Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 11

Istana Pasir Milik Sang Ayah 11

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 10

Bagian 11 – Wisata Di Lautan Cinta

Sekarang hari Jum’at, jam dinding menunjukkan pukul 2:45 pagi sekali. Diro mendusin dari tidurnya, tubuh kekarnya masih dalam keadaan terbaring tidur terlentang, dia menengok kesampingnya. ‘Kemana si Ivonne… kok tidak ada?’.

Rupanya sang kekasih hati yang telah lebih dahulu bangun, bahkan sudah mandi pula! Buru-buru berdiri dari duduknya dari kursi dekat meja belajar Diro… buru-buru mengenakan baju atasnya yang berkancing vertikal didepan… dan berusaha berdiri pada posisi membelakangi Diro, yang diketahui oleh Ivonne bahwa Diro telah bangun dan membuka matanya yang tengah memandangi tubuhnya dengan sangat interesan sekali. ‘Untung aku sudah berpakaian hampir rapi, ‘stretch jeans’ biru tua sudah dikenakan, tinggal mengancingkan baju atasku saja…’.

“Jangan pandangi Ivonne kayak begitu dong… mas Diro! Mandi kenapa… buruan!”, kata Ivonne santai tanpa menengok kebelakangnya.

Diro sangat kagum sekali sikap Ivonne yang penuh insiatif sesuai rencana mereka, bahwa mereka akan berangkat sekitar jam 3:00 lebih sedikit. ‘Bener-bener hebat sekali cewek ini! Ramping semampai… cenderung sedikit lemah-gemulai, tapi sangat energik sekali! Rupanya dalam usianya yang masih 18 tahun ini, dia sudah lama bersikap ‘mandiri’ dan ‘berdikari’ buktinya telah mengelola tokonya sendiri, yang menjual voucher!’. Memang Ivonne telah lulus sekolah kejuruan puteri, entah jurusan apa dengan predikat sangat baik serta pendidikan formalnya ini disamakan dengan tingkat pendidikan setara SMU, dia belum berkeinginan masuk kuliah.

“Jual mahal nih… ya! Som-som sekali… he-he-he…!”, kata Diro menggoda Ivonne yang bersikap selalu berdiri membelakanginya.

“Bukannya sombong mas…! Kalau mahal iya! Kan ‘bocan’… hi-hi-hi… penasaran ya mas?!”, jawab Ivonne santai tanpa menoleh kebekakang.

“Emangnya ‘bocan’ itu apa sih artinya… sayang?”, tanya Diro ingin tahu.

“Hi-hi-hi… ‘bocan’ itu hampir mirip dengan ‘nocan’… cuma beda rasa saja… hi-hi-hi…!”, jawab Ivonne tanpa penjelasan.

“Kalau nggak jelas jawabnya… entar aku kitikin nih…!”, kata Diro keki sambil berpura-pura mengancam sambil bercanda.

“Eh-eh-ehhh…! Jangan dong mas! Payah nih mas Diro… dikit-dikit main kitik aja… udah mulutnya suka ngecipok tanpa permisi lagi…! Hi-hi-hi…!”, Ivonne buru-buru maju 2 langkah sambil sedikit membungkuk… menjaga segala kemungkinan. Dan segera menjelaskan kata-kata yang tidak dimengerti sang kekasih hati yang ganteng maskulin ini. “Kalau ‘nocan’ kan mas Diro sudah tahu, yaitu ‘nomor cantik’… kalau ‘bocan’ adalah ‘body cantik’ gitu lho… udah tahu kan sekarang… hi-hi-hi…!”.

“Emangnya… ada apa istilah ‘bocan’?!”, tanya Diro kurang yakin.

“Ya ada…! Masak sih Ivonne bohong…? Barusan… gitu lho… Ivonne yang membuatnya khusus untuk mas Diro seorang… hi-hi-hi… buruan mandi kenapa… jaga nama-baik kaum lelaki dong… masak kalah sama cewek sih…? Hi-hi-hi…!”, Ivonne dengan gencar melakukan sindiran mesra, habis… dilihatnya Diro masih tenang dan malas-malasan saja.

“Kalau begitu… aku mandi deh…”, kata Diro dengan sigap turun dari tempat tidurnya yang masih acak-acakan akibat ‘pertempuran nikmat’ tadi malam.

Sedang Ivonne mengikuti gerak-gerik Diro dengan pandangan wajah jelitanya bergerak sesuai posisi Diro berada. Begitu Diro mau masuk kekamar mandi… dia menoleh kebelakang, dan… tolehannya sungguh tepat pada payudara montok sang kekasih, karena ada celahan untuk mengintip, msklum saja… dua kancing ditengah belum dikancing sempurna, dan… Ivonne braless! Alias tidak memakai BH!

“Uuugghh… sedapnya! Ternyata dalam kamarku yang ‘sumpek’ ini… ada pemandangan sangat indah…! Yang sungguh… menggugah selera… he-he-he…! Asyik!”, kata Diro bersemangat dengan suara agak keras. Ivonne segera membalikkan dirinya lagi membelakangi Diro sambil berkata pelan.

“Wajahnya sih oke punya deh… cuma matanya itu lho… tajam dan awas seperti mata elang, malahan lebih hebat lagi… ditambah ‘genit’-nya gitu… hi-hi-hi…”, Ivonne tertawa tanpa menoleh.

Begitu Ivonne mendengar suara pintu kamar mandi ditutup, menoleh kearah pintu itu sejenak, segera mendekati tempat tidur Diro yang masih acak-acakan ini. Hebat…! Bukan main cekatan sekali cewek cantik ini… tidak sampai melewati waktu semenit… tempat tidur Diro sudah rapi lagi, seakan belum ada yang berbaring diatasnya. Gadis cantik yang penuh inisiatif dan cekatan ini, sungguh… penuh dengan kejutan. Telah selesai semuanya itu, Ivonne dengan dengan tenang dan santai, duduk lagi di kursi dekat meja belajar Diro, dan… mulai berdandan ala kadarnya… benar-benar seorang gadis muda yang pandai merawat dirinya sendiri.

Diro tidak suka berlama-lama berada didalam kamar mandinya yang tidak terlalu besar itu… maklum ada peruntukan lain yang membutuhkan ruangan daripada ruang untuk sekedar bersih-bersih diri dan ‘membuang hajat’ itu. 10 menit kemudian, Diro keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian rapi. Celana panjang jeans berwarna colat muda kehijauan. T-shirt dan tentu saja CD. Rupanya Diro malam tadi sempat membersihkan diri dari ‘pertempuran sengit ala BF itu’ dan menaruh keperluan untuk berpakaian pagi ini, ditaruh didalam lemari kecil yang ada dikamar mandinya. Diro tidak perlu repot-repot merapikan rambutnya, karena rambut cepaknya tidak terlalu membutuhkan perhatian khusus untuk merawatnya… mau disisir atau tidak… sama saja. Dari itu pada kunjungannya dahulu menemui ibunda tersayang mengatakan bahwa perawakan tubuh yang kekar ditambah potongan rambut cepaknya dari anak tunggalnya ini mirip penampilan seorang tentara saja layaknya.

Diro begitu keluar ingin membawa gelas-gelas kotor untuk dicuci kembali, menjadi sangat heran dan kagum melihat kondisi tempat tidur menjadi bersih dan sangat rapi kembali, ditaruhnya lagi gelas kotor itu diatas meja belajarnya dan berkata.

“Sungguh penuh kejutan…! Calon ibu dari anak-anakku kelak nanti ini… terima kasih Ivonne… terimakasih sayangku…!”, kata Diro sambil memandang mesra pada Ivonne yang agak ternganga mulutnya ketika mendengar kata ‘anak-anakku’ itu. Katanya pelan penuh keharuan.

“Cius… mas…? Mas Diro tidak sedang mempermainkan… Ivonne kan…”, kata Ivonne penuh haru dan perasaan luar biasa bahagianya… 2 mutiara bening tetes airmatanya mengalir pelan menyusuri pipi halus dari wajah jelitanya yang merona kemerahan… menambah indahnya wajahnya yang cantik keibuan ini.

Segera saja Ivonne berdiri langsung mendekap tubuh kekar Diro dan menempelkan pipi kanannya pada pada dada Diro yang bidang.Mereka berdua… sepasang calon sejoli yang serasi ini berdiam diri… tanpa kata… tanpa suara… cuma ada gemuruh didalam hati sanubari mereka masing-masing… untuk beberapa saat lamanya…

Dengan mengecup mesra dahi sang kekasih, Diro mengajak Ivonne untuk sarapan ala kadarnya, biasa… sarapan pagi dengan gandum yang mengandung banyak kemanfaatan bagi tubuh orang yang meng-konsumsinya… (kata iklannya sih… lewar iklan komersil di tayangan TV)

***

Tepat jam 3:30, mobil yang mereka kendarai melaju kencang menuju ke lahan perkebunan milik keluarga besar pak Darso, kakeknya yang sangat dikagum Diro.

Mereka pergi meninggalkan 2 orang ‘anak bebek’ (Suntari dan Andini) yang bersama-sama masih meringkuk diatas satu tempat tidur dikamar tidur Andini. Yang tidak diketahui banyak orang disekeliling mereka termasuk Diro sendiri… mereka berdua menyimpan sebuah rahasia rapat-rapat yang hanya diketahui oleh mereka berdua dan seorang lelaki yang merekrut mereka dari divisi Urusan Khusus Cabang Pembantu dari badan hukum perusahaan perkebunan… yang tak lain dan tak bukan adalah pak Yanto yang pernah bertemu dengan Diro dalam hal penandatangan dan penyerahan surat-surat berharga untuk mobil baru yang dikendarai saat ini oleh Diro dan calon isterinya… pilihan hati Diro sendiri.

Rahasia itu adalah… Suntari dan Andini adalah isteri-isteri muda kawin sirih pak Yanto sendiri yang dikawin pada hari yang sama tapi dengan tempat yang berbeda! Perkawinan sirih itu yang pertama adalah ‘Yanto & Suntari’ lalu yang kedua dengan tempat berbeda adalah ‘Yanto & Andini’. Yang tidak diketahui oleh ‘anak bebek’ (Suntari dan Andini) yang malang ini adalah… buku-buku nikah mereka adalah palsu dan tak terdaftar sama sekali di kantor pembantu KUA setempat. Mereka menyerahkan keperawanan mereka dengan sukarela dan pada malam pertama dan ranjang pengantin yang sama!

Suntari dan Andini terkecoh dan tertipu mentah-mentah oleh Yanto yang necis dan ganteng tapi berhati buruk dan compang-camping hati nuraninya. Alasan pemerawanan itu ada kaitannya dengan kriteria ‘recruitment’ peserta PM-SDM… salah satunya adalah agar mencari wanita atau pria cerdas (dibuktikan dengan test IQ) dan kalau dia wanita, telah mengunakan spiral KB atau IUD. Karena pihak perkebunan tidak ingin mentolerir akan sesuatu yang akan menjadi skandal… misalnya kehamilan, atau lainnya, yang ujung-ujungnya hanya merepotkan dan merugikan pihak perkebunan semata, sebenar kalau pak Yanto cerdas dan tidak mau pusing pilih saja dari kaum pria muda yang pintar dan lebih dinamis dan kreatif… dasar pak Yanto adalah seorang opportunist yang mempunyai ilmu andalannya yaitu… Aji Mumpung…!

***

Pak Sutarman di kantornya (yang berada di lahan perkebunan) memerintahkan wakilnya, pak Sumirat… untuk menghubungi salah satu dari peserta PM-SDM itu, Suntari atau Andini. Akhirnya setelah melakukan berkali-kali mencoba… tersambung juga hubungan telekomunikasi cellurar itu, buru-buru Sumirat memberikan BB tersambung itu pada komandannya, pak Sutarman.

<“Disini pak Sutarman kepala keamanan perkebunan berbicara…! Siapa yang berbicara…?! Yang jelas menyebutkan namanya!”>, pak Sutarman bertanya dengan tegas gaya ala militer pada yang berbicara dari ujung… ‘sana’.

Rupanya Suntari yang menerima panggilan telepon di subuh pagi itu, jam dinding dikamar Andini masih menunjukkan sekitar pukul 4 kurang. Dengan perasaan kesal karena merasa terganggu dari tidurnya yang tadi meringkuk nyenyak, Suntari menjawab sambungan telepon itu dengah ogah-ogahan.

<“Saya Suntari, pak! Sesuai dengan perintah dari pak Yanto… kami tidak diijinkan menjawab langsung semua pertanyaan yang diajukan pada kami. Sebagai peserta PM-SDM, kami memohon supaya bapak menghubungi atasan kami saja, yaitu pak Yanto di kantornya nanti>”, begitulah jawab Suntari yang kedengaran jadi sangat bodoh karena saking gugupnya menerima telepon dari pensiunan pamen satuan khusus pasukan komando ini… yang diberitahu oleh suami sirihnya ketika mereka berleha-leha melepaskan lelah setelah proses pemerawanan pada ‘malam pengantin’ mereka. Karena gugup Suntari jadi dungu saja kedengaran ocehannya… apa dia lupa… sekarang hari libur nasional dan… kantornya Yanto tempat dia bekerja juga berlibur, alias… tutup!

<“Baiklah nona… kalau begitu jawaban anda… asal tahu saja! Bukannya pak Yanto tapi atasannya saja… masih dibawah kendali saya atau pak Yanto yang suami sirih kalian itu, tidak memberitahukan sruktur kepemimpinan dari badan hukum perkebunan ini? Diatas saya cuma ada 2 orang yaitu pertama pak Darso… dan kedua adalah pak Diro yang sebenarnya adalah atasan langsung kalian berdua selaku peserta PM-SDM yang sudah terpilih. Baiklah kalau begitu… telepon suami sirih kalian, pak Yanto dan memintanya untuk menunggu saya di gedung PM-SDM”>, pak Sutarman memutus hubungan telekomunikasi cellular itu…

Sudah setengah perjalanan yang ditempuh oleh mobil baru yang dikendarai mereka berdua, Diro dan Ivonne. Ivonne yang cerdas dan tahu diri tidak terlalu sering berkata-kata dengan sang kekasih hati… yang sedang memegang setir dengan penuh kehati-hatian. Jam-jam segini lampu-lampu penerangan jalan dalam kota saja begitu buram… karena dengan alasan penghematan atas pemakaian listrik yang semakin mahal saja… apa yang diharapkan dari lampu penerangan jalan umum yang sekarang sedang dilewati mobil yang mereka kendarai ini. Bersyukurlah lampu dim mobil baru ini sungguh luar biasa terangnya menembus dikeremangan kegelapan pagi subuh ini.

Diro melihat Ivonne telah tertidur, maklum saja tidak banyak yang bisa dilihat lewat kaca samping mobil karena pandangan mata masih terhalang oleh keremangan gelap yang agak tebal.

Diro buru-buru menepikan mobilnya dan menyalakan lampu dalam mobil, dan mengatur sandaran duduk yang tengah disandari oleh Ivonne tanpa sadar tertidur dengan sangat nyenyak. Sandaran itu merebah kebelakang dan… pas menyambung dengan sangat sempurna, sehingga sekarang posisi tidur Ivonne terlentang sempurna serta kepalanya seakan merebah diatas bantal saja layaknya.

Kemudian Diro menjalankan kendaraanya lagi, satu jam lagi… mereka akan sampai ke lahan perkebunan yang mempunyai ketinggian 500 m dpl itu, dan… bisa menikmati bersama disana… ‘sunrise’ yang indah, kebetulan keadaan langit diatas sana agaknya akan cerah sekali. Pasti pagi yang penuh dengan warna cerah dengan latar belakang warna langit yang biru muda… mungkin ditambah pupuran putih awan-awan tipis yang terus bergerak ditiup oleh silir angin sejuk alam perbukitan yang beraneka warna hijau, hijau muda, hijau cerah, hijau tua… hijau-hijau lainnya yang semarak menambah indahnya panorama alam disekitarnya.

***

Jam yang ada di panel dashboard mobil menunjukkan waktu pikul 5:45. Memang mobil mereka sudah mendekati area perkebunan, jalanan meskipun rata tapi dilapisi batu-batu kerikil.

Tanpa setahu Diro yang tengah asyik menyetir kendaraannya itu, Ivonne sudah duduk tegak sambil bersandar kebelakang. Rupanya Ivonne berhasil juga mengatur sandaran kursinya seperti semula lagi, seperti sebelum dirubah posisinya oleh Diro tadi.

Mobil bergetar hebat, karena keempat ban roda yang sengaja ditukar type-nya dengan yang lebih lebar agar cengkeraman pada jalanan yang dilalui lebih mantap saja.

“Aduh… gimana nih… sih! Pasti mobil ini punya kelamin jantan… itu pasti…! Hi-hi-hi…”, komentar spontan Ivonne yang buahdada 36B yang kenyal ikut-ikutan bergetar.

Diro menengok kekiri, kearah Ivonne yang sudah duduk tegak kembali dan sempat mendengar komentar Ivonne yang lucu itu.

“He-he-he… emangnya kamu ngintip ‘punya’-nya mobil ini, apa? He-he-he… genit amat kamu ya… he-he-he…”, kata Diro sambil tertawa lepas karena ada teman untuk mengobrol lagi.

“Bukannya ngintip mas…! Nih lihat deh”, kata Ivonne sambil membusungkan dada montoknya kedepan. “Aduh… enaknya… kayak diremas-remas sama diplintir-plintir pentil susu Ivonne… hi-hi-hi…!”, kata Ivonne genit merayu sang kekasih.

Diro menoleh kearan Ivonne dan spontan berkomentar agak keras. “Montok dan indah sekali tetekmu ikut-ikutan bergetar… mana tanpa ada gayutan lagi, ya… bukan salah aku lho… jadi bangun dan keras deh si ‘dia’ padahal waktu melihat kamu tertidur nyenyak… si ‘dia’ kan… ikutan tidur lho”, kata Diro jujur saja kalau penisnya jadi keras, tegang berdiri.

Ivonne melihat kearah tengah-tengah pangkal paha Diro… memang benar… ada tonjolan yang menjulang tinggi. “Itu sih namanya… bukan si ‘dia’ mas…! Bilang saja yang jelas… penis mas Diro… lagi ngaceng hebat! Hi-hi-hi…! Cup-cup-cup… tenang sayang… bobo lagi aja deh… kita belum sampe ketempat tujuan…. hi-hi-hi…!”, Ivonne berpura-pura mengajak berbicara dengan penis keras Diro dan membujuknya agar tenang dan tidur lagi.

“He-he-he… kalau udah begitu kondisinya mana mau dibujuk lagi…! Ivonne-Ivonne… jangan marah ya. Aku ingin bertanya… jujur nih… boleh nggak…?”, tanya Diro serius pada Ivonne.

“Tanya aja… sapa… takut lagi…?”, jawab Ivonne santai.

“Kamu heran dan cemburu nggak… kalau aku mencipok mama-ku sendiri…? Maaf ya Ivonne…”, tanya Diro rada Khawatir dan harap-harap cemas.

“Kenapa harus minta maaf sayang…! Sedang Ivonne sendiri kagum sama mas Diro yang tidak marah, kecewa apalagi cemburu dengan ceritera Ivonne tentang Ivonne yang nge-seks dengan adik dan papa Ivonne sendiri. Malah kalau mas Diro ML dengan mama mas sendiri… Ivonne ikut bahagia saja…! Kan kasihan… mama-nya mas yang selalu kesepian itu”, kata Ivonne yang penuh pengertian itu.

“Itu tadi tentang pertanyaan, sekarang tentang satu permintaan… masih boleh, nggak…?”, tanya Diro hati-hati dan sedikit ragu.

“Aduh-aduh… mas! Mau minta gituan saja… ampe susah banget sih nanyanya!?”, kata Ivonne rada kesal atas keraguan Diro pada dirinya, dan mulai ingin melorotkan stretch jeans-nya kebawah… tapi keburu dicegah oleh kata-kata Diro yang cepat. Tapi sebelumnya menepikan dahulu mobilnya berhenti dipinggir jalan yang lokasinya sudah dekat dengan rumah besar kuno yang ditempati kakek dan ibu kandungnya Diro.

“Eh-eh-eh… jangan disini…! Eh… bener kok tentang gituan tapi… Dengerkan dulu deh penjelasan aku dahulu. Begini… kan Ivonne sudah sering jadi pelampisan nge-seks dengan papa Ivonne sendiri, dan… tidak pernah mendapatkan orgasme… walau cuma sekali…! Aku yakin secara tak sadar pasti Ivonne menyama-ratakan semua pria yang seumuran dengan usia papa-nya Ivonne. Aku ada usulan nih… tapi sekali lagi please… jangan marah dan merasa terpaksa atau dipaksa, begitu… Nanti saat aku ML dengan mama-ku… mau tidak Ivonne ML dengan opa-ku dengan pertimbangan, bahwa ML dengan opa-ku pasti Ivonne akan mengalami orgasme minimal sekali bahkan bisa jadi lebih dari satu kali! Ini akan menguntungkan kedua belah pihak secara psikologis. Pertama Ivonne akan merubah perspektif-nya terhadap pria tua yang hampir seumuran dengan papa-nya Ivonne. Kedua… bantuan dari Ivonne yang mau ML sama opa-ku akan menyembuhkan secara psikologis… karena pastilah… opa yang setiap kali ML dengan puteri kandungnya itu… yang juga menjadi ibu kandungku… akan timbul rasa sesal… secara sadar maupun tak sadar, walaupun rasa sesal itu lama-lama akan tersaput sirna oleh libido opa yang mulai meninggi lagi… begitulah seterusnya dengan pola yang persis sama terulang lagi tanpa henti…! Bagaimana sayang… jangan benci padaku ya sayang… aku sungguh mencintaimu dengan segenap jiwa-ragaku… sayang!”, kata Diro dengan perasaan plong dan lega.

Ivonne yang mendengarkan dengan sabar penjelasan panjang lebar dari kekasih hatinya itu, dengan tenang berkata. “Asal mas Diro mau berjanji… jangan sampai mas jadi cemburu… kalau Ivonne ML dengan opa-nya Diro… sembari membuktikan bahwa apa bener selama ini perspektif Ivonne suatu kesalahan…!”. <Seeerrr…!> ada semprotan kecil yang melicinkan lorong nikmat didalam vagina mulus dan klimis itu. Buru-buru Ivonne merapatkan paha mulusnya. “Uugghhh… mas Diro payah deh ngomongnya tentang ML… terus! Jadi kepengen deh… hi-hi-hi…!”.

“Jangan khawatir Ivonne-ku sayang…! Kamu lihat tuh didepan… ada banyak tiang penerangan jalan… kita akan segera masuk ke pelataran depan rumah besar kuno milik opa-ku…!”, kata Diro bersemangat dan gairah.

“Ivonne… siap nggak nih yaaa… mudah-mudahan opa mas bisa puas dan klimaks ML dengan Ivonne… jadi deg-degan nih…!”, kata Ivonne agak meragukan kemampuan nge-seksnya sendiri.

“He-he-he… gimana sih kamu sayang… jangan terlalu khawatir begitu…! Justru opa yang harus berhati-hati ML denganmu sayang… agar dia bisa membuatmu mendapatkan orgasme yang indah…!”, kata Diro memberi semangat mengenai ML, yang sebenarnya lebih bersifat… terapi itu.

Sebelum men-starter mobilnya, Diro menelpon Daniati, ibunda tercinta dan memberitahukan beliau bahwa dia dan Ivonne telah sampai dekat pintu masuk pelataran rumah dan ingin melihat ‘sunrise’ yang indah serta ber ‘selfie-ria’ bersama Ivonne, yang langsung dijawab Daniati dengan terburu-buru…

“Hei-hei-hei… Diro! ‘Selfie’ ya…? Tunggu mama dulu dong…! Enak aja… mama ditinggal! Hayo… diam ditempat dulu! Biar mama yang nyamperin kamu ditempat! Awas kalau mama ditinggal…!”, kata Daniati langsung kabur… bergegas berlari-lari kecil menuju pintu masuk pelataran rumah… sampai lupa memakai jaket yang tebal untuk menghangatkan badan di pagi yang indah ini, tapi… sejuknya… minta ampun! Daniati masih saja mengenakan baju tidur suteranya yang tipis berwarna ungu muda dan tidak lupa sambil menggenggam BB-nya dengan erat.

Diro yang melihat ibundanya yang berlari-lari kecil, serta baju tidur sutera ungu muda yang tipis melambai-lambai ‘ceria’ dibelakang tubuhnya yang tinggi semampai… sungguh suatu pemandangan indah yang melengkapi panorama elok alam sekitar perbukitan ini…! ‘Bener kan… kataku juga apa…! Mama bagaikan…’.

Dewi Murni berkembenkan sutra ungu
Melambai meria rasa
Semerbak memenuhi…
Angkasa beralih biru

Di… baliknya… awan…
Membayang pelangi beraneka warna
Menantikan sang Dewi Murni
Turun bermandi di t’laga dewa

Kuntum bunga semua,
serentak mekar menyebar wangi
Untuk menyambut Dewi Murni
Bertiti pelangi turun mandi

… … …

Buru-buru Diro mengajak Ivonne untuk segera turun dari mobilnya untuk menyambut ibunya.

Sampai juga Daniati mendekati sepasang kekasih yang saling jatuh cinta itu… dengan napas agak tersengal-sengal… setiap kali Daniati menarik napas… puting indahnya seakan ingin menembus keluar gaun tidur suteranya yang tipis ini. Sementara mata Diro melotot menyaksikan dengan seksama sebentar-sebentar puting indah ibunya itu terlihat nyata muncul sangat jelas kemudian agak samar… lalu sangat jelsa sekali… begitu seterusnya… seirama dengan helaan napasnya yang masih tersengal.

Sedangkan Ivonne dengan matanya yang jeli melirik kearah ke tengah-tengah pangkal atas Diro yang menonjol keras makin keatas. ‘Bener-bener deh…! Nafsu banget sih mas Diro kelihatan sama ibu kandungnya sendiri!’.

Daniati menoleh kearah Ivonne, langsung memeluk mesra Ivonne, sambil berkata agak keras agar Diro cukup jelas perkataannya. “Wow… cantik sekali calon anak mama ini”. Lalu berbisik pelan, “Entar kalau mama bicara… jangan jawab mama dulu sayang…”. Lalu Daniati berkata agak keras lagi seperti tadi semula. “Kamu… Vonnie kan namanya, salam kenal ya sayang…!”, kata Daniati sambil menngecup mesra pipi kiri dan kanan Ivonne yang tahu kira-kira… sengaja menyebut namanya keliru… Yang langsung ada ralatan dari Diro yang mengikuti seksama gerak-gerik kedua wanita yang mempunyai kecantikan chas masing-masing.

“Eh… mama! Keliru deh… namanya Ivonne ma! Sekali lagi Ivonne… mama-ku sayang yang lupa nama calon mantu-nya sendiri…! He-he-he…!”, kata Diro yang meralat kekeliruan ibunya menyebut nama dari kekasih hatinya ini, sambil tertawa…

“Eeh… iya! Maklumin deh… habis mama masih muda sih… hi-hi-hi…”, jawab Danita bergurau sambil tertawa riang, dan kemudian dengan serius berbisik kembali didekat telinga Ivonne, “Biar Diro tidak merasa malu gitu Ivonne… kamu disarankan ML dengan opa-nya Diro ya sayang…? Mama kemarin sudah membicarakannya tadi malam dengan beliau, rupanya dia interesan sekali, akibatnya… mama jadi mendapatkan orgasme berkali-kali… ML dengan opa-nya Diro, kok… jadi bersemangat sekali ya?? Hi-hi-hi… Jangan gentar Ivonne… hadapi dan kita sambut ‘tantangan’ dari para cowok-cowok ini… sssttt… Ivonne teriakkan yell seperti ini… ‘Hidup Para Wanita Pemberani!’… Ayo mulai pada hitungan yang ke-3… satu…! dua…! TIGA!”. dengan serentak cewek-cewek cantik ini berteriak…

“HIDUP PARA WANITA PEMBERANI…! Hi-hi-hi…! Hi-hi-hi…!”.

Kaget seketika Diro yang mendengarkan teriakan yell yang tak dinyana-nyana terdengar… sambil memandang dengan penuh keheranan pada kedua cewek-cewek kompak itu dan berkata dengan ragu. “Kayaknya… ada yang unjuk rasa deh! He-he-he…!”. yang dibalas juga dengan tertawa cekikikan.

“Hi-hi-hi… hi-hi-hi…!”, tawa para cewek kompak. Daniati meneruskan dengan kata-kata, “Nah baru tahu kan kalau para wanita bersatu… apa lagi menghadapi cuma satu cowok ini saja… hi-hi-hi…”, kata Daniati penuh rasa kemenangan dan solidaritas gender dan… dengan ‘humor sense’ yang tinggi…

“Waduuhh…! Main keroyokan nih… ya! Tunggu saja nanti Diro minta dukungan opa! Ah… gencatan senjata dulu dong… nggak fair nih, 2 lawan 1… mendingan juga kita ber-‘selfie-ria’ OK…?!”, ajak Diro sambil membujuk pada ibunya dan Ivonne yang herannya terlihat olehnya tersenyum-senyum saja mereka berdua saja… nggak ngajak-ngajak dirinya.

“OK setuju! Sapa… takut lagi…! Hi-hi-hi…! Hi-hi-hi…!”, jawab para cewek kompak sambil tertawa bergembira…

Mereka bertiga masuk kedalam mobil dengan para cewek duduk dideretan tempat duduk dibelakang supir yang dijabat oleh Diro yang ganteng maskulin ini. Segera Diro men-starter mobilnya dan mengendarai pelan saja sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari lokasi yang cocok dan indah kiranya untuk mereka melakukan ‘selfie’. Kedua cewek dibelakangnya sedang santer-santernya berbisik-bisik ria. Yang pasti Diro tidak berminat ikut terlibat didalam pembicaraan yang dilakukan secara bisik-bisik itu. ‘Bisa-bisa berabe urusannya nanti…’, pikir Diro dalam hati.

***

Kegiatan ‘selfie’ ini tidaklah terlalu banyak makan waktu lama, satu jam kemudian mereka sudah kembali ke rumah kuno yang besar itu dengan semuanya pada riang-gembira terpancar dari wajah- mereka yang penuh kebahagiaan.

Pada saat mereka, khususnya Ivonne melangkah masuk kedalam rumah yang besar itu… melangkah juga pak Darso yang berinisiatif ingin menghidangkan minuman coklat hangat yang sedap bagi semuanya. Terhenti langkah pak Darso seketika… tatkala melihat seluruh tubuh Ivonne yang lumayan tinggi dan ramping… dari samping… Sungguh mirip sekali postur tubuh dan tampak samping wajah Ivonne… yang langsung mengingatkan pak Darso akan almarhumah isterinya tercinta! ‘Oh… rupanya titisanmu datang mengunjungiku sekarang… sayang…!’, kata pak Darso dalam hatinya yang bergetar sangat hebat.

Tapi dengan cepat pak Darso dapat menguasai dan menenangkan perasaannya yang sangat emosional penuh rasa cinta itu. Dan menaruh thermos yang berisi minuman coklat hangat, juga menyusun 4 cangkir yang sudah tersedia diatas baki ceper spesial untuk tempat cangkir.

Sedangkan ibu dan anaknya sudak tumplek jadi satu… duduk diatas sofa panjang diruang tamu yang besar ini, mereka sedang asyik melakukan FK yang hot penuh kemesraan bagaikan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara saja layaknya! Ivonne yang masih bingung berdiri dekat meja tamu dan berhadap-hadapan dengan pak Darso, yang tengah-tengah piyama-nya pada pangkal pahanya sudah ada tonjolan penisnya yang ingin berontak keluar dari celana piyamanya itu. ‘Tabung’ libido-nya menjadi langsung penuh hampir tumpah ruah…

Sejenak Diro melepaskan tautan nikmat dari bibir sexy Daniati, ibunya yang cantik jelita, sambil menggoda Ivonne dengan kata-kata nakalnya.

“Jangan ngiri ya… Ivonne?! Mas Diro lagi sibuk berat nih! He-he-he… mama… mendingan kita kekamar mama aja ya yuk… biar tambah asyik…! Daagghhh Ivonne… kacian deh kamu… he-he-he…!”, kata Diro masih saja menggoda Ivonne sambil bergandengan pinggang berdua dengan ibunya melangkah pelan menuju kamar tidur milik Daniati.

Ivonne yang keki, menghentak-hentakkan pelan kaki-kakinya pada lantai keramik, sambil berkata kesal. “Gimana nih opa… mas Diro ngeledekin Ivonne terus…”, sambil memeluk manja dan dan mesra tubuh pak Darso yang masih terkesima dengan dengan perasaannya sendiri. ‘Kok… tingkah-lakunya… sama persis dengan almarhumah isteriku… irama kata dan hentakan kaki Ivonne… pokoknya hampir mirip… semuanya!”.

Daniati mengingatkan ayahnya dengan berkata. “Papaku sayang… cewek cantik jangan dianggurin lagi…! Hi-hi-hi…! Lagi jeri ya…? Kacian deh… daagghhh… papa! Hi-hi-hi…!”, kata Daniati menggoda ayahnya dengan cukup ‘sadis’ kedengarannya.

Kata-kata puteri kandungnya ini langsung menggugah dan menyadarkan pak Darso dari keadaan yang sedang melamuni almarhumah isterinya… melulu…

“Ayo Ivonne sayang… kita kan… punya acara hebat sendiri… belum tahu saja mereka…!”, kata pak Darso rada dongkol diledek oleh Daniati, puteri tunggal yang sexy dan jelita.

Sambil bergandengan pinggang dengan mesra, dan… dibumbui gejolak gairah baik dari pak Darso maupun dari Ivonne yang… <seeerrr…> ada semprotan kecil lagi yang langsung melumasi sempurna seluruh lorong nikmat vagina-nya, yang sudah siap-siaga menyambut sang tamu yang tak lama lagi akan datang berkunjung…

Bagaikan pasangan pejabat teras yang diawali oleh tonjolan yang ‘jauh’ kedepan dari penis besar dan panjang punya pak Darso bagaikan ‘fore-rider’ menuntun langkah mereka menuju kamar tidur utama… milik pak Darso.

Sampai didalam kamar tidur utama, segera pak Darso menutup pintu kamarnya dengan segera, tanpa dikunci lagi. Begitu membalikkan tubuhnya yang tinggi besarnya (= 175 cm) itu, langsung mendekap dengan penuh nafsu tubuh sintal ramping semampai serta payudara montok gadis muda ini yang menempel erat di dada pak Darso yang bidang. Ivonne berusaha meninggikan tubuhnya yang kurang 10 cm itu dengan cara menjinjitkan ujung-ujung jari kakinya setinggi mungkin.

Rupanya pak Darso tahu kalau bakal pasangan seks-nya sesaat lagi ini menginginkan ber-FK dengannya, sambil menundukkan kepalanya pak Darso berbisik. “Jangan terlalu lama berjinjit sayang… nanti jari-jari kakimu jadi kram”, seraya dengan kesigapan seorang pecinta unggul ‘old-crsck’, cepat saja membukai kancing baju atas Ivonne yang berjumlah lima buah kancing dan sudah terbuka 3 buah kancing… jadi tinggal 2 buah kancing saja, lalu melepaskan baju itu dari tubuh bagian atas Ivonne yang mulus lewat kedua lengan atas… lengan bawah… telapak tangan berserta jari-jari lentiknya… selesai! Segera melempar baju atas tipis milik Ivonne itu, dan… jatuh pas diatas bagian kepala tempat tidur spring bed yang sangat besar itu.

Terpampanglah bebas tanpa hambatan lagi… sambil disinari lampu berkilau putih dari lampu TL diatas kepala mereka, yang saat ini sedang berdiri berhadap-hadapan penuh gairah yang menggelora… Dada mulus Ivonne yang bersemu ivory sangat muda, dihiasi buahdada montok dan sekal tanpa gayutan sama sekali… dengan aerola berwarna pink muda serta ‘topping’-nya berupa puting yang berwarna pink agak gelap dari warna aerola-nya, yang… menantang kedepannya… mempesona, menggelitik gairah birahi seketika… pada pria dewasa yang sedang menatapnya…

(NB: areola = bagian yang berwarna gelap mengeliling puting
buahdada, biasanya sebesar lingkaran koin uang 100
rp atau lebih besar / kecil).

Tak sabar sudah… pria ‘old-crack’ ini, veteran pencinta tubuh indah dari seorang gadis muda… dengan mulut gasangnya serta dihiasi kumis tipis (karena lupa dicukur!) dengan cepat dan tepat… mendarat pada puting susu Ivonne yang kanan… lidah kesat segera mengusap-usap dengan cepat, sekali-sekali diselingi kenyotan yang lumayan kuat sedotannya. Dari buahdada yang kanan… beralih ke buahdada yang kiri, begitulah rute singkat mulut pak Darso… yang mengangkut muatan birahi pada tujuan wisata seks-nya p.p.

Kalau buahdada Ivonne yang kiri lagi sibuk dikenyot… pada saat yang sama, buahdada yang kanan mendapat rangsangan berupa remasan-remasan mesra dari kelima jari tangan pak Darso yang rajin serta kompak melakukan tugasnya dengan sangat baik.

“Aaahhh… udah deh opa! Nggak tahan Ivonne jadinya… ooohhh nikmatnya… gituin Ivonne sekarang juga kenapa…!”, Ivonne yang merasakan rangsangan hebat dari ahlinya yang ‘old-crack’ berkeluh-desah kenikmatan dan dengan pasrah sukarela minta supaya dahaganya akan orgasme segera dengan cepat dipenuhi… <seeerrr…!> ada lagi semprotan kecil didalam vagina legit serta klimis yang melumasi sempurna seluruh lorong nikmat dalam vagina sangat mulus milik Ivonne yang terawat sangat baik itu.

Segera Ivonne melepaskan diri dari dekapan pak Darso yang pengennya berlama-lama menikmati ‘fore-play’… lalu naik keatas tempat tidur atas inisiatif-nya sendiri yang kreatif, serta dengan cepat menelentangkan dirinya ditengah-tengah tempat tidur yang luas itu. Melorotkan stretch jeans-nya lepas dari tubuhnya lewat… kedua pangkal pahanya yang penuh dan mulus… melewati pahanya… melewati betisnya… dan terakhir melewati jari-jari kakinya yang kuku-kuku kakinya berwarna pink muda oleh pewarna kuku dan dengan tendangan dengan ujung kakinya dengan keras, tumpukan strecth jeans melayang tinggi keatas lalu jatuh lagi mendarat keatas lantai keramik putih susu tanpa motif.

(NB: old-crack = jago-tua, pemain-veteran)

‘Wowww…! Bukan alang kepalang indahnya tubuh telanjang bulat gadis muda ini yang pasrah terlentang… mengangkang… dan menantang… rupanya sudah tak sabar minta ‘diserang…!’. OMG gadis muda bertubuh sangat indah ini… rupanya dari sejak keberangkatnya, sampai kesini… tidak memakai CD samasekali!’.

Sudah tidak dapat ditolerir lebih lama lagi, dengan cekatan dan kecepatan yang mencengangkan yang sedari tadi dipandangi oleh mata indah Ivonne pada tubuh lumayan kekar dan sudah telanjang bulat… secara kilat…! ‘Panjang amat tuuhh… barang! Kebanyakan nelen biji coklat kali… hi-hi-hi…!’, Ivonne tertawa dalam hatinya.

Sambil nekat memberanikan diri, memandang dengan teliti palkon gede diujung batang penis keras milik pak Darso… sungguh sangat mencengangkan dan menimbulkan agak keraguan pada diri jelita Ivonne, soalnya penis ngaceng yang berdiameter normal, tapi… panjang itu… 20 cm! Sungguh menggetarkan hati sang gadis muda yang jelita ini. Dengan nekat serta men-support hati kecil agar tidak menjasi lebih ciut lagi, Ivonne berkata agak keras.

“Aduuhhh… opa minta ampun deh…! Geda bener sih penis opa… mana panjang lagi! Janji ya opa… pelan-pelan saja ya… masukinnya…”, kata Ivonne dengan nekat memberanikan diri.

Pak Darso dengan penuh minat dan bergairah mendekati Ivonne. Yang didekati dengan sigap merapatkan lagi paha mulusnya sambil berkata manja.

“Eh-eeehhh…! Opa sayang yang gagah, tapi… penis opa bikin ngeri Ivonne melihatnya… aayooo…! Omongin dulu janjinya… tidak keras-keras masukinnya…!”, kata Ivonne dengan berani… tetapi tetap deg-degan hatinya dan degup jantungnya lebih kencang jadinya.

“Baik sayang… opa janji akan melakukan dengan hati-hati… lagi pula nggak usah khawatir berlebihan kayak begitu… kenapa…?! Palkon opa jauh lebih kecil dari kepala bayi yang bisa keluar nantinya dengan mulus dari vagina-mu ini… sayang… masak sih palkon opa yang lebih kecil dari kepala bayi… tidak bisa masuk kedalam… ayoo… bener kan?!”, kata pak Darso berusaha membujuk dan meyakinkan Ivonne.

Ivonne yang termakan bujukan pak Darso tapi telah dipertimbangkan oleh Ivonne yang cerdas serta menilai alasan yang dipakai cukup logis dan masuk akal. Segera Ivonne mengangkangkan paha mulusnya, kali ini lebih lebar lagi, serta berkata dengan mantap.

“Baiklah opa yang gagah… nggak usah terlama-lama fore-play nya… tancap saja… soalnya Ivonne pengen merasakan orgasme dari opa… malah kata mama didalam mobil tadi memberitahu bahwa mama mendapat orgasme malam tadi… Ivonne juga mau dong… Kalau perlu opa sama Ivonne ML-an sampai malam juga tidak mengapa… hi-hi-hi…! Iiih opa… tahan-tahan senyum aja dari tadi kerjanya… jawab kenapa… hi-hi-hi…!”, kata Ivonne sambil meliuk-liukkan pinggul sangat erotis sekali tampak sambil sekali-sekali mengangkat pinggulnya agak tinggi sambil mendesah keras menggoda pak Darso. “Aaahhh… nikmatnya… hi-hi-hi…!”.

Pak Darso yang sedari tadi melihat dan mendengar semuanya itu, sudah tidak dapat menahan lagi tawanya. “Ha-ha-ha… bener-bener kamu…! Ivonne-Ivonne… bikin opa jadi gregetan… nih rasakan… pokoknya opa tidak menunda-nunda lagi… gituin Ivonne nih…!”.

Dengan sigap dan mantap pak Darso naik ketempat tidur langsung memposisikan tubuhnya duduk didepan vagina mulus dan klimis milik Ivonne, gadis muda yang tabah dan pasrah ingin Ml dengannya. Dipegangnya batang penisnya yang panjang dan keras… mengarahkan palkon-nya dengan menempelkan pada permukaan vagina Ivonne.

“Aarrghhh…!”, desah kaget Ivonne bukan merasakan sakit cuma rada was-was saja.

“Berasa sakit apa… sayang…? Kan punyanya opa… belum masuk kedalam…?”,tanya pak Darso heran.

“Tidak sakit kok opa… cuma was-was saja… gitu… hi-hi-hi…! Ayo buruan dong opa… entar Ivonne keburu nyampe nih tanpa dapatin orgasme lagi… Tancap lagi opa-ku sayang…!”, kata Ivonne mulai agak berani merayu.

Pak Darso langsung menekan palkon-nya… menyeruak masuk… menguak katupan labia mayora-nya… terus merangsek masuk sekarang menguak katupan labia minora-nya dan terhenti pas di jalan masuk gua yang penuh misteri… yang konon kabarnya menyimpan harta karun sejuta kenikmatan…! Pak Darso tidak ingin berlama-lama… langsung menekan masuk kembali palkon-nya dengan bantuan daya dorong pinggul kekarnya yang menekan kebawah… Ada perlawanan sangat sengit dari otot-otot dalam gua nikmat itu… dengan berkumpul dan mengumpal membuat pintu masuk itu mengecil…! Tapi pak Darso yang ‘old-crack’ ini mengganti strategi… yang kayaknya menjadi andalannya sebagai penikmat nge-seks yang handal.

Dengan mencucuk-cucukkan palkon secara terus-menerus semakin cepat. ‘Masak sih otot-otot bandel itu bisa terus-menerus bersiaga… begitu otot-otot itu mengendorkan kesiap-siagaannya… itulah saatnya palkon-ku yang besar ini akan mendobrak masuk!’. Jurus ini meniru persis gaya burung pelatuk yang menotol-notolkan paruhnya pada kulit batang pohon tua yang berongga didalamnya. Hasilnya sudah terbukti, burung pelatuk bisa membuat lubang yang dengan leluasa bisa keluar-masuk melewatinya.

Ivonne juga membantu upaya keras pak Darso dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan memecah pengaruh bawah-sadarnya yang masih saja mempengaruhi gerak perlawanan otot-otot dalam vagina-nya itu

Usaha bersama pasangan nge-seks ini, yang dilakukan tanpa jeda dan energik serta sinergi membuahkan hasil gemilang dalam waktu tidak terlalu lama… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis pak Darso yang panjang dan sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah dari seorang ‘old-crack’ berpengalaman.

“Aaarrghhh… akhirnya masuk juga… oooh nikmatnya… bener kata opa tadi… ayo opa ngenjot terus”, kata Ivonne merasakan sodokan penis panjang ini betapa nikmatnya.

“Tuuh… bener kan… sayang…! Pokok percaya deh sama opa…! Dijamin kita akan mendapatkan orgasme berkali-kali dan juga bersama-sama. Pokoknya kita menikmati persetubuhan ini se-maksimal-nya… dari itu ngenjotan opa tidak terlalu cepat sekali dan juga tidak terlalu pelan sekali…”, kata pak Darso menjelaskan pada Ivonne, sambil mengayun-ayunkan turun-naik… turun-naik… Sedangkan pergerakan penis panjang pak Darso, sesuai iramanya dengan ayunan pinggul. Masuk-keluar… masuk-keluar…!

Keluar juga kata-kata yang menyatakan rasa nikmat persetubuhan ini. “Bener-bener nikmat sekali vagina-mu ini Ivonne. kamu bener-bener gadis cantik yang energik dan sangat kreatif sekali, tabah dan berani menghadapi penis besar opa. Pokoknya opa mengusulkan dan minta dengan sangat, selama liburan 3 hari 3 malam ini kamu jadi milik opa… Kalau Ivonne menyetujui usulan opa… dengan alasan… kan nanti kalau pulang dari sini… kalian berdua bisa ML sepuasnya tanpa batas. Begitu juga Diro dengan mama-nya, biar kita kasih kebebasan sepuas-sepuasnya. Jadi mulai nanti malam kamu tidur menemani opa… tapi itu kalau kamu dan Diro menyetujuinya. Cobalah kalian berembuk dengan mama dan Diro membahas usulan opa ini. OK!?”.

Pak Darso berhenti bicara dan mulai fokus pada persetubuhan yang sedang berlangsung ini… yang tanpa disadari mereka berdua, telah… melewati waktu 30 menit… yang penuh kenikmatan tanpa henti karena tatkala pak Darso berbicara dengan Ivonne yang telanjang yang dibawah tindihan tubuh kekarnya yang juga telanjang bulat… gerak ayunan dan pompa penis yang gencar terus saja sambil bergerak tanpa jeda barang setengah detikpun!

Tubuh mereka berdua menjadi satu pada organ-organ vital mereka yang mesra dan penuh kenikmatan saling mengisi dan menyambung jadi satu…

“Opa sayang… kayaknya Ivonne mau klimaks deh… kita klimaks sama-sama ya… opa…!”, kata Ivonne harap-harap cemas… soalnya dia ingin sekali merasakan orgasme yang indah dengan ber-ML dengan opa-nya Diro ini.

Dengan melihat jam dinding dahulu, pak Darso berkata. “Setuju! Soalnya ML pertama kali oleh kita berdua ini sudah melewati batas waktu maksimal… selamat kita telah memecahkan rekor waktu ML untuk pertama kalinya! Kita sudah melampaui 30 menit lebih…!”, kata pak Darso semakin mempercepat ayunan pinggulnya.

Sementara Ivonne saat ini mendesah-desah dengan keras, “Aduuuhhh… opa…! Sungguh nikmat ML sama opa… masak sih lebih dari… ooohhh… aaahhh… 30… nikmatnya… aarrgghhh… menit… opaaa…!”, jerit Ivonne tertahan…

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

Terhenyak tubuh sintal tertekan pada tempat tidur. Diikuti berbarengan waktunya…

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Sperma pak Darso menjemprot-nyemprot sangat kuat memenuhi seluruh lorong-lorong kecil dan sempit didalam vagina Ivonne yang barusan telah terbukti sangat legit dan penuh kenikmatan.

Pak Darso memang jarang mengeluarkam desahan nikmat, tapi lebih menikmati diam-diam didalam katinya.

Keduanya terdiam sebentar tapi masih dalam kesadaran penuh dan… tidak ingin menyia-nyiakan rasa sangat nikmat yang spektakuler ini. Rupanya di alam perbukitan yang sejuk yang mempunyai ketinggian 500 m dpl ini… orgasme yang didapat oleh masing-masing mampu bertahan sampai memasuki detik ke-90… tambah beberapa detik lagi… orgasme keduanya secara bersamaan pula mulai mengabur… semakin samar… dan langsung menguap… menghilang… entah kemana… Tapi orgasme-orgasme ini masing-masing meninggalkan jejak sangat nyata berupa rasa puas ber-ML yang kiranya bisa mampu bertahan lama…

Pak Darso mengulirkan tubuh kesamping tubuh Ivonne yang masih terbaring diam. Memperhatikan gadis muda yang cantik ini, dan mengecup mesra dahi Ivonne lembut dan pelan saja. Rupanya Ivonne meneruskan tidurnya bukan karena lelah ber-ML yang penuh nikmat, tapi lebih disebabkan oleh rasa letih karena terguncang-guncang tubuhnya dalam perjalanan menuju ke rumah besar kuno milik pak Darso disini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*