Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 10

Istana Pasir Milik Sang Ayah 10

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 9

Bagian 10 – Rencana Wisata Yang Matang

Diro telah merasakan tubuhnya bersih dan segar kembali. Dia baru saja selesai mandi sore… tepatnya sebenarnya ‘mandi malam’ hari, karena bertiga (Diro, Suntari dan Andini) tiba di gedung PM-SDM tempat tinggal mereka ini pada pukul 18:15 sore menjelang malam tadi.

Jam dinding menunjukkan waktu saat ini pukul 18:40 masih dalam hari Kamis. ‘Oh… lupa aku…! Bukankah didalam ruang kuliahnya tadi, petugas TU (Tata Usaha) kampus telah mengumumkan bahwa karena besok Jum’at adalah hari libur nasional dan Sabtu lusanya adalah hari yang ‘terjepit’ dengan hari Minggu, maka kegiatan kampus berikut perkuliahannya akan dimulai pada hari berikutnya yaitu pada hari Senin.

‘Uugghhh…! 3 hari penuh untuk berbengong-ria… bersama 2 anak bebek (Suntari dan Andini) seperti hukuman saja rasanya, memangnya aku telah berbuat salah apa?!’, sambil mengenakan pakaian casual untuk dirumah, yaitu CD, celana panjang training sport dan T-shirt.

Diro teringat Daniati, ibunda tercinta, rasanya saat ini beliau tengah menikmati makan malam bersama Darso, kakek yang sangat dikaguminya itu. Jadi menelepon mereka saat ini, sama saja mengganggu kenyamanan mereka yang tengah menyantap makan-malam bersama.

Diro mengalihkan sasaran hubungan cellular-nya pada Ivonne, sang kekasih hati. ‘Lagi ngapain Ivonne sekarang ya… sebaiknya aku kontak dia sekarang…!’, baru juga dia memegang BB-nya eh… terdengar RBT getar BB berbunyi…

<Drzzz…> <drzzz…> <drzzz…>

Segera Diro menerima panggilan telepon itu, lha… malah dari Ivonne yang justru ingin dihubunginya saat ini! Segera menempelkan BB pada telinga kirinya, rupanya Ivonne telah berceloteh lebih dulu…

<“Uughhh… sedapnya! Wanginya ini lho… lebih wangi dari mas Diro yang mulutnya galak itu tuuhhh…! Hi-hi-hi…! Kalau nikmatnya… oohh niikk-maatt-nya…! Hampir sama sih… dengan mas Diro, cuma… beda rasa saja… hi-hi-hi…!”>, Ivonne terus saja menggoda Diro, cuek tanpa perduli.

<“Halo-halo…! Sayang… kamu lagi mabuk coklat ya! Minumnya jangan banyak-banyak… jadi begini deh efeknya… he-he-he…!”>, Diro balik balas menggoda Ivonne, sang kekasih hati.

<“Iihhh… mas Diro! Ganggu kesenangan orang aja nih…! Hi-hi-hi…! Terimakasih ya mas Diro sayang… coklatnya sungguh nikmat sekali! Sungguh beruntung sekali orang di Eropa bisa membelinya di toko terdekat… mana lagi musim dingin lagi… disana…! Apa kabar mas Diro… apa sudah mandi? Hi-hi-hi…”>, kata Ivonne menggoda Diro dengan manja tapi mesra.

<“Sudah sayang… ngomongnya? Telepon jangan sambil minum coklat panas… nanti tersedak lagiii! Istirahat sejenak… sekarang giliranku yang ngomong! Tahu tidak? Aku baru saja ingin menelponmu eh… keduluan sama kamu! Waktunya beda tipis lah… kira-kira setengah detik kurang sedikit… he-he-he…! Aku ingin mengajakmu besok, tapi… untuk 3 hari penuh…! Kalau hari libur nasional… tokomu tutup kan?”>, kata Diro coba membujuk Ivonne untuk jalan-jalan, tapi… untuk 3 hari 3 malam penuh.

<“Cius nih mas…?! Emangnya mau kemana… tapi kebetulan sih… si Deni, adik Ivonne itu pergi piknik mulai besok Jum’at dengan teman-teman sekelasnya untuk 2 atau 3 hari, tujuannya… Ivonne kurang tahu… tapi yang pasti mereka pergi rame-rame… gitu lho!”>, jawab Ivonne mulai serius.

<“Yaa… kacian deh! Nggak dapet jatah dong… yang nikmatnya sama dengan coklat, cuma… beda rasa saja gitu… seperti tadi waktu kamu mabuk-coklat ngomongnya… he-he-he…”>, Diro mulai menggoda Ivonne, kekasih hati.

<“Iihhh… mas Diro, Ivonne udah serius nih, ayo dong jelasin lagi…!>”, kata Ivonne sedikit memelas manja.

<“OK… kita sama-sama serius! Begini sayang… kita teleponan sampai jam 20:00 saja nanti kita sambung lagi sekitar jam 22:00, soalnya… aku ingin telepon dengan mama-ku disana… nanti beliau keburu tidur… berabe deh! Bisa batal semuanya yang kita ingin rencanakan ini. Juga untukmu Ivonne… coba bujuk papa-mamamu agar memberimu ijin… kalau perlu sembari dikilik-kilik gitu… he-he-he… maafkan aku ya ngomongnya kan… tidak bermaksud jelek lho…! Aku ingin mengajakmu untuk menemui mama dan opa-ku di lahan perkebunan di SB sana… sembari ‘refreshing’ dari kesibukan kita sehari-hari… untuk 3 hari 3 malam… itupun kalau Ivonne mau gitu… tidak ada paksaan sama sekali… hanya untuk suatu ‘fun weekend vacation’ saja…! Besok pagi kalau bisa sepagi mungkin, supaya kita bisa mengendarai mobilku dengan santai saja dan tiba disana tidak terlalu siang… inipun kalau Ivonne setuju… OK! Pokoknya tidak ada paksaan… kalaupun Ivonne menolak… tidak jadi masalah… aku tidak ingin tahu alasannya… yang penting hubungan kita tetap langgeng dan adem-ayem saja tanpa terpengaruh oleh Ivonne mau atau tidak mau ‘just positive thinking’… ya sayangku…? Mungkin Ivonne ingin bertanya atau berkata atau apalah… suka-suka saja! Silahkan sayangku…!”>, kata Diro memberi kesempatan Ivonne untuk ngomong.

<“Aduuhh… mas! Sampai merinding bulu-kudukku kalau mendengar omongan mas Diro yang serius ‘tingkat tinggi’ begini… hi-hi-hi… maafkan Ivonne juga ya mas…! Dari Ivonne tidak ada masalah sama sekali… mungkin papa lebih merasa leluasa dan tambah senang saja, soalnya… Lolita-nya sudah sembuh total dari mules-mulesnya malahan karena liburan 3 hari non-stop ini… ssttt… Ivonne kebetulan mendengarkan… Lolita-nya mau ngajak sepupu perempuannya yang berlibur menginap dirumah PRT kami itu, malah ikut nginap dirumah kami… mungkin mau pesta seks kali… Ivonne kurang berminat untuk mengikuti semua kegiatan mereka. PRT dan ponakannya yang masih berumur 11 tahun itu tentu diikut-sertakan dalam pesta seks itu. Jadi jelas sudah… Ivonne akan ikut wisata bersama mas… yang Ivonne cintai sampai setengah mabuk coklat deh… hi-hi-hi… udahan deh… lihat jam dinding sudah nunjukin pukul 19:55 tuh… aduh gimana nih… mudah-mudahan mama mas Diro belum tidur nih… Sampai jam 22:00 ya sayang… bye!”>, kata Ivonne, malahan dia yang khawatir sendiri jadinya.

Tepat jam 20:00, Diro menghubungi ibunda tersayangnya, langsung dijawab santer oleh Daniati.

<“Ya… sayangku! Sudah rindu mau ngomong sama mama ya…? Sudah makan malam belum…? Jaga kesehatanmu… jangan lupakan kuliahmu… atur waktumu, dan istirahat yang cukup… makanlah… makanan yang bergizi yang tidak terlalu banyak mengandung lemak hewani dan lemak nabati dan…”>.

‘Waduh… lho kok begini jadinya…? Mama apa salah makan ya? Makanan apa ya yang bisa menyebabkan orang sampai rem bicaranya sampai blong begini ya… hhmmm… nggak salah lagi deh… pasti mama kebanyakan makan sambel nih…!’, Diro mencoba meng-analisa keadaan ibunya saat ini.

<“Halo-halo…! Kok diajak ngomong… malah nggak jawab-jawab sih…! Jawab apa satu atau dua patah kata… Diro! Denger mama tidak…?!”>, Daniati jadi rada kesal… Diro yang nelepon dia… malah tidak bicara barang satu patah kata pun…!

<“Selamat malam ma…! Dari itu jaga kesehatan mama sendiri, jangan terlalu banyak makan sambel… nanti malah mules-mules lagi… Diro tunggu deh… ayo buruan ambil dan minum satu tablet anti diare…”>, kata Diro dengan yakin dan pasti.

<“Halo sayang! Kok kamu tahu aja sih…! Mama ngaku deh… memang mama makan sambel… kayaknya kebanyakan deh, habis enak sih! Itu lho… sambel gandaria muda… buatan mbak Surti… kamu belum merasakan sih…. uughh sedapnya…! Eh… Diro-Diro…! Sayangnya mama… Halo…! Jawab kenapa? Apa sambungan telekomunikasi lagi jelek ya…? Atau… waahh… dasar! Opa sama cucunya ini… sama betul perangainya… Dasar kamu Dir…! OK deh mama minum obat anti-diare dulu deh…!”>, kata Daniati, akhirnya menyerah kalah mengikuti saran Diro untuk minum obat yang dimaksud. Lalu dengan cepat kembali lagi ke sofa panjang… tempat favorit Daniati untuk bersantai sehabis makan. <“Halo sayang… mama sudah minum obat seperti yang disarankan ‘dokter’ Diro… halo sayang…?!”>.

<“Diro mendengar ma…! Mama-ku yang cantik… mana pintar lagi! Cik-ki-cik-ki-cik…! Ci-luk-ba…! Cik-ki-cik-ki-cik…! Ci-luk-ba…! He-he-he…! Muaahhh… sun sayang dari Diro, he-he-he…”>, kata Diro sembari mencandai mama tersayangnya.

<“Ngapain sih kamu…? Hi-hi-hi… kamu mabuk kepayang sama si Ivonne itu ya… ayo ceritakan sama mama… jangan pake rahasia-rahasiaan sama mama, kan… dulu kamu sudah pernah berjanji sama mama lho…! Ayo… jangan ingkar ya…!”>, kata Daniati menagih janji pada putera tunggal semata wayangnya ini.

<“Bener mama-ku sayang… ‘filing’ mama selalu tepat! Karena itulah Diro menghubungi mama untuk minta ijin… Diro ingin mengantarkan Ivonne untuk bertemu dengan mama! Mama-ku yang cantik jelita… bagaikan bidadari Dewi Murni yang berkembenkan sutera ungu sambil…”>, perkataan Diro yang dirasa Daniati rada aneh saja ini langsung dipotong saja dengan perkataannya…

<“Stop-stop… apaan sih kamu Dir?! Kamu mau memberitahukan pada mama tentang sesuatu, apa… memang mau nyanyi kroncong ‘Dewi Murni’ sih…?!”>, kata Daniati rada bingung dan agak kesal… maklum saja… pengaruh sambel gandaria muda itu… belum hilang-hilang juga rasa pedesnya…!

<“Eh… maafkan Diro… maaa…! Diro mau mengantarkan Ivonne untuk menemui mama… biar Ivonne tahu bahwa mama-nya Diro ini ternyata… cantik sekali dan awet muda lagi…! Diro yakin bila Ivonne melihat wajah mama yang rupawan ini, ternyata jauh sekali berbeda dengan wajah anak lelakinya, yang tidak ada cantik-cantiknya sedikitpun…! He-he-he…! Jangan marah dong ma… minum air putih agak panas… kenapa?! Biar rasa pedesnya… hilang seketika… begitu!”>, kata Diro rada hati-hati, soalnya beliau lagi… kepedesan…!

<“Oh… iya! Bener juga tuh… sampe lupa lagi. Terimasih ya Diro sayang… telah mengingatkan mama tentang air putih agak panas itu… sebentar mama mau minum dulu…! Awas… jangan diputus lho sambungannya…”>, kata Daniati senang telah dingatkan tentang air agak panas itu yang akan menghilangkan rasa pedes yang sekarang mengganggunya saat ini. Setelah selesai minum air putih agak panas itu, pelan saja seteguk-seteguk… barulah hampir seketika hilang rasa pedes yang mengganggu percakapannya dengan putera tunggal kesayangannya itu. Daniati segera kembali ke sofa yang berada di area ruang tamu dan segera mengangkat BB-nya yang tergeletak diatas meja tamu didepannya.

<“Halo sayang… terimaksih yaa…! Nyaman deh rasanya sekarang… tanpa rasa pedes yang mengganggu… rupanya kamu bener-bener serius… mau ‘jadian’ sama Ivonne ya… bawa deh gadis cantik itu kemari menemui mama dan opa-mu… yang kebetulan tidak ada rencana mau kemana-mana kok…”>, kata Daniati ikut senang mendengar kabar gembira ini dari putera tunggal semata wayangnya yang disayanginya itu.

<“Eh-eeh… mama! Jangan diputus dulu dong sambungannya… masih banyak yang Diro ingin bicarakan sama mama…! Atau… mama sudah kebelet… sama itu tuh…!? He-he-he…!”>, kata Diro menggoda ibunya dengan nada genit.

<“Kebelet sama apaan…! Dan jangan kuatir mama tidak akan memutus sambungan telekomunikasi ini… coba jelaskan apa yang dimaksud dengan ‘kebelet’ itu… mama ingin mengetahuinya secara jelas… tanpa harus berpikir-pikir lagi…!”>, tagih Daniati minta penjelasan dari Diro.

<“Soal ‘jadian’ itu tergantung dari restu mama dan… opa! Kalau soal ‘kebelet’… tapi sebelumnya… jangan marah dulu lho ma…! Ingat ma… Diro kan satu-satunya putera mama… nggak nyombongkan diri lho… ma?! He-he-he…! Mama… takut menguap begitu saja… ‘jatah’ mama… karena opa… keburu tidur ya kan…? Sekali lagi… jangan marah lho mama-ku sayaannggg…!”>, kata Diro sedikit merayu ibunya, karena takut dimarahi.

<“Bener-bener deh anak mama ini… minta ampun! Pikirannya tertuju tentang ituuhh… melulu…! Memangnya mama… tidak memikirkan dengan serius apa… ‘jatah’ yang mama harap-harapkan itu! Hi-hi-hi…!”>, kata Daniati yang jadi timbul gairahnya kalau diingatkan tentang ‘jatah’ seks itu… bukankah ini sangat dibutuhkan oleh dua orang yang terlibat didalamnya… dengan secara gampang… untuk meredakan gejolak birahi dan… rasa mumet di kepala yang… mengganggu?!

Setelah yakin ibunya tidak tersinggung atau memarahinya, karena telah menyinggung-nyinggung soal ‘jatah seks’ itu, Diro menceritakan segala sesuatunya ‘dari a sampai z’ tentang hubungan Ivonne dengan keluarganya… termasuk tentang inisiasi pemerawanan oleh kakak-beradik itu dan tentang pemasangan IUD dsb… pokoknya seluruhnya… terbuka jelas… tanpa ditutup-tutupi dan diakhiri dengan usulan yang kata Diro sendiri… bisa menguntung semua pihak yang terlibat didalamnya! Kemudian Diro berkata pada ibunya dengan sangat berhati-hati…

<“Ma…! Sebenarnya ketika Diro memandang tubuh telanjang mama yang jelita… saat kita nge-seks… perasaan Diro… penuh gejolak nafsu… tetapi ma… pada saat yang sama… perasaan kasih sayang seorang anak terhadap ibu kandungnya yang tercinta… jauh lebih besar lagi…! Begitu kita berdua, sama-sama mendapatkan orgasme kita masing-masing dan… setelah secara perlahan-lahan… orgasme kita itu hilang… sirna, bagaikan menguap entah kemana… meskipun meninggalkan ‘bingkisan’ untuk masing-masing berupa rasa sangat puas yang mampu bertahan sampai berhari-hari lamanya… Pada saat orgasme itu hilang maka saat itu pula terbersit rasa sesal karena telah melakukan incest itu bersama mama kandung yang amat sangat dicintai lebih dari sekedar gairah nafsu badaniah yang sesaat… maafkan Diro telah mengungkap perasaan Diro yang paling dalam… yang tidak mungkin terkalahkan dan terhapus oleh seberapa sering kita melakukan hubungan badan…>, kata-Diro ini langsung dipotong oleh Daniati dengan berkata…

<“Baguslah kamu mengetahui dan menyadarinya sekarang, kedewasaan yang kau punyai ini jauh melebihi umurmu yang mau 19 tahun sebulan lagi. Jangan pernah ada sesal… ingat ‘Sesal Kemudian Tak Berguna’ satu peribahasa yang dibuat oleh orang bijak dari beberapa generasi terdahulu… Lakukan saja menurut hati-nurani pada saat itu… jangan berusaha sok alim yang tak mampu kita lakukan secara tetap berkesinambungan… tanpa henti! Kalau niatmu bersikap alim itu gagal… itu cuma akan menyiksa dirimu sendiri… mental-mu menjadi turun drastis sampai titik nadir. Percayalah mama telah mengalaminya, tetapi mampu keluar dari situasi yang gawat itu. Kenapa harus menyiksa diri… yang ujung-ujungnya bukan dirimu seorang yang menderita, tetapi kau mengikut-sertakan orang-orang sekitarmu… yang dekat dihatimu… berkubang dalam derita yang sama dengan dirimu…!>, kata Daniati menjelaskan, karena dia telah mengalami pahit-getirnya hidup ini.

<“Oohh… begitu ya ma…! Jadi pengen saat ini dekat dengan mama dan… melakukannya itu lagi…”>, kata Diro yang langsung dipotong ibunya dengan berkata…

“Bener-bener deh anak mama ini… doyanan banget sih! Katanya kamu ingin membicarakan satu usulan yang akan menguntungkan semua pihak yang terlibat didalamnya. Baiklah mama katakan bahwa jenis usulan kamu ini adalah usulan tentang seks! Dan hanya semata diseputar… nge-seks… mama telah membauinya… dikaitkan dengan ceritamu tentang hubungan Ivonne dengan keluarganya… yang bersifat ‘open-marriage’ sama hal-nya dengan kita. Detail-nya… jujur… mama tidak mengetahuinya… kamu… mama kasih waktu 20 menit saja untuk menjelaskannya, sebab… setengah jam lagi opa-mu bila tidak ada kegiatan lainnya bisa tertidur jadinya dan… mumet deh kepala mama sepanjang malam yang dingin ini… hi-hi-hi…!”>, kata Daniati menggoda Diro yang sudah dewasa ini.

Seperti yang telah diceritakan Diro, soal hubungan Ivonne dengan keluarganya itu, yaitu bahwa Ivonne sudah beberapa kali ML dengan ayah kandungnya, meskipun 100% tidak dilakukan atas ‘suka sama suka’, lebih banyak terjadi karena berupa ‘hukuman’ atau ‘pemuasan seks’ alternatif, misalnya karena Lolita-nya urung datang, dsb… tidak mungkin Ivonne mendapatkan orgasme dari ML dengan ayah kandungnya yang sekarang bersifat pedofil (suka nge-seks sama anak perempuan kecil).

Dan Ivonne adalah pilihan hati Diro, untuk mengarungi hidup bersama sebagai suami-isteri yang diharapkan Diro bisa mempunyai anak… paling tidak… tiga atau empat orang anak-anak yang kelak bisa meramaikan rumah kuno yang dihuni kakek dan ibu kandungnya… yang sekarang sepanjang hari diliputi dengan suasana sepi saja.

Ini hanya bisa terwujud apabila kondisi Ivonne baik secara fisik maupun secara psikologis… dalam keadaan sehat keseluruhannya. Diro mengkhawatirkan hasil akhir pengalaman Ivonne ML dengan ayahnya, secara langsung ataupun tidak langsung menimbulkan trauma dan berpendapat sangat negatif dan disama-ratakan atas kemampuan ber-ML dari orang-orang paruh baya atau lebih tua. Pasti menimbulkan efek yang tidak dinginkan semua pihak tentang keharmonisan hubungan diantara orang-orang dalam rumah kuno ini dalam kesehariannya, apabila Ivonne jadi tinggal bersama dengan ibu kandung dan kakeknya ini.

Diro ingin agar kakeknya bisa membuyarkan tuntas perspektif Ivonne yang sangat keliru itu atas kemampuan nge-seks seluruh para pria yang jauh tua darinya, dengan melakukan ML yang indah dan bisa ‘membuahkan’ orgasme… yang selalu didamba-dambakan Ivonne setiap kali ber-ML. Tentu saja ini adalah tugas ibu kandungnya yang bisa menyakinkan ayah kandungnya sendiri. Anggaplah ini sebagai selingan yang lebih menyehatkan… ketimbang setiap kali ayah dan puteri kandungnya ML kemudian timbul perasaan sesal, lalu beberapa hari kemudian rasa sesal itu memudar, tersaput oleh gairah birahi yang membutuhkan ML untuk menetralisirnya, lalu… muncul lagi lagi sesal… siklus ini terus saja berlanjut tanpa henti-hentinya dengan pola yang persis sama. Hal ini juga akan menimbulkan efek tidak baik secara psikologis.

Kesempatan ini akan diberikan pada hari pertama kunjungan Diro bersama Ivonne ke tempat kediaman kakek dan ibu kandungnya ini. Dan tidak perlu terlalu khawatir, karena hal ini tidak akan menyebabkan kehamilan, karena Ivonne masih menggunakan IUD yang selalu dikontrolnya secara teratur.

Setelah mendengarkan semua uraian Diro yang dipandang ibunya sangat cerdas sekali dan semua penjelasan Diro itu mudah dimengerti.

“Bener-bener mama tidak menyangka… sampai sebegitu dalam analisa-mu itu, mama setuju! Tapi jangan membenci mama… kalau mama gagal meyakinkan opa-mu ini dalam hal ini. Tetapi sesuai dengan penjelasanmu tadi… bukankah ini juga berguna bagi kesehatan mental opa-mu… dikaitkan setelah ML dan rasa sesal itu… iya kan?! Mama rasa… mama bisa meyakinkan opa-mu berawal dari kondisi mental opa-mu… Terimakasih sayang ini sungguh sangat berharga bagi kesehatan mental opa-mu… sekarang saatnya mama minta ‘jatah’ pada opa-mu… soalnya omongan kita berdua menyebabkan gelora gairah mama saat ini jadi timbul sangat tinggi sekali… bye sayangku! See you tomorrow!”, kata Daniati mengakhir pembicaraan serius ini dari hati ke hati… serta memutus hubungan telekomunikasi cellular ini.

***

Jam dinding dalam kamar Diro menunjukkan pukul 20:20, masih lama untuk menghubungkan Ivonne, karena mereka janjian telepon pada puluh 22:00.

Diro keluar dari kamarnya untuk minum dan membuat makanan yang bisa mengatasi rasa laparnya, karena dia lupa mampir ketempat dimana dia bisa membeli makanan cepat saji (fast-food) untuk dibawa pulang. Bagi Diro hal ini bukan jadi masalah untuknya, lagi pula di lemari makan didekat dapur banyak sekali segala makanan kecil… yang sebenarnya Diro kurang begitu suka meng-konsumsinya.

Dia membuat makanan dari menu sarapan (yang dari gandum) yang sederhana, cepat dan bermanfaat… yang berbeda 12 jam (waktu sarapan ke waktu makan malam). Tidak memakan waktu lama 20 menit kemudian semuanya beres kembali, piring sudah bersih dan sudah ditaruh ditempatnya semula. Dengan membawa 2 gelas berukuran sedang, yang satu berisi seduhan panas coklat dicampur gula sedikit dan satunya berisi air putih yang bersih, Diro segera melangkah kakinya ke kamarnya. Tetapi sebelum masuk kedalam kamar, sempat dilihat keadaan kamar kedua cewek itu (Suntari dan Andini), rupanya mereka masih saja tidur bersama, berdua. ‘Dasar anak bebek yang penakut!’, katanya kesal. Karena dia bisa melihar ada cahaya yang keluar dari lubang angin diatas dinding dari hanya satu kamar saja, yaitu kamarnya Andini. Lubang angin itu ditutup dengan kaca bening, karena setiap kamarnya memakai AC, agar mendapat ‘supply fresh air’, masing-masing kamar juga dilengkapi dengan In/Out Blower Fan pada dinding kamar.

Dengan menarik napas yang dalam, karena kesal mengetahui keadaan itu, Diro masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.

Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 21:30, Diro berpikir, ‘Kenapa ya… kalau menunggu saatnya janjian telepon, atau janjian lainnya… waktu seakan berjalan lamban sekali…’.

Tak sabar Diro langsung menghubungi Ivonne saja, setengah jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan.

<“Halo sayang…! Ivonne lagi ngapain sekarang…?”>, sapa Diro dengan mesra.

<“Hei mas Diro lebih awal 30 menit, Ivonne lagi berbaring santai saja sambil membolak-balik majalah. Bagaimana kabar dari mama-nya Diro… semoga sehat-sehat saja”>, Ivonne menjawah senang telepon lebih awal ini.

<“Semuanya baik-baik saja… terimakasih sayang… apa papa-mama Ivonne sudah mengetahui rencana kita?”>, tanya Diro lagi.

<“Kalau soal itu kan Ivonne sudah katakan tadi… sudah tidak ada masalah, cuma ada perasaan sepi saja disini… malam ini”>, kata Ivonne kalem saja.

<“Sepi kenapa sayang…?”>, tanya Diro rada khawatir.

<“Nada bicara mas Diro jangan cemas begitu dong, bener tidak ada apa-apa… cuma jaga-jaga saja…>”, jawab Ivonne tenang saja. <“Begini… papa sudah sibuk dengan 2 Lolita dan PRT kami yang sebenarnya cukup lumayan body dan paras wajahnya, cuma tidak terlalu tinggi… paling sekitar 157 cm saja kalau dibandingkan dengan tinggi Ivonne yang tingginya 165 cm. Kami berdua mempunya berat sama yaitu 55 kg, karena PRT kami lebih pendek dari Ivonne, maka dia jadi kelihatan agak ‘chubby’ jadinya.

Sedangkan mama sudah dijemput oleh adik lelakinya dengan alasan yang Ivonne kurang begitu jelas mendengarkannya… habis ngomongnya bisik-bisik sambil cemol-semol susu-nya mama yang lumayan montok 38D karena itu rada gayut sedikit… kan ukuran segitu…susu-nya berat lho, kalau… ditimbang! Hi-hi-hi…”>, kata Ivonne berusaha membuat kekasihnya lebih tenang.

<“Ya sudah… aku jemput saja sekarang, siapkan barang-barangmu tidak usah terlalu banyak bawaannya… kita akan berangkat lebih awal lagi, yaitu pukul 3:30 dan akan sampai disana sekitar jam 6 pagi… sekalian melihat ‘sunrise’ yang indah disana, dan kalau Ivonne masih ngantuk tidak usah khawatir bisa meneruskan tidur didalam mobil, bagaimana sayang…?”, kata Diro.

“Cius nih mas… kebeneran dong! Rumah orangtua Ivonne tidah jauh kok… dari toko, paling cuma 50 m, itu lho rumah yang paling besar dipinggir jalan, di sisi kanan kalau menghadapi toko Ivonne. Biasa mas Diro… kunci-nya adalah ‘3-1-3’, Ivonne tunggu ya… eh… halo mas! Bawaan Ivonne tidak banyak kok… cuma sebuah koper ukuran sedang saja. Sudah aahh… entar keduluan lagi sama mas Diro… bye mas Diro ketemu di toko ya…!”>, jawab Ivonne sangat senang dan memutus hubungan telekomunikasi cellular itu.

***

Jam 22:00 Diro dengan kekasihnya, Ivonne sudah berada didalam kamar Diro, dan telah terkunci dari dalam.

“Mas Diro… kalau Ivonne boleh usul, dan juga supaya tidur kita bisa lebih nyenyak, bagaimana kita ML dulu… hi-hi-hi… maaf mas… Ivonne bukan ingin memaksakan kehendak… cuma kepengen saja… gitu lho… hi-hi-hi…! Lagi pula kalau mas Diro tidak bersedia… juga tidak apa-apa kok… cuma kayaknya seperti kelewatannya aja sih… hi-hi-hi… ahem-mmmhhh….!”, Ivonne sudah tidak bisa ngomong jelas lagi… habis langsung ‘dibungkam’ sama mulut Diro yang ‘galak’…

ditambah nafsu… yang menggebu-gebu…
tanpa rayu… tanpa cumbu…
CD pun sudah berjatuhan dibawah situ…
batang penis Diro sudah masuk tanpa malu…
dan merangsek maju…
napas keduanya jadi menderu-deru…
serta pinggul kekar Diro berayun-ayun bagai irama lagu…
Tidak perlu lama menunggu…
10 menit berlalu…
keduanya sudah terkapar lesu…
orgasme untuk keduanya pun datang tanpa ragu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*