Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 5

Istana Pasir Milik Sang Ayah 5

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 4

Bagian 5 – Konflik Yang Memutus Ikatan Batin

Arloji yang melingkari pergelangan tangan Diro yang kekar, menunjukkan waktu pukul 17:30 di sore masih hari Senin ini, yang masih terang saja. Diro telah berada didalam kamar dimana Dini (adik tiri Diro) dirawat. Diro telah mengetahui bahwa ‘kekasih baru’-nya alias suster senior Widya mengikutinya dari belakang seakan tanpa diketahui Diro, dan sekarang berbaur dengan dengan 2 orang suster jaga yang bertugas dikamar itu. Widya yang telah berpakaian biasa, layaknya seorang pengunjung bezuk saja. Kedua suster itu mengetahui keberadaannya dan membiarkan segala tindak-tanduk yang dilakukan atasannya ini yang dianggap mereka tengah berkunjung secara ‘in cognito’.

Sedang Weni (ibu tirinya Diro) tengah serius berbincang dengan Dini, anak kandungnya yang tengah berbaring… lemas yang bukan disebabkan oleh penyakitnya justru oleh pemberian obat tidur oleh team dokter yang ‘canggih-canggih’ dan handal saat di UGD tadi pagi. Sedang Diro berdiri agak jauh dari ibu-anak yang tengah asyik berbincang, dia telah mengetahui bahwa dibelakang dirinya… ada Widya yang berdiri, kemudian membelakangi diri Diro, ketika tahu ‘kekasih remaja’-nya datang mendekat karena menyisih menjauhi pembaringan tempat pasien tidur. Diro yang mengetahui keberadaan Widya didekatnya, mengikuti saja keinginan ‘kekasih’-nya itu dengan berpura-pura tidak mengetahui keberadaannya.

Cukup banyak orang berkunjung yang datang untuk membezuk rekan mereka yang tengah terbaring lemas ini. Tak lama kemudian datang memasuki kamar ini, seorang pria setengah baya yang berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi paling sekitar 165 cm, berumur 38 tahun dan dengan perut yang tidak terlalu sedang alias agak buncit sedikit… dia adalah Danang, ayah kandung Diro! Danang datang menengok kearah Dini sekilas lalu memandang diseliling kamar pasien yang tak terlalu besar itu, ketika dia melihat yang dicarinya itu sedang berdiri diam dipinggiran disana, segera Danang mendatang Diro disana, sambil membuka pembicaraan dengan nada sedikit arrogant.

“Kemana saja kamu Dir! Sampai-sampai saudaramu sakit dan dibawa ke rumahsakit ini saja… harus mama-mu sendiri yang mengurusnya!”, tegur Danang dengan kesal pada anak kandungnya, Diro.

Dengan tenang Diro menjawab teguran sang ayah dengan santai. “Ya begitulah… kan papa bisa melihatnya sekarang… Dini telah dirawat dan tidak kurang sesuatu apapun… bukan?!”.

Bertambah kesal dan bahkan menjadi marah Danang mendengarkan jawaban Diro yang santai itu. “Maksud papa adalah kemana saja kamu keluyuran… sementara ayah berdinas keluar kota! Itulah gunanya papa memberi uang untuk pegangan itu! Kau kan orang laki-laki satu-satunya… cobalah lebih bersikap sebagai seorang pria yang sudah dewasa dan bertanggung jawab…!”.

Seketika melonjak amarah Diro mendengarkan ulah kata ayahnya ini. Dengan memandang sangat tajam bagaikan menembus biji mata Danang yang terkesiap oleh sorotan tajam dari anak kandung ini.

Diro berkata dengan tenang tapi dengan suara yang amat dalam dan berwibawa yang melampaui usianya sendiri, “Uang yang dititipkan papa itu ada didalam laci kecil dibawah daun meja belajar Diro. Dan… sejak kapan papa ‘menitahkan’ Diro bertugas sebagai penjaga setia ‘Istana Pasir’ papa yang rapuh ini! Diro hanya ingin berkata begini… dan hanya untuk satu kali ini saja… PAPA JANGAN PERNAH MENCOBA MENGATUR HIDUP DIRO!”. Terkesiap orang yang ada disekitar mereka yang dapat mendengarkan perkataan Diro yang diucapkan pelan saja tapi sangat dalam ini. Mereka menoleh kearah Diro dan melihat pandangan mata Diro yang tak terbersit walau sedikit saja perasaan marah ataupun nada kebencian… yang mereka lihat adalah cuma pandangan mata Diro yang sangat tajam pada lawan bicaranya.

Widya yang menguping sambil membelakangi Diro ikut-ikutan terkesiap jadinya mendengar perkataan yang diucapkan Diro yang terdengar sangat dalam dan penuh intonasi itu, buru-buru melangkahkan kaki kedepannya dan berbalik menoleh… yang dilihatnya hanyalah tatapan dan sorotan tajam tanpa terbayang perasaan amarah ataupun benci. Seketika itu juga Widya sangat kagum bercampur dangan rasa empathy-nya yang sangat dalam. ‘Pintar sekali orang muda ini menjaga gejolak perasaannya dan tak memperlihatkannya walau sedikit saja pada wajah gantengnya yang maskulin itu…’, Widya menjadi sangat menghargai sikap Diro yang dinilainya sangat bijak itu.

Terdiam jadinya Danang mendengar kata-kata Diro yang mengandung sindiran yang tajam terhadap dirinya. Sedang Diro berdiam diri saja sambil menunggu jawaban dari Danang, ayah kandungnya itu.

“Lupakan uang itu…! Itu cuma 3 kerikil kecil bagi papa… tak ada artinya samasekali! Kamu seharusnya lebih hormat memandang pada papa-mu ini! Papa memberitahumu sekarang… bukan papa yang menceraikan ibu kandungmu, tapi… dia yang memintanya terlebih dulu… dengan sukarela…! Papa hanya meminta padamu agar ‘care’ apa yang terjadi didalam rumah sementara papa berdinas keluar kota…!”, kata Danang mulai melunak dalam menghadapi Diro yang dia sangat tahu keadaannya sekarang… Diro sungguh-sungguh sangat marah sekali saat ini, tanpa diketahui oleh orang-orang sekitarnya yang bisa mendengar percakapan mereka yang sebenarnya dilakukan dengan suara yang wajar dan pelan saja.

“Itu urusan papa… tapi tak mungkin mama meminta cerai tanpa sebab… pasti ada penyebabnya, dan… jangan pula mencoba memutar-balik fakta yang ada. Diro cuma memohon pada papa… jangan berusaha untuk kembali bersatu dengan mama… biarkan beliau hidup tenang didaerah perbukitan di lahan pertanian disana. Sebab… kalau papa karena sesuatu hal terjadi dengan keluarga baru papa ini… walaupun Diro berharap dengan sangat, semoga papa sekeluarga langgeng dan berbahagia selalu. Jangan jadikan mama yang telah dapat mengatasi rasa duka yang mendalam dengan bersusah payah itu, kelak malah menjadi… ‘Bagaikan rembulan yang dirindukan pungguk’…!”, sehabis berkata begitu Diro membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya dengan mantap keluar dari kamar itu… putus sudah ikatan batin antara ayah dengan anak kandungnya!

Ternganga Danang jadinya tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Terbayang olehnya perlakuannya yang tanpa disadari mulanya… telah merendahkan martabat anaknya sendiri sebagai seorang yang dewasa. Salah satu contoh saja, yaitu memerintahkan Diro untuk memanggil Dini dengan sebutan kakak, padahal… pada akhirnya dia tahu juga, ternyata Dini lebih muda usianya dari Diro, anak kandungnya itu. Ditambah barusan, dia membuka percakapan awal dengan Diro dengan nada arrogant sekali. Itulah watak dasar Danang seperti yang disimpulkan Diro tentang ayah kandungnya ini, ‘Bertindak dahulu, berpikir belakangan’…!

Dengan tenang dan santai Diro melangkahkan kakinya dengan mantap disepanjang koridor beratap dan mengarahkan kakinya ke tempat pelataran parkir khusus kendaraan roda-4. Tidak secuil pun nada kesal, marah atau dendam yang membayang pada wajahnya yang ganteng ini. Segera Diro mengambil BB-nya, membukanya dan mengambil sim card-nya, yang lalu dicabik-cabik dengan jarinya yang kuat, serta semua serpihan kecil itu dibuang kedalam tempat sampah terdekat. Ini dilakukan agar tidak seorang pun dapat mengontak dirinya, apalagi… dari ayah kandungnya… yang sekarang pasti telah selesai ‘berpikir’ setelah melakukan semua ‘tindakannya lebih dahulu’ tadi.

Terdengar oleh Diro bunyi langkah-langkah kaki yang tergopoh-gopoh menyusul dirinya. Diro tidak ingin menoleh, bahkan tak ingin tahu siapa orang yang seakan ingin menyusulnya.

Tiba-tiba ada tangan halus seorang wanita yang langsung menggandengkan lengan kirinya yang kekar dengan sangat lembut.Diro menoleh wajahnya kekiri dan melihat Widya yang tengah menengadah memandang padanya dengan wajah cantik jelita yang dialiri satu dua tetes airmata yang keluar dari matanya yang indah.

“Ada apa mbak, kok menangis sih… memangnya Diro telah berbuat salah ya? Mohon maafkan Diro ya… mbak…”, kata Diro penuh perhatian, melupakan dan mengabaikan persoalan pelik yang tengah dialaminya saat ini.

Mendengarkan kata Diro yang tulus dan polos itu… malah menambah jumlah tetesan airmata yang keluar jadinya.

“Diro-Diro… malang sekali nasibmu, remaja lain yang seumuran denganmu dan mengalami cobaan sepertimu ini… pasti tak kan sanggup menghadapi setabah kamu ini, coba lihat saja sekarang… kamu tidak terlihat dirundung masalah yang rumit kelihatan, malah kamu meminta maaf pada mbak seakan mbak ada masalah denganmu… sayang…”.

“Bagi Diro sudah selesai dengan semuanya itu, malahan hati Diro sudah senang tanpa beban dan… gembira lagi! Kenapa Diro yang sedang bergembira ini malah… kok ditangisi? Emangnya… Diro tidak boleh gembira apa…?!”, kata Diro menghibur Widya sembari menggodanya.

“Bener-bener deh kamu ini Dir…! Minta ampun deh… hik-hik-hik…!”, kata Widya sambil tersenyum dan tertawa walaupun dengan memaksakannya. “Kamu mau kemana sayang? Coba tenangkan dulu hatimu… jangan tanpa tujuan yang pasti begitu… langkah kakimu… mari kita pikirkan dengan tenang, langkah apa yang akan kita tempuh… dengan benar! Dan mbak ada usulan yang mungkin pantas kamu pertimbangkan, kita bicarakan sambil beristirahat sejenak di paviliun mbak… yuk! Mbak mohon dengan sangat nih…”, kata Widya menghiba dengan nada memohon dengan sangat.

“Ini ide sangat cemerlang dan sangat sukar menolaknya… apalagi datang dari suster senior Widya, ayo… apa biar cepat Diro gendong saja mbak… he-he-he…!”, kata Diro semakin menggoda ‘kekasih’-nya ini.

“Aahh… kamu! Malu dong sama rumput yang bergoyang… hi-hi-hi…!”, balas Widya dengan menggoda Diro juga.

***

Mereka berdua telah berada didalam paviliun, pintu depannya pun sudah dikunci. Sementara Diro duduk besandar diatas kursi tamu yang empuk, Widya membuat 2 cangkir kopi ‘three in one’ yang tanpa ampas. Mudah saja membuatnya, tinggal tambahkan air panas secukupnya… selesai. Widya membawa kedua cangkir berisi kopi panas itu dan menaruhnya diatas meja tamu yang daun mejanya terbuat dari gelas kaca yang tebal.

“Begini lho dik…”, belum juga Widya menyelesaikan perkataannya keburu dipotong oleh Diro.

“Maaf mbak… Diro potong… maaf ya mbak… bagaimana kalau kita membicarakan tentang usulan mbak ini dengan santai… apalagi mbak kan lama berdiri dikamar pasien tadi, di… belakang Diro tadi? Iya… kan? He-he-he…”, kata Diro memberitahukan keberadaan Widya tadi dikamar tempat Dini dirawat.

“Kok kamu tahu sih…? Kan mbak memunggungimu tadi… tapi maafkan mbak ya sayang, mbak bukan ingin membuntuti kamu lho… mbak cuma mengikut kamu saja kok… dari dekat… hi-hi-hi…”, kata Widya minta maaf karena telah tertangkap basah oleh mata Diro yang jeli dan sangat awas itu. Lanjutnya, “Mbak tidak mengerti dengan perkataanmu tentang ‘membicarakan usulan dengan santai itu’ sayang…”.

“Maksud Diro membicarakan usulan mbak itu dengan santai dengan berbaring sambil melepas penat dikaki mbak… gitu lho he-he-he…”, kata Diro sambil mengelabui Widya, wanita matang yang cantik jelita ini, tentu saja… gagal total!

“OMG! Mbak selalu lupa dengan siapa yang sedang mbak hadapi sekarang. Mbak sudah biasa kok berdiri berlama-lama dan juga berjalan mondar-mandir di rumahsakit ini… memang sudah tugas rutin hari mbak! Setiap harinya tidak kurang 5 km mbak berjalan karena tugas mbak ini. Jadi mbak tidak perlu olahraga jalan kaki atau jogging… OK kita kosongkan ‘tabung’ libido-mu yang selalu penuh itu, biar nanti setelah itu kita bisa membicarakan usulan mbak dengan suasana yang lebih santai tanpa dibebani oleh macam-macam!”, kata Widya bangun dari duduknya sambil manarik lengan Diro agar mengikutinya.

“Wah…! Memang benar-benar senior… tidak mempan dibohongi… he-he-he… tapi itupun kalau mbak berkenan lho?!”, kata Diro sembari meminta persetujuan Widya.

“Mbak memang suka susah menolak yang enak-enak gitu lho… hi-hi-hi…!”, kata Widya yang setuju dengan ajakan Diro itu.

Mereka berjalan dengan Widya didepan, belum juga melewati pintu kamar tidur… Diro yang sudah tidak tahan melihat goyangan pinggul dan bokong Widya yang bahenol itu… langsung memeluk tubuh sintal Widya… sambil mendaratkan dengan mulus kedua telapak tangan yang langsung saja meremas-remas dengan sangat mesra sembari sesekali mampir sejenak pada puting-puting yang menjadi puncak dari buahdada Widya yang montok maklum saja ukuran BH-nya saja 38B. Ulah nakal Diro ini menyebabkan tubuh indah Widya menggeliat-geliat merasakan geli dan nikmat bercampur homogen dengan sempurna, padahal Widya masih berpakaian komplit, belum ada satu pun yang dibuka. Widya meliuk-liukan tubuh sintalnya jadinya merasakan rangsangan-rangsangan nikmat dari kedua belah telapak tangan Diro yang kust perkasa, bagaikan liukan tubuh penari perut yang mempesona.

“Aahh… kamu! Diro yang ganteng tapi kedua tanganmu sangat ganjen… kita buka dulu pakaian kita… biar lebih nyaman dan tambah bergairah… hi-hi-hi…!”, usul Widya yang ikut-ikutan mabuk kepayang dilanda gairah birahi yamg semakin tinggi.

“Setuju…!”, jawab Diro singkat, segera menghentikan ‘gempuran’ pada kedua bukit yang indah milik Widya, dilanjutkan dengan cepat membuka seluruh pakaian yang dikenakan.

Lamanya waktu untuk melucuti pakaian sendiri, rupanya berjalan seimbang… tuntas dalam waktu yang bersamaan.

Terlihat sekarang sepasang insan tua dan muda sudah bertelanjang bulat, si empunya tempat lebih sigap rupanya… langsung melompat keatas tempat tidur dan mengambil posisi terlentang sambil mengangkangkan paha mulus melebar kesamping, tetapi karena dia ingat akan perkataannya diatas tempat tidur ini juga siang tadi ‘…tiada MOT bagimu… Sayang!’… buru-buru merubah posisi-nya… tetapi telat sudah! Diro telah naik keatas tempat tidur itu dan… langsung menindih tubuh telanjang Widya yang mulus serta jelita ini…! Dilanjutkan dengan kecupan dan FK yang mesra tapi penuh gejolak asmara yang memabukkan keduanya.

Diro melepaskan tautannya pada bibir seksi Widya yang merah merekah itu, dan berbisik pelan pada Widya, “Batal nge-WOT kan sayang…! Sekarang MOT yang berperan…!”, kata Diro sambil mulut gasangnya ‘menangkap’ puting indah Widya yang sebelah kanan yang langsung dipilin-pilin dengan lidahnya yang kesat, tidak terlalu… paling-paling sekitar 30 detikan saja… mulut Diro melepas ‘tangkapan’ dan beralih sekarang pada puting indah dipuncak buahdada Widya yang sebelah kiri yang montok serta lumayan kenyal, lidah Diro yang kesat juga melakukan hal yang sama. Sedangkan bukit buahdada kanan Widya yang tadi ditinggalkan oleh mulur Diro, tidak dibiarkan… segera datang jari-jari tangan kiri Diro yang langsung meremas-remas buahdada montok yang kenyal itu serta tidak lupa sesekali ‘dikunjungi’ oleh duet jari telunjuk dan jempol yang memilin-milinnya…

Gelagapan tubuh telanjang Widya yang meliuk-liuk menghadapi dan merasakan rangsangan nikmat itu… ‘Kalau begini gelagatnya, wah… bisa-bisa selesai larut malam nih…! Oooh… nikmatnya!’. Segera saja Widya dengan kedua tangan mulusnya meraba-raba diantara himpitan ketat kedua pinggul mereka, mencari-cari dan… dapat! Dengan mencekal batang penis yang sangat keras dan tegang itu, serta mengarahkan palkon Diro mengarah kedalam vagina klimis yang langsung melewati tautan labia majora dan langsung berhenti berhenti pas didepan mulut gua nikmat yang dijaga oleh tautan labia minora-nya… dengan menghentakkan pinggulnya keatas… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Diro yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama oleh penis gagah sang remaja matang yang penuh stamina itu…

Sembari melakukan pompaan-pompaan nikmat dengan kuat dan cepat… Diro juga sekarang melakukan FK dengan semangat birahi yang tinggi, sehingga Widya tak bisa mengeluarkan desahan-desahan karena FK itu… hanya mampu mengeluarkan suara getaran pita suarannya, “Mmm… hhhmmm… mmm… hhh…!”. Risih oleh keadaanya ini, segera Widya mengeluarkan taktik yang lumayan jitu dengan menggoyang-goyangkan kedua pinggul dan pahanya yang penuh dan mulus itu… kekiri… kekanan sesekali memutar-mutarkan pinggulnya dan di-variasi dengan dorongan pinggulnya keatas… berkali-kali…

Tak tahan sudah Diro merasakan ‘gangguan’ penambah nikmat dari kekasihnya yang berpengalaman ini yang usianya lebih dari 2 kali dari umurnya sendiri.

Segera melepaskan tautan FK dari bibir Widya yang seksi… yang disambut oleh tarikan napas yang panjang Widya… terdengar keluhan nikmatnya sekarang, “Aahh… kamu! Diro-ku sayang…! ‘Galak’ sekali kamu malam ini… kayak udah seminggu lamanya nggak ketemu punyanya wanita saja… oohh… nikmatnya…!”.

Jawab Diro dengan penuh nafsu yang menggelora, “Siap-siap mbak…! Diro mau tancap gas nih…!”.

“Sapaaa… takuuuttt…! Aaahhh…!”, jawab Widya kelojotan bersiap mencapai klimaksnya…

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>.

Sungguh sepadan dan serasi sekali pasangan telanjang tua-muda ini… selalu bersenggama penuh semangat dan diakhiri dengan puncaknya yang bersamaan… masing-masing merasakan orgasme mereka masing-masing…!

Ada sekitar 3 menitan mereka berdua berdiam diri… menikmati orgasme mereka masing-masing… secara perlahan-lahan hilang juga pengaruh orgasme itu… menghilang entah kemana… yang tinggal adalah setumpuk besar rasa puas yang akan lama hilangnya, mungkin bisa berjam-jam… bahkan mungkin berhari-hari mendatang…

Diro segera menggulirkan tubuh remaja telanjangnya, berbaring miring menghadap pada Widya dan berkata, “Maaf ya mbak… keberatan ya ditindih tubuh Diro…?”

“Tidak juga sayang… cuma napas mbak jadi agak sulit saja… sedikit! Hi-hi-hi…!”, kata Widya agak lelah.

“Tapi enak dan… nikmat kan?! He-he-he…!”, jawaab Diro berseloroh.

“Aahh… kamu! Kok tahu sih? Pengalamanmu sudah segudang ya hi-hi-hi…”, jawab Widya bercanda.

“Belum mbak… baru sekamar kecil gitu lho… he-he-he…!”, jawab Diro cengengesan.

***

Mereka segera menyudahi ‘sex meeting’ ini dan membersihkan tubuh mereka ala kadarnya.

10 menit kemudian mereka sudah duduk berdampingan di sofa, sambil minum kopi instan yang sudah mendingin dari setadi.

Widya mengawali perbincangan mengenai usulannya.

“Begini dik… kalau boleh mbak ingin membeberkan usulan ini… tapi mohon maaf sebelumnya… janganlah dik Diro merasa dihina atau apa lainnya. Usulan ini diantaranya mengandung beberapa persetujuan yang tak terikat… semua bebas… tanpa ikatan sedikitpun. Kalau memang ada waktu untuk mendengarkan, mbak akan menceritakan… kalau tidak, karena dik Diro talah mengalami… yang mbak anggap sangat luar bisa bagi seorang remaja matang seusia dik Diro, tentu kita akan mencari waktu yang tepat…”, kata Widya sangat berhati-hati.

Hening sejenak diantara mereka.

“Boleh mbak teruskan… sayang?”, tanya Widya pelan tanpa bernada memaksa.

“Tidak masalah mbak! Cuma kalau boleh… inipun kalau mbak tidak keberatan… jangan panggil Diro dengan imbuhan dik atau adik… panggilan yang berkali-kali dengan kata-kata itu… seakan mengingatkan Diro akan sesuatu. Atau begini gampangnya… 10 kali mbak memanggil Diro dengan imbuhan ‘dik’ atau ‘adik’, maka… 10 kali juga Diro merasa bertambah muda saja… maaf lho mbak… cuma kalau itu memang panggilan yang sudah menjadi kebiasaan mbak untuk memanggil seseorang yang lebih muda, ya… apa boleh buat… Diro akan coba memahaminya dan belajar untuk terbiasa dengan panggilan itu”, kata Diro menjelaskan hal itu pada Widya, tapi tidak ada nada paksaan samasekali.

“Kalau begitu ‘deal’! Tanpa basa-basi! Bagaikan seseorang yang tanpa pakai baju…”, kata Widya yang langsung dipotong Diro dengan perkataan…

“Telanjang bulat…! He-he-he….!”, kata Diro tertawa lepas.

“Aahh… kamu! Memang tidak salah… lagi! Hi-hi-hi…”, kata Widya sambil tertawa juga.

Kemudian Widya menceritakan segala sesuatu dengan panjang lebar dan sejelas-jelasnya

Keluarga besar almarhum suaminya, kebanyakan berdomisili di dunia barat, ada yang USA, Inggeris dan Jerman. Mereka hidup dikalangan atas dan menyerap kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dikalangan itu.

Kebanyakan kehidupan perkawinan mereka adalah ‘open marriage’ atau lebih sederhananya seperti kebiasaan ‘swinger’, yaitu berganti pasangan tanpa merusak kehidupan pernikahan yang bersangkutan. Jadi ngeseks dengan seseorang tanpa ada keinginan untuk memilikinya, ‘just for fun only’ begitulah prinsip mereka ber-‘swinger’.

Widya setelah menjanda, juga mendapat tawaran itu yang ditolaknya dengan halus. Yang ditolak tidak merasa terhina atau tersinggung, mereka tetap berkomunikasi dengan baik seperti biasanya… tentu saja tidak menyinggung-nyinggung lagi hal yang telah ditolak Widya.

Sekitar 2 bulan yang lalu dari sekarang, disuatu malam ketika Widya berbaring ditempat tidurnya dan bersiap untuk tidur… datang Tuti, anak perempuan bungsunya yang masih berumur 12 tahun, sambil berbisik mangadukan perihal tingkah-laku kedua kakaknya, yaitu Renita (19 tahun) dan Dwi Ayumi (15 tahun).

“Sambil menonton bokep, masak… kak Nita sama kak Dwi lagi asyik begituan…!”, kata Tuti biasa saja dengan santai meng-informasi-kan segalanya tanpa tedeng aling-aling, polos dan lugu seakan kejadian yang diceritakan adalah biasa yang dilakukan orang-orang, dan… menjadi sangat luar biasa bila yang melakukan itu adalah kakak-kakaknya sendiri dan didalam rumah mereka yang sangat besar ini.

Terperanjat Widya mendengarkannya, segala istilah itu didapat Tuti dari teman-teman sepergaulannya yang seumurannya dengannya.

“Maksudmu apa dengan ‘begituan’ itu sayang”, tanya Widya kalem tanpa membuat takut anak bungsu yang menjadi kecintaan seluruh anggota keluarga dalam rumah ini.

“Aduh… gimana sih! Katanya mama ini suster senior… kok urusan yang beginian saja tidak tahu. Hal-hal ini sudah biasa, lumrah diketahui, malahan kami suka membicarakan diwaktu istirahat jam pelajaran di sekolah, tentunya… kalau tidak seorang guru pun yang dekat dengan kami… hi-hi-hi…!”.

“Yang jelas dong sayang… mama memang belum mengetahuinya kok. Sumpah enak deh! Hi-hi-hi…!”.

“Iihh… mama… mana ada disumpahin orang malah jadi enak…! Begini ma…! Kalau 2 orang cewek begituan… berarti mereka lagi… lesbian-an! Kalau cowok dan cewek begituan… berarti lagi ML… gitu lho ma!”, kata Tuti dengan polos mencoba menerangkan itu semua… agar bisa dimengerti ibundanya yang tersayang. ‘Kok suster senior nggak tahu apa-apa sih, mungkin cuma belajar menyuntik orang sakit saja ‘kali’, kata Tuti dalam hati merasa heran.

“Dan kalau ML artinya apa sayang…?”, tanya Widya pelan pura-pura tidak tahu.

“Wah kalau kepanjangan ML sih, Tuti mana tahu… perasaan… itu dari kata-kata bahasa Inggeris deh. Untuk jelasnya tanya saja sama kak Renita… kak Dwi juga tahu… menurut Tuti sih malah kak Dwi lebih banyak tahu daripada kak Renita.

“Kalau bokep itu apa sih…”, tanya Widya kembali berpura-pura tidak tahu,

“Aduh mama gimana sih nih… masa bokep juga tidak tahu! Kacian deh mama! Bokep itu adalah filem tentang cowok sama cewek lagi tindih-tindihan… cuma heran deh ma masak berdua pada nggak pake baju gitu lho! Heran ya… kok nggak malu mereka ya ma…!”, seketika Tuti mencium pipi kiri ibunya dengan perasaan sangat sayang dan… bertanya sembari berbisik pelan di telinga ibunya, “Gituan… emangnya enak ya ma…?”.

Widya balas mencium mesra kedua pipi temben puteri bungsunya dan berbisik pelan, “Kelak suatu hari kau akan mengalaminya sendiri! Untuk sekarang jangan pernah mau kalau ada orang atau temanmu mengajak untuk melakukan hal itu… itu melanggar hukum! Kamu tidak mau ditangkap kan gara-gara perbuatanmu yang tercela itu. Sudah malam sayang… tidur ya dikamarmu… kapan-kapan kita sambung lagi ya pembicaraan kita. Bye sayang…!”.

Itulah sekelumit yang diungkap tentang pembicaraan Widya dengan puterinya yang cewek-cewek semuanya.

Tiba-tiba Diro mencium bibir sexy Widya dengan penuh hawa nafsu. Widya terkejut oleh ‘serangan’ nikmat secara tiba-tiba, masih sempat Widya berpikir, ‘Bukan main deh… baru juga mendengar cerita dari anak perempuan umur 12 tahun langsung aja bernafsu’.

Cepat saja Diro mengandeng Widya… kekamar tidur dan memuaskan nafsu liar mereka disana sampai tuntas.

40 menit menit kemudian mereka sudah rapi lagi.

***

Jam sudah menunjukkan 21:45.

Dengan bergandengan tangan, berjalan sepanjang koridor rumahsakit, mereka melangkahkan kaki-kaki mereka menuju pelataran parkir khusus kendaraan roda-4…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*