Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 12

Istana Pasir Milik Sang Ayah 12

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 11

Bagian 12 – Kesepakatan Bersama

<Tenggg…!> dentang lonceng jam antik berbunyi satu kali, suaranya bergaung didalam ruang tamu yang besar ini dengan ketinggian langit-langitnya lebih dari 4 m, maklum saja namanya juga rumah besar yang kuno…

Ivonne terjaga oleh gema suara dentangan satu kali dari jam antik yang berdiri tegak dan sangat gagah… bak seorang punggawa yang berjaga… diatas lantai keramik putih susu tanpa motif di ruangan tamu.

‘Bener-bener serasi… rumah kuno dan jam antik…!’, kata Ivonne sembari mau bangkit dan duduk dari baringnya diatas tempat tidur besar itu. Baguslah dia tidak mengetahui seluk-beluk jam antik itu… antik-nya… ‘fake’, modern-nya… ‘hi-tech’!

Ivonne memandang ke sekeliling dalam ruang tidur utama yang besar itu… ‘Kemana si opa…?’, tanyanya dalam hati. Ivonne sudah duduk dipinggir tempat tidur, disampingnya ada baju atas dan stretch jeans-nya yang terlipat rapi dan… sehelai handuk bersih yang juga terlipat rapi. Diambilnya pakaiannya beserta handuk baru itu, segera menuju kamar mandi yang ada dipojokan seberang… dalam kamar tidur utama ini, untuk membersihkan diri.

5 menit kemudian, gadis yang bertubuh sintal lumayan tinggi dan semampai ini, bergegas melangkah keluar kamar dan celingukan memandang keselilingnya. ‘Kok sepi sih… pada kemana semuanya…?!’. Untuk berteriak memanggil… bukanlah kebiasaan gadis muda yang santun ini.

Didengarnya ada suara-suara orang sibuk bekerja di dapur… dibelakang sana. Dengan langkah mantap dan memberanikan diri, Ivonne menuju ke dapur, disana dilihatnya ada seorang mbak STW yang sibuk mencuci peralatan dapur yang dipakai untuk memasak sebelumnya. Khawatir mengagetkan mbak ini, Ivonne berdehem kecil memberitahu kehadirannya di ruang dapur. Si mbak yang tak lain dan tak bukan adalah mbak Surti yang hampir tuntas mengerjakan tugasnya. Makan siang sudah tertata rapi diatas meja makan besar yang berada di ruang makan… tinggal sedikit lagi perabotan dapur yang harus dibersihkannya.

Mbak Surti mendengar dengan jelas deheman itu, segera menoleh kebelakang kearah datangnya suara deheman tapi… tak urung masih juga tersentak kaget. “Aduuh… biung…!”.

Buru-buru Ivonne menenangkan mbak STW ini, “Ehh… maaf mbak! Kan aku sudah berdehem lho… jangan kaget dong… aku jadi ikut-ikutan kaget juga nih jadinya…”, kata Ivonne dengan lembut.

“Maaf… apa… ya? Eh… iya… maaf non! Mbak bukannya kaget non… cuma kagum saja gitu… hi-hi-hi… kalau boleh mbak tahu… wajah cantik si enon boleh dapet beli dimana sih…? Hi-hi-hi… non pasti pacarnya den Diro kan… hi-hi-hi…!”, kata mbak Surti sedikit nyerocos… terkesima sekali dengan kecantikan orientalis Ivonne, yang… memang sih cantik!

“Kok mbak tahu sih, kalau aku sama mas Diro… pacaran…?”, kata Ivonne ramah sambil mengulurkan tangannya yang mulus mengajak mbak Surti berjabatan tangan… bersalaman kenal.

Buru-buru mbak Surti mengeringkan tangannya dengan serbet bersih yang selalu disandangkan di bahunya kalau dia sedang bekerja di dapur.

“Ivonne… mbak…”, kata Ivonne ramah.

“Kalau mbak sih… panggil aja mbak Surti, gitu…”, kata mbak Surti yang masih saja memandang dengan kagum wajah cantik Ivonne.

“Tahu dari mana mbak… tentang Ivonne dan mas Diro…”, tanya Ivonne yang langsung disela saja oleh mbak Surti dengan berkata.

“Aah.. itu sih… nggak usah heran non, ibu-nya… maksudnya mbak… bu Daniati yang baik hati itu suka iseng-iseng menemani mbak kerja di dapur ini… biasa deh… kayak non Ivonne nggak cewek aja lagi… hi-hi-hi… maaf ya non… mbak sukanya guyon… biar nggak cepet tua gitu… hi-hi-hi…”, kata mbak Surti sambil tertawa geli sendiri.

“Hi-hi-hi… gitu toh… mbak…”, jawab ramah Ivonne diawali dengan tawanya yang merdu. “Pada kemana nih semuanya… mbak tahu nggak…?”, tanya Ivonne ingin segera tahu.

“Lha non sendiri… dari mana…? Yang mbak tahu sih… pak Darso udah dari tadi pagi ke kantor perkebunan… biasa non… rutin gitu! Kalau yang lainnya sih… mana mbak tahu? Mungkin masih didalam kamarnya masing- masing… kan non dengar barusan… bunyi ‘teng’ satu kali, itu tanda… mulai makan siang… non! Sebentar lagi juga pada ke ruang makan. Ayo non… mangga… duduk di kursi… kayaknya non sudah cukup tinggi deh badannya… kelamaan berdiri… entar malah tambah tinggi lagi… hi-hi-hi…”, kata mbak Surti buru-buru menarik kursi dekat meja dapur yang kecil didepannya… untuk diduduki Ivonne.

“Terimakasih mbak…”, kata Ivonne pendek saja sambil duduk di kursi yang ditawarkan itu.

Yang tidak diduga Ivonne saat ini adalah… Diro dan Daniati… lagi ‘nanggung…’ didalam kamar tidur sang ibunda… lagi asyik bercengkerama… uugghhh… sangat seru sekali…!

***

Sebenarnya pada ML tadi pagi antara Diro bersama ibu kandungnya… memang sih… lumayan hampir sama waktunya dengan ML pak Darso dengan Ivonne, yaitu kurang lebih 30 menitan, tapi dilanjutkan dengan ‘acara’ tidur segala… sama halnya dengan Ivonne seorang tanpa pak Darso tentunya, sebab… seperti kata mbak Surti tadi di dapur… pak Darso langsung ke kantor perkebunan.

Diro tertidur kelelahan karena telah mengenderai mobilnya selama 2 jam 30 menit dengan konsentrasi tinggi dan kalau Daniati memang kurang tidur gara-gara kegiatan seks-nya dengan ayah kandungnya tadi malam, yang… menghadiahkannya beberapa kali orgasme. Mereka berdua tertidur nyenyak non-stop sampai mendusin bangun sekitar jam 12.55. Dan segera melanjutkan lagi ‘ronde cinta’ yang sempat rehat cukup lama… hampir 4 jam lamanya!

Diro yang pertama kali mendusin bangun, dan tanpa permisi lagi langsung menindih tubuh indah ibu kandungnya yang sama-sama bertelanjang bulat. Mencium lembut bibir sexy ibunya, lalu bergeser kebawah melalui leher jenjang sang ibunda yang cantik jelita dan… ngetem pada puncak bukit indah pada buahdada yang montok 36B yang kanan, sama besar ukurannya dengan yang dimiliki oleh kekasih hati, Ivonne… bahkan bentuk putingnya juga sama, cuma yamg membedakannya adalah warna yang khas dari dua pasang puting indah milik mereka masing-masing. Kalau puting milik Daniati, ibu kandung Diro adalah berwarna maroon muda dengan warna areola-nya berwarna sama tapi lebih terang sedikit. Dan puting milik Ivonne, kekasih hatinya adalah berwarna pink muda dan warna areola-nya lebih terang sedikit dari warna putingnya sendiri.

Daniati mencoba menggeliat, tapi… terasa berat. Segera membukakan mata indahnya memandang wajah ganteng maskulin yang sedang menindihnya dan tengah asyik bermain-main dengan buahdada beserta putingnya.

“Bener-bener deh…! Doyanan amat sih… begitu bangun langsung nyambung! Belum lama saat setengah sadar ingin bangun, mama kayaknya… mendengar bunyi dentang jam antik satu kali… bener nggak Dir…?”, tanya Daniati yang kesadarannya mulai kembali normal seutuhnya.

Mana sempat dijawab Diro, yang… lagi sibuk-sibuknya, malah dengan bantuan tangan kirinya menempatkan palkon-nya ditambah tekanan kebawah pinggul kekarnya… membuat penis tegang langsung masuk dan palkon-nya itu terhenti dimuka pintu masuk mulut gua nikmatnya dalam vagina Daniati yang mulai tergugah birahi-nya itu.

Daniati yang merasa keki karena pertanyaannya tidak digubris sama sekali oleh Diro… langsung mendorong pinggulnya keatas dengan keras, dan… <bleeesss…!> masuk sudah palkon Diro berikut dengan seluruh batang penis yang keras… langsung saja sekujur penis Diro itu… ‘dipiting’ erat oleh otot-otot kuat dalam lorong nikmat yang cengkeramannya sungguh hebat… ditambah dengan goyangan memutar dari pinggul Daniati yang menggeliat-geliat… mengundang reaksi keras dari Diro, putera tunggal semata wayangnya…

“Eh-eh… ma! Jangan dicengkeram kuat-kuat dong… penis Diro nggak bisa bergerak nih…”, protes Diro tapi masih bisa merasakan nikmatnya ‘aksi’ ibunya ini. ‘Kalau begini caranya, aku bisa langsung… muncrat nih tanpa diberi kesempatan ngenjotin mama…!’.

Daniati masih saja melakukan aksinya tanpa perduli protes dari Diro. ‘Sapa suruh… nggak ngejawab pertanyaanku yang sederhana itu… biar tahu rasa…’, tekad Daniati dalam hatinya.

Diro berusaha melakukan perlawanan dari cengkeraman erat otot-otot kuat dalam lorong-lorong nikmat itu dengan mulai akan menarik pinggulnya keatas, tapi… telat! Daniati yang lebih berpengalaman sudah tahu niat gerak Diro ini… sudah mengunci mati dengan tautan kedua telapak kakinya pada pinggul kekar Diro beberapa detik lebih awal!

Diro yang tahu gelagat yang sangat gawat, langsung berkata agak keras. “Ma…! Mama-ku sayang… Diro nggak bisa menggenjot nih… Mama! Entar penis Diro… muncrat beneran nih…!”.

Daniati menjawab dengan santai saja, “Kalau mau muncat… ya muncrat saja sana…! Muncratin yang banyak… biar cepat selesai… mana perut mama sudah laper lagi… nggak malu apa kamu… kita sekarang sedang ditunggu sama opa-mu dan Ivonne di meja makan… tahu!”. Sambil semakin mempercepat goyangan memutar pantatnya dan mengetatkan cengkeraman otot-otot dalam vagina-nya dengan lebih hebat lagi. Aksinya ini sungguh membutuhkan energi sangat banyak dan akan sangat melelahkannya kalau berlangsung terlalu lama. Tapi Daniati sangat yakin… ulah aksinya ini tidak perlu menunggu beberapa menit kedepan… paling dalam hitungan detik juga akan menghasilkan sesuatu yang diharapkannya…

“Aaahh mama… nikmatnya tapi… sadis amat…! Aahhh…”, Diro tidak sanggup meneruskan perkataannya…

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Semprotan sperma kuat yang keluar dari ‘mata tunggal’ palkon Diro muncrat kencang silih-berganti… memenuhi lorong-lorong vagina Daniati dengan sperma kental yang sangat potensial itu… beruntung Daniati sudah lama mamakai IUD dan melakukan kontrol secara teratur… kalau tidak…??!

Daniati segera melepaskan kuncian kuat kaki-kakinya pada pinggul Diro, serta melemaskan kembali semua otot-otot didalam vagina dan diam terlentang sejenak… diam tanpa kata… sebentar saja, paling sekitar 15 detikan saja. Mendorong tubuh Diro yang kekar tapi lemas bergulir kesamping kiri tubuh telanjang Daniati, dan terlepas sudah tautan penis Diro dari vagina-nya itu.

Buru-buru Daniati turun dari tempat tidurnya dan bergegas masuk kedalam kamar mandi sambil menadahkan dengan kedua telapak tangan dibawah vagina-nya… khawatir sperma yang tadi disemprotkan sangat banyak oleh Diro tadi… meleleh jatuh tercecer keatas lantai keramik.

***

10 menit kemudian, kedua ibu-anak ini sambil bergandengan pinggang sangat mesra tampaknya, berjalan melangkahkan kaki-kaki mereka… pelan saja… menuju meja makan yang besar, dan disana telah menunggu… pak Darso yang duduk diujung meja ditemani Ivonne yang duduk disebelah kirinya.

Begitu ibu-anak itu semakin mendekat… langsung disambut dengan seruan Ivonne. “Wowww…! Mesra sekali mama dengan mas Diro…!”, lalu menoleh minta dukungan suara dari pak Darso, opanya Diro. “Iya kan opa…? Hi-hi-hi”.

Pak Darso yang mendengar pertanyaan Ivonne ini, hanya menjawab pelan saja… tapi cuma Ivonne seorang yang dapat mendengarkannya secara jelas. “Iya juga sih… tapi rasanya masih lebih mesra kita berdua deh…”, kata pak Darso meyakinkan hati Ivonne dan langsung disambung dengan tertawa kerasnya yang terbahak-bahak, “Ha-ha-ha…!”. “Hi-hi-hi…!”, Ivonne ikut-ikutan tertawa mengiringi suara tawa opa-nya Diro ini.

Suatu paduan tawa yang merdu dan indah… bagi semua telinga yang mendengarkannya…

Mereka menikmati makan-siang ini dengan diam tanpa suara, tumben pada makan-siang kali ini… justru pak Darso lebih dahulu selesai… maklum saja, dia siang ini hanya makan sedikit saja. Pak Darso berpamitan pada semua yang lagi asyik menyantap hidangan makan siang masing-masing. Dan menoleh pada Ivonne yang duduk disebelah kirinya sambil berkata, “Maafkan opa ya Ivonne… kalau sudah selesai ‘tuntas’ semuanya… opa tunggu diruang kerja opa…”. Kemudian pak Darso melangkah ke ruang kerjanya tanpa menengok lagi.

Sementara menunggu mereka bertiga tengah asyik menikmati makan-siang mereka…

***

‘Kilas balik’

Seputar almarhumah isteri tercinta dari pak Darso, yang bernama Novi… almarhumah ibu kandung-nya Daniati… almarhumah oma-nya Diro, yang tidak pernah dikenalnya apalagi melihat wajah oma-nya itu.

Darso saat berumur 19 tahun menikah dengan Novi yang berumur 17 tahun saat itu, setahun mendatang lahirlah Daniati, calon wanita yang cantik-jelita… kelak kemudian hari.

Novi… yang berwajah ayu-kemayu, almarhumah isteri Darso, meninggsl pada usia 28 tahun pada saat Daniati, berumur 10 tahun, yang adalah puteri tunggal pasangan Darso & Novi. Beliau meninggal karena ‘didera’ kanker payudara yang super ganas yang tak terdeteksi… karena lalai secara rutin memeriksakan kondisi kesehatannya… mungkin karena malu untuk melakukannya… maklum saja keilmuan kedokteran di bidang ini… lebih banyak diminati oleh kaum pria yang calon dokter pada ‘tempo doeloe’ (nggak tahu ya… pada masa sekarang…?).

***

Ketika bertiga (Daniati, Diro dan Ivonne) baru saja selesai menuntaskan makan siang yang nikmat ini… hasil olahan juru masak… mbak Surti yang berpengalaman itu. Tiba-tiba Daniati dan Diro dikejutkan oleh Ivonne yang berkata agak keras.

“Maaf mama… maaf mas Diro… Ivonne ingin mengungkapkan usulan dari opa… tapi sebelumnya harap mama melihat kedua benda ini… yang juga merupakan permintaan opa agar mama dan mas Diro mau meluangkan waktu barang sejenak… untuk memperhatikan dengan seksama… pada potret yang agak usang… karena selalu dibawa didalam dompet opa… kemanapun opa bepergian… selama berpuluh tahun dan melihat dengan seksama pada gambar yang tersimpan pada BB-nya opa ini…”. Lalu Ivonne dengan hormat memberikan potret lama berukuran 5 cm X 7 cm… dan BB-nya pak Darso pada Daniati untuk disimak…

Daniati dengan penuh minat menerima kedua benda itu. Pertama yang diperhatikan Daniati adalah sehelai potret lama itu… “Ini sih… potretnya mama-nya mama… potret oma-nya Diro yang tidak pernah dikenalnya sama sekali…!”. Kemudian perhatian Daniati beralih pada gambar ‘full-color’ yang ada pada BB-nya ayah kandungnya (pak Darso) ini. “Wah… hebat! Ini juga potret mama-nya mama, persis sama gambarnya dengan potret usang ini… malahan potret dalam BB ini lebih nyata sekali…! Apa beliau telah menemukan teknologi… yang bisa meng-konversi-kan gambar lama dari potret usang menjadi gambar ‘fully colorful’ yang sangat indah ini!”. Ada sebuah senyuman yang indah… milik dari seseorang… nun… entah dimana… yang penuh rona keibuan yang terpancar dari bibir sexy Ivonne… senyum penuh misteri… sangat keibuan sekali dan pasti akan mengharu-birukan perasaan Daniati bila melihatnya… sayangnya mata Daniati masih terfokus pada gambar pada BB itu dengan sangat kagum.

Suara Ivonne… memecah fokus Daniati pada gambar indah itu. “Maafkan Ivonne… mama… gambar itu adalah hasil ‘shooting’… gambar dari diri Ivonne sendiri yang dipotret opa…”, Ivonne dengan lembut menjelaskan pada calon mertua-nya ini.

“Apa! Yang bener… kamu tidak lagi bercanda dengan mama kan…?!”, kata Daniati sangat terperanjat sekali… gambar itu sangat mirip sekali. Itu adalah hasil pemotretan atas diri Ivonne yang diambil dari tampak sisi kanan Ivonne yang memandang lurus kedepan…

Pantas saja… pada saat Ivonne melangkahkan kakinya untuk pertama kalinya… masuk kedalam ruang tamu rumah besar kuno ini… pas bersamaan ketika pak Darso yang membawa thermos panas berisi minuman coklat… pak Darso sangat terkejut sekali saat menatap keseluruhan diri Ivonne dari sisi kanan Ivonne… yang sedang memandang lurus kedepan…

Daniati segera berdiri dari duduknya, dan meminta Ivonne berdiri tegak dan memandang lurus kedepan… sehingga Daniati bisa dengan leluasa memperhatikan keseluruhan diri Ivonne dari tampak sisi kanan. Memang benar mirip… malah sangat mirip sekali! Pada saat dipandang pada posisi ini… nuansa orientalis wajah Ivonne seperti sirna saja… berganti nuansa wajah cantik yang… ayu-kemayu…! Sangat mirip… ‘bagai pinang dibelah dua’ dengan wajah ibu kandung Daniati yang telah lama… tiada…

“Tunggu-tunggu… diam pada posisi itu ya sayang…! Mama mau ambil BB mama yang ditaruh diatas meja tamu…”, segera Daniati bergegas, melangkahkan kaki-kakinya dengan cepat… tak lama kemudian Daniati kembali dengan BB ditangannya… siap beraksi untuk memotret diri Ivonne pada posisi itu… dan… melihat hasilnya… “Hebat… sungguh sangat sulit dipercaya… sangat mirip sekali! Nih lihat Diro… kalau kamu tidak percaya…!”, kata Daniati sangat kagum dan berusaha meyakinkan anak kandung semata wayangnya yang tidak mengenal dan belum pernah melihat wajah cantik almarhumah oma-nya itu. “Sekarang saatnya… kamu bisa melihat wajah oma-mu yang cantik itu”, kata Daniati sambil menyerahkan BB-nya untuk disimak oleh Diro dengan seksama…

Diro dengan sangat antusias sekali… menerima dengan hati-hati BB ibunya dan memperhatikan gambar itu dengan seksama. ‘Gambar potretnya sih… bagus, tapi mirip dengan siapa…? Harus ada gambar pembandingnya dong…!’. Diro lalu mengambil potret usang itu melihatnya dengan seksama gambar pada potret itu… segera mengalihkan pandangan matanya pada gambar pada BB ibunya. Terus begitu… menoleh pada potret, lalu menoleh pada BB… balik lagi menoleh pada potret… semakin sering dilihat semakin mirip…! ‘Kok jadi telmi sih… seharusnya begini cara lihatnya… dari tadi… kenapa’, menyindir kebodohan dirinya sendiri. Ditaruhnya potret usang itu didepannya, lalu ditaruh BB ibunya disebelah kiri dari dari potret usang tadi. ‘He-he-he… kan jadi tidak bolak-balik menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan… bodohnya kamu… Diro… he-he-he….!’, Diro mencemoohkan dirinya didalam hati, sambil menertawakan juga… dirinya sendiri.

(NB: telmi = telat mikir)

“Iya bener ma! Mirip sekali… bukan main… oh… ini yang dimaksud opa, agar kita melihatnya dengan seksama…! Apa? Dengan seksama…?!”, segera mengambil dan memegang dengan hati-hati helai potret usang itu… tatkala Diro membalikkan potret usang itu pada sisi belakangnya tertulis masih sangat jelas untuk membacanya… dibuat dengan tulisan-tangan oleh Darso muda… 39 tahun yang lalu…

NOVI… MY BELOVED WIFE

Diro terus membaca berulang-ulang tulisan opa-nya tatkala masih muda… mungkin seusia dengan dirinya sekarang… terakhir Diro fokus pada nama oma-nya saja:

“Novi… Novi… Novi… N… O… V… I…!”, tanpa sengaja, seakan… ada yang menyuruhnya dengan sangat lembut… jauh didalam lubuk hati… untuk mengeja nama itu dari belakang…
“OMG! Ivon…! Oh…!”, ternyata pernyataan dengan ‘seksama itu’ adalah yang dimaksudkan dengan kata ‘Ivon’ yang kalau dilafalkan sama bunyinya dengan melafalkan kata ‘Ivonne’ yaitu [I-v-o-n]… pantesan saja… saat ingin membeli voucher, nomor baru BB-nya dengan langkah mantap dan pasti menuju ke toko milik Ivonne, seakan… ada suara yang menuntunnya… jauh dari dalam lubuk hatinya…

“Sekarang aku mengerti opa! IVON adalah titisan NOVI…! OMG!”, kata Diro terhenyak duduknya langsung menyandarkan punggungnya kebelakang.

Ivonne yang sedari tadi mengikuti gerak-gerik kekasih hatinya itu… agak kaget ketika ‘nama’-nya disebut berulang-ulang, dan mendekati Diro dan mendekap mesra tubuh kekasihnya. “Ada apa mas… kok nama Ivonne disebut-sebut berulang-ulang kali… sih…?”, tanya Ivonne dengan sangat lembut dan penuh kemesraan.

Diro hanya menjawabnya dengan memeluk dan mendekap balik tubuh sintal semampai kekasihnya dan berbisik pada Ivonne dengan penuh kepastian. “Aku menyetujui semua usulan opa… memang kalau kita pulang… besok-besok kan kalau kita mau dan mampu… bisa ML terus-terusan… tanpa batas…!”.

Ternganga mulut sexy Ivonne, mendengarkan jawaban atas usulan dari opa-nya sendiri… tapi dia kan belum memberitahukan isi usulan itu…

“Kok mas Diro sudah tahu sih… usulan opa itu? Apa ada yang sudah memberitahukannya lebih dulu…?”, tanya Ivonne pelan dan berhati-hati.

“Ya benar dugaanmu ini… sayang… aku sudah diberitahukan, dengan… melihat potret lama ini… sana sayang… opa menunggumu diruang kerjanya… berbaik hatilah dengan opa kita ini… sayang…!”.

Ivonne lalu mendekati Daniati dan mengecup mesra pipi kanan calon mertua-nya ini dan berkata, “Ivonne ingin ke ruang kerja opa ya mama…”.

Daniati menjawab mesra penuh kasih-sayang seorang ibu, “Silahkan sayang… opa telah menunggumu agak lama… jangan lupa membawa potret dan BB opa-mu ini…!”.

Memang Daniati ingin berduaan saja dengan Diro… membahas kejadian yang dianggapnya sudah masuk kategori ‘super-natural’ ini.

***

Ivonne mengetuk pintu kamar ruang-kerja pak Darso, yang langsung dijawab seketika, “Masuk saja… sayang! Tidak dikunci…!”.

Ivonne segera menekan handel pintu kebawah dan mendorong pelan daun pintu kamar ruang-kerja itu… dengan tenaga dorongan yang pelan saja pintu membuka… lalu Ivonne masuk kedalam… dan didalam sudah berdiri pak Darso yang menunggu dari sisi kiri dirinya dan seketika wajah mulus gadis muda yang cantik ini memandang lurus kedepan, pada… lukisan besar yang terpampang pada tembok didepannya… Sebuah lukisan yang beraliran seni-lukis yang ‘natural’ dari seorang wanita yang cantik semampai berwajah ayu-kemayu yang dilukis dengan posisi menatap ke kiri…

‘Kok… sepertinya… kayak aku melihat diriku sendiri saja pada cermin yang besar… ya?!’, pikir Ivonne kagum campur keheranan.

Pak Darso yang memandang diri Ivonne yang menatap lurus pada lukisan itu… bagi pak Darso justru seakan sedang memandang diri isterinya yang dikasihinya yang telah lama tiada… Terlontar tak disengaja kata-kata. “Terimakasih… sayangku… ‘Novi my beloved wife’…”. Yang disambut Ivonne tanpa mengerti dengan pelukan mesra pada tubuh tinggi yang gagah opa-nya Diro ini.

“Iiihhh… opa! Romantis banget sih… sama Ivonne… terimakasih ya opa… orgasme yang didapat dari opa… langsung menghapus perspektif negatif Ivonne terhadap pria yang lebih tua…”, sambil tetap mendekap mesra tubuh pria tua yang masih gagah ini.

Kata-kata Ivonne langsung menggugah kesadarannya atas lamunannya pada ‘Novi my beloved wife’ dan tertawa.

“Ha-ha-ha… Ivonne-Ivonne… bilang saja… ingin dicium opa kan…?”, kata pak Darso menggoda gadis muda ini.

“Sapa… takut…!”, sambut Ivonne menegakkan tubuhnya kembali sambil menengadahkan wajahnya dengan pelupuk mata terpejam pasrah serta mulut sexy-nya yang agak terbuka sedikit itu.

Pak Darso segera menutup mulut sexy yang ‘menantang’ dengan bibir klimis (maklum kumis tipisnya baru saja dicukur licin)… saling bertautan seru… dengan lidahnya yang telah menerobos masuk, dan… ‘merangkul’ mesra lidah Ivonne yang pasrah menunggu…

‘Ini sih… bukan ciuman yang biasa…”, pikir Ivonne mengikuti saja ulah nakal lidah pak Darso… tidak terlalu lama…. Pak Darso yang ‘tahu diri’ khawatir oleh ulah nakalnya… membuat sesak napas gadis muda ini. Terlepas sudah tautan bibir yang hot… itu.

Sambil rada megap-megap dan napas agak sedikit tersengal, Ivonne memberitahu tentang apa yang disebut pak Darso dengan ‘ciuman’ ini. “Opa-opa… hi-hi-hi… ini namanya bukan kasih ciuman lagi… hi-hi-hi… bilang aja pengen ngajakin Ivonnne… ber-‘French Kissing’ gitu… hi-hi-hi…!”. Yang dijawab kalem saja pak Darso.

“Opa tahu kok… opa kan pernah muda… dan jangan lupa… ‘French kissing’ sudah lama ada… malah sering dipertontonkan… dan diperkenalkan pada dunia… lewat film-film tua dahulu…!”.

“Ooh begitu toh opa…? Kalau begitu Ivonne minta maaf ya opa… habis Ivonne… kayaknya… sok tahu deh… hi-hi-hi…!”.

“Hayoo… buruan… sayang…?”, ajak pak Darso.

“Apa…? Gituan lagi… opa?! Emangnya… sapa yang takut… lagi hi-hi-hi…!”, jawab Ivonne mulai ‘pasang badan’.

“Ha-ha-ha… Ivonne-Ivonne… ingatnya begituan saja! Itu nanti kita lakukan diatas tempat tidur menjelang tidur di malam hari nanti… sekarang hayo bersama opa… jalan-jalan mumpung cuaca masih terang sangat cerah… melihat-lihat tanaman melon merah yang langka yang sedang panen atau melihat tanaman ‘buah naga’ yang juga berbuah lebat malah ada yang matang luput dipetik oleh pekerja tani atau melihat pohon coklat yang berbuah lebat juga… ada 2 jenis… berbuah kuning cerah dan berwarna oranye kemerah-merahan yang menyala…”, yang langsung dipotong oleh suara Ivonne bagai anak perempuan ABG yang amat senang…

“Ooh… senangnya… bilang saja opa… ‘wisata buah’ gitu lho… nanti Ivonne boleh ambil dan bawa sebagai oleh-oleh untuk mama dan mas Diro… ya opa… hi-hi-hi…!”, kata Ivonne dengan sangat senang dan merapat ke badan pak Darso sambil menarik kebawah lengan yang kekar itu kebawah… pak Darso yang paham apa yang dikehendaki Ivonne… segera menundukkan kepalanya untuk menerima bisikan ‘rahasia’ dari gadis muda cantik jelita ini. “Apa kita melakukan ‘quickie’ sekali saja…? OK?!”.

(NB: guickie = ML yang dilakukan dengan cepat saja)

“Ha-ha-ha… tidak-tidak… sayang… nanti cuaca keburu gelap! Kalau memang kamu udah ngebet… nanti setelah ‘wisata buah’ yang kamu maksudkan tadi selesai… kita akan mampir ke ruang kerja opa yang berada di kantor perkebunan sana… jangan khawatir disitu ada tempat tidur yang cukup memadai, untuk… kita melakukan ML… tapi asal kamu jangan sampai ketiduran saja seperti tadi pagi… enak nggak…? Tadi pagi opa tinggal sendirian… ha-ha-ha…!”, kata pak Darso sambil menggoda Ivonne yang langsung mengambil sikap dengan wajah cemberut tapi manja…

Mereka (pak Darso dan Ivonne) keluar dari ruang-kerja itu sambil seakan berbaris satu-satu, menuju pintu depan rumah yang ada di ruang tamu. Disana terlihat sepasang ibu dan anak sedang duduk diatas sofa panjang. Daniati dan Diro duduk sangat dekat, boleh jadi sudah lekat… berbincang seperti dalam rapat… dengan suara cermat, sesuatu yang pat-gulipat… mesra dan sangat hangat…

“Daagghhh… mas Diro! Ivonne pergi sebentar ya… ‘to say hello’ pada buah-buahan didalam perkebunan… nanti Ivonne bawain deh… hi-hi-hi…”, kata Ivonne menyapa kekasih hatinya… Diro yang rada melongo memandang pada mereka yang sedang melangkah keluar rumah lewat pintu depan utama.

“Kacian deh… nggak diajak… ha-ha-ha….!”, kata pak Darso menggoda puteri tunggalnya, Daniati… ibundanya Diro.

“Iihh opa… kasihan kan mama… jangan diledekin terus dong… daagghhh… mama…!”, kata Ivonne membela calon mertuanya itu.

“Daagghhhh… sayang! Semoga banyak keringatnya ya… hi-hi-hi…!”, kata Daniati menggoda Ivonne yang keheranan mendengar perkataannya itu.

Ivonne lalu menoleh pada pak Darso, dan bertanya pelan, “Emangnya nanti kita bakalan keringatan… apa?! Opa…! Jangan senyum-senyum aja dong…! Jawab kenapa… tapi… sssttt… pelan-pelan aja… ya!”.

Pak Darso bukannya berbisik kembali, malah tertawa sangat keras, “Ha-ha-ha…! Itu… pasti! Pokoknya… tidak usah khawatir!”.

“Opa ditanya serius malah ngomongnya keras-keras lagi…!”, kata Ivonne sambil melangkah agak menghentak-hentak kakinya ke lantai.

Pak Darso membungkukkan tubuhnya sedikit dan berbisik didekat telinga Ivonne, “Kan… kamu sendiri yang ngajakin opa segala gituan… lah, ML-an… lah, dan barusan tadi ‘quickie’ lagi…!”.

“Oh… itu yang dimaksudkan mama dengan ‘keringatan’ toh…? Mauuu… dong…! Hi-hi-hi…!”. “Ha-ha-ha…!”.

***

Mereka berdua (pak Darso dan Ivonne) dengan mengendarai mobil caddie-car (yang sering terlihat di lapangan golf), yang sudah dimodifikasi untuk keperluan menyusuri jalan-jalan kecil yang sudah di-‘hot mixed asphalt’ untuk sampai ke tempat-tempat tertentu di area perkebunan itu. Roda mobil kecil ini sudah diganti dengan yang ‘radial’, pengoperasiannya sangat mudah sekali… karena hanya memerlukan minyak diesel yang dipakai tak langsung, kalaupun tidak tersedia minyak diesel itu, cukup menghubungkan kabelnya pada colokan listrik selama semalam saja, maka mobil praktis inipun bisa menjalankan fungsi-nya selama 6 jam non-stop dan berkecepatan jelajah sekitar 50 km per jam.

Mereka sampai didekat sebuah pohon coklat… tidak terlalu tinggi, tapi… sangat mencolok sekali dengan buahnya yang orange kemerah-merahan terang ini memenuhi sepanjang batang utamanya dan besar buahnya melebihi kepalan tangan orang dewasa!

Pak Darso menghentikan mobilnya dan Ivonne dengan penuh antusias melompat turun dan segera mendekati pohon coklat yang berbuah lebat dan cantik kelihatannya ini.

Ivonne segera menghirup napas panjang dalam-dalam… rupanya dia kurang puas karena tidak tercium aroma coklatnya sama sekali. Karena penasaran Ivonne membungkukkan tubuhnya sangat rendah sekali… kembali menegakkan tubuhnya perlahan sambil menghirup napasnya lagi… sangat panjang… sampai-sampai tubuh bagian atasnya… doyong kebelakang… segera menghembuskan napasnya kembali sambil berkata rada kecewa, “Kok nggak tercium aroma coklatnya… walau sedikit saja… bagaimana nih… opa? Kenapa bisa begini sih…?!”.

“Ha-ha-ha… Ivonne-Ivonne… dasar ‘orang kota’ yang nggak tahu apa-apa…! Wangi dari aroma coklat yang sangat kamu gemari itu… datangnya dari biji buah coklat yang sudah di-proses dengan betul… ha-ha-ha… daripada kamu dengan susah payah mencoba menemukan wangi aroma coklat itu… mendingan juga… kamu mencium opa saja… ketahuan… lebih mudah dan… bermanfaat lagi… ha-ha-ha…!”, kata pak Darso sangat senang bisa menggoda gadis muda ini.

“Iihhh… opa…! Dikit-dikit… cium! Dikit-dikit cium… kayak nggak ada lainnya… yang lebih penting aja gitu…!”, jawab Ivonne rada keki karena tidak langsung diberitahu soal wangi aroma coklat itu.

“Maafkan opa deh… sayang…! Ajoo… naik lagi ke mobil, kita menuju area tanaman Melon Merah yang langka… come on. dear…!”, ajak pak Darso pada Ivonne yang masih rada mangkel hatinya itu.

Mereka sampai ke tempat budi-daya tanaman langka, yaitu Melon Merah. Banyak sekali buahnya yang karena tak seimbang dengan batang tanaman perdunya itu, buah yang sebesar batok kelapa itu disangga dengan rajutan kantong buah yang diikat keatas pada para-paranya. Tampak luar buah Melon Merah itu sama saja dengan buah melon yang sering dijumpai ditempat para penjaja buah-buahan segar. Baru ketahuan apabila buah itu dibelah dengan pisau… benar-benar merahnya sangat rata dan merah menyala.

“Disebut langka… apa mempunyai keunggulan atau manfaatnya apa sih… opa…?”, tanya Ivonne mulai tertarik.

“Oh kalau soal keterangan atau data-botani ybs, kamu bisa membacanya nanti di area tanaman buah-naga disana… tidak jauh kok… tinggal duduk di mobil… sebentar saja juga sampai… ha-ha-ha…!”, kata pak Darso sambil tertawa.

Memang sambil duduk-duduk di mobil, sambil menengok kekiri dan kekanan… menikmati suasana asri di daerah perbukitan yang indah dan penuh dengan tanaman pepohonan ini. Silir angin yang sejuk berhembus diantara sela-sela batang-batang pepohonan coklat yang rindang. Cuaca diatas sangat cerah dengan langit yang biru disertai pupuran-pupuran awan tipis yang kecil bergerak berarakan perlahan oleh tiupan angin yang kencang. Sampai juga mereka pada area tanaman buah-naga yang berbuat lebat dan beberapa diantaranya malah ada yang sudah ranum, matang sekali. Melihat buah yang merah ada julur lembar-lembar daun kelopak buahnya yang berwarna merah terang, seakan melihat bola api yang keluar dari mulut naga… yang sedang menyemburkan napas panasnya.

Ivonne segera turun dan melihat ada sebuah tonggak tempat digantung kertas data-botani di lahan perkebunan ini dan menghampiri tonggak itu… sangat dekat dan membaca tulisan pada kertas yang tebal yang sudah di-laminating itu…

—————
– DATA BOTANI –
—————

Didalam lahan perkebunan disini banyak ditanam, antara lain:

Melon Merah (Red Melon).
Buah super langka (Momordica cochinchinensis) ini, berdasarkan penelitian seorang wanita scientist Dr. Le Vuong, seorang ahli gizi dan epidemiology maka diketahui kemanfaatan buah langka ini.
Manfaat :
– meningkatkan imunitas, anti-oksidan yang dapat melawan pengaruh dari radikal-bebas.
– Mencegah proses penuaan.
– meningkatkan kesehatan kulit dan mata.
– meningkatkan fungsi otak.
– meningkatkan kesehatan prostat bagi pria karena mengandung Lycopene 70 X lebih banyak yang didapatkan dari buah tomat.
– tidak ada efek samping dan nutrisi makan-tambahan yang penting bagi para vegetarian.

Buah Naga (Dragon Fruit)
Atau disebut juga Pitahaya, adalah semata buah yang didapat dari tanaman kaktus jenis Hylocereus. Berbunga bakal buah yang mekar selalu pada malam hari (seperti halnya dengan tanaman bunga Wijayakusuma). Rasa buahnya antara rasa buah melon dan buah Kiwi tapi agak manis.

Tanaman Coklat (Theobroma Cacao)
Justru kemanfaatannya didapat dari biji buahnya yang dikeringkan (hampir sama dengan proses pada biji kopi) lalu digiling dan mendapatkan suatu adonan berwarna coklat agak tua, kemudian diproses lagi dan mendapatkan hasil akhir berupa minyak coklat dan tepung coklat. Sedang daging buah coklat sendiri tidak terlalu istimewa, hampir sama rasanya dengan daging buah pepaya, yang rasanya mungkin agak asam, atau manis mungkin juga ditambah sedikit rasa sepet yang pastinya adalah… tidak beraroma khas coklat samasekali.

Manfaat coklat ini, terlalu banyak untuk dibeberkan disini… tapi yang pasti adalah menjadi minuman favorit dari seorang wanita muda yang sangat cantik, bernama… Ivonne, yang sangat suka sekali meng-konsumsi minuman coklat ini sampai… setengah mabuk… coklat.

—————

Ivonne tercengang sangat heran sekali membaca beberapa kalimat paling bawah dari data-botani ini… ‘Kok nama-ku pake dibawa-bawa segala…?!”. Ivonne diam sejenak, berpikir… memperhitungkan dan memperkirakan sesuatu. Ivonne adalah seorang gadis muda yang cerdas… perlahan-lahan pada bibirnya yang sexy… yang memerah delima itu… tersungging sebuah senyum simpul yang ceria. Sambil berkata pelan… seakan pada dirinya sendiri, “Hi-hi-hi… aku kan tidak bodoh-bodoh amat… hi-hi-hi… pasti ini hasil kerja usil si opa yang kayaknya… sedang mengalami masa puber kedua-nya…!’.

Ivonne… segera dengan mantap… menderapkan langkah-langkah kakinya… langsung menuju pak Darso yang lagi bersandar di sisi mobil yang lagi santai… memandangi pepohonan tanaman industri komoditi coklat yang subur dan berbuah sangat lebat sambil menolehkan kepalanya yang hitam kelam (karena di-cat dengan pewarna rambut) ke kanan dan ke kiri.

Sampai dihadapan tubuh yang tinggi gagah perawakan tubuh pak Darso itu, langsung menarik kebawah lengan kiri pak Diro, agar kepalanya menunduk mendekat wajah Ivonne yang sedang gregetan… itu.

“Sudah ada putusan pengadilan atas perkara pencemaran nama baik di muka umum perkebunan atas diri seorang wanita muda yang bernama Ivonne…. hi-hi-hi…! Opa mau tahu nggak…? Vonnis yang dijatuh atas terdakwa naas itu… hi-hi-hi…!”, kata Ivonne sambil tertawa… tapi masih gregetan itu.

“Emangnya… soal apa… opa tidak mengerti…!”, kata pak Darso sambil mencoba mengelak.

“Itu… tuh!”, kata Ivonne sambil menunjuk dengan telunjuk tangan kanannya yang lentik pada tonggak ‘data-botani’ disana… tempat dia membacanya tadi. “Hayo jangan ingkar ya… sudah tertangkap tangan saja… pake pura-pura tidak tahu! Pengen tahu tidak vonnis-nya… sungguh sangat menakuti sekali… iihh…!”, kata Ivonne menggetarkan kedua bahunya… seakan sedang membayangkan sesuatu hal yang amat mengerikan!

“OK deh… opa terima salah…! Tapi hukumannya… yang ringan-ringan saja… dong…!”, kata pak Dasro seakan pasrah terima nasib saja…

“Enak… aja pake nawar lagi… emangnya lagi belanja di PKL apa…?!”, Ivonne segera berbisik sesuatu pada pak Darso… yang membuat pak Darso… kaget sekali…! Segera pak Darso mengajukan penawaran keringanan atas hukuman yang diterimanya.

“Tapi muatannya… disemprot kedalam anu-nya Ivonne dulu yaa…?!”, kata pak Darso harap-harap cemas.

Jawab Ivonne kalem tapi tegas… bak seorang ‘hakim pengadilan cinta’ yang tegas. “Aku mana punya anu… itu si polan… tuh yang punya anu… kalau aku punya vagina begitu namanya…!”.

“Oh.. iya! Bener…! Jadi boleh ya… nyemprotin semua sampai kedalam…”, tanya pak Darso minta kejelasan. Gairahnya langsung meletup-letup bagaikan lahar panas yang bergejolak, terbukti dari penampilan batang penis yang sudah berdiri tegak… bersiaga sempurna. Kata yang dibisikkan Ivonne barusan adalah dia ingin ‘menggigit’ habis-habisan palkon-nya yang besar. Pak Darso yakin apa yang dimaksudkan kata ‘menggigit’… tak lain tak bukan adalah melakukan… BJ pada palkon-nya!

“Sapa takut lagi…! Pokok dilarang berbicara lagi… ayo… sekarang juga kita ke kantor perkebunan…! Nggak pake lama lagi…!”, kata Ivonne berpura-pura tegas dan… <Seerrr…!> ada semprotan kecil yang mulai melumasi sepanjang lorong nikmat didalam vagina-nya yang legit, mulus dan… klimis…

***

Sampai didalam ruang kantor yang kebetulan sudah tidak ada kegiatan sama sekali karena telah bubaran pada pukul 16:00… sekitar 15 menit yang lalu, langsung ruang kerja pribadi yang lumayan besar dibuka dan dikunci lagi dari dalam… mereka masih terus melangkahkan kaki-kaki mereka… dan langsung membuka kamar tidur yang sudah penuh sesak oleh adanya sebuah tempat tidur yang besar dan sebuah lemari pakaian ber-cermin yang tidak terlalu besar.

Sampai didalam kamar tidur itu… Ivonne seakan menjadi sangat ‘galak’ sekali dan… segera melaksanakan ‘ekssekusi’ sesuai vonnis dari ‘hakim pengadilan cinta’ itu. Dengan sangat sigap dan cekatan yang terarah… Ivonne segera mempreteli satu persatu seluruh pakaian yang dikenakan oleh ‘pesakitan’, dimulai dari: baju kaus atas, pantalon, dan terakhir… sebuah kolor katun pria berwarna putih bersih… selesai sudah! Hasilnya bisa dilihat… adalah tubuh telanjang bulat dari seorang tubuh pria yang tinggi gagah ‘bersenjatakan’ penis sepanjang 20 cm dengan palkon-nya yang besar serta posisi batang penisnja mengacung kedepan dan agak ndut-ndutan… memang tidak bisa berdiri tegak… karena mungkin saking beratnya bobot penis guedee… itu. Dan didorongnya tubuh tinggi besar telanjang itu kearah tempat tidur… sambil bersuara lantang, “Ayo nggak pake lame lagi… langsung berbaring terlentang dan… tunggu dengan tabah… sang ‘eksekutor’ segera melaksanakan misinya… hi-hi-hi…”. akhirnya tak tertahan lagi Ivonne lepas juga tertawa… habis terasa lucu saja melihat pak Darso seperti ‘pesakitan’ beneran yang tabah menerima ‘nasib’-nya, habis… kayak blo’on aja begitu kelihatannya.

Dalam hitungan detik, Ivonne yang tubuhnya berwarna ivory sangat muda, mulus… semampai dengan pinggangnya yang ramping dan bokongnya agak besar dan pinggulnya yang penuh dan sangat mulus… menopang perutnya rata serta dada mulusnya tempat buahdada montoknya bersemayam, berbukit besar indah dan kenyal… ber-‘topping’ puting susu yang sudah nongol dari permukaan puncak bukitnya setinggi 1 cm saja, berwarna sangat bersih pink sangat muda yang dikelilingi areola sebesar sekeping uang logam 100 Rp ‘rumah-gadang’ berwarna pink muda lebih terang.

Segera Ivonne dengan memberanikan dirinya menyusul naik keatas tempat tidur dan… langsung mendaratkan mulutnya yang kecil tapi sangat sexy… itu pada permukaan licin palkon pak Darso… tepat pada permukaan puncaknya yang licin…! Tersentak kaget tubuh pak Darso mendapatkan kejutan yang tidak diduga-duga datangnya ini. Pak Darso diluar kebiasaanya langsung berkata keras.

“Oh… nikmatnya… langsung dimasukkan saja sayang… jangan menyimpang dari prosedur eksekusi-nya dong… ha-ha-ha…! Kan… katanya seluruh ‘muatannya’ harus dikosongkan dahulu didalam vagina legitmu itu… barulah… eksekusi ‘penggigitan’ baru mulai dilaksanakan… ya kan sayang… oh nikmatnya…!”, desah-kata pak Darso diliputi kabut rasa yang sangat terasa nikmatnya ini.

“OK…! Kalau begitu… sapa takut lagi..!”, kata sang ‘eksekutor’ jelita ini penuh gejolak birahi yang berapi-api…

Ivonne duduk ditengah-tengah pangkal paha pak Darso… sambil menggengamkan jari-jari lentik tangan kirinya disekeliling batang penis keras yang panjang itu serta disusul dengan genggaman mantap dari jari-jari lentik tangan kanannya pada bagian ‘leher’ dibawah palkon pak Darso… kemudian Ivonne memajukan sedikit posisi tubuh telanjangnya sedikit kedepan sambil menempelkan palkon yang digenggamnya sangat erat itu langsung melewati katupan labia majora-nya… terus menyeruak katupan labia mirora-nya dan… tertahan pas didepan jalan masuk lorong nikmat didalam vagina sempitnya itu… masih tetap menghadapi wajah pak Darso yang sangat ‘dahaga’ melihat puting-puting susu yang indah tapi… sangat menantang itu.

Ivonne menekan pinggulnya kebawah… belum masuk… pinggulnya ditarik lagi keatas yang langsung ditekan lagi kebawah…

Rupanya Ivonne yang cantik tapi cerdik ini… ingin meniru bulat-bulat seperti pada ML perdananya dengan pak Darso… pagi hari tadi… yang terbukti sangat sukses dengan ambles-nya seluruh batu penis panjang ini.

Dan melanjutkan lagi ‘replika-gerak penyusupan’ pada ML tadi pagi. Pinggul penuh yang mulusnya mulai melanjutkan lagi aksinya… tekan-tarik-tekan-tarik… terus tanpa henti walau untuk hanya setengah detik pun…!

Sementara itu tubuh gagah pak Darso, sudah… kelojotan tak karuan… segera dia membantu Ivonne dengan caranya sendiri tapi punya efek yang membuat keduanya bertambah nikmat saja rasanya. Kesepuluh jari yang kesat dari kedua tangan pak Darso… langsung beraksi kompak dan serentak, seketika sibuk meremas-remas sangat lembut buahdada Ivonne yang indah serta sangat kenyal dan… mentul-mentul itu… Tidak lupa dengan variasi pentingnya, yaitu… memlintir-mlintir kedua puting yang sangat menggunggah dan mempengaruhi sangat besar bagi nafsunya yang bertambah sangat besar sekali. Tak sabar… sudah… aksi sukses besar pada ML pagi hari tadi… harus diulang lagi olehnya lagi. Tidak penting lagi seberapa lama dia mampu bertahan menahan semprotan sperma-nya pada vagina mulus yang sempit ini. Toh nanti… ada acara BJ… yang pasti membuat tegang kembali penis-nya dengan cepat jikalau penisnya menjadi melunak karena mencapai klimaks seiring dengan semprotan sperma-nya itu.

Pak Darso dengan lembut penuh nafsu, menarik dengan pelan kedua tangan mulus Ivonne, yang menyebabkan tubuh Ivonne terjerembab pelan kedepan dan menindih tubuh besar pak Darso. “Sayang… yang memasukkan penis biar opa sendiri saja yaa… seperti tadi pagi… terbukti kan tidak menyakitkan… ayo gulirkan tubuh indahmu ini menelentang disamping opa… ya… ‘eksekusi’ yang harus kamu lakukan segera setelah opa memenuhi lorong nikmatmu, dengan… semprotan-semprotan kuat penis opa… OK…!”, kata pak Darso lembut mencoba menbujuk Ivonne yang kewalahan memasukkan penis besarnya kedalam vagina sempit Ivonne sendiri…

Proses penyusupan penis panjang oleh sang pemiliknya itu sangat sukses sekali… hampir mirip dengan ML pagi hari yang sukses besar itu.

<bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis pak Darso yang panjang dan sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah dari seorang ‘old-crack’ berpengalaman.

Ayunan pinggul kekar pak Darso, sedang saja kecepatan ayunannya… yang penting harus stabil dan konstan…

“Assgghhh… sungguh nikmat sekali… cepetin sedikit lagi enjotannya opa…! Biar tambah nikmat…”, desah Ivonne merasakan nikmatnya persetubuhannya dengan opa-nya Diro ini, sambil meminta agar ‘pedal gas’-nya diinjak sedikit lebih dalam lagi.

Tapi pak Darso… tenang saja, menjalankan ‘misi-nikmat’-nya ini, seakan tidak perduli dengan permintaan gadis muda ini yang ingin segera dipuaskan birahi-nya yang tinggi itu… agar dia dapat merasakan orgasme spektakuler seperti tadi… pagi hari.

Ivonne selain cantik, juga… cerdik! Goyangan ‘maut’ pinggulnya mulai beraksi… memutar-mutar… sesekali disentak-sentakkan keatas…

Buyar sudah… stabilitas kecepatan ayunan pinggul pak Darso… yang tadinya berirama sangat teratur turun-naik… turun-naik… turun-naik… oleh ulah ‘nakal’ gerakan pinggul Ivonne itu… langsung memecah irama gerak teratur itu… yang sekarang pola-nya menjadi, turun-turun-naik… turun-turun-naik… terkadang berubah lagi pola-nya menjadi, naik-naik-turun… naik-naik-turun… ‘Wah… kalau begini… sudah tidak bisa ditolerir lagi… harus buru-buru melepas ‘muatan nafsunya’, kalau tidak… ‘kendaraan nafsunya’ bisa-bisa oleng dan… tidak mantap kali sodokan penis yang yang ampuh itu… menyeruak kedalam lorong-lorong nikmat sambil dikerubuti oleh-otot dalam vagina Ivonne yang legit… memiting, membelit seluruh permukaan disepanjang batang penisnya.

Segera pak Darso mendekap mesra tubuh telanjang bulat Ivonne dengan erat… sembari mulut gasang mengenyut kencang puting indah milik Ivonne secara bergantian kiri dan kanan ditambah peran serta lidah kesatnya menggoda dengan sengit puting indah itu dengan sapuan-sapuan ujung lidahnya yang kesat. Terlontar dengan santer desahan nikmat dari mulut sexy merah delima-nya Ivonne. “Arrghhh… nikmat… Ivonne bakalan mencapai klimaks… nih! Pokoknya kalau nggak mau bareng dengan Ivonne… akan ditinggal sendirian… hi-hi-hi… aahhh… ohhh… sampai… deh!”, kata Ivonne menakut-nakuti pak Darso, yang sok gengsi… mau berlama-lama ML dengannya.

Langsung dijawab dengan cemas oleh pak Darso, “Eh-eh-eehhh… tunggu dong… barengan sama opa…!”, segera mengenjot dengan sekuat tenaga… Penis panjangnya langsung bergerak sangat cepat… maju-mundur… maj-mundu… ma-mund… m-mun… mu… -u ug… ugh… uugh… uuggh… uugghhh…! Aarrghh…!”.

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

Terhempas tubuh tinggi besar pak Darso oleh sentakan hebat keatas oleh pinggul Ivonne, yang mencapai klimaks-nya sangat kuat dan hebat… Tubuh pak Darso ‘dipaksa’ bergulir kesamping kiri tubuh Ivonne… keduanya terbaring sejajar terlentang berdampingan… tanpa daya… sembari masing-masing dihanyutkan perasaannya oleh nikmat yang spektakuler dari masing-masing orgasme yang didapat… seorang… satu…

***

5 menit kemudian terjadi kesepakatan ‘luar-biasa’ bahwa ‘eksekusi’ ditunda sampai didapat waktu dan tempat yang ideal untuk melakukan itu.

Mereka buru-buru berpakaian rapi kembali dan segera pulang kembali kerumah besar kuno itu, sekitar pukul 17:30. Cuaca sudah mulai sedikit menjadi gelap… tidak kenapa karena mereka telah tiba ditumah dan cukup waktu untuk mandi sore hari dan pas jam antik itu berdentang 7 kali…

<Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!>
<Tenggg…!> <Tenggg…!>

Mereka telah rapi semua… berkumpul tepat waktu di meja makan yang besar… menikmati makan malam… dengan minuman segar dari olahan buah-naga dan ‘pencuci-mulut’-nya berupa irisan setebal 2 cm dari melon merah yang langka, penuh dengan kemanfaatan… serta telah menanti minuman coklat yang nikmat dalam thermos panas di baki kecil yang berisi 4 bh cangkir yang kesemuanya ditaruh diatas meja tamu yang terbuat dari kaca bening setebal 1 inci…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*