Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 3

Istana Pasir Milik Sang Ayah 3

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 2

Bagian 3 – Piknik Menemui Ibunda Tercinta (revised)

Sekarang hari Sabtu. Pukul 6:30 pagi hari, angin segar dan sejuk di daerah seputar perbukitan menerpa pipi kanan di wajah Diro yang ganteng dan maskulin, lewat buka-an kaca pintu kanan mobil ‘*and*over’-nya yang usianya sudah lumayan ABG alias 11 tahunan.

Setelah hampir dua setengah jam mengendarai mobilnya, melalui jalan rata tapi berbatu-batu… didaerah lahan pertanian milik kakeknya, Darso… sampai juga Diro dipelataran depan rumah kuno yang besar, yang ditempati kakeknya bersama anak perempuan tunggalnya, Daniati, ibu kandung Diro yang hidup menjanda meskipun masih lumayan muda, 37 tahun sudah usianya.

Berdiri didepan pintu masuk rumah yang tinggi dan lebar… khas pintu depan rumah besar seperti dikala ‘tempo doeloe’. Diro mengambil BB-nya dan menghubungi ibunya yang ada didalam rumah… tepatnya entah dimana.

“Halo ma… Diro sedang terkurung diluar, didepan pintu masuk rumah nih…! He-he-he…”, Diro menyapa ibunya via BB sambil berkelakar.

Sayup-sayup terdengar bunyi langkah kaki bersendal, melangkah tergesa-gesa dari dalam dan mendekati pintu depan rumah.

<Cekleekkk!> suara anak kunci pintu diputar, kemudian <kriieeett…> bunyi suara pintu kamar dibuka lebar, daun pintu pun bergerak memutar masuk kedalam rumah.

Segera saja sang ibunda, Daniati mendekap erat penuh kasih tubuh Diro, putera tunggalnya yang tegap dan kekar. Buru-buru Daniati melepaskan dekapannya dan mundur 3 langkah kebelakang.

“Gagah sekali kamu, Dir…! Kamu ini disana, sebenarnya jadi… seorang tentara atau mahasiswa sih…?!”.

“Mama-mana… mama-ku yang jelita…! Aku jaruh cinta pada pada pandangan pertama! He-he-he… Diro masih tetap jadi seorang mahasiswa ma! Tapi mau dibilang jadi tentara juga tidak mengapa… Diro jadi komandan sekaligus jadi anakbuahnya… he-he-he…!”, kata Diro masih saja berkelakar yang pada pandangan matanya saat ini… ibu kandungnya semakin cantik dan ceria saja… seakan tidak pernah mengalami perceraian yang relatif belum lama (5 bulanan).

“Kamu masih belum berubah bagi mama… kerjanya guyon… melulu!”, kata Daniati sang ibunda Diro yang tercinta.

<Brrrz…> <brrrz…> Tubuh kekar Diro menggigil kedinginan diterpa angin sejuk dari sekitar lahan daerah pertanian yang tingginya 500 m dpl (dari permukaan laut) ini, maklum saja… Diro hanya mengenakan T-shirt dan jeans.

“Kalau dingin, ya… sudah! Pintunya ditutup saja…”, kata Daniati pada Diro yang mnggigil merasa dingin tubuhnya.

“Heittt…! Jangan ma! Dipeluk mama sekali lagi saja… juga hilang rasa dinginnya!”, ujar Diro seperti asal… padahal ada maksud yang tersembunyi rupanya.

Segera mereka, ibu dan anak lelaki tunggalnya, berpelukan mesra kembali. Saat mendekap tubuh ramping dan indah ibunya, Diro memutar kedua tubuh mereka yang masih menempel ketat, sehingga sekarang posisinya, tubuh ibunya berada didekat pintu yang terbuka lebar dan menghadap kedalam rumah jadinya. Pada posisi inilah, Diro melancarkan French Kissing pada ibunya yang sekarang tidak bisa merontakan tubuhnya karena sedang didekap sangat erat oleh kedua tangan kekar Diro, remaja matang ini. Akhirnya… mau tidak mau, Daniati membalas ciuman dan belitan hot lidah-lidah mereka dengan sukarela dan bergairah…

Saat Diro ingin mengalihkan wajah ke arah lain… saat inilah Daniati bisa melepaskan tautan kedua mulut mereka yang tadinya menempel sangat lekat.

“Akhirnya… terlepas juga…! Hi-hi-hi… mama bisa bernapas lega sekarang”, kata Daniati sambil menarik napas panjang dan dalam.

“Emangnya… tadi mama jadi sesak napas, apa…?”, tanya Diro rada kuatir, takut telah menyakitkan tubuh ibunya.

Melihat raut wajah ganteng yang maskulin Diro yang dahinya mengerenyit seperti sedikit merasa kuatir rupanya, dengan bertolak pinggang seperti gaya wanita model yang beraksi diatas ‘catwalk’.

“Bukan begitu sayang…! OK mama jelaskan dahulu, karena mama lihat kamu sudah sangat matang seperti pria dewasa, maka mulai detik ini mama akan berbicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling lagi… pokoknya tidak boleh ada rahasia-rahasiaan diantara kita…! Mama pastikan… kamu telah melakukan ML dan… mama tidak mau tahu siapa nama ceweknya. Yang jelas dan mama yakin 100% asli, cewek itu tidak ada hubungan yang khusus denganmu…!”.

“Kok mama tahu sih…?”, tanya Diro singkat.

“Ya jelas tahulah, kan… mama mengandung dan melahirkanmu meskipun lewat operasi caesarean! Apa lagi kamu kan sekarang tidak datang kemari bersama cewek ngeseks-mu itu. Mengenai tadi tentang sesak napas dan FK… asal kamu tahu saja, kalau mama di-FK dengan lembut tapi hot… efeknya bisa kemana-mana… tau!”.

“Misal apa itu ma…?!”, tanya Diro kepengen tahu.

“Percuma…! Masak sih… ngasih tahu sama orang yang sudah tahu lebih dulu… jangan ngelabuin mama deh!”, kata Daniati sambil memandang ganteng Diro dan… selusuran pandangan mata anaknya… ternyata bermuara pada sekujur tubuh bagian depannya. ‘Bener-bener deh! Dasar remaja sudah matang sekali! Mana aku hanya memakai gaun tidurnya yang tipis tanpa memakai daleman lagi! Kan sebelum ditelepon Diro tadi… pas aku ingin melangkah masuk kedalam kamar mandi… ya… untuk mandi lah!’.

Pasti sekarang Diro sedang asyik memandang tubuhnya yang seakan telanjang bulat, bagaimana tidak… dengan berpakaian begini Daniati berdiri membelakang arah datangnya cahaya! Mana diluar… langit tumben-tumbennya lagi sangat cerah sekali.

“Minta ampun deh…! Si cucu sama opa-nya, bener-bener… setali tiga uang hi-hi-hi…!”, kata Daniati sambil mnggeleng-gelengkan kepalanya.

“Emangnya Diro sama opa, apanya yang sama ma?!”, tanya Diro lagi berpura-pura atau memang tidak tahu?

“Bokis-nya sama, pura-pura tidak tahu-nya juga sama, kalau ada sesuatu yang diinginkan pasti dengan matang direncana secara teliti dan optimal…! Pokoknya… segalanya… semua sama deh!”.

“Aah… mama! Buktinya apa… Ayo?! He-he-he…!”, tanya Diro sambil tertawa cengengesan.

“Nih lihat gaun mama yang tipis ini…!”.

Diro yang tahu dia sudah tertangkap basah karena telah mengawasi dan menikmati tubuh ‘telanjang’ ibunys, jadi nyengir malu!

Lanjut sang ibunda, “Kamu pikir… gaun tidur tipis ini… mama yang beli apa…?! Kalau mama… pasti beli gaun tidur yang tebal… ketahuan bisa menghangatkan badan! Kamu aja pagi hari begini… mana langit cerah dan matahari bersinar terang, eh… kok bisa kedinginan. Nanti malam… coba rasakan dinginnya yang ‘mengasyikkan’…”, langsung saja perkataan Daniati dipotong oleh Diro.

“Nggak mungkin deh ma! Kan ada… mama… he-he-he…”, kata Diro dengan lancar membantah ibundanya.

“Huusshh… nggak usah mikirin sampe kesitu-situ dulu…”.

Akhir karena merasakan kedinginan karena terpaan angin sejuk yang makin santer bertiup kedalam rumah lewat area pintu depan yang terbuka lebar, buru-buru pintu depan itu kembali ditutup rapat-rapat dan kembali dikunci kembali.

Sambil bergandengan tangan melangkah menuju kursi tamu yang terdekat. Ketika Diro mau duduk diatas kursi yang terdekat… tangannya ditarik oleh ibunya.

“Jangan jauh-jauh kenapa?! Kita duduk berdekatan saja diatas sofa biar hangat. Lagi pula mama jadi tidak perlu ngomong keras-keras padamu”, kata Daniati pada Diro.

“Emangnya Diro tuli apa?!”, kata Diro agak memberengut pada ibunya.

“Bukannya tuli… sayang! Tapi suka pura-pura tidak mendengar, tau!?”, kata Daniati juga dengan rada dongkol. “Baiklah mama ceritakan dari awal… agar kamu tidak kaget nantinya dan… malah teriak-teriak jejeritan, hi-hi-hi…!’, kata Daniati mengoda anaknya.

“Mengenai apa tuh ma? Lagipula kapan Diro teriak…? Coba kasih tahu kapan ayoo!”, kata Diro rada keki dikatakan suka teriak-teriak.

“Mungkin saja teriak-teriak dan menjerit dalam hati… gitu lho! Hi-hi-hi…”, kata Daniati masih terus saja mengoda anaknya yang sudah menjadi remaja matang ini.

Kemudian Daniati bercerita panjang lebar tentang sesuatu yang telah terjadi didalam keluarga dari 3 generasi ini…

***

3 bulan setelah perceraian Daniati dan Danang (atau 2 bulan sebelumnya dari sekarang). Peristiwa yang menyakitkan hati dan yang nyaris hampir meruntuhkan mental Daniati pada titik nadir…

Sore hari di daerah perbukitan yang tingginya sekitar 500 m dpl, didalam sebuah rumah kuno yang besar dan yang seperti satu-satunya rumah disana… Daniati duduk sendiri diatas sofa yang besar (yang bisa digunakan untuk tidur bagi seorang pria dewasa… kalau diperlukan).

Mentari mulai tenggelam di ufuk barat, angin malam berhembus perlahan… membuat suasana lahan yang tadinya sejuk semakin dingin saja. Lampu-lampu penerangan disekitar rumah termasuk pelataran dan jalan depan rumah sudah menyala dan… akan terus menyala sepanjang malam sampai pagi datang menjelang. Tidak perduli, apakah listrik negara dari gardu pusat terdekat mau dimatikan atau tidak… karena bila terjadi sesuatu, maka generator rumah akan tetap menjaga nyalanya lampu penerangan rumah sepanjang malam… secara otomatis. Memang bangunan rumahnya saja yang kuno, tapi peralatan pendukung dalam rumah semuanya modern dan canggih.

Soal keamanan tidak usah diragukan, ada satu pos penjagaan untuk setiap sisi rumah besar itu, yang letaknya tersembunyi dan terhalang oleh pepohonan penghias rumah agar asri kelihatannya.
Lagi pula agak jauh dibelakang rumah ada barak yang nyaman untuk tidur para petugas keamanan untuk seluruh wilayah lahan pertanian milik pak Darso itu.

Rumah tetangganya yang terdekat adalah perumahan kecil milik para pekerja tani yang bekerja pada lahan pertanian yang luasnya 200 hektar itu, dan jaraknya dengan rumah kuno yang besar milik si empunya pertanian luas ini ada mungkin sekitar 2000 meter-an.

Daniati masih teringat pada sore hari itu, saat jam pulang dari kantor setiap harinya. Danang (38 th), suami Daniati yang sore itu berbicara pada Daniati untuk minta ijin padanya untuk menikahi Weni (36 th), kekasih barunya.

Daniati terkejut mendengarkan, tetapi dengan kalem dia berkata bahwa apa yang diinginkan Danang adalah urusannya sendiri, dan tidak perlu meminta ijin padanya… asalkan Danang menceraikan dia dahulu sehingga tidak ada seorang pun yang akan tersakiti hatinya. Waktu itu Diro berada di luar kota mengikuti study tour dari kampusnya.

Sebenarnya Danang tidak jatuh hati pada Weni, dia lebih terpesona pada wajah dan tubuh mulus anaknya Weni, yaitu Dini (18 th) ketika dikenalkan oleh Weni padanya…

***

“Ehh-heemm…!”, pak Darso pura-pura berdehem, untuk memberitahu kedatangannya sambil mendekati Daniati, puteri tunggalnya yang lagi duduk termenung dan ngelamun. “Boleh papa duduk disampingmu…?”, yang belum juga dijawab… sudah duduk saja disamping Daniati.

“Kenapa pula harus meminta ijin sama Ati, ini kan rumah papa sendiri…?!”, jawab Daniati menjadi senang hatinya, karena ada ayahnya yang masih gagah saja pada usia yang 57 tahun ini… duduk menemaninya disaat udara semakin sejuk saja.

“Tidak-tidak… itu sedikit keliru, yang benar adalah ini rumah milik seluruh keluarga besar kita. Tempat kita berkumpul dan tempat yang aman untuk kamu… ngelamun! Ha-ha-ha…!”, tawa Darso mengajak Daniati lebih bersikap ceria kembali. “Kalau cowoknya tidak setia… gampang! Cari saja penggantinya, papa ingin tahu siapa sih yang mampu menolak seorang wanita muda, mana cantik lagi… sepertimu ini… Ha-ha-ha…!”.

“Papa-papa… kalau Ati boleh bertanya…”, kata Daniati sengaja ‘menggantungkan’ perkataannya. Sehingga Darso yang mendengarkan menjadi heran karenanya.

“Apa itu…?”, tanya Darso singkat saja.

“Boleh tidak? Jawab dulu dong… papa-ku sayang…!”, kata Daniati meminta jawaban dari ayahnya.

“Asyik…! Sudah lama papa tidak mendengar kata terakhir darimu itu… Apa sih yang tidak boleh untuk puteri tunggal papa… maksudnya mau memarahi papa-mu… silahkan… papa sudah lama kok tidak dimarahi orang… ha-ha-ha…”, jawab Darso sambil tertawa lepas.

“Mendengarkan tawa papa itu… menghilangkan sangat cepat rasa sedih yang ada didalam… Ati…”, kata Ati dengan lembut berterus terang.

“Cuma itu saja…? Kirain sih ada apa… begitu”, kata Darso heran.

“Eh… belum! Sebenarnya Ati ingin bertanya tentang sesuatu… begitu lho pa!”, kata Daniati menjelaskan pada ayahnya.

“Oh… pertanyaan toh…? Tidak apa, silahkan tanya saja… di saku papa banyak kok jawabannya… ha-ha-ha…!”, kata Darso sambil tertawa lagi.

“OK. Papa mengalami ‘puber kedua’ ya…?”, tanya Daniati kalem saja dan ‘to the point’ saja.

“Kok nanya yang begituan sih… papa tidak mengantungi jawabannya”, jawab Darso gelagapan mendengarkan pertanyaan yang tak terduga dari puteri tunggalnya itu. “Kalau boleh tahu, apa penyebabnya sampai bertanya mengenai hal itu…?”, Darso balik bertanya.

“Penyebabnya banyak, sehingga Ati berani bertanya seperti itu pada papa… tapi jangan marah ya pa…?!”, tanya Daniati berhati-hati.

“Tidak-tidak… jangan pikirkan soal marah-marah… papa ditemani dalam rumah yang besar ini, sungguh membuat papa lebih bergairah… eh… maksud papa lebih berbahagia! Gitu lho…”, jawab Darso berterus-terang.

“Nah… benar kan pertanyaan Ati tadi, jawaban papa barusan juga bisa merupakan penyebab kuat kenapa Ati mengeluarkan pertanyaan itu…”, kata Ati semakin yakin bahwa ayahnya memang lagi ‘puber kedua’-nya.

“OK deh! Papa tahu apa yang kamu maksudkan. Papa akan mengakui segalanya… nanti setelah kamu mendengarkan itu semua… papa rela untuk dimarahi olehmu…”, akhirnya Darso merasa terpojok dan akan memberitahukan tentang perasaannya sejak Daniati tinggal bersamanya dirumah yang sangat besar ini. “Sejak kamu tinggal dirumah ini papa merasa sangat bahagia sekali. Apalagi tanpa sengaja melihatmu berdiri didekat pintu depan yang terbuka lebar… sedang menyapu dan… mengenakan gaun tidur yang tipis yang papa hadiahkan untukmu pada ulang tahun 37 tahun belum lama ini. Jadi sejak kedatanganmu kembali kerumah ini… papa merasa bahagia dan bergairah sebagai seorang pria… jadi benar apa yang kamu tanyakan tadi, memang papa sedang mengalami ‘puber kedua’…! Nah sekarang giliranmu untuk memarahi papa…”, kata Darso pasrah tapi lega telah mengungkapkan perasaannya pada puteri tunggalnya, Daniati yang sudah menjadi janda tapi kecantikan masih mempesona yang mengingatkan pada isterinya yang juga ibu kandung Daniati yang sudah lama tiada…

Daniati menjawab dengan kalem saja atas semua pengakuan ayahnya yang jujur dan terbuka itu, “Emangnya… papa saja yang boleh berbahagia dan bergairah… Ati juga sama lah…! Malam ini Ati rasakan semakin dingin saja dari hari-hari sebelumnya. Bagaimana kalau Ati mengajak papa untuk tidur bareng saja… biar hangat dan…”. perkataan Daniati langsung dipotong saja oleh Darso.

“Siapa takut? Ha-ha-ha…!”. Tapi tawanya terhenti seketika karena… ditutup oleh tautan bibir sexy Daniati yang langsung melancarkan ‘serangan’ FK-nya yang bertubi-tubi…

***

Tercengang Diro mendengarkan cerita Daniati, ibundanya yang tercinta.

“Ini cerita roman yang paling indah yang baru pertama kalinya Diro mendengarnya!”, kata Diro mengomentari cerita Daniati barusan.

“Huusshh… ini bukan cerita roman, ini adalah pengakuan mama padamu sayang…!’, kata Daniati.

“Kalau begitu Diro harus merubah komentarnya, tapi mama harus memejamkan mata indah mama dahulu… sebab setiap kali mata indah mama memandang… Diro tidak bisa konsens berpikir jadinya”, kata Diro melancarkan taktiknya.

Daniati yang pura-pura tidak mengetahui rencana Diro yang mulai nakal ini… memejamkan kedua mata indahnya. Belum juga sedetik dia memejamkan mata… terasa tautan bibir Diro yang lidah nakalnya langsung menembus ‘barikade’ bibir Daniati yang seksi serta mengerayang-gerayang didalam mulutnya… mencari lidahnya yang begitu ketemu langsung melakukan teknik memiting, membelit… yang selanjutnya saling berbalasan. sementara French Kissing ini berlangsung seru dan bergairah… datang pula ‘bala bantuan’ dari jari-jari tangan kiri Diro yang ‘menguasai’ daerah perbukitan indah dari payudara Daniati yang sebelah kanan dan berakhir dengan ‘dibekuknya’ puncak bukit yang indah dengan ‘ringkusan’ oleh jari telunjuk dan jempolnya melakukan plintiran lembut pada pentil susu yang berwarna maroon muda itu.

Sontak terhenyak tubuh Daniati bersandar kebelakang pada sandaran sofa, merasakan sensasi nikmat yang tak terduga datang melanda pada daerah yang sensitif pada puting yang tidak terlalu besar, tapi ditopang oleh buahdada berukuran 36B yang montok dan masih sekal saja diusianya sekarang ini. Ketika Diro dengan penuh gaya memiringkan kepalanya kearah lain… terlepas sudah tautan kedua lidah yang tadinya asyik ber-FK seru.

“Aaahhh… Diro nakal sekali kamu… sayang, terbukti sudah… semua tindakanmu mirip sekali dengan tindakan opa-mu pada tubuh mama… oohhh… nikmatnya! Kok ‘nyerang’-nya nggak pake bilang-bilang sih… oohh… aaahhh…”, keluh Daniati, sang ibunda yang cantik jelita sambil mendesah penuh nikmat.

“Nah… baru tahu kan ma! Ini ‘serangan mendadak’ yang peraturannya memang tidak boleh ada pemberitahuan lebih dahulu, tapi… asyik kan ‘serangan’ Diro ini… he-he-he…!”, kata Diro genit sambil tertawa… sementara jari-jari tangan kirinya tidak menghentikan aksinya walau hanya untuk sedetik.

“Udahan ahhh… sayangku, mama mau mandi nih! Tadi waktu kamu menelpon… mama baru saja mau masuk kekamar mandi… ooh nikmatnya… hentikan jari-jari nakalmu ini, Dir…!”, kata Daniati lirih yang yang diselingi desahan nikmat.

“Mana bisa ma! Bukit yang kiri… belum lagi ‘dikuasai’, he-he-he…”, kata Diro yang ogah menghentikan aksi nakalnya pada tubuh indah mengairahkan milik ibunya ini.

“Yaaa… udahan kenapa…! Mama nyerah deh…! Kalau pun mau dilanjutkan, jangan di sofa ini… yang pasti sesudah mama mandi dahulu OK! Oooh…”, akhirnya Daniati mengaku ‘kalah’ dan membujuk Diro untuk menghentikan aksi nakalnya untuk sementara waktu.

“OK! ‘Deal!’ kebetulan Diro pagi subuh tadi langsung berangkat tanpa mandi terlebih dahulu, lagipula… ini sesuai anjuran teman Diro yang mengatakan tidak baik mandi terlalu pagi, he-he-he…!”, Diro akhirnya menyetujui ‘gencatan senjata’ ini dan berkilah tentang belum mandi dia yang ujung-ujungnya, pasti… minta mandi bareng bersama sang ibunda.

“Sok tahu temanmu itu Dir… emangnya siapa sih nama temanmu itu?”, kata Daniati yang sudah mengetahui segala ‘akal bulus’ putera tunggalnya ini.

“Namanya…? Maksud mama namanya kan…”. Tapi yang tidak diketahui Diro, saat ini ‘capitan’ jari telunjuk dan jempolnya yang lentik sudah siap untuk mencubit keras lengan bawah Diro yang kekar.

“Namanya adalah… Aduh mak…! Pake dicubit lagi”, teriak Diro seketika merasa kesakitan.

“Hi-hi-hi… baru tahu rasa sekarang! Ini juga baru balasan dari 2 jari mama… belum yang lain! Opa-mu yang tinggi besar saja… sangat takut sama 2 jari mama ini! Hi-hi-hi…! Asyik kan rasanya?!”, kata Daniati rada kesal tahu dipermainkan sama Diro. “Dan tidak usah memberitahu siapa nama temanmu yang ngawur itu… mama sudah mengetahuinya, nama ‘temanmu’ adalah… DIRO!”.

Buru-buru Diro berdiri dan kabur menjauhi ibunya… takut dicubit lagi… melihat posisi 2 jari itu mulai mendekat… pada lengannya tadi.

“Nggak disangka… kalau kepepet… senjata andalannya pake dipergunakan lagi! Pantesan opa kemarin aduh-aduhan dalam teleponnya”, kata Diro sambil nyengir masih merasakan sakitnya.

“Hi-hi-hi… sudah tahu kan sekarang? Dari itu jangan pandang enteng meskipun badan mama memang sih tidak terlalu berat sih… hi-hi-hi…”, kata Daniati puas akan keampuhan 2 jari andalannya itu.

***

Daniati dan Diro berdua, ibunda dan putera tunggalnya sudah bertelanjang bulat didalam kamar mandi. Wajar saja… kan mau mandi alias bersih-bersih diri.

“Diro… kamu berdiri dibelakang tubuh mama saja, dan jangan mencoba-coba melirik ke bagian depan tubuh mama, ini… adalah ‘very strictly area… you know!’. Mendingan ‘kerja-bakti’ dibelakang… tolong gosokin punggung mama…! Nih spons mandi-nya…”, kata Daniati santai sambil melipat sikut tangan kanan-nya kedepan sehingga spons mandi yang ada dalam genggaman telapak tangan kanannya pas ada didepan mata Diro jadinya. Sedang Diro saat ini, sedang mengagumi dan menikmati tubuh mulus ibunda-nya yang telanjang bulat bak tubuh Dewi Murni, seorang bidadari… yang sudah melepaskan kembem sutera ungu-nya dan tengah bermandi di… telaga dewa.

“Halo… ‘spada’ disana…?! Nih spons-nya sayang… Bener-bener deh… minta ampun! Ini akibatnya… baru juga… memandang punggung mama… gimana kalau diberi ‘green card’ untuk boleh melihat bagian depan tubuh mama, mmm… kamu bisa tidur berdiri sambil melotot ‘kali…! Hi-hi-hi…!”, kata Daniati sambil menyindir Diro yang lagi memandang punggung mulus ibunya dengan… terkesima!

Terkesiap Diro jadi tersadar mendengar suara ketawa ibunya yang lumayan keras. “Eehhh… apa ya…? Oke deh… Diro mengaku… sejujurnya memang benar dugaan mama… penis Diro sedang berdiri… siap beraksi! He-he-he…”, kata Diro menjawab ibunya dengan ngawur dan nyasar kemana-mana…

Daniati jadi sangat heran akan jawaban Diro yang ngawur itu… kok penis berdiri lah pake dibawa-bawa segala! Segera Daniati menoleh kebelakang…

“Yaaa… ampunnn deh Diro! Remaja matang mama yang ganteng! Kamu nafsu ya melihat punggung mama…? Gimana kalau ngelihat bagian depan yang hot seperti dibilang opa-mu beberapa hari yang lalu… aaahhh…!”, Daniati terhenti perkataannya seketika, karena Diro sudah memeluk dan mendekap tubuh telanjangnya dengan penuh gairah birahi yang berapi-api! Serta berbisik dekat telinga kanan Daniati…

“Lepaskan saja spons mandi itu, mama-ku sayang… jari-jari mama berpegangan erat pada lubang di dinding tempat sabun didepan mama. Mari nikmati gaya yang belum pernah mama rasakan dengan opa sekalipun…!”, bisik Diro penuh nafsu serta mengambil kendali semua aksi mesra penuh gairah ini. Kejadian incest antara ibu kandung dan putera kandung, sudah dapat dipastikan… akan terpenuhi sebentar lagi…!

“Kenapa tidak mandi dulu sayang… dan kita melakukannya dengan leluasa diatas tempat tidur mama…”, kata Daniati pasrah karena telah dirundung birahi dan mencoba membujuk anaknya. Hari ini adalah harinya bersama Darso, ayah kandung tercinta yang masih gagah saja. Mereka (ayah dan puteri) biasa melakukan hubungan incest / sedarah yang saling meredakan gejolak seks mereka bersama, biasa 3 atau 4 kali dalam seminggu, tetapi yang pasti selalu pada hari Sabtu dan Minggu yang tidak ada kegiatan kantor dan bisnis.

“Oh itu… jangan khawatir… juga akan kita lakukan bersama, setelah ini… lalu mandi, dan ditempat tidur mama…!”.

“OMG! Mama lupa… bahwa mama sedang dicumbu oleh seorang remaja matang yang gagah, yang tentu saja… melimpah ruah energi dan stamina-nya… Janji lho… sama mama… ada waktu rehat sejenak diantara ‘ronde-ronde’-nya… hi-hi-hi…”, Daniati pun sadar pria usia berapa yang sedang dihadapinya…?!

“Mama-ku sayang… yang sangat menggairahkan… memangnya kita lagi bertanding tinju… apa?! He-he-he… OK Diro janji!”, kata Diro mantap serta tangan-tangan kekarnya mulai meremas-remas buahdada kenyal dan montok milik mamanya… dari belakang. Sedangkan penis tegang bergerak maju-mundur diantara kedua paha ibunya yang mulus, dan… Diro mengupayakan palkon-nya menggesek-gesek mesra kelentit ibunya yang mulai bertambah keras karena sedang bernafsu!

<Seerrr…!> ada semprotan awal, cairan yang berfungsi sebagai pelicin yang melumasi pemukaan gua nikmat didalam vagina indah tapi klimis milik sang ibunda.

“Oh… Diro, anakku sayang… udah nggak pake lama lagi deh…! Kan ada ronde-ronde selanjutnya!”, kata Daniati yang jadi gregetan… langsung memegang batang penis Diro yang sangat keras, dan mengarahkan palkon-nya melewati katupan labia majora vagina Daniati… dan tertahan di jalan masuk gua nikmat yang lumayan sempit bagi palkon Diro yang ‘helm’-nya lumayan lebar. Tidak kurang akal, Daniati mendorong pinggul mulusnya kebelakang, dan…

<Bleeesss…!> Masuk sudah seluruh batang penis remaja Diro yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis remaja matang ini. Terpenuhi sempurna peristiwa incest / sedarah antara ibu kandung dan putera tunggalnya yang remaja matang itu. Senggama mesra yang dipenuhi bara api gejolak gairahnya dan birahi yang bertubi-tubi melanda kedua insan ibu dan anak ini… hanya bisa dipadamkan dengan siraman klimaks mereka berdua… tidak memerlukan waktu lama untuk menunggunya… paling sekitar 7 menit saja… ibu dan anak mendapatkan masing-masing orgasme-nya, dan semakin indah saja dirasa karena datangnya pada saat yang bersamaan.

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

<CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

***

Setengah jam kemudian sang ibu dan putera tunggalnya yang telah berpakaian rapi, sambil bergandengan pinggang menuju meja makan kecil yang berada diruang dapur untuk menikmati sarapan dan masing-masing minum secangkir coklat asli, hasil dari kebun sendiri…

<cekleekkk!> suara anak kunci diputar pada pintu belakang ruang dapur

Ada sesosok kepala dari STW muncul melongok kedalam dapur. “Eehhh… maaf bu!”, buru-buru kepala STW itu keluar dan menutup kembali pintu itu. Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan pada pintu itu <tok-tok-tok…>, dan yang diluar menunggu jawaban dari dalam.

“Ya…! Masuk saja mbak Surti… silahkan”, kata Daniati menjawab ketukan pelan pada pintu itu.

“Terimakasin bu Ati… selamat pagi bu… selamat pagi den…!”, jawab mbak Surti yang telah masuk kedalam ruangan dapur itu sambil membawa sayur-mayur segar dan belanjaan lainnya untuk keperluan membuat masakan. Mbak Surti, STW yang berumur 40 tahun ini, bukanlah PRT tetapi karena pengalamannya yang telah lama menjadi jurumasak di restoran lumayan besar dikota besar terdekat. Dia kembali ke kampung halamannya didekat area perkebunan yang luas ini, karena diberitahu oleh tetangganya yang baik hati bahwa pak Darso, pemilik perkebunan ini sedang mencari jurumasak untuk dirumah beliau sendiri.

“Sekali lagi maaf bu… habis gorden-nya tertutup sih! Jadi tidak bisa mengintip siapa saja yang ada didalam dapur hi-hi-hi…”, kata mbak Surti memberitahu alasannya atas kesembronoan kecilnya tadi.

“Emangnya mbak Surti suka mengintip ya… hi-hi-hi…!”, kata Daniati bercanda.

“Nggaklah bu… awal mulanya sih hampir tidak pernah, malahan kalau… dintip sih sering banget deh… malah hampir setiap hari… lagi!”, jawab mbak Surti sambil tersenyum.

“Dimana dan oleh siapa… mbak?”, tanya Daniati ingin tahu dan… sembari menyentuhkan ujung jari-jari kakinya pada betis kiri Diro yang sedang asyik menikmati minuman coklat panasnya itu. Tahu betisnya disenggol, Diro menoleh ke wajah cantik sang ibunda sambil tersenyum saja.

“Setiap mandi… hampir selalu diintip! Siapa lagi kalau bukan sama orang dirumah sendiri. Itu lho… Sarto, anak mbak satu-satunya… umurnya baru juga 14 tahun, kok… doyan banget melihat tubuh telanjang wanita… nggak perduli tubuh telanjang ibu kandungnya sendiri juga dintip…! Ampun deh! Abisnya gimana lagi… seingat mbak dulu… pernah mendengar bahwa terlalu banyak minum atau makan coklat… bisa menyebabkan orang itu jadi… bergairah! Sedang si Sarto, anak tunggal mbak itu doyan banget sama yang berbau coklat… mau berupa minuman kek… apa berupa permen coklat… pokoknya semua makanan olahan dari coklat… dia suka… gitu lho bu!”, kata mbak Surti menyelesaikan penjelasannya itu.

“Mbak… apa nggak memarahi anak mbak itu?”, tanya Daniati tertarik jadinya. Diro yang diam-diam mendengarkan ikut-ikutan tertarik juga.

“Waktu pertama kali tahu lagi diintip sih… pengennya marah besar… tapi begitu sebelum marahnya keluar… melihat seluruh tubuh mbak masih utuh… hi-hi-hi… tidak ada yang bocel-bocel gitu… ya cuek aja deh. Daripada ribut-ribut tidak karuan, malah… tetangga semua bakal jadi tahu lagi… kan yang malu keluarga mbak sendiri… iya toh?!”, kata mbak Surti santai tanpa terlihat kesal oleh kejadian itu.

“Wah… kasian dong si Sarto… bagaimana tuh melepaskan gairahnya gitu… he-he-he…!”, Diro ikut-ikutan nimbrung dalam obrolan ringan orang dewasa ini.

“Nih begini caranya, tapi jangan marah ya den… habis mbak rada malu mengatakannya!”. Dengan tenangnya mbak Surti mengambil sebuah mentimun besar dan lurus… dan segera melakukan gerak pantomim dengan telapak tangan yang kanan yang mencekal batang mentimun itu sambil bergerak-gerak turun-naik… turun-naik… layaknya seorang pria lagi melakukan onani!

“Hi-hi-hi… mbak! Sampai diperagakan begitu jelasnya lagi…! Hi-hi-hi…!”, Daniati tertawa terpingkal-pingkal jadinya.

“Habis gimana lagi… daripada malu ngomongnya! Maafkan mbak ya den… begini deh kalau mbak sama ibu sih sudah seperti 2 orang yang senasib… sama-sama janda-nya gitu… hi-hi-hi…!”, jawab mbak Surti sambil tertawa.

“Kok bisa tahu Sarto melakukan yang seperti diperagakan mbak tadi…?!”, tanya Diro lagi masih penasaran rupanya.

“Ya gampang atuh… den! Mbak balik ngintip si Sarto lagi aja… gitu lho… hi-hi-hi…!”, jawab mbak Surti santai saja sambil tertawa.

“Hi-hi-hi…! He-he-he…!”, Daniati dan Diro serentak tertawa berbarengan dengan mbak Surti… jadi ramai suasana didalam dapur itu sekarang.

“Ah… udahan ah! Mbak jadi nggak masak-masak nih! Punten bu…! Punten den…!”, mbak Surti segera berkiprah cepat layaknya seorang jurumasak yang profesional, bekerja serius tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya lagi…

***

Khawatir mengganggu kerja mbak Sutri, segera Daniati dan Diro ‘angkat kaki’ dari kawasan dapur ini, tidak lupa dengan rendah hati memberitahu ‘sang penguasa’ dapur terlebih dahulu.

“Maaf mbak… ibu bersama Diro mau duduk-duduk didepan saja…!”, kata Daniati dengan ramah memberitahu mbak Sutri sang jurumasak.

“Mangga bu… mangga den… silahkan saja…!”, jawab mbak Sutri dengan penuh hormat.

Diro sambil membawa 2 cangkir yang masih berisi setengah minuman coklat yang sedap dan masih panas itu, diikuti oleh Daniati, ibundanya Diro yang cantik yang tangan kirinya memegang baki tempat minuman dan ditangan kanan dengan jari-jari lentiknya memegang gagang teko stainless-steel yang berisi 3 per 4 minuman coklat panas. Mereka menuju sofa diruang tamu dengan sepanjang langkah mereka meninggalkan aroma coklat yang sedap…

Setelah menaruh cangkir-cangkir itu diatas daun meja tamu yang terbuat dari kaca bening yang tebal, didepan tempat duduk masing-masing pemiliknya. Dan Daniati pun sudah menaruh teko ‘menindih’ baki yang ditaruh diatas daun meja tamu itu.

Kemudian ibu dan anak itu duduk berdampingan ditengah sofa panjang itu. Sedang jam lonceng antik yang tinggi, berdiri diatas lantai keramik berwarna putih susu tanpa motif… yang berada didekat mereka… seakan sedang mengawasi kedua ibu-anak ini yang duduk dekat… sembari menggoyangkan bandulnya yang besar yang mengkilat keemasan dengan teratur… <tik-tak…!> <tik-tak…!> <tik-tak…!> <tik-tak…!> <tik-tak…!>

Seandainya saja jam lonceng antik itu bisa melihat… tentu akan heran jadinya…!

Berdua yang duduk dekat ditengah sofa panjang itu, kok… semakin rapat dan… bahkan tidak mungkin merapat lagi… karena sekarang berdua sudah lekat dengan rangkulan dan dekapan mesra dan… FK mesra yang kelihatannya kalem saja… ditautan dalamnya sedang terjadi pergumulan sengit bagaikan tanding ‘smack-down’… masing-masing lidah saling membelit… berkelit… dengan sengit…! Kalau sudah begini keadaannya… sesuai dengan pengakuan Daniati tadi tentang pengaruh tubuhnya setelah mendapat FK mesra yang hot… Begitu ada kesempatan bisa berbicara…

“Sudah-sudah sayang… minta ampun deh…! Daripada nanti mambasahi… sofa, kita teruskan ditempat tidur mama saja… ooohh… nikmatnya! Untung kamu berkunjung kesini… kalau tidak! Hilang sudah jatah mama yang berharga…!”, desah Daniata terang-terangan penuh gairah yang meletup-letup… tanpa tedeng aling-aling lagi…!

“Jatah apaan tuh ma…?”, Diro bertanya sembari jari-jari tangan kanannya yang kekar sibuk meremas-remas buahdada kiri yang montok dan lumayan kenyal… rupanya tanpa pemberitahuan lebih dahulu… ‘pertempuran’ nikmat sudah disambung lagi… keadaan ‘gencatan senjata’-nya sudah kadaluarsa rupanya.

“Yaaa… itu! Yang bisa menghilangkan mumet di kepala dengan sangat cepat… hi-hi-hi…!”, kata Daniati mesra sambil berdiri merangkul mesra sang anak tunggal yang sudah remaja matang… ganteng… sangat maskulin sekali… mengajaknya menuju kamar tidurnya…

***

Begitu mereka berdua sudah berada didalam kamar tidur Daniati dan juga sudah menutup kembali pintu kamar dan menguncinya dari dalam.

Segera mereka masing-masing dengan sukarela melucuti pakaian mereka sendiri. Daniati telah melucuti 3 potong pakaiannya, yaitu gaun sutera yang tipis, BH tipis berukuran 36B dan… CD yang super tipis. Sama hal dengan Diro juga sudah tuntas bebas dari ‘kurungan’-nya yang berupa T-shirt, jeans dan CD khusus cowok.

Sungguh suatu pemandangan yang lebih indah dan… lebih hot daripada… pemandangan yang biasa terlihat di resort kaum nudis yang… organ-organ vital-nya ybs pada ‘memble’ semuanya!

Coba tengok saja pemandangan dikamar tidur ini… sang remaja matang dengan tubuh kekar perkasa dan penisnya yang tegak kaku keatas dengan sudut dari perut datarnya 60 derajat! Sedang yang wanita… bak tubuh bidadari yang telanjang tanpa busana… indah jelita… payudara mulus, montok dan lumayan kenyal berukuran besar 36B yang serasi dengan tubuh semampainya yang ramping dengan ‘topping’ puting indah berwarna maroon muda.
Dan… vagina klimis (sengaja dicukur habis ‘semak-belukar’-nya), yang didalamnya penuh dengan misteri!

Dengan sigap sungguh tak dinyana, Daniati melompat keatas tempat tidur dan mengambil posisi terlentang sambil mengangkang ditengah-tengah tempat tidur itu… bersiap-siaga menyambut tindihan sang cowok kekar yang tak lain tak bukan adalah… putera lelaki semata wayang yang ganteng dan… gasang!

Begitu tubuh kekar Diro yang telanjang menindih lembut tubuh mulus yang juga telanjang Daniati yang cantik dan jelita, segera Daniati mengunci pinggul dan bokong Diro yang kekar dengan kuncian kaki-kakinya yang mulus melingkar ke tubuh Diro… tidak mungkin dilepas karena kaki pada bagian tumit sampai ke jari-jari lentiknya bertaut dengan sangat kuat! Sedangkan tangan-tangan mulus Daniati melingkar kuat disekeliling tubuh bagian atas Diro dan… dikunci dengan tautan dari kesepuluh jari tangannya yang lentik!

Diro yang tahu telah diringkus tubuhnya tanpa daya segera mwncari akal, membujuk ibunya… pasti tidak mungkin, tapi… tidak rugi kan untuk mencobanya… membujuk ibunys ini.

“Mama-ku sayang yang jelita… tubuh mama seperti bidadari saja, elok dan…”, belum juga selesai omong sudah diputus olhe Daniati.

“Stop! Pokoknya… tidak mempan! Kalau sudah begini rayuan gombalmu sudah tidak berlaku… Cuma ada satu cara untukmu sayang… yang tadi sebagai si ‘penyerang gelap’… tidak sulit kok… hi-hi-hi… ayooo… ngaku kalah saja! Mudah kan?! Hi-hi-hi…”.

“Oke… baik deh…! Tapi Diro mau memperbaiki posisi jari tangan kiri yang ketekuk nih… entar kecetit gimana?”, kata Diro mengerinyitkan dahinya seakan sedang merasakan sakit.

“Ya sudah… benerin saja…!”, kata Daniati sang ‘peringkus’ dengan singkat saja.

“Ya nggak bisa dong…! Kendorkan tangan kanan sedikit…”, kata Diro coba menawar.

“Tidak bisa! Entar kamu menyerang dari ‘perbukitan’ mama yang kanan lagi… ugghhh… dasar akal bulus!”, jawab Daniati tegas.

“Jangan takut ma… kalau Diro melanggar, mama boleh mempergunakan senjata andalan mama… capitan 2 jari mama yang ampuh itu… mama cuma meletakkan tangan kanan mama lurus menyamping kekanan cukup sedetik saja… jangan ditunda lama-lama ma… entar malah jari Diro jadi kecetit beneran lagi nih!”, kata Diro sambil berusaha menambah jumlah kerutan di jidatnya.

“Oke kalau begitu permohonan dikabulkan!”, kata Daniati tegas layaknya komandan perang pihak musuh. Rencana Daniati sederhana saja, yaitu melempar tangan kanannya menyamping dan segera ditarik kembali untuk menguncikannya lagi melingkar bagian tubuh Diro bagian atas, dia yakin bisa melakukan dalam waktu sedetik sementara Diro sibuk membenahi posisi jarinya. “Kalau begitu siap… pada hitungan ke-tiga waktu sedetik manfaatkan dengan baik! Satu…! Dua…! Tigaaa…!”, Daniati mengucapkan aba-abanya.

Begitu tangan kanan kanan Daniati ditaruh diatas tempat tidur, lurus menyamping kekanan… dengan secepat kilat lidah Diro yang kesat langsung mendarat di ketiak kanan ibunya dan sibuk menjilat-jilat ketiak mulus dan klimis karena tidak luput dari perawatan kulit yang rutin dilakukan Daniati setiap harinya.

Terlonjat tubuh Daniati seketika yang baru pertama kalinya merasakan… sensasi geli yang tak tertahankan lagi… terlepas sudah seluruh kuncian-kuncian kuat pada tubuh Diro dan… terlontar seruan dari mulutnya yang seksi, “Aduh… apaan nih… udah-udah… sayang! Geli tahu! Hentikan dong…!”. Diikuti dengan… <Seerrr…!> <Seerrr…!> tidak hanya 1 tapi 2 kali semprotan kecil yang langsung melumasi sempurna lorong gua nikmat didalam vagina Daniat yang mulus…

Kedua tangan Daniati sudah terbuka lebar manyamping… memberi keleluasaan penuh pada Diro untuk menggilir ketiak mulus Daniati yang sebelah kiri.

Daniati kebingungan sendiri… ‘Wah kalau begini… sungguh gawat darurat berat nih! Hhhmmm… tidak ada jalan lain, kecuali…’. Dengan cepat kedua tangan Daniati turun kebawah… meraba-raba selangkangannya… ini dia! Ketemu…! Dengan mencekal kuat batang penis Diro yang ngaceng… super tegang! Mengarahkan palkon-nya langsung melewati cakupan labia majora, terus melesak masuk dengan bantuan pinggul mulusnya yang menekan keatas, sampai dimuka mulut gua nikmat, juga tidak berhenti terus… non-stop dengan dorongan kuat kedua pinggulnya keatas ditambah dengan tenaga yang kuat…

<Bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Diro yang sangat tegang itu, dan Daniati menarik mundur pinggul dengan cepat, untuk… dihentakkan lagi keatas dengan kuat…!

Buyar sudah konsentrasi Diro pada apa yang sedang dilakukan saat ini! Pikirannya sepenuhnya tertuju penuh oleh nikmat cengkeraman kuat disekujur batang penisnya yang keras.

<Bleeesss…!> masuk kembali seluruh batang penis pak Damarto yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’ itu… dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis yang sekarang dilakukan oleh Diro sendiri.

“Oooh sayangku… Diro! Nikmat sekali… aaahhh…!”, desah Daniati merasakan gumulan dan pompaan mantap dari penis keras anak kandungnya ini… nikmat, dan… cuma nikmat… yang dirasakan Daniati yang ‘mumet’-nya terkikis habis bersih oleh persetubuhan sedarah yang penuh gairah… Daniati menyambut dengan sepenuh hati persetubuhan ini dan melayani dengan birahi yang berapi-api.

Diro tidak mau berkata-kata… sibuk berat dengan pompaan-pompaan penisnya perkasa penuh energi serta stamina yang prima… berusaha mengupayakan agar persetubuhan ini berlangsung lebih lama tanpa ada rehat yang menghentikan gerakan persetubuhan mereka untuk sementara.

Memasuki menit ke-sepuluh, Daniati tak tertahankan lagi, mulai mendesah dengan agak keras. “Aahhh… sayangku Diro…! Nikmat sekali… cuma rasa nikmat yang amat sangat kalau mama disetubuhi kamu… sayang… aaahhh… mama mau klimaks nih… ayoo sayang… mendingan kita klimaks barengan…!”.

Mendengar desahan ibu kandungnya yang mengandung keseriusan tingkat tinggi, segera Diro tancap gas! Gelinjangan tubuh ibu dan anaknya ini sudah tidak beraturan tak karuan…! Tak perlu lama menunggu…

<Seerrr…!> <Seerrr…!> <Seerrr…!>

<Crottt…!> <Crottt…!> <Crottt…!>

Terkapar tubuh keduanya hampir tak sadar… dirundung nikmatnya oleh orgasme ke-dua mereka pada hari ini… yang sangat sempurna… selalu datang pada saat bersamaan.

Hening sejenak… kira-kira untuk 60 detik waktu berlalu… bersamaan lenyapnya pengaruh orgasme yang penuh sensasi dan misteri itu, hilang… entah kemana… tapi meninggalkan setumpuk perasaan puas pada organ dalam tubuh mereka yang tak terlihat, hanya tercermin di wajah mereka yang semakin berseri-seri…

Diro segera menggulirkan tubuh telanjangnya disamping tubuh ibunda yang tersayang, dan… terlena bersama untuk beberapa menit lamanya…

<Teenggg…!> bunyi jam antik di ruang tamu bergema keseantero ruang didalam rumah kuno yang besar ini.

Menyadarkan mereka berdua… dan merasakan lapar pada perut mereka yang mulai berbunyi minta diisi, dan… tidak usah khawatir, pasti mbak Sutri sudah menghidangkan makan siang yang lezat telah siap tersaji rapi di meja besar… diruang makan.

***

Ketika setengah jam kemudian mereka duduk menikmati makan siang… memang pantas diakui kepiawaian sang jurumasak yang ahli mengolah makanan… sanggup ‘menggoyang lidah’ para penikmatnya.

Sedang mbak Sutri telah hilang entah kemana… mungkin sudah pulang kerumahnya… tidak melupakan kewajibannya sebagai orangtua tunggal bagi putera tunggal semata wayangnya, yang pasti telah pulang dari sekolah dengan perut yang keroncongan… jangan khawatir ibunda tercinta membawakan makan siang yang lezat untuk mereka santap bersama di siang hari ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*