Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 4

Istana Pasir Milik Sang Ayah 4

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 3

Bagian 4 – Berpetualang Cinta Di RS

Pelaku peran: (dari awal cerita ini)

Darso (57) = duda, ayah Daniati, kakek Diro.
Danang (38) = mantan duda, sekarang suami Weni.
Daniati (37) = janda, ibu kandung Diro.
Weni (36) = mantan janda, sekarang isteri Danang.
Dini (18) = (pr), anak kandung Weni.
Diro (18) = (lk), anak kandung Danang & Daniati.

Pelaku peran tambahan: (dimulai dari Bagian 4 cerita ini)

Widya (38) = janda, suster senior.
Renita (18) = puteri sulung Widya.
Dwi Ayumi (15) = puteri kedua Widya.
Triastuti (12) = puteri bungsu Widya.

***

Sekarang hari Senin, didaerah perbukitan lahan pertanian yang sangat luas milik pak Darso, kakeknya Diro. Arloji di pergelangan tangan sebelah kiri Diro yang kekar, menunjukkan pukul 5:30… masih pagi namun hari sudah cerah di dataran perbukitan yang tinggi ini, sinar mentari pagi dari ufuk timur menyinari alam sekitarnya dengan cahaya emas kejinggaan diiringi hembusan silir angin pagi yang sejuk.

Kemarin, sekitar jam 18:00 di sore hari menjelang datangnya malam… pak Darso (kakeknya Diro) sudah kembali dirumahnya setelah perjalanan singkatnya ke Bali yang cuma 2 hari.

Sebelum tidur malam Diro telah berpamitan dengan pak Darso, kakeknya dan Daniati, ibunda Diro yang dikasihi sepenuh hatinya itu dengan berkata bahwa dia tidak menunggu kakek atau ibunya bangun dari tidurnya pada keesokan pagi… melainkan dia akan langsung berangkat menuju kampusnya.

Dengan mengendarai mobil ABG-nya ‘*and*over’, Diro hampir sampai mendekati pintu gerbang utama masuk / keluar yang berpalang dari perkebunan.

Begitu mau melewati gerbang utama yang palangnya sudah terangkat keatas, seorang petugas keamanan perkebunan telah menyambutnya dengan sikap berdiri tegak dan memberikan hormat layaknya yang dilakukan seorang prajurit tentara.

“Mariii… pak!”, sapa Diro pada petugas jaga itu.

“Siaaap…! Hati-hati di jalan oom…!”, tegur petugas paruh baya itu dengan ramah dan bersahabat. Yang tidak diketahui Diro tentang petugas keamanan lahan pertanian ini adalah… beliau bernama Sutarman, pensiunan pasukan komando dari salah satu angkatan. Dia adalah kepala keamanan untuk seluruh area lahan pertanian milik pak Darso, dan… menjadi ‘tangan kanan’ pak Darso di bidang keamanan. Kebetulan saja dia berjaga di gerbang utama ini, menunggu petugas jaga yang sebenarnya, yang kemarin malam minta ijin karena akan terlambat datang untuk berjaga pagi ini karena ada sesuatu urusan penting dalam keluarganya yang harus diselesaikan.

Pak Sutarman, orangnya ramah dan santun sekali, dia sangat menyukai pekerjaannya ini. Area yang menjadi tanggung-jawabnya… relatif cukup aman, tanpa sesuatu hal yang sangat menguatirkannya. Paling-paling kejadian 3 hari yang lalu dan ini pun baru pertama terjadi setelah bertahun-tahun dia bekerja disini. Hari itu regu keamanan lahan pertanian telah meringkus 2 orang pemuda penggangguran yang sedang asyik memanen buah coklat
dengan santainya. Keduanya dibawa dan dihadapkan pada kepala keamanan yang tak lain tak bukan adalah pak Sutarman ini. Dengan ramah dan santun menanyai kedua pemuda bersalah ini, sembari… tidak lupa ‘mengelus-ngelus’ dengan lembut kepala mereka yang gondrong itu sampai… sedikit ‘benjut’ jadinya!

Ini adalah karir tertinggi yang telah dicapai oleh pak Sutarman dalam mengisi hari-hari pensiunnya. Bagaimana dia tidak merasa sangat bersyukur jadinya… rumah kediamannya tidak jauh dari kawasan pertanian milik pak Darso ini. Beruntung dia tidak mengikuti jejak teman-temannya yang satu korps dengannya… menjadi satpam plus (karena mantan tentara) yang bekerja pada perusahaan-perusahaan besar yang kebanyakan para pemiliknya sibuk berpolitik ketimbang mengurusi kepentingan harkat hidup para karyawannya.

Baru juga berjalan melewati sekitar 20 meteran, RBT getar BB Diro berbunyi. Segera dia membuka sambungan telekomunikasi cellular itu.

Pak Sutarman yang melihat mobil yang dikendarai Diro berhenti di pinggir jalan sebelah kiri… segera beliau berlari dengan gagah mendekati mobil Diro dan menyapa dengan hormat.

“Siaaap…! Ada yang saya bisa bantu oom?”, tanya pak Sutarman dengan hormat.

“Ooh… terimakasih pak! Saya baru saja mendapat telepon dari teman kampus saya… supaya aman dan nyaman… saya menghentikan dulu mobil ini dahulu… untuk melayani telepon ini pak, begitu lho…”, jawab Diro kagum akan kesigapan pria paruh-baya ini dalam menjalankan tugasnya.

“Ooh.. begitu toh oom… kirain sih ada suatu masalah. Siaaap…! Kembali ke tempat!”, segera pak Sutarman pamitan ala militernya, berlari dengan gagah kembali ke gardu gerbang utama.

Rupanya, Weni, ibu tirinya berhasil juga menghubungi BB milik Diro dan berbicara dengan nada cemas, bahwa Dini, anak kandung Weni telah berada di RS *****, karena malam Minggu (kemarin malam) dengan ambulans telah dibawa ke RS itu dan langsung dirawat di UGD (Unit Gawat Darurat). Baru tadi pagi (sebelum Weni berhasil menghubungi BB milik Diro) diberitahu oleh pihak RS, bahwa Dini telah dipindahkan ke kamar spesial VIP karena telah melewati pemeriksaan dengan teliti saat dirawat di ruang UGD dan tidak diketemukan hal-hal yang sangat menguatirkan menyangkut dengan kesehatan Dini secara keseluruhan.

Mendengar pemberitahuan dari Weni, ibu tirinya, Diro berniat langsung menuju ke RS saja untuk membezuk Dini, adik tirinya yang sedang dirawat disana.

***

Diro telah sampai di RS ***** itu, dan dengan diantar oleh seorang suster senior yang belakangan Diro mengetahui bahwa suster senior yang hampir seumuran dengan ibu kandungnya (menurut perkiraannya), bernama Widya… yang namanya bakalan susah dilupakan oleh Diro, karena… wajahnya yang putih bersih dan cantik, ditambah dengan perawakannya yang… oke punya!

Sampai didalam kamar rawat spesial VIP, terlihat tubuh Dini, adik tirinya yang diselimuti sedang tertidur terlentang diatas pembaringan untuk pasien RS yang dirawat dikamar.

Dengan berbisik pelan, Widya, sang suster senior berkata, “Tidak usah khawatir, adiknya sudah melewati masih kritis dan tidak ada yang perlu dikhawatir lagi, dia tertidur dibawah pengaruh obat tidur yang diberi oleh team dokter tadi. Dan saya akan selalu datang memantaunya, karena kamar ini dibawah pengawasan dan dalam tanggung-jawab saya… sebentar ya… saya akan pergi mengontrol pasien lainnya yang dibawah pengawasan saya…”, Widya kemudian dengan cepat berlalu dari kamar itu.

Dengan menaruh kursi disamping sisi kanan pembaringan, Diro duduk berdiam diri sembari memandangi wajah cantik Dini yang tertidur tenang dan bernapas dengan teratur. Pikir Diro dalam hati, ‘Di negeri antah berantah dimana gerangan, Dini berada saat ini…?’. Ditaruhnya dagu maskulin-nya di pinggiran tempat pembaringan itu… berdiam diri terpekur hampir 10 menitan pada posisi itu, malah… menyebabkan dia kebablasan jatuh tertidur jadinya.

Tak lama kemudian suster senior Widya datang kembali kekamar itu. Dia terheran-heran melihat Diro malah ikut-ikutan tertidur jadinya. Tak sampai hati dia membangunkan pemuda gagah ini. Sambil menaruh kursi pada sisi kiri pembaringan, suster senior Widya duduk, malah dia sekarang tengan asyik memandangi wajah ganteng yang maskulin yang sedang tertidur itu. Dia melihat arloji wanita-nya yang melingkari di pergelangan tangan kanannya yang mulus itu dan bermaksud akan membangunkan Diro 5 menit lagi, sebab kalau tertidur terlalu lama dengan posisi kepala tertekuk itu, bisa menyebabkan pemuda ganteng ini akan merasakan sakit ketika nanti tersadar dari tidurnya ini. Percuma saja pemuda ini menunggu adiknya ini… sampai bangun dengan sendirinya… itu memerlukan waktu beberapa jam lagi!

Kembali Widya memandangi tubuh dan wajah Diro, tiba-tiba… <seerrr…!> ada semprotan kecil yang keluar, karena… pintu gairahnya tanpa disadarinya telah terbuka dengan sendirinya… itulah sebagai jalan keluarnya cairan pelicin dalam lorong vagina-nya yang tidak pernah kedatangan ‘tamu’ semenjak meninggalnya suaminya 5 tahun yang lalu.

Widya bertemu dengan calon suaminya ketika dia, dikala itu berumur 19 tahun, gadis muda yang cantik dan telah lulus dengan baik dari Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan dan mencoba memulai debut karirnya sebagai suster perawat RS ini. Sedang calon suaminya dikala itu telah berusia 49 tahun… dengan selisih usia yang sangat jauh yaitu 30 tahun! Seorang pria yang telah lama menduda, karena telah ditinggal selama 5 tahun (saat itu) karena suatu kecelakaan maut yang menimpa isteri pertamanya itu.

Siapa yang mau usilan menentang perkawinan itu? Suatu pernikahan dengan mempelainya ada perbedaan umur dengan selisih 30 tahun! Memang dasar jodoh saja lah yang mempertemukan mereka, seorang suster muda belia yang cantik dengan seorang dokter senior yang mempunyai kedudukan sebagai wakil presiden direktur RS ini.

Saat suami Widya tutup usia pada umur 68 tahun karena suatu penyakit yang dideritanya, mereka telah memiliki 3 orang puteri yang semuanya wajahnya mengikuti kecantikan Widya. Dan saat itu Widya telah bekerja lagi 3 tahun lamanya di RS ini.

Sekarang janda cantik ini, memiliki 3 orang puteri jelita, yaitu: Renita (18), Dwi Ayumi (15) dan Triastuti (12).

Demikianlah, para dokter senior di rumahsakit ini selalu menaruh penuh hormat pada wanita janda yang terlihat wajahnya masih cerah dan cantik saja, kalau tidak… mana mungkin dilamar dan dinikahi sampai mempunyai 3 orang dara yang manis dan cantik semuanya, maklum saja… sang suami yang gagah dan tampan adalah seorang dokter senior yang mempunyai jabatan tinggi dalam struktur managerial RS ini, sebagai Wakil Presiden Direktur dan yang mempunyai 20% kepemilikan atas asset RS ini secara keseluruhannya.

Seluruh dokter-dokter muda yang lama maupun yang baru masuk… tidak luput dari peringatan dari dokter senior yang jadi pejabat RS saat ini… agar jangan ‘macam-macam’ dengan suster senior yang janda tapi cantik jelita ini. Kalau dengan suster lainnya… terserah, dan jangan ‘takut’ kalau ketahuan affair ini… pasti akan dipecat dengan tidak hormat, ya… begitulah memang peraturan ketat yang berlaku di RS modern ini… harap maklum saja…!

Entah kenapa atau karena sesuatu hal, Diro mendusin bangun dari tidurnya. Dilihatnya suster senior Widya tengah asyik memandanginya. “Maaf sus… saya tertidur… mungkin kelelahan sehabis menyetir mobil dari luar kota…”, Diro meminta maaf sambil mengemukakan alasannya tanpa diminta.

“Bagus dik… telah bangun dengan sendirinya… kalau tidak… banyak air dingin disini! Hi-hi-hi…”, Widya tertawa lepas sambil bercanda dengan ramah.

Jadilah mereka terlibat percakapan yang cukup mengasyikkan diantara mereka berdua. Dari hasil percakapan yang ramah itu, barulah Diro mengetahui bahwa puteri sulung Widya, Renita yang seumuran dengannya (18 tahun) adalah teman kampus satu universitas tapi berbeda jurusan. Diro di jurusan Komputerisasi Industri, sedangkan Denita di jurusan Managemen Informatika.

Setelah diberitahu bahwa Diro tidak usah menunggu adik tirinya yang sedang dirawat ini… karena Dini baru siuman beberapa jam lagi akibat pengaruh obat tidurnya itu. Dan Widya menawarkan tempat untuk Diro melanjutkan tidurnya yang kurang nyaman tadi.

Herannya Diro menerima saja tawaran ini… malah dengan bersuka hati. ‘Apa salahnya aku menerima tawaran baik ini, lagipula kan datangnya dari ibu dari cewek sekampusnya, walau aku belum mengenalnya, lagipula aku lagi pegal memegang setir mobil itu’.

“Dengan satu syarat… panggil aku dengan sebutan mbak… begitu kita sudah keluar dari kamar ini!”, kata Widya menjelaskan pada Diro. Dalam pikiran Widya adalah janggal rasanya kalau dia mengakui Diro sebagai kerabatnya pada kolega sesama suster perawat lainnya, sementara Diro masih tetap memanggilnya dengan sebutan ‘sus’ atau ‘suster’.

Berdua keluar dari kamar itu, Widya memberitahukan kolega sesama suster dengan mengatakan bahwa dia ingin mengantarkan Diro, ‘keponakan’ yang kelelahan sehabis perjalanan dari luar kota dan ingin beristirahat di paviliun-nya yang letaknya di sisi timur RS ini, yang dulunya adalah tempat suaminya dulu melepaskan penatnya ketimbang harus pulang dulu kerumahnya hanya untuk rehat sejenak. Memiliki paviliun untuk beristirahat sejenak adalah hak istimewa bagi pejabat setingkat wakil presiden direktur RS dan tidak ada satu pun dari pejabat RS yang aktif sekarang untuk mempermasalahkannya, apalagi mengingat dengan kepemilikan 20% atas semua asset RS, sekarang paviliun itu dibawah kepemilikan Widya sebagai janda-nya.

Tidak memerlukan waktu lama, sampailah mereka di paviliun itu yang terletak dibalik kerindangan aneka ragam pepohonan yang rimbun. Widya membuka pintu depan-nya dan mempersilahkan Diro masuk kedalam. Suasana didalam paviliun ini sangat bersih dan ber-AC, layaknya ruang rawat-inap bagi pasien tertentu yang diistimewakan. Heran dan kagum Diro melihat semuanya itu.

Tahu akan keheranan Diro ini, kemudian Widya berbicara dan menceritakan segala sesuatunya dengan sejelasnya dan panjang lebar, termasuk tentang hal-ikhwal keberadaan paviliun ini. Semakin hormat dan kagum saja Diro pada suster senior ini. Widya membuka kamar tidur satu-satunya dalam paviliun ini, ada sebuah spring bed lumayan besar berukuran king size dan ada kamar mandi berikut toiletnya didalam kamar tidur ini.

Memang keseluruhan paviliun ini, terdiri dari ruang duduk yang lumayan besar dan satu kamar tidur yang komplit dengan kamar mandi dan toilet didalamnya, dan ditambah dengan kulkas dan coffee / tea maker dan sebuah lemari kecil yang digantung di dinding, yang berisi cangkir dan bahan-bahan untuk membuat minuman ringan lainnya. Sedang di ruang duduk ada seperangkat meubel kursi duduk, lengkap dengan sebuah sofa yang lumayan besar.

Widya mempersilahkan Diro untuk beristirahat diatas tempat tidur.

“Sebaiknya aku tiduran diatas sofa ini saja… mbak!”, kata Diro pelan saja. Yang langsung ditolak mentah-mentah permintaan Diro ini, yang dianggap Widya sedikit ngawur itu.

“Paviliun ini diperuntukkan untuk seseorang yang lelah dan ingin memulihkan tubuhnya dengan nyaman untuk mendapatkan kembali staminanya, dan bukan… untuk bercamping-ria dengan tidur diatas sofa! OK dik? Bisa dimaklumi… bukan? Hi-hi-hi… mbak sebentar lagi akan mengontrol pasien-pasien terakhir kalinya untuk hari ini yang selanjutnya akan diteruskan oleh team shift berikutnya, ya… kurang lebih sekitar setengah jam-an. Waktu yang cukup untuk dik Diro untuk memulihkan stamina kembali atau… masih kurang apa? Mungkin begadang ya tadi…? Hi-hi-hi… biasa, namanya orang muda jaman sekarang… hi-hi-hi…!”, belum juga sempat Diro memberi komentarnya, Widya berlalu keluar dari dari dalam paviliun itu dengan tak lupa sebelumnya meninggalkan anak kunci pintu tergantung bebas ditempatnya dalam ruang duduk itu.

Dengan perasaan rada sungkan, Diro membaringkan tubuhnya ditas spring bed yang yang bebantal sangat empuk. Akhirnya karena rasa lelahnya, Diro tertidur kembali dengan pulas…

***

Sayup-sayup terdengar langkah kaki masuk kedalam kamar tidur itu, yang menyebabkan Diro terjaga dari tidurnya yang lumayan pulas dan cukup lama. Tapi Diro tidak segera bangun dan membuka matanya, tapi dengan memicingkan matanya sedikit terbuka ingin melihat siapa orang yang baru datang itu, yang ternyata… suster senior Widya… yang dengan tenangnya tanpa curiga sedikit pun, ingin bersalin pakaian dengan baju biasa yang dikenakan saat dia pagi tadi masuk ke RS, untuk memulai tugas rutin pada RS ini

Dengan tenangnya Widya membukai pakaian seragam dinas kerjanya, satu persatu didepan… Diro yang tengah berbaring miring menghadap tubuhnya bagian belakangnya. Saat Widya ingin melepas potongan terakhir dari pakaiannya, yaitu CD tipis-nya, sempat Widya melirikkan mata jeli-nya yang indah pada cermin meja rias yang berada didepannya dan menghadap pada tempat tidur. ‘Wah… dasar remaja matang yang punya insting tajam adanya tubuh wanita telanjang didekatnya…!’, dilihatnya Diro penuh antusias memandangi tubuh telanjangnya dari belakang.

Segera Widya menyalakan satu lampu lagi biar kamr tidur bertambah terang, sambil berkata, “Asyik…! Jelas kan sekarang melihat tubuh telanjang mbak”, kata Widya menyindir Diro yang sekarang tengah tersenyum malu… segera saja Widya meloloskan CD tipis lewat kaki-kaki mulusnya… komplit sudah… Widya kini bertelanjang bulat tapi masih membelakangi Diro yang masih memandang tubuh indah bagian belakangnya… biar dengan persaan malu, tetapi matanya melotot menatap nanar pada tubuh wanita telanjang yang berdiri membelakangi didepannya saat ini. Kata Widya selanjutnya yang mengoda Diro yang masih saja melanjutkan aksi nakalnya itu.

“Kalau dengan angka 1 sampai 10… berapa ponten untuk tubuh mbak menurut penilaiamu… dik Diro…?! Hi-hi-hi…! 4 ya?!”, tanya Widya dengan nada menuntut jawaban dari Diro yang genit ini.

Mau tidak mau, karena tertangkap basah serta dituntut jawabannya itu. Kepalang tanggung deh, dijawab dengan mantap. “Enam… mbak!”, jawab Diro singkat saja.

“Emangnya memberikan nilai 6, alasannya apa… hayooo…!”, tanya Widya lagi.

“Nilainya masih agak subyektif mbak! Kan… baru tubuh bagian belakangnya saja yang terlihat…!’, Diro mulai berani mengungkapkan fakta karena telah dikasih peluang untuk itu.

“OK… deh! Bilang aja pengen melihat tubuh telanjang mbak seutuhnya…! Sekarang berapa ponten-nya…?!”, tanya Widya yang sekarang telah berdiri menghadap Diro dengan bertelanjang bulat… bukan main indahnya, yang seketika menggoda dan menggelitik hebat gelora gairah bagi siapa saja yang diberi kesempatan melihat tuhuh indah, cantik jelita ini… putih mulus dan halus sekali kulitnya. (NB: ponten = angka penilaian)

Payudara yang penuh berisi, besar montok berukuran BH 38B. Diro memandang tajam payudara indah milik suster senior Widya yang lagi berdiri tegak dan bertelanjang bulat. Pasti bobot payudara itu lumayan berat, tapi… gayutan amat sedikit hampir-hampir tak terlihat. Munkin orang-orang takkan percaya bahwa tubuh telanjang cantik jelita ini ini telah memiliki 3 dara yang cantik-cantik semuanya… bahkan puteri sulung seumuran dengan Diro.

Gelagapan jadinya Diro menatap tubuh telanjang bulat didepannya… terpesona oleh segala kecantikan dan sangat berpengaruh hebat pada tingkat libido-nya saat ini.

Widya membiarkan momen yang penuh kejut, pesona dan birahi ini untuk beberapa saat lagi… Setelah dirasa waktu yang dibiarkan berlalu… dirasakan cukup, Widya menuntut kembali ponten untuk tubuh telanjang bulat ini.

Tersadar Diro dari terpaan gelombang gairah yang dipancarkan oleh tubuh indah didepannya, Diro menjawabnya dengan spontan!

“Tujuh… mbak…!”, kata Diro singkat saja karena tidak mampu mengungkapkan dengan kata-kata yang lebih panjang lagi.

“Alasannya apa sayang…?!”, tanja Widya yang sekarang sedang dirundung sangat hebat oleh gejolak gairah dan birahi yang sangat besar, yang… setelah menunggu selama 5 tahun tanpa henti barulah sekarang… rasa itu datang mengunjungi dengan sukarela… <seerrr…!> inilah adalah semprotan kecil yang kedua setelah semprotan kecil pertama yang terjadi dikamar pasien tadi… dimana Dini tertidur dalam pengaruh obat tidur yang diberikan oleh team dokter yang handal tadi pagi.

“Kan Diro belum… mencicipinya…!”, jawab Diro sangat berhati-hati.

“Rupanya kamu ingin mencobai mbak ya…!”, jawab Widya gregetan penuh nafsu. “OK… simpan dahulu penilaian akhirmu, setelah… aksi bersama kita… tuntas diselesaikan!”.

Segera Widya mendekat dan melancarkan ciuman dan FK yang menggebu-gebu… penuh nafsu. Berkutatan seru kedua lidah mereka, membelit sambil berkelit dengan amat sengit!

Setelah FK yang mereka lakukan dirasakan cukup, dengan cekatan penuh birahi tinggi yang nyaris tak terkendali… langsung membuka jeans berikut CD milik Diro yang masih terlentang pasrah. Dengan suara agak serak gara-gara FK hebat tadi Widya memberitahu Diro.

“Copot T shirt-mu, cepat sayang…! Biar… kita seimbang jadinya… hi-hi-hi… sama-sama telanjang bulat gitu…! Hi-hi-hi…”.

Dengan kesigapannya yang mencengangkan Diro yang dengan serius mengikuti gerak-gerik Widya yang sedang dirundung kecamuk gelora nafsu yang ingin segera dipuaskan… Widya berjongkok diatas penis tegang milik Diro, diarahkan palkon-nya dan diarahkan dengan melewati katupan labia majora yang terkuak oleh terjangan lembut batang penis keras itu dan terhenti menutupi mulut gua nikmat dalam vagina Widya yang telah menanggung dahaga seksual selama 5 tahun tanpa henti… disertai dorongan pinggul penuh dan mulusnya kebawah… <bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis keras milik remaja matang Diro. Keluar-masuk… keluar-masuk… semua pompaan nikmat ini diatur oleh gerakan naik-turun pinggul mulus Widya, dengan gaya WOT, yang… sepenuhnya dikendalikan oleh Widya yang penuh semangat yang menggebu-gebu ingin mendapatkan orgasme-nya dengan segera… yang sangat didambakannya selama 5 tahun terakhir ini.

Diro hanya bisa meremas-remas kedua buahdada montok yang masih kenyal saja dan amat indah ini… tidak lupa diselingin dengan plintiran hasil kerjasama 2 jarinya yang nakal, telunjuk dan ibujarinya yang sangat kompak melakukan aksinya pada puting kiri dan dan kanan puting mungil dan indah yang terasa mulai mengeras…

Justru ulah nakal jari-jari kedua tangan Diro yang rada kesat dan kekar, menyebabkan gerakan otot-otot seluruh dinding lorong dari gua nikmat dalam vagina legit Widya seperti ‘dipaksa’ mencengkeram lebih erat dan kencang sekali, bahkan… sekarang bagaikan sedang mengemut-emut seluruh pemukaan batang penis Diro yang sangat keras itu. Tanpa disengaja terlontar seruan penuh rasa nikmat dari mulut Diro. “Oh… mbak-ku sayang! Ini baru pertama kali Diro merasakan jepitan vagina yang bisa begitu nikmatnya. Haajooo mbak! Nggak pake lama lagi… ngenjot yang kencang… lebih sepat lagi…! Biar kita klimaks bareng-bareng… akan semakin nikmat jadinya… oohh… mau muncrat nih…!”, seru Diro sudah tidak tahan ingin segera klimaks.

“Iya Diro sayang…! Oooh nikmatnya…! Kita akan sa…”, tak sanggup sudah Widya menuntaskan perkataannya…

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Pasangan seks tua-muda ini, kelihatannya sangat serasi sekali, dan… mendapatkan masing-masing orgasme-nya secara bersamaan serta dengan cara yang… sangat sempurna sekali…!

Terhempas tubuh telanjang yang jelita Widya, menindih tubuh telanjang sang remaja matang… bagaikan tak bertenaga.

Keduanya berdiam diri sejenak sampai rasa nikmat orgasme itu menghilang dengan sendirinya… entah kemana, tetapi kepuasan bersenggama itu akan bertahan relatif lama, bisa berjam-jam, bahkan bisa berhari-hari, sampai yang bersangkutan terpengaruh keinginan untuk ngeseks kembali… baik secara sadar ataupun tak tak sadar karena pengaruh dari panca indera ybs sendiri. (misalnya lewat indera penglihatan: filem bokep, bacaan dewasa atau lewat mulut misalnya pil perangsang atau rangsangan langsung pada organ-organ tubuh yang sensitif, dsb).

Sambil menggulirkan tubuh cukup sintal, Widya berbaring terlentang disamping kekasih remajanya dan berbisik, “Belum ketahuan ya ponten-nya?”.

“Belum…!”, jawab Diro singkat mengikuti keinginan Widya itu akan ponten-nya. “Tadi adalah gaya WOT… mbak, yang berperan aktif 95% adalah sang cewek. Sedang gaya MOT yang klasik wajib dilakukan agar dapat kesimpulah yang obyektif, he-he-he…!”.

“Emangnya kamu masih kuat dengan gaya yang lain..?”, kata Widya dengan mimik tak begitu yakin. Untuk membuktikannya, tangannya yang halus serta jari-jarinya yang lentik memegang penis yang masih tegang tapi tidak terlalu kaku dan keras seperti sebelum mendapatkan orgasme-nya. “Penismu ini, meskipun masih besar tapi sudah melunak… sayang…?!”.

“Gampang! Tidak usah dikhawatirkan mbak… elusan tangan mbak yang lembut ini juga bisa membuat penis-ku tegang kembali, tetapi… tergantung kepiawaian jari-jari tangan ceweknya atau…”.

Perkataan Diro langsung dipotong karena Widya ingin tahu apa yang dimaksudkan kekasih remajanya ini. “Contohnya seperti apa… ayoo…?!”.

“Oral-sex…!”, jawab Diro singkat dengan santai.

“Kamu menyepelekan mbak ya… sayang! Apa kamu lupa? Mbak adalah seorang suster senior lho… hi-hi-hi… sembarangan!”, jawab Widya dengan dongkol.

“Buktikan saja…! Action now, talking then!”, kata Diro sambil menantang mesra sang kekasih yang suster itu.

Buru-buru Widya duduk diatas tempat tidur dan segera mendekati penis Diro yang masih tergeletak lemas.

“Akan mbak buat penismu muncrat berkali-kali dalam mulut mbak”, kata Widya dengan kesal tapi mesra gitu.

“Eh-eh… jangan mbak… itu sih buat besok-besok saja… kan kita mau nge-MOT…”, kata Diro yang langsung dipotong oleh Widya.

“Iya bener… mbak mau ngemut penis-mu biar… tahu rasa!”, kata Widya masih kesal tapi mesra.

“Katanya mau di-ponten…! Harus melalui gaya MOT dulu dong…!”, bujuk Diro sambil merayu kekasihnya ini.

“Oohh… begitu toh? OK deh… dispensasi untuk hari ini saja, tapi besok-besok… tiada MOT bagimu… Sayang! Hi-hi-hi…”, jawab Widya terus menggoda kekasih muda-nya ini.

Dimulailah oral-seks itu… Widya memang asli ahli-nya. Belum juga sampai 5 menit dengan emutan mulutnya dahsyat, membuat batang penis Diro menjadi sangat tegang… bahkan lebih panjang sedikit dari saat ML pertama tadi. Widya berhasil mengundang aliran darah dalam tubuh Diro lebih banyak lagi memenuhi dan mengisi batang penis Diro yang sekarang menjadi tegang dan memanjang.

“Nah… terbukti kan…! Hi-hi-hi… ayo cepat nge-MOT sama tubuh mbak… nggak pake lama deh, hi-hi-hi…!”, kata Widya rada pongah tapi mesra.

Segera mereka berganti posisi, Widya yang berbaring terlentang dengan mengangkangkan paha mulusnya lebar-lebar.

Diro bukannya langsung menindih tubuh telanjang Widya, malah ngedeprok didepan vagina yang klimis, karena bulu pubis-nya talah dicukur habis dan langsung melancarkan oral-sex balasan. Tindakan Diro ini mengundang protes keras dari Widya.

“Eh-eh… sayangku bukan itu! Hayooo… eem-oou-tee! MOT-MOT…!”, kata Widya sambil bergelinjang pinggul geli-nikmat campur-aduk jadi satu. “Udah-udah-udah… kenapa…! Aduuhhh… nikmatnya… ooh-ooh-ooh… benar-bener nikmat… sebodoh aaah…! Pokoknya mbak terima enak aja deh… terserah deh mau diapain…!Oohhh…!”, <seerrr…!> “Cepetin sayang… emutannya… mau klimaks nih…!”, kata Widya sambil kepala dan pinggul mulus bergoyang-goyang tak beraturan.

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> beres sudah Widya mendapatkan orgasme-nya lebih dahsyat dari yang pertama!

Tapi belum beres untuk Diro sang remaja yang perkasa, dengan sigap menindih tubuh telanjang bulat Widya, dengan dibantu dengan tangan kanannya, memegang batang penisnya yang keras dan mengarahkan palkon-nya pada mulut depan pintu masuk gua nikmat dalam vagina legit Widya yang klimis serta dibantu dengan dorongan sedikit pinggul remajanya kebawah, dan…

<Bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis remaja Diro yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah dari pinggul remaja perkasa ini. Tak terkira rasa nikmat yang dirasakan oleh Widya… terbayar sudah masa penantiannya selama 5 tahun… sudah!

Pompaan-pompaan nikmat berlangsung lumayan lama… mendekati menit keduabelas… gerakan tubuh mereka sudah tak terkendali lagi, dan…

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>.

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Mereka mendapatkan orgasme berbarengan lagi, bak pasangan nge-seks yang benar-benar sudah ‘chemistry’ sekali menurut istilah kata orang-orang politisi disana…

Buru-buru Diro mengulirkan tubuh telanjangnya dan berbaring paralel terlentang berdampingan.

Kali ini rasa nikmat orgasme itu menghilang agak lama sedikit… tapi yang pasti akan tuntas menghilang juga dengan sendirinya meninggalkan rasa puas yang telah membukit.

Sempat-sempatnya Widya bertanya, “Berapa sayang… ponten-nya…?”, (zzz…) (zzz…) (zzz…) alam sadarnya sudah melalang-buana dinegeri dimanakah itu…? Orang-orang hanya tahu nama julukannya… ‘negeri antah berantah’ yang sunyi tapi penuh kedamaian.

Diro menyusul kemudian, tapi masih sempat juga menyawab pertanyaan Widya tentang ponten yang didapatnya… “Tak berhingga…”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*