Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 6

Istana Pasir Milik Sang Ayah 6

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 5

Bagian 6 – Dunia Kecil Milik Diro

Rumah kediaman suster Widya sekeluarga tidaklah jauh, paling juga kurang 100 m saja dari RS modern tempat suster Widya bekerja sekarang ini. Sebenarnya suster Widya adalah seorang janda yang amat kaya raya, dia pemegang waris kepemilikan yang sekarang menjadi 22% atas seluruh asset RS tetapi orang-orang yang mengenalnya, memandangnya sebagai seorang suster senior yang berkepribadian ramah dan sederhana saja tanpa mengetahui keadaan kekayaan yang dimiliki oleh suster senior yang bersahaja ini… sesungguhnya.

Rumahnya yang seluas 2000 m persegi (40 m X 50 m) adalah hasil jerih kerja almarhum suami Widya yang dikala masih hidupnya adalah menjabat sebagai wakil presiden direktur RS tempat suster senior Widya bekerja sekarang ini! Mengapa pula masih tetap bekerja? Seseorang yang lulus dengan baik dari Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan, pasti mempunyai tujuan hidup khusus dan mulia yang sepatutnya diperjuangkan oleh ybs. Dia ingin mengabdikan ilmu yang diraih itu demi kepentingan sesama, yaitu merawat orang-orang yang sakit. Dan niat tulus dan mulia ini diwujudkan dalam bentuk pelayanan terhadap sesama dengan berprofesi sebagai suster perawat… sederhana tapi penuh tantangan dan kesabaran ekstra untuk menjalankannya secara ikhlas.

Seminggu setelah Tuti (12 tahun), puteri bungsunya yang mengadu perihal kegiatan yang tak lazim yang dilakukan oleh kedua kakaknya itu, Widya memanggil dan mengajak kedua puteri remajanya, Renita (18) dan Dwi Ayumi (15) untuk berbicara dari hati ke hati antara ibu dan kedua puterinya yang sudah remaja dan telah dalam masa akil-baliq nya itu. Mereka berbicara didalam kamar tidur utama dan… setelah menunggu si puteri bungsu, Triastuti (12) telah tertidur pulas dikamar tidurnya sendiri, saat itu jam telah menunjukkan pukul 22:45 sudah larut malam… tapi tidak mengapa karena keesokan harinya adalah hari Minggu.

Widya menjelaskan dengan kalem dan lembut penuh kasih seorang ibu, katanya bahwa melakukan kegiatan ngeseks dengan sesama jenis, walaupun dilakukan dengan saudara sendiri adalah kurang baik efeknya nanti dikemudian hari. Apapun alasannya, misalnya ada yang berkilah bahwa itu lebih aman lah ketimbang melakukannya dengan lawan jenis. Yang sering mereka mengemukakan alasan adalah bahwa keperawanan mereka terjaga, tidak mungkin hamil tanpa… memperhitungkan dari aspek psychology-nya (= segi kejiwaan).

Widya menceritakan tentang kehidupan keluarga besar almarhum ayah mereka… tidak ada satu pun dari mereka melakukan perceraian, walaupun mereka menjadi anggota klub ‘swinger’ yang sangat ketat organisasi-nya.

Yang paling aman agar tidak terjadi kehamilan yang akan menimpa mereka, yang sudah sangat produktif secara biologis sekarang ini, adalah… dengan memasang spiral KB atau IUD (IntraUtiren Device). Tapi pemasangan spiral KB itu terhalang oleh adanya sebuah kendala yang bersifat teknis… mereka berdua, masing-masing masih mempunyai… selaput dara!

Haruslah diingat bahwa kehamilan bisa terjadi karena suatu persetubuhan badan, tidak tergantung… apakah dilakukan dengan suka sama suka, ataupun sepihak karena pemaksaan oleh orang yang dikenal atau… suatu pemerkosaan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal samasekali oleh si cewek! Apabila itu terjadi, serta kondisi tubuh semuanya terpenuhi, maka akan terjadi suatu kehamilan… suka atau tidak suka! Dan… reputasi keluarga pun dipertaruhkan!

Dalam perbincangan mesra antara ibu dan kedua anaknya, telah terjadi suatu kesepakatan diantara mereka, yaitu apabila seorang ‘hymen breaker boy / man’ telah diketemukan dan lulus ‘uji kelayakan’ oleh suster senior Widya sendiri, maka orang ini akan diperkenalkan dan pemerawanan pun akan segera dilaksanakan tanpa selanjutnya ada ikatan emosional apapun yang berkelanjutan. Baru 2 atau 3 hari sesudahnya, bisa dilakukan pemasangan IUD… apabila semuanya itu terjadi… barulah mereka merasa lega… terutama tentu saja sang ibunda… suster senior Widya sendiri!

***

Tepat jam 22:00, keduanya dengan mengendarai mobilnya Diro yang lumayan ‘ABG’ itu sampai dirumah keluarga suster senior Widya. Karena lampu-lampu taman yang guram-temaram, Diro tidak jelas memperhatikan tampak keseluruhan rumah itu, dilihat dari luar dekat pintu gerbang utama. Setelah memarkir mobil didalam garasi ‘nun’ jauh disamping belakang rumah.

Ketika mereka masuk kedalam ruang tamu yang lumayan besar, Diro yang dari tadi mengikuti dengan diam, sekarang malah jadi terheran-heran melihat ada sambutan ‘pagar ayu’ dari ketiga puteri Widya yang rupanya telah mengetahui akan kedatangan mereka sebelumnya. Gadis-gadis berbaris rapi menyamping, dan semuanya manis dan ayu sama dengan sang ibu, sepadan sekali sesuai dengan umur mereka masing-masing, walaupun… pakaian yang mereka kenakan tidak terlalu rapi. Maklum saja hari sudah lumayan malam dan dan pakaian yang mereka kenakan ala kadarnya saat ini adalah untuk persiapan tidur malam rupanya.

Diro memandangi mereka dari yang sebelah kiri, ‘Pasti ini si puteri bungsu yang baru saja jadi ABG, Triastuti, yang berumur 12 tahun’. Tuti hanya memakai CD saja seperti ‘tarzan’ imut yang seksi saja layaknya. Pandangan mata Diro tertuju pada dada telanjang gadis kedil ini… ‘OMG… bukan main!’, seruan kekaguman Diro dalam hatinya. Payudara yang mulai terbentuk, mulai menonjol… yang punya khas keindahannya tersendiri serta dihiasi oleh sepasang putik puting kecil yang belum ‘melotot’.

Takut berlama-lama memandang dada telanjang Tuti yang baru tumbuh itu malah akan menimbul efek pada penisnya yang sedang istirahat ‘tertidur’ sekarang. Dengan cepat mengalihkan pandangan matanya pada gadis yang tengah. ‘kalau ini sih… tidak salah lagi… pasti puteri ke-dua Widya yang kalau tidak salah berumur 15 tahun. Mengenakan hotpant yang tingginya… minta ampun! Pasti tidak pakai CD tentunya… ‘Hhmmm… lumayan juga dengan paras cantik, tubuh semampai dan ukuran 34A yang di dadanya’, kata Diro dalam hati, rupanya dia semakin mahir saja menilai dan menebak-nebak tubuh para cewek kalau berdiri berhadap-hadapan dengannya.

Kemudian mengalihkan pandangan matanya kekanan dari para gadis ‘pagar ayu’ yang berbaris menyamping dihadapannya sekarang. Memandang sekilas saja wajah cantik cewek didepannya, lalu menengadahkan wajahnya keatas sedikit dan… mencoba mengingat-ingat kapan dia pernah melihat wajah cantik ini di kampusnya. Bukankah ini puteri sulung Widya yang berumur sama dengannya dan bernama Renita dan menurut penuturan Widya… satu kampus dengannya.

Ada suara merdu dari cewek yang sedang dihadapinya saat ini.

“Kak Diro… kan?”, sapa Renita singkat saja, yang kemudian pinggang rampingnya disikut dengan pelan oleh adiknya, Dwi yang berdiri disamping kanannya.

“Sudah kenal ya kak? Emangnya kenal dimana kak?”, tanya Dwi dengan nada keheranan pada kakaknya, Renita.

Renita berbisik pelan menjawab pertanyaan adiknya. “Teman kampus kakak… AC-man…! Hi-hi-hi…”, jawab Renita yang diakhiri dengan tertawaan.

“Apa tuh “AC-man’… artinya kak”, tanya Dwi yang jadi ikut-ikutan berbisik.

“Arjuna Cuek…! Tau…! Hi-hi-hi…!”, jawab Renita tertawa, tapi menghentikannya seketika, saat disapa oleh Diro.

“Kamu Renita kan…?”, sapa Diro singkat pada gadis yang bernama Renita, cewek cantik didepannya ini. Diro tak berhasil mengingat kapan dan dimana dia pernah melihat cewek ini di kampusnya. Kalau soal nama, kan… sudah diberitahu ibunya, Widya tadi.

Serentak bergemuruh suasana didalam hati Renita mendapatkan sapaan dari Diro, si cowok ganteng sekampus! Rupa-rupanya tanpa disadari Diro sendiri… dia mendapatkan julukan ‘Arjuna Cuek’ dari sekumpulan cewek mahasiswi di kampusnya.

“Sudah rampung acara perkenalannya?”, tanya Widya bertanya pada para para kawula muda itu, dia baru saja melepaskan hajatnya (buang air kecil) didalam kamar mandi dikamar tidurnya.

Diro yang mendengar suara Widya langsung memeluk dan mendekap tubuh Renita dan mencium sekilas pipi kiri dan kanannya… biar kelihatan akrab gitu… kan teman sekampus! Lalu bergeser kekiri sambil menyodorkan tangan kekarnya kearah Dwi untuk bersalaman kenal, tangan kekarnya diabaikan saja oleh Dwi, yang langsung maju kedepan, dan malah dia yang memeluk dan mendekap. Sambil berjinjit mendaratkan ciuman kenalnya… ‘ngok!’ di pipi kiri dan ‘ngok!’ di pipi kanan Diro. Diro yang terpana senang… menerima saja ciuman dari ABG segar yang cantik ini. ‘Kapan lagi dapat yang beginian dari ABG yang seksi begini, he-he-he…’, tawa senang Diro didalam hatinya yang mulai rada genit.

Si bungsu, Tuti yang melihat semua yang terjadi didepan matanya, dimana kakak-kakaknya mendapatkan ciuman dan mencium… tidak mau kalah rupanya. Segera mendekati tubuh kekar Diro, sambil menjinjitkan kakinya tinggi-tinggi… sehingga Diro yang ‘tahu diri’ membungkukkan tubuhnya merendah agar wajahnya sejajar dengan wajar ABG imut yang rada centil ini. Dengan cekatan Tuti mendaratkan ciuman pada pipi kiri dan kanan Diro, dan… ditambah bonus indah berupa kecupan pada mulut Diro yang agak terbuka karena terpana oleh ulah ABG imut yang baru berusia 12 tahun ini. Segera Diro berdiri tegak kembali dan mundur pura-pura sempoyongan. Yang langsung mengundang pertanyaan dari Dwi.

“Kenapa kak…?”, tanya Dwi singkat saja pada Diro yang masih saja berpura-pura sempoyongan.

“Kecupan indah di bibir kakak oleh bidadari kecil yang cantik… sungguh membuat kakak menjadi mabuk kepayang… he-he-he…!”, kata Diro mencandai semua cewek-cewek ABG didepannya itu.

“Hi-hi-hi… hi-hi-hi… rupanya kak Diro mabuk bo’ongan toh?!’, jawab serentak Renita dengan Dwi yang jadi ikut-ikutan tertawa lepas.

Tuti yang sekarang berkacak pinggang sambil memiringkan tubuh mungilnya kesamping kiri, berkata senang, “Mau lagi kak…? Masih banyak kok persediaannya… hi-hi-hi…!”.

Buru-buru Diro menjawab gadis mungil itu, “Terima kasih sayang… jangan deh! Nanti malah kakak jadi mabuk beneran lagi he-he-he…”.

“Hi-hi-hi…! Hi-hi-hi…! Hi-hi-hi…!”, riuh-rendah di ruang tamu itu dipenuhi tawa, dan Widya juga ikut-ikutan menyumbangkan tawanya yang seksi itu karena melihat kejadian lucu tadi.

Cair sudah suasana yang tadinya agak kaku… suasananya pun sekarang dipenuhi dengan keakraban semata…

***

Mereka yang ada diruangan ini telah mengambil tempat duduknya masing-masing. Sedang Widya dan Diro juga telah duduk berdampingan diatss sofa yang lebar, cukup dekat walaupun tidak terlalu merapat… malu dong! Kan ada 3 ABG yang manis-manis dan cantik duduk didepan mereka.

Widya, sang nyonya rumah mulai membuka percakapan dengan bertanya pada Renita, puteri sulungnya, “Kamu masih ’tisu’ kan, sayang…?”.

(NB: tisu = ‘tidak subur’ menurut kalender KB).

Yang dijawab mantap oleh Renita, “Iya ma…! Waahhh… kalau begini… sebelum tidur sih ‘maper’, setelah bangun tidur jadi ‘gaper’ deh…! Berani nggak ya… Renita menghadapinya…?!”.

[NB (bocoran dari McD): maper = masih perawan; gaper = nggak perawan].

“Apaan tuh… artinya kak?”, tanya Dwi cepat tanggap pada kakak sulungnya.

“Artinya… ya begitu…! Kamu ‘kuper’ sih…!?”, jawab Renita tanpa menjelaskan secara detail kata-katanya yang diucapkan tadi.

“Aahhh… kakak! Jangan ngatain Dwi ‘kurang pergaulan’ dong… kan tanyanya dengan baik-baik loh…! Apa perlu Dwi cium dulu pipi kakak nih…”, kata Di agak merajuk manja pada kakak sulungnya ini.

“Jangan-jangan…! Kakak lagi ‘alergi’ nih sama ciuman dari makhluk yang sejenis! Hi-hi-hi…”, cepat saja Renita menjawabnya… dan langsung membisiki di telinga kiri adiknya, arti dari… kata-katanya tadi.

Langsung saja dijawab spontan oleh Dwi dengan suara agak keras, “Mau dong… kak…!”.

Sedangkan Tuti, si bungsu memandang agak kecewa pada kedua kakaknya itu, maklum… tak diikut-sertakan dalam ‘bisikan rahasia’ itu. Karena merasa dongkol, Tuti, si bungsu ini tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan berseru. “Tuti memilih kata ‘super’! Hi-hi-hi… Super-Tuti…! Gitu lho…”, kemudian segera duduk lagi sambil bersandar kebelakang tempat duduknya, dan tidak lupa… mengangkat kaki kanannya yang mungil serta menaruhnya diatas lututnya, sembari tidak lupa menggoyang-goyangkan telapak kanan kakinya itu… santai! Layaknya boss-kecil yang cuma memakai CD… sedang melepaskan penatnya saja… ini dilakukan tanpa bersuara, rileks sambil menolehkan wajah imutnya yang manis itu… kekanan dan kekiri… memandang satu-persatu wajah yang hadir diruang tamu itu.

Semua yang hadir agak tersentak kaget oleh seruan Tuti, si bungsu imut ini… semuanya menolehkan kepala mereka dan memandang Tuti… seketika ‘ggrrr…!’ meledak lagi tawa mereka lagi serentak… oleh ulah lucu yang dilakukannya Tuti dengan jenaka… serius tanpa bersuara sedikitpun!

“Hi-hi-hi… hi-hi-hi… hi-hi-hi… he-he-he…!”.

Widya menegur Tuti dengan lembut penuh kasih-sayang, “Ada apa sayang, jangan ngambek dong…”.

“Tidak ada apa-apa juga… apalagi ngambek! Tuti lagi santai sejenak… tadi kelamaan berdiri sih!”, jawab Tuti tenang yang sekarang malah mengibas-ngibaskan telapak tangan kanannya yang membuka… seakan sedang menggunakan sebuah kipas-goyang didepan wajahnya.

“Aahh… kamu! Bener-bener deh… melawak terus! Hi-hi-hi…”, kata Widya tertawa sambil melihat jam dinding. “Ayo… sayang, sudah hampir jam 11 malam! Mama temani kamu tidur ya… besok kita sambung lagi…”, Widya sambil berdiri dari sofa dan mendekati puteri bungsunya tersayang… mengajak masuk kekamar Tuti sendiri untuk tidur malam.

Widya sebelum menutup kamar Tuti dari dalam, sempat berkata pelan saja (takut terdengar oleh Tuti yang sekarang sudah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur) pada ketiga yang masih duduk diruang tamu itu. “Renita! Dwi! Ajak Diro ngobrol didalam kamar mama sana… nanti mama menyusul!”.

***

Hampir setengah jam telah berlalu, Widya bangun dari tempat tidur puteri bungsunya, Tuti yang telah tertidur pulas dan menyelimuti tubuh mungil yang cuma mengenakan CD, ini memang kebiasaan si bungsu sewaktu ingin tidur. Setelah menyetel AC ruangan pada kedudukan thermostat 28 derajat Celcius, Widya melangkah keluar kamar tidur Tuti dan menutup kembali dengan perlahan pintunya dari luar. Segera melangkahkan kakinya menuju kamar tidur utama.

Ketika Widya membuka pintu kamarnya sendiri dan menutup kembali serta menguncinya dari dalam.

Ketika dia menoleh dan memandang keatas tempat tidur… tanpa disengaja berkata, “Bener-bener deh… minta ampun! Dasar orang muda jaman sekarang… penuh inisiatif dan sangat kreatif… dinamis sekali…! Nggak pake menunggu ‘sutradara’-nya datang untuk mengawasi eehhh… malah sudah ‘in-action’ saja… hi-hi-hi…!”. Bagaimana Widya tidak mengeluarkan komentarnya ini…? Dilihatnya Renita sudah bertelanjang bulat terlentang sambil mengangkang… sedang ditindih oleh tubuh telanjang Diro si remaja matang yang lagi sibuk meng-‘explorasi’ payudara kanannya dengan sangat intensif. Payudara Renita yang 36A serta super kenyal ini… mulus dan indah, yang puting-puting susunya telah menonjol keluar, berwarna maroon muda dan… saat ini sedang dikenyot-kenyot dengan sangat rakus oleh mulut Diro yang gasang penuh gejolak nafsu.

“Pelan-pelan dong ngemutnya kak! Emangnya ada air susunya… apa? Aahhh… kalau tahu nikmatnya kayak begini… kenapa tidak dari dulu-dulu aja ya?”, kata Renita sambil mendesah. Tahu ada sedikit protes dari sang cewek melepaskan cakupan mulut dari puting kanan itu dan berganti sasaran.

“Biar seimbang dan adil he-he-he…”, selesai mengatakan itu, Diro langsung saja dengan mulutnya mulai mengemut-emut puting susu yang kiri. Sedangkan payudara yang kanan tadi, kini mendapatkan remasan-remasan nikmat yang dilakukan oleh kelima jari tangan Diro yang kiri.

“Hhmm… oohhh… nikmatbya aahhh…”, desah Renita merasakan nikmatnya rangsangan-rangsangan itu, dan… <seeer…> ada semprotan kecil dalam vagina Renita yang melumasi pintu masuk menuju gua nikmat didalam vagina klimis Renita, yang labia majora masih mengatup rapat… maklum saja masih perawan ting-ting!

Widya yang tidak mau kalah sama 3 orang muda ini… ikut-ikutan melepaskan semua pakaian dan… bertelanjang bulat juga. Dilihatnya Dwi yang juga tubuhnya telanjang tanpa busana… lagi tertidur pulas dengan bibir merah delima-nya menyungging sebentuk senyuman puas. Widya memperhatikan dari dekat vagina mungil yang klimis serta masih segaris vetikal yang tipis… tidak ada noda dara perawan disana… cuma ada bayangan yang membasah saja.

‘Wahh… pintar juga si Diro! Biar nanti tidak terlalu mengganggu rupanya Diro melakukan oral-sex yang hebat terlebih dahulu pada Dwi… hasilnya bisa dilihat sekarang… Dwi tertidur pulas dengan mimik wajah cantiknya tersirat rasa puas karena telah mendapatkan orgasme perdana-nya melalui oral-sex yang dilakukan Diro padanya waktu tadi.

Widya yang melihat puteri sulungnya, Renita lagi asyik-masyuk bersama Diro yang pengalaman ngeseks-nya sudah ‘segudang’, tanpa memperdulikan keberadaan Widya yang berada didekat mereka… jadi ikut-ikutan bernafsu sendiri jadinya, tanpa berani mengusik kedua orang muda itu yang lagi ‘sibuk berat’.

Sambil duduk dan mengangkang diatas tempat tidur serta mengusap-usap kelentitnya sendiri… ber-mastubasi! Dilihatnya Diro sudah ngedeprok didepan vagina Renita yang masih perawan ting-ting… bersiap-siap memulai babak selanjutnya, yaitu… oral-sex.

Mengelinjang-gelinjang tubuh Renita jadinya, tanpa ampun… ketika Diro mendaratkan mulutnya pada permukaan vagina Renita, dengan menguakkan sedikit labia majora Renita yang masih mengatup rapat, akhirnya… dengan leluasa ujung lidah Diro yang kesat… menari-nari ‘disko’ pada kelentit mungilnya Renita yang langsung merintih-desah agak keras. “Aduh gimana sih nih… jangan galak-galak dong lidahnya…! Aaahh… mana enaknya baru sekali ini oohhh… dirasakan… oohhh… Renita aahhh…”, Renita yang berkeluh-desah merasakan geli-geli tapi nikmat… sungguh sangat nikmat rasanya meski bercampur dengan rasa geli… <seerrr…!> ada semprotan kecil yang kedua yang keluar serta melumasi sempurna seluruh lorong dari gua nikmat didalam vagina perawan ting-ting ini.

“Istirahat dulu kak…! Sudah rada becek nih… punyanya Nita… aahhh…!”, bujuk Renita mengusulkan rehat sejenak. Diro yang pengalaman, tidak mengindahkan segala keluh-desah sang cewek, baginya yang penting tugasnya memerawani Renita berjalan mulus tanpa ada rasa sakit yang terlalu nyata yang bisa dirasakan perawan ting-ting pada saat momen itu tiba!

Tetap saja Diro dengan intens melanjutkan oral-sex pada cewek yang kata Widya… sekampus dengannya ini. Yang melakukan oral-sex tetap saja… yang berkeluh-desah juga terus saja mengiringinya.

“Aduh gimana nih… mana enaknya minta ampun lagi! Rehat sebentar… kenapa…?! Aahhh… udah deh… nggak ketahanan lagi… enak benar…! Aahhh…!”, dan diikuti dengan…
<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> sampai sudah bagi Renita dan mendapatkan orgasme perdana-nya oleh ulah nakal ujung lidah Diro yang kesat. Terhenyak sedikit tubuh telanjang yang mulus dan semampai ini.

Diro menghentikan kegiatannya sejenak… untuk memberikan keleluasaan bagi Renita yang masih terlena nikmat oleh orgasme perdana-nya. Tapi tetap memantau keadaan… jangan sampai Renita hilang kesadarannya. Buru-buru Diro bangun dan… langsung menindih tubuh telanjang perawan ting-ting ini. Dengan tangan kirinya mengarahkan batang penisnya yang sudah tegang dan sangat keras dari sejak awal kegiatan ngeseks ini berlangsung, serta ‘memarkir’ palkon-nya pas di pintu masuk gua nimat perawan ting-ting. Dengan menekan pelan pinggul kekarnya kebawah dan…

<Bleeesss…!> <Srreeett…!> masuk sudah seluruh batang penis yang keras sembari menerjang tuntas barikade selaput dara-nya Renita, yang tidak jadi tertidur dan tanpa merasakan sengatan akibat robeknya selaput dara-nya yang kebetulan memang agak tipis dan ogah menantang terjangan palkon yang perkasa milik Diro ini.

Dengan sangat leluasa batang penis Diro meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah perkasa milik sang remaja matang yang ganteng maskulin ini. Meskipun otot-otot dalam vagina Renita mengadakan ‘perlawanan’ dengan mencengkeram kuat disekeliling batang tagang, tapi tidak mampu menahan gerak maju-mundur penis rada galak ini.

Ini berlangsung terus tanpa henti. Memasuki menit ke-7, Renita mencapai klimaksnya dan… <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> mendapatkan orgasme-nya yang ke-dua pada tengah malam ini. Disusul oleh Diro yang mencapai klimaks-nya… saat
memasuki menit ke-9… <Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>
Diro mendapatkan orgasme-nya untuk pertama kalinya sepanjang malam ini.

Hening sejenak, keduanya masih menikmati orgasme masing-masing…

Tak lama kemudian Diro turun dari tubuh ramping Renita yang mulus dan telanjang bulat ini, menggulirkan tubuh kekarnya yang sudah agak lemas… berbaring paralel terlentang disamping tubuh sang cewek yang baru daja kehilangan keperawanannya… dengan sukarela…

Sedangkan Widya yang tadi mendapatkan juga klimaks-nya dengan cara ber-masturbasi… sudah tertidur pulas… karena lelah oleh aktivitasnya seharian penuh tadi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*