Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 7

Istana Pasir Milik Sang Ayah 7

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 6

Bagian 7 – Permintaan Ibunda

Sekarang hari Selasa.

Diro sudah berada di kawasan pertokoan, sekumpulan toko yang menjual ‘voucher’ nomor dan pulsa untuk segala jenis cellular, juga menjual HP dari berbagai macam merk dan ada juga diantara toko-toko itu yang menjual barang-barang elekronik lainnya, seperti PS, handy video game, dan lain sejenisnya. Diro memilih memasuki sebuah toko yang kebetulan (atau memang disengaja Diro memilihnya) dijaga dan dilayani oleh seorang cewek muda berwajah ‘oriental’ cantik yang kalau mau membanding-bandingkan dengan seseorang… kira-kira secantik bintang filem Jepang lah… begitu deh. Kebetulan saat itu belum ada pembeli yang datang berkunjung… maklum saja hari masih lumayan pagi kira-kira pukul 10-an.

Diro buru-buru menyodorkan tangannya yang kekar mengajak berkenalan dengan cewek cantik ini, maklum saja ini pembawaan diri Diro yang ramah, apalagi sama yang ‘bening-bening’ begitu lho.

“Diro… mbak”, kata Diro memperkenalkan dirinya saat berhasil menjabat tangan yang halus dan mulus dengan jemari-nya yang lentik ber-cat pewarna kuku yang berwarna pink sangat muda.

“Ivonne Wulan… pak”, jawab cewek muda itu memperkenalkan dirinya juga.

“Saya mau beli voucher baru yang seharga Rp100 ribu dari provider **, mbak”, kata Diro selanjutnya.

Segera saja cewek muda itu membungkukkan tubuhnya, mencari-cari yang ingin dibeli Diro. ‘OMG! Mulus banget tuh dada montok!’, seru Diro dalam hati ketika mengikuti gerakan si cewek. Pada saat membungkut itulah Diro dapat memandang bebas kearah dada mulus sang cewek, walaupun masih tertutup selapis lagi kaus dalam yang tipis. ‘Belum juga membeli… sudah mendapat bonus lagi! He-he-he’, komentar Diro dalam hati menikmati ‘sarapan’ pagi yang indah ini.

Dengan menggenggam sebuah kartu voucher yang baru, besarnya kira-kira seukuran kartu KTP begitu, si cewek berdiri tegak kembali. Belum juga cewek yang bernama Ivonne Wulan ini mengeluarkan kata-kata lewat bibirnya yang seksi berwarna merah delima ini, eh… sudah didahului oleh Diro yang bertanya lagi.

“Jadi mbak namanya adalah Ivonne Wulan Pak ya…?”, tanya Diro ingin kepastian dari cewek mulus dan cantik ini.

“Bukan…! Ivonne Wulan saja! Sedang ‘Pak’-nya untuk situ saja… hi-hi-hi…”, Ivonne menjelaskan tentang namanya.

“Oh… itu panggilan untukku ya? Kasihani aku mbak… kan aku belum setua itu lho…?!”, kata Diro pura-pura memelas sambil mengusap-usap dagunya yang kesat… habis lupa memakai alat cukur saat mandi pagi tadi, untuk menghaluskan bulu-bulu pendek yang telah mulai tumbuh kembali.

“Emangnya tua-nya seseorang bisa dilihat dari dagunya apa…? Hi-hi-hi…!”, kata Ivonne yang mulai berani mengemukakan komentarnya.

“Bisa mbak…! Apalagi kalau dagunya tidak dicukur selama berpuluh-puluh tahun begitu… he-he-he…!”, kata Diro sambil tertawa mencoba mengakrabkan dirinya dengan Ivonne yang segar dan cantik ini.

“Hi-hi-hi… bisa aja… engkong… eehhh maaf… maksudnya mas gitu… hi-hi-hi…”, kata Ivonne tertawa sambil menyodorkan voucher yang mau dibeli Diro.

“Terimakasih…”, jawab Diro singkat sambil menerima voucher baru itu. Diperhatikannya voucher itu dengan seksama dan menjadi heran ‘Kok nomornya banyak angka kembarnya, sangat mudah diingat jadinya’. Langsung saja Diro berkata lagi pada Ivonne. “Kok nomornya… bagus sekali mbak…”. Langsung dipotong saja oleh Ivonne dengan berkata.

“Bener! Tidak salah… itu ‘nocan’ khusus untuk pembeli pertama pagi ini, lagipula… biar saya gampang dan mudah menghubungi mas Diro gitu lho… hi-hi-hi”, kata Ivonne berkomentar sambil tertawa lepas ramah… mulai merasa akrab dengan pemuda gagah yang ganteng maskulin yang berdiri didepannya.

(NB: nocan = nomor cantik)

“Lha kalau Ivonne dengan mudah menghubungiku, gimana dong kalau aku dapat menghubungi kembali dengan sama mudahnya”, tanya Diro ber-strategi ingin mengetahui nomor cellular Ivonne si cewek cantik ini.

“Itu… malah lebih mudah lagi! Cukup menambah dengan satu pada angka belakang nomor voucher mas yang baru ini… OK? Jangan khawatir pasti Ivonne angkat dan jawab… asal Ivonne belum tidur gitu lho… hi-hi-hi…!”, jawab Ivonne ramah dengan ceria, mukanya agak memerah… menambah cantik saja cewek yang memang sudah cantik ini.

Setelah membayar dan ditolong pasangkan sim card baru pada BB milik Diro serta penyetelan seperlunya… beres sudah.

“Boleh tidak aku nelpon nanti malam?”, tanya Diro hahap-harap cemas mencoba keberuntungannya dengan Ivonne, cewek cantik yang baru dikenalnya ini… siapa tahu tak keberatan?

“Boleh saja mas, tapi kalau boleh tahu… jam berapa?”, jawab Ivonne sembari bertanya balik kembali.

“Bagaimana kalau jam 11 malam, atau begini saja… Ivonne yang menentukan waktunya biar aku yang menelpon, bagaimana OK tidak?”, kata Diro sedang ‘nego’ soal waktu menelpon.

“OK kalau begitu… bagaimana jam setengah sebelas malam… soalnya Ivonne lagi sibuk-sibuknya merem-melek gitu… hi-hi-hi…!”, jawab Ivonne gembira sambil berkelakar.

“Kok merem-melek sih? Emangnya Ivonne lagi ngapain…”, tanya Diro berhati-hati.

“Ya mau tidurlah… gimana sih…! Merem sebentar lalu melek lagi… begitu seterusnya, sampai merem… tidak bisa melek lagi… itu baru namanya… sudah tidur, tahu nggak…? Hi-hi-hi…”, kata vonne menjelaskan dengan gembira sambil tertawa.

“Oohhh… begitu toh!”, jawab Diro singkat saja sambil meneruskan perkataan yang tak terucap didalam hatinya. ‘Kirain sih… kenapa gitu…?!’, komentar Diro cuma berani dalam hati.

“Beneran lho…! Kalau sudah janji malah tidak jadi nelpon, wahh… bisa-bisa Ivonne yang nelpon duluan sambil nyedot pulsa-nya sampai habis! Hi-hi-hi…!”, kata Ivonne sambil bercanda.

“Emangnya bisa apa?!”, tanya Diro singkat tak yakin. Padahal dalam hati dia ingin berkata… ‘Sedot yang lain saja… mbak!’. Melihat calon pembeli sudah mulai ramai, segera Diro pamitan. “OK deh Ivonne…! Lihat tuh sudah banyak yang datang… Sampai nanti malam jam setengah sebelas ya… Semoga banyak pembeli yang berkunjung… daaghh… Ivonne!”, segera berlalu keluar dari toko kecil.

“Daaaghhh… juga mas Diro…!”, jawab Ivonne yang buru-buru melayani calon pembeli yang baru saja datang.

Kemudian Diro berangkat dengan mengendarai mobilnya menuju kampusnya, meskipun jam kuliah baru dimulai jam 11:30. Dia memilih tempat, dibawah kerimbunan pohon Ketapang yang subur dan agak hijau tua daun-daunnya, yang berdekatan dengan kantin kampus. Kemudian Diro menghubungi ibunya dengan sarana telekomunikasi cellular itu dan memberitahu ibunya bahwa nomor BB-nya telah ditukar dengan nomor baru yang mudah diingat karena banyak angka kembarnya. Diro tidak memberitahu alasan kenapa dia mengganti nomor BB-nya dengan yang baru, konflik dengan ayah kandungnya juga tidak diceritakan… pikirnya itu cuma hanya membuat orang jadi susah dan emosi bila mendengarkannya, padahal dia tidak terpengaruhi samasekali dengan konflik itu. Yang pasti putus sudah ikatan batin dengan ayah kandungnya. Lebih baik dia dengan ayah kandungnya berjalan menurut jalan mereka ambil masing-masing… tak akan pernah bersinggungan lagi!

<“Kemana saja kamu sayang…? Opa-mu mencari dan mencoba menghubungi selama 2 hari ini, karena ada sesuatu hal yang penting yang ingin dibicarakan. Katanya sih untuk kelangsungan dan expansi perkebunan dimasa datang. Untuk jelasnya tanya saja sama opa-mu sendiri deh. Dia lagi ke kantor kebun sebentar”>, kata Daniati senang karena telah dihubungi oleh anak kandungnya ini.

<“Begini ma… kalau mama tidak keberatan… bagaimana kalau Diro datang mengunjungi mama dan bertemu dengan opa, boleh kan ma…?”>.

<“Tentu saja boleh sayang…! Tetapi dengan satu syarat…! Yaitu… kamu harus berhati-hati mengenderai mobil tua-mu, apalagi mama perkirakan kamu akan tiba dikawasan perkebunan ini pada sore hari menjelang malam…! OK… sampai ketemu nanti sayang…”>, Daniati menutup hubungan telekomunikasi cellular itu.

***

Jam kuliah berakhir juga pada jam 14:45, buru-buru dengan mengendarai mobilnya menuju resto PH dan memesan makanan yang ‘padat’ yang lezat. Maklum saja tadi pagi dia hanya mengkonsumsi sepotong roti bakar dan secangkir kopi instan saja didekat pertokoan RS.

Dilihatnya pada arloji yang melingkar pergelangan tangannya yang kiri, menunjukkan waktu pukul 15:30. Dengan perut penuh terisi, energi perlahan pulih kembali, Diro memulai perjalanannya menuju tanah kawasan perkebunan, dimana ibunda yang tengah menanti bersama kakeknya yang sudah 2 hari mencari.

Tepat jam 18:00, Diro sudah sampai dipelataran depan rumah kakeknya. Silir angin sejuk menyapu wajahnya, di ufuk barat yang berwarna jingga kemerahan mengantar mentari masuk keperaduannya, sedangkan samar-samar terlihat diatas langit nun disana, sang rembulan penuh, bersiap menggantikan mentari… kurang lebih seperempat jam lagi akan menghilang sekalian membawa serta cahaya jingga kemerahan tadi.

Diro tidak usah menelepon atau mengetuk pintu, karena disana… telah menunggu ibunda tercinta yang sangat tepat perkiraanya seperti apa yang disampaikan dalam telepon siang tadi bahwa Diro akan sampai pada sore hari menjelang malam… tiba dirumah kakeknya. Diro sambil menyandang tas besar di punggungnya yang kekar, tas itu berisi pakaian dsb pokoknya serba komplit deh.

Mereka berpelukan mesra, Daniati berbisik, “Sana sekalian mandi… aroma-mu membuat para cewek bergairah…!”.

Diro tersenyum senang, “Ah… masak sih ma?!”.

Daniati menjawabnya dengan santai. “Maksud mama… kambing cewek… gitu lho hi-hi-hi…”.

Diro rada memberengut manja pada ibunda tercinta, “Emangnya Diro bandot apa…?!”.

Sambil bergandengan pinggang mesra, segera saja mereka masuk kedalam rumah dan Daniati berkata, “Langsung mandi saja dikamarmu… kalau tidak membawa baju bersih pakai gaun mama… biar seksi! Hi-hi-hi…! Setelah mandi kita makan bersama opa-mu… mungkin saja sembari makan opa-mu mau menceritakan maksudnya mencarimu selama 2 hari ini!”.

“Baik ma…! Ma… mama… mandi bareng yuk… he-he-he…”, kata Diro merayu ibunya yang seksi ini.

“Huusshhh… kamu! Nanti dengkul mama bisa lemas lagi seperti hari Sabtu yang lalu! Sssttt… malam ini jatah mama dengan opa-mu… kalau kamu memang mau nanti setelah opa-mu tidur… mama akan mendatangi kamarmu. OK”.

“Diro cuma bercanda ma… jangan disimpan di hati! Sungguh Diro merasakan… kebahagiaan mama adalah juga kebahagiaan Diro…”, kata Diro buru-buru kekamarnya untuk mandi… khawatir aroma badannya membuat polusi tak sedap pada udara dalam rumah besar yang tenang ini.

“Oohhh… Diro, dikala kamu bicara serius… sungguh mencengangkan hati mama, sayang…”, kata Daniati pelan tanpa bisa didengar Diro yang mau masuk kekamarnya untuk mandi.

***

<Teenggg…!> <Teenggg…!> <Teenggg…!> <Teenggg…!> <Teenggg…!> <Teenggg…!> <Teenggg…!> jam antik besar berdentang 7 kali. Bunyinya sebenarnya hampir mirip dengan bunyi dentangan jam antik dirumah ayah kandung Diro, tapi heran bila mendengar bunyi dentangannya yang disana… selalu membangkitkan emosi Diro, lain dengan yang disini… hanya sebagai pemberitahuan waktu saat bunyi dentangannya bergema keseantero rumah besar yang kuno ini.

Mereka bertiga telah duduk dikursi makan menghadap ke meja makan yang lumayan besar ukurannya ini. Darso duduk di ujung meja, sedangkan Diro disebelah kanannya. Sedang Diro duduk berhadapan dengan Daniati, yang duduk disebelah kirinya Darso.

Dengan tenang mereka menikmati makan malam bersama mereka, ketika suapan terakhir telah dimasukkan kedalam mulut Darso yang makan kalem dan pelan saja.

Darso mulai angkat bicara, “Bagaimana kuliahmu, Dir? Tidak ada masalah bukan?!”.

Yang dijawab Diro, “Baik opa, semua mata kuliahnya bisa diikuti dan dimengerti oleh Diro semuanya…”.

“Bagus… kalau begitu! Begini Diro… opa ingin memberitahu padamu… ini menyangkut ekspansi dan perkembangan usaha perkebunan milik keluarga besar kita untuk masa mendatang. Opa telah membeli atss nama kepemilikan perusahaan perkebunan keluarga besar kita, yaitu sebuah gedung berlantai dua… lumayan besar, luas lahan total adalah 1200 m persegi sedang luas bangunannya adalah sekitar 400 m persegi. Sekarang ini kondisi didalamnya sudah direnovasi yang disesuaikan untuk keperluan saat ini. Kelak ini adalah berfungsi sebagai kantor pusat pemasaran hasil olahan perkebunan.

Lupakan tentang kantor pusat itu dahulu. Sekarang berfungsi sebagai tempat tinggal atau mess yang mengikuti program Peningkatan Mutu SDM, tidak banyak hanya 3 orang termasuk kamu, Diro. Divisi ini diketuai olah opa langsung yang pelaksanaannya diwakilkan padamu, Diro. Karena itu, kamu akan menerima gaji bulanan atas tugasmu ini dari badan hukum perusahaan perkebunan keluaga besar kita ini. Jangan dicampur-aduk dengan kiriman opa yang 3 bulanan yang kamu terima selama ini… itu tetap akan berlanjut karena… itu adalah kiriman seorang kakek pada cucunya yang sedang menuntut ilmu disana, sampai disini apa kamu paham, Diro? Atau kamu ingin bertanya sesuatu pada opa, silahkan sayang…!”, Darso menghentikan perkataannya sebentar untuk memberi kesempatan pada Diro untuk bertanya atau lainnya.

“Tidak opa… Diro setuju saja, apalagi ini untuk kepentingan usaha perkebunan dimasa datang”, kata Diro yang percaya 100% pada kakeknya yang dikaguminya. Ditangan pengurusan kakeknya lah setelah 2 generasi berlanjut, usaha perkebunan ini menjadi sangat maju… dan berkembang sangat pesat.

“Bagus kalau begitu… ternyata kita berdua mempunyai sudut pandang yang sama! Demi kemajuan usaha perkebunan ini, karena pada puncak kemajuannya sekarang ini kita lebih mudah melaksanakan segala sesuatunys tanpa perlu berurusan dengan bank.

Ini ada tawaran untukmu… mudah-mudahan kamu mau menerimanya. Perkebunan ini memerlukan sebuah kendaraan yang cocok untuk didaerah ini, opa memerlukan mobil kesayangan yang kamu pakai sekarang ini dan ditukar dengan mobil sejenis yang samasekali baru serta interior-nya dibuat persis sama dengan mobilmu itu. Bagaimana menurutmu… Diro”, tanya sang kakek pada cucunya ini.

“Wah.. mau sekali opa! Terimakasih opa. Jadi mama kan tidak bisa menyebut ‘mobil tua’ lagi, he-he-he… kacian deh mama-ku sayang…”, kata Diro senang dan mencandai ibu tersayang.

“Aahhh… kamu yang kacian dong… kalau tidak percaya tanya saja sama anak kecil yang baru bisa ngomong, jawabnya pasti… itu ‘mobil bau’ hi-hi-hi…”, kata Daniati masih mengejek mobil barunya yang bakalan jadi milik Diro.

“Ha-ha-ha…. he-he-he…”, kakek sama cucu tertawa bareng sangat bahagia.

“Eehhh… mama! Anak kecil baru bisa ngomong aja… pake dibawa-bawa lagi. Entar ngadu loh sama ibunya, “Mama-mama… mimi cucu dong… he-he-he…”, kata Diro membalas candaan mama tersayangnya.

“Ha-ha-ha…”, Darso jadi ikut-ikutan ketawa sambil minum air putih karena merasa haus jadinya.

“OK… kalau begitu, opa mau masuk ruang kerja untuk mengurus segala sesuatunya berjalan baik besok. Dan kamu besok akan diantar oleh pak Sutarman, kepala keamanan seluruh lahan perkebunan sini dengan memakai ‘mobil tua’-mu, dan ‘mobil bau’-mu sudah menunggu di gedung yang akan menjadi tempat tinggalmu yang baru… ha-ha-ha…!”, kata Darso sambil tertawa menuju ruang kerjanya yang dipenuhi alat-alat canggih telekomunikasi dan komputer.

“Bener kan kata mama… sekarang anak mama sudah punya ‘mobil bau’ lho… hi-hi-hi…!”, kata Daniati sambil tertawa bahagia.

Diro melihat arlojinya, sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat 5 menit, kok jam antik ang berada diruang tamu tidak berdentang delapan kali? Dengan heran Diro bertanya pada ibu mengenai hal ini.

“Kok tidak berdentang ma… jam antik diruang tamu?”, tanyanya dengan heran.

“Diro-Diro kamu melihat sesuatu selalu dari tampak luarnya saja sih…! Jam antik diruang tamu itu, cuma bentuknya saja merupakan replika jam antik, itu adalah jam super canggih sebenarnya. Kita bisa memilih jam-jam berapa saja boleh berdentang dan nada-nya pun bisa dipilih dari memory datanya. Jam itu pada saat tentu terhubung langsung dengan satelit yang bisa menyetel akurasi-nya pada waktu GMT (Greenwich Mean Time) kemudian secara otomatis di-konversi-kan dengan waktu di negara mana ‘jam-antik’ itu berada… hi-hi-hi… kapan lagi mama bisa memberi kuliah pada seorang mahasiswa Komputerisasi Industri, ya nggak hi-hi-hi…”.

“Oohhh… begitu toh ma… siapa sangka benda yang berbentuk antik itu, ternyata penuh berisi komputer?!”, kata Diro dengan kagum.

“Kenapa tadi pukul 7 malam tadi jam bunyi… berdentang, karena memang disengaja berdentang… karena itu adalah saat kita makan malam!”, kata Daniati lagi.

“Ssst… ma… gimana mama dengan opa nanti”, tanya Diro setengah berbisik pada ibunya.

“Ya… begitulah! Kalau opa-mu sedang asyik kerja diruang kerjanya, pasti ada hal yang dianggap sangat penting untuk dikerjakan… begitulah seperti biasanya…!”, kata Daniati sambil menarik napas panjang. Dengan intuisi yang kuat dari seorang ibu terhadap anaknya, Diro. “Kamu… mama perhatikan sebentar-sebentar melihat arloji-mu, dan bertanya soal jam antik segala… kamu pasti janjian telepon sama cewek ya…?”, tanya Daniati ‘to the point’ saja.

“Kok mama bisa tahu sih? Memang benar ma… tapi masih lama, nanti… pukul setengah sebelas malam, cuma kalau lewat dari waktu itu maka dia yang menelpon sambil bercanda… sekalian menyedot pula BB Diro sampai habis…! Begitu lho candanya…”, kata Diro menjelaskan tentang janji telepon itu.

“Oooh cewek yang menjual voucher ya, yang memberimu nomor yang mudah diingat itu toh… hi-hi-hi…”, kata Daniati menebak tapi… tepat!

“Malah cewek itu berkata, gampang menelpon dia, cukup menambah angka nomor terakhir BB Diro dengan menambahnya dengan satu! Begitu lho ma…”.

“Oohh… kalau jam setengah sebelas, itu sih masih lama lagi malah kita bisa melakukan terlebih dahulu… bagaimana kalau… 2 ronde, hi-hi-hi…”. kata Daniati mengoda Diro.

“Tapi kalau mau yang romantis sih… itu namanya kualitas ma! Kalau main ronde-rondean itu namanya kuantitas… beda dong ma…!”, kata Diro menjelaskan.

“Bercintalah dengan mama… lebih romantis lagi…!”, kata Daniati memandang sayu tapi syahdu pada wajah ganteng maskulin Diro.

***

Mereka sudah berada didalam kamar Diro, dan menutup pintu kamar tanpa dikunci lagi. Diro mengecup lembut bibir seksi ibunya, sebentar saja. Kemudian dengan pelahan membuka gaun tidur ibunya yang tipis, dibalas oleh ibunya tanpa berkata, melepaskan T-shirt Diro dngan perlahan. Kemudian Diro melepas BH tipis milik ibunya, yang kemudian dibalas Daniati dengan perlahan membuka celana pendek jeans milik Diro, dilanjutkan dengan usapan lembut pada tonjolan pada CD Diro yang menggelembung oleh penis Diro yang perlahan-lahan bertambah panjang dan membesar. Diro lalu dengan perlahan melepas CD tipis milik Daniati dan melepaskan lewat kedua kaki-kaki mulusnya. Dibalas oleh Daniati dengan perlahan menatik kebawah CD Diro dan melepaskannya sama caranya dengan apa yang dilakukan Diro terhadap CD tipisnya.

Telanjang sudah kedua ibu-anak berdiri berhadap-hadapan.

“Sayang kamu tidur terlentang dulu, mama ingin melakukan sesuatu padamu… saysng…”. Diro melakukan apa yang diminta ibunya tanpa berkata-kata.

Segera tubuh telanjang yang jelita tubuh Daniati menindih tubuh telanjang puteranya itu dengan posisi mulut sexy-nya dekat dengan batang penis Diro yang mulai mengeras, dan diaturnya posisi vagina-nya berada tepat diatas mulut Diro. Rupanya Daniati menginginkan gaya ’69’ bersama putera tunggal-nya ini.

Diro segera melakukan kecupan-kecupan mesra pada bagian vagina ibunya dan berusaha tidak terlalu sering menggesek kelentit ibunya yang mulai mengeras juga. Sementara itu Daniati mulai memasukkan palkon Diro yang kemudian mengemut-emut dengan pelan dan lembut saja.

Emutan pelan ini justu membuat batang penis menjadi sangat keras, sedangkan vagina dielus mesra secara perlahan mulai membawah.

Kemudian Daniati bangun dari telungkupannya dan dengan perlahan berjongkok diatas penis tegang Diro yang berdiri tegak. dengan perlahan saja Daniati memegang batang penis itu dan mengarahkannya pada gua nikmat dalam vagina-nya sambil menekan pinggul mulus kebawah… <bleesss…>. Daniati mulai mnggerakkan pinggulnya turun-naik… turun-naik… konstan dan pelan saja, sementara itu kedua tangan Diro menjulur jauh kedepannya dan mulai meremas-remas payudara dengan pelan dan mesra.

Mereka melakukan dengan tenang, perlahan dan tanpa kata, hanya kedua pasang mata mereka yang saling memandang penuh kemesraan.

Daniati sudah ingin mendesah-desah karena merasakan nikmat persetubuhan yang penuh kemesraan dan asmara yang syahdu ini, berusaha keras tidak mengeluarkan suara dari mulutnya yang sexy. Pinggul mulusnya masih tatap bergoyang turun-naik pelan saja tidak terburu-buru, tapi keletihan melanda juga tubuhnya. Dengan menindih pelan tubuh telanjang bulat putera kandungnya ini sambil berkata pelan, “Kamu yang diatas ya… sayang, lakukan ayunan pinggulmu dengan pelan saja… seperti yang tadi mama lakukan.

Diro dengan lembut membalikkan tubuh mereka dengan perlahan agar penis tegangnya masih tetap berada didalam vagina ibunya, setelah mengatur posisi-nya, Diro mulai mengayun-ayunkan pinggulnya dengan pelan dan penuh kemesraan. Mereka yang sedang bersatu fisik, berusaha sedapat mungkin tidak mengeluarkan suara, walaupun sekecil apapun. Mereka melakukan persetubuhan dalam keheningan malam yang syahdu. Gerakan mengayun pinggulnya pun dilakukan tanpa henti dan pelan saja.

Setengah jam telah berlalu, tetapi mereka masih tetap melakukan persetubuhan ini pelan saja dan penuh kemesraan. Diro mengayunkan pinggulnya perlahan hanya sebatas penisnya kelusr-masuk sambil dicengkeram otot-otot dalam vagina Daniati, agar ketegangan penis Diro terjaga dan tidak bertambah lunak sedikitpun karena dijaga dengan sengaja kekerasannya.

Berdua menghentikan kegiatan seks mereka. Diro mengecup lembut bibir ibunya, dan berkata, “Aku cinta padamu. ma…!”.

Yang dibalas Daniati dengan memegang kedua pipi anaknya dan berkata, “Mama juga cinta padamu… temukan gadis yang kau cintai nak… hamili dia… buatlah anak yang banyak agar mama tidak kesepian lagi… Mintalah pada isterimu agar tinggal bersama mama disini…”.

Mereka berdiam diri tanpa berkata-kata agak lama… tanpa disadari mereka jatuh terdidur. Sedang penis tegang Diro sudah melunak lagi karena tidak mengalami gesekan yang merangsang sudah keluar dari jepitan vagina ibunya. Tanpa disadari Diro menggulirkan tubuhnya terlentang disamping ibunya.

Mereka melakukan persetubuhan tanpa mengejar klimaks maupun orgasme, tapi melakukannya sepenuh hati yang ikhlas, dan saling membutuhkan dalam kemesraan yang syahdu penuh misteri-nya tersendiri…

***

Pada jam 22:20 Diro terbangun dengan sendirinya, begitu kuat pikirannya mampu mempengaruhi ‘alarm system’ yang ada didalam tubuhnya, sama halnya saat dia masih tinggal dirumah ayah kandungnya, ketika itu dia berniat nonton pertandingan sepakbola tayangan langsung, Diro juga mampu membuat ‘alarm system’ bekerja dalam tubuhnya… membangunkan dari tidur pulasnya 15 menit sebelum pertandingan sepakbola itu dimulai. Itulah sebagian kecil talenta yang dimiliki seseorang dari sebegitu banyak talenta lainnya yang… penuh misteri!

Diro menyelimuti tubuh telanjang ibunya dan turun dari tempat tidurnya dan duduk dekat meja belajar yang masih kosong (karena sehari-harinya Diro tidak tinggal disini).

Tepat jam 22.30, Diro menelepon nomor Ivonne.

<“Halo Ivonne selamat malam dan selamat merem-melek… he-he-he…”>, menyapa ang diujung sana.

<“Halo mas Diro… 10 detik lagi… Ivonne menelpon… habis sudah pulsa mas Diro… Ivonne sedot semuanya… hi-hi-hi…!”>, jawab Ivonne sangat senang Diro bisa menepati janjinya.

<“Wah Ivonne ternyata hobby nyedot juga ya… sama dong! He-he-he…”>, kata Diro mengoda nakal agak menjurus.

<“Emangnya mas Diro hobby nyedot apaan sih… kasih bocorannya dong…!”>, tanya Ivonne lagi.

<“Pokoknya yang aku tidak punya… gitu lho…! He-he-he…!”>, jawab Diro menggoda sembari memberitahu ‘clue’-nya.

<“Hi-hi-hi… mas Diro ternyata diam-diam nakal juga ya?! OK Ivonne akan menebaknya… tapi sebelumnya tolong jawab pertanyaan Ivonne dulu… jawabnya yang jujur ya…”>, kata Ivonne memberi kesempatan Diro berkata dulu.

<“Pertanyaan apa dulu…? Pokoknya tidak ada pertanyaan berarti tidak ada jawabannya dong… He-he-he… OK?!”>, kata Diro bercanda.

<“Ini baru mau dikatakan Ivonne… pertanyaannya adalah… tadi pagi di toko, sewaktu Ivonne membungkuk mengambil voucher… mas Diro jelas nggak ngelihatnya…? Hi-hi-hi…!”>, tanya Ivonne ‘to the point’… rupanya ketika blus atasnya terbuka karena membungkuk, dan… Diro dengan mata melotot memandang dadanya dengan penuh minat kelihatannya, Ivonne tahu tapi tidak berusaha menutupinya karena khawatir Diro menjadi malu karena tertangkap basah.

<“Yaaa… ketangkap basah deh sama yang punya, terimakasih Ivonne, kamu tidak memaki spontan tadi pagi. Aku minta tolong nih, tolong dilihatin dan diperiksa dengan teliti… ada goresan atau apa gitu… soalnya lirikan aku tadi lumayan tajam lho! He-he-he…!”>, jawab Diro terus menggoda nakal Ivonne yang cantik.

<“Aah… nggak mau ahhh… disuruh-suruh! Lihat aja sendiri… hi-hi-hi…! Sekarang juga boleh kalau mau!”>, Ivonne membalas menggoda dengan berani.

<“Ya… nggak bisa sekarang dong! Aku sekarang berada di kota SB, besok pagi baru kembali… paling bisa memeriksa itu lusa… Bagaimana…?”>, kata Diro menjelaskan posisi dimana dia berada sekarang.

<“Cius nih… bener pengen melihatnya sendiri, OK kita janjian. Mas Diro datang ke toko lusa sekarang Selasa berarti datang ke toko hari Kamis pagi jam 8:00, karena jam segitu masih sepi orang di kawasan toko sana… Ivonne sudah ada didalam toko… tapi rolling door-nya tertutup rapat. ketuk 3X cepat lalu 1X dan 3X cepat… jangan salah ketok… kalau salah ketuk nggak bakalan Ivonne membuka rolling doornya… Ingat 3-1-3, dan… jangan lupa membawa bukti bahwa mas Diro memang dari SB… ‘deal’ ya?! Hu-aahh.. eh… maaf mas Diro… Ivonne jadi nguap nih…”>, kata Ivonne membuat janji ketemuan di toko lusa pagi sembari menguap karena terasa mulai mengantuk.

<“Sudah deh… habis kamu sudah mengantuk sih… selamat tidur ya Ivonne… semoga mimpi yang indah… bye…!”>, diro ingin memutuskan hubungan telepon ini. Masih sempat Diro mendengar jawaban singkat dari Ivonne.

<“Bye juga mas… selamat tidur…”>, putus sudah hubungan telepon itu.

***

Diro menengok kearah ibunya, yang sekarang tidur miring memandang Diro sambil berkata, “Asyik juga yaa… mendengar orang muda teleponan, hi-hi-hi…!”, kata Daniati menggoda Diro.

Dengan segera Diro mendekati ibunya dan berbisik, “Pokoknya Diro bakalan nyemprot vagina legit mama dengan sperma Diro yang banyak…!”, kata Diro yang tergugah gairahnya gara-gara teleponan dengan Ivonne Wulan yang cantik.

“Sapa takut…?”, kata Daniati singkat sambil membuka balutan selimutnya… tidur terlentang diatas tempat tidur Diro sambil mengangkangkan paha mulusnya lebar-lebar.

Diro yang masih telanjang bulat dari tadi, dengan penisnya yang sudah tegang sempurna, menindih tubuh telanjang ibunya yang jelita. Rupanya karena malam semakin larut saja, Daniati ingin menyelesaikan persetubuhan ini dengan cepat saja. Kedua tangan lentik Daniati mencekal penis tegang Diro dan memasukkannya melewati katupan labia majora dan palkon Diro berhenti sambil dikatup oleh labia minora pas dimulut gua nikmat dalam vagina mulus Daniati.

“Ayoo.. tekan sayang… ingat usahakan kita mendapatkan klimaks berbarengan… OK?!”, kata Daniati memberi aba-aba dengan mantap.

<Bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Diro yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis remaja matang ini… meneruskan persetubuhan mereka yang tadi.

“Aaah… nikmatnya…! Ingat sayang… kita barengannya yaa…?!”, desah Daniati penuh kenikmatan sambil mengingatkan soal bareng-bareng itu.

Ini berlangsung sampai 10 menitan… itu karena berdua sempat rehat sebentartadi.

Diro makin tancap gas, pompaan-pompaan nikmatny semakin cepat saja… 5 menit kemudian, Daniati mulai mendesah-desah seakan ingin memberitahu bahwa saatnya sudah semakin dekat…

“Terus Diro… tancap terus yang cepat ooohhh… aahhh… sampai juga…!”, desah Daniati agak keras sambil tubuh terhenyak dihempas gelombang klimaks yang dahsyat…

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Mereka mendapatkan orgasme-nya secara bersamaan, betul-betul pasangan yang serasi…

Mereka diam menikmati orgasme-nya, kali ini lumayan lama… hampir 90 detikan… barulah menghilang orgasme itu pergi sambil meninggalkan rasa puas yang berlimpah ruah. Segera Diro menggulirkan tubuh tidur terlentang disambing tubuh telanjang ibunya.

Bersamaam mendapat orgasme mereka tadi dan sekarang secara bersamaan juga mereka jatuh tertidur dengan pulas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*