Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 9

Istana Pasir Milik Sang Ayah 9

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 8

Bagian 9 -Ivonne Untuk Keluarganya Dan Diro (revised)

Sekarang hari Kamis, jam dinding dikamar Diro menunjukkan waktu pukul 6:00 pagi.

Jam 6:40, Diro sudah berpakaian rapi, bersiap-siap… bukan untuk pergi kuliah, tetapi… untuk memenuhi janjinya pada Ivonne Wulan di tokonya pada pukul 8:00 tepat. Sedangkan perkuliahan untuk hari ini, pada jurusan Komputerisasi Industri akan dimulai pada siang hari pukul 13:00. Didalam tas punggung yang sedang saja ukurannya sudah terisi dengan peralatan kuliah untuk hari ini dan satu botol Chocolate Power sebagai bukti dan sekaligus oleh-oleh untuk Ivonne.

Segera Diro membuat sarapan, mudah saja tapi menyehatkan, yaitu 8 sendok makan gandum Q munjung ditambah 1 sachet kopi instan dan ditambah air panas secukupnya lalu diaduk sampai rata kemudian mangkok itu ditutup dengan piring makan… tunggu sampai tidak terlalu panas… 10 menit kemudian adonan gandum matang itu sudah berpindah kedalam perut rata Diro… dan mulai menjalankan fungsi-nya menghilangkan rasa lapar sambil menyerap lemak yang tak diperlukan dalam perut. Dengan cepat saja piring yang kotor dicuci bersih kembali dan ditaruh pada tempatnya masing-masing.

Tak lama kemudian Suntari dan Andini keluar dari kamar Andini, bersiap-siap membuat sarapan untuk sarapan mereka sendiri.

“Selamat pagi kak Diro, boleh Suntari membuatkan sarapan untuk kakak…?”, Suntari menyapa dan bertanya dengan suara merdu.

“Tidak-tidak…! Terimakasih! Masing-masing pribadi harus menyiapkan makanannya sendiri… termasuk sarapan kalian masing-masing. Tidak boleh ada main masak-masakin, harus belajar hidup berdikari! Termasuk tidur sendiri dalam kamar masing-masing!
Ini peraturan yang berlaku di divisi PM-SDM ini…!”, kata Diro tegas.

(NB: berdikari = berdiri diatas kaki sendiri)

Tercekat kedua gadis ini jadinya, selama 3 hari berturut-turut mereka ber-inisiatif tidur dalam satu kamar, yaitu dikamar Andini… karena mereka berdua takut untuk tidur sendiri didalam kamar tidur mereka sendiri. ‘Wah… bakalan dapat penalti lagi nih’, pikir dalam masing-masing benak mereka bernada kira-kira begitu… tak jauh dari soal penalti. Tetapi… tidak ada kata ‘penalti’ yang keluar dari mulut cowok ganteng maskulin yang super disiplin sekali ini. Sedangkan besarnya tempat tidur yang ada pada masing-masing kamar ikut mendukung inisiatif mereka berdua. Kalau cuma ditiduri oleh 2 orang… apalagi oleh 2 gadis langsing semampai ini… sungguh sangat nyaman tidur mereka tanpa ada gangguan rasa takut…!

Karena ketentuan harus ‘berdikari’ yang diterapkan oleh Diro selaku wakil kepala divisi PM-SDM ini, maka Diro tidak punya kewajiban untuk mengantar dan menjemput. Kalau mereka menolaknya, maka Diro akan mengeluarkan keikut-sertaan mereka dari program PM-SDM ini! Masih banyak orang yang berfisik kuat, bermental baja dan berotak ‘encer’ yang berupaya sekuat tenaga untuk meraih cita-cita mereka sendiri!

Pada pukul 7:20 keluar gedung, dengan mobil barunya, parkir sebentar untuk menutup pintu gerbang kemudian menaiki mobilnya, sembari ngedumel dalam hari, ‘Mereka pikir… mereka sedang wisata camping… apa? Dasar cewek-cewek lemah! Banyak cewek-cewek lain yang berkepribadian kuat dan bermental baja… dasar ‘untung 13 yang benar-benar bikin bingung’!’. Jika dalam 1 bulan mereka tidak merubah ‘mind-set’ mereka, maka dengan lapang dada Diro akan mengembalikan mereka ke kantor perkebunan, dan… gugur sudah keikutan-serta mereka dalam program ini. Kriteria apa saja sih… divisi Urusan Khusus dalam menyiapkan peserta yang dinilai Diro ‘memble’ ini.

Sambil mengendarai mobil barunya dengan pelan dan santai saja, berusaha mendekati lokasi pertokoan dimana toko kecil milik Ivonne berada. Dan menghentikan mobilnya pas didepan toko milik Ivonne ini pada saat arlojinya menunjukkan waktu 7:59. Diro segera turun dari mobil tidak lupa memegang botol Chocolate Powder ditangan kirinya yang kekar dan mengunci mobilnya serta tidak lupa menyalakan ‘Anti-burglar Alarm System’-nya.

Cepat saja mengetuk pintu ‘rolling door’ 3X cepat lalu sekali ketukan dan diikuti dengan ketukan 3X cepat lagi.

Tidak perlu lama menunggu, bunyi derit pintu ‘rolling door’ diangkat setengah dari tinggi ‘rolling door’ itu.

“Benar-benar hebat sekali! Very sharp on time!”, terdengar suara Ivonne penuh kekaguman… meski wajah cantiknya belum tampak terlihat karena masih terhalang dengan ‘rolling door’ yang dipegangnya.

Tapi Diro telah ber-asyik ria terlebih dahulu… bagamana tidak?! Dalam posisi membungkuk itu, bukaan blus atasan yang Ivonne pakai terbuka lebar, dan… terlihat seluruh buahdada montok yang putih mulus dan… terbuka bebas… tanpa hambatan bagi mata genit Diro yang menatap dengan nanar seluruh bentuk buahdada Ivonne yang indah tanpa ditutupi lagi oleh sepotong BH pun samasekali!

Diro membungkukkan tubuhnya dan segera masuk kedalam ruang toko, sedangkan ‘rolling door’ diturunkan lagi dan digembok kembali. Diro menaruh dengan hati-hati botol yang berisi bubuk coklat, bukti keberadaannya pada hari Selasa malam di kota SB.

Ivonne dengan sangat senang memeluk erat tubuh kekar Diro, remaja matang yang berwajah ganteng maskulin ini… mendaratkan bibir sensualnya dan… mereka melakukan FK dengan bersemangat penuh gelora birahi yang berapi-api… serta jari tangan kiri Diro menurunkan blus atas lebih kebawah lagi dan tersangkut pada tengah-tengah lengan atas sebelah kanan Ivonne… sehingga memperlihatkan seluruh bagian susu sebelah kanan milik Ivonne. Jari-jari tangan kiri Diro yang cekatan telah meremas-remasnya dengan sesekali memilin putingnya yang berwarna pink agak muda ini.

Tak tertahankan lagi Ivonne mendesah dengan agak keras, “Aaahhh… nikmatnya remasan mas Diro yang pengalaman…! Ivonne sudah tidak dapat menahan lebih lama lagi… yuukk… kita lakukan segera… mas. Dibelakang ada tempat tidur lipat… Gituin Ivonne ditempat tidur itu yaa… mas Diro!”.

“Sayang kita harus buka seluruh pakaian kita dulu… sayang…!”, kata Diro membujuk rayu penuh nafsu.

“Bukanya… sekalian… didalam… sana… aja… mas!”, kata Ivonne terputus-putus oleh gejolak gairah yang membara merah… tak mungkin padam lagi! Kecuali disiram dengan semprotan sperma yang kencang pada lorong-lorong paling dalam dari gua nikmat vagina klimis yang bersih mulus milik Ivonne yang cantik dan bertubuh ramping semampai serta dadanya yang kuning gading berhiaskan sepasang buahdada yang kenyal, montok berukuran 36B yang tanpa kerutan dan tanpa gayutan sedikitpun dan… ber-topping indah puting pink muda yang mempesona.

Cepat saja, dalam hitungan detik mereka sudah telanjang bulat. Ivonne dengan segera berbaring terlentang diatas tempat tidur lipat itu, sedang Diro dengan kesepuluh jari-jarinya yang aktif, sibuk mengukur-ukur tingkat kekenyalan seluruh permukaan buahdada Ivonne yang mulus dan montok dengan meremas-remas dan tidak lupa sesekali ngetem sejenak dikedua puting indah yang sudah sejak setahun yang lalu telah nongol setinggi 1 cm dari puncak bukit indah yamg mulus bersih bersemu warna kekuningan-gadingan. Ivonne mendesah keras, “Mas Diro… sambil meremas susu dan memelintir pentil susu Ivonne… sembari memompa pakai ini yang keras-keras dong… Kedua tangan Ivonne dengan gregetan mencekal batang penis Diro yang keras serta tidak lupa mengocok-ngocok penis Diro.

‘Wah… orang lagi mau ML kok… pake ada acara coli… segala!’. Dengan cepat tangan Diro mengambil-alih atas kebebasan penisnya dari cengkeraman kedua tangan Ivonne yang lentik itu bisanya berkiprah coli saja… Diarahkannya palkon-nya langsung melewati katupan labia majora… labia minora… dan… ini dia… gua yang menyimpan sejuta rasa nikmat…! Dengan menekan pake dorongan pinggulnya kebawah…

<Bleeesss…!> Masuk sudah seluruh batang penis Diro yang sangat tegang itu dan seakan sangat besar bagi vagina mungil yang klimis milik dara manis yang berkulit kuning gading ini… mengaduk-aduk seluruh isi ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama yang penuh dengan kenikmatan semata…!

Ivonne telah mengganti sasaran bagi kedua tangannya… yaitu dengan memeluk erat tubuh kekar Diro yang perkasa… yang lagi mengayun-ayunkan pinggulnya turun-naik… turun-naik… menyebabkan penis tegang bergerak masuk-keluar… masuk-keluar… seakan ingin memompa keluar seluruh rasa nikmat dari gua yang penuh misteri ini… tanpa henti…!

Ivonne dengan kepasrahan penuh kerelaan melayani hajat nafsu yang dilakukan Diro atas tubuh telanjangnya yang sempurna dan yang memberikan rasa nikmat timbal-balik bagi keduanya… daripada dia terpaksa harus melayani nafsu liar dari adik lelakinya, yang masih ‘remaja mentah’ berusia 14 tahun itu… ataupun terpaksa melayani nafsu bejat ayah kandungnya yang tidak pernah mampu memberikan kepuasan ML padanya… walau cuma sekali saja! Lebih banyak mengotori perut datarnya yang mulus dengan ceceran air mani yang warnanya sudah tidak putih susu lagi dan sangat encer.

Sambil dengan diam menerima sajian nikmat yang diberikan oleh Diro, remaja matang yang perkasa dan membanding-bandingkan dengan ML dengan adiknya yang mampu melakukan ronde ML berkali-kali, tapi… dengan durasi setiap ronde-nya tidak lebih dari 3 – 5 menitan. Kadangkala keberuntungan ber-ML berpihak juga padanya dan ‘menghadiahkan’ satu dan hanya satu saja orgasme yang indah yang penuh kenikmatan tetapi setelah melakukan 4 atau 5 ronde ML… sesuatu hal yang cukup lama dan menghambur-hamburkan energi-nya yang terbatas… hanya untuk satu kali orgasme yang sangat cepat menguap… hilang entah kemana, walaupun meninggalkan rasa puas keperluan jatah tubuhnya hanya untuk kurang dari seminggu saja.

Minta digituin sama ayah kandung… ohh… tidak! Ayahnya yang punya bakat pedofil itu lebih sibuk bermain-main seks dengan Lolita-nya yang berumur tidak lebih tua dari 10 tahunan… anak perempuan kandung dari PRT-nya sendiri!

Bila si adik lelaki-nya yang bernama Deni ini tidak mendapatkan jatah ML dari Ivonne, kakak perempuan kandungnya, maka Deni mengalihkan sasaran pelampiaaan nafsu yang sudah tidak dapat dibendungnya… pergi ke ibu kandungnya yang STW… dengan senang hati menerimanya karena dia sendiri masih membutuhkan seks…

Kembali Ivonne konsens pada sajian nikmat yang disuguhkan oleh Diro yang ganteng maskulin… inilah yang ditunggu-tunggu sang orgasme khusus untuk Ivonne seorang. Tambahkan kadar konsens dengan membuatnya lebih intens dan Ivonne terhenyak tubuh telanjangnya diterpa tiba-tiba oleh orgasme-nya yang perdana dalam pengalaman ber-ML dengan Diro yang menambatkan hatinya yang sebelumnya terombang-ambing oleh pilihan cinta yang tak jelas.

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

Terdiam sudah tubuh Ivonne jadinya, tak mampu lagi mengeluarkan dari mulut merah delima-nya yang sexy walau hanya untuk sepatah kata saja…

Diro tahu pasangan ngeseks-nya telah mendapatkan orgasme yang indah, melambatkan gerak keluar-masuk batang penisnya yang keras dengan hanya menggerakkan penisnys… satu-dua… lalu diam… satu-dua… begitu seterusnya sembari memberikan keleluasaan penuh bagi Ivonne untuk menikmati orgasme-nya ini secara maksimal!

Pada saat yang tepat ditunggunya tiba… segera Diro melanjutkan pompaan-pompaan nikmat pada vagina Ivonne yang rasa becek oleh cairan nikmat yang tersemprot keluar saat orgame-nya tadi. Walaupun begiru… otot-otot dalam sepanjang lorong gua nikmatnya masih saja melakukan cengkeraman kuat pada sekujur batang penis Diro yang mulai tegang lagi dengan sempurna. Tapi terjangan-terjangan batang penis Diro membuat cengkeraman otot-otot vagina Ivonne kadang tersentak melemah… tapi segera secara alamiah berusaha mencengkeram dengan sangat kuat, seakan… berusaha menahan laju batang penis Diro yang menyusup masuk lebih dalam lagi…

Perlawanan sengit yang dilakukan otot-otot dalam vagina legit Ivonne, gadis muda yang jelita ini… menyebabkan sensasi rasa nikmat yang harus ‘ditanggung’ sekujur tubuh kekar Diro jadinya.
Serasa batang penis yang lagi tegang-tegangnya ini… bagaikan dikulum-kulum sangat kuat oleh otot-otot disepanjang lorong niknat secara serentak, dan… kompak…!

Bagi Diro momen ini harus segera di-antisipasi dengan menggerakkan pinggul kekarnya dengan ‘full power’ yang powerful dan ‘full speed’ yang sangat cepat hampir-hampir tanpa pola yang lazim terlihat pada kecepatan normal genjotan pinggul seperti biasanya.

“Aaduuuh… mas Diro…! Kenceng banget sih… enjotan ngeweknya… minta aaampuun… deh! Aahhh… sampai deh…!”, keluh-desah Ivonne yang agak keras terdengar. Baginya ini ML yang indah dan… penuh kenikmatan yang baru pertama kali dirasakan dalam hidupnya… <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> terhenyak lagi tubuh Ivonne yang indah… yang pasrah menerima kejutan-kejutan nikmat ini… orgasme-nya yang ke-dua segera ‘menyelimuti’ sekujur tubuh mulus jelita Ivonne… yang masih diliputi oleh kenikmatan dan rasa puas bersenggama ini…

Sedang Diro yang tidak rela klimaks-nya terlalu lama tautan waktunya dengan pasangan seks-nya… segera menyambut datangnya orgasme pertamanya di pagi hari ini… <Crottt…!> <Crottt…!>
<Crottt…!> <Crottt…!> Sperma-nya menjembur-nyembur sangat kuat dan banyak… memenuhi lorong-lorong nikmat yang otot-ototnya yang semakin melemah daya cengkeramannya.

Keduanya terkapar sangat puas dengan posisi tubuh telanjang Ivonne masih terlentang dan tubuh kekar Diro terbaring puas miring kekiri menghadapi tubuh kekasihnya ini. Mereka telah melakukan ML secara sukarela dan memberikan kenikmatan-kenikmatan nge-seks dengan sempurna bagi keduanya…

***

Sekarang jam 9.15, mereka telah selesai bersih-bersih diri dan mulai berpakaian rapi kembali. Tanpa malu-malu lagi Ivonne mengenakan pakaian dalamnya satu-persatu.

“Eehhh… mas Diro! Jangan pandang tubuh Ivonne seperti itu… Kenapa…!? Ayoo… mulai berpakaian…! Mana tuh barang mulai… bangun lagi! Hi-hi-hi…!”.

“Barang apaan… sayang?”, tanya Diro pura-pura tidak tahu, sambil menengok kebawah dan menolehkan wajahnya kekiri dan kekanan seakan mencari sesuatu yang telah terjatuh.

“Aduuhhh…! Bener-bener deh… tuh penis mas mulai ngaceng lagi…! Nah… kalau ngomong begini baru ngerti ya!? Hi-hi-hi…!”, kata Ivonne blak-blakan, dan… tiba-tiba mendekap erat penuh kemesraan tubuh Diro yang kekar tapi masih telanjang bulat saja. “Ivonne jatuh cinta sama mas Diro…! Mas… sudah tahu kan sekarang? Ivonne ternyata sudah tidak perawan lagi… Nyesel ya mas…”, kata Ivonne sambil bertanya penuh kehati-hatian.

“Ha-ha-ha….! Ivonne-Ivonne… cintaku pada pandangan pertama…! Aku tidak ingin bercinta dengan selaput dara-mu itu! Kenapa harus merisaukannya?! Pada hari Selasa, 2 hari yang lalu… di toko ini juga…! Aku sudah mengetahui… sudah ada orang lain sebelum aku… sayang…! Inisial lelaki itu adalah ‘D’… iya kan? He-he-he… tidak percuma aku selalu mengawasi setiap makanan yang akan masuk kedalam mulutku… agar selalu bergizi… jadi aku tidak jadi bodoh-bodoh amat dan menjadi telmi setiap apa dan siapa yang aku hadapi dan meng-analisanya…!”, kata Diro senang saja, padahal inisial ‘D’ itu dilihatnya pada topi berukuran sedang yang ditaruh pemiliknya diatas meja etalase.

“Kok bisa tahu sih…? Inisial namanya…? OK! Baiklah Ivonne mengaku dan menjelaskan semuanya itu… inisial ‘D’ adalah dari nama Deni, dia adalah adik kandung Ivonne yang baru berumur 14 tahun, tapi nafsu seks-nya menggebu-gebu padahal… kurang berkualitas. Dia pertama memerawani Invonne, kakak kandungnya sendiri. Yaa… anggaplah setengah keinginan Deni dan.. setengah keinginan Ivonne sendiri… kami berdua ingin tahu bagaimana rasanya nge-seks yang sebenarnya… seperti yang kami berdua sering menontonnya bersama-sama pada layar laptop Ivonne yang membuka situs porno. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan… yaitu… kehamilan! Ivonne setelah 3 hari proses pemerawanan itu… dengan bantuan teman cewek Ivonne yang ternyata lebih dulu berpengalaman… membantu mengurus pemasangan alat KB atau IUD dalam vagina Ivonne”, kata Ivonne sambil menghirup napas dalam-dalam. Karena dilihatnya mimik wajah ganteng Diro sangat serius dan sangat interesan sekali… Ivonne melanjutkan kisah ‘petualangan seks’-nya dengan anggota keluarga didalam rumah orangtuanya sendiri.

Kami jadi sangat ketagihan sekali untuk melakukannya… kalau bisa setiap harinya…! Tapi kalau Ivonne boleh berkata jujur tentang hal itu… Ivonne lebih disebabkan rasa penasaran saja! Jarang sekali Ivonne mengalami orgasme… seperti yang dialami oleh teman cewek Ivonne itu, walaupun sangat sering sekali teman cewek Ivonne menjelaskan ciri-ciri, gejala dan rasa yang katanya spektakuler dan sangat dahsyat itu…

Suatu hari, setelah kurang lebih seminggu lamanya Deni tidak mendapatkan jatah nge-seks dari Ivonne dan… kebetulan sekali Deni tidak bisa menyalurkan hasrat seks-nya pada ‘sasaran’ yang lain. Pada malam harinya kalau tidak salah pada malam Minggu… ada sekitar jam setengah duabelasan… papa dan mama ketiduran keletihan karena… sesuatu hal. Kami melakukan ML dengan penuh semangat yang tinggi atau lebih tepatnya Deni lah lebih berperan mmenyetubuhi tubuh telanjang Ivonne yang meladeni nafsunya, seperti biasa Ivonne meladeni adik Ivonne itu yang nafsu-nya memang tinggi itu.

Ronde-1 dalam waktu hanya 3 menit, Deni mencapai klimaks pertamanya pada malam malam Minggu itu. Tidak menunggu lama Deni segera melanjutkannya dengan…

Ronde-2 juga durasi-nya tidak jauh berbeda dengan durasi ronde-1, Deni meneruskan dengan…

Ronde-3 durasi-nya mulai meningkat tajam, yaitu ada sekitar 6 menitan dan pada…

Ronde-4 durasi semakin meningkat ada sekitar 10 menitan kami melakukan ML, sedangkan Deni berupaya dengan susah-payah serta bercucuran keringat menjaga stamina-nya dan menjaga ritme ML kami agar terjaga tetap stabil… dan saat itulah! Kami sampai pada klimaks yang bersamaan waktunya…! Ivonne tidak terlalu merasakan semprotan air mani Deni yang sudah sangat sedikit sekali volumenya, tapi… Ivonne diterpa gelombang nikmat yang terasa seakan sangat dahsyat! Itulah saatnya… untuk pertama kali dalam hidup Ivonne merasakan dan langsung mengerti kenapa pasangan-pasangan nge-seks… sangat mendambakan dan memuja-memuja kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata indah maupun kata-kata biasa yang dipakai orang-orang dalam sehari-harinya yang diakibatkan datangnya satu orgasme yang indah dan sangat mencengangkan efek-nya pada tubuh seseorang yang mengalaminya.

Orgasme itu secara perlahan-lahan hilang dari tubuh Ivonne… menguap entah kemana… tapi meninggalkan setumpuk rasa puas sampai seminggu kemudian kami melakukan ML lagi, saat itu Ivonne mendapatkan orgasme yang ke-dua. Dasar apes… sesaat setelah orgasme itu menghilang dari tubuh telanjang Ivonne… kami tertangkap basah oleh papa yang Lolita-nya urung datang… karena perutnya mulas-mulas akibat jajanan yang tidak laik di-konsumsi oleh anak perempuan yang baru berumur tidak lebih dari 10 tahun itu. Gadis pitik itu adalah anak ke-dua PRT kami. Sedangkan anak pertamanya adalah seorang bocah berumur sekitar 12 tahunan, yang mengherankan adalah bahwa PRT kami yang berumur 27 tahun itu belum pernah punya suami! Papa tidak ‘doyan’ sama anak bocah.

Malam itu Ivonne jadi ‘sasaran tembak’ papa, dan dalam waktu kurang dari 10 menit saja… hasilnya… cuma mengotori perut Ivonne dengan lelehan airmani-nya yang bening dan… encer…”.

Diro segera mendekati Ivonne dan mendekap dengan mesra, “Sudah-sudah… sayang…! Ivonne tidak harus menceritakan semuanya. Kalau ingin merahasiakannya juga aku dapat memahaminya dan menghomati apa yang menjadi rahasia itu. Cuma aku ingin menanyakan satu hal ini saja… harap jawab yang jujur…!”, tanya Diro tegas tapi berhati-hati.

“Apaan itu… mas? Tidak ada rahasia untuk mas Diro”, jawab Ivonne, sempat jantungnya berdegup kencang.

“Apa Ivonne pernah melakukan aborsi? Maafkan aku ya Ivonne-ku sayang…”, tanya Diro ‘to the point’.

“Tidak pernah mas… alasannya pemerawanan itu juga dikehendaki Ivonne sendiri, agar supaya pemasangan IUD tidak terlalu berbelit-belit oleh pertanyaan yang sekitar selaput perawan itu…”, jawab Ivonne jujur saja.

“Ooh… sungguh merupakan berita yang sangat menyenangkan, kenapa aku menanyakan hal itu adalah dengan suatu pertimbangan. Wanita yang melakukan aborsi, biasanya biar tidak jelimet dan relatif lebih murah ketimbang aborsi oleh dokter yang ‘nakal’ yang sangat doyan sama duit daripada menjaga ‘sumpah dokter’-nya sendiri.

Yang memakai jasa dari seorang yang bukan dokter, biasanya bekerja terburu-buru… yang penting janin keluar dan ‘pasien’ selamat… selesai dan terima duit. Wanita yang telah melakukan aborsi itu tidak sadar… bisa saja organ-organ penting reproduksi itu bisa saja tercederai tanpa sengaja oleh kerja operasi yang dikejar waktu itu… malah secara tak sengaja menyebabkan wanita ybs menjadi steril permanen atau menjadi mandul!

Sedangkan wanita yang tidak pernah melakukan aborsi, kemungkinan hamilnya fifty-fifty karena banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya faktor turunan, gen-bawaan, kesehatan tubuh dsb tapi tetap masih mempunyai harapan mempunyai anak ketimbang dari wanita yang steril permanen, OK. Sayang… tolong aku sebentar… ada yang ketinggalan nih…!”.

“Apa tuh… mas?”, tanya Ivonne heran.

“Iniii…!”, sambil berjongkok Diro menarik kebawah CD tipis Ivonne dan melepaskan lewat kaki-kaki mulusnya.

“OMG, kirain ada apa…? Rupanya masih laper ya sayang… hi-hi-hi”, Ivonne yang tahu diri segera membuat tubuhnya bertelanjang bulat kembali dan segera menelentang dirinya sambil mengangkangkan paha mulusnya lebar-lebar.

Sedang Diro sibuk melakukan oral-sex yang dilakukannya tidak lama hanya sekedar vagina mungil Ivonne mendapatkan cairan pelumas saja yang akan melicinkan sempurna lorong-lorong nikmat dalam vagina Ivonne yang legit.

Setelah dirasakan Diro vagina Ivonne yang mulus itu sudah licin, segera Diro menindih tubuh indah yang telanjang milik Ivonne yang jeita, yang sebelumnya sudah mem-posisi-kan palkon-nya langsung parkir di mulut gua nikmat dalam vagina klimis itu. Dengan sentakan dorongan pelan pinggul kekar Diro yang menekan kebawah dan… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Diro yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis Diro yang gagah perkasa…

Pompaan-pompaan nge-seks nya sungguh bertenaga ini berlangsung sangat stabil dan mendekati menit yang ke limabelas, desahan-desahan penuh nikmat bersahutan diantara sepasang nge-seks yang serasi ini yang melakukan gerak yang harmonis dan dalam satu tujuan yang sama, yaitu pencapaian titik puncak klimaks secara bersamaan waktunya.

“Aaahhh… mas… nikmatnya kayaknya mau nyampe nih mas…! Kencengin dong enjotannya…!”, Ivonne berkeluh-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggul mulusnya semakin cepatnya.

Sedangkan Diro bereaksi cepat-tanggap, mulai tancap gas, batang penisnya sudah seperti piston yang ‘reciprocating’ didalam silinder pada bagian kepala mesin mobil balap yang ngebut melaju kencang menuju garis finish yang bertulisan huruf besar-besar: ‘ORGASME’.

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

***

15 menit kemudian, mereka berdua telah berpakaian rapi kembali, kali ini Ivonne tidak memberi peluang tubuh indahnya untuk dilihat Diro yang berusaha ‘mencuri-curi’ pandang ketika memulai memakai kembali seluruh pakaiannya kembali, dimulai dengan memakai CD tipisnya yang berwarna pink muda tanpa renda, lalu BH tipisnya yang polos berwarna pink muda juga, kemudian rok bawah berwarna merah cerah tanpa motif dan terakhir blus yang berwarna merah muda berpotongan atas yang rendah tapi masih menutupi pinggiran batas atas buahdadanya yang sekal dan montok, segera Ivonne menarik napas dalam-dalam serta menghembuskannya lewat kata-katanya yang merdu.

“Selesai sudah, dan… aman sentausa serta keadaan sudah terkendali kembali… hi-hi-hi…!”, kata Ivonne lega dan agak bernada sedikit menyindir Diro yang juga sudah berpakaian rapi kembali serta tidak luput dari perhatian mata Ivonne yang bermata jeli dan berbulu mata lentik asli ini. “Sudah rapi kita sekarang kan… mas Diro, dan jangan terlambat mas dengan ‘janji’ dengan seseorang… karena ‘janji’ bagi keluarga besar Ivonne adalah hutang yang belum dilunasi… sampai ‘janji’ itu ditepati!”, kata Ivonne kalem dan berusaha bersikap bijak.

“Janji…?! Janji apaan… sayang? Hari ini aku telah menepati janji padamu tidak ada ‘janji’ ketemuan dengan orang lain kecuali harus masuk kuliah pada jam satu siang tepat nanti…! Itu saja…”, kata Diro heran.

“Karena Ivonne melihat mas Diro… sebentar-sebentar melihat arloji… dan OMG…! Mas masuk kuliah jam satu siang nanti…? Mas… Ivonne mohon dengan sangat… jangan jadikan Ivonne sebagai batu halangan bagi mas Diro yang berusaha mencapai cita-cita mas sendiri…! Ingat itu… terserah mas menganggap Ivonne bawel kek.. apa suka nge-dikte kek, apa suka menggurui… ahmmm…”, mulutnya tidak bisa berkata-kata lagi karena telah dibungkam oleh mulut Dino yang gasang langsung melancarkan FK yang hot! Setelah berkutatan sengit akhirnya terlepas juga tautan yang lumayan agak merepotkan Ivonne yang jelita dan berbibir sexy berwarna merah delima itu. “Ampun deh…! Galak amat tuh mulut…! Nggak boleh Ivonne ngomong sedikit saja, langsung main… bungkam saja lagi, hi-hi-hi…!”, kata Ivonne megap-megap karena napasnya tersengal-sengal yang disebabkan oleh FK ‘galak’ itu.

“He-he-he… baru tahu ya… sayang…? He-he-he… tapi asyik kan? Mau lagi… apa?!”, kata Diro tertawa sambil menggoda mesra sang kekasih.

“Tidak-tidak…! Bener-bener galak tuh mulutnya… mas Diro! Minta ampun deh…! Tapi Ivonne tidak kapok loh…! Hi-hi-hi… tapi jangan hari ini dong…! Hi-hi-hi…!”, kata Ivonne manja sambil mundur selangkah kebelakang dan menutupi mulut sexy-nya dengan kesepuluh jari-jarinya yang lentik, ikut-ikutan membalas menggoda balik sang kekasih hati yang ganteng maskulin ini.

Arloji yang melingkar dipergelangan tangan kiri Diro telah menunjukkan pukul 11:00, Diro membujuk Ivonne untuk mencari makan didekat sekumpulan resto dekat mall, tapi ditolak dengan halus oleh Ivonne yang mengatakan masih terlalu dini untuk menyantap makan siang, lagipula Ivonne membawa sangu dari rumah.

Tiba-tiba Diro berkata pada Ivonne, “Aku belum lunas benar… rupanya… kan seperti katamu tadi sayang… ‘janji’ yang belum ditepati adalah hutang yang belum dilunasi… ‘tul nggak…?!”, kata Diro sengaja menggantung perkataannya.

“Memangnya… apaan sih…?”, tanya Ivonne yang dahi mulusnya tanpa disadarinya sedikit berkerut.

“Wah… kacau-balau bikin aku terpukau tambah galau jadinya… kalau begini…! Belum juga punya anak satu saja… sudah lupa! Gimana mau punya anak banyak… malah lupa lagi sama anaknya sendiri…!”, kata Diro masih saja menggoda habis sang kekasih.

“Iiih mas Diro jangan ngomong begitu dong…! Sampe ke anak-anak segala…! Entar Ivonne nangis beneran nih…!”, kata Ivonne yang merasa tersentuh perasaan halusnya dengan nada sendu.

Segera saja Diro mendekap tubuh Ivonne dengan mesra dan perasaan kaget dan penyesalan mendalam. ‘Tak kusangka perasaannya menjadi sangat halus sekali kalau membicarakan seputar anak-anak…! Oh… tak kusangka! Kapok…! Tak kuulangi kesalahan fatal ini…!’, tekad Diro dari hatinya yang paling dalam. “Maafkan aku sayang… sungguh aku minta maaf! Tak kusangka perkataanku yang usilan membuatmu menjadi sedih… maksudku sederhana saja… kan Ivonne meminta bukti bahwa aku pada Selasa malam, 2 hari yang lalu… menelpon dari SB sana… aku telah membawa sesuatu yang kiranya bisa membuatmu percaya lagi padaku…”, kata Diro sembari mengecup lembut tapi mesra dahi Ivonne yang mulus dan memeluk pinggangnya mengajak ke dekat etalase dimana Diro menaruh botol Chocalate Powder itu, sedangkan Ivonne diam saja tanpa suara mengikutinya saja.

Diro mengambil botol itu dan memberikanya pada Ivonne… yang menerima dengan kedua tangannya yang mungil dan mulus itu… melihat sejenak labelnya yang indah dan membaca teks yang ada pada label dengan keras, “Chocolate Powder… Export Quality! Aahemmm…! Kok ada tulisan kecil apaan nih…? Sebagai bukti otentik agar aku tidak disangka oleh si Ivonne itu… ber-dus-ta…! Tertanda Diro si mulut galak!”, kata Ivonne seakan dengan serius membaca seluruh teks yang ada pada label botol itu.

Diro yang mendengarkan seksama suara Ivonne yang membaca teks pada label botol Chocolate Powder itu… menjadi sangat heran dan berkata dengan nada kurang percaya, “Ah… masak sih…! Coba aku lihat sini…! Mana tulisannya…?”.

“Sudah Ivonne simpan didalam hati… eh… kecele tuh…! Hi-hi-hi…”, kata Ivonne berkelakar mesra sembari meledek Diro yang kena dikibulin mentah-mentah olehnya. “Eh… tidak percaya lagi…?! Lihat saja sendiri…!”, kata Ivonne membusungkan dada montoknya kedepan.

“Ya sudah… sini aku lihat sendiri…”, kata Diro penuh semangat menjulurkan tangannya… tapi telat sedetik… dada montok itu sudah ditarik kembali kebelakang oleh pemiliknya, sambil berkata-kata lagi…

“Tidak-tidak… jangan deh… entar ada yang bangun lagi… hi-hi-hi…”, kata Ivonne menolak tegas sambaran tangan Diro yang genit itu. “Lihatnya kapan-kapan saja yaa…!”, sambungnya sambil memegang botol itu kembali dan langsung menciumnya dengan dengan serius, “Hhmmm… wanginya…!”, komentar Ivonne juga masih bernada serius.

“Wangi apaan…?”, tanya Diro keheranan… kan tutup botol yang kedap itu belum dibuka… mana bisa tercium aroma coklatnya?

Tapi Ivonne menjawabnya dengan santai saja. “Ya… bau tangan mas Diro lah…! Kan yang membawanya tadi kesini… hi-hi-hi…”.

“Wah… bener-bener deh… ternyata suka guyon juga rupanya…! Kerjanya ngebanyol saja… ternyata… he-he-he…”, kata Diro sambil tertawa.

Kemudian Diro pamit pada Ivonne karena sebenarnya ingin mengisi perutnya mulai merasa lapar, habis… sang kekasih hati enggan diajak makan siang, Diro mengecup sangat mesra bibir ranum Ivonne yang merah delima, setelah Ivonne membuka ‘rolling door’ dan bersiap membuka tokonya kembali.

“Semoga banyak pembeli yang datang yaa… sayang…!”, kata Diro dengan lembut penuh kasih-sayang.

“Hati-hati dijalan ya mas… daaagh…!”, kata Ivonne dengan mesra dan melambaikan tangannya pada Diro yang sekarang mulai mau masuk kedalam mobil barunya…

***

Setelah sempat mengisi perutnya yang lapar dengan makan siang yang padat, Diro dengan mengendarai mobilnya menuju ke kampusnya. Tepat jam 13:00 mengikuti kuliah sampai selesai… usai tepat pada pukul 18:00. Segera Diro menuju ke pelataran parkir untuk kendaraan roda-4, disana sudah menunggu Suntari dan Andini yang menunggunya dengan setia. Diro menganggap itulah yang disebut ‘kesetiaan’ yang bodoh… seperti tidak punya inisiatif saja yang lebih cerdas ketimbang menunggunya… seperti orang bodoh saja. Misalnya… kan lebih cerdas dengan ber-inisiatif untuk kembali sendiri menuju ‘mess’ mereka… tanpa membuang-buang waktu mereka berharga… yang bisa mereka gunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Dengan ramah tanpa dibuat-buat, Diro bertanya pada kedua cewek yang dianggapnya rada ‘memble’ itu, “Apa kalian sudah makan?”.

“Su-sudah… kak! Kami berdua sudah makan barusan saja tadi… di kantin kampus…”, jawab Suntari, jurubicara kedua gadis itu.

“Baik kalau begitu, silahkan masuk kedalam mobil lebih dahulu… seperti biasanya kalian duduk di baris kedua… agar sang supir tidak terganggu konsentrasi-nya ketika melakukan tugas memegang setir”, kata Diro santai tanpa berniat berkelakar… tetapi lebih untuk menyindir mereka secara halus. ‘Dasar keduanya ini anak ketek bau ibu-nya’, pikirnya sangat kecewa sekali atas kerja pejabat yang berwenang yang melakukan recuitment sangat khusus ini. Apa kriteria yang dipakai?! Apa isi benak mereka… seakan tidak tahu, atau memang tidak mau tahu. Ini adalah proyek besar yang bernilai untuk kemajuan dan kelangsungan hidup perkebunan per satu generasi-an… karena pada saat ini saja… belasan ribu orang yang menggantungkan segenap hidupnya pada usaha perkebunan ini, bagaimana nanti… pada 5 tahun mendatang… pasti jumlahnya berlipat-lipat ganda…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*