Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 8

Istana Pasir Milik Sang Ayah 8

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 7

Bagian 8 – Rumah Tinggal Diro Yang Baru

<Teenggg…!> <Teenggg…!> <Teenggg…!> <Teenggg…!>
<Teenggg…!> suara dentangan ‘jam antik’ berbunyi.

Diro yang telah terbangun 5 menit yang lalu, sempat menghitung dentangannya, ternyata jumlahnya 5 kali, berarti sekarang adalah pukul 5:00 pagi, di hari Rabu ini. Dia menoleh kesampingnya, ternyata… kosong, ibunya telah bangun lebih dahulu rupanya. Buru-buru Diro segera mandi dan tak lupa menggosok gigi.

Setelah berpakaian rapi, biasa… T-shirt, jeans dan tentu saja mengenakan CD yang bersih, kemudian merapikan semua barang bawaannya kedalam tas punggung yang besar, termasuk juga pakaian kotornya. Merapikan seprei tempat tidurnya kembali, barulah dia melangkah keluar dari kamarnya itu.

Dilihatnya ibunya duduk sendiri di sofa ruang tamu sambil memegang secangkir coklat panas. Ibunya melambai tangannya yang bebas padanya agar Diro datang mendekat.

“Hhmmm… wanginya mama-ku ini!”, kata Diro setelah mengecup mesra pipi kiri dan kanan ibunda yang tecinta.

Daniati balas mengecup dahi anak tunggal semata wayangnya ini. “Kamu juga sayang, segar sekali wanginya… mama jamin cewek-cewek tak kan berani mendekat…!”.

“Kok bisa begitu ma…?!”, tanya Diro keheranan pada ibundanya ini.

“Iya-lah… masa sih berani kambing-kambing cewek mendekatimu… hi-hi-hi…!”, kata Daniati bergurau sambil tertawa.

“Aduh mama…! Pagi-pagi begini kok ngomongin kambing cewek segala… ngomong yang sedikit lebih indah begitu…”, kata Diro protes manja pada ibunya.

“Bagaimana kabarnya si Ivonne itu, sayang…?”, tanya Daniati dengan penuh minat.

“Kok mama tahu sih, namanya… Ivonne?”, kata Diro heran balik bertanya.

“Ya tahulah…! Kan mama belum tuli… hi-hi-hi… lagipula mama tidak nguping lho! Nama ‘Ivonne’ masuk sendiri ke telinga mama… tanpa permisi…!”, kata Daniati serta-merta menolak kalau nama Ivonne itu hasil dari aksi-nya menguping.

“Ya pastilah… emangnya Diro nyangka mama nguping apa? Eh… kebetulan ma! Dengar mama menyebut-nyebut nama Ivonne… Diro jadi ingat… Ivonne kurang yakin dan heran saja… soalnya dia sama Diro ngomong janjian telepon pada saat pagi hari di tokonya… kok begitu malamnya Diro meneleponnya tadi malam sudah berada di SB sini. Dia minta bukti bahwa kemarin malam saat Diro meneleponnya… memang berada di SB sini. Bagaimana tuh ma…? Mungkin mama ada solusi-nya…?”, tanya Diro minta tolong pada ibunya ini.

“Itu sih… gampang saja! Coba lihat didalam lemari-lemari yang menempel di dinding dapur. Didalamnya kamu akan mendapatkan botol-botol yang berlabel indah… itu adalah sekumpulan produksi perdana pengolahan dari hasil perkebunan kita. Sudah pasti botol-botol itu berisi bubuk coklat yang diracik dengan ramuan rahasia dari lab perkebunan. Seperti kamu ketahui kan… bukan hanya pohon coklat yang ditanam pada lahan perkebunan yang sangat luas ini, meskipun memang coklat-lah yang menjadi andalan utama perkebunan opa-mu ini. Ada buah-naga, melon-merah dan beberapa jenis buah-buahan yang cepat panen berbuah meski tanamannya sendiri tidaklah berumur panjang… maklum saja termasuk tanaman perdu… begitu. Ayo cari deh sekarang… ambil 2 atau 3 botol… atau berapa saja deh. Berikan sebotol pada Ivonne sebagai bukti bahwa kamu memang malam tadi berada disini! Selebihnya untuk keperluanmu sendiri. Sekarang saja ambilnya… entar kamu lupa lagi… jadi kelabakan sendiri menghadapi Ivonne… yang mama yakin.. pasti paras dan body-nya, hhmmm… oke punya ya? Hi-hi-hi…!”, kata Daniati sambil bertanya, dan… tertawa.

Diro ke dapur dan dari dalam lemari yang dikatakan ibunya itu, dia mengambil 3 botol Chocolate Powder – Export Quality – 1 lb (= 453,6 g) memakai ukuran berat Eropa, karena memang untuk di-ekspor ke negara-negara di kawasan benua Eropa sana. Diro sambil ‘menyambar’ dari meja dapur setangkup roti berselai coklat dicampur kacang dan dimakan sambil berjalan dan… lenyap sudah masuk kedalam perutnya… pas sampai dekat ibunya… ya begitulah gaya orang muda jaman sekarang, semuanya dilakukan dengan serba praktis dan cepat saja.

“Bersiap-siaplah sayang… sebentar lagi pak Sutarman, Kepala Keamanan Perkebunan akan datang dan mengantarmu ke tempat tinggalmu yang baru, sembari dia menjemput anak-buahnya yang ditugaskan sementara di gedung yang akan menjadi rumah tinggalmu nanti… Opa-mu pernah bercerita pada mama, tempat baru itu tidak jauh dari tempat kampus-mu… kurang dari 1 km saja. Mama berharap, kamu lebih giat belajar dan kuliah, karena kamu lah tumpuan satu-satunya harapan opa-mu demi kelangsungan dan kemajuan perkebunan ini. Kurangi waktu affair-mu diluar rumah dan tambahkan itu kedalam waktumu untuk menuntut ilmu, mandiri dan lebih bersikap lebih dewasa, karena kamu sekarang mempunyai 2 orang anak-buah yang sama dalam satu divisi Peningkatan Mutu SDM perkebunan milik keluarga besar kita ini”, kata Daniati menasehati putera tunggal semata wayang yang sangat dikasihinya ini. Daniati yakin Diro pasti mau mendengar semua nasehatnya dan memang tidak satu kalipun dia pernah membantah padanya, apalagi itu untuk kepentingannya sendiri, dan… harapan satu-satunya bagi seluruh keluaga besar pak Darso, kakeknya yang sangat dikagumi oleh Diro.

“Baik… ma! Diro akan selalu mengingatnya…!”, kata Diro sambil mengecup pipi kiri ibunya dengan penuh kasih. “Dan… kalau mama kesepian… ingatlah selalu bahwa mama masih memiliki seorang putera… yang selalu menunggu via BB… saat itu… hubungi Diro ya… mama-ku sayang…! Begitu pula sebaliknya, jangan marah bila Diro menghubungi mama via BB kalau memang Diro membutuhkannya”, kata Diro penuh hormat dan kasih pada ibunda tersayangnya ini.

<Tok-tok-tok…!> ada ketukan pelan pada pintu utama yang cukup jelas terdengar oleh Diro dan Daniati, yang langsung menjawabnya.

“Selamat pagi pak Sutarman, maaf… dibuka saja pintunya sendiri… memang tidak dikunci… silahkan pak!”, kata Daniati menyawab ketukan itu dan mempersilahkan… yang ternyata memang benar adalah pak Sutarman yang tadi telah diomongin Daniati tadi.

Pintu depan dibuka oleh pak Sutarman sembari mengucapkan salam ala militernya.

“Siap! Selamat pagi bu! Selamat pagi oom! Apa sudah waktunya saya dan oom Diro berangkat… bu?”, tanya pak Sutarman penuh hormat pada Daniati.

“Silahkan pak, Diro… sudah tidak ada yang ketinggalan kan, oleh-oleh untuk Ivonne-mu sudah dibawa? Berikan kunci mobilmu pada pak Sutarman dan… selamat jalan! Hati-hati dijalan ya pak!”, kata Daniati penuh wibawa tapi sopan-santun.

“Siap…! Laksanakan…!”, jawab singkat ala militer dari pak Sutarman, seorang pensiunan anggota korps pasukan komando dari salah satu angkatan ini.

***

Mereka berdua, Diro dan pak Sutarman yang memegang setir… sebentar lagi akan masuk ke jalan raya yang umum untuk semua kendaraan. Sambil mengendalikan setir yang ternyata lebih ahli ketimbang dari Diro sendiri! Pak Sutarman berkata pelan dan hati-hati… khawatir menyinggung perasaan orang muda yang duduk dismpingnya ini.

“Harap oom Diro jangan tersinggung oleh semua sebutan dan semua perkataan ala militer yang mungkin aneh bagi orang sipil yang mendengarkannya. Bapak sudah cukup tua dan… rada kagok untuk merubah kebiasaan militer bapak ini… harap maklum ya oom Diro. Mohon jangan disuruh merubah kebiasaan bapak ini… sudah mendarah daging selama hampir 30 tahun… menyatu dengan tubuh bapak yang tua ini. Bisa diterima kiranya oom Diro…?”, kata pak Sutarman dengan hormat dan santun menjelaskan kebiasaannya ini… yang mungkin saja rada janggal di telinga kalangan orang sipil.

“Ya… sejujurnya sih Diro rada aneh saja mendengarkannya… pak, maklumlah Diro jarang berada di lingkungan suasana militer yang tegas dan disiplin tinggi itu. Tapi Diro bisa menerimanya… tidak usah khawatir pak… Diro biasanya cepat belajar memakluminya dan membiasakan diri… he-he-he…!”, kata Diro sopan dan sambil tertawa lepas.

“Terimakasih oom! Ternyata si oom… bisa memaklumi dan… memang enak untuk diajak ngobrol santai, he-he-he…!”, jawab pak Sutarman lega sambil tertawa lepas juga.

***

Jam 8:10 mereka sampai didepan satu gedung yang lumayan mewah.

‘Memang benar perkataan mama, gedung ini tidak jauh dari lokasi kampus-nya, buktinya belum lama tadi mereka melewati depan kampusnya, kira-kira hanya sekitar 600 m saja jauhnya dari kampus.

Melihat komandan-nya datang, kedua anak-buah pak Sutarman segera membuka lebar-lebar pintu gerbang gedung ini, sembari memberi hormat pada pak Sutarman selaku komandan-nya. Secara keseluruhan anak-buah pak Sutarman adalah dari kalangan sipil non-militer.

Setelah memarkir mobil ex-milik Diro, pak Sutarman mengantarkan Diro menuju ke kamar yang akan ditempatinya Diro. Ketika sampai kedalam ruang tamu gedung berlantai 2 ini, mereka bertemu seseorang yang berpakaian necis yang berdasi, rupanya pak Sutarman telah mengenalnya dan menyapanya. “Selamat pagi pak Yanto, silahkan duduk dahulu sambil menunggu. Saya ingin mengantar pak Diro yang disini nantinya adalah wakil ketua divisi PM-SDM disini”. Dan menoleh pada Diro sambil mengatakan identitas Yanto. “Dia adalah anggota divisi Urusan Khusus dari Kantor Cabang Pembantu yang kantornya dekat sini, didaerah pertokoan dekat mall”.

(PM-SDM = Peningkatan Mutu – Sumber Daya Manusia)

Mendekati sebuah pintu kamar yang kelihatan besar, pak Sutarman mengambil dari dalam sakunya… sebuah kunci kamar yang sudah dilengkapi dengan gantungan kuncinya berupa plat baja putih persegi empat dan berlogo Divisi PM-SDM. Setelah pintu kamar terbuka, melongokkan kepalanya memandang kedalam kamar sejenak, kemudian pintu kamar ditutup dan dikunci kembali, mencabut anak kunci itu, dan memberikan pada Diro sembari berkata, “Ini kamar oom Diro, mohon maaf… dilihatnya nanti saja, karena saya ingin memperlihatkan suasana di lantai dua, silahkan oom… ikuti saya…”.

Melalui anak tangga menuju atas, mereka berdua sampai di lantai dua. Suasana ruangan lapang dan banyak peralatan kebugaran / fitness yang lumayan komplit dan tertata rapi yang tata letaknya menurut aturan semestinya.

“Sudah… begitu saja… oom Diro, tugas saya hampir selesai. Mari saya antar dan perkenalkan dengan pak Yanto yang ada kepentingan dengan oom Diro”, kata pak Sutarman kembali menuju tangga turun ke lantai satu kembali.

Sampai diruang tamu dimana Yanto menunggu, pak Sutarman memperkenalkan keduanya.

“Pak Yanto, ini adalah pak Diro… wakil ketua Divisi PM-SDM disini… dan pak Diro, ini pak Yanto dari Urusan Khusus Kantor Cabang Pembantu… silahkan bapak-bapak… saya ingin menemui anak-buah saya dahulu”, kata pak Sutarman dengan nada formal dan segera berlalu keluar dari ruang tamu itu.

Urusan dengan Yanto sederhana dan cepat saja, yaitu menanda-tangani beberapa dokumen dan surat kepemilikan dan lain sebagainya, seperti surat mobil baru, surat pengangkatan sebagai wakil ketua divisi PM-SDM dan slip gaji, dsb.

Setelah selesai Yanto pamitan dan keluar untuk kembali ke kantornya dengan mengendarai mobil sedan miliknya sendiri.

Diro kemudian keluar ke halaman depan gedung yang sekarang menjadi domisili untuk menempatinya. Kebetulan pak Sutarman justru ingin masuk kedalam ruang tamu untuk perpamitan dengan Diro, karena ingin segera kembali ke area perkebunan di SB,

“Kebetulan oom Diro, saya ingin pamit kembali pulang ke perkebunan…”, sembari menengok pada kedua anak-buahnya, yang tahu akan keinginan pak Sutarman dan segera berdiri tegak berdampingan dengan rekannya. Pak Sutaman segera berkata ala militer-nya.

“Lapor! Kami ingin pamit… segera kembali ke perkebunan… Laporan selesai…!”.

“Terimakasih pak Sutarman… hati-hati dijalan…!”, jawab Diro sambil menyalami tangan tua tapi kekar milik pensiunan anggota pasukan komando ini.

“Siap…! Laksanakan…! Kembali ketempat!”, sahut pak Sutarman tegas, sementara kedua anak-buahnya ikut-ikutan memberi hormat pada Diro. Sebelum membalikkan badannya, pak Sutarman berucap pelan saja dengan nada seorang tua yang kebapakan, katanya, “Semoga oom Diro betah tinggal disini dan sukses menjalankan misi seperti yang diamanatkan oleh pak Darso, kakek oom Diro sendiri…!”. Kemudian berbalik badan, melangkah mendekati mobil tugas yang sekarang dibawah pengawasannya, inventaris perkebunan… ex-milik Diro tadinya.

Sedang kedua anak-buahnya membuka kembali pintu gerbang gedung itu dan menunggu mobil yang dikendarai pak Sutarman keluar dari area halaman depan gedung dan berhenti dipinggir jalan raya… menunggu kedua anak-buahnya menutup kembali pintu gerbang gedung itu dari luar halaman luas gedung dan berdua bergegas mendekati mobil, dan… naik masuk kedalam mobil itu. Mobil pun bergerak kembali… menuju ke perkebunan, yang berada… nun jauh disana…

***

Diro kembali masuk kedalam gedung… rumah kediamannya sekarang, melangkahkan kakinya mendekat ke kamarnya serta langsung membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam… Terperanjat Diro jadinya melihat seluruh keadaan dan suasana didalam kamar barunya ini. Semuanya persis sama dengan keadaan suasana didalam kamarnya yang berada didalam rumah milik Danang, ayah kandungnya… disana.

Meja belajarnya sama, dan… benda-benda diatasnya persis sama letaknya… saat terakhir dia meninggalkan rumah kediaman ayah kandungnya.

Diro segera membuka laci kecil yang letaknya dibawah daun meja belajarnya yang lumayan besar ini, dan mendapati… 3 gepok bundel uang kertas @ 100 lembar dari pecahan uang kertas Rp100 ribuan (= Rp 30 juta)… tak terusik sedikitpun keberadaan uang ‘panas’ itu!

Begitulah kalau kakeknya memantau segala gerak-gerik Diro tanpa dia merasa terganggu ‘privacy’-nya walau sedikitpun! Tentang meja belajarnya yang sama ini serta benda-benda lainnya, yang seakan di-‘teleport’ kedalam kamar barunya ini… Diro tidak mau pusing memikirkannya… biarlah itu semua menjadi kerahasiaan cara kerja dari divisi Urusan Khusus dari perusahaan perkebunan dan pengolahan hasil panennya sendiri yang dipimpin oleh pak Darso, kakeknya yang sangat dikagumi Diro ini.

Rupanya kakeknya telah mengetahui konfliknya dengan Danang, ayah kandungnya… tanpa bertanya dan mengungkapkan walau setitik saja padanya dan pada Daniati, ibu kandungnya Diro… dan juga sebagai puteri tunggalnya, pak Darso yang kebanyakan ‘action’-nya penuh misteri dan sulit di-antisipasi oleh orang lain yang sudah lama mengenalnya.

Diro melihat melihat arloji-nya yang menunjukkan waktu mendekati pukul 10 kurang 2 atau 3 menitan. Padahal jam kuliah untuk hari ini adalah pada jam 10:30, berarti sekitar 30 menit lagi. Segera Diro dengan mengendarai mobil barunya menuju kampusnya sambil membawa semua keperluan untuk kuliah dan menutup pintu gerbang gedung rumah tinggalnya sekarang.

Perkuliahan rehat pada jam 12:30 untuk 1 jam saja, guna memberi kesempatan para mahasiswa mengisi perutnya dengan makan siang mereka masing-masing… mau di kantin kampus atau makan sangu yang dibawa dari rumah sendiri ataupun… di-resto-resto yang lokasi-nya berdekatan dengan kampus.

Pada jam 17.30, akhirnya usai juga perkuliahan diruang jurusan Komputerisasi Industri yang diikuti Diro, entah dengan dengan perkuliahan lainnya, seperti Managemen Informatika dan lainnya.

Diro melangkahkan kaki ke pelataran parkir khusus roda-4, dimana mobil barunya diparkir. Sampai disana dia disapa tanpa disangka-sangka Diro yang menatap penuh keheranan pada 2 sosok tubuh semampai gadis muda yang usianya menurut penglihatan mata Diro yang jeli baru sekitar umur 18 tahunan. Usia kedua gadis hampir sama dan keduanya manis dan cantik pula, memakai jaket seragam resmi dari universitas serta keduanya memakai jeans yang berwarna colat muda atau cream.

“Selamat sore… kak Diro…”, salam sapa kedua dagis itu serempak.

“Selamat sore juga, maaf saya lagi sibuk dan terburu-buru… mungkin kalian salah menduga dengan menyamakan saya dengan seseorang… mungkin…?!”, jawab Diro penuh keheranan.

Salah seorang gadis itu berkata sekalian memperkenalkan diri dan temannya. “Saya Suntari… kak…”, sambil menyodorkan tangan mulus dan halus mengajak Diro untuk berjabatan tangan, sambil meneruskan penjelasannya. “Dan yang ini… Andini, kami berdua adalah 2 orang peserta PM-SDM dari perkebunan, dan… otomatis menjadi anak-buah kak Diro yang baru. Maafkan kami kak, Suntari berserta Andini sudah menunggu kak Diro, lumayan… tidak terlalu sebentar… satu setengah jam… ada kali?!”.

Seketika Diro berpikir didalam hati. ‘Oohh… celaka… oh tidak! Untung tigabelas…! Untung… yang bikin bingung…!’.

“Oh kalian… toh…! 2 orang peserta PM-SDM yang dimaksudkan itu. Minta ampun…! Siapa yang menduga… Maaf… aku kirain sih 2 orang pemuda… kutu-buku begitu… he-he-he…!”, jawab Diro lega… entah mengapa…?!

“Maafkan kami berdua kak… telah mengecewakan kakak…”, kata Suntari dengan lesu jadinya.

“Siapa bilang aku kecewa?! Aku cuma merasa ‘surprise’ saja dan baru kali ini filing-ku meleset total…! He-he-he…!”, kata Diro mendekap masing-masing satu-persatu sambil mendaratkan kecupan ringan pada kedua pipi cewek-cewek ini.

Sampai-sampai… terlihat kedua gadis masing-masing menangkupkan kedua telapak tangan mereka pada kedua belah pipi masing-masing sendiri, diam ditempat dan… diselimuti keterkejutan oleh ulah spontan atasannya ini.

Diro tahu, mereka baru mengalami cara perkenalan khas kampus ini untuk pertama kalinya. Diro meng-antisipasi kekakuan suasana seketika ini dengan berkata, “Untuk acara perkenalan perdana memang diperlukan satu kecupan ringan untuk masing-masing pipi yang ada… he-he-he… acara perkenalan perdana ala kampus… yang mengasyikkan bukan…? He-he-he…!”, kata Diro menjelaskan sambil menertawakan sikap kedua gadis polos dan lugu itu… rada blo’on saja… kelihatannya…

Dijawab oleh Suntari yang lebih nekat dari tamannya, Andini. “Oohh… begitu toh kak…? Kami berdua cuma merasakan… ‘surprise’ saja begitu… hi-hi-hi…”, kata Suntari sambil tertawa.

“Hi-hi-hi…”, Andini sekarang juga ikut-ikutan tertawa jadinya.

“Sudah lupakan kecupan kenal itu… ayo kita ke resto PH untuk merayakannya… tidak jauh kok dari sini…”.

“Ta-pi… kami tidak perlu membayar kan…? Kami tidak membawa uang banyak… apalagi belum mengambil uang dari ATM disana itu, habis… banyak benar yang mengantri, nanti malah… tidak bertemu sama kak Diro, dan… ditinggal berdua disini… lagi!”, kata Suntari memelas.

“Tidak usah khawatir…! Tidak percuma aku jadi atasanmu langsung… soal makan di resto sih… tidak usah terlalu dibesar-besarkan… OK?!”, kata Diro menyemangati kedua anak-buahnya yang polos ini, walau… diakuinya… manis dan cantik wajah mereka… terawat bersih dan mulus.

Segera mereka bertiga menaiki mobil baru milik Diro, dengan alasan supaya adil, Diro meminta kedua cewek itu duduk diatas tempat yang empuk dibaris belakang (mobil ini cuma mempunyai 2 baris tempat duduk dan menyisakan ruang cukup luas guna keperluan Diro pribadi).

Dengan gembira penuh keceriaan seperti juga pada orang-orang muda umumnya tatkala menuju ke suatu… pesta makan! Apalagi dengan kondisi perut mereka yang kelaparan alias… keroncongan…!

***

Jam 19:30 mereka telah kembali ke gedung yang rupanya ditempati oleh mereka bertiga.

Ketika sudah berada diruang tamu mereka duduk-duduk sejenak melepaskan penat rasa kekenyangan di perut mereka. Suntari mulai angkat bicara lagi.

“Kok lampu di halaman depan jadi terang sendiri ya…? Padahal tidak ada seorang pun didalam gedung ini…?”, komentar Suntari penuh keheranan melihat itu semua, lanjutnya sambil bertanya pada Diro, “Apa kakak sebelum keluar dari rumah, menyalakan lampu taman dan sebagian lampu didalam rumah? Ternyata… cerdik sekali ya kak Diro memperhitungkan segalanya dan tahu bahwa kita pulang bakalan hari sudah malam dan gelap… hi-hi-hi…!”, kata Suntari kagum campur girang.

“Hhuusssh… naif sekali kesimpulanmu itu… sayang…! Ngapain pula cape-cape mikirin lampu segala…! Urusan kita mau pulang jam berapa adalah urusan kita, gedung ini mau terang kek ataupun gelap biarkan itu urusan internal gedung ini, nggak usah pusing memikirkan, karena… kita sendiri juga banyak urusan yang memang penting untuk dipikirkan dan dijalankan dengan disiplin dan baik…”, kata Diro memberi ‘wejangan’ pada kedua gadis yang menjadi anak-buahnya ini, dan melanjutkan penjelasannya soal terang dan dan lampu di gedung yang mereka tempati bersama ini. “Gedung ini mempunyai sistim penyalaan lampu penerangan dengan menerapkan sistim komputerisasi… tidak mungkin dikelabui oleh cuaca mendung yang gelap di siang hari dsb, pokoknya benar-benar canggih… percayalah padaku, karena aku kuliah pada jurusan Komputerisasi Industri.

“Oohhh… Suntari tidak berpikir sampai sejauh itu… lagi pula yang bisa menerangkan ini kan cuma mahasiswa dari jurusan yang sama dengan jurusan yang digeluti oleh kak Diro tentunya… hi-hi-hi”, jawab Suntari penuh kekaguman akan kecanggihan-kecanggihan tersembunyi dalam gedung ini, dan… sambil tersipu malu atas kesimpulan yang diucapkannya… terburu-buru… tapi keliru…!

“Setiap kesimpulan salah yang telah terucap oleh seorang mahasiswa dan mahasiswi yang melakukannya… pantas dan wajib menerima penalti, agar supaya dia tidak melakukan kesalahan ngawur untuk kedua kalinya… apalagi pada kasus yang persis sama nantinya…!”, kata Diro dengan nada tegas.

“Ya… gara-gara ngomong salah jadi… kena hukuman deh… jangan yang berat-berat dan menakutkan ya… kak Diro”, kata Suntari pasrah tapi diliputi dengan kekhawatiran.

“Tidak perlu takut… cukup demokratis karena bisa memilih dari 3 penalti yang tersedia saat ini… he-he-he… Andini sebagai saksi dan tidak boleh membantu memilih, pokoknya netral posisi-nya sebagai saksi pelaksanaan hukuman dijalankan dengan benar… kalau tidak benar maka wajib mengulanginya, sampai… benar!”, kata Diro rada ‘sadis’ tapi elastis… karena adanya kesempatan memilih penalti yang ‘disukai’ oleh ybs. ‘OK ini pilihan penalti-nya… 1) Berbaring diatas sofa sepanjang malam untuk tidur! Atau… 2) Membuka semua setiap potong pakaian yang dikenakan saat ini didepan saksi Andini dan aku atau… 3) memberi kecupan yang lebih mesra daripada yang kita lakukan di pelataran parkir kampus sore tadi… silahkan berpikir dahulu dengan seksama dengan waktu yang juga ada pilihannya, 1) 5 menit berpikir sambil berdiri, atau… 2) sepanjang malam berpikir sambil berdiri. Dan ingat kalau pilihan 1) melewati batas waktu yang ditentukan… hukuman akan di-dobel dengan memilih 2 dari 3 pilihan penalti yang tersedia. Silahkan berkata ‘Ya sudah siap!’ untuk memulai penghitungan waktu dengan Stop Watch yang feature-nya ada pada arlojiku ini!”, kata Diro mengakhiri perkataannya dan memberi kesempatan pada Suntari memberi aba-aba sendiri untuk memulai pelaksanaan hukumannya.

‘Nyesel aku jadinya… terlalu ngomong ini-itu… dan mengatakan kesimpulan atas sesuatu yang sebenarnya tidak kuketahui samasekali…’, kata Suntari penuh penyesalan, kelak dia tidak terlalu mudah angkat bicara sebelum ditanya oleh atasannya ini yang ganteng maskulin tapi sangat disiplin sekali, kalau bagi Andini sih… gampang, pembawaanya memang… pendiam begitu. ‘Pilih yang mana yaa…? 1… huu… tidak bakalan nyaman tidur di sofa… apalagi untuk sepanyang malam! 2… telanjang bulat… kurang ajar! Memangnya aku apaan…! Aaahhh… pilih 3 saja yang mudah… tapi jangan sampai disuruh berulang-ulang, bakalan melelahkan juga… jadinya”.

Cepat saja Suntari berkata keras, “3…! Eeehhh… Ya sudah siap! Suntari pilih 3…!”.

“He-he-he… asyik…! Ya sudah… lakukan dengan benar…! He-he-he…!”, kata Diro tertawa senang bisa ngerjain Suntari yang rada sedikit usilan ini. Sedang Andini tidak berani berkata apa-apa… hanya merasa geli oleh kemalangan yang dialaminya oleh ulahnya sendiri yang terlalu ringan mengeluarkan kesimpulan… salah lagi!.

“Hi-hi-hi…”, Andini tertawa sambil dipelototin oleh mata Suntari yang semakin indah saja kelihatannya.

Suntari mulai memeluk tubuh Andini dan mendaratkan kecupan pada pipi kiri dan pipi kanan… selesai. Lalu dilanjutkan dengan memeluk tubuh kekar Diro tapi tidak terlalu erat yang melekat… cukup jauh… asal bisa mendaratkan kecupan pada pipi kiri dan kanan Diro… selesai! Sederhana saja dan tidak memakan waktu yang lama… tapi efek akibat hukuman sederhana ini tidak mungkin bisa dilupakan Suntari selama dia mengikuti program PM-SDM ini… yang diperkirakan akan berlangsung selama 5 tahun mendatang…!

“Hhhmm… boleh juga…! Cuma rada pelit… tidak pake bonus… he-he-he…”, kata Diro sekenanya.

“Emangnya bonus apaan… kak Diro”, tanya Suntari hati-hati takut dihukum lagi… dasar pembawaan Suntari yang suka ngomong… gatal lidahnya kalau tidak menjawabnya walau dilakukan dengan hati-hati sekali.

“Sudah… lupakan! Ini perintah…! Hayo kita mandi, tapi… dalam kamar masing-masing… mau ikut aku juga tidak dilarang… he-he-he…!”, Diro membuka pintu kamarnya dan mencabut anak kunci itu, masuk kedalam kamar dan menguncinya kembali dari dalam. Segera mengambil kelengkapan mandi untuk bersih-bersih diri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*