Home » Cerita Seks Mama Anak » Rasti Ibu Binal 13

Rasti Ibu Binal 13

Cerita Sebelumnya : Rasti Ibu Binal 12

Episode 13

Berita ditahannya Norman membuat Rasti shock dan sedih bukan kepalang. Betapapun bengalnya, Norman adalah putranya juga. Rasti menjadi lebih tegang lagi ketika tahu penyebabnya adalah kekerasan yang terjadi di kompleksnya sendiri. Hari itu suasana ceria berubah menjadi serba canggung dan kelam. Teman-teman Tedi merasa tidak enak, mereka pun tahu diri dan segera pamit, sementara Rasti dan Tedi bersiap-siap hendak pergi ke kantor polisi.

Di kantor polisi, Rasti dan Tedi mendapat informasi lebih lanjut. Teman-teman Norman menganiaya seorang satpam di kawasan kompleks tempat tinggal Rasti. Dan kejadiannya adalah dini hari menjelang fajar tadi setelah mereka meninggalkan rumah Rasti. Saat mereka hendak meninggalkan komplek, tampaknya salah seorang dari mereka ditegur oleh satpam komplek. Entah apa masalahnya, yang jelas teman Norman itu tidak terima, begitu juga teman-temannya yang lainnya. Akhirnya satpam itu dikeroyok 9 teman Norman sampai luka parah dan masuk ICU.

Bagaimana dengan Norman? Norman sendiri sebenarnya mengaku tidak ikut menganiaya, dan Rasti percaya. Kepercayaan Rasti ini bukan semata pembelaan buta seorang ibu pada anaknya secara emosional, tapi memang Rasti tahu bahwa Norman sendiri kenal baik pada satpam di komplek ini. Norman sering nongkrong bareng mereka di pos, merokok bareng, main catur, dan sebagainya. Jadi sulit dipercaya kalau Norman ikut menganiaya. Tapi apa daya, semua yang ada waktu itu diciduk, dan demi solidaritas, Norman merasa tidak nyaman jika dia mengelak sendiri.

Masalah ini kemudian berkembang di hari-hari berikutnya. Tidak hanya berhenti di Norman saja, tapi lebih runyam lagi bagi Rasti.Keberadaan Rasti di komplek perumahan itu jelas disorot lagi oleh penduduk sekitar. Dari yang paling benci, yang cuma nyinyir-nyinyir, sampai yang sekedar komentar. Semuanya bicara. Intinya Rasti dipergunjingkan. Dan semodern dan sebebas-bebasnya masyarakat di situ, sejauh ini yang ada paling pol hanyalah pembiaran. Bukan pembenaran, apalagi pembelaan. Selama ini Rasti mawas diri dan merasa cukup dengan sekedar pembiaran. Tapi kini, pembiaran yang sebenarnya tidak gratis itupun mulai hilang. Suara-suara sinis lebih sering terdengar, terlebih yang nyata-nyata membencinya, suaranya jelas yang paling lantang.

ÔÇ£Ibunya lonte, anaknya preman! Sampah masyarakat! Udah usir saja, kalo perlu penjara sekalian ibunya!ÔÇØ
ÔÇ£Tadinya sih gue cuek aja, tapi kalo udah nimbulin rusuh ya ga bisa dibiarin!ÔÇØ
ÔÇ£Namanya juga lonte, gimana diarepin bisa ndidik anak dengan benerÔÇØ
ÔÇ£Sekarang pengeroyokan, bisa jadi besok-besok ngerampok. Siapa yang bisa jamin besok rumah kita aman? Satpamnya aja dipukulin! Gila gak tuh?ÔÇØ
Semua suara-suara miring itu kali ini benar-benar tidak bisa dibendung. Rasti benar-benar tertekan dan sedih. Apakah dirinya sesalah itu?? Begitu hinakah dirinya menjadi seorang lonte??

Proses pengadilan dan pra penahanan Norman benar-benar melelahkan dan penuh tekanan. Tapi semua Rasti lalui dengan tabah dan sabar. Tentu dengan Tedi yang selalu mendampingi di sisinya. Pada akhirnya jatuhlah vonis pada Norman dan semua teman-teman gengnya. Ya, kasusnya berkembang hingga menyeret seluruh anggota geng yang diikuti Norman. Agaknya geng itu sudah memiliki banyak catatan kriminal dan menjadi target operasi. Berakhirnya proses ini cukup melegakan Rasti, meski dia tetap sedih karna Norman harus menjalani hukuman selama 3 tahun. Sebenarnya, Norman termasuk di bawah umur. Dalam aturan hukum banyak keringanan yang bisa didapatkan oleh Norman. Banyak proses yang bisa ditempuh Rasti untuk mengupayakan itu, dan Rasti pun menempuhnya demi Norman. Tapi pada akhirnya semua proses itu malah membuat perasaan Rasti makin tersiksa. Jelas keluarga Rasti bukanlah keluarga normal. Rasti adalah seorang lonte. Pelacur. Norman dan semua anak-anaknya lahir tidak jelas dan dibesarkan tanpa sosok seorang ayah. Rasti tidak punya pendidikan, dan dia pun tidak bisa mendidik Norman dengan baik, sampai Norman ikut geng dan melakukan premanisme. Dan sebagainya dan seterusnya. Intinya, semua cerita tentang Rasti yang melingkupi kondisi Norman saat itu membuat semua proses yang ditempuh Rasti menemui jalan buntu. Sudah begitu, kondisi Rasti malah makin terekspos dan Rasti makin dihujani dengan cibiran, caci maki dan hujatan-hujatan.

Rasti benar-benar terpuruk saat itu.
Untuk sementara waktu Rasti memutuskan untuk berhenti menerima tamu. Tedi juga melarang Riko, Romi dan Jaka untuk main ke rumahnya dulu untuk sementara waktu. Tentu ini berat bagi mereka, tapi mau bagaimana lagi, situasi memang tidak memungkinkan juga bagi mereka untuk terus mengharapkan kesenangan dari Rasti yang kini sedang dirundung duka dan masalah.

***

Hari demi hari berlalu, bagaimanapun Rasti tidak ingin terus menerus sedih dan terpuruk. Dengan dihibur Tedi dan juga melewati hari demi hari dengan lebih dekat pada anak-anaknya yang lain, sedikit demi sedikit Rasti pulih dan bisa ceria lagi. Meski begitu, Rasti memilih menghabiskan waktu selanjutnya bersama keluarganya saja untuk sementara waktu. Ya, Rasti masih tidak menerima tamu hidung belang. Riko, Romi dan Jaka pun masih dilarang Tedi untuk datang. Meskipun sebenarnya Rasti tidak keberatan dengan mereka ini. Bahkan Rasti pun sempat kangen dan menanyakannya pada Tedi.

ÔÇ£Temen-temenmu kok ga pernah main lagi sayang?ÔÇØ
Emang Tedi suruh jangan main dulu ma
Lho emangnya kenapa sayang? Mama ga apa-apa kok
Ah mereka itu main ke sini ntar paling cuman pingin ngecengin Mama aja
ÔÇ£Hi hi hiÔǪ jangan gitu sayang, Mama yakin kok mereka anak-anak baik kok, bisa lihat-lihat kondisiÔǪ Lagian mama juga suka kok dikecengin, he he he…Tingkah mereka itu jadi hiburan juga lho buat MamaÔǪÔÇØ
Yaa ntar deh coba Tedi tanya Kalo mereka mau main nanti Tedi biarin
Iyaa disuruh main aja sayang, mama sudah ga apa apa kok

Beberapa hari kemudian Rasti minta diantar Tedi dengan mobilnya untuk menengok Norman ke penjara. Di penjara, Rasti dan Norman bercakap-cakap di suatu ruangan yang memisahkan antara pengunjung dan tahanan. Penjara atau lapas ini adalah bangunan baru yang sebenarnya diperuntukkan sebagai lapas khusus pelaku kriminal di bawah umur, alias anak-anak. Tapi sistem hukum yang masih kacau, dan juga fasilitas Negara yang masih terbatas, membuat lapas yang tidak terlalu besar ini dihuni tahanan-tahanan yang dewasa juga.

Sejak ketemu, Rasti langsung menyadari sesuatu yang lain di wajah Norman. Ada sedikit lebam di pipi kirinya. Jelas Rasti langsung panik. Ia langsung menanyakan apa yang terjadi. Norman pun curhat bahwa di awal memang sempat ada pembully-an. Ia dimasukkan ke dalam sel bersama dengan 4 orang napi dewasa yang sudah mendekam di sana paling sebentar satu tahun. Sebagai anak baru, wajar Norman dibully. Tapi Norman menyuruh Mamanya tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu. Meski begitu tetap saja Rasti gusar, ia beralih menanyai kabar anaknya itu, kesehatannya, makan teratur atau tidak, kesehariannya di sana, dan sebagainya, layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan putranya. Norman menjawab semua pertanyaan itu sekenanya saja. Terlihat sekali ia juga sedang risau akan suatu hal. Rasti pun jadi mengungkit soal pembully-an itu.

Iya kan keliatan banget kamu pasti tertekan di dalam sana Walau wajar ya tetep ga bisa dibiarin kalo bullynya sampai pake kekerasan fisik begitu!
Yaelah Ma, namanya juga di penjara ini bukan sekolahan Ma
Tapi kan kamu bisa lapor, Mama juga akan bantu ngurusin hal ini ke sipir Pokoknya Mama akan ngelakuin apapun
Udah Ma, semua bisa Norman atasi kok
Ah, tapi keliatan banget tu kamunya

ÔÇ£Soal bully, Norman sudah atasi, pokoknya Norman ga bakal dibully lagi. Sekarang tu Norman kepikirannya sama hal lain!ÔÇØ
ÔÇ£Kok bisa? Ngatasin gimana maksudnya? Trus kamu punya masalah lain apa?ÔÇØ
Ya caranya ada aja deh, nanti Mama juga tahu sendiri Ini ada kaitannya sama masalah Norman itu.
ÔÇ£Iya, kamu kepikiran apa sayang?ÔÇØ
Menurut Mama apa? Ya Norman kangen sama Mama!

Terdiam sejenak Rasti mendengar jawaban Norman. Wajahnya langsung tersipu. Pipinya merona merah, membuat Norman makin gemas memandanginya. Duuh kamu ini Ya iyalah, Mama juga kangen kamu sayang, tapi ya gimana lagi kan Ma
ÔÇ£Norman kangen, pingin ngentot!ÔÇØ Ujar Norman memutus kata-kata Rasti.
Terdiam lagi Rasti mendengar kata-kata anaknya itu. Kali ini agak kaget juga, Rasti gugup menengok kanan-kirinya takut ada yang mendengar. Ia benar-benar tidak menyangka Norman akan mengucapkan kalimat sevulgar itu. Rasti berpaling ke Norman lagi. Wajahnya tambah memerah.

Iih, kamu ini kok sempat-sempatnya mikir gituan sih? Dasar.
Yaelah Ma, justru itu satu-satunya hal yang paling Norman pikirin sejak Norman ditahan. Norman ga takut sama penjara, tapi takut ga bisa ngentot sama mama lagi! Seminggu aja gak ngentotin Mama, Norman pusing Apalagi kalau harus bertahun-tahun!
Rasti jadi salah tingkah. Sekali lagi dia tengok kanan kiri. Udah ah jangan ngomongin itu
Iya Ma, Norman juga ga mau ngomongin itu. Norman maunya langsung ngentot aja, yuk
Sayang Bercandanya jangan gitu ah
ÔÇ£Mama gak kangen sama Norman?ÔÇØ

ÔÇ£Iih kamuÔǪ Iya deh sayang, mama juga kangen kok, tapi kan salahmu sendiri. Lagian bukannya ga bisa seterusnya kan? Nanti kalo kamu udah bebas kan bisa ‘gituan’ lagi sama mama…Ya udah deh sekarang kamu puasa kayak abangmuÔǪ Nunggu umurmu 18 tahun yah? He he heÔǪÔÇØ Akhirnya Rasti terbawa obrolan Norman, tapi belum berani mengucapkan ngentot dengan vulgar. Rasti benar-benar mengira Norman bercanda sampai kemudian Norman menegaskan dia tidak sedang bercanda. Ya, Norman benar-benar serius minta ngentot! Jelas Rasti bingung, mana mungkin mereka bisa melakukan hal seperti itu di sini.

Tedi yang sejak tadi duduk di kursi tunggu dan tidak ikut ngobrol, kini melihat gelagat Mamanya yang berubah. Penasaran tentang apa yang diobrolkan Mama dan adiknya itu, dia pun berdiri dan mendekati Rasti. Walhasil dia jadi ikut mendengar hal di luar dugaan yang dijelaskan Norman kepada Rasti. Ternyata Norman sudah mengaturnya. Dia sudah kong kali kong dengan beberapa petugas penjaga lapas. Ada ruangan khusus yang bisa dipakai untuk melakukan ÔÇÿituÔÇÖ. Dan hal itu memang sudah biasa di dalam penjara. Tapi untuk mengakses itu memang tidak gratis. Imbalannya? Awalnya memang uang yang diminta. Tapi begitu Norman menunjukkan foto Rasti pada penjaga, kompromi pun terjadi. Ya, apa lagi kalau bukan Norman menawarkan Rasti pada mereka? Dan jelas mereka mau! Ya, Norman sudah menjanjikan para sipir dan penjaga di sana untuk bisa ikut ÔÇÿnyicipinÔÇÖ mamanya itu. Rasti hanya tertegun saja mendengar semua cerita Norman. Apalagi ternyata Norman belum selesai. Ia lalu melanjutkan, ÔÇ£Sama teman-teman sel Norman juga Ma… Tadi kan Norman udah bilang, soal bully Norman udah atasin. Makanya kan ini ada hubungannya juga sama itu, jadiÔǪ Asal Mama mau, Norman ga bakal dibully lagi deh sama mereka.ÔÇØ

Rasti menelan ludah mendengar penjelasan terakhir Norman ini. Ya Rasti tahu arah pembicaraannya. Benar-benar tidak masuk akal. Rasti benar-benar gusar, bagaimana Norman bisa mengatakan semua itu dengan tenang dan datar, seolah itu hal yang biasa saja. Menawarkan Mamanya sendiri pada sipir penjara dan para napi!

Kamu bercanda kan sayang? Ucap Rasti masih tak percaya. Tedi sendiri di belakang Rasti jelas tidak habis pikir dengan apa yang barusan diceritakan adiknya. Lo ga usah aneh-aneh deh Man Hardiknya kesal.
Yee abang, gue serius. Lo sih ga tau rasanya di dalem sini. Norman serius Ma!
ÔÇ£Jangan Ma…ÔÇØ Bisik Tedi. Rasti sendiri terlihat bimbang dan ragu. Sekali lagi dia tengok kanan-kiri, melirik ke dalam melihat petugas yang berjaga di balik pintu. Ternyata penjaga itu mengawasinya dari tadi. Dia tersenyum cabul memandangi Rasti, satu tangannya diangkat, tangan itu seolah sedang menggenggam sesuatu yang kemudian dimasukkan ke mulutnya, lalu lidahnya mendorong dinding pipinya dari dalam sehingga dari luar pipinya terlihat menggembung seolah benda yang digenggam tangannya itulah yang mendorong pipinya. Ya, penjaga itu memperagakan adegan blowjob dan menunjukkannya pada Rasti! Darah Rasti langsung berdesir melihatnya. Wajah ayunya merah padam malu, jantungnya berdebar. Gugup.

Ka Kamu yakin sayang? Beneran bisa begitu? Rasti malah bertanya lagi ke Norman. Selain karena masih ragu untuk melakukan hal seperti itu di sini, dia juga tidak percaya kalau Norman bisa bersepakat seperti itu dengan para penjaga.
Rasti menggenggam tangan Tedi yang masih terlihat sangat gusar. Dari sentuhannya Tedi mengerti Mamanya ingin ia menahan diri dari memarahi Norman. Tedi pun ngalah seperti yang sudah-sudah.

Iya Ma ayuk dong Norman kangen nih ngentotin mama, hehe
Mama juga kangen sih. Tapi, duh masa di sini sih sayang? Sekarang?
ÔÇ£Iya sekarang, tapi gak di sini MaÔÇØ
ÔÇ£Terus?ÔÇØ
ÔÇ£Mama mau lihat tempatnya Norman nggak?ÔÇØ
Hah? Maksud kamu mama ikut kamu ke
Hehe, ayo dong ma ucap Norman bangkit dari tempat duduknya lalu mengedipkan matanya pada penjaga di sana. Penjaga itu tersenyum dan berjalan menghampiri Rasti. Ayo non Bisik penjaga itu sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Rasti terlihat gugup. Eehh bentar bentar ucapnya, lalu menarik Tedi menjauh dan mengajaknya duduk di kursi tunggu. Penjaga itu membiarkannya saja. Dia dan Norman saling tersenyum dan memberi kode. Norman pun lalu berlalu, kembali ke selnya dengan diantar seorang penjaga.

Mmm Sayang Bisik Rasti pada Tedi. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi bingung. Tedi sendiri masih terlihat gusar menunggu apa yang hendak dikatakan Rasti. Dia tahu mamanya itu cenderung pada memenuhi keinginan Norman lagi.
Kamu marah ya kalau Mama turutin adekmu lagi? Tanya Rasti.
Tedi membisu. Bingung dia harus menjawab sesuatu yang seharusnya sudah jelas. Tapi raut wajah Mamanya membuat Tedi trenyuh.
Maafin Mama ya sayang, kalau perlakuan Mama ke kalian beda. Kamu pasti kesal sekali ya sama Mama Sama adikmu Mama ga pernah bisa tegas ke Norman. Mama kasih Norman apa aja yang dia mau Mama nggak adil, pilih kasih
Stop Ma Jangan ngomong gitu

Mama sungguh nggak tahu sayang, yang jelas Mama sayang sama kalian semuanya tanpa kecuali! Mama ga tahu Mama memang ga pintar ngurusin anak Maafin Mama sayang
Tedi sungguh menangkap raut wajah Mamanya yang kalut. Udah Ma, kalo mau, masuk sana Bagaimanapun juga Tedi tetap kesal dan ketus. Sikap Tedi ini membuat Rasti makin bimbang. Dia hendak menjelaskan alasannya, betapa Norman dibully dan dipukuli di dalam sana, tapi Rasti sendiri sebenarnya tidak yakin dengan motivasinya. Apakah sebenarnya dia hanya kangen saja dientot oleh Norman? Mengingat belakangan ini selama beberapa hari dia tidak melakukan hubungan seks sama sekali. Ya, Rasti sendiri mengakui bahwa dia sudah ingin kembali. Menjadi lonte lagi. Memuaskan nafsu banyak laki-laki lagi. Binal lagi.

Pada akhirnya Rasti mengatakan tegas pada Tedi. Jika Tedi melarang, Rasti janji akan menurutinya. Tedi yang disuruh menentukan, malah bingung dan salah tingkah, serba salah. Tapi setelah menimbang-nimbang, Tedi memutuskan untuk mengijinkan Mamanya. Wajah Rasti langsung sumringah. Ia pun memeluk dan mencium Tedi senang. Bertepatan saat itu, petugas lapas yang menungguinya menghardik kasar. ÔÇ£Lama amat lu ngobrolnya lonte?! Mau masuk nggak nih? Lonte aja pake diskusi, buang-buang waktu aja lo! Cepetan!ÔÇØ Kebetulan saat itu ruang sudah sepi, sudah tidak ada lagi pengunjung, pantaslah si penjaga berani mengucapkan kalimat vulgar seperti itu. Kalimat yang seharusnya menyakitkan hati, tapi malah membangkitkan karakter binal Rasti kembali. Yes, sheÔÇÖs back.

Rasti menyuruh Tedi pulang duluan, tak perlu menunggu karna nanti Rasti bisa pulang naik taksi. Rasti lalu berdiri dan tersenyum manis pada penjaga, memberi kode bahwa ia telah siap. Penjaga yang tadinya menghardik Rasti dengan kasar itu ternyata kini malah gelagapan oleh pesona Rasti. Mupeng berat dengan hanya satu jurus senyuman maut saja. Rasti tertawa kecil melihatnya. Ayo pak ucapnya genit.

Rasti kemudian dituntun masuk ke dalam lingkungan penjara. Ia yang sebenarnya masih agak bingung dengan kata-kata terakhir Norman tadi, kini nurut-nurut saja mengikuti ke mana si penjaga akan membawanya. Memasuki bagian dalam bangunan lapas ini benar-benar seperti memasuki lingkungan yang angker. Mereka berpapasan dengan seorang penjaga lagi yang tadi mengantar Norman. Kini Rasti berjalan dikawal dua penjaga. Ternyata dugaannya benar. Dia akan dibawa ke selnya Norman! Gila, apakah ia akan melakukannya di sana? Deg-degan sekaligus antusias Rasti memikirkannya.

Dalam bangunan lapas yang tidak terlalu besar itu ada sekitar 60-an sel yang masing-masing kapasitasnya 4 sampai 5 orang tahanan. Sel-sel itu terbagi ke beberapa sektor yang mengacu pada lorong-lorong yang ada di dalam bangunan ini. Pembagian sektor itu juga mengacu pada usia tahanan, tapi entah bagaimana pembagian dan berapa angka usia yang menjadi pembatasnya, yang jelas Norman yang berusia 14 tahun kini ada di Sektor C. Untungnya sektor ini cukup strategis letaknya sehingga untuk menuju ke sana Rasti tidak harus melewati sektor-sektor lainnya. Hanya saja, untuk menuju sel Norman yang ada di ujung lorong, jelas Rasti harus melewati sel-sel lain yang ada di sektor ini.

Sampai di muka lorong Sektor C, jantung Rasti makin berdebar-debar. Apalagi dua orang penjaga yang mengantarnya kemudian berbisik-bisik, mereka berinisiatif menggoda dan mengerjai Rasti dengan tidak mengantarnya masuk. Dari luar lorong, penjaga itu hanya menunjukkan posisi sel Norman yang di ujung itu. Kedua penjaga itu menganggap pakaian Rasti begitu seksi. Padahal bagi Rasti itu pakaian yang sangat biasa, sama sekali tidak bitchy, bahkan cenderung elegan. Rasti mengenakan gaun satin terusan berwarna hitam polos. Memang gaun itu tanpa lengan dan bagian lehernya agak lebar, potongan bawahnya pun 20 cm di atas lutut, walhasil kulit putih bersih Rasti memang cukup terekspos menggugah selera. Lagipula sosok wanita secantik Rasti tetap adalah pemandangan indah yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah ada di dalam sebuah bangunan penjara seperti ini. Dengan menyuruh Rasti masuk sendiri, penjaga itu ingin melihat seperti apa reaksi mupeng para napi dari balik selnya begitu melihat Rasti.

Ayo masuk ke sana Non he he he
ÔÇ£Hah, saya masuk sendiri pak?ÔÇØ
ÔÇ£Iya Non, jangan takut, aman kok.ÔÇØ
Rasti meneguk ludahnya, ia menatap ke dalam lorong itu dengan ragu-ragu. Lorong itu buntu, panjangnya mungkin sekitar 15 meter dan lebarnya sekitar 2 meter. DI kanan kirinya berderet sepuluh sel. Lima di kiri dan lima di kanan. Sel Norman ada di ujung sebelah kanan. Sungguh suasana baru bagi Rasti yang lagi-lagi terkesan sangat angker baginya. Terbesit perasaan prihatin memikirkan Norman harus tinggal di sini selama 3 tahun ke depan.

ÔÇ£B… Baik pak, saya masuk yaÔǪ mmm, lalu kuncinya?ÔÇØ
Nanti kami buka dari sini, pake sistem non, he he he Udah sana, kasihan udah pada nunggu tuh di sel. Ha ha ha
Rasti pun melangkah masuk dengan perasaan berdebar-debar dengan diawasi dua orang penjaga yang cengengesan. Rasti melangkah pelan dan baris sel pertama pun dilewatinya.
Sejurus kemudian terdengar satu suara lantang. Wuih ada yang bening-bening nih Cakep! Rasti menelan ludahnya. Dadanya makin berdebar. Dia terus berjalan tak berani menoleh ke arah suara.
Woy, liat nih coy, jangan tidur aja lo! Satu suara lagi terlontar. Terdengar suara berisik dan gumaman-gumaman, lalu kemudian setelah itu suara demi suara berikutnya langsung riuh bersahut-sahutan tanpa jeda.
ÔÇ£Apaan??ÔÇØ
ÔÇ£Anjrriiittt! Ada bidadari kesasar!ÔÇØ
Duuh, siapa namanya neng? Sini dong mampir tempat abang!
ÔÇ£Duilee mulusssnya coy!ÔÇØ
ÔÇ£Kok bisa ada cewek cakep di sini sih? Ada yang manggil lonte ya!?ÔÇØ
Duh, gue udah lama gak ngentot nih ngentot yuk neng!
ÔÇ£Suiitt suiiittt!ÔÇØ

Hanya dalam sekejap lorong itu langsung dipenuhi seruan seruan cabul para penjahat di sana.Tangan para penghuni sel itu memukul-mukul teralis sel mereka membuat keributan. Sebagian besar tangan-tangan kasar mereka menjulur keluar juga berusaha meraih Rasti, tentu tangan mereka tidak cukup panjang untuk dapat menjangkau Rasti yang berusaha berjalan di tengah lorong selebar2 meter itu. Perasaan Rasti benar-benar campur aduk saat ini. Ini benar-benar sensasi yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Dia mulai berani menoleh dan melemparkan senyum ke kanan dan kirinya, Rasti sengaja berjalan pelan melewati lorong itu. Ya, kini dia malah tebar pesona! Ah, bangganya perasaan Rasti saat itu. Naluri binalnya kembali meluap-luap.

Aduh neng, manisnya
Sini dong neng!
Seruan seruan kasar dan cabul terus dilontarkan para penghuni sel yang mupeng itu.
Penjaga yang mengawasinya di depan lorong tertawa-tawa melihat dan mendengar semua reaksi yang sesuai dugaan mereka ini. Benar juga, kayak binatang peliharaan yang kelaparan gara-gara seminggu tidak dikasih makan! Hua ha ha ha, mupeng mupeng deh lo! Pikir mereka yang sebenarnya juga mupeng berat dari tadi. Tapi sesuai perjanjian memang giliran mereka baru setelah Norman. Yah, tak apa, toh tetap dapat jatah. Wanita secantik Rasti memang layak diantri. Rasti sendiri kini malah makin penasaran dan terangsang. Cairan pelumas di dalam memeknya bahkan sudah mulai membasahi dinding-dinding liangnya. Tiba-tiba timbul sifat iseng dari Rasti. Setelah sampai di barisan sel ketiga, terbesit di benaknya ingin mengerjai kedua petugas itu juga. Sambil menengok menebar senyum pada napi di sel sebelah kiri, langkahnya menjauh ke arah kanan. Benar-benar terlihat seperti tidak sadar Rasti melakukannya sehingga tubuhnya makin mendekat ke sel di sebelah kanannya. Penjaga yang melihatnya jadi panik.

Aduuh, itu non jangan dekat-dekat! Serunya tertahan. Terlambat, satu tangan kasar napi di sel keempat sebelah kanan berhasil meraih tangan Rasti. Tangan itu dengan cepat menarik Rasti, Kyaaa! Pekik Rasti kaget, meskipun inilah yang diinginkannya. Tubuh mulus Rasti kini menempel rapat di jeruji sel yang dingin itu. Beberapa tangan dari dalam sel langsung sigap menahan tubuh Rasti sehingga Rasti tidak bisa melepaskan diri dan lari menjauh. Jadilah di situ Rasti langsung digerayangi berama-ramai dari dalam oleh tangan-tangan lainnya, tubuhnya dicium-cium oleh penjahat di sana. Adduuh lepasin bang toloong! Ucap Rasti sambil meronta. Pakaiannya bahkan ditarik-tarik hingga sobek! Benar-benar liar! Benar-benar seperti yang dipikirkan kedua penjaga tadi. Para napi bagai hewan liar di kebun binatang yang memperebutkan makanan dari dalam kandangnya.

Jangan bang Aduuhh Jangan Kyaa sakit dong, aahhh jangan disobek! Jerit Rasti sejadi-jadinya padahal sebenarnya dia menikmati keisengannya ini. Breeettt! Breett! Gaun Rasti sobek parah di bagian dada dan pahanya. Bahkan bra mahal Rasti dibetot dengan kasar hingga putus dan satu payudara Rasti jadi terekspos bebas. Walhasil payudara yang naas itu menjadi rebutan tangan-tangan liar para napi. Aahhh sakit bang Jangan Aduuhh! Habis sudah payudara Rasti dIremas dan dicubit-cubit dengan gemas. Putingnya ditarik sampai Rasti merasa kesakitan.

ÔÇ£Anjrriitt mulus abiss!ÔÇØ
ÔÇ£Aduuh non cantiknya!ÔÇØ
ÔÇ£Masuk sini non, bobo sama abang!ÔÇØ
Kedua penjaga itu tepuk jidat, mereka panik, buru-buru masuk dan berusaha membebaskan Rasti dari tangan-tangan ÔÇÿganasÔÇÖ para penjahat yang mupeng itu. Seluruh lorong bergemuruh ribut, bersorak, sedangkan Rasti malah berteriak girang dalam hati. Dengan tongkatnya kedua penjaga itu memukul-mukul teralis sel keras-keras. ÔÇ£Traang! Traang!ÔÇØ

ÔÇ£Woi lepasin! Lepasin sekarang juga! Dasar anjing kelaperan lo pada ya!ÔÇØ Bentak kedua penjaga itu, seraya memukuli tangan-tangan napi yang menggerayangi dan menahan tubuh Rasti. Tidak lama tubuh Rasti benar-benar lolos dari mereka. Dengan manja Rasti menggelayut di samping penjaga.

Aduh, makasih pak Ucapnya manja.
Glek. Kedua penjaga itu menelan ludah berkali-kali melihat kondisi Rasti sekarang yang sebelah payudaranya sudah terekspos bebas. Meski tangan Rasti berusaha menutupinya, tetap saja itu jadi pemandangan yang luar biasa menggoda bagi mereka. I iya, non sih gak ati-ati udah buruan masuk situ Ucap salah seorang penjaga gugup sekaligus kesal. Ia langsung menuntun Rasti ke depan sel Norman. Penghuni sel Norman yang dari tadi sudah mengintip berjejer dari selnya benar-benar terlihat tidak sabaran.

ÔÇ£He he he, akhirnya dateng juga nih paket spesialnya, nyantol di mana sih tadi? Buruan pak dimasukin!ÔÇØ Ucap salah seorang yang paling jangkung di antara mereka. Norman sendiri sok cool dengan duduk tenang menunggu di atas tempat tidurnya. Rasti pun ÔÇÿdijebloskanÔÇÖ ke dalam selnya Norman. ÔÇ£Ha ha haÔǪ Selamat menikmati! Jangan pake lamaÔǪ!ÔÇØ Ucap seorang penjaga sambil mengunci pintu sel mereka sebelum kemudian pergi meninggalkan Rasti di dalam situ. ÔÇ£He he, ga janji ya bos? Kalo ginian sih harus diabisin pelan-pelan nihÔǪÔÇØ Balas salah seorang teman Norman.

Sialan belagu lo ya udah terserah Paling juga ga tahan lama lo.
ÔÇ£Berisik woi!ÔÇØ hardik penjaga ke para tahanan di sel lain yang masih saja berteriak-teriak ribut. Tentunya hardikan penjaga itu tidak cukup untuk membuat mereka diam. Tapi toh penjaga itu tidak ambil pusing lebih lanjut dengan keributan itu. ÔÇÿTeriak teriak deh lo sepuasnyaÔǪ Lo pikir dengan teriak bisa ngecrotÔǪ? Ha ha ha, goblok!ÔÇÖ Pikir si penjaga sambil berlalu pergi.

Di dalam sel, Rasti dan teman-teman satu sel Norman kini saling mengamati. Rasti dengan canggung melihat satu persatu wajah 4 teman Norman yang jauh dari standar ganteng. Secara usia, semua terlihat lebih tua dari Norman. ÔÇ£Duh, anakku yang paling cakep di sini,ÔÇØ batin Rasti geli. Sementara teman-teman Norman balik mengamati Rasti dari kepala sampai ujung kaki dengan tatapan ÔÇÿlaparÔÇÖ yang seakan menelanjangi Rasti yang memang sudah setengah telanjang. Norman bangkit dan mendekati mamanya sambil tersenyum-senyum. Norman mengecup pipi mamanya itu dengan mesra, lalu merangkulnya dari samping seraya menghadap teman-temannya yang memandangnya iri.

He he he Melotot aja mata lo pada! Sampe mau copot tuh mata Ha ha ha.! Gimana bro? Apa gue bilang? Cantik kan ni lonte? Kenalin nih, nyokap gue! Tanpa tedeng aling-aling Norman memperkenalkan Rasti sebagai Mamanya sekaligus lonte.
I iya Man aduh buset dah seumur-umur gue liat cewek mulus model begini cuma di tivi-tivi!
ÔÇ£Beneran lonte lo ini Man?ÔÇØ

Norman terbahak lagi lalu memperkenalkan temannya satu-persatu. Robi, Bari, Obet, dan Dimas. Si Obet ini yang bikin pipi Norman lebam begini Ma udah dia ga usah dikasih jatah aja Selorohnya.
Duh jangan gitu dong bro kan cuma bercanda aja, kita sekarang kan fren iya kan bro? Sahut si jangkung yang disebut Obet itu sambil salah tingkah. Rasti tertawa melihatnya yang ternyata juga lebam-lebam pipinya. Selain jangkung, Obet ini juga paling sangar dan kekar. Tapi tampaknya perkelahian mereka dua arah, bukan Norman saja yang dipukuli, tapi dia juga bisa melawan dan membalas. Malah terbesit sedikit rasa bangga Rasti pada Norman.

Duh pakaian Mama kok sobek-sobek begini, pasti Mama nakal ya tadi udah dibuka aja ya semuanya Ujar Norman. Kalimat Norman itu langsung disambut antusias oleh teman-temannya. Cukup menggelikan juga tampang-tampang mupeng mereka yang langsung penuh harap itu. Benar-benar hiburan bagi Rasti yang sudah binal kembali. Teman-teman sel Norman seakan menjadi pengganti Riko, Romi dan Jaka yang beberapa waktu ini sudah jarang main ke rumah. Bedanya, kepada Robi, Bari, Obet dan Dimas ini, tampaknya Rasti harus memberi pelayanan all in. Full ngentot. Dag dig dug, berdesir perasaan aneh yang menyenangkan di dada Rasti yang berdebar-debar, membayangkan apa yang sebentar lagi akan terjadi padanya di sel ini.

Norman memberi kode kepada teman-temannya. Mereka lalu dengan sigap mengambil kain selimut mereka di dipannya masing-masing lalu mereka gunakan untuk menutup sekedarnya teralis sel mereka. Meski tidak mungkin bisa tertutup sempurna, tetap saja suara koor protes langsung membahana dari 2 sel di depan seberang sel mereka. Huuu! Anjrit lo mau ngentot! Jangan ditutup woii! Ngentot lo pada, anjing! Begitulah makian-makian yang sangat kasar yang mewakili rasa iri para tahanan di sel lain itu. Norman dan teman-temannya tak memperdulikan suara-suara itu. Sel-sel yang bersebelahan di lorong itu masing-masing terpisah oleh sekat tembok, sementara seluruh bagian depannya full teralis besi. Artinya, aktivitas di dalam sel bisa terlihat dari luar, atau dari depannya, tapi tidak bisa terlihat dari samping. Dengan kondisi seperti ini yang paling bisa melihat aktivitas di dalam sel Norman ya sel yang berada tepat di seberangnya, dan satu sel di sebelahnya. Maka tahanan di dalam dua sel inilah yang paling ribut berteriak-teriak protes.

Ayo dibuka Ma Norman udah kangen beraat nih Ucap Norman pada Rasti yang masih mematung.
Eit bro Mmm, boleh gak gue yang telanjangin ni lonte Boleh ya, please? Pinta Bari.
Terserah lo aja
Wah gue juga mau dong Sahut Dimas yang langsung menggerayangi pakaian Rasti.
Woi, serobot aja lo Bagian gue nih! Protes Bari. Walhasil kedua orang itu kini berebut ingin merasakan sensasi menelanjangi wanita cantik. Padahal Bari ingin membuka pakaian Rasti dengan pelan sambil menikmati, tapi gara-gara Dimas ikut-ikutan, mereka jadi berebut dan akhirnya dengan kasar melucuti pakaian Rasti. Kyaa Aduh pelan-pelan Pekik Rasti manja. Breet! Breett..!

Aduuhh tu kan sobek lagi
Ha ha ha udah lo nanti bugil aja terus, ga usah pake baju lagi!
Alamaak Norman mulusnya lonte ini! Cantiikkk broo!
Sumpah baru kali ini gue bersyukur masuk penjara! Di luar gue ga pernah ketemu ginian bro! Gila sempurnanya Gue gak sedang ngimpi kan?

Rasti yang kini sudah bugil total benar-benar bangga mendengar semua pujian teman-teman Norman itu. Si Dimas lalu iseng, melempar pakaian dalam Rasti ke sel seberang. Woi, mau cawet gak lo? Nihh Ha ha ha BH-nya sekalian nih, ambil semua! Lima napi di sel seberang pun meneriakinya dengan penuh rasa iri. Duh kok dilempar ke sana sih? Protes Rasti manja pada Dimas yang tertawa-tawa. Dengan tangannya dia menutupi payudara dan vaginanya. Bukan karena malu, tapi karena Rasti tahu pose ini bisa makin membuat gemas laki-laki yang melihatnya.

Aduh Tante cantik gapapa lah buat amal! Ha ha ha Tawa Dimas yang disambut oleh tawa teman-temannya yang lain. Sompret lo, perempuan bening begini dibilang Tante.
Iya dong, ni lonte kan Mamanya teman kita Jadi kita harus hormat, panggil Tante
Iya juga ya, ha ha ha Eh Tante cantik, omong-omong siapa sih namanya?
Tuh Ma, ditanya namanya? Bisik Norman yang kini memeluk Rasti dari belakang dan mulai mengecupi kulit telanjang Rasti dengan pelan. Punggungnya, tengkuknya, bahunya. Rasti mulai menggelinjang dan mendesah. Teman-teman Norman mupeng berat melihatnya. Duuh enak bener ya lo Man Gumam Bari menelan ludah.

Aahh sayaang Desah Rasti lagi ketika tangan Norman mulai meremas-remas payudaranya. Ayo Ma, tu ditanya namanya siapa? Tadi kan temen-temen Norman sudah memperkenalkan diri semua Bisik Norman lagi menggoda Mamanya.
I Iya R Rasti Aahh
Oo Tante Rasti aah
Rasti ajaa ahh sayang
Rasti ajaa ah? Hi hi hi
Ihh terseraaahh.
Ha ha ha ha Gemesin banget ni lonte!
He he he, lo mau nyentuh gak? Sentuh aja nih ga bakal pecah kok Tawar Norman sambil mempermainkan payudara Rasti dari belakang. Posisinya seperti menyodorkan kedua bongkah gunung salju kembar itu pada keempat temannya yang berdiri di depan Rasti.

He he he, duuh emang takut pecah gue bro bening banget soalnya Sahut Bari yang terlebih dulu mengangkat tangannya dan mengelus payudara Rasti pelan. Norman tertawa, Hua ha ha jangan khawatir bro! Anti pecah Gini lho! Norman meraih tangan Bari dan menggenggamkannya di dada Rasti, tangannya mengarahkan tangan Bari untuk meremas payudara mamanya. Sshhh. Desis Rasti merasakan remasan tangan kasar Bari.

Seettt kenyal dan lembuutt bro! Ucap Bari kegirangan. Tangannya kini meremas-remas payudara Rasti dengan gemas.
Aduuhh aduh, pelan Bar! Nanti rusak! Seru Dimas, disusul dengan tawa semuanya.
Mana mana gue coba? Duh lecet deh gara-gara lo Bar! He he he
ÔÇ£Sompret lo, mana bisa? Monyong!ÔÇØ Tukas Bari.
Duuuhh lembutnya susu tante Rastiii Keempat teman Norman benar-benar membuat payudara Rasti jadi mainan. Seakan itu adalah karya seni luar biasa yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati supaya tidak cacat. Tapi itu tidak lama, makin gemas mereka pun makin kasar menggerayangi tubuh telanjang Rasti dari ujung kepala sampai kaki. Rasti menggelinjang-gelinjang dan mendesah manja merasakan sentuhan demi sentuhan yang benar-benar menaikkan libidonya itu. Apalagi mulut keempat teman Norman itu tidak hentinya mengoceh, memuji-muji kesempurnaan tubuh Rasti.

“Maknyesss… duuh, ngimpi apasih gue semalam?”
“Perasaan gue selama ini jadi anak nakal, gak nyangka gue bisa nyicipin bidadari sorga! Ha ha ha…”
“Indaaah… ni lonte tiap hari mandi susu ya bro??”
Perasaan Rasti benar-benar melambung mendengar semua itu. Norman membalikkan badan Rasti dan melumat bibirnya. Kini tangan teman-teman Norman menggerayangi bagian belakang tubuh Rasti. Meremas-remas dan memukul pantatnya dengan gemas sambil terus saja memuji-muji keindahannya. Rasti dan Norman terus berciuman sambil berpelukan sampai beberapa saat. Benar-benar pasangan ibu dan anak itu dilanda rasa rindu yang sangat besar satu sama lainnya, ibarat sepasang kekasih yang terpisah lama.

Kecupan ganas Rasti dan Norman menimbulkan suara decak bibir dan lidah yang bersahut-sahutan erotis. Gila lo Man, ganas bener lo ngelumatnya, jangan dimakan Man! Ha ha ha! celetuk Obet mupeng. Aahh Desah Rasti merasakan bibir vaginanya dijamahi oleh teman-teman Norman. Banjir coy ucap Obet, yang kemudian diikuti oleh semuanya mencolek-colek liang Rasti dengan gemas. Rasti pun jadi menggelinjang-gelinjang karenanya. Aahh.. Auuhh Geliat tubuh Rasti benar-benar seksi membuat mereka makin gemas. He he he, kayaknya ni lonte udah kepanasan buruan Man disodok udah kegatelan tuh!

Dengan sigap Norman menggendong tubuh ibunya itu dan membaringkannya di atas alas koran di lantai sel mereka. ÔÇ£Aahh dingiin sayangÔǪ.ÔÇØ Desah Rasti manja. ÔÇ£Bentar lagi Norman bikin anget MaÔǪ!ÔÇØ Ucap Norman sambil menelanjangi dirinya. Nafsu Rasti benar-benar sudah di ubun-ubun. Dia menggigit bibirnya seksi, matanya nanar menatap tubuh kekar Norman yang bertato. ÔÇÿDuh, kok tubuh Norman jadi keliatan seksi banget begini…ÔÇÖ pikirnya. Meski sudah berkali-kali melihatnya, tapi di tempat ini serasa berbeda. Rasti seperti melihat anaknya itu dalam sosoknya yang baru.

Aaauuhhh. Rasti melenguh keras ketika Norman mulai mempermainkan vaginanya dengan lidah dan tangannya. Paha Rasti dikangkangkan untuk memberi akses selebar-lebarnya pada Norman untuk mengeksplorasi wilayah paling intim miliknya.

Norman sudah sangat lihai dalam urusan ini. Tidak seperti Tedi dan teman-temannya yang baru diajari Rasti di malam hari ulang tahunnya, Norman sudah lama diajari Rasti bagaimana memuaskan liang kewanitaannya. Lagi-lagi Rasti seakan merasakan hal yang berbeda dari Norman. Tidak pernah dia merasakan kenikmatan sebesar ini dari vaginanya hanya dengan dioral dan dikobel-kobel dengan tangan. Rasti pun mendesah dan menggeliat sejadi-jadinya. Desahan yang tak bisa dielakkan memenuhi seluruh lorong Sektor C hingga membuat semua tahanan di 9 sel yang lain berteriak-teriak kesal menahan mupengnya. Sangat berisik hingga terdengar juga ke beberapa sektor di dekatnya. Sudah pasti penghuni sektor lain itu semua bertanya-tanya, ÔÇ£Ada apa di sektor C?ÔÇØ Parahnya, hal itu tidak dirisaukan para penjaga. Mereka malah terkekeh-kekeh saja membiarkan suasana ini.

Begitu juga dengan Norman dan teman-temannya. Mereka lebih tidak mempedulikan lagi keributan dari sel-sel lain itu. Hanya Rasti sajalah yang was-was dan berusaha keras mengatur suaranya supaya tidak terlalu keras terdengar. Tapi menyadari hal itu, Norman malah memainkan memek Rasti dengan lebih hebat lagi. Rasti yang terengah-engah menahan suaranya jadi tidak bisa mengontrol diri. Lenguhan keras dan panjangnya tidak terelakkan lagi. Sayaanngg hhh pelaan Pintanya dengan mata nanar dan wajah pias. He he he, ga usah ditahan-tahan Ma Jerit aja sepuas-puasnya, jangan khawatir ucap Norman terkekeh. Sementara teman-teman Norman yang mengellinginya hanya bisa memandang dan menelan ludah berkali-kali melihat Rasti yang dari tadi menggelinjang-gelinjang keenakan. Penasaran mereka sedahsyat kenikmatan semacam apa sih yang dirasakan Rasti?

ÔÇ£He he, mata lo tu ya kayak mau copot aja! Pada belum pernah ngeliat memek ya?ÔÇØ Ujar Norman.
ÔÇ£Kalo gue udah sering bro! Tapi yang seindah ini mah bau kali ini! Sumpah, ni lonte cantik banget coy!ÔÇØ Sahut Obet yang paling senior. ÔÇ£Ni yang lain nih yang masih pada perjaka!ÔÇØ
ÔÇ£Enak aja, timbang ngentot aja mah gue udah pernah, tapi emang yang kayak beginian jauh di atas level gue! Anjrit, tadi hanya ngeliat aja hampir-hampir ngecrot gue!ÔÇØ Timpal Bari.
Ha ha ha Lo berdua gimana? Norman berpaling pada Dimas dan Robi.
Gue udah pernah punya pacar sih Tapi yaa paling ciuman doang. Jawab Dimas. Robi sendiri yang paling pendiam hanya tersipu-sipu malu. Dia memang tidak pernah punya pacar. Usia Robi ternyata sepantaran dengan Norman, tampangnya culun meskipun terlihat lebih tua dari Norman. Yang jelas Robi tidak nampak seperti anak nakal sama sekali. Kebetulan saja dia apes, terjebak pergaulan yang ga bener gara-gara pencarian jati diri, dan kegrebek polisi pas dia dan beberapa temennya lagi pake narkoba. Jadilah dia ada di sini bersama-sama Norman dan lainnya. Selama ini mengutuki diri dipenjara, baru hari ini dia bersyukur luar biasa sudah masuk penjara. Ya, karna kalau di luar penjara barangkali mustahil dia bisa bertemu dengan lonte secantik Rasti. Dari tadi dia berpikir ingin sekali dikasih jatah Norman menggagahi Rasti. Tapi kalaupun tidak, hanya dengan begini saja dia sudah sangat senang.

Alangkah terperanjatnya Robi, ketika Norman menyuruh semua bergantian mengoral Rasti, dan dia dapat giliran pertama!
ÔÇ£Yah, kok si culun ini duluan bro?ÔÇØ Protes Obet.
He he, protes aja lo. Dia yang belum pernah nih Harus gue ajarin dulu. Ayo Rob
Be beneran Man?
Yaelah, iya nih gue ajarin caranya
Norman lalu seakan menjadi mentor bagi teman-temannya, menjelaskan bagian-bagian kewanitaan Rasti. Benar-benar seperti dosen di laboratorium yang menerangkan kepada para mahasiswanya, dengan Rasti sebagai obyek penelitian. Rasti sendiri tertawa-tawa geli melihat tingkah Norman. Ada sensasi kenikmatan tersendiri dalam peran ini.

Oo ini yang namanya klitoris
He he, iya di sini nih pusat kenikmatan wanita, coba disentuh
Rasti langsung menggelinjang ketika klitorisnya disentuh-sentuh oleh jari Robi.
Ha ha ha benar kan? Keenakan nih lonte Ujar Norman diiringi tawa semuanya.
ÔÇ£Tapi kalo gitu aja malah kasihan ni cuma bikin gatel. Sekarang coba pake mulut!ÔÇØ
Haah?
Iya kayak gue tadi! Pake gigi sama lidah lo ya
Beberapa saat kemudian dengan arahan Norman satu-persatu temannya bergiliran mengoral vagina Rasti. Tanpa diajari, Robi juga sudah bisa berinisiatif menggunakan jemarinya. Tubuh rasti benar-benar dieksplorasi oleh keempat teman Norman. Saat yang satu mengoral vagina Rasti, yang lain menggerayangi dan mengecupi tiap inchi tubuh Rasti dengan gemas. Bagian yang paling diperebutkan tentu adalah dua gunung salju kembar yang membusung di dada Rasti.

“Ini puting susu, di sekitarnya ini areola… ni bagian sensitif juga dari tubuh wanita…”
“Ahahaha, pentil aja gue mah tahu. buset ye montoknya… ini orisinil kan bro??”
“Dijamin original coy! Asli ciptaan Tuhan! Wakakaka…! Coba deh lo isep pentilnya…”
“Buseett… ada air susunya!”
“Wa ha ha, ni lonte kerjaannya emang beranak terus coy! Mantap kan? Lo haus kan tadi? Udah nenen aja sepuasnya.”
“Ga enak dong gue minum jatah bayi…”

“Kalo doyan dinikmatin aja, persediaannya melimpah kok…” Rasti ikut angkat bicara sambil tersenyum-senyum menggoda.
“B.. Bener tante?”
“Iya dong, hi hi…”
Begitulah dengan mudah Rasti beradaptasi dengan suasana baru ini, mengakrabkan diri menghilangkan canggung melayani teman-teman baru Norman yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Permainan mereka dalam sel itu makin panas. Tidak sejengkal pun tubuh Rasti yang luput dari eksplorasi. Teman-teman Norman secara acak bergantian menyusu di dada Rasti layaknya orang kehausan di padang tandus. Jari-jari tangan mereka pun berebut masuk ke liang kenikmatan milik Rasti. Hanya satu yang saat ini eksklusif untuk Norman saja, yaitu bibir Rasti. Norman terus mengecupi bibir Mamanya itu dengan gemas. Sesekali mereka saling berpandangan dengan syahdu, lalu saling memagut bibir lagi. Benar-benar seperti dua sejoli kekasih yang kasmaran. Di sela-sela itu tubuh Rasti terus menggeliat-geliat keenakan gara-gara bagian sensitif dari tubuhnya terus mengalami rangsangan dari teman-teman Norman. Wajah Rasti yang keenakan menjadi pemandangan yang menggemaskan bagi Norman. Wajah Rasti makin merah padam ketika dipandangi Norman saat dirinya keenakan, Aahh sayaangdengan manja Rasti berusaha memalingkan kepala Norman.

He he, kenapa Ma?
Jangan ngeliatin muka Mama terus dong
Ha ha, pura-pura malu Mama tambah cantik kok kalo sedang sange begini goda Norman lalu mengecupi wajah Rasti.
Aahh udah aah, ayo sayang
Ayo apa Ma?
Mmmhh! Ayo ngentot Ujar Rasti merengut. Rupanya dia sudah tidak tahan lagi. Norman pun mengambil posisi. Disodorkan penisnya yang sudah menegang ke mulut Rasti.
ÔÇ£Dimandiin dulu Ma si kecil… dah lama ga mandi nih…”
“Duh si kecil kok kayaknya tambah gede aja ya…? Sini mama mandiin, sabar ya, mau masuk rumah harus mandi dulu biar bersih…”ucap Rasti yang membuat penis teman-teman Norman melampaui batas ketegangannya selama ini. Mereka pun serempak menelanjangi dirinyamasing-masing. “Anjrit kontol gue rasanya pingin meledak bro… gantian Man…” ucap Obet sambil mengocok batangnya, tak tahan melihat Norman kelojotan diblowjob.

“Sori bro, sekarang ni lonte milik gue dulu… gue mau ngentot, lo pada minggir… ngantri yang tenang!” Ujar Norman yang menyudahi sepongan Rasti pada kontolnya. Dia pun tidak sabar menggenjot tubuh ibunya itu.
“Maa…. Aaahhh….” erang Norman ketika mulai memasukkan centi demi centi batangnya ke liang Rasti. “Gile mama kok bisa tambah pereeet… aahh, lonte pintarrr…”
“Iyaah sayang pelan dong, kontolmu juga udah tumbuh ya… aahhhh….” Rasti melenguh panjang seiring keberhasilan Norman menjebloskan semua batangnya. Blessss…
“Kok jadi penuh gini sayaaang…”
“Mama pasti baru libur panjang ya… ha ha haahhh… Mantapaahh…!”Seru Norman sambil mulai menggenjot. Liang Rasti yang sudah banjir sejak tadi membuat penis Norman keluar masuk dengan lancar meskipun jepitan memek Rasti sangat rapat dirasakan oleh Norman. Gesekan batang Norman yang keras bertekstur urat di seluruh permukaan dinding liang Rasti Menimbulkan rasa nikmat teramat sangat yang membuat keduanya melayang. Mulut Rasti terus meracau tak karuan seakan hilang kontrol. Dia tak peduli lagi suaranya akan terdengar oleh semua tahanan di sektor C atau bahkan oleh seantero penghuni lapas ini sekalipun!

“Sayaaanggg… terusshh kencengin lagi… Mama kangen genjotan kontolmu sayang. Ayo pacu terus kuda binalmu ini…! Nikmaat sayaang… aahhh aaahh…”
“Iyaaa… mamaku… lonteku sayaangg… Dasar perempuan jalang! Kuda binalku.. aahhh aahhhh….! Anjiiingg loo enaakhhh!”
Teman-teman Norman hanya bisa terpana menyaksikan pemandangan dahsyat ini. Semua norma dan ketabuan tiada lagi artinya bagi mereka. Tak peduli di depan mereka adalah persetubuhan ibu dan anak alias incest, yang tentu melampaui batas cabul bahkan bagi masyarakat yang paling liberal sekalipun. Mereka tidak peduli dan seakan tersihir dengan dahsyatnya adegan yang dipertontonkan ibu dan anak ini. Tangan-tangan mereka seakan terprogram untuk mengocok penisnya masing-masing. Mulutnya pun berkali-kali menelan ludah, tapi tenggorokannya terus saja kerontang. Norman benar-benar memonopoli Rasti untuk dirinya sendiri. Tak ada adegan gangbang di sini. Mulut Rasti juga tak dibiarkannya menganggur sehingga sempat mengoral penis teman-temannya yang sedang mengantri. Tidak. Norman terus saja melumat bibir dan lidah Rasti dengan ganas sembari menggenjot memeknya dengan konstan. Rasti yang tampaknya terengah-engah kepayahan terus saja menyambut mulut norman dengan tidak kalah ganasnya.

Dahsyat. Norman benar-benar kuat. Entah energi dari mana ataukah ini hanya perasaan Rasti saja? Peluh mereka bercucuran deras, tubuh mereka serasa mendidih. Secara sel ini memang bukanlah kamar Rasti yang ber-AC. Untunglah ada kipas angin butut yang membantu mendinginkan suasana.

Tanpa sekalipun penis Norman terpisah dari liang vagina Rasti, selama setengah jam mereka bersetubuh dengan berganti-ganti gaya. Dari woman on top, sampai doggy style yang merupakan posisi favorit Norman. Posisi doggy ini adalah puncak persetubuhan mereka. Norman mulai kelihatan lunglai. Pada posisi ini juga Norman mulai membiarkan teman-temannya baris di depan Rasti untuk mendapatkan servis oral pada penisnya masing-masing.

“Maah… kapan sampe lagii… haaahhh…” ucap Norman kepayahan. Tiga kali sudah dia memberi Rasti orgasme, dia berniat klimaks bebarengan dengan orgasme keempat Rasti.
“Mmmpphh… Sedikit lagiii sayaaang… ayo semangaat, kita bareng yaahh…”
“Iyaa maah… ahh.. haaahh… gilak!”
“Kamu bisa sayaaaang…” Rasti ikut membantu memajumundurkan pinggulnya dengan cepat.
“Norman ga tahan lagiii…. mau keluarrr…”
“Mama jugaaa… ayo bareengg…”
“Lonteee… jangan lama lamaahhh…!”
Rasti menegakkan badannya dengan cepat. Menekankan pinggulnya ke belakang bersamaan dengan Norman menekankan badannya ke depan seiring dengan dia merasakan kedutan dahsyat di liang vagina ibunya itu. Mereka merapatkan badannya serapat-rapatnya, dan Norman pun memeluk tubuh Rasti dari belakang seerat-eratnya. Rasti mendongakkan kepala dengan mata terpejam. Tubuhnya mulai kelojotan dengan hebat lagi, dan kali ini bebarengan dengan Norman yang menggigit-gigit gemas pundak dan tengkuknya yang berpeluh keringat.

“Aaaaaaahhhhhh…….!”Mereka orgasme bersamaan. Benar-benar dahsyat pemandangan ini di mata teman-teman Norman, seakan mereka bisa merasakannya pula. Dan memang begitu bagi Robi yang terrnyata ikut orgasme hanya dengan melihat saja. Dia ngecrot sejadi-jadinya, sampai pejunya menyemprot jauh membasahi perut ramping Rasti.

“Hua ha ha… udah ngecrot aja lo!” Ejek teman-temannya yang lain. Robi sendiri hanya tersipu tanpa menjawab. Persetan, pikirnya. Yang tadi itu benar-benar nikmat.
Norman dan Rasti sendiri tidak memperhatikan hal itu. Mereka sibuk meresapi sisa-sisa orgasmenya sampai titik terakhir. Liang Rasti masih berkedut-kedut, tubuhnya masih menggeliat-geliat. Engahan napas keduanya belum juga reda.
“Hhh… Lonteku, sayangku, Norman titip benih ya… tolong lahirin anak Norman…” Bisik Norman sambil mengecupi tengkuk dan belakang telinga Rasti sehingga mamanya itu kegelian dan mendesah-desah manja. Rasti membalikkan tubuhnya. Plop… akhirnya penis Norman terpisah juga dari vagina Rasti. Akibatnya liang yang dipenuhi cairan cinta, empat kali cairannya sendiri dan satu cairannya Norman, semuanya merembes keluar dan turun membasahi pahanya. Rasti dan Norman pun saling berpagutan bibir lagi. “Iya sayang, air manimu banyak banget keluarnya, semoga kali ini satu sel spermamu ada yang berhasil membuahi sel telur mama ya…?” Bisik Rasti. Norman jadi makin gemas melumat bibir ibunya itu.

Setelah beberapa saat, Norman melepaskan tubuh Rasti, dan dia pun beringsut merebahkan diri di kasurnya kecapekan. Sisa-sisa engahan napasnya masih terdengar sesekali.
Bagaimana dengan Rasti? Meski sama capeknya, belum waktu baginya untuk istirahat, karna Obet, Dimas dan Bari dengan sigap menahan tubuhnya dan mengelilinginya. Robi yang tadi sudah ngecrot duluan kiniduduk sambil mengocok penisnya yang sudah layu, berharap bisa tegak lagi.

“He he he.. sekarang giliran kami manis…” Ucap Obet yang memimpin. Ia membelai-belai rambut dan pipi Rastiyang masih dibasahi keringat, lalu mengecupi bibir Rasti yang pasrah saja. Rasti melirik Norman yangkini sedang menenggak segelas air putihdi samping kasurnya. Lalu tanpa sedikitpun menoleh pada Rasti, Norman langsung kembali berbaring dan memejamkan matanya mencoba beristirahat tidur. Melihat sikap Norman ini, terbesit kembali pertanyaan yang muncul malam itu, sesaat sebelum Rasti digangbang 9 teman Norman sebagai kemenangan judi.Bagaimanapun, Rasti hanya bisa menghela napas. Kini dia harus konsentrasi memenuhi ‘tugasnya’.Sebagai lonte, stamina Rasti jauh melebihi Norman. Bukan masalah berarti baginya jika masih harus melayani teman-temanNorman sekaligus. Bahkan di hari ‘kembali’nya Rasti sebagai ibu binal ini, Rasti pun bersikap pro-aktif, bukannya pasif sebagaimana saat dia digangbang 9 teman Norman terakhir itu. Dia balas ciuman Obet dengan bergairah. Tangannya juga aktif menggerayangi penis Obetdan yang lainnya. Dalam hitungan detik Rasti sudah duduk berlutut mengoral penis mereka bertiga, membuat mulut-mulut mereka meracau keenakan tak karuan. Kata-kata tidak senonoh pun terus dilontarkan untuk Rasti.

“Aah… Mama Rasti, mulutnya jodoh banget nih ama kontol gue!”
“Lonte pintar… sepongannya ajiibb… anjirrr!”
Disekolahin di mana sih mulutnya kok pinter banget.. Emang lontee top… aahhh…!”
Sejenak Rasti berhenti dan menoleh pada Robi. “Kamu kok diam di situ? Ayo sinii…” senyum Rasti membuat Robi blingsatan. Sayang sekali penisnya masih saja lunglai.

“Dia udah ngecrot duluan tadi, lo fokus aja ke kontol-kontol kita. Ha ha ha…!”
Tapi Rasti tidak mempedulikan kata-kata itu, dia beranjak dan menarik tangan Robi. “Sini serahin sama mama Rasti.” Ucapnya sambil mengedipkan mata. Tanpa sempat Robi berkata-kata karna salah tingkah, Rasti sudah mulai mentreatment penis Robi sedemikian rupa. Bibir, lidah dan gigi serinya semua bekerja.Bahkan tangannya yang tampak bergerak random, sebenarnya dengan lihai memberi sentuhan-sentuhan pada titik-titik tertentu yang sensitif pada tubuh Robi. “Duh ni kontol tadi bener-bener dikuras ya? Kering begini. Hi hi hi…”Goda Rasti. Kini Rasti benar-benar unjuk keahliannya sebagai lonte. Dia terus beraksi, dan.. Robi mulai mendesah dan mengerang keenakan, pelan tapi pasti, penisnya mulai menegang kembali. “Aaahhh mama Rasti lonteee.. enak banget..!” Desah Robi takjub.
“Woew.. tegang lagi! Kerja bagus, ga malu-maluin sebagai lonte! Ha ha ha!”
“Sialan, tau gini tadi gue crot-in juga ni lonte, nyesel gue…” ucap Dimas iri melihat Robi yang cengar-cengir aja.

Rasti sendiri tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Dia mengerling genit kepada Obet, Bari, dan Dimas. Dengan jari telunjuknya ia memberi kode pada mereka untuk kembali merapat. Tak perlu disuruh dua kali mereka semua langsung berebut berdiri di depan Rasti. Sambil tertawa menggoda, Rasti menangkap 2 penis dengan tangannya dan dikocok pelan. “Hi hi hi… Ga usah berebut dong, semua dapat jatah kok.” Ucapnya. Rasti lalu kembali beraksi. Seakan rakus iamencaplok satu demi satu penis-penis yang disodorkan padanya. Pelayanan Rasti sungguh luar biasa, all out. Rasti sendiri memang merasa ada kerinduan tersendiri dimana dia kembali dikelilingi para hidung belang yang menjadikannya sebagai obyek seksual. Peran yang selama beberapa minggu terakhir ini hilang dalam kehidupannya kini kembali harus dia mainkan. Saking excitednya Rasti, membuat keempat teman Norman itu kelojotan minta ampun. Hanya dengan oral seks saja rasanya sudah begitu ‘tersiksa’.

“Aahhh ngilu kontol gue… anjiirr… udah… aahh gue mau keluaaarr… jangan…!” Obet yang saat ini sedang dihisap, mendesah-desah tak karuan. Rasanya seperti dilolosi tulangnya, dia berontak demi merasakan orgasmenya sudah sampai ujung. Tapi Rasti tak mau melepaskannya. Obet kelojotan pasrah, dia tak mau ngecrot duluan, tapi benar-benar tak berdaya. Namun sungguh di luar perkiraannya, berkali-kali dia merasa pejunya sudah di ujung siap menyembur, tapi dengan kehebatan jurus Rasti, orgasme itu tak kunjung tiba. Seakan mau meledak penisnya dia rasakan. Ngilu luar biasa sekaligus nikmat yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

“Gila ni lonte… Ganas abis! Pokoknya gue harus ngentotin memek lo! Anjirr hampir keluar gue tadi…”

“Hi hi hi, tapi ga keluar kan? Iya dong, mama Rasti kan juga maunya dientotin… awas lho kalo keluar duluan?” Goda Rasti binal. Di permainan berikutnya, Rasti bahkan menyuruh keempat anak itu meludahi mulutnya. Sungguh binal! Dengan antusias mereka pun menyumbangkan ludahnya satu-satu di mulut Rasti sambil tertawa-tawa.”Entotin mulut mama dulu ya sebelum ke memek, yuuk…” pinta Rasti kemudian.

“Buset, ni lonte benar-benar pecun abis… Haus kontol! Makan nih!” Lagi-lagi Obet yang paling cepet menanggapi Rasti. Bukan dia yang paling nafsu, karena semuanya juga sama nafsunya, tapi Obetlah yang paling berani dan tidak ragu sama sekali untuk memperlakukan Rasti sebagai obyek pemuasnya. Sementara yang lain lebih banyak terpana dan terheran-heran dengan keliaran Rasti, seakan tak percaya hal ini benar-benar mereka alami, beda halnya dengan si Obet yang sebelum dipenjara memang sudah biasa main pelacur. Bedanya, Rasti benar-benar jauh di atas levelnya selama ini.

Lagi-lagi Dimas, Robi dan Bari dibuat tercengang dengan pemandangan yang mereka saksikan selanjutnya. Rasti dientot mulutnya dengan kasar oleh Obet. Adegan yang biasanya hanya mereka saksikan di film bokep kini tersaji live di depan mata mereka! Dan sikap Rasti sungguh luar biasa. Selama ini mereka mengira aksi mouthfuck ini tidak mengenakkan bagi pihak wanita. Apa yang mereka lihat di film bokep hanya akting belaka. Tapi kali ini mereka menyaksikan sendiri yang nyata. Rasti bahkan terlihat lebih buas dan rakus ketimbang bintang film bokep yang pernah mereka lihat. Memang tampaknya Rasti kepayahan di awal. Obet terlihat mendominasi. Kepala Rasti dipegangi sementara Obet memajumundurkan pinggulnya dengan cepat menyodok-nyodokkan penisnya di mulut Rasti. Sampai penuh dari ujung hingga pangkal penisnya menyeruak masuk memenuhi rongga mulut Rasti sampai kerongkongannya tanpa ampun.
“Aaaahhh mulut loo enaakhhh!” Erang Obet keras. Hunjaman penisnya keluar masuk di mulut Rasti menimbulkan suara kecipak keras yang kostan. Air liur Rasti keluar membanjir. Tidak perlu waktu lama bagi Rasti untuk mengimbangi gerakan Obet. Mulutnya dengan cepat menyesuaikan diri sehingga mengambil alih kekuasaan atas penis Obet. Lagi-lagi Obet merasakan ngilu luar biasa. Tulang rahang Rasti kuat luar biasa, lidah dan pipinya mengempot dan menyedot-nyedot penis Obet, giginya mengatup seakan hendak menggigitnya. “Anjirr, empotan lu supeerrr… arrghh… ga nahann…” Obet makin mengerang dan menggeliat-geliat tak karuan. Dia memundurkan badannya, mencoba melepaskan diri. Plop.. begitu bunyi penisnya yang keluar dari cengeraman mulut Rasti. Air liur Rasti yang kental membasahi seluruh batangnya, ada gelembung-gelembung udara menghiasinya, dan masih teruntai air liur itu tak terputus seakan membentuk jembatan antara ujung penis Obet dan mulut Rasti. Erotis!

“Aaahhh…” Rasti mengambil napas panjang, dan… hap! Dengan sigap mulutnya kembali mencaplok penis Obet. Sluurrrppp! Ia kembali melancarkan jurus empotan, hisapan dan gigitan mautnya. “Ohh tidaakk… aaahh ampunn mama!” Desah Obet memohon. Dia berusaha memundurkan badannya lagi. Plop..! Haap! Ploop..! Hap! Tiap batang penisnya keluar, mulut Rasti langsung memburu dan mencaploknya kembali. Padahal tiap Obet menarik penisnya keluar, sekujur batangnya harus mengalami gesekan dengan gigi seri Rasti yang mengatup rapat. Ini menimbulkan rasa ngilu yang luar biasa. Tubuh Obet bergetar hebat, sampai untuk kesekian kalinya lututnya benar-benar lemas dan tak mampu menopang tubuhnya. Obet jatuh terduduk ke belakang, dan Rasti terus memburunya tanpa ampun.

Rasti merangkak naik ke tubuh Obet dan mendorongnya hingga terbaring di lantai. Tangannya menahan tubuh Obet supaya tidak bisa bangkit, dan… hap! Sluurrrppp… mulutnya langsung mencaplok penis Obet yang berdiri bebas tanpa pertahanan, lalu menghisapnya sekuat tenaga. Seketika Obet menggelinjang-gelinjang lagi tak berdaya. “Ampuunn mamaaa…aahhhh… ngentot lo perek…!”
“Hi hi hi… payah ah kamu… baru gini aja.. Nyerah nih? Padahal keenakan kan?” Ucap Rasti geli melihat Obet yang kelojotan.

“Ampuun mamaa.. enak banget, Sumpah… haahh haahh… Tapi gue ga kuat. Gilaa… Gue pingin ngentot aja please…” sahut Obet terengah-engah. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Rasti merangkak naik lagi, lalu menempatkan selangkangannya tepat di atas penis Obet. Tangannya memegang penis Obet, nengarahkannya tepat pada liangnya. “Siaap…?” Goda Rasti mengerling. Obet langsung mengangguk cepat. Berdebar-debar tidak sabar merasakan penisnya menjelajahi liang kenikmatan milik Rasti. Dengan satu gerakan lambat, Rasti pun mulai menurunkan pinggulnya menduduki penis Obet yang berdiri tegak, dan blesss… sedikit demi sedikit penis itu amblas menyeruak ke dalam vaginanya. “Aaa… ahhhh…” desah lirih keduanya seiring dengan proses menyatunya tubuh mereka. Sampai Rasti terduduk sempurna, penis Obet telah masuk mentok hingga pangkalnya. Seluruh batang penisnya hilang ditelan liang vagina Rasti yang tanpa digerakkan liang itu sudah seperti memijit-mijit batang kemaluannya itu. Obet terbelalak dan mengerang tertahan saking nikmatnya dia rasakan. “Ayo dong digoyang, kamu dulu yang jadi nahkoda ya…?” Kerling Rasti, lalu sambil tetap menduduki penis Obet, dia menjulurkan kedua kakinya ke depan di atas tubuh Obet hingga kedua telapak kakinya menyentuh wajah Obet, seperti menginjaknya. Lalu kedua tangannya ke belakang bertumpu pada lutut Obet. Benar-benar posisi woman on top yang baru bagi Obet dan yang lainnya, dan yang ini jauh lebih menggairahkan. Setelah posisinya nyaman, Rasti kemudian menggoyang-goyangkan badannya dan mengusap-usap wajah Obet dengan kedua telapak kakinya. “Ayoo Obet sayaang…” desahnya menuntut Obet segera bergerak. Tapi sungguh Obet sebenarnya sudah terkapar lemas. Dengan sisa tenaganya Obet berusaha menggerakkan pinggulnya naik turun. Rasti yang melihatnya kepayahan juga membantu memajumundurkan pinggulnya di atas tubuh Obet. Dengan kombinasi gerakan keduanya ini sungguh maksimal kenikmatan yang ditimbulkan dari gesekan kedua kelamin mereka. Lenguh desah keduanya pun kembali bersahut-sahutan. Sungguh Obet belum pernah merasakan seks sedahsyat ini. Dia benar-benar tidak mengira akan sepayah ini. Dia menyerah pasrah. Hanya dengan satu gaya ini, tidak sampai lima menit gelombang orgasmenya kembali muncul, dan kali ini Rasti tidak menghadangnya. Begitu dia merasakan penis Obet berkedut-kedut di dalam vaginanya, Rasti malah makin cepat menggoyangkan badannya sampai Obet menggeleng-gelengkan kepala saking nikmatnya. Sesaat sebelum penis Obet muncrat, dengan sigap Rasti berdiri dan membiarkan sperma Obet meledak-ledak. Bagai letusan gunung api yang memuntahkan laharnya, sperma Obet membuncah keluar hingga jatuh menetes-netes dan meleleh di atas tubuhnya sendiri. “Oooooohhhh….” Obet melenguh panjang dan mengejang sepanjang orgasme terhebat yang pernah dia rasakan seumur hidupnya ini. Rasti sendiri belum merasakan orgasme sama sekali dari permainannya dengan Obet.

Tanpa menghiraukan Obet yang sedang terengah-engah meresapi sisa-sisa orgasmenya itu, Rasti berdiri dan menarik tubuh siapapun yang ada di dekatnya. Kebetulan Dimas yang beruntung dengan tepat berada di samping Rasti. Tapi dia agak kaget juga ditarik langsung oleh Rasti, karna sebenarnya dia, Bari dan Robi sedang terpana menyaksikan Obet yang kelojotan orgasme. Mereka menelan ludah membayangkan kenikmatan macam apa yang sedang dialami senior mereka itu? Kini Dimas yang tak sempat mengucapkan apa-apa langsung dicumbu oleh Rasti dengan ganas. Mereka pun saling berpelukan dan berciuman bibir dengan panas. Dimas pun ingin menunjukkan sedikit keagresifan pada Rasti. Dia tidak ingin kalah dan takluk dengan mudahnya seperti Obet. Dimas melangkah mendesak Rasti ke arah pintu teralis selnya. Rasti pun membiarkan tubuhnya didesak hingga punggungnya menempel di teralis yang ditutupi dengan selimut sekedarnya itu.

“Kamu siapa…?” Tanya Rasti mencoba mengingat-ingat.

“D…Dimas Tante…” Jawab Dimas yang bagaimanapun juga tergagap menghadapi pesona Rasti.

“Hi hi hi, panggil Mama aja ya… Mama Rasti…” ucap Rasti tersenyum menggoda sambil mengecupi bibir Dimas.

“I.. Iya Mama…”

“Kamu lanjutin tugas kak Obet yang belum tuntas ya… nyodokin memek mama pake kontolmu… Mau ya? Siap kan?”

“I.. Iya ma… s.. siap!”

Gemas sekali Rasti melihat Dimas yang terus tergagap. Dikecupinya lagi bibir Dimas, mereka pun kembali berpagutan sesaat, sebelum kemudian Rasti membalikkan badannya. Rasti menungging menghadap pintu teralis dan membelakangi Dimas. Tangannya bertumpu pada teralis di depannya, lalu dia menoleh ke belakang memberi kode pada Dimas untuk segera mulai menusuknya. Dimas pun mengambil posisi di belakang Rasti. Penisnya diarahkan tepat di belahan vagina Rasti yang basah merekah. Kepala penisnya digesek-gesekkan sebentar ke belahan itu, jantungnya berdebar keras dan tangannya agak gemetaran ketika perlahan menusukkan penisnya ke dalam vagina Rasti. “Mamaa…ahhhh….”

“Iya sayang, masukin semuanya.. begitu…uhh…”

Begitu seluruh batang penisnya masuk tak tersisa, Dimas tidak langsung menggenjot Rasti. Dia terpana menyaksikan batangnya yang amblas ke dalam liang idaman semua pria itu. Dengan posisinya sekarang pemandangan itu jelas terlihat, ditambah dengan indahnya bongkahan pantat Rasti yang bulat kencang, kulit punggungnya yang mulus bersih tanpa cela dan pinggangnya yang ramping. Betapa keindahan yang luar biasa, dan kini semua itu ada di depannya, di dalam genggamannya, dan dia yang menguasainya! Tak ada bosan Dimas memandanginya. Kedua tangannya lalu membelai-belai punggung Rasti, meresapi kelembutannya, lalu beralih memegangi pinggang Rasti. Benar-benar dengan begini, seakan tubuh Rasti itu dalam kekuasaannya kini.

“Ayo Dimas… kok bengong… Mama gatel nih, jangan ditusuk aja… Digenjot dong?” Desah Rasti.

“I.. iya tan… eh, ma… tubuh Mama indah banget… sempurna sekali. Dimas suka…”

“He he, ya udah dinikmati aja sepuasnya, semua milik kamu sekarang… bebas mau kamu apain aja… yuk…”

“Baik ma…” sahut Dimas cepat. Ia menarik penisnya keluar lalu menusukkannya lagi sampai penuh, mengeluarkannya lagi dan menusukkannya lagi. Tapi semua itu dia lakukan dengan pelan karna dia masih menikmati pemandangan keluar masuk penisnya itu dari liang vagina Rasti. Meski gemas, Rasti tersenyum dan membiarkan saja ulah Dimas itu. Dia bahkan menegakkan badannya dan menoleh, menatap Dimas syahdu dengan bibir merekah. Dimas tanggap dan menyambut bibir Rasti. Mereka saling mengecup bibir dan saling memandang mesra. Sementara itu secara otomatis gerakan keluar masuk penis Dimas terus bertambah cepat. Pada akhirnya Dimas menggenjot Rasti dengan kecepatan maksimal. “Uooohhh… yeesss….!”

“Iyyaaahh Dimas… terus begituu.. mama enaakh.. ahhh…”

“Iyyaa maa… aahhh… Dimas jugaa…”

Rasti memberi kebebasan pada Dimas untuk mengatur tempo genjotannya. Meski ingin ikut bergerak, ia menahan diri. Dibiarkannya Dimas memegang kendali. Plok plok plok! Suara benturan paha Dimas dan pantat Rasti nyaring terdengar konstan. Dimas benar-benar memaksimalkan tenaganya, akibatnya bisa diduga, dia tidak tahan lama. Gelombang orgasmenya dirasakan makin mendekat. Tapi Dimas cuek saja dengan terus menggenjot Rasti.

“Dipelanin dulu sayaangg… aahh… nanti cepet keluar…”

“He he hee… hh.. hh, mama tenang ajaa.. hh…” jawab Dimas. Ia menoleh pada Bari dan Robi yang menunggu sambil mengocok penisnya pelan.

“Ambil alih bro…!” Ujar Dimas. Bari maju duluan. “Siap bro…!” Sahutnya.

“Aaarrhhh…!” Erang Dimas mengakhiri genjotannya sebelum orgasmenya sampai. Dengan cepat Bari menggantikan posisinya dan, blesss…. penis Bari melesak masuk dengan mudah ke dalam vagina Rasti yang memang sudah sangat licin. Tanpa pemanasan Bari langsung menggenjot Rasti dengan kecepatan penuh. “Aahhhh shiiit… kayaknya mudah banget tadi, licin masuknya… tapi pas udah di dalem nyengkeram juga ni memeek… aahh… enaakkhh…” Penis Bari memang sedikit lebih gemuk dari penisnya Dimas, tapi itu juga yang membuat dia tidak tahan lebih lama. Baru tiga menit dia sudah memberi kode pada Robi untuk mengambil alih. “Aaarhh… Ayo Rob, cepeett…!” Bari mundur dan Robi segera mengambil alih. Sama seperti Bari, Robi langsung menggenjot dengan kekuatan maksimal. “Aaahh.. hh… Curang kalian yaa.. main keroyokan. Hi hi hi…” Ucap Rasti girang karena memeknya jadi terasa enak sekali digenjot dengan kencang tanpa menurun temponya dan tanpa jeda sama sekali. “Aaahhh anak-anak mama hebaatt…. aaaaassshhh….” pada giliran Robi ini Rasti mencapai orgasmenya. Sssrrrrr….. Tubuh Rasti bergetar hebat, memeknya berkedut-kedut kencang menimbulkan sensasi tersendiri dirasakan oleh penis Robi yang sedang menggenjotnya. “Aaasshhh… maah…” Robi mengerang pelan merasakan penisnya seperti diremas-remas oleh liang Rasti. Hampir-hampir dia ikut mengalami orgasme, untunglah Dimas menangkap gelagat itu dan segera menariknya. “Gantian cepat…!” Ujar Dimas yang langsung menusukkan penisnya lagi begitu Robi mundur. “Aaaihhh… sayaaang…. aaahhhh…” Rasti mendesah panjang karena di tengah-tengah orgasmenya memeknya sudah langsung digilir penis lain yang langsung menggenjotnya dengan kencang lagi. “Yeesssshh….” Adegan ini terus berlangsung sampai tiga putaran kemudian tanpa merubah posisi sama sekali. Dimas-Bari-Robi terus bergiliran dengan urutan yang tertib. Rasti cukup kewalahan juga menghadapi gempuran tiga orang dewasa tanggung ini, tapi dalam hatinya sungguh Rasti berteriak girang. Dia sangat puas sejauh ini meski dia masih sanggup bermain lebih lama dan meraih orgasme lebih banyak lagi. Tiba-tiba timbul ide untuk membuat permainan ini lebih menarik lagi. ‘Aah kenapa tak terpikir dari tadi?’ Ucapnya dalam hati. Tangannya menarik semua selimut yang digunakan untuk menutupi teralis sel. Sreet… dengan satu tarikan pelan saja selimut itu lolos berjatuhan ke bawah. Kini adegan dalam sel itu terekspos tanpa penghalang lagi. Para tahanan di dua sel di depan sel mereka pun langsung berteriak-teriak lagi dengan riuh bersahut-sahutan.

“Wooowww anjiing lo pada! Asuu.. ngentot dari tadi!”

“Bangsaaattt cakep lontenyaa anjiiir lo ya!”

“Bagi lontenya woiii! Kampret lo padaa!”

Rasti tersenyum-senyum saja sambil melambai kepada para napi mupeng itu.
“Duuuhh mama kok selimutnya dilepas…?” Ucap Robi yang malu dan merasa risih.
“Hi hi hi.. biarin sayaang…hh… hhh… gapapaaa..hh!” Jawab Rasti sambil mendesah-desah.

“Ha ha haaa.. bener Rob biarin aja.. ha ha Haah… Ternyata lonte kita bener-bener jalang tulen…” timpal Bari senang.

“Wa ha Haah hhh… pengen lo pada…?? Hahaahhh… anjing! ngentot enak bangeettt hhih niih niihh…!” Seru Dimas yang ikut excited, dia menghentak-hentakkan tubuhnya dengan keras ke tubuh Rasti. “Aaaaahhh…aaahh… Dimaassshh…!” Rasti menjerit-jerit keenakan. Tubuhnya yang mengkilap bersimbah peluh tergoncang-goncang hebat. “Ha Haah… mupeng mupeng deh lo.. asssshhh memek ni lonte bener-bener legit coyy… coli aja deh lo pada! Haahh haahh…!” Seru Dimas lagi.

“Woi anjing lo… awas ya lo ntar…!”

“Kampret loo.. asuuu! Gue perkosa mak lo anjing!”

Begitulah mereka saling bersahut-sahutan panas dan penuh kata-kata kotor dan kasar. Para tahanan di sel lain yang tidak bisa melihat langsung pun ikut berteriak-teriak penasaran. Seluruh sektor C itu pun kembali ribut lebih dari yang sebelumnya. Ulah Rasti benar-benar membuat heboh. Bukannya kapok, Rasti malah ikut-ikutan bersuara meramaikan suasana.

“Baang aduuh baang… aashhh.. tolongin bang, Rasti diperkosa… hi hi hi… Rasti mau ke sel abang aja… tolong bangg.. jemput Rastii… aahhh.. haahh… hhh!” Sungguh binal!

“Oiii neeng sini aja sama abang… abang bikin anget!”

“Ha ha ha, diperkosa apaan keenakan begitu! Dasar mama lonteee… cabuull…!” Seru Bari yang kini mengambil alih posisi Dimas menggenjot Rasti.
“Aaaarrhhh abaaang… Rasti keluar baang… aassshh enaakhhh!” Jerit Rasti yang keenakan, saat itu juga dia mencapai orgasmenya lagi. Crraastt… Bari melepaskan penisnya supaya cairan orgasme Rasti yang mengalir deras muncrat keluar.
“Ha ha ha.. liat ni lonte ngompol ngompol… banjirr…” Seru Bari memamerkan keberhasilannya membuat Rasti orgasme.

Saking ributnya sektor itu, para penjaga pun berdatangan gusar. Kali ini datang empat orang, dua yang tadi mengantar Rasti ditemani dua penjaga lain.
‘Traang… traang..!’ Penjaga itu memukul-mukulkan tongkatnya di sepanjang pintu teralis yang mereka lewati. “Diaam semua…! Brisik aja dari tadi woii!” Bentak salah seorang. Sudah bisa diduga, bukannya tenang, suasana malah makin riuh. Beberapa napi malah meneriaki keempat penjaga itu dengan sebutan ‘germo’. Begitu tiba di depan sel Norman, dua penjaga yang tadi mengantar Rasti tertawa terbahak-bahak, sementara dua penjaga lainnya melongo sambil menahan konak.

“Aahh… hhh… halo paakh… ketemu lagi. Hi hi hi…” Rasti malah menyapa dengan wajah tanpa dosa.

“Ha ha ha… Jadi ini toh biang keributannya?! Kampret lo pada ga tahu malu! Kalo ngentot ditutup dong!” Ujar penjaga itu.

“Cerewet lo pak! Suka-suka kita dong ah, lonte lonte kita kok…” Cibir Dimas.

“Iya nih bapak-bapak ngapain sih udah datang? Ga sqabar nunggu giliran ya? He he… udah bapak jadi penonton dulu, duduk yang manis ya… ha ha ha…” sambung Bari.

“Kampret lo kecil-kecil ngentot! Ngelunjak ya… mau gue seret tu lonte keluar sekarang juga hah? Biar kentang lo pada!” Hardik salah seorang penjaga.

“Yeee…maunya nyerobot! Jangan dong pak, kita nuntasin dulu dong…”

“Makanya cepetan! Gaya lo…! Eh itu si culun bisa ngentot juga ya? Ha ha ha….!” Ujar penjaga itu lagi. Yang dia maksud adalah Robi yang sekarang sedang gilirannya menggenjot Rasti. Robi sendiri yang disinggung tidak merespon sedikit pun. Dia konsentrasi pada genjotannya yang hampir membawanya ke puncak orgasme.

“Woi… sudah mau keluar lagi ya lo… cepetan gantian!” Tukas Dimas.

“Gak bro… hh… hh… gue dah lemes bangeth.. mau ngecrot ajaa.. aarrhh…” jawab Robi tersengal-sengal lalu mengerang, tubuhnya menegang. Orgasmenya telah sampai. Memang entah sudah putaran keberapa sekarang, tak satupun di antara mereka yang menghitungnya. Pantaslah Robi sudah cukup kepayahan saat ini. “Aasshhh….” desisnya buru-buru mencabut penisnya yang mulai muncrat. Entah kesadaran darimana, tanpa disuruh Robi mencabut penisnya saat klimaks. Padahal sebagaimana biasanya, Rasti sendiri tidak keberatan sama sekali jika mereka crot di dalamnya. Sebagian peju Robi muncrat membasahi kaki jenjang Rasti sebelum dia didorong menjauh oleh Dimas. “Jangan kotorin lagi dong lonte kita, masih ada giliran gue sama Bari nih…!” Tukasnya yang tanpa banyak bicara lagi langsung menghunjamkan batang penisnya ke vagina Rasti. Dimas menggenjot Rasti dengan hebat. Dia sendiri sebenarnya tidak kalah capek, dan berniat mengakhirinya di putaran ini juga. Dengan sisa tenaganya, dia mencoba menggenjot Rasti lebih kencang lagi sampai-sampai Rasti yang juga sudah lemas terdorong ke depan hingga badannya tertekan ke pintu teralis di depannya. Agaknya ini memang akan jadi putaran terakhir bagi mereka di permainan kali ini. Persetubuhan keduanya makin panas dengan ditonton oleh para napi lain di dua sel di depannya, ditambah empat orang penjaga. Rasti dan Dimas seakan berpacu lenguh dan desah, tubuhnya sudah sangat basah oleh keringat sehingga kulit putihnya terlihat begitu mengkilap. Dimas terus mendesak Rasti sehingga tubuh Rasti makin tertekan ke depan, badannya makin tegak dan menempel di teralis dan tak ayal lagi kedua bongkah payudaranya menyembul keluar di sela-sela teralis sel itu. Hal ini tentu mengundang para penjaga untuk menjamahnya. “Wuiih… buah dada coy… ranum…!”

“Dingin dingin empuk! Ha ha ha…”

Begitu komentar-komentar mereka sambil menggerayangi payudara Rasti. Awalnya hanya mengelus-elus, berubah jadi remasan gemas, sampai mencubit-cubit dan menarik-narik puting susu Rasti. Salah seorang penjaga bahkan mencumbu payudara Rasti dengan mulutnya. Menjilat-jilat, menggigit dan mengenyot putingnya. Sungguh rangsangan luar biasa sehingga Rasti menggeliat-geliat sambil mendesah tak karuan. Saat Bari menggantikan posisi Dimas kemudian, Rasti mengalami orgasme lagi. Ia melenguh panjang dan menggelinjang-gelinjang. Kakinya sangat lemas sehingga dia merosot terduduk. Rasti membalikkan badannya dan bersandar di teralis dengan napas terengah-engah. Dia mendapati di hadapannya Bari dan Dimas mengocok penisnya yang diacungkan ke wajahnya.

“Mamaa…aahhhh..hh…!” Keduanya mengerang bersamaan dan muncratlah sudah sperma yang sudah mereka tahan tahan sedari tadi. Tak luput tubuh, rambut, wajah cantik Rasti mereka hujani dengan peju. Bukan hanya pasrah, Rasti bahkan membuka mulut dan menjulurkan lidahnya untuk menampung sisa-sisa peju mereka dan menelannya. Belum cukup begitu, Rasti beranjak dan mengulum kedua penis mereka yang masih tegang. Menjilati dan menghisap-hisapnya seolah memastikan tak satu tetespun peju tersisa. Perlakuan Rasti sungguh memanjakan Dimas dan Bari yang kemudian terduduk lemas. Rasti juga kembali menghempaskan tubuhnya bersandar di pintu teralis. Mereka saling berpandangan sambil tersenyum-senyum puas. Kecantikan Rasti dengan keadaannya kini malah mempunyai pesonanya sendiri. Rambut acak-acakan, tubuh telanjang yang bersimbah peluh, mata sayu dan wajah yang masih dilelehi sisa-sisa peju. Menggemaskan dan menggairahkan! Tak bosan keempat teman Norman memuas-muaskan diri memandanginya. Apa yang baru mereka alami barusan bagaikan mimpi. Permainan mereka kali ini telah reda. Capai luar biasa membuat mereka tidak banyak mengoceh seperti sebelumnya. Mereka beristirahat menata napas sambil terus memandangi wajah Rasti yang tersipu dibuatnya. Tapi itu justru menambah kegemasan mereka pada kecantikan ibu muda itu.

Ceklek! Suara kunci pintu teralis itu terbuka. Dua penjaga melangkah masuk sambil terkekeh. Rasti menoleh dan tersenyum kecut. Dia sadar, belum waktu baginya untuk istirahat.

“He he, Aduh dasar anak-anak nakal, cantik-cantik kok sampe dibuat belepotan begini…”

“Ayuk non, ikut kami, mandi yang bersih di ruangan kami… biar wangi lagi, seger lagi… habis itu kami buat belepotan lagi deh… he he he…”

Tanpa menunggu, Rasti langsung ditarik untuk keluar dari sel itu.

“Eeh… sebentar pak.. pakaian saya…” tahan Rasti.

“Alaa… pakaian udah sobek gitu… udah non bugil aja dulu… he he, cantikan ga pake baju kok.. ha ha ha… ayuk!

Rasti tidak berdaya selain mengikuti penjaga itu. Dia digelandang keluar sel tanpa sempat pamit pada Norman. ‘Ah lagian Norman juga malah cuek tidur.’ Pikirnya. Entah Norman beneran tidur atau cuma pura-pura? Sempat juga terlintas pertanyaan itu di benak Rasti yang benar-benar gemas pada anaknya yang satu itu.

“Mama Rasti main sini lagi ya besok…?” Ucap Dimas melepas kepergian Rasti.

“Mama mama pala lo…! Ha ha ha!” Cibir penjaga yang kemudian menggelandang Rasti pergi. Bagi wanita normal, keadaan Rasti itu sungguh sedang dilecehkan dan dipermalukan. Betapa tidak, ia digelandang dalam keadaan telanjang bulat dan berlumuran sperma. Rasti jadi bagaikan super model cabul dengan sepanjang lorong sektor C sebagai catwalknya. Sepanjang perjalanan yang terasa lambat itu, seruan-seruan kotor dan cabul terus ditujukan kepadanya tanpa henti. Toh Rasti bukannya malu tapi malah menikmatinya. Dia berjalan sambil menebar senyum dan lambaian tangan ke arah para napi mupeng di kanan dan kirinya itu. Geleng-geleng kepala keempat penjaga itu dibuatnya.

Keluar dari sektor C, ada tiga lagi penjaga yang menyambutnya dengan antusias dan terbelalak dengan keadaannya itu. Rasti tidak melihat penjaga lain lagi selain tujuh orang yang kini mengawalnya menuju sebuah ruangan yang tidak jauh dari sektor C itu. Ruangan itu seperti kamar peristirahatan yang cukup nyaman dan luas. Salah seorang penjaga menyodorinya handuk dan.menunjuk ke sebuah pintu di sudut ruangan. Agaknya itu pintu kamar mandi. “Mandi dulu sana, yang bersih ya… sampo, sabun, semua ada di situ…!” Suruh penjaga itu. Rasti pun menurutinya tanpa banyak bertanya. Di dalam kamar mandi yang untungnya cukup bersih itu, barulah Rasti sempat beristirahat sekaligus menyegarkan diri. Saat itu pula dia sempat berpikir dan bertanya-tanya tentang beberapa hal. Utamanya tentang kondisi lapas ini yang cukup parah. Rasti membayangkan kondisi para napi setelah bebas nanti, apakah akan lebih baik? Jelas sekali tidak ada pembinaan yang baik di sini. Para penjaganya juga parah begitu. Apakah cuma tujuh orang saja ataukah masih banyak lagi? Pastilah masih banyak lagi… tapi apakah semua kelakuannya sama? Tujuh orang itu, Siapa dan apa jabatan mereka itu? Seragamnya tampak sama semua di mata Rasti. Tak ada tanda yang menunjukkan perbedaan pangkat. Tapi pastilah salah satu ada yang jabatannya cukup penting sehingga bisa meloloskan dia di dalam lapas ini. Atau apakah kejadian seperti ini sudah lazim belaka? Bagaimana kalau tidak? Apakah ini ilegal? Bagaimana kalau ketahuan? Akankah dia berada dalam kesulitan? Bagaimana pula nasib Norman kalau begitu? Pertanyaan demi pertanyaan terus menggelayuti pikiran Rasti. Tapi lagi-lagi Rasti tidak mau terlalu jauh memusingkannya. Dia konsentrasi mempersiapkan diri untuk tugas selanjutnya. Disetubuhi Norman plus digangbang empat temannya, bagi Rasti itu belum seberapa. Melayani tujuh orang penjaga lagi bukan masalah besar baginya. Dia bertekad untuk menikmati hari ini, tapi tidak mau terlalu lama juga karena dia harus segera pulang kembali pada anak-anaknya di rumah. Bagai seorang pendekar, Rasti mengumpulkan tenaga dan mempersiapkan jurus-jurus mautuntuk ‘pertarungan’ selanjutnya yang akan segera dia hadapi. Dia harus mengalahkan tujuh orang penjaga itu. Setelah mengambil napas panjang, Rasti pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh berlilitkan handuk. Di dalam ruangan dia mendapati ketujuh orang penjaga itu sudah siap tempur. Pakaian mereka sudah entah kemana, hanya tinggal celana dalam saja yang melekat di tubuh mereka. Rasti tertawa geli melihatnya, dia pun menebar senyum manisnya sebagai jurus pertama ke arah mereka semua. Jurus Rasti itu disambut dengan senyum mesum dan tatapan mata lapar nan liar siap memangsa dirinya. Rasti tidak gentar. “Cuma kalian saja nih? Mana yang lainnya?” Ucapnya menggoda. Ketujuh penjaga itu saling berpandangan dan terkekeh-kekeh. “Ha ha ha… Nantang ni lonte! Bener-bener jalang… Kali ini cukup kami bertujuh saja manis… besok-besok lo juga pasti bakal ketemu semua kontol dalam penjara ini…!” Sahut salah seorang dari penjaga itu. Rasti tersenyum senang. Memang dia sudah mengira hari ini bukan yang pertama dan terakhir. Akan ada hari-hari selanjutnya untuk Rasti sepanjang Norman mendekam di dalam penjara ini. Rasti pun merinding sekaligus antusias membayangkan kemungkinan besar dirinya akan melayani seluruh napi di sektor C kelak. Bahkan tidak tertutup kemungkinan juga sektor-sektor yang lainnya. Tapi dia tak boleh larut dalam bayangannya itu, karena kini dia sedang berhadapan dengan tujuh orang penjaga yang riil.

“Hi hi hi, ya sudah kalau begitu, yuk dimulai…?” Ucap Rasti, dengan satu gerakan kecil yang menggoda, loloslah ikatan handuk yang menutupi tubuhnya, jatuh ke bawah kakinya meninggalkan tubuhnya kembali polos tanpa sehelai benang pun.

*****

Sore itu Tedi sedang ngajarin Cindy main game di tabletnya ketika mendengar suara taksi dan gerbang dibuka. ÔÇ£Mama pulangÔǪÔÇØ Ucapnya. Tedi menengok jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Tadi siang dia meninggalkan Mamanya di penjara sekitar pukul 11 lebih, atau menjelang tengah hari. ÔÇÿEmpat jam lebihÔǪÔÇÖ Pikir Tedi gusar. Dia dan Cindy pun segera menghambur ke pintu depan menyambut Rasti.

Tedi agak surprise menjumpai mamanya pulang mengenakan seragam napi yang kedodoran, tapi hanya atasannya saja, sedang bawahannya tidak mengenakan apa-apa. Karna ukurannya besar, bagian bawah pakaian itu pun menutupi sampai separuh lebih paha atas Rasti. Tedi menatap Mamanya yang tersenyum-senyum itu dengan gemas. Meskipun surprise, tapi Tedi sih tidak heran Mamanya pulang dengan kondisi seperti ini. Pikirannya pun sempat melayang membayangkan apa yang kira-kira terjadi di penjara. “Mama boros baju banget sih? Yang dipake tadi itu kan baju mahal… kalo main jangan kasar-kasar dong…” Gerutu Tedi menyindir Mamanya. Rasti tertawa saja mendengar sindiran putra sulungnya itu. Dipeluk dan dikecupinya pipi Tedi dengan gemas, lalu diangkat dan digendongnya Cindy. ÔÇ£Anak Mama yang paling cantiikÔǪ Gak nakal kan hari ini?ÔÇØ Ucap Rasti sambil mengecupinya juga.

Gak nakal dong Cindy lagi diajari kak Tedi main game
Iih kok diajari main game sih? Diajarin bikin PR kek Sahut Rasti berlagak manyun.

Mmm Kalo bikin PR sama Mama aja ah.
Oo gitu Boleh deh. Habis Mama mandi ya?
Emang Mama bisa bantuin Cindy bikin PR? Hi hi hi Goda Tedi.

ÔÇ£Iihh menghina kamuÔǪ kalo PRnya Cindy aja sih Mama masih bisa, weeÔǪ!ÔÇØ Sahut Rasti gemas. Saking gemasnya Rasti kemudian terpikir untuk balas menggoda Tedi. ÔÇ£Pelajaran SMP sampe kelas dua Mama masih bisaÔǪ Mama kan doyan ngentotnya baru pas udah SMPÔǪ!ÔÇØ Ucapnya vulgar. Benar saja, Tedi langsung geregetan mendengar kalimat terakhir Mamanya itu. Apalagi ketika kemudian ketiganya sudah duduk di sofa, Cindy menimpali kalimat Rasti tadi dengan polosnya, ÔÇ£Kalo udah SMP Cindy mau ngentot jugaÔǪÔÇØ Rasti dan Tedi jelas terperangah dengan ucapan Cindy ini. Entah Cindy sudah mengerti betul apa yang dimaksud ngentot atau tidak, karena sebelum ini biasanya dia menyebut aktivitas Mamanya itu dengan sebutan ÔÇÿhimpit-himpitanÔÇÖ. Tedi tertawa, sementara Rasti malah salah tingkah. ÔÇ£Eeh ga boleh ya Cindy sayangÔǪÔÇØ Ujarnya gusar sambil melirik kesal ke Tedi yang malah makin terbahak.

Lho katanya Mama SMP suka ngentot?
Ii.. Iya sayang, mmm jaman dulu memang Duuhh, gimana ya pokoknya jangan ya Cindy, nanti kalo sudah SMA aja deh boleh kalo mau himpit-himpitan
SMA itu kapan Ma?

Mmm SMA itu nih kalo kamu udah kayak kak Tedi, kakak udah mau masuk SMA nih Rasti menunjuk ke arah Tedi yang badannya sudah tinggi sedikit melebihinya. Cindy pun mengamati kakaknya itu sambil mengerutkan wajah. Mungkin dia membandingkan tubuhnya yang masih mungil dengan tubuh Tedi. Masih lama dong sampe Cindy bisa segede kakak. Gumamnya.

Iya, bentar lagi kakak udah boleh ngentot karna sudah SMA Ucap Tedi tersenyum-senyum penuh arti.

Ih, emangnya kamu mau ngentot sama siapa? Kamu kan jomblo belum laku, wee Makanya cari pacar dong. Goda Rasti.

Sama Mama dong Tedi males pacaran.
ÔÇ£Emangnya Mama bolehin?ÔÇØ Goda Rasti lagi.
Kalo ga boleh ya Tedi perkosa! Sahut Tedi gemas.

Ha ha ha main perkosa aja kamu Masak Mama sendiri diperkosa? Jangan dong, iya deh nanti Mama bolehin Kerling Rasti genit.

Udah ah, cepetan Mama mandi, trus buang bajunya ini sebel Tedi ngeliatnya Gerutu Tedi sambil menarik bagian bawah pakaian tahanan yang dipakai Rasti sehingga paha Mamanya itu tersingkap. Aahh kamu nih Ucap Rasti manja dan langsung menyingkirkan tangan Tedi. Wajahnya pun tersipu sambil tangannya menutupkan pakaiannya ke pahanya lagi. Ya, sesaat tadi Tedi bisa melihat dan menyadari bahwa Rasti tidak mengenakan apapun lagi di balik pakaian tahanan itu. Tedi langsung panas dingin dibuatnya. Apalagi kemudian Rasti tersenyum-senyum memandangnya. Jangan dibuang dong, kan nambah koleksi kostum Mama Lagian seksi kan? Ucapnya.

ÔÇ£Emang ini baju apa sih Ma? Mama dari mana sih?ÔÇØ Tanya Cindy nimbrung. Saat itu beberapa anak Rasti yang lain yang baru sadar akan kepulangan Mamanya itu langsung ikut mendekat dan menggelayut manja pada Rasti.

Hi hi hi ini baju bajunya penjahat sayang Mama baru masuk penjara nih. Hi hi hi Jawab Rasti sambil mengusap-usap rambut Bram yang memeluknya dari samping. Gemasnya Tedi melihat entengnya Rasti mengucapkan itu seakan itu hal yang biasa saja sebagai bahan bercanda.

ÔÇ£Masuk penjara? Sama abang Norman dong? Abang mana?ÔÇØ
Abang masih dipenjara sayang. Kalo Mama sudah boleh keluar
ÔÇ£Kok bisa?ÔÇØ

Ya kan soalnya Mama bisa ngalahin para penjaga di sana, jadinya Mama bisa keluar deh. He he he Eh, tapi nanti mungkin Mama mau masuk lagi deh Hi hi hi

Duh, gemasnya Tedi mendengar celotehan Rasti di depan adik-adiknya itu. Dasar Rasti, ibu binal! Rasti masih tertawa-tawa saja mendengar pertanyaan-pertanyaan anaknya yang lain yang lugu-lugu. Rasti melirik Tedi, dan menyadari putra sulungnya itu manyun.

Hi hi hi udah ah sayaang, tanya-tanya terus. Tuh kak Tedi manyun tuh. Mama mau mandi dulu yaa Eh, kalian juga belum pada mandi ya? Mau mandi sama Mama di kamar mandi Mama?

Mauuu Jawab adik-adik Tedi kompak.

He he he, ya udah ayuuk Ajak Rasti beranjak dan menggandeng anak-anaknya itu masuk ke kamarnya.

Tedi menghela napas melihat Mamanya berlalu. Pakaian tahanan yang dikenakan Rasti sudah agak berantakan gara-gara ditarik-tarik dan dimain-mainin oleh adik-adiknya tadi. Bagian bawahnya yang tadi cukup menutupi separuh pahanya kini jadi ada yang tertekuk dan terlipat ke atas sehingga lebih mengekspos sebagian besar paha mulusnya. Dari belakang, lenggak-lenggok langkah Rasti jadi lebih indah dipandang, ÔÇÿYah, memang seksi sihÔǪÔÇÖ Pikir Tedi dengan jantung yang berdegup kencang. ÔÇÿAduh, ngaceng lagiÔǪ! sial.ÔÇÖ Gerutunya pada diri sendiri, lalu dia pun ngeloyor masuk ke kamarnya.

ÔÇÿPercakapan keluargaÔÇÖ singkat barusan membuat Tedi agak lega. Dia sama sekali tidak kesal atau marah pada Mamanya itu. Kini dia malah merasa senang melihat Mamanya sudah lebih ceria lagi daripada hari-hari sebelumnya. Meskipun keceriaan itu harus didapat dengan kembali menjadi ibu binal yang doyan dientot.

***

Pada akhirnya kegiatan itu berlangsung terus. Setiap beberapa hari sekali Rasti mengunjungi Norman ke penjara, kadang sendiri, tapi lebih sering minta diantar jemput oleh Tedi. Aktivitas Rasti di penjara pun makin hari makin lama. Yang awalnya hanya empat jam itu, kini lebih sering Rasti diantar pagi dan dijemput sore. Pikiran Tedi selama itu terus dibuat gemas dan penasaran. Pernah Tedi berpikir untuk meminta Mamanya merekam aktivitasnya di penjara untuk kemudian ditontonnya di rumah, tapi tentu pemikirannya ini tidak pernah diutarakannya pada Rasti. Ya, dia malu. Tedi sebenarnya memang jarang bisa bicara vulgar dengan Mamanya. Pada dasarnya Tedi memang pemalu. Sekedar minta diceritain pun Tedi enggan, betapapun dia penasaran setengah mati. Tidak seperti teman-temannya yang mesum. Ya, siapa lagi kalau bukan Riko, Romi dan Jaka yang akhir-akhir ini mulai sering main ke rumahnya lagi.

ÔÇ£Jadi Tante sekarang ngelonte di penjara?ÔÇØ
ÔÇ£Kalo ngentot di dalam sel gitu?ÔÇØ
ÔÇ£Dibayar nggak Tante?ÔÇØ
ÔÇ£Tante nggak takut?ÔÇØ
ÔÇ£Digangbang nggak Tante sama tahanan-tahanan di situ?ÔÇØ

Begitulah mereka selalu memberondong Rasti dengan pertanyaan-pertanyaan mesum setiap kali mereka datang. Kini keadaannya memang sudah agak normal sehingga mereka sudah berani ngecengin Rasti lagi di rumahnya.

Pertama kali mereka tahu aktivitas Rasti selama ini, baru mendengar pengakuan Rasti yang bolak-balik penjara demi terus bisa melayani nafsu binatang Norman itu saja langsung membuat mereka ngaceng sejadi-jadinya.

Duuh tante, kok bisa ya? Cerita dong Ucap Riko ngenes sambil mengelus selangkangannya.

Tapi belum diceritain aja gue udah ngaceng pol nih ngebayanginnya Timpal Jaka.

Rasti tertawa-tawa saja melihat reaksi teman-teman Tedi ini. Ya kalo sudah ngaceng, ga perlu Tante ceritain dong langsung coli aja sana Hi hi hi Ucapnya.

Yaa Tante, tetep diceritain dong Tuntut mereka kompak. Dan dari mulut Rasti pun kembali meluncur cerita-cerita mesum pengantar tidur favorit mereka.

Dalam penjara itu, Norman malah menjadi semacam germo yang menjual Rasti pada para napi di sana. Jadi, Rasti memang melonte di penjara dan dibayar seperti biasanya. Hanya saja, harganya memang jauh di bawah standarnya selama ini. Ya, di dalam penjara ini Norman menetapkan tarif flat 300 ribu per-orang sekali ngentot dengan Rasti. Itu pun sudah di luar dugaan Rasti bahwa ternyata banyak juga tahanan remaja yang kaya sehingga bisa membayar harga itu. Bahkan ada beberapa remaja yang menjadi tahanan VIP karna mereka anak dari seorang pejabat, kebanyakan kasusnya adalah peredaran narkoba. Tahanan VIP ini bisa membayar lebih dan mendapatkan waktu extra dan ruangan yang lebih privat bersama Rasti, sebagaimana Norman dan para penjaga. Ya, para penjaga mendapat jatah khusus dan gratis dari Norman sebagai kompensasi kelancaran bisnisnya itu. Sekali-kali Obet pun mendapat jatah, sehingga dengan begitu dia pun menjadi semacam bodyguardnya Norman. Dengan itu kedudukan Norman menjadi terpandang dalam penjara itu dan tidak ada yang berani macam-macam dengannya.

Rasti menjalani semuanya itu dengan senang-senang saja. Kembali melacur seperti sudah menjadi panggilan jiwanya. Dan ada sensasi tersendiri ketika melakukannya di dalam penjara dengan anaknya sendiri yang memanajerinya. Rasti bahkan mencoba lebih bersenang-senang lagi dengan sedikit bertualang di dalam penjara, memuaskan naluri eksibisonisnya.

Berawal dari kejadian saat awal Rasti memasuki lorong Sektor C untuk menuju sel Norman. Para penjaga mendapat ide untuk ngiklanin Rasti. Kondisi sektor-sektor lain di dalam penjara ini kurang lebih sama dengan sektor C, yaitu berupa lorong-lorong yang di kanan-kirinya berderet sel-sel. Seperti yang terjadi di awal datangnya Rasti, lorong Sektor C bagaikan sebuah panggung catwalk yang sempurna untuk beraksi. Para penjaga pun melontarkan ide menyuruh Rasti berjalan berlenggak-lenggok dengan pakaian seksi di lorong semua sektor yang ada. Tentu tidak sekaligus, tapi satu sektor dalam satu waktu, karna Rasti harus memberi pertunjukan yang cukup buat para napi menonton dari dalam selnya. Ide ini disambut antusias Norman dengan syarat dia bisa ikut menonton bersama para penjaga.

Saat Rasti menceritakan ini, wajah Riko, Romi dan Jaka benar-benar sudah seperti kepiting rebus saking ngacengnya. Mereka sudah berada dalam puncak konaknya hanya dengan membayangkan cerita itu. Rasti tertawa geli melihat ekspresi mereka. Aduuh, sana dibuang dulu ntar meledak lho kontolnya Hi hi hi

ÔÇ£Trus Tante mau?ÔÇØ
Tante nggak malu? Nggak takut?
Begitu mereka menghiraukan saran Rasti, dan langsung nyerocos dengan pertanyaan-pertanyaan. Lagi-lagi Rasti tertawa geli, Yakin mau dilanjut ceritanya?

Yakin Tanteee! Jawab mereka kompak.

Rasti memang awalnya menolak ide itu, saat Norman dan para penjaga menyampaikannya. Dengan membayangkannya saja dia sudah merasa malu dan grogi. Entah kenapa, Norman yang biasa memaksakan kehendaknya, kali ini dia membiarkan saja penolakan Rasti. Para penjaga pun kasak kusuk kecewa, dan Rasti pun merasa lega. Tapi diam-diam saat Rasti sudah pulang, Norman mengatakan pada para penjaga bahwa dia yakin Mamanya akan berubah pikiran dan meminta sendiri untuk merealisasikan ide itu.

Benar saja, di rumah malah Rasti terus kepikiran akan ide itu. Panas dingin dia membayangkan dirinya jika harus melakukan hal itu. Duh, kenapa ditolak? Ya jelas karena malu dong! Tapi lonte masa malu-malu? Kalo gitu diterima aja? Tapi lebih malu lagi kalo gitu, karena udah terlanjur menolak! Halah, masa lonte gengsi? Begitulah seperti biasa Rasti seperti berdialog dengan dirinya sendiri, dan berakhir dengan keputusan bahwa dia akan melakukannya!

Mm.. Mama mau coba, tapi di satu sektor dulu ya? Kalo Mama ga suka, ga usah dilanjut Ucap Rasti dengan wajah memerah di hadapan Norman dan beberapa penjaga. Menggemaskan sekali paras Rasti saat itu. Tak tahan, Rasti pun digilir sebelum ide itu direalisasikan.

Duuh digilir ya? Gumam Romi gemas memotong cerita Rasti.
Iya, Tante digilir dulu sama para penjaga. Tapi setelah digilir malah jadi enak kok, hi hi hi Maksudnya Tante jadi rileks Lega. Sebelumnya kan Tante tegang banget tuh?

ÔÇ£Habis digilir, langsung pertunjukannya?ÔÇØ
Hi hi, ya nggak dong, mandi dulu, dandan lagi Biar cantik.
ÔÇ£Ih… Iya, maksudnya setelah ituÔǪÔÇØ

Ya, akhirnya pertunjukan pun dimulai. Dimulai dari sektor paling akhir, yaitu Sektor G. Di sektor ini hanya ada enam sel, berderet tiga-tiga di kanan kirinya. Jadi, lorong sektor yang berisi tahanan-tahanan dewasa ini tidak terlalu panjang. Tidak seperti di awal dulu, kali ini karena sudah dalam perencanaan, dan memang tujuannya adalah ÔÇÿiklan lonteÔÇÖ, salah seorang penjaga memberi pengaantar sebelum Rasti beraksi. Penjaga itu masuk dan berteriak minta perhatian, lalu dia mengumumkan dengan gaya bahasanya yang khas, berlagak seperti presenter sebuah acara tapi penuh kata-kata kotor dan kasar. Rasti agak geli melihat tingkah penjaga ini.

Ayo beri tepuk tangannya yang meriah buat lonte kita Ha ha ha Si seksi Rasti! Ha ha ha Siapa yang tahan ga coli gue kasih hadiah rokok selinting. Ha ha ha! Buruan masuk non!

Meski tadinya sudah agak rileks, tiba-tiba rasa grogi itu muncul kembali. Tapi Rasti melawannya. Ah Demam panggung biasa, pikirnya sambil melangkah masuk bersamaan dengan keluarnya si penjaga yang memberi pengantar tadi. Saat itu Rasti lagi-lagi memakai seragam tahanan sama seperti ketika ia pulang di hari pertamanya di penjara ini. Seragam yang dia pakai sama kedodoran dan hanya atasannya saja, sama persis seperti waktu itu. Hanya saja, bedanya kali ini dia mengenakan dalaman bra dan celana dalam hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih. Saat ini dalamannya tidak terlihat, karna Rasti mengancingkan semua kancing seragam tahanan itu dengan rapat dari atas sampai bawah. Tepuk tangan langsung bergemuruh, siul-siulan dan seruan-seruan cabul bersahut-sahutan keras menyambutnya. Rasti pun mulai menebar senyum dan pesonanya sambil berjalan pelan menyusuri lorong yang tidak panjang itu, sampai dia berbalik, berjalan lagi dan berhenti di tengah lorong. Rasti berputar-putar di situ dengan gerakan pelan memandangi sekelilingnya dengan ekspresi seperti perawan yang terjebak di sarang penyamun. Menggemaskan sekali. Para penjaga di luar lorong pun tepuk tangan dan berteriak menyemangatinya. Ayoo non, digoyang! Ha ha ha! Lalu mereka pun menyetel musik dangdut koplo.

Rasti tersenyum kecut mendengar iringan musik norak yang tidak dia duga itu. ÔÇ£Iih inisiatif siapa sih?ÔÇØ Pikir Rasti gemas. Biar lonte begitu, selera musik Rasti cukup tinggi. Bahkan selama ini dia sangat suka ngentot di kamarnya dengan diiringi Beethoven. Tapi Rasti tak bisa protes. Tak urung, walau kagok, dia pun mulai menggoyangkan badannya mencoba mengikuti irama yang tidak dia nikmati itu. Suara sorak sorai yang meneriakinya pun makin menjadi.

Goyang non!
Buka dong?
Dengan satu provokasi itu, sejurus kemudian teriakan para tahanan itu pun menjadi kompak. Mereka satu suara.

Iyaa! Ayoo dibuka!

Buka! Buka! Buka! Buka! Buka! Teriak mereka sambil memukuli teralis sel masing-masing. Gaduh sekali. Rasti pun pura-pura bimbang. Dia berputar dan memandangi sekelilingnya dengan mata sayu. Dengan tangannya dia memegang kerah baju yang dia pakai. Tanpa mengucap sepatah kata pun. dengan bahasa tubuh, tatapan mata dan ekspresinya, Rasti seolah bertanya Apanya yang dibuka bang? Baju ini?

Iyaaa ituu, dibuka dong Sahut para tahanan yang bisa membaca bahasa tubuh Rasti. Masih dengan bahasa tubuhnya, Rasti menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi manja yang sangat menggemaskan. Tangannya didekapkan di dadanya berlagak ketakutan.

Anjiing lontee, ayo dibuka?
Buka! Buka!

Beberapa tahanan sudah tidak tahan dan tanpa malu-malu mengeluarkan penis dari balik celananya masing-masing dan mengocoknya. Bahkan satu dua orang malah mengacung-ngacungkan penisnya keluar dari teralis selnya. Emut non! serunya cabul. Rasti pura-pura terkesiap melihat kontol-kontol besar berurat itu. Ya, meski besar, tapi bukan yang terbesar yang pernah dijumpai Rasti. Sudah sering Rasti melihat yang segitu, tapi demi menyenangkan mereka, dengan ekspresi super imutnya, Rasti pun pura-pura takut dengan kontol itu.

Ha ha ha Jangan takut non Ini udah jinak, nggak nggigit! Sahut si pemilik penis girang dan kege-eran. Kini makin bertambah tahanan yang melakukan hal serupa. Rasti pun kembali berjalan pelan menyusuri lorong itu dan mulai berani mendekat dengan hati-hati. Dia merunduk dan mengulurkan tangannya mencoba memegang salah satu penis berukuran besar yang mengacung keluar. Tapi Rasti tidak menggenggamnya melain hanya menyentuhnya sedikit lalu dengan cepat menarik tangannya dan ditempelkan ke pipinya. Ekspresinya sungguh imut. Seperti anak kecil yang sedang memainkan binatang peliharaan, satu sisi gemas ingin memegangnya tapi di sisi lain takut digigit. Itulah gaya yang sedang dimainkan Rasti sekarang. Siapa yang tidak gemas dengan tingkah Rasti ini? Ya semuanya gemas bukan kepalang, bahkan kini hampir tidak ada penis yang tidak keluar dari sarangnya. Rasti melakukan itu di penis-penis lain, sehingga semua tahanan itu pun belingsatan berebut mengacungkan penisnya keluar dari teralis sel mereka.

Setelah beberapa penis diperlakukan begitu, Rasti sedikit menaikkan levelnya. Dengan jari telunjuknya, dia menyentul-nyentul salah satu kepala penis sehingga penis itu mengangguk-angguk, dan Rasti pun mendongakkan wajahnya dengan tertawa-tawa antusias memandang si pemilik penis yang mupeng berat. Rasti melakukannya beberapa kali di penis-penis yang berbeda. Desahan-desahan gemas pun bersahut-sahutan, mereka menuntut Rasti segera memuaskan penis mereka. Tapi tentu Rasti hanya berniat menggoda. Rasti kini malah berdiri menjauh lagi sambil tersenyum-senyum menggoda. Desahan kecewa dan merasa kentang spontan dilontar-lontarkan padanya dengan bahasa yang kotor. Rasti tersenyum geli, lalu dengan imut Rasti menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya, memberi isyarat seperti seorang guru yang menyuruh murid-muridnya diam dan tenang. Tentu bukannya tenang, para napi itu malah semakin ribut. Masih berlagak seperti seorang guru yang kewalahan menangani murid-muridnya yang terus gaduh, Rasti pura-pura menggeleng-geleng dengan wajah kesal, lalu bergaya seperti orang yang sedang berpikir dan kemudian mendapatkan ide.

Sambil melirik-lirik sekitarnya dengan binal, Rasti mulai menyentuhkan jari-jari tangannya ke kancing bajunya yang paling atas, dan meloloskannya. Trik ini agaknya berhasil, karna spontan suara gaduh itu hilang. Para napi itu terdiam, menelan ludah dan menahan napasnya. Dengan gerak lambat Rasti tangan Rasti turun meloloskan kancing kedua dan ketiganya. Dengan tiga kancing atas yang terbuka, itu sudah cukup untuk memperlihatkan belahan dada Rasti dan bra hitam yang dikenakannya. Walhasil, tenangnya para napi itu hanya bertahan sampai di sini saja, karena mulut-mulut mereka mulai mengoceh ribut lagi. Bukannya mencoba menenangkan mereka lagi, Rasti malah tertawa senang. Tangan kanannya menggenggam dan digerak-gerakkan seperti sedang onani dengan cepat. Ya, Rasti malah memberi isyarat mereka untuk mengocok penisnya lebih kencang lagi. Bagaikan robot yang sudah terprogram, itulah yang langsung dilakukan para napi itu. Mereka seakan berlomba mengocok penisnya masing-masing sambil melenguh-lenguh keras dan terus melontarkan kata-kata kotor. Rasti tertawa senang, dan seolah memberi hadiah karena perintahnya telah dipatuhi, Rasti pun menggoyang-goyangkan badannya dan menari dengan erotis. Ia tidak peduli apakah gerakannya sesuai dengan irama musik atau tidak.

Rasti memberi suguhan tari striptease pada mereka. Pelan tapi pasti, satu-persatu sisa kancing bajunya dilolosi hingga terbuka semuanya. Sorak sorai dan tepuk tangan pun langsung membahana meski Rasti tidak langsung melepas bajunya itu. Bahkan Rasti menggoda dengan membuka tutupkan baju itu di tubuhnya. Hal itu dilakukannya berkali-kali sambil terus bergoyang menari. Benar-benar panas pertunjukan yang ditampilkannya. Rasti melakukannya dengan spontan. DIa membiarkannya mengalir alami, tanpa tahu sejauh mana dia akan melakukan adegan ini. Begitu menggairahkannya aksi Rasti sampai-sampai beberapa napi sudah ada yang mencapai orgasmenya di titik ini. Mereka melenguh keras sambil mengecrotkan spermanya keluar dari teralis sel mereka. Ada satu yang menyembur cukup kuat sampai-sampai mendarat di kaki Rasti dan meleleh membasahinya. Si pemilik peju pun tertawa kegirangan, puas dan bangga. Terima tuh peju gua buat DP Ha ha ha Lonte, gue mau ngentotin lo abis ini! Serunya. Kyaa.. Rasti memekik kecil dan menggeliat manja merasakan kaki nya disembur dengan sperma. Para napi pun menyorakinya gemas. Berlagak kesal, sambil memasang wajah ngambek nan imut, Rasti membuka bajunya, benar-benar melepaskan baju itu dari tubuhnya yang kini hanya berbalut bra dan celana dalam hitam yang mini dan sangat seksi. Sorak sorai pun makin membahana, ditambah dengan siulan-siulan dan suara teralis besi yang dipukul-pukul berisik. Semua itu sungguh membuat dada Rasti berdebar-debar merasakan sensasi yang luar biasa dari aksi eksibisionisnya ini. Rasti lalu menggunakan bajunya itu untuk membersihkan kakinya yang dibasahi peju tadi. Ha ha ha body lotion neng biar makin kinclong kulitnya! Seru seorang napi menertawai tingkah Rasti.

Setelah kakinya bersih, Rasti melirik binal pada para napi di dalam sel yang berada tepat di depannya. Lirikan Rasti itu sukses membuat mereka blingsatan, apalagi kemudian Rasti melangkah mendekat. ÔÇ£Hayo, siapa tadi yang udah mejuhin Rasti?ÔÇØ Ucapnya genit sambil mengacungkan bajunya. Salah seorang napi menyambut baju itu dan menciuminya tanpa jijik. Memang hanya sedikit peju yang dilap dengan baju itu. Lebih banyak bau harum tubuh Rasti yang melekat di situ, sehingga baju itu pun diperebutkan di dalam sel. Rasti tertawa geli melihatnya. ÔÇ£Janji ya mau ngentotin Rasti nanti?ÔÇØ Ucapnya binal.

Hua ha ha pasti non, lo bakal gue entotin sampai dengkul gue keropos! Ha ha ha
ÔÇ£Janji?ÔÇØ Ucap Rasti lagi sambil dengan seksinya dia menungging membelakangi sel itu. Rasti menyodorkan pantatnya pada napi-napi beruntung itu.

ÔÇÿPlaakÔǪ!ÔÇÖ
Aahhh. Desah Rasti pelan merasakan pantatnya ditabok dengan gemas oleh salah seorang napi. Bukannya menjauh, Rasti terus berada dalam posisinya ini memberi kesempatan pada napi lain untuk melakukan hal yang sama.

ÔÇÿPlaakÔǪ plakÔǪ plaaakÔǪÔÇÖ Dengan gemas para napi beruntung itu pun berebut menampar-nampar bongkahan mulus pantat Rasti yang membulat sempurna itu. Tiap tamparan yang mendarat di pantatnya, Rasti memekik-mekik dan mendesah pelan, membuat para napi itu tambah gemas. Setelah dirasa cukup, Rasti pun melangkah menjauh lagi ke tengah-tengah lorong sambil tersenyum-senyum ditengah sorak sorai dan seruan-seruan dari para napi di sel lain yang memintanya mendekati sel mereka juga. Dengan genit Rasti tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya menggoda mereka. Sorakan mereka makin jadi. Tapi di sinilah Rasti merasa pertunjukannya harus diakhiri. Ya, jelas. Rasti sadar, aksinya ini memang ibarat ÔÇÿiklanÔÇÖ dan cuma teaser. Artinya dia tidak boleh terlalu jauh memberi pertunjukan. Meskipun begitu, Rasti berbaik hati memberi aksi terakhir. Kedua tangannya bergerak ke belakang punggungnya. Bisa ditebak apa yang akan dilakukan Rasti sehingga para napi itu pun terdiam menunggu dengan antusias. Ya, Rasti melepas branya dengan pelan. Dengan gerakan nakal, Rasti meyilangkan satu tangan di atas kedua payudaranya, sementara tangan satunya melolosi bra itu dari tubuhnya. Walhasil meski kemudian bra itu telah lepas dari tubuhnya, tak satu pasang mata pun dari para napi itu yang bisa melihat putting susu Rasti. Rasti cukup lihai melakukan gerakan ini sehingga para napi itu pun menyorakinya gemas.

Sungguh aksi Rasti ini sangat menggoda dan memancing nafsu. Sampai akhirnya Rasti hanya menyerahkan branya itu ke salah satu sel dengan tangannya enggan berpindah dari atas dadanya.

ÔÇ£Duuh itu tangannya yag satu nakal banget sih! Pengen gue cubit!ÔÇØ
Anjriitt non.. please itu tangannya suruh minggir! Asuu

Hi hi hi Dadaah abang Rasti tunggu yaa? Ucap Rasti geli sambil melambaikan satu tangannya sambil berlalu pergi dengan langkah pelan dan melenggak-lenggokkan pantatnya.

Huuuuu.! Suara koor protes memenuhi seluruh sektor itu mengiringi kepergian Rasti.

Sambil tersenyum-senyum senang merasa aksinya sukses, Rasti melangkah keluar dari lorong sektor itu. Ternyata bukan hanya para napi yang panas dingin dan blingsatan tidak karuan menyaksikan aksi Rasti barusan. Para penjaga dan Norman pun terangsang berat dan sudah menunggu-nunggu Rasti dengan tidak sabar untuk segera mengentotinya lagi.

Hi hi hi idiih kok malah kalian yang jadi nafsu begitu? Hayoo pedagang gak boleh makan dagangannya sendiri ya? He he he Seloroh Rasti ketika mendapati seluruh penjaga yang mupeng menungguinya.

Anjriit aksi lo tadi mantap abisss Gue ngaceng berat!
ÔÇ£Pokoknya kita mau ngentotin lo dulu lagi, baru ntar kita terima orderan dari mereka!ÔÇØ
Iih kok gitu? Sahut Rasti cemberut dan melirik ke arah Norman.

ÔÇ£Eiit, sekarang gue yang mau ngentot! Habis itu baru kalian, terus baru nerima order!ÔÇØ Sahut Norman yang merasa paling berkuasa. Lemaslah Rasti mendengar omongan Norman itu. Memang keliru besar jika Rasti mengharap Norman membuat keputusan bijak. Yang ada malah dia selalu mengikuti hawa nafsunya. Terbayang sudah kerja keras yang harus dilakukannya kali ini. Harus melayani Norman, ditambah melayani para penjaga lagi untuk kedua kalinya sebelum terakhir melayani ÔÇÿorderanÔÇÖ dari para napi. Bisa-bisa sampai malam Rasti baru bisa pulang.

Saat itu juga seorang penjaga mendata siapa saja dari para napi itu yang mau mengorder pelayanan Rasti. Dari total 29 napi di Sektor G, ada 8 orang yang saat itu juga mempunyai uang untuk membayar pelayanan Rasti.

ÔÇ£Ha ha haÔǪ dua juta lebih dalam sehari coyÔǪ! Enak bener lo ya cantik, jadi lonte duitnya moncerÔǪ!ÔÇØ Ujar seorang penjaga sambil mengipas-ngipaskan uang yang barusan dikumpulkannya. Rasti tersenyum kecut mendengarnya. ÔÇÿCapek tahuÔǪ!ÔÇÖ Gerutunya dalam hati. Lagipula nilai itu memang tidak seberapa dengan yang biasa diperolehnya selama ini. Sudah begitu, uang itu masih harus dipotong 30% untuk dibagikan kepada para penjaga. Tapi sudahlah, Rasti tidak mau mengeluhkan lebih lanjut konsekuensi dari pilihan yang sudah dibuatnya sendiri.

***********

He he he Iiihh kalian ini udah crot aja yaah? Jorok Iih! Ucap Rasti gemas melihat Riko, Romi dan Jaka yang sudah terduduk lemas menyandar dengan penis yang mulai terkulai dan peju bercecer di mana-mana. Memang mereka tadi tanpa malu-malu ngocok sepanjang Rasti bercerita. Kenapa gak ke kamar mandi siih Jadi kotor deh semuanya Dasar! Tukas Rasti sambil mengacak-acak rambut Riko yang duduk di sampingnya.

Maaf Tante nanti kami bersihin Ga kuat sih Tante Jawab Jaka sambil cengar-cengir.
Janji ya? Ayo dibersihin sekarang. Duh padahal ceritanya belum selesai lho Masih ada yang lebih seru lagi. Hi hi hi
Ampuun Tantee Kami nyerah dulu, besok dilanjut lagi ya Tanteee?? Ucap Jaka ngenes.
Hi hi hi gak janji yee Cibir Rasti genit sambil ngeloyor pergi.
Yaaah Tantee besok yaa?
Rasti hanya tertawa kecil sambil terus berlalu tanpa menjawab permintaan itu.

***********

Malam itu Rasti memilih tidur di kamar anak-anaknya yang masih kecil. Di kamarnya sendiri Tedi sudah tertidur pulas sejak tadi. Sudah beberapa hari ini memang Tedi tidur bareng Rasti di kamarnya. Apalagi kalau ketiga temannya itu sedang main ke rumah. Karna mereka menempati kamarnya Tedi, maka Tedi tidur di kamar Rasti. Sebenarnya kamar Tedi cukp besar dan sangat cukup untuk mereka berempat. Tapi kalau teman-temannya itu sudah mulai minta ÔÇÿdidongenginÔÇÖ oleh Mamanya, Tedi memang selalu memilih untuk tidak ikut mendengarkan dan menyendiri di kamar Mamanya atau menemani adik-adiknya.

Kamar adik-adiknya Tedi yang lain juga cukup besar. Bahkan kamar yang paling besar karena mereka semua tidur di satu kamar itu. Memang baru Tedi dan Norman yang sudah punya kamar sendiri. Rasti merebahkan diri di kasur Cindy yang sudah pulas juga seperti yang lain. Di samping Cindy ada Kiki, sementara Bram dan Dion tidur di kasur yang berbeda, dan si kecil Bobi anteng di dalam bed set khususnya. Rasti memandangi satu-persatu wajah anaknya dengan mata teduh khas seorang ibu. Dikecupnya Cindy, dan dibelainya rambut Kiki. Sejujurnya ada sedikit kegalauan di dada Rasti tentang kehidupannya yang dijalaninya selama ini. Tapi Rasti bukanlah perenung yang baik. Tiap kali dia merenung, renungannya itu seringkali berlalu begitu saja tanpa dipikirkan terlalu dalam apalagi disertai tindakan lebih lanjut. Seperti kali ini, Rasti hanya menghela napas panjang. Dia memilih mengosongkan pikirannya saja dan terus memandangi para buah hatinya dengan kepala yang sudah bebas dari beban pikiran apapun. Memang tidak ada bosan-bosannya memandangi wajah-wajah polos yang tengah tertidur pulas itu. Wajah-wajah polos yang dibesarkan tanpa seorang ayah. ÔÇÿDuh, kok jadi mikirin lagi sih..ÔÇÖ keluh Rasti dalam hati.

Rasti mulai merebahkan diri lagi sambil menerawang. Memang apa yang dikatakan Rasti pada teman-temannya tadi itu benar. Bahwa masih ada cerita yang lebih seru lagi. Tapi sebenarnya, makin seru cerita Rasti, makin capek Rasti saat menjalani apa yang terjadi di dalam cerita itu. Cerita-cerita itu selalu dijadikan bahan fantasi dan coli teman-teman Tedi, tanpa mereka tahu sesungguhnya bagaimana berat Rasti saat melaluinya. Tapi anehnya, Rasti sendiri sangat senang menceritakannya pada mereka. Ya, Rasti tidak pernah merasa terpaksa saat bercerita. Makanya dalam hati saat ini Rasti agak menyesal juga karena tidak sempat menceritakan kejadian yang lebih seru itu tadi. Iih kalian sih ngecrotnya kecepetan! Dasar ejakulasi dini Rasti menggerutu sendiri di dalam hati. Padahal Riko, Romi dan Jaka yang digerutuinya itu sekarang sudah pulas di kamar Tedi.

Ceritanya sama, yaitu tentang Rasti yang terus dipergilirkan oleh para penjaga untuk tampil ÔÇÿmengiklankanÔÇÖ diri di dalam lorong tiap sektor tanpa kecuali. Ada tujuh sektor, dan Rasti mulai dari sektor G seperti yang diceritakannya tadi. Selanjutnya sektor F, E, dan seterusnya. Tiap kali beraksi, Rasti terus menaikkan levelnya. Seperti di sektor F, Rasti sudah telanjang dada di tengah-tengah tariannya tanpa merasa perlu repot menutup-nutupinya lagi dengan tangan. Di Sektor E, bukan hanya telanjang dada, Rasti bahkan sudah berani mendekat dan membiarkan payudaranya digerayangi oleh tangan-tangan lapar para napi di sana. Rasti memulai ketelanjangan total di Sektor D yang paling besar. Ada 12 sel di sektor itu, dan Rasti melucuti seluruh pakaiannya tanpa kecuali, hingga sepanjang pertunjukan Rasti berlenggak-lenggok menyusuri lorong Sektor D tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Aksi itu terus berlanjut sampai berakhir di Sektor A yang tanpa Rasti sadari, para penjaga telah merencanakan sesuatu yang lain di Sektor A.

Para penjaga itu sebenarnya makin gemas dengan aksi Rasti yang levelnya selalu naik lebih tinggi dibanding aksi sebelumnya. Mereka pun kasak-kusuk dengan Norman juga untuk mengendalikan level aksi Rasti di Sektor A sebagai sektor terakhir. Mengendalikan level bukan berarti menurunkan level, tapi justru menaikkan level sampai titik tertinggi. Tapi, tanpa diketahui para penjaga, diam-diam Norman membocorkan sedikit informasi tentang rencana para penjaga itu kepada Mamanya. Norman sebenarnya sangat menyetujui rencana para penjaga itu, namun ia tidak sampai hati jika harus dengan menjebak Mamanya. ÔÇÿLagian ngapain dijebak? Diberitahu aja Mama pasti mau kok!ÔÇÖ Begitu awalnya keyakinan Norman. Namun pada akhirnya toh Norman ragu juga. Dia khawatir Mamanya akan menolak mengingat rencana itu cukup gila. Norman pun memutuskan untuk sekedar memperingati saja Mamanya akan adanya kejutan tanpa memberi informasi lebih jelas tentang apa yang akan terjadi dalam kejutan itu. Dan benar saja, meski was-was Rasti memutuskan untuk tetap beraksi di Sektor A.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Tiap pintu sel di penjara ini sebenarnya memiliki sistem mekanisme yang sebenarnya sederhana tapi cukup canggih untuk ukuran penjara itu. Ya, sistem itu membuat pintu-pintu itu bisa dibuka dan dikunci secara otomatis dengan menekan suatu tombol di luar lorong tiap sektor. Ini sebenarnya tombol darurat yang hanya boleh ditekan jika ada kejadian khusus yang tidak diinginkan, seperti kebakaran, atau bencana yang lainnya.

Saat Rasti sedang beraksi di dalam lorong Sektor A yang hanya terdiri dari delapan sel ini, diam-diam para penjaga mengunci pintu lorong itu secara manual. Rasti sendiri sudah waspada dan berdebar-debar menunggu kejutan yang dimaksud Norman. Hal itu membuat Rasti agak canggung dalam tarian stripteasenya. Rasti pun tidak ingin berlama-lama seperti sebelumnya karna dia sendiri sudah tidak sabar. Dengan cepat Rasti melucuti satu persatu pakaiannya diiringi sorak sorai para napi dari dalam selnya. Begitu Rasti mencopot celana dalam sebagai penutup tubuh terakhirnya, terdengar suara yang sudah familiar di telinganya. Rasti pun langsung berdebar membayangkan apa yang akan terjadi jika dugaannya benar. Ya, suara yang terdengar bersamaan tadi adalah suara kunci pintu sel yang terbuka. Pintu sel yang mana? Pikir Rasti panik. Suasana mendadak menjadi hening mencekam. Saat itu memang tidak ada napi yang langsung keluar dari selnya. Ternyata mereka pun juga ragu dan bertanya-tanya soal bunyi tadi. Mereka tahu itu bunyi kunci sel mereka yang terbuka, tapi mereka seakan tidak percaya.

Tentu suasana hening itu tidak berlangsung lama. Begitu satu orang napi mencoba mendorong pintu selnya dan mendapati bahwa pintu itu benar-benar telah terbuka kuncinya, napi-napi lain bersorak-sorak di selnya masing-masing sambil mencoba membuka pintu sel mereka juga. Jadi pintu sel mana yang terbuka kuncinya? Ternyata semuanya! Rasti menelan ludah berkali-kali demi membasahi tenggorokannya yang mendadak kerontang. Dadanya berdebar kencang sekali melihat satu demi satu pintu sel yang ada di sektor itu terbuka dan satu demi satu napi di dalamnya melangkah keluar sambil terkekeh-kekeh dan bersorak kegirangan. Sejurus kemudian lorong itu sudah dipenuhi 37 orang napi ÔÇÿkelaparanÔÇÖ yang mengelilingi Rasti dan siap memangsanya dengan buas. Rasti bergidik ngeri. ooh Inikah kejutan yang dimaksud Norman? ÔÇ£Duh, Norman anakku yang paling bandelÔǪ tega banget sih kamu sama MamaÔǪ? Nakal!ÔÇØ Pikiran Rasti berkecamuk, namun sebagai lonte professional dia harus cepat mengendalikan diri, dan tidak sulit memang bagi dia untuk melakukannya. Pada dasarnya Rasti tidak benar-benar ketakutan, karna di sisi lain antusiasmenya juga sangat besar membayangkan apa yang akan segera dia alami. Rasti cuma khawatir mempertimbangkan cukup tidaknya kemampuannya untuk bertahan.

Digangbang 37 orang jelas merupakan level paling tinggi sejauh karir dia sebagai lonte dan ibu binal. Paling banyak dia digangbang hanya oleh belasan orang, dan itu pun sudah lama sekali. Namun bagaimanapun juga, yang akan terjadi tidaklah bisa Rasti elakkan. Rasti pasrah dan bahkan berpikir untuk memanfaatkan momen ini untuk mengukur sejauh mana ÔÇÿkehebatanÔÇÖ dia sebagai seorang lonte!

Siang itu Rasti dikunci di dalam Sektor A selama 3 jam lebih. Selama itu pula dirinya bergulat dahsyat melawan 37 orang yang semuanya benar-benar berebut untuk menyetubuhinya tanpa kecuali. Tidak satupun yang merasa puas jika hanya dengan melakukan onani. Memek Rasti serasa diaduk-aduk tanpa jeda. Dari kejadian itu Rasti pun bisa mengukur sejauh mana kemampuan dirinya karena baru saat itulah dia harus mengerahkan semua kekuatan dan jurus-jurusnya. Rasti sangat menikmati persetubuhan yang mungkin bahkan lebih liar dari yang bisa dilakukan binatang sekalipun. Rasti orgasme berkali-kali sampai tak terhitung lagi, tapi ternyata dia tidak ÔÇÿsesaktiÔÇÖ itu. Rasti sudah kehabisan tenaga di putaran ketiga. Saat itu dia sudah sangat lemas dan mulai merasakan sedikit sakit di vaginanya. Rasti pun K.O di tengah-tengah putaran ketiga itu. Untunglah putaran ketiga itu juga merupakan putaran terakhir bagi mereka semua. Ya, para napi itu pun juga bukan pejantan-pejantan yang sangat tangguh. Mereka bisa mengalahkan Rasti karena mereka mengeroyoknya habis-habisan. Setelah mereka mencapai orgasme masing-masing di akhir putaran itu mereka pun ambruk satu demi satu kecapaian. Benar-benar gila apa yang sudah terjadi di lorong yang kini menjadi begitu pengap oleh bau keringat. Para penjaga segera masuk ke dalam dan salah satunya keluar menggendong Rasti, sementara yang lainnya sibuk menggelandang para napi yang kepayahan itu untuk masuk kembali ke selnya masing-masing. Sungguh beruntung para napi di Sektor A itu. Tidak ada keistimewaan apapun pada diri mereka yang membuat mereka mendapat keberuntungan ini. Yah, mereka hanya sekedar beruntung karna kebetulan saja mereka ditahan di Sektor A. Itu saja.

Rasti kini mengenang-ngenang bagaimana kemudian dia dimandikan dengan air hangat oleh dua orang penjaga. Dia dibaringkan di bathub berisikan air sabun yang hangat. Sungguh sangat nyaman saat itu dia rasakan. Ah sayang sekali semua itu tidak sempat dia ceritakan pada teman-teman Tedi tadi. Rasti kembali gusar memikirkan hal itu. Sebenarnya apa yang membuat Rasti begitu gusar dengan hal itu? Bukankah masih ada esok hari? Masihkah? Kegusaran Rasti ada hubungannya dengan sejumlah angka 12 digit yang muncul di layar HPnya ketika dia sedang menggunakan layanan SMS Banking sore tadi sebelum dia bercerita pada teman-teman Tedi. Tapi rasa kantuk yang mulai menyergapnya membuat kegusaran itu lenyap dengan sendirinya seiring dengan terpejamnya mata Rasti.

Keesokan paginya Riko, Romi dan Jaka pamit pulang dari rumah Tedi saat Rasti masih pulas tidur bersama anak-anaknya. Mereka memang pergi pagi-pagi sekali karena hari itu bukanlah hari minggu dimana sekolah mereka libur.

Seminggu kemudian mereka kembali main ke rumah Tedi setelah bermain basket di sekolah. Saat itu hari sudah sore dan mereka mendapati Tedi sedang memanaskan mobilnya bersiap hendak pergi.

Yuk ikut aja Tedi malah mengajak mereka.
ÔÇ£Kemana Ted?ÔÇØ
Jemput Mama
Jemput ke penjara??
Iya ayo cepetan. Mau ikut nggak?
ÔÇ£Iya iya mau, kita ikut kokÔÇØ jawab mereka setuju menerima ajakan Tedi.

Sampai di penjara, yang biasanya Tedi hanya menunggu sebentar saja, kini ternyata harus menunggu lama, bahkan sampai malam. Untung ada teman-temannya sehingga Tedi tidak bosan. Tapi selama menunggu tentu mereka panas dingin membayangkan bagaimana keadaan Rasti di dalam sana. Apalagi beberapa petugas lapas mengajak ngobrol Tedi, ngobrol tentang Rasti dengan penuh kata-kata yang merendahkan dan melecehkan. Kemudian para petugas itu juga saling ngobrol satu sama lain mengenai pengalaman mereka dengan Rasti, semua di depan Tedi dan teman-temannya.

ÔÇ£Kemarin gue dapat boÔÇÖolnya, wuih mantap!ÔÇØ
Anjrit sama gue kok gak mau ya? Dasar lonte pilih-pilih kontol!
Ha ha ha, bukan gitu coy! Itu kan gue maksa, dia nolak juga, ternyata boolnya emang masih perawan! Sempit abis! Wakakaka Kesian juga sih, sempat nangis tu lonte Jadi lo maklum aja coy, waktu giliran lo masih perih tu kayaknya. Ha ha ha!

ÔÇ£Tapi gue gak puas aja sih kalo harus pake kondom!ÔÇØ
Iya, anjing tu lonte gak mau kalo gak pake kondom! Dia pikir gue penyakitan apa!? Ujar mereka menggunjingkan Rasti yang membuat miris Tedi dan teman-temannya mendengarnya, tapi tentu ngaceng juga!

Hampir jam 9 malam, akhirnya barulah Rasti keluar. Penampilannya agak berantakan tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Hanya perlu dirapikan sedikit saja Rastipun terlihat sempurna lagi.

Sayang nunggu lama ya? Maaf ya Eh ada anak-anak

Iya nih Tante lama banget di dalam, ngapain aja?

Hi hi hi bukan ngapain aja, tapi diapain aja jawab Rasti sambil mengerlingkan matanya. Dasar Rasti, sudah dikerjain habis-habisan, sempat-sempatnya dia menggoda teman-teman Tedi.

Cerita dong Tante
ÔÇ£Iihh kalian ini minta didongengin terus kaya anak kecil!ÔÇØ

Iya.. soalnya tadi ada petugas yang bisik-bisik katanya Tante nyuruh mereka semua pake kondom ya? Kenapa sih Tante? Takut hamil ya?

He he he ya nggak dong, Tante masih pingin hamil terus kok

ÔÇ£Terus?ÔÇØ
Oo aku tahu Tante gak pingin anaknya keturunan penjahat!

Hhmmm nggak juga sih, tapi Tante memang sudah merencanakan yang spesial. Udah ya? Jangan nanya-nanya terus dong, Tante capek nih Ted, kita cari makan dulu, terus anter temen-temenmu pulang ya?

Duuh kita masih pingin main ke rumah Tante kok

Kalian pulang dulu ya malam ini sayang Besok-besok main lagi, maaf ya Tante capek nih Kalian ngerti kan? Ucap Rasti sambil memandangi Riko, Romi dan Jaka satu satu meminta pengertian mereka. Ketiga teman Tedi itupun menangkap raut wajah Rasti yang berbeda dari biasanya. Capek, jelas. Sedih? Hmmm, nggak juga, tapi setelah semua yang dilaluinya belakangan ini, mestinya Rasti memang belum sepenuhnya bebas dari berbagai tekanan dan beban yang menderanya. Mungkin itulah yang nampak dari raut wajahnya saat ini. Bagaimanapun juga, Rasti tetap terlihat tegar dan masih menebar senyum. Cantik? Pasti. Kecantikannya tetap melekat tak memudar sedikitpun. Hanya nampak secuil keprihatinan yang membuat teman-teman Tedi empati.

ÔÇ£I.. Iya TanteÔǪ Maaf…ÔÇØ Gumam mereka serempak. Ya, seharusnya bukan Rasti yang meminta maaf.

Setelah makan di sebuah restoran, Tedi mengantar ketiga temannya satu persatu ke rumah mereka masing-masing. Tiap mereka juga mendapat kecupan selamat malam spesial dari Rasti. ÔÇ£Maaf ya, Tante belum bisa nemenin kalian lagi untuk saat iniÔǪ Selamat tidur, belajar yang rajin ya, jangan mikirin Tante terus lhoÔǪ He he he…ÔÇØ Ucap Rasti kepada mereka semua. Ada firasat aneh menghinggapi kepala mereka, yang sukses membuat mereka semua gelisah sulit tidur pada malam itu.

Keesokan harinya, di sekolah mereka bertiga saling bercerita dan mendapati bahwa ternyata mereka merasakan firasat yang sama semalam. Terlebih, hari itu Tedi tidak masuk sekolah. Meski bertanya-tanya mereka sepakat untuk tidak menghubungi atau mengunjungi Tedi dulu hari itu. Tapi keesokan hari, dan keesokan harinya lagi Tedi masih saja tidak masuk sekolah.

Wah, udah tiga hari nih gue rasa kita perlu ke rumahnya nanti sepulang sekolah! Ucap Jaka pada saat jam istirahat.
ÔÇ£Gue juga penasaran banget sih, mana sms gue ga dibales lagi!ÔÇØ timpal Riko.
Tapi apa sudah boleh ya kita ke rumahnya lagi sekarang baru tiga hari juga
ÔÇ£Emang kita pernah dilarang ke rumahnya? Main aja kan gapapa?ÔÇØ

Udah deh, pokoknya gue siang ini mau ngedatengin rumahnya Tedi Terserah lo berdua mau ikut apa nggak, gue tetep berangkat! Tegas Jaka.

ÔÇ£Yaa, gue ikut juga lah!ÔÇØ sahut Romi cepat.
ÔÇ£Gue juga!ÔÇØ Riko juga mantap.

Begitulah tiga sekawan sahabat setia Tedi itu bergegas naik angkot menuju rumah Tedi begitu sekolah usai. Selain penasaran kenapa sahabatnya itu tidak masuk sekolah beberapa hari ini, tentunya juga karena mereka sudah kangen dengan Rasti. Mereka sangat ingin bertemu dengannya lagi. TapiÔǪ…

Alangkah kecewa dan hancurnya hati mereka, ketika mereka sampai di sana, mereka mendapati orang tidak dikenal di rumah Tedi siang itu. Rumah itu ternyata bukan milik Rasti lagi. Selama ini ternyata Rasti diam-diam memasang iklan menjual rumahnya di sebuah website penjualan property. Tedi sekeluarga sudah pindah entah kemana! Tak ada secuilpun pemberitahuan dari Tedi kepada mereka.

Mereka bertiga diam terhenyak. Ternyata firasat mereka malam itu benar adanya. Yang mereka takutkan ternyata benar-benar terjadi. Rasti dan Tedi ternyata pergi meninggalkan mereka. Bingung, kecewa, kesal, sedih, itulah yang mereka rasakan saat ini. Tidak akan adakah lagi senyum manis Rasti? Tidak akan adakah lagi canda dan dongeng dari Rasti? Apakah mereka tidak akan pernah bertemu Rasti lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*