempatan. Kini aku bisa tidur dengan bahagia.
Selamat tidur juga Yanti sayang.

Lalu aku taruh HP-ku dan segera memejamkan mata, anehnya kini aku bisa tertidur dengan bahagia dan memang aku tidur dengan mimpi yang indah.

Besok paginya aku bangun dan merasa jadi orang yang paling bahagia sedunia dan nyengir terus, sewaktu sarapan mama melihatku dan menanyakan ada apa..?

Aku hanya menjawab bohong, kubilang semalam aku nonton bola dan tim kesayanganku menang telak.
Mama hanya menggelengkan kepala melihat kelakuanku.

Aku belum mau membagi kebahagiaan ini dengan mama atau siapapun.
Rencana berubah, aku tetap bolos kuliah namun aku ikut mama ke kantor, tak sabar rasanya bertemu Yanti.

Kubilang ke mama hari ini aku malas kuliah, cuma mata pelajaran yang membuat bosan, jadi aku mau ikut mama ke kantor saja, mama setuju saja dan menyuruhku mandi.

Mama lalu berbalik dan mau berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba aku merasa bergairah..
dari arah belakang aku mulai memeluk mama dan meremas-remas teteknya.

Jadilah sebelum mandi, aku sempatkan menggarap mama.. lagian semalam aku libur menidurinya.
Mama juga senang, tiada yang menandingi nikmatnya seks di pagi hari sebelum memulai aktivitas harian kita.

Akhirnya setelah rapi, kami berangkat ke kantor, sesampainya di sana, aku menuju ke mejaku di ruangan mama, mendngarkan sebentar mama yang sedang berbicara dengan sekretarisnya, lalu aku permisi, segera menuju ke ruangan pujaan hatiku.

Entah karena hatiku sedang senang sekali atu juga karena cintaku yang diterimanya, namun pagi itu aku melihat Yanti amat sangat cantik, melebihi biasanya, wajahnya lebih berkilauan.
Aku memandangnya terpesona.

Namun Yanti memang profesional, selama jam kerja, walaupun aku mencoba mengajaknya bicara tentang hal semalam, namun dia tetap konsentrasi hanya untuk urusan kerjaan saja..

Akhirnya aku menyerah dan menunggu sampai jam istirahat tiba, kembali menekuni kerjaanku, walau tidak bisa konsentrasi penuh.

Ketika akhirnya jam istirahat tiba, aku ngomong pelan ke Yanti, mengajaknya makan di luar, dia mengangguk, kemudian kami berjalan ke depan, nunggu mikrolet, kami hendak makan di Mall yang tidak terlalu jauh letaknya dari kantor.

Tidak ada yang aneh, karyawan lain yang melihat juga memandangnya wajar, namanya juga jam istirahat.
Tidak sampai 5 menit kami sampai, aku tanya dia mau makan apa, katanya terserah aku..
Kuajak ke salahsatu fast food, cukup ramai karena pas jam makan siang, namun kami berhasil dapat tempat duduk agak di pojok, aku segera mengorder makanan dan minuman, lalu kami duduk menunggu.

Kami mulai berbicara, pelan-pelan saja.
ÔÇ£Yan, aku senang kamu mau mempertimbangkan untuk menerimaku..ÔÇØ

ÔÇ£Lama aku memikirkannya, Wan. Kurenungkan kata-katamu, lagipula kamu sudah jujur dengan perasaanmu terhadap aku, aku sendiri juga harus jujur, memang suka sama kamu, jadi mungkin kita bisa menjalaninya.ÔÇØ

ÔÇ£Yan, seumur hidup baru kali aku pacaran, senang rasanya.
Mungkin karena belum pernah pacaran, aku masih kikuk, harap maklum dan tolong ajari aku ya..ÔÇØ

ÔÇ£Nggak perlu serius kayak gitu dong, Wan. Jalani saja, mengalir apa adanya.
Oh ya Wan, ada beberapa hal yang aku mau bilang ke kamu..ÔÇØ

ÔÇ£Apaan Yan..?ÔÇØ

ÔÇ£Bukan hal yang serius kok, aku mau kita menjalani hubungan ini secara terbuka, namun untuk saat ini aku rasa cukup kita dulu yang menikmatinya, di kantor kita biasa saja ya..
Bukan apa-apa, aku masih canggung, takut dikira aku macari kamu, karena kamu anaknya boss, eits.. jangan marah gitu, itu kan hal yang wajar terjadi, pasti akan ada anggapan begitu..ÔÇØ

ÔÇ£I..iiya..kamu benar Yan, aku setuju sama pendapatmu.ÔÇØ

ÔÇ£Lalu aku bukannya melarang, namun aku sendiri nggak terlalu nyaman kalau saat pacaran terlalu sering memakai istilah, honey, babe dan sejenisnya, apalagi di depan orang banyak, terlalu lebai.
Bukannya nggak romantis, tapi kata sayang sesekali atau antara kita cukup kan.

Kehangatan suatu hubungan kan nggak perlu diumbar dengan kata-kata seperti itu.
Boleh sesekali tapi jangan berlebihan, gimana menurutmu..?ÔÇØ

ÔÇ£Menurutku, kamu memang cocok sama aku, Yan.. hehehe, hal yang kamu ungkapakan sama dengan jalan pikiranku, kayaknya kamu memang sejiwa sama aku..ÔÇØ

ÔÇ£Bisa aja kamu.. terakhir, kamu nggak harus mengantar aku pulang, kan kamu suka bareng sama mama kamu.
Aku bukan tipe pacar yang menuntut haris dianter jemput.
Oh ya hampir lupa, kalau sesekali kamu ada kegiatan lain di malam minggu, aku nggak masalah, ngapel kan bukan hanya malam minggu, lagian nggak wajib. Aku nggak terlalu maksain kamu.ÔÇØ

ÔÇ£Hehehe.. seperti kataku tadi, Yan.. kamu benar-benar sejiwa sama aku.ÔÇØ

Akhirnya pesanan kami datang, makan bersama dengan seseorang yang aku cintai, rasanya jauh lebih nikmat.
Sambil makan, sesekali aku mencuri-curi pandang ke wajahnya.

Akhirnya kami kelar makan, lalu memilih turun ke bawah dengan berjalan dan lewat tangga jalan, nggak pakai lift, sekalian menenangkan perut yang baru diisi.

Setibanya di luar, kami segera mencari kendaraan yang menuju kantor.
Jam istirahat di kantor kami memang nggak terlalu ketat, prinsip mama, boleh ngaret sedikit.

Lagipula kan kadang saat jam pulang ada kalanya pegawai harus tetap menunggu sebentar untuk menyelesaikan kerjaannya atau nggak bisa on time istirahat pas jam istirahat dimulai, jadi sama-sama adil.

Akhirnya kami tiba di kantor dan kembali tenggelam dalam kesibukan dunia usaha.
Pulangnya, aku nggak antar Yanti, karena dia harus memeriksa beberapa laporan bersama beberapa karyawan lainnya.
Pelan, aku pamit padanya dan mengerdipkan mata, dia hanya tersenyum.
———

Sudah hampir 4 bulan kini aku menjalani hubunganku dengan Yanti, penuh romantika dan membuatku bahagia.
SMS-SMS mesra, kata-kata rayuan, jalan saat malam minggu atau pulang kantor.

Mama sedikit banyak mulai rada curiga karena setiap malam minggu, sore-sore aku sudah rapi dan wangi, secara berseloroh, mama bilang, kapan mau kenali pacarmu ke mama, Wan.
Aku hanya senyum saja, belum mau mengungkapkan siapa kekasihku.

Di kantor pun hubungan kami berjalan seperti biasa, nggak ada yang tahu atau curiga kami pacaran, memang Yanti bawaannya kalem dan juga nggak suka bergosip.

Secara pasti kemajuanku di kantor mama mulai menunjukkan hasil, mama menerima laporan dari bawahan dan juga staffnya kalau aku memang berbakat untuk melanjutkan usaha mama.
Mama senang mendengarnya.

Jangan dikira hubunganku dengan Yanti penuh dengan adegan-adegan panas, salah banget.. jauh dari itu, bagiku Yanti special, aku tidak mau menyakiti hatinya.

Hubungan kami berjalan bagai sejoli dalam roman percintaan, penuh tahapan, bergandengan tangan, cium pipi, lalu meningkat mulai berciuman, tapi nggak lebih dari itu.

Satu hal yang membuatku terkejut dan kagum pada Yantiku, saat dia bilang agar selama pacaran kami menahan diri, dia memahami gaya pacaran zaman sekarang dan nggak munafik untuk pura-pura mencelanya, dia bilang kalau hubungan kami sudah sampai tahap itu dia nggak ragu atau pura-pura menolak, atau melarang pasangannya pegang-pegang..

Dia tahu yang namanya keisengan orang pacaran, tapi dia sangat-sangat mengingatkanku, kalau sampai sebatas pasangannya yaitu aku keluar, dia mau, toh banyak cara untuk itu, namun dia nggak mau dan nggak akan mau untuk melakukan hubungan badan..

Baginya itu hal paling berharga, hanya untuk pasangan yang paling istimewa alias suaminya nanti.. dengan kata lain Yanti masih perawan.
Sungguh luar biasa gadis pilihanku, aku makin menyayangi dan menghormatinya.
Aku juga bertekad untuk tidak merusak impiannya.
—————–

Hari ini Sabtu, Kak Erni datang ke Jakarta, kali ini ditemani Kak Indra, pacarnya, Kak Indra sendiri sudah sering datang berkunjung ke rumah, kebetulan keluarganya ada juga di Jakarta.
Kami berempat, mama, aku, kak Erni dan kak Indra berkumpul di ruang tamu, larut dalam percakapan yang hangat dan penuh canda.

Kak Erni membawakan undangan acara wisudanya.
Rencananya mama dan aku akan hadir ke sana.
Selagi masih larut dalam kegembiraan mendengar kak Erni akan diwisuda, mama dan aku kembali menerima kejutan besar, kejutan besar yang menyenangkan.. kak Indra berbicara dengan sopan ke mama, sesekali disela kak Erni.

Mereka mau menikah dan meminta restu mama, rencananya kalau mama setuju, keluarga kak Indra yang memang sudah mendesak agar kak Erni dan kak Indra segera menikah setelah kak Erni diwisuda nanti, akan menyusun waktu lamarannya.

Mama menangis bahagia mendengar rencana ini, tentu saja sebelum memberikan persetujuan, menanyakan dahulu kesediaan dan kesiapan kak Erni, kak Erni menjawab mantap sudah siap.
Mama memberikan restunya.
Kak Erni meneteskan air mata bahagia, kak Indra juga, aku ikut terharu, lalu mama memeluk mereka, aku juga ikut memeluk bahagia.

Kami lanjutkan pembicaraan, topik telah berganti, kini ramai membahas masalah rencana pernikahan. Mama bilang agar kak Erni menelepon opa dan oma, namun kak Erni bilang nanti saja, lebih suka mengabarkan langsung, pasti opa dan oma senang karena cucu kesayangannya akan segera menikah.

Di tengah pembicaraan, secara otomatis, aku yang dikira jomblo, menjadi bulan-bulanan ejekan mereka, kata mereka kapan aku mau nyusul.

Sebenarnya aku nggak mau merusak moment bahagia kak Erni, tapi tidak ada salahnya membuat sedikit pengumuman juga, kagak enak dikira jomblo terus..

ÔÇ£Ngg.. gimana ya, sebenarnya sih Irwan yang kece ini sudah hampir 5 bulan ini punya pacar..,ÔÇØ kataku membela diri.

ÔÇ£Hahaha.. belagak doang tuh, biar kagak diledek..,ÔÇØ balas kak Erni.

ÔÇ£Kayaknya sih nggak deh Er, soalnya mama lihat, nih anak memang belakangan ini tiap malam minggu selalu rapi dan menghilang meninggalkan mama sendiri di rumah, terlalu rajin SMS, kebanyakan nyengir, mama juga penasaran sih, tapi si Irwan sok misterius gitu..,ÔÇØ bela mamaku.

ÔÇ£Tul begitu.. tuh kan, kak Erni sudah dengar apa kata mama, inga mama sendiri yang menyaksikan..jadi ledekan kaka sudah nggak berlaku lagi..ÔÇØ balasku senang.

ÔÇ£Ah.. itu belum membuktikan apapun, orangnya siapa juga nggak ketahuan, kalau memang benar, buktiin atu paling nggak kasih tahu siapa, kali aja aku dan mama kenal.,ÔÇØ cuap kak Erni kagak mau kalah.

ÔÇ£Ehem.. baiklah, baiklah, tenang para penonton sekalian, di sini Irwan akan membuka rahasianya.. tenang. Sebenarnya nggak misterius kok, mama juga kenal..,ÔÇØ kataku.

ÔÇ£Masa sih, Wan.. siapa..? Penasaran juga mama, wanita mana yang bisa membuat anak mama yang cuek ini bertekuk lutut, siapa sih..,ÔÇØ mama makin penasaran.

ÔÇ£Alah..kelamaan, kasih tahu saja deh..,ÔÇØ kak Erni menimpali, kak Indra hanya nyengir.

ÔÇ£Baiklah.. ma, selama ini Irwan menjalin hubungan sama orang di kantor mama, Irwan harap mama nggak marah karena Irwan pacaran sama karyawan mama yaitu.. Yanti.ÔÇØ

ÔÇ£Hah.. Yanti..? Tunggu dulu..tunggu dulu.. anak keuangan itu maksudmu..?ÔÇØ
ÔÇ£Benar ma, mama nggak keberatan kan Irwan pacaran sama pegawai mama..?ÔÇØ

Belum juga mama menjawab, kak Erni yang bawel sudah nyerocos, nggak bisa nahan diri dan penasaran untuk mengetahui lebih banyak mengenai pacar adiknya.

ÔÇ£Kayak gimana orangnya ma..? Cakep..? baik..?
Penasaran banget, besok mau ke kantor mama ah sama Indra, mau lihat perempuan macam mana yang bisa ngelumerin hati si Irwan jelek ini..!ÔÇØ
Serentetan kalimat, meluncur hanya dalam satu tarikan nafas dari mulut bawelnya.
Mama menenangkannya.

ÔÇ£Tenang dulu..tenang dulu, mama mau ngomong nih..,ÔÇØ kata mama, lalu menatapku.
ÔÇ£Benar, kamu serius sama Yanti, Wan..?ÔÇØ
ÔÇ£Iya..ma, Irwan belum pernah seserius ini.. mama keberatan..? marah..?ÔÇØ tanyaku gugup.

ÔÇ£Ya ampun Irwan.. lha nggak lah, itu kan pilihan kamu.
Mama justru senang karena kamu pandai memilih wanita.
Yanti itu anak yang baik, cerdas, cantik, mama malah mensupport kamu.
Bagi mama kamu telah memilih pilihan yang baik, mama senang mendengarnya, tidak melarang kamu. Urusan dia pegawai mama..?
Itu bukan alasan, mama bukan orang seperti itu, kalau itu pilihan anak mama, selama pilihannya baik, mama tidak akan melarang.
Lanjutkan saja hubungan kalian, sungguh mama senang mendengarnya..ÔÇØ
Mama memelukku senang, kak Erni makin penasaran.

ÔÇ£Eit.. eit.. tunggu dulu, kalau dengar promosi mama, kayaknya, pacarnya si jelek ini, oke punya ya, ma, gimana orangnya ma..?ÔÇØ cerocosnya lagi.

ÔÇ£Yanti itu orangnya seperti yang mama katakan tadi, Er.
Cantik, sopan, rajin, pintar, nggak banyak omong..
Pokoknya setiap orangtua akan senang menjadikannya sebagai mantu.
Prestasi kerjanya juga sangat bagus.

Memang umurnya lebih tua sedikit dari Irwan, sepantaran kamu, Er..
Tapi mama rasa itu bukan masalah kok. Heran, mama saja nggak tahu kalau si Irwan bisa-bisanya pacaran sama Yanti.
Kecolongan deh, mama, nih anak bisa saja milih barang bagus,ÔÇØ kata mama sambil becanda.

ÔÇ£Pokoknya kamu mesti kenalin dia ke kakak ya, Wan, awas kalau nggak, benjol kamu.ÔÇØ kata kak Erni lagi. Kak Erni memang jarang ke kantor mama, juga nggak terlalu familiar dengan pegawainya.

ÔÇ£Kayaknya masih sore nih, gimana kalau kamu telepon dia, Wan.
Kita ajak dia makan di luar, sekalian memuaskan rasa ingin tahu kakakmu yang bawel ini.ÔÇØ usul mama.

ÔÇ£Ngg.. gimana ya, mungkin dianya malu, maÔÇØ kataku ragu.
ÔÇ£Dicoba saja dulu.. kamu kan paling pintar merayu,ÔÇØ canda mama.

Aku segera bangun dan berjalan menjauh dan mulai meneleponnya dari HP-ku, seperti dugaanku, mula-mula Yanti tidak terlalu senang mendengar aku memproklamirkan hubungan kita.

Namun aku menerangkan alasanku, juga menambahkan, aku mau menjalani hubungan yang terbuka yang direstui oleh mamaku.

Yanti terdiam, merenungkan kata-kataku.
Lalu aku lanjutkan, aku mau mengenalkannya pada kakakku dan kami mau menjemputnya, mengajaknya makan di luar. Yanti akhirnya setuju.

ÔÇ£Gimana,Wan..??ÔÇØ tanya kak Erni antusias.
ÔÇ£Beres..,ÔÇØ jawabku sambil mengedipkan mata.
ÔÇ£Seperti kata mama, kamu memang pintar ngerayu.. heheheÔÇØ ledek kak Erni.

Akhirnya aku dan mama segera mandi dan rapi-rapi, kak Erni dan kak Indra menunggu sambil menonton TV.
Setelah semua siap, mama bilang dia mau mentraktir kami makan di restaurant X, sebuah retaurant yang cukup mahal dan berkelas, katanya untuk merayakan moment special dan bahagia hari ini, bolehlah sekali-kali dia traktir kami di tempat special.
Kami sependapat dan setuju.

Kali ini kak Indra yang menyetir, kak Erni duduk di depan menemani, aku dan mama di belakang, aku tunjukkan arah ke rumah Yanti, tidak terlalu lama kami sampai.

Aku segera turun dan tak lama aku dan Yanti keluar dari ruah, kulihat kak Erni memandang dari kaca mobil, menilai Yanti.
Setelah masuk ke mobil, kak Indra mulai menjalankan kendaraan, dia sudah tahu arah tempat yang kami tuju.

ÔÇ£So.. sore bu Susan..,ÔÇØ salam Yanti gugup ke mama.

ÔÇ£Sore Yan, aduhh, kamu jangan gugup begitu, juga nggak perlu terlalu formil, ini kan bukan di kantor, saya sudah tahu hubungan kamu sama Irwan, jadi kalau di luar kantor, panggil saja tante, nggak perlu sungkan,ÔÇØ mama mencoba mencairkan ketegangan Yanti.

ÔÇ£I-iiiyaa bu, eh tante..,ÔÇØ jawab Yanti.
ÔÇ£Ehem.. ehem..,ÔÇØ kak Erni yang bawel mulai beraksi.

ÔÇ£Oh iya, Yan, kenalin ini kakakku Erni, yang menyetir itu kak Indra, calon suaminya.ÔÇØ aku menerangkan. Kak Erni membalikkan sedikit tubuhnya dari jok depan, menjabat tangan Yanti.

ÔÇ£Erni.. kakaknya si jelek ini, namun kamu boleh panggil saya Erni, kagak usah pake kak..kak segala..,ÔÇØ kak Erni memulai perkenalan.

ÔÇ£Iya.. kak Erni, saya Yanti.ÔÇØ Yanti masih agak grogi.
Kak Indra hanya memalingkan wajah sekilas dan tersenyum ke arah Yanti, soalnya lagi nyetir.

Perjalanan agak lama, agak macet, mungkin jalanan agak penuh dengan orang yang mau jalan keluar, maklum Sabtu sore.

Suasana di mobil mulai rileks, Yanti yang walaupun sepantaran dengan kak Erni, tetap memilih memanggilnya kak Erni, menunjukkan kesopanannya.
Yani juga sudah tidak canggung lagi bercakap dengan mama.

Karena pasangan baru, maka aku hanya bisa pasrah, saat mama dan Kak Erni dengan sadis dan puas membongkar semua tingkahku saat masih kecil dan remaja.
Pokoknya suasana cukup santai dan meriah.
Akhirnya kami sampai di restaurant.
Makan malamnya sangat enak, ditambah suasana hati kami yang sedang bahagia, makin klop.

Mama bahkan melibatkan Yani membicarakan masalah perkawinan kak Erni, entahlah mungkin mama memang merasa klop dan senang dengan pilihanku.

Singkat kata acara saat itu sukses dan bisa menjadi awal yang baik sebagai moment perkenalan yanti dan keluargaku.

Di sini aku bilang perkenalan ke keluarga, karena hubungan mama dan Yanti di kantor tentu beda dengan hubungan di luar kantor.

Akhirnya setelah puas dan kenyang, kami bersiap pulang, mama meminta bon dan membayar dengan kartu kreditnya.

Kami pun pulang, mengantar Yanti, sesampainya di rumah yanti, aku bilang ke mama, aku ikut turun dan nanti pulang sendiri, mama maklum, kak Erni meledek.

Yanti lalu dengan sopan mengucapkan terimakasih dan pamit pada mama, kak Erni dan kak Indra.
Mama dan kak Erni mencium pipi Yanti. Mobil akhirnya meninggalkan kami.
Aku mengantar Yanti masuk ke dalam rumah. Yanti masuk ke dalam mengambil minuman.

ÔÇ£Terimakasih ya,Yan, hari ini aku senang sekali.ÔÇØ kataku
ÔÇ£Aku juga, Wan, walau awalnya aku agak marah karena kamu tanpa persetujuanku memproklamirkan hubungan kita, tapi sepertinya kamu benar dan aku jujur saja senang dan menikmati acara tadi.ÔÇØ

ÔÇ£Mama dan kakakku kayaknya suka sama kamu,Yan. Aku tahu pasti dari cara mereka berbicara dan bersikap padamu.ÔÇØ
ÔÇ£Syukurlah kalau mereka bisa menerimaku, Wan.ÔÇØ

Kami melanjutkan pembicaraan sambil menonton TV, ketika sudah jam 9, aku pamit pulang, naik Taxi sajalah, Yanti mau memesankan, tapi aku bilang nggak usah, aku jalan saja ke depan, sekalian melemaskan kaki.
Sebelum pulang aku kecup pipi Yanti.
Lalu Yanti mengecupku dan mencium dengan lembut bibirku, lama.

ÔÇ£Terimakasih untuk hari yang indah ini, Wan.ÔÇØ
ÔÇ£Sama-sama, Yanti sayang.ÔÇØ

ÔÇ£Ya sudah, kamu pulang, hati-hati ya, titip salam sama mama dan kakakmu, nanti kalau sudah sampai, SMS aku, yah. I Love You.ÔÇØ

Aku lalu berjalan ke arah depan, menuju gerbang kompleks, kunyalakan rokokku, Yanti tidak melarang aku merokok, karena dia tahu aku merokok tidak terlalu sering, jarang.

Sambil berjalan, aku tersenyum-senyum, hari ini sangat menyenangkan, mama mengethui dan merestui hubungan kami.
Kak Erni dengan pengumuman bahagianya, Yanti juga senang.. apalagi yang bisa kuharapkan.. hidup itu indah.

Sesampainya di rumah, sepi, lalu kulihat mama dan kak Erni sedang asik ngobrol di dekat kolam renang, nggak jelas karena lampunya dimatikan sih, biasa gosip sambil ngadem, kak Indra sudah pulang, aku SMS Yanti memberitahu aku sudah di rumah, lalu aku ke dapur bikin 3 cangkir kopi susu, lalu membawanya ke sana, ikut gabung.

ÔÇ£Nah.. nah.. Don Juan sudah pulang,ÔÇØ ledek kak Erni
ÔÇ£Hahaha.. ngeledek terus nih.. jadi gimana penilaian kak Erni.ÔÇØ

ÔÇ£Perfect.. 100% Perfect. Ya Cantik, Ya cerdas, ya sopan, juga sayang sama kamu, pilihan kamu bagus Wan, kakak sependapat sama penilaian mama. Bisa saja kamu nyari yang kayak gitu..ÔÇØ terang kak Erni. Kalau itu kata kak Erni, aku percaya, sebab kak Erni memang ahli menila orang.

ÔÇ£Irwan gitu lho..,ÔÇØ kataku lagi.

ÔÇ£Wan, kamu harus jalani hubungan kamu dengan serius, mama suka sama Yanti, kamu jangan sembarangi dia ya, mama kayaknya mulai sayang sama dia,ÔÇØ kata mama.

ÔÇ£I..iiya ma,ÔÇØjawabku singkat.

Lalu kami larut dalam obrolan, kali ini topiknya didominasi rencana menghadiri wisuda dan juga mematangkan rencana pernikahan kak Erni.

Rencananya 2 atau 3 bulan setelah diwisuda, keluarga besar kak Indra akan datang ke Jakarta, melamar kak Erni sekaligus menentukan hari pernikahan.

Kak Indra sendiri akan bekerja di Jakarta, di salahsatu Perusahaan keluarganya, juga tinggal di Jakarta, namun tidak di rumah kami, dengan uang tabungan dan ditambahi sedikit sama papanya, dia sudah membeli rumah, tidak terlalu jauh dari rumah kami kata kak Erni.
Mama bahagia mendengarnya.

Tak lama mama, bangun, ngantuk katanya dan meninggalkan kami.
Mama memang selalu begitu, kalau ada kak Erni, nggak terlalu mendominasi diriku, dia mengerti.
Kini hanya aku dan kak Erni.

ÔÇ£Kak, selamat ya.. Irwan senang akhirnya kakak Irwan yang bawel ini dapat jodoh juga..ÔÇØ
ÔÇ£Selamat tapi ngeledek gitu..ÔÇØ
ÔÇ£Nggak.. serius deh.. terus Irwan mau omongin hubungan kita..ÔÇØ
ÔÇ£Sebenarnya kakak juga mau ngomongin itu Wan, jadi kamu dengerin saja ya..ÔÇØ

Akhirnya aku diam dan bersiap mendengarkan, sejujurnya saat aku mendengar kak Erni akan menikah, aku senang dan dengan rela serta dengan kesadaranku mau mengakhiri hubungan kami, bahkan mau berbicara lebih dahulu, namun kak Erni memutuskan dia dulu yang bicara, sebuah keputusan yang akhirnya berbalik dengan rencanaku.

ÔÇØKalau untuk hubungan kita, kamu tenang saja, aku tetap merahasiakannya, hanya mama yang tahu, Indra tidak tahu..!ÔÇØ
ÔÇØTerus kak, kakak setuju kan untuk mengakhirinya..?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇØUntuk itu, kakak akan jawab.. belum..!ÔÇØ
ÔÇØA.. apa kak, belum, apa maksudnya..!?ÔÇØ

ÔÇØDengan Indra, kakak memang sayang dan cinta banget sama dia, tapi dengan kamu juga ada ikatan khusus yang sulit untuk dilepaskan, jujur saja untuk saat ini dan ke depannya, kakak belum siap mengakhiri, biarlah itu tetap berjalan, nanti mungkin kalau waktunya tiba akan berakhir dengan indah dan dengan sendirinya.ÔÇØ

ÔÇØTapi kak.. nggak bisa begitu dong, Irwan nggak enak sama kak Indra, apalagi kalau dia tahu..!ÔÇØ
ÔÇØDia tidak akan tahu. Ini sudah keputusan kakak. Kamu turuti saja kalau kamu sayang sama kakak. Kakak mau jawabanmu sekarang..ÔÇØ

ÔÇØBa.. baiklah.. jika itu mau kakak..,ÔÇØ kataku tidak terlalu yakin.
ÔÇØBagus, kakak senang mendengarnya. Tentu saja kita harus hati-hati.. itu harus.
Juga ada beberapa perubahan.. mungkin akan mengurangi kenyamananmu.

Begini Wan, sampai aku menikah, kamu bebas keluar dalam memekku, tapi setelah aku menikah, setiap berhubungan, kamu terpaksa ngeluarin di luar, sebab aku nggak akan minum pil KB lagi, aku juga mau
hamil anaknya Indra, kamu nggak keberatan kan..?ÔÇØ

ÔÇØNggak.. nggak masalah kak.ÔÇØ

ÔÇØBagus, terus terang, kakak lama memikirkan hal ini, di satu sisi kakak sayang dan cinta sama Indra yang akan jadi suami kakak, sudah lama kami menjalin hubungan, namun di sisi lain, memang kelihatannya kakak berkhianat, tapi hubungan kakak dan kamu juga memiliki ikatan khusus, kakak belum siap melepasnya..!ÔÇØ

ÔÇØYa, sudah kalau menurut kakak itu yang terbaik..!ÔÇØ
ÔÇØDi samping itu.. Wan..!ÔÇØ
ÔÇØDi samping itu, apa kak..?ÔÇØ

ÔÇØKakak sudah terlanjur doyan sama kontol kamu sih, nggak gampang melupakan enaknya disodok kontol kamu tahu.. main yuk, kakak sudah kangen nih, di sini saja.ÔÇØ

Aku langsung berdiri, sementara kakak tetap berbaring di kursi berjemur, lampu yang dimatikan membuat suasana remang, mama juga sudah di kamarnya, mau tidur.

Aku turunkan celanaku, kontolku masih tertidur, tangan kak Erni dengan terampil mulai mengelus dan memijat kontolku, membangunkannya dari tidurnya, lama kak Erni memainkan, meremas dan mengocok kontolku.

Akhirnya ia mengangkat sedikit kepalanya, masih tetap berbaring, aku juga masih berdiri, lidahnya mulai menjilati seluruh permukaan kontol dan bijiku, sesekali tangannya yang hals memijat-mijat bijiku.

Dengan rakusnya dikulumnya kontolku, gerakannya tidak terlalu cepat atau lambat, namun sangat nikmat, setiapkali kontolku bergesekan dengan bibirnya.

Sesekali kak Erni lama mengemut kepala kontolku. Emutannya terasa kuat dan memijat-mijat kontolku, tanpa sadar aku mendesah keenakan.

Lama-lama aku tidak sabar ingin beraksi juga, perlahan sambil tetap membiarkan kontolku diservice oleh mulutnya, aku duduk di pinggiran bangku tempat kak Erni berbaring, tanganku perlahan menaikkan dasternya, terlihat CD-nya..

Kupelorokan CD tersebut dan tanganku kini mulai mengelus dan memainkan bulu kemaluannya yang lebat, kubelai dan kuremas pelan, lalu jariku mulai menggosok belahan memeknya, pelan dan penuh tekanan, lama-lama belahan memek kak Erni mulai mekar dan terdengar suara cairan, mulai basah karena rangsangan jariku..

Jariku merasakan itilnya yang besar dan menonjol keluar, kugosok dan kumainkan dengan jariku, satu tanganku yang lain mulai meremas dan memainkan teteknya.

Kak Erni nampaknya mulai merasakan enak, hisapannya pada kontolku terasa makin cepat.
Sebenarnya aku ingin mulai menjilati memeknya, namun posisiku saat ini tidak begitu nyaman dan agak sulit untu melakukannya, jadi kupuaskan jariku menggerayangi itilnya.

Sesekali itilnya kujepit lembut dengan kedua jari, kugoyangkan, membuat kak Erni kelojotan dan sedikit mengangkat pantatnya.
Cukup lama kontolku dilumat oleh mulutnya, akhirnya aku merasakan sudah cukup dan kutahan gerakan kepalanya..

Kak Erni mengerti dan aku segera melepaskan pakaianku, kulepaskan pula daster kak Erni, kak Erni masih berbaring di bangku, kutarik ia agak ke bawah, aku berjongkok di depan selangkangannya, kakinya mulai ia lebarkan.. tercium aroma yang enak yang sudah aku kenal dari memeknya..

Tanpa basa-basi lidahku segera menjelajahi dan menjilati memeknya, lidhku menari dengan cepat menggoyang itilnya, sementara jari tengahku dengan lancarnya menyodok liang memeknya yang sudah basah, kak Erni kelojotan menahan nikmatnya serangan lidah dan jariku.

Mulutnya mendesah perlahan.
Aku makin terangsang mendengarnya dan meningkatkan kecepatan lidah dan jariku.
Desahan dan sesekali badannya menggeliat, namun pertahanannya masih kuat, belum mau keluar.

Cukup lama aku memainkan memeknya, akhirnya diiringi desahannya dan sedikit mengejang, tersemburlah cairan hangat dari liang memeknya.
Aku segera menghentikan aksiku.

Kak Erni bangun dan kulihat mengambil sesuatu dari meja, tidak begitu jelas karena agak remang-remang, oh rupanya baby oil.

ÔÇØWan, sodok aku dari pantat ya, sudah lama nih, tadi aku sudah bersih-bersih, biar lancar dan enak..!ÔÇØ
ÔÇØPasti, tapi aku mau nyodok memek, kak Erni dulu.ÔÇØ

Kak Erni menyerahkan baby oil padaku, lalu naik kembali ke bangku berjemur, siap dengan posisi nungging, aku segera menjilati liang pantatnya, sudah kak Erni bersihkan tadi rupanya, kutuangkan baby oil, jariku pelan-pelan mulai menerobos, melebarkan liang tersebut.

Setelah agak lama memainkan liang pantatnya, aku sengaja menuangkan baby oil agak banyak, buat nanti, sekarang aku berdiri dan kontolku sudah siap menerobos liang memeknya..

Blesss..!
Dengan sekali coba, terbenamlah kontolku, kumulai pompaanku, sedang-sedang saja, lancar dan enak. Tanganku memegang kedua sisi pantatnya.

Kusodokkan kontolku sedalam mungkin, kurasakan kepala kontolku bergesekkan dengan itilnya setiapkali dalam posisi keluar, sesekali tanganku meremas teteknya dan memilin itilnya.

Makin lama aku percepat pompaanku, desahan kak Erni makin kerap terdengar, jariku kini mulai ikut menyodok denag cepat liang pantatnya, memekarkan liang tersebut.

Disodok kedua liangnya, membuat kak Erni kewlahan dan keenakan, bibirnya terus mendesah dan sesekali pinggulnya bergoyang mengimbangi, tak perlu waktu lama akhirnya jebol juga pertahanannya, ia kembali orgasme.
Aku segera mencabut kontolku.

Kutarik perlahan tubuhnya, kini aku yang duduk, kak Erni kuposisikan dalam pangkuanku berhadapan denganku, kedua kakinya melebar sekaligus ia jaikan tumpuan, ia mengangkat pinggulnya sedikit, tangannya agak melebarkan liang pantatnya..

Aku pegang kontolku, akhirnya ia menurunkan pinggulnya dan setelah 2 kali mencoba masuklah kontolku ke liang pantatnya, agak sempit dan menjepit..
Kak Erni kini yang memegang kendali, ia mulai menaik-turunkan pinggulnya, sementara aku mulai menciumi bibirnya..

Kami saling berciuman dengan lembut dan panas, kemudian aku mulai menjilati dan mencium bulu keteknya, akhirnya mulutku dengan nyaman menghisapi putingnya, sementara kak Erni dengan konstant mempertahankan gerakan naik-turun pinggulnya.

Kini gerakan kontolku makin lancar dalam liang pantatnya, karena sudah cukup lama dan liangnya sudah mekar sempurna.

Tangan kak Erni yang tadinya memelukku, ia lepaskan dan kini mulai memainkan itilnya sendiri.
Aku masih tetap asik mengemuti dan menghisapi putingnya, kini aku hanya
menikmati, karena kak Ernilah yang pegang kendali.
Sesekali kudengar desahannya.

Permainan kali ini memang santai dan aku benar-benar menikmati, entah berapa lama liang pantat itu sudah diaduk-aduk sama kontolku..

Ketika kurasakan aku mendekati klimaksku, sementara kak Erni juga memperlihatkan gejala yang sama, mata kami bertatapan, saling mengerti, kucium bibirnya dengan ganas dan dengan goyangannya yang terakhir, kami sama-sama menggapai puncak.
Lemas terdiam menikmati sensasi kenikmatan ini bersama.

Setelah lama terdiam, tanpa bersuara kami mengambil pakaian kami dan berjalan menuju ke dalam rumah, kak Erni menarikku ke arah kamarnya, belum puas rupanya dia, masih kepingin memeknya digarap.

Akhirnya malam itu kugarap memeknya 2 ronde lagi, baru dia puas dan terlelap, kulihat ia tertidur dengan senyum puas, masih tanpa busana, kututupi tubuhnya dengan selimut, mungkin ia capek, hari ini kan ia juga baru datang dari Bandung.

Kulirik jam, masih jam 3 kurang, aku keluar dari kamar, ke kamar mandi mencuci kontolku, lalu hanya mengenakan celana pendek, aku ke dapur, mengambil gelas dan minum susu botol dari kulkas sambil merokok.

Ya, kalau memang akhirnya kak Erni sendiri yang tetap mau melanjutkan tidak masalah, toh tidak ada ruginya bagiku, kami hanya perlu berhati-hati saja dan aku hanya perlu berkorban sedikit yaitu saat keluar, aku keluarnya di luar memeknya.

Tidak terlalu masalah.
Akhirnya rokokku habis, aku rapikan asbak dan gelas, lalu mematikan lampu dan melangkah menuju tangga, ke kamar mamaku, kasihan mama, belum mendapat jatah, lagian aku masih kuat dan masih mau.

Waktu memang berjalan seperti terbang saja, tak terasa 3 bulan berlalu sejak kak Erni dan kak Indra datang tersebut dan kini aku dan mama duduk bersama opa dan oma menghadiri wisuda kak Erni.

Kak Indra bersama Orangtuanya juga hadir.
Sebenarnya Yanti juga diajak ikut, namun berhalangan hadir, karena harus pulang ke Semarang.
Mama nampak terharu saat melihat kak Erni dengan baju toganya.

Kak Erni nampak cantik dan berbahaga saat itu.
Setelah upacara dan berbagai sambutan serta penyerahan ijazah selesai, kami foto-foto dan kemudian kami menuju rumah opa dan oma.

Rencananya makan-makan syukuran, juga mungkin orangtua kak Indra akan sedikit membicarakan masalah lamaran, soft opening gitu.. membahas dan mematangkan rencana.
Aku mendengarkan sambil sesekali berbalas
SMS dengan Yanti.

Oh ya, akhirnya hubunganku dengan Yanti memang sudah diketahui oleh orang-orang di kantor. Sebenarnya sih bukan karena kami, ini karena mama, mama tanpa sengaja kelepasanÔÇÖ bicara sama sekretarisnya.

ÔÇÖKelepasanÔÇÖ, yang aku sendiri curiga, karena aku tahu tidak biasanya mama seperti itu.
Mungkin mama sangat senang dan sreg dengan hubunganku dan Yanti, sehingga mau orang tahu, juga menghentikan usaha pegawai wanita lain yang mau memacariku.

Bukannya GeEr, seperti kata Yanti dulu, memang akhirnya sedikit banyak ada suara sumbang menanyakan motivasi Yanti memacariku, banyak suara negatif, aku yang mendengarnya sampai kesal, tapi Yantinya sabar dan juga memang beberapa karyawati yang dulu suka genit padaku kini mulai menebarkan pandangan setajam silet setiap melihat Yanti..

Makanya mungkin mama sengaja ÔÇÖKelepasanÔÇÖ bicara, biar semua tahu, paling heboh di awalnya, lama-lama juga adem.

Kalau ada banyak yang negatif, banyak juga yang setuju, menurut mereka karakter Yanti sesuai dan seirama dengan aku.
Pak Budi sebagai atasan Yanti paling antusias.
Namun kami tetap proffessional, uruan kerja ya jalan terus.

Memang kini kuliahku sudah mendekati tingkat akhir, mungkin setahun lebih lagi kelar, nilai IP-ku sangat bagus, mungkin termotivasi oleh perhatian Yanti.

Dosen pembimbingku sampai bilang aku harus mengambil S2 kalau memang ada biaya dan waktu. Belum aku pikirkan.

Yanti sudah memberitahu orangtuanya perihal hubungannya denganku, Pak Suryo, ayahnya yang kenal mama karena dulu mama sering bertemu bisnis dengannya saat masih menjabat kepala cabang bank, senang sekali.

Dia bilang ke Yanti, Bu Susan, mamaku adalah orang yang baik, sopan dan ramah, serta mempunyai kemampuan bisnis yang baik, walau belum pernah ketemu sama aku, namun ia yakin aku mempunyai karakter seperti mamaku.
Kata Yanti ayahnya sangat senang.
Hubunganku sendiri dengan Yanti makin dekat dan kami makin mengenal karakter masing-masing.

Untuk level hubungan, sudah ada peningkatan, bila dulu Yanti masih suka menepis halus, namun kini mulai membiarkan aku sesekali membelai atau meremas teteknya saat aku menciumnya.

Teteknya besar juga ukurannya, walau meremas dari balik bajunya, namun aku merasakan ukurannya yang besar.
Tapi memang baru sebatas aku dulu, yanti sendiri belum berinisiatif menjamah bagian tubuhku.
Biarlah, bagiku Yanti special, apapun akan aku tunggu, sampai waktunya tiba.

Kak Erni akhirnya pulang ke Jakarta, sudah ditetapkan 2 bulan sesudah wisudanya, hari, tanggal baik sudah didapat untuk acara lamaran dan penetapan pernikahan.

Selama masa menunggu kak Erni memilih di Jakarta, menambah tugas malamku di rumah hehehe. Sesekali kalau bosan, kak Erni ikut main ke kantor.

Kini aku tidak mendominasi Yanti sendirian, kadang mama dan kak Erni mengajak pergi bareng, belanja, salon, urusan perempuan deh..

Yanti juga sering main ke rumah, nampaknya hubungannya dengan mama dan kak Erni makin akrab dan cocok, mama juga makin sayang sama Yanti.

Mama bahkan memaksa Yanti untuk ikut ke tukang jahit guna menjahit seragam yang dipakai oleh pihak keluarga untuk acara lamaran tadi.
Sebuah tanda dan pengakuan lanjutan betapa mama menerima Yanti.

Tante Ani juga sudah aku kenalkan kepada Yanti, kesannya juga sama, nampaknya semua menyukai dan menerima Yanti.

Sudah 2 hari ini rumah kami ramai, seluruh keluarga besar berkumpul, besok acara lamaran kak Erni. Opa dan oma menginap di rumahku juga keluarga yang lain, sedang keluarga yang tidak tertampung menginap di rumah tante Rika.

Yanti ikut menginap di rumah.
Memang karena ramai otomatis aku ÔÇÖliburÔÇÖ, tapi tak apa, demi kebahagiaan kak Erni.
Opa dan Oma sangat senang dengan Yanti, Yanti memang pandai membawa diri. Baru kenal sebentar, opa dan omaku langsung jatuh hati padanya.

Demikian juga dengan tante dan Omku yang lain, kini sudah kenal dan suka sama Yanti.
Pendeknya untuk berbaur, Yanti sangat-sangat sukses.

Suasana sangat ramai dan sibuk, mama menyewa perlengkapan pesta, tenda, catering, namun tetap memasak dibantu keluarganya untuk makanan pasukan yang menginap ini.

Sehari sebelum acara kak Erni rada tegang, opa yang sayang sekali padanya memberi wejangan di depan seluruh keluarga.
Di akhir wejangan opa bercanda dan berharap agar aku dan Yanti segera meyusul kak Erni secepatnya, mumpung opa masih hidup, semua ketawa dan wajah Yanti merona merah.

Akhirnya acaranya sendiri berlangsung dengan khidmat dan sukses, keluarga besar kak Indra datang membawa berbagai macam bingkisan yang biasanya menyertai acara lamaran, kak Indra nampak tegang tapi juga keren dengan pakaian adatnya.

Oh ya, Om Dedi dan Tante Rika juga datang, sebagai perwakilan keluarga Papa..
ÔÇôTentu saja Tante Vera tidak diundang, Blacklistnya mamaÔÇô.

Serangakaian mata acara dilewati, opa mewakili pihak keluarga menerima lamaran.
Setelah berembuk, berbincang, menimbang dan menimbang lagi dengan seksama, akhirnya diputuskan untuk menggelar acara pernikahannya sebulan lagi, hari dan tanggal sekian.

Karena kak Erni dan kak Indra banyak beredar di Bandung, maka semua sepakat acara resepsi akan dilakukan sekali saja di Bandung.
Adatnya adat Sunda.

Nampaknya memang keluarga besar kak Indra memang mempersiapkan diri dengan baik dan matang, kulihat beberapa kerabatnya menelepon dan tak lama dipastikan gedung untuk acara resepsi siap dan tersedia untuk dipakai pada saat tersebut, nampaknya sudah dibooking dengan ancer-ancer tanggal tersebut pikirku.

Setelah melewati rangkaian acara dan juga serangkaian wejangan dengan bahasa Sunda dan juga membahas detail lainnya, akhirnya acara selesai dan dilanjutkan dengan acara makan-makan dan ramah tamah, aku dan Yanti memberi selamat dan memeluk kak Erni dan kak Indra.
Keluarga yang lain juga.

Mama kulihat matanya masih sembab, bahagia karena putrinya kan segera menikah.
Akhirnya acara selesai dengan lancar dan sukses.

Keluarga besar kami mulai kembali ke rumahnya esok harinya, opa dan oma memutuskan menginap 2 minggu lagi, menghabiskan waktu menemani cucu kesayangannya, rencananya nanti akan balik ke Bandung bersama kak Erni, mama, aku dan Yanti akan menyusul seminggu sbelum hari-H.

Untuk meminimalkan suara negatif, tentunya Yanti mengambil cuti yang jadi haknya.
Selama opa dan oma menginap, aku banyak ÔÇÖliburÔÇÖ, kalaupun mau, aku menggarap mama di ruangannya di kantor.

Sedang kak Erni karena kepingin akhirnya main di hotel bersamaku.
Kami berhati-hati menjaga rahasia ini.

Oh ya untuk acara pernikahan kak Erni, mama begitu mendapatkan kepastian tanggal dan harinya segera menyuruh sekretarisnya untuk membooking 20 kamar hotel dekat gedung acara buat 3 hari, Jumat sore sampai Senin Siang, untung bisa dapat di satu hotel, discount lumayan, karena pesan banyak dan 3 hari..

Bukan kenapa.. sebab cukup banyak keluarga besar yang akan datang, bahkan yang tak sempat datang saat acara lamaran.
Yanti bahkan mengabarkan bahwa orangtuanya akan datang, mama senang, sedang aku rada tegang, maklum pertamakali mau ketemu calon mertua nih.
Mama segera memesankan satu kamar yang kelasnya lebih baik buat mereka.

Untuk urusan resepsi memang dikoordinir keluarga kak Indra, mereka yang menentukan semuanya, termasuk membeli bahan seragam keluarga.
Kami tidak terlalu sibuk sebenarnya.

Seminggu sebelum hari H, aku, mama dan Yanti sudah di Bandung, karena belum terlalu sibuk, maka aku dan Yanti dan kak Erni ÔÇômaksa ikutÔÇô, menghabiskan awal-awal kedatangan kami jalan-jalan keliling Bandung dan sekitarnya.

Baru 3 hari menjelang hari H, keluarga besar berdatangan, seperti reuni saja, untung mama memesan kamar buat mereka.

Orangtua Yanti datang malam harinya, naik kereta api, aku dan Yanti menjemput mereka, aku memberi salam hormat, keduanya menerima slamku dan mengamatiku, sepertinya menilai aku, tampak wajah keduanya puas.

Kami segera menuju hotel, mama menyambut mereka, namun tidak bisa berbicara terlalu lama, karena sibuk dan banyaknya anggota keluarga yang harus diurus, mereka maklum.

Mereka kemudian istirahat, rencananya nanti kami semua akan ke rumah opa dan oma, ada acara adat, aku tidak begitu paham.
Setelah acara selesai, aku pamit pada mama, mengajak Yanti dan kedua orangtuanya makan di luar sambil keliling Bandung. Mereka nampak senang dan nyambung berbicara denganku.

Akhirnya kami tiba di restorant yang kupilih, tidak terlalu ramai.
ÔÇØWan, Om senang kamu serius menjalani hubunganmu dengan Yanti..!ÔÇØ
ÔÇØIya, Om..!ÔÇØ

ÔÇØOm sudah Yanti beritahu, kamu lebih muda darinya, bagi Om itu tidak masalah.
Yang penting kalian menjalani hubungan ini dengan bertanggungjawab, apalagi Yanti sendirian di Jakarta, jangan bikin malu Om.ÔÇØ

ÔÇØBa..baik Om, Irwan selalu berusaha..!ÔÇØ jawabku. Ibu Yanti ikut bicara.

ÔÇØSenang juga melihat acara kakakmu, kami jadi bisa tahu seperti apa resepsi cara Sunda itu, mudah-mudahan kalian bisa segera menyusul, tante sudah ingin menimang cucu.ÔÇØ

ÔÇØIdiihh mama.. apaan sih, Yanti jadi malu nih.ÔÇØ

Kami pun tertawa bersama dan melewati malam itu dengan santai dan akrab, sedikit banyak akhirnya keteganganku cair dan aku tidak canggung lagi.
Kami pulang tak lama kemudian, karena besok akan sibuk.

Sesampainya di sana, Yanti tidur bersama di kamar orangtuanya, mungkin sekalian ngobrol melepas kangen, aku..?

Tidur bareng sepupu dan saudara lainnya yang sebaya, bukannya tidur malah ngobrol dan banyak becanda, untung sekeliling kamar kami, keluarga lain jadi tidak menimbulkan komplain, memang suah diperhitungkan pihak hotel.
Baru jam 3an akhirnya kami tertidur.
——————–

Esoknya, pagi-pagi benar, rasanya belum puas tidur, kami sudah dipaksa bangun, salah sendiri sih kenapa kami tidurnya sudah mau pagi, rapi-rapi, berdandan dan sarapan.

Sebelum Jam 9 harus sudah rapi, aku masih ada tugas tambahan menjemput opa dan omaku.
Jam 10 acara akad nikah kak Erni, kebetulan dekat mesjid di samping gedung resepsi.
Resepsinya jam 1 siang sampai kelar. Mama akan di pelaminan bersama opa.

Semua beres, kini acara ijab kabul, khidmat penuh keharuan, mama menangis saat kak Erni dan kak Indra meminta restu dan mencium tangannya, aku juga senang dan haru.

Akhirnya kakakku yang aku sayang dan cintai ini menikah dan menemukan pelabuhan hatinya, aku peluk dan kecup pipinya, bahagia.
Kak Erni juga memelukku.

Sesudah acara haru biri kelar, kami beristirahat dan bersiap ganti kostum untuk resepsi.
Resepsinya meriah dan besar, keluarga kak Indra termasuk terpandang di Bandung, juga kerabat opa dan oma banyak yang hadir.

Akhirnya sekitar jam 4 acara selesai, kami keluarga masih berkumpul, melepas lelah.
Jam 7 kami sudah di hotel, kak Erni akan merbulan madu dahulu ke Eropa, dapat hadiah dari relasi papanya Kak Indra.
Nanti jam 9 aku akan mengantar Yanti dan kedua orangtuanya ke stasiun, Yanti akan ke Jakarta duluan ditemani keduanya.

Akhirnya mereka siap berangkat, mencari mama, pamit, mama minta maaf kalau selama kedatangan mereka kurang bisa menemani, karena sibuk.

Kuantar mereka, Om Suryo bilang agar mampir ke rumah kalau aku sudah di Jakarta, beliau akan di Jakarta 2 mingguan, aku iyakan.
Setelah menunggu, kereta tiba, mereka segera naik. Aku kembali ke hotel.

Esoknya anggota keluarga besar kami mulai pamit dan pulang, mama dan aku juga menginap sehari lagi di rumah opa dan oma, tidak kepikiran buat begituan, masih capek, jadi istirahat dulu.

Baru esoknya pagi-pagi kami ke Jakarta, belum siang sudah sampai di Jakarta, mama tidak ngantor, cuma istirahat sebentar, aku yang sudah pulih segera memuaskan rasa hausku, segera melumat dan menggarap mama habis-habisan.

Mama juga tidak menolak, sudah pulih staminanya dan juga sudah gatel minta disodok memeknya, akhirnya sepanjang hari itu kami habiskan memacu birahi kami.
Benar-benar menyalurkan hasrat. Tak terhitung berapa kali aku keluar dalam liang memeknya.

Malamnya, kami lemes tapi segar secara batin, siap memulai kembali rutinitas esok hari.
Untuk penutupan sebelum tidur, kontolku bangun lagi melihat kaki mama yang mengangkang memperlihatkan memeknya, kami bermain dulu seronde saja, baru kami tidur dengan pulas dan nikmat. Besoknya mama kerja, sedang aku ke kampus dahulu.

Ternyata orangtua Yanti itu tipenya tipe yang gaul dan enak diajak komunikasi, kini aku sama sekali tak canggung dan merasa akrab tiapkali bertemu mereka saat aku berkunjung ke rumah Yanti.

Pak Suryo sangat senang padaku, mungkin karena tidak punya anak lelaki, adik Yanti juga perempuan. Dalam satu kesempatan dia berkata, hidup ini memang aneh dan tak bisa ditebak..

Dulu ia kenal mama, karena Perusahaan mama sering berhubungan dengan cabang bank yang ia kepalai, ia meminta kesediaan mama menerima anaknya, Yanti yang perlu magang untuk skripsi, akhirnya malah Yanti ditarik kerja di

Perusahaan mama dan kini tanpa bisa diduga malah menjalin hubungan denganku.
Katanya lagi, saat pensiun ia memutuskan meneruskan dan mengembangkan usaha keluarganya dulu di Semarang, pabrik penganan kecil-kecilan..

Ia benahi managementnya dan menambah modal untuk mesin dan tempat, kini usaha tersebut telah berkembang, tadinya ia berniat menarik Yanti ke Semarang
untuk mengelola bersama, namun nampaknya Yanti kerasan hidup dan bekerja di Jakarta.

Sambil tersenyum ia bilang, kini mungkin lebih kerasan lagi, aku hanya nyengir saja.
Setelah 2 minggu di Jakarta akhirnya mereka pulang ke Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*