Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 13

Istana Pasir Milik Sang Ayah 13

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 12

Bagian 13 – Jurumasak Surti Berceritera

Pelaku peran tambahan:
(khusus untuk Bagian 13 – Jurumasak Surti Berceritera)

Surti (’33’) = ibu kandung Sarto, jurumasak keluarga pak Darso.
Sarto (14) = anak (lk) kandung Surti.
Zuleha (58) = bidan yang menolong kelahiran Sarto.
Zuhaimi (20) = calon bidan, puteri Zuleha.

***

Sehari sesudah pembicaraan Surti dengan Daniati dan Diro yang bernuansa kekeluargaan, yang berbincang sambil lalu diseputar ‘intip dan mengintip’ yang berlangsung hampir setiap harinya, didalam rumah Surti, diantara Surti dan anaknya Sarto [lihat pada Bagian 3 – Piknik Menemui Ibunda Tercinta (revised)]…

Pada hari berikutnya di waktu pagi, mbak Surti mendapatkan telepon dari calon bidan Zuhaimi yang berpesan padanya agar bisa meluangkan waktu untuk mengunjunginya di sore hari dirumah ibunya, bidan Zuleha.

Dalam pembicaraan Surti dengan bidan Zuleha (ibu dari calon bidan Zuhaimi), bidan Zuleha telah mengungkapkan bahwa umur yang tercantum pada kartu data diri dari mbak Surti (KTP dan KK) telah dirubah dari usianya yang 14 tahun pada saat melangsungkan pernikahan dengan calon suaminya menjadi umur 18 tahun. Semua rahasia itu diketahui bidan Zuleha… dan disimpannya dengan rapi selama berbelas-belas tahun, tanpa seorangpun mengetahui… bahkan juga anaknya, calon bidan Zuhaimi yang pada saat kejadian itu baru berusia 5 tahun.

Bidan Zuleha lah yang menolong persalinan mbak Surti yang melahirkan bayi lelaki yang diberi nama Sarto.

Jadi usia mbak Surti bukanlah berumur 33 tahun seperti yang tercantum didalam KTP-nya sekarang, tetapi harus dikurangi dengan 4, jadi umur mbak Surti dengan mengabaikan angka usia pada KTP-nya adalah sebenarnya masih berumur 29 tahun sekarang ini.

Bidan Zuleha menyarankan agar mbak Surti memasang spiral KB atau IUD sebagai imbalan untuknya yang selama belasan tahun dan dengan penuh kehati-hatian menjaga rahasia itu. Kata bidan Zuleha, rahasia ini akan disimpannya seumur hidupnya tanpa meminta imbalan apapun lagi selain permintaan mengenai pemasangan IUD itu. Lagi pula itu dilakukan demi kebaikan untuk semua pihak yang terlibat didalamnya, bahkan… untuk menjaga nama baik desanya kelak… kalau-kalau terjadi sesuatu skandal yang bisa saja menimpa diri mbak Surti yang kondisi tubuhnya sangat sehat dan masih produktif secara biologis.

Sebenarnya tindakan yang dilakukan oleh bidan Zuleha adalah dilatarbelakangi oleh permintaan pribadi khusus dari… yang tak lain dan tak bukan adalah Daniati sendiri! Yang menjadi sangat khawatir sekali apa yang akan bisa terjadi didalam rumah ‘single parent’ dari mbak Surti ini, dan… kekhawatirannya terhadap kemungkinan terjadinya suatu skandal yang akan dialami oleh mbak Surti sendiri, yang secara langsung juga… sedikit banyaknya akan merepotkan bagi keluarga pak Darso. Apa jadinya… kata orang-orang bila mengetahui… bahwasanya jurumasak pribadi keluarga terpandang ini membuat skandal didalam rumahtangganya sendiri?! Skandal bisa saja timbul karena, misalnya mbak Surti hamil, karena ulah… anak kandungnya sendiri, atau oleh ulah keduanya yang lupa diri karena terperangkap oleh nafsunya dari keduanya. Sarto yang masih belum cukup umur, tetapi… secara biologis sudah matang untuk menghamili seorang wanita, walaupun wanita itu adalah ibu kandungnya sendiri…!

***

Seperti biasanya setelah mbak Surti menyelesaikan tugasnya, menata dan menghidangkan makan-siang untuk keluarga pak Darso dan baru kembali lagi kerumah majikannya ini, pada sore hari menjelang persiapan untuk membuat, menata dan menghidangkan makan-malam nanti.

Dengan membawa pulang 2 buah rantang agak besar yang berisi nasi dan lauk-pauk yang menu-nya persis sama dengan apa yang akan dimakan keluarga ini. Semua tindakan mbak Surti ini adalah atas saran dan restu dari pak Darso pribadi, seorang yang berpendidikan tinggi dalam pelbagai ilmu, terutama dalam hal pertanian perkebunan tanaman industri komoditi coklat.

Bagi pak Darso yang berpandangan moderat, adalah hal yang tak berguna, menyuruh jurumasak pribadi-nya sendiri menunggu selesainya keluarga ini menyelesaikan makannya, sementara ada seorang putera tunggal menjadi kelaparan gara-gara menunggu terlalu lama untuk makan, karena sang ibunda diwajibkan menunggu hanya untuk bisa menerima jatah makan untuk dirinya dan anaknya sendiri.

Pak Darso sering mengingatkan mbak Surti yang sebagai orangtua tunggal ini, untuk memperhatikan kesehatan puteranya sendiri, karena itu adalah kewajibannya yang sesungguhnya yang harus dikerjakannya, setiap hari… setiap saat…!

Dengan diantar oleh mobil patroli yang memang saatnya melakukan patroli keliling ‘shift’ siang hari dan juga atas instruksi yang harus dijalankan oleh regu keamanan ini, adalah mengantar jurumasak pribadi pak Darso sampai didepan pintu rumah mbak Surti yang berjarak hampir 2 km dan… diperintahkan tidak boleh singgah di rumah itu, walau hanya untuk minum seteguk air minum!

Kemudian mobil patroli perkebunan itu segera berlalu dan menghilang dari pandangan.

Dengan berdendang kecil dengan riang, mbak Surti masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintu depan rumahnya kembali dari dalam kembali.

Di kursi dekat meja makan, telah duduk Sarto mengendus-enduskan hidungnya kearah rantang yang masih ditangan ibunya. Rupanya bila seseorang sangat lapar… penciumannya menjadi sangat tajam rupanya. Hidung Sarto seperi kempas-kempis… mengendus kearah rantangan makanan, tapi… mata genit remajanya tengah asyik memelototi di celah… walaupun tidak cukup terbuka oleh sebuah kancing baju atas mbak Surti yang terlepas dari lubang kancingnya. Mungkin kancing ‘nakal’ itu ingin istirahat sejenak oleh ‘cekikan’ lubang kancingnya karena tertarik oleh dorongan bungkahan buahdada mbak Surti yang montok tapi sekal dan masih boleh dibanggakan tingkat kekenyalannya… buktinya si kancing yang terlepas tadi terlepas dari lubangnya karena dorongan buahdada 38B yang kenyal itu. Kalau sudah memble sih… buahdada itu akan mengalah sama kancing ‘nakal’ itu… dengan bergayut kebawah menghindari ‘tantangan’ si kancing ‘nakal’!

Mereka sangat menikmati makan siang ini yang setingkat mutunya dengan makanan orang-orang kaya!

Saat Sarto menyuap sendokan makan terakhirnya, Surti memperhatikan mata Sarto, anak remajanya… tidak lepas-lepas menatap tajam pada buahdada montoknya ini. Sampai-sampai tercetus perkataannya, “Emangnya beda dengan yang kemaren, dan… kemaren-nya lagi apa…?! Hi-hi-hi…!”.

Tercekat kaget Sarto jadinya, sampai makanan yang sudah dikunyah halus didalam mulutnya jadi ikut tertelan, disertai gumam lega Sarto, “HHmmm… sedapnya…!”. diteruskan dengan meneguk air minumnya… setengah gelas langsung habis ditenggak.

“Eh… Sarto… anak ibu yang genit…”, yang langsung disela saja oleh protes Sarto.

“Kalau Sarto adalah anaknya ibu… itu benar… tapi kalau dikatakan Sarto… genit… emangnya ibu punya bukti untuk mendukung penyataan ibu itu… ayooo…?!”, jawab Sarto seakan merasa sudah menang diatas angin saja tampaknya.

“Ada…! Iniii…! Iniii…!”, kata Surti sambil menunjuk buahdada montoknya dengan lirikan matanya yang mengerling pada buahadada yang kiri… lalu beralih arah ke buahdada yang kanan… hi-hi-hi…”.

Sarto tidak melihat lirikan-lirikan mata Surti pada buahdadanya. Tapi Sarto sudah lebih dulu menatap nanar pada buahdada montok milik ibunya ini, malah sedari tadi rupanya. Segera bertanya penjelasan pada ibunya, dengan nada kesal. “Naa-nii-naa-nii…! Kok nggak sembari nunjuk pakai jari telunjuk kenapa…?!”.

“Nih… lihat dulu dong sayang… lihat pada mata ibu… ikuti kemana arah mata ibu… menatap…!”, kata Surti menjelaskan pada Sarto.

Sarto mengikuti lirikan mata ibunya dengan seksama dimana setiap buahdadanya mendapat lirikan tajam agak lama dari pemiliknya sendiri.

‘Wah… ibu rupanya sudah mulai… ‘ramah lingkungan’ nih…! Buktinya kancing yang terlepas tidak dikancing lagi, lirikan mama… ughh… tajam sekali pada susu montok ibu sendiri’. Langsung spontan berkata keras, “Sedaaapp… ini baru namanya… ibu Sarto yang asli dan… baik hati he-be-he…!”.

“Dasar…! Remaja genit… hi-hi-hi…! Heee… ngomong-ngomong kamu sudah mencuci seragam pramuka-mu… hayoo…. kan besok hari Jum’at. Buruan mumpung cuaca masih panas… cepat kenapa… jadi cowok kok lelet amat sih…”, kata Surti mulai kesal, sambungnya lagi, “Entar kamu kalau udah kekenyangan kayak begini, malah… ketiduran lagi…!”.

“Orang Sarto nggak mau masuk sekolah besok, habis… he-he-he…”, langsung tertawa geli… selalu dia gagal saja… kalau mau mengelabui ibunya ini.

“Kamu ketahuan yaa…! Mau bohongin ibu… yaa…?! Hayoo… katakan… nggak pake lama… habis… apa…! Cepat…!”, tanya Surti mencecer habis… agak ‘sadis…’.

“Habis Sarto nggak diajak rapat sama… guru-guru… sih… he-he-he…!”, kata Sarto gagal membuat ibunya percaya dengan dusta buatannya ini yang kurang ‘menggigit’ dan samasekali tidak ampuh… payah… deh.

“Ooh… jadi gurumu pada rapat toh. Bukan bilang aja dari tadi… dasar! Buang-buang waktu yang berharga saja lagi”, kata Surti kesal.

“Emangnya… waktu berharga ibu itu untuk dipakai apa sih…?”, tanya Sarto pengen tahu.

“Yaa… ibu mau kekamar mandi dong… gimana sih…!?”, Surti segera berdiri, melangkahkan kakinya ke kamar mandi, tapi… menghentikan langkah-langkah kakinya setengah perjalanan menuju kamar mandi… langsung balik badan dan duduk lagi diatas kursi makan terdekat, sambil berkata, “Nggak jadi deh… kan kamu… belum tidur… hi-hi-hi…”, kata Surti menyindir sambil tertawa renyah.

“Emangnya kenapa pake nunggu Sarto tidur lagi…! Pokoknya hari ini… dan pada besok hari Jum’at dan diteruskan sampai hari Sabtu… terus sampai hari Minggu… Sarto bebas… Hidup kebebasan…!”, kata Sarto sangat senang hatinya.

Sekolah tempatnya dia belajar telah menetapkan bahwa hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur sekolah, alasannya banyak dan cukup bijak ini disetujui 100% oleh semua orangtua murid. Pertimbangannya diantaranya, jadi ngirit ongkos pp bagi semuanya. Banyak waktu untuk istirahat maupun refreshing ke tempat-tempat wisata yang dekat. Meskipun akibatnya… semua murid… harus belajar satu jam lebih lama dan… semua guru harus mengajar satu jam juga lebih lama…!

Ada HP berbunyi, rupanya itu HP milik Sarto. Sejenak kemudian terdengar suara Sarto yang ‘kasak-kusuk’ di HP-nya, rupanya dia dihubungi oleh teman sekelasnya.

Surti hanya melihat penuh perhatian pada semua ulah anak tunggalnya itu yang diibaratkannya sebagai sebuah mangga yang masih ijo… belum ada tanda mengkel-mengkelnya sama sekali.

Sebelum Sarto memutus hubungan telekomunikasi cellular itu, masih sempat terdengar kata-kata Sarto. <“Ya… gimana nanti aja deh…! Mendingan lo telepon aku sore nanti… menjelang malam… bye!”>, pelajar SMP kelas-2 ini mengakhiri bincang-hp dengan seseorang sesama kelasnya itu.

“Kelihatannya ibu seperti pegel-pegal kelihatannya nih…?”, kata Sarto mencoba mengambil hati ibunya. “Sarto pijitin deh kaki-kaki ibu… he-he-he…”, kata Sarto yang super polos ini, tidak mungkin dia menyembunyikan akal bulusnya dari pengamatan ibunya yang sangat cermat ini, selalu terbaca dari nada tawanya itu…

“Jadi apa rencananya dengan dengan temanmu itu… hi-hi-hi…! Nggak usah muter-muter deh ngomonginnya… hi-hi-hi…! Pokoknya tampangmu dan tertawamu itu seakan memberitahu pada ibu tentang semua akal bulusmu itu… hi-hi-hi…”, Surti tertawa terpingkal-pingkal jadinya.

“Waahhh… ketangkep basah terus nih… Sarto mau belajar pasang wajah yang angker dan sangar… ahh…! Biar, nggak selalu kebaca sama ibu gitu… he-he-he…”, Sarto jadi ikut-ikutan tertawa karena upayanya selalu kandas ditengah jalan…

“Bagus kalau begitu… jadi kalau ada terjadi sesuatu hal di sekolahmu… sesuatu yang mencurigakan… pasti kamu duluan yang dipanggil dan… diperiksa…! Kalau persoalannya lebih serius lagi… jadi deh… ibu yang dipanggil terus-terusan bolak-balik sama guru atau oleh kepala sekolahmu… ibu jadi tidak bisa ngapa-ngapain lagi… keluarga pak Darso urung makan masakan ibu dan… kita jadi ikut-ikutan… tidak makan! Apa itu maumu… dengan usahamu untuk memper-angker tampang mukamu…?!”, kata Surti jadi dongkol jadinya.

Sarto jadi terperanjat jadinya mendengar penuturan ibunya yang agak rinci itu. “Kalau gitu… nggak jadi deh… maafkan Sarto ya bu…”. Sarto lemas jadinya.

“Ya… sudah! Ceritakan semua apa yang kamu bincangkan dengan temanmu itu pada ibu… kalau tidak mau… tidak apa-apa… ibu selalu menghormati rahasia sesorang… kok”, Surti bangun berdiri dari kursinya dan langsung kekamar mandi untuk ‘melepaskan hajat’… dengan berjongkok melepas kucuran air-seninya, yang… membuatnya jadi sangat kebelet tadi.

Yang langsung buru-buru berkata, “Eh-eh-eh… bu…! Sarto mau menceritakan semuanya deh… ibu jangan marah dong…”, kata Sarto sambil menghiba pada ibunya yang sangat dikasihi ini.

“Tunggu aja disitu… orang ibu mau pipis kok… pake ditahan-tahan lagi…”, kata Surti sambil berlalu.

Setelah Surti melepas hajatnya dan kembali duduk berhadap-hadapan dengan remaja… kekasih hatinya… yang merupakan suatu penghiburan bagi hatinya semenjak suaminya minggat dengan seorang wanita… meninggalkannya dengan teganya bersama Sarto kecil yang masih berusia 8 tahun saat itu…

Sarto mulai menceritakan segala hal ikhwal dalam percakapan-hp itu juga percakapan mereka dengan teman-temannya pada waktu jam istirahat pagi menjelang siang di sekolah mereka tadi.

Yang meneleponnya barusan adalah seorang temannya yang bernama Tono, anak juragan pemilik pabrik tahu. Biarpun cuma tahu… tetapi dalam dompet Tono, tak urung selalu ada barang 2 atau 3 helai uang kertas dari pecahan Rp 100 rb. Tenyata membuat tahu bisa membuat orang jadi kaya rupanya, begitulah hasil pemikiran Sarto yang sederhana itu.

Tono, temannya Sarto itu ingin mengajak teman-temannya menginap dirumah yang besar (bersama dengan Tono adalah 4 orang, itupun kalau Sarto mau diajak), mumpung ayahnya mengurus pembeliah kedelai sementara ibunya Tono menyertai ayahnya juga nanti ada keperluan sendiri disana. Sedangkan kakak perempuannya sedang sibuk dengan tugas di kampusnya, sehingga tidak jadi kembali kerumah dari kost-nya dekat kampusnya itu. Praktis yang ada didalam rumah Tono, yaitu 2 orang PRT yang usianya 16 tahun dan 22 tahun, jadi bertiga saja… kemungkinan besar sampai 2 hari 2 malam akan jadi milik Tono cs. Kalau soal para pekeja pabrik tahu yang berjumlah 20 orang itu sih… bukanlah kendala yang cukup berarti, mereka berada jauh dibagian belakang halaman rumah disisi kanan agak kedalam, kalau ditarik garis lurus, hampir 50 m jauhnya dari bangunan rumah utamanya.

Rencana ‘kelompok berandal kecil’ ini tidak jauh-jauh dari hal yang berbau seks, misalnya nonton filem bokep bareng yang koleksi dari ayahnya… sangat banyak sekali. Kalau 2 orang PRT itu seperti yang sudah-sudah suka mau diajak nonton bareng BF dengan Tono… bila pada saat aman terkendali, mungkin saja kali ini bisa ditingkatkan lagi… mungkin mau diajak ‘gituan’ bersama 4 sekawan ini. Kalau soal kontrasepsi sih tidak akan menjadi persoalan… kan penyuluhannya yang gencar sampai juga ke telinga anak-anak ini, yang kupingnya tajam luar biasa untuk hal-hal semacam ini… ada… banyak di lemari kecil khusus untuk menyimpan obat-obatan, mungkin kalau cuma 5 kotak utuhnya saja sih… pasti ada! 1 kotak kondom itu berisi 6 buah kondom yang masing-masing dibungkus dengan alumunium foil.

Tercekat Surti mendengar penuturan jujur dari anak lelaki tunggalnya ini. Terbayang sudah di benaknya bayangan-bayangan apa yang bakal tejadi nantinya… 2 orang PRT yang wanita muda… habis-habisan ‘dikeroyok’ ML oleh 4 remaja potensial yang sangat ingin tahu ini, lalu… terkapar lemas… belum tentu juga ada diantaranya yang bisa mendapatkan orgasme-nya. Setelah rehat sejenak… melanjutkan tontonan BF-nya, dan… dipraktekkan lagi… terus begitu… mungkin bisa berlangsung sampai menjelang pagi… uugghhh… membayangkannya saja sudah ngeri… apa lagi melihatnya langsung…!

“Kalau ibu mengijinkanmu menginap dirumah temanmu itu… apa kamu… akan tetap mau menginap dirumah temanmu itu…?”, Surti menguji pendirian Sarto yang polos belum berpengalaman dalam soal begituan… paling-paling ‘prestasi’-nya kalau boleh disebut begitu… sebatas mengintipnya yang telanjang sedang mandi, dan… selanjutnya diteruskan dengan acara onani, dan akhirnya tertidur terlelap… sendiri.

Sarto yang ditanya… jadi bimbang dan sangat ragu… jadinya. Dan menjawab pertanyaan ibunya yang terkasih. “Gimana… ya… bu! Mau sih… mau, jadi ibu… sendirian dong…”, katanya penuh kebimbangan.

“Benar itu…! Apa katamu yang terakhir… selama 2 hari 2 malam… ibu jadi sendirian di rumah ini…!”, kata Surti meng-iyakan perkataan anaknya.

Langsung Sarto bangkit dari duduknya dan memeluk erat ibunya yang sangat disayangi dan sekaligus jadi sasaran intipan matanya yang nakal ini.

“Tidaklah… bu! Tak akan sampai hati… Sarto membuat ibu jadi sendirian… selama itu! Daripada nantinya disana… Sarto malah pergi pulang kembali, karena… kangen sama… ibu!”, kata Sarto lesu sekaligus senang karena tidak langsung menyetujui pada pembicaraannya di HP tadi dengan Tono, yang… mempunyai niat nekat merencanakan itu semuanya.

Mereka terdiam cukup lama… diam pada posisi-nya… tanpa kata… tanpa suara… kedua ibu dan anak tunggal ini… kepala Sarto merebah diatas buahdada yang besar ibunya yang bagian kiri… dan tanpa disadari oleh Sarto ujung dari 2 jarinya (jari tengah dan telunjuk) tangan kirinya… mengusap-usap lembut pas… diatas puncak buahdada bagian kanan… mengusap-usap pelan puting susunya yang… walaupun tertutup oleh 2 lapis kain tipis, yaitu BH tipis dan baju atasnya… tak pelak menimbulkan efek luar biasa pada diri Surti yang masih saja diliputi bayangan ‘orgy’ yang bakalan terjadi… dirumahnya Tono, antara 2 PRT muda dengan beberapa orang remaja muda… <seerrr…!> ada semprotan kecil dalam vaginanya yang kurang lebih 6 tahunan tidak pernah lagi dikunjungi oleh ‘tamu’ yang selalu… selama ini… didamba-dambakan kedatangannya…

“Aahhh… geli… tahu! Nekat amat sih jarimu ini… To!”, desah protes Surti merasa geli sekaligus… birahinya melonjak jadi tinggi.

Sarto langsung tersadar dari lamunannya yang tak sadar tadi, seketika melihat 2 jarinya itu menghentikan usapannya, dan… ngetem diatas permukaan puncak buahdada ibunya ini pas diatas putingnya. “Eh… maaf ma… dasar jari tangan Sarto yang nakal…! Kok pas bener ya berhenti pada lokasi yang ini… he-he-he… uuuppss… maaf bu…”, kata Sarto tertawa malu campur heran.

“Telat… To…! Udah terjadi… dikasih maaf juga juga… buat apa…? Bilang aja terus terang sama ibu… kamu mau melihat bagian ini dari dekat… emangnya hasil intipan kamu sewaktu ibu mandi kurang jelas… begitu?”.

“Eh… ibu… ternyata sudah tahu toh…? Malu nih… jadinya… ternyata ibu sungguh baik hati… karena tidak pake marah lagi… Tawaran ibu ini serius ya bu… kalau boleh sih… mau aja dong…! He-he-he… kapan lagi… dari pada susah-susah ngintip… malah pernah Sarto jadi kelilipan jadinya saking pengen lebih jelas lagi ngelihatinnya… he-he-he… maafkan Sarto ya… tapi… benar Sarto pengen sekali… deh…!”, Sarto berkata jujur tanpa tedeng aling-aling lagi… takut tawaran yang sangat menarik hati ini… ditarik kembali…

“Uuhh… dasar, anak ibu yang genit, ternyata keingin-tahuanmu lebih besar dari umurmu sendiri…! Tapi dengan satu syarat…”, kata Surti mengambang di udara dalam ruang makan ini…

“Syaratnya… apa bu…? Tolong kasih tahu…”, tanya Sarto, yang pada usianya ini selalu ingin tahu… apalagi pada segala hal yang diminatinya…

“Nggak jadi deh…”, kata Surti singkat saja.

“Yaa… gimana sih ibu… udah lagi girang-girangnya… lagi…!”, kata Sarto langsung kecewa mulai memberat…

“Maksud ibu… girangnya boleh terus… cuma syaratnya… lupakan saja dahulu… untuk sementara waktu… hi-hi-hi… ayoo… ke kamar mandi sembari ibu mandi lagi… soalnya satu setengah jam lagi mobil patroli malam akan menjemput ibu lagi untuk pergi ke rumah pak Darso untuk menyiapkan menyiapkan makan-malam mereka… ayoo… jangan sok malu… beraninya cuma ngintip melulu… hi-hi-hi…”, kata Surti berusaha ‘membakar’ semangat gairah sang remaja ini.

Dengan berusaha jangan ragu, jari-jari tangan remaja Sarto tak urung gemetaran tapi melanjutkan aksinya untuk memreteli baju atas Surti. Biar lambat tapi… pasti terlepas sudah baju atas itu, dan berakhir… di gantungan baju di dinding. Kini giliran BH besar dan tipis yang menghalangi pandangan mata genit Sarto pada buahdada montok milik ibunda, yang tumben pada siang menjelang petang ini kok… baik hati sekali… dari pada susah-susah… bukan tanpa resiko… mengintip… Ini pun cepat… malah lebih cepat dari yang tadi… karena dibantu oleh tangan Surti yang melepas kaitan BH-nya yang ada di punggung… sambil mengerutu dalam hati, “Lelet amat sih… ngebukanya… nggak tahu apa bukan kamu aja To… yang punya nafsu… ibu malah lebih besar darimu…!”.

Terbuka lepas… sudah… buah montok yang guedee 38B eeuuhh… yang bergantung ranum bebas di dada dengan gayutannya tidak terlalu kentara… karena lebih disebabkan oleh karena bobotnya… tidak puas-puasnya mata Sarto memandang… mengundang kata dari Surti. “Jangan dilihat-lihat begitu saja… kenapa…! Diapain kek… ditutupi pake BH lagi juga tidak mengapa… hi-hi-hi…”, kata Surti menggoda Sarto yang masih saja gelagapan… karena diberi kesempatan… melihat dari dekat dengan apa yang selama ini jadi sasaran utama pengintipannya atas tubuh telanjang bulat ibunya… yang sedang asyik mandi… membersihkan diri.

‘Sudah… buang-buang waktu dengan percuma…’, gerutu Surti didalam hati. Mereka masih berdiri berhadap-hadap sangat dekat di dalam kamar mandi. Segera dengan tuntunan telapak tangan kirinya menekan kepala Sarto… agar memposisikan mulutnya pada pentil susu sebelah kiri. Begitu mulut Sarto menempel pada pentil susu yang sudah nongol beberapa belas mm dari puncak susu montoknya… secara spontan dan otomatis mulut Sarto mengemut-ngemut santer pentil ibunya ini, yang langsung menyebabkan Surti menegakkan kepalanya hampir doyong kebelakang, sambil mendesah keras… “Aaahh nikmatnya… sudah lama sekali… pintar kamu To… ya bener begitu ngemutnya… oohh… tangan kirimu sembari nyemek-nyemek susu ibu yang kanan dong… aahhh… eeh… pake diplintir-plintir lagi pentilnya… nah ketahuan ya dapat tahu dari nonton filem bokep ya…”, kata Surti penuh dengan rasa nikmat.

<Seerrr…!> ada lagi semprotan kecil dalam vagina-nya yang ‘lapar’, ini adalah semprotan kecil yang kedua.

‘Bisa-bisa KO duluan… nih!’. Tidak pake menunda lagi, segera melucuti CD-nya sendiri sampai cuma dia sendiri yang telanjang bulat didalam kamar mandi ini.

“Ayoo… buka semua pakaianmu… semuanya… kan kita mau ‘mandi’, hentikan dulu kenyotan mulutmu yang nakal, biar tambah cepat membuka pakaianmu, kalau telat… wahh… rugi berat… deh!”, kata Surti menyemangati putera remajanya ini yang masih saja mau berlama-lama… ngemut pentilnya… kayak anak bayi aja…!

Telanjang bulat jadinya mereka berdua didalam kamar mandi ini, penis remaja Sarto menjadi sangat tegang… hampir tegak sempurna… menempel pada perut remaja yang rata… ‘Tapi bisa muat 2 piring makanan lezat… hi-hi-hi…!’, tertawa dalam hati mengingat nafsu makan Sarto yang besar itu. Sekarang Surti harus menjinak nafsu birahi perjaka muda ini, terlihat dari batang penisnya yang keras serta memanjang hampir 14 cm itu. ‘Coba dihitung kalau 1 cm per tahun pertumbuhan panjang penis Sarto ini… bukannya bakalan mempunyai panjang 20 cm pada usianya mencapai 20 cm…! Hi-hi-hi…’, Surti tertawa dalam hatinya… geli sendiri dengan perhitungannya yang asal-asalan dan sembrono itu.

Surti mengambil pakaian Sarto yang sudah dilepas semuanya, kemudian melipat-lipatnya untuk menjadi tumpuan empukan bagi kedua lututnya. Sedang Sarto mengawasi saja ulah ibunya dengan penuh minat… walaupun sama sekali tidak mengerti… sebenarnya ibunya ini mau ngapain sih…?

Segera Surti berlutut dengan nyaman, dan… langsung mendekatkan palkon perjaka anaknya ini… langsung masuk kedalam mulut Surti… yang langsung mengatupkan dengan erat bibir atas dan bibir bawahnya… menyekal erat disekeliling penis remaja perjaka yang keras ini. Menggerak kepalanya turun-naik disekujur batang penis keras Sarto.

“Aaargghhh… enak banget… baru tahu rasanya… kayak begini, pantesan cowok didalam BF doyan bener anu-nya di-‘caplok’ sama mulut ceweknya… dikit-dikit minta di-‘caplok’, dikit… oohh… jangan terlalu cepat bu… ‘nyaplok’-nya, entar muncrat didalam mulut ibu nih…”, kata Sarto keenakan dengan aksi BJ dari ibunya yang hebat… tapi nikmat… enak amat…

Surti tidak memperdulikan peringatan anaknya ini… yang terpenting aksinya bisa menghasilkan sesuatu… dan sukses…! Malah makin mempercepat kocokannya pada sepanjang batang keras dengan mulutnya yang bibir-bibirnya mengatup sangat erat disekeliling batang penis sang perjaka remaja ini…

“Aarrghh… ibu…!”, langsung kedua tangan memegang kepala Surti… seakan ingin membantunya supaya… gerakan kocokan mulut pada penisnya makin cepat.

Surti tahu… tak lama lagi Sarto akan mengalami orgasme perdananya… dengan diawali dengan semprotan spermanya… dengan nekat Surti berniat menampung semprotan sperma yang sangat potensial dari anaknya ini, sampai… tetesnya yang terakhir!

“Pokoknya Sarto sudah memberitahu lebih dahulu… oh-ah-aah-aaah-aaahh-aaahhh…!”, <CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!> saking banyaknya sperma yang dikeluarkan ‘terpaksa’ Surti meneguk semua sperma perjaka yang ‘segar’ itu.

Langsung Sarto duduk diatas lantai kamar mandi sambil menikmati orgasme-perdana yang spektakuler rasa nikmatnya…

Sedang Surti yang gairah-birahi sudah mencapai titik tinggi yang maksimal… tidak mau kalah… segera beraksi sendiri… melakukan masturbasi dengan mengusap-usap permukaan kelentit-nya dengan ujung jari-jarinya dengan sangat cepat, karena sudah kadung nafsu lebih dahulu… tidak perlu waktu lama untuk menunggu… “Aaahhh… Sarto-ku sayang… harusnya ini tugas penis-mu sayang…”. <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> Sutri memperoleh juga orgasme-nya… walau tidak sehebat yang didapat oleh sang perjaka…

**

15 menit kemudian, Surti dan Sarto telah berpakaian rapi kembali.

Sekilas Sarto memeluk tubuh ibunya dengan penuh kasih, “Terimakasih bu… atas pengalaman pertama kali yang dirasakan Sarto… untung aku tidak jadi datang kerumahnya Tono… he-he-he…”.

“Kamu dengan tenang… menunggu dirumah ya… sayang… nanti ibu akan membawa makanan lezat lagi… biasanya dari makan-malam ini ibu bisa membawa makanan lebih yang akan kita simpan sebagian didalam kulkas untuk sarapan besok pagi. Karena ibu seperti biasanya setiap malam hari menunggu mereka makan-malam sampai selesai. Keluarga pak Darso jarang menghabiskan waktunya berbincang-bincang di meja-makan, karena… memang bukan kebiasaan keluarga ini. Setelah ibu membereskan perabotan dapur… ibu akan pulang, dan… diantar dengan mobil patroli. Sungguh ibu sangat bahagia bekerja pada keluarga yang sangat baik hati ini, penuh perhatian dengan karyawan-nya, sangat kekeluargaan sekali…”.

<Diinnn…!> <Diinnn…!>

“Oh… jemputan sudah datang… ingat sayang… matikan saja HP-mu biar si Tono tidak bisa menghubungi… daagghh… kunci pintu ini dari dalam…”.

Sesuai dengan kesepakatan bersama, antara Sarto dengan ibunya, apabila dia disuruh mengunci pintu depan rumah dari dalam… berarti setelah dia memutar anak kuncinya untuk mengunci, anak kunci itu ditarik keluar dari lubangnya dan langsung ditaruh pada gantungan kunci yang berada di daun pintu sebelah dalam. Ini dilakukan supaya Surti tidak usah menunggu lagi cukup membuka kunci depan rumah itu dengan anak kunci serep yang selalu dibawa Surti dalam saku kecil di pakaian yang dikenakannya itu.

Segera Surti naik ke mobil patroli disertai anggukan hormat dari supirnya, seorang petugas keamanan perkebunan shift malam…

***

Pada jam 20:00, Surti telah sampai lagi dirumahnya. Dengan anak kunci serep dia membuka pintu depan rumah dan langsung masuk kedalam. Pintu itu dikunci lagi dengan memakai anak kunci yang tadi digantungkan pada daun pintu bagian dalam, dan anak kunci itu dibiarkan pada lubang kuncinya.

Dengan bersenandung kecil… seperti biasa yang selalu dilakukannya… tanpa disadarinya… kalau baru masuk dirumahnya dimana dia tinggal berdua saja dengan anak lelaki tunggalnya, Sarto, yang… beberapa jam berselang tadi… sudah tidak perjaka lagi… atas kemauannya sendiri.

‘Kemana… Sarto? Jangan-jangan… uugghhh… sebaiknya aku jangan menduga jelek dahulu…’. Segera menaruh semua bawaannya diatas meja makan, kemudian melangkahkan kaki-kakinya sembari melepaskan sandalnya, dan bergegas membuka pintu kamar tidur Sarto, melongok kedalam… kosong! ‘Dasar… anak-anak sekarang bandel-bandel!’.

Dengan lesu dan kesal, Surti membuka kamar tidurnya yang lebih komplit perabotannya, ada… lemari pakaian yang salah satu dari daun pintunya memakai cermin dan… menghadap kearah tempat tidurnya, ada meja rias bercermin besar, tempat tidur empuk lumayan besar dan… ada TV ber-diagonal 21 inci… ha… TV! Segera Surti membalikkan tubuhnya memandang kearah tempat tidur… “Oohhh… disini rupanya si Sarto…! Hi-hi-hi… dasaarrr… anak bengal! Hi-hi-hi…!”. Dilihatnya Sarto sedang tidur terlentang, tangan kanannya menekan sebuah buku agak lebar yang terbuka ‘menelungkup’ diatas dadanya yang berayun turun-naik teratur pelan… karena sedang bernapas teratur, dan… nyenyak sekali tidurnya!

“Dasaarrr…! Baru juga… kena ‘mulut-atas’-ku! Gimana kalau mendapatkan… ‘mulut-bawah’-ku…! Hi-hi-hi… nggak kebayang deh… apa jadinya… hi-hi-hi…!”, dengan hati-hati dia mengambil buku yang tergeletak diatas dada Sarto dan memeriksa dengan teliti… dengan menarik napas panjang lega… buku itu adalah buku pelajaran sekolah. ‘Ternyata… didalam masa liburnya… Sarto tidak lupa mengisi waktu luangnya dengan belajar… ibu yakin… hidupmu kelak akan jauh lebih senang dari pada ibu-mu sekarang… karena ilmu yang dipelajari sekarang, menjadi tangga yang semakin meninggi untuk meraih ‘bingkisan-bingkisan’ pilihan cita-cita yang tergantung diatas sana…’.

Surti juga sangat lega… karena didalam buku pelajaran yang agak lebar bukunya itu… tidak terdapat sebuah buku tebal yang lebih kecil… sebuah buku komik ‘anime’ khusus orang dewasa. Banyak sekali anak-anak kecil men-dewasakan dirinya sendiri… dengan membaca komik itu, dengan cara menutupi bagian belakang buku komik ‘anime’ itu dengan buku yang lebih lebar. Suatu modus baca yang ‘kuno’ dan mudah sekali… untuk tertangkap tangan.

Karena merasakan ‘tanggung’, Surti meneruskan saja melepaskan semua pakaiannya sampai telanjang bulat tanpa busana. Dan segera mengunci pintu kamar tidurnya dari dalam.

Teringat Surti sewaktu dia masih bekerja sebagai jurumasak junior di resto yang cukup besar itu. Dia sering ditanyai oleh teman-teman rekan sekerjanya. “Mbak Sur… sering makan apa sih… sampai begini, mana wajahnya kece banget lagi… mengingat umur mbak, tuh… body… awet muda sekali!”.

Rupanya bukannya ‘awet-muda’, tapi… memang masih muda, Surti sebenarnya… sekarang saja baru berumur 29 tahun! Masih dibawah kepala-3 rupanya.

Sewaktu kerja di resto, hampir semua rekan kerjanya, baik yang cowok maupun yang cewek rada segan padanya. Maklum saja Surti walaupun dengan wajahnya ayu… atau ‘kece’ kata teman-temannya itu, dia orangnya rada berani dalam arti sesungguhnya. Rekan-rekan cowok rada ragu… walau sangat mau untuk menjalin hubungan yang lebih jauh. Tak ada cowok yang berani nekat, mengajaknya ML bebas tanpa terikat, khawatir… di-‘gebok’ dengan buahdadanya yang montok kenyal berukuran 38B, dengan membandingkan keseluruhan tubuhnya yang pendek pun tidak… tingginya pun nggak, sekitar tinggi 159 cm, dan dengan tubuh tidak terlalu… gempal menjadikan buahdada montok itu terlihat… wuaahh…! Oke punya deh…! Mana tuh puting-puting susunya yang nongol ada kali sekitar 1 1/2 cm dan berwarna maroon gelap dikelilingi oleh areola sebesar kepingan gobang dan berwarna maroon saja.

Surti sekarang sedang meneliti seluk-beluk atas semua lekak-lekuk tubuhnya ini, seperti pelajar saja layaknya yang sedang mempelajari sesuatu penuh konsentrasi… siapa tahu besok ulangan ada pertanyaan yang berhubungan dengan apa yang sedang diteliti saat ini.

Asset kebanggaannya adalah sepasang buahdada yang sehat, montoknya sangat… banyak cowok senang melihat… bahkan dokter perusahaanya tempat kerjanya sering meneliti bagian ini dengan cermat… dan proses pemeriksaan ‘general check up’-nya pun dilakukan sangat lambat… agar supaya kondisi tubuh Surti lebih sehat… begitulah sang dokter berkilah penuh… hasrat!

Ketika Surti berdiri miring kekanan, karena bobot tubuhnya lebih banyak bertumpu pada telapak kakinya yang kanan, lalu berganti posisi berdiri kekiri… bobot tubuhnya bertumpu pada telapak kakinya yang kiri… dan dilakukan lebih kencang, bermaksud mengetest tingkat kekenyalan pinggul dan bokongnya bahenol, ternyata tidak mengecewakan… saat itu dengan mata jeli-nya, Surti melihat pada pantulan bayangan semu didalam cermin pada daun pintu lemari pakaiannya, disana… Sarto si anak ‘bandel’-nya tengah asyik memperhatikannya dengan seksama, dan… mulutnya rada mangap… tanpa disengaja oleh pemiliknya. Buru-buru Surti menekan saklar biar satu lampu lagi menyala terang…

“Hi-hi-hi… sekarang asyik kan…! Biar lebih jelas lagi kelihatannya… hi-hi-hi…! Gimana Sarto! Setuju nggak…! Hi-hi-hi…!”, kata Surti menyindir Sarto yang tertangkap basah.

Seketika Sarto berbalik arah, sekarang berbaring miring kekiri, sambil tertawa cengengesan. “He-he-he… setuju asyik… bu! Itu baru yang bagian belakang, gimana… maaf… tapi terimakasih ya bu… he-he-he… jadi nggak perlu ngintip lagi yang… penuh resiko itu… he-he-he…”, Sarto jadi tertawa terpingkal-pingkal.

Surti segera mendekati Sarto yang sekarang ini masih membelakangi dirinya, bukan dengan perasaan kesal, tetapi dengan diliputi kabut nafsu gairah yang menggelora amat sangat, birahi-nya semakin tinggi… <seerrr…!> ada semprotan kecil yang melumasi lorong nikmatnya dari vagina yang berbulu pubis tipis, dan… pake ndut-ndutan segala… lagi!

Dikecupnya pipi kanan anak remajanya penuh nafsu, sambil berbisik penuh gairah, “Buka bajumu cepat…! Kita gituan sekarang juga…! Makan-malam boleh menunggu… jangan khawatir kita bisa makan berpiring-piring… kalau mau…”. Tangan kanan Surti tidak mau kalah aksi… segera mencekal mesra penis remaja ini… ‘Hhmmm… sudah tegang rupanya, tapi kerasnya ini… minta ampun…! Keras dan panjangnya… pas benar dengan anakan pukul ‘ketok-lele’ saja rupanya!’.

(NB: ketok-lele = nama permainan anak-anak tempo doeloe, yang
menggunakan 2 buah tongkat kayu bulat panjang. Yang satu
panjangnya kurang lebih 14 cm dan satu lainnya sepanjang
lengan anak-anak, tongkat yang panjang sebagai penggetok dan
yang pendek sebagai yang diketok. Permainan yang sangat
mengasyikan ini biasa dilakukan oleh anak lelaki ketimbang
anak perempuan yang lebih suka bermain congklak).

Surti dengan tubuh telanjang bulatnya, melangkahi tubuh Sarto yang berbaring, dan masih berpakaian lengkap. Langsung membaringkan tubuh telanjangnya… terlentang, dan paha penuh dan mulusnya mengangkang lebar, siap menunggu tindihan tubuh anak remaja tunggal dengan tidak sabar… <seerrr…!> semprotan kecil yang kedua malam hari ini menyempurnakan lumasan disetiap bagian dalam vagina-nya yang sedari tadi ndut-ndutan saja…

Ternyata Sarto nggak kalah sigap… sudah telanjang bulat. Tanpa ragu melompat keatas tempat tidur, dan… langsung saja menindih tubuh ibunya yang terlentang… telanjang, dan… menantang…! Tak ayal Sarto, sang ‘ksatria seks’ remaja… memenuhi ‘tantangan’ ini. Mendekap erat tubuh telanjang bagian atas yang banyak terdapat ‘instalasi-instalasi’ vital… bila dapat menguasai area ini bisa dapat dipastikan… yang ditantang bisa menguasai keadaan yang akan sangat menguntungkan dirinya.

Mulut remaja Sarto bagai dahaga sibuk mengemut-emut pentil susu ibu-nya.. tiada takut, serta jari-jari tangan kiri remajanya bersikeras dengan santer meremas-remas buahdada montok ibunya, yang mulus dan kenyal, dan… guedee!

“Aahhh… ini baru nikmat rasanya… pintar kamu… To! Gantian dong emutan dan remasannya…. ama yang sebelahnya… biar adil, gitu… hi-hi-hi… aahhh… eeh… mana ‘tamu’ itu kok kagak masuk kedalam sih… malu kali… ya?!”, Surti berkeluh-desah tanpa sungkan lagi. ‘Pake dianggurin nih… ‘barang’ enak…’, segera jari-jari lentik tangan kiri Surti… merogoh-rogoh area pangkal paha sang remaja ini… ketemu…! Langsung mencekal erat batang penis Sarto yang keras… Mengarahkan palkon-nya… melewati katupan labia majora terus menyeruak masuk melewati katupan labia minora, dan… tidak pake buang-buang waktu lagi… <bleesss…!> langsung merangsek masuk kedalam lorong nikmatnya berkat dorongan pinggul Surti keatas.

Penis remaja yang tegang dan keras ini, langsung disambut dengan cengkeraman kuat otot dalam vagina Surti yang ‘lapar’, otot-otot itu membelit ketat sekeliling dan sekujur batan penis yang 14 cm yang malah panjangnya itu lebih dari cukup mengingat umur remaja ini.

“Aaah… enaknya! Kalau ‘gituan’ enaknya kayak begini, kenapa… nggak dari dulu-dulu aja yaa…”, Sarto menikmati sensasi ini untuk pertama kalinya.

“Eehhh… sayang! Jangan ngomong terus kenapa…! Pinggul kamu diayun… turun-naik… turun-naik… jangan berhenti! Biar kamu merasakan ML pertama-mu dengan… ibu… aduuhhh… nikmatnya! Penismu yang kerasnya kayak kayu ini tegang keatas… sampe itil ibu kegesek-gesek aahhh… terus sayang enjotannya… Kalau mau muncrat… bilang ya… nanti muncrat biar lebih enak dan nikmat rasanya… didalam memek ibu aja ya… jangan dicabut sampai habis… semprotannya…!”, kata Sutri menikmati persetubuhan yang didamba-dambakannya… selama lebih dari 5 tahun dan sembari memberi instruksi apa yang harus dikerjakan oleh remaja ini yang belum mempunyai pengalaman praktek ngeseks dengan lawan jenisnya.

“Aahhh… ternyata… oohhh… ML itu nikmatnya aahhh… saat Sarto diam nggak ngomong tadi… kok ibu nyerocos terus… sih! He-he-he….”, kata Sarto iseng, sambil tetap menikmati ML perdana-nya.

“Daasaaar… kamu To! Kamu diam tadi… kan terpaksa… hi-hi-hi… orang lagi ngemut… mana bisa nyebut… hi-hi-hi… rasakan goyangan memutar pinggul ibu ih… biar kamu tahu rasa!”, goda Surti pada anak remajanya sambil tetap merasakan persetubuhan walaupun ‘incest’… tetap merupakan persetubuhan yang selama ini… sangat ditunggu-tungu.

“Eh-eh-eehhh… bu! Goyangan putar-nya jangan… kenceng-kenceng dong… entar Sarto munrat nih…”, kata Sarto merasakan penisnya mengalami ‘perlakuan khusus’ sehingga dia merasakan ML ini bertambah nikmat saja.

“Bilang aja… kamu udah kepengen klimaks ya… terus-terang aja! Biar kita nyampe bareng-bareng… aayooo jawab buruan…!”, Surti meminta ketegasan dari anaknya. Ini momen yang sangat penting dalam persetubuhan ini… kalau… gagal… urung deh dapat orgasme…

“Iiya… ya benar bu… Sarto ngenjot yang kenceng ya… udah nggak ketahanan lagi nih… mana enaknya… kayak begini lagi…!”, Sarto mengaku dengan cepat.

“Bagus kalau begitu… ngenjot memek ibu lebih kenceng lagii… ohh nikmatnya… pintar kamu… To! Jaga… jangan sampai terlepas penis-mu dari dalam memek ibu… jangan terlalu tinggi nariknya…! Palkon kamu harus selalu berada dalam memek ibu… aahhh… Sarto-ku sayang… kayaknya ibu bakalan nyampe deh… bakalan ‘dapet’ juga jadinya… aahhh oohhh… Sarto…!”.

“Iiya-ya… bu ini juga udah pol bu… aaah… ibu…!”.

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Sungguh sempurna persetubuhan-sedarah ini… antara sang ibu yang dahaga selama lebih dari 5 tahun dengan sang anak tunggal remaja yang selama 6 bulan terakhir… hampir setiap harinya melakukan onani sebagai akibat ulahnya sendiri… mengintip tubuh telanjang ibunda yang sedang mandi… membersihkan diri…

Orgasme yang didapat remaja ini… sesuatu hal yang sangat spektakuler… walau Sarto tidak bisa mengungkap dengan kata-kata, nanti… atau besok dia pasti… bisa membedakan mana yang rasa klimaks dan mana yang rasa penuh kenikmatan dan spektakuler dari pengalamannya menikmati dengan sadar orgasme-nya ini.

Sedangkan bagi Surti seberapa banyak dulu-dulu dia mendapatkan orgasme… tetap saja orgasme yang didapatnya malam ini… sesuatu kenikmatan yang tetap spektakuler, dan… akan terus didamba-dambakan kedatangannya selalu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*