Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 2

Istana Pasir Milik Sang Ayah 2

Cerita Sebelumnya : Istana Pasir Milik Sang Ayah 1

Bagian 2 – Yang Muda Yang Berbisa!

Sekarang hari Sabtu, pukul 9:00 di pagi hari yang cerah. Dari arah depan, di halaman rumah yang rumputnya berwarna hijau segar, seekor ayam Bekisar mulai memperdengarkan suara kokoknya yang indah, nyaring dan bergema. ‘Telat… Yam! Sekarang giliran burung kicauan yang berbunyi!’, kata Diro didalam hatinya… kesal. ‘Seharusnya sebelum pagi menjadi terang oleh sinar mentari dari ufuk timur sana… dasar ayam penakut! Cuma menang pada jenggernya yang berwarna merah tua yang berdiri tegak kaku keatas! Kok ayam penakut pake dibeli lagi, pasti harganya mahal sekali!’.

Diro meracik sendiri sarapannya, berupa 2 potong roti yang setangkup berisi selai kacang, dan tangkupan lainnya berisi selai coklat, ditambah segelas sedang berisi kopi susu yang hangat. Diro menyantap sarapannya dengan tenang, tidak terburu-buru.

Mengharapkan layanan dari 2 makhluk wanita dalam rumah ini untuk menyediakan makan paginya… ugh…! Suatu hal yang hampir mustahil. Sang ibu cantik dengan puteri kandung yang juga cantik… apa yang bisa diharapkan dari mereka berdua… tidak ada! Kecuali… paling sekedar menetralkan libido-nya saja. Kemarin siang sang ibu tiri yang cantik telah meredakan sedikit tuntutan libido-nya.

Diro sangat menyayangkan tindakan ayah kandung yang terlalu gegabah dengan mengharuskannya memanggil kakak pada Dini ini. ‘Apa sih isi benak papa saat memerintahkan hal itu… dasar papa yang bodoh!’. Seharusnya biarkan saja berlalu secara wajar, interaksi diantara orang muda akan sangat mudah larut dengan sendirinya tidak sesulit seperti apa dalam benak orang-orang tua.

Kalau sudah begini… cuma membuat saudari tirinya seakan menang diatas angin dan menjadi angkuh tak berdasar yang akan merugikan dirinya sendiri. Sampai saat ini, Diro tetap menyapa saudari tirinya dengan sebutan kak Dini, sesuai ‘titah’ sang ayah kandung yang bertindak tanpa dipikir dulu dengan masak-masak. Mungkin itu juga sudah watak dasar ayah kandungnya… bisa jadi!? Bertindak dahulu, berpikir belakangan.

Apa sih yang istimewa dari Dini ini…? Lulus dari SMU saja tidak pernah bisa, sudah 2 tahun berturut-turut di kelas 3. Semua kemudahan yang dia miliki tidak dimanfaatkan demi kepentingan untuk masa depannya sendiri. Karena keharusannya harus menyapa ‘kakak’ pada Dini… menghentikan upayanya untuk menasehati saudari tiri-nya yang cantik ini. Terserah bagaimana nanti saja. Yang penting bagi Diro bagaimana dia bisa naik ke semester 3 dalam kuliahnya. Diro ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahnya, agar kakek dan ibu kandung yang berada di lahan pertanian yang sangat luas itu… menjadi bangga akan dirinya.

<Kriieeett…> bunyi suara pintu kamar Dini terdengar dibuka penghuninya.

“Hei halo dik! Sudah rapi toh…”, terdiam Dini tak sanggup melanjutkan perkataannya yang sok ramah itu, karena mendapat sorotan tajam dari mata Diro yang memandang lurus bagaikan menembus matanya indah.

“Aku peringatkan kak Dini… dan ingat aku hanya mengatakannya hanya sekali ini saja… JANGAN PERNAH PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN DIK ATAU ADIK… MENGERTI! Kak Dini-ku yang cantik dan menggairahkan…!”, kata Diro kalem tapi tegas.

“Tapi…”, kata Dini ingin bersikeras, tapi keburu ditegur oleh suara keras dari ibu kandungnya, Weni… yang rupanya menyaksikan itu semua.

“DINI…! Kau tidak pernah diperintah papa-mu memanggil Diro dengan sebutan itu”.

“Tapi papa memerintahkan Diro menyapa Dini dengan sebutan kakak”, masih saja bersikeras gadis muda yang cantik tapi bebal ini.

“Ya… itu benar, mama juga ikut mendengarkannya kok! Tapi mama tidak pernah mendengar bahwa papa-mu memerintahkan padamu untuk menyapa Diro dengan tambahan kata ‘dik’ atau ‘adik’. Ini kesalahan mama yang telat memberitahu papa-mu, bahwa kamu Din… dilahirkan dengan masa kandungan 8 bulan!”, kata Weni, ibu kandungnya Dini akhirnya mengungkap fakta diseputar kelahiran Dini. “Jadi kalau kalian berdua lahir secara normal dengan masa kandungan 9 bulan 10 hari, maka sebenarnya Diro lebih tua beberapa hari dari usiamu Din… ingat itu!”, lanjut Weni menjelaskan semuanya pada Dini, puteri kandungnya yang cantik jelita, tapi sangat bebal dan keras kepala itu.

Terdiam Dini jadinya, tapi sempat-sempatnya berpikir. ‘Berarti kesalahan papa dan mama… dong! Kenapa aku yang disalahkan!’. Dasar bodoh… ya… tetap bodoh! Tolol sekali gadis muda rupawan ini, bahkan dalam berpikirnya pun sangat bodoh tanpa diperhitungkan terlebih dahulu kebenarannya!

Sedangkan Diro sedari tadi tenang-tenang saja menyelesaikan sarapannya tanpa menghiraukan ocehan 2 makhluk cantik itu saling berbicara.

Dengan tenangnya Diro berdiri dan melangkah menuju kamarnya sendiri, ketika lewat dekat ibu-anak ini, Diro berkata dengan kalem dan sangat lembut, seakan tidak pernah terjadi apa-apa barusan tadi. “Kak Dini… aku tunggu dikamarku dalam waktu satu jam, dan tidak usah pake daleman ya! Buka saja pintunya… tidak dikunci kok”, setelah berkata kalem tapi bernada sangat tegas ini dengan tenangnya Diro masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan tanpa di kunci lagi.

Dini yang mendengarkan perkataan yang diucapkan kalem tapi tegas itu menjadi terperangah mulutnya, membelalak mata indahnya serta napasnya jadi memburu… ngos-ngosan saking marahnya.

Dini berkata pada ibunya, “Coba dengar tuh ma…! Kurang ajar sekali anak itu…! Aku akan melaporkan pada papa atas perlakuan Diro yang kurang ajar ini”.

Weni menjawab dengan kalem kemarahan puterinya yang tolol ini meskipun memang cantik sih, “Mama mendengarkannya… mama belum tuli kok! Lalu apa yang akan kau katakan pada papa tirimu itu? Bila laporanmu pada papa tirimu tidak punya alasan kuat, maka kamu akan dilempar ke seberang lautan sana. Kalaupun Diro memanggilmu dengan sebutan ‘kakak’… itu karena kepatuhan dan hormatnya pada papa kandungnya, dan itu sangat menyakitkan baginya. Percayalah pada mama… Diro tidak gentar pada papa kandungnya yang telah menyakiti hati ibu kandung Diro, yang paling dikasihinya di dunia ini. Diro menunggu alasan yang kuat untuk menghabisi papa kandungnya sendiri! Lewat kebodohanmu itulah… Diro akan mendapatkan alasan yang ditunggunya!”.

“Pokoknya Dini akan memberitahu papa mengenai hal ini! Lagipula kelihatan papa lebih percaya pada Dini dari pada mama yang jadi isterinya”.

“Terserah kamu Din…! Tetapi mama heran kenapa kamu akhir-akhir ini sangat bodoh sekali di pandangan mata mama, apa efek dari kelahiranmu yang kurang matang waktu bayi-mu telah timbul saat kamu sebesar ini… apa? Ingat anakku yang cantik… tapi bodohnya… minta ampun! Kamu ini cuma pemuas nafsu pak Danang yang kau panggil papa itu, sedangkan Diro adalah setengah belahan jiwa-raganya… coba renungkanlah ini dengan tenang, dan… pergunakan hati nurani-mu sendiri!”.

“Sebodoh amat, Dini tidak mau bersusah payah memikirkannya… pokoknya Dini akan menelpon papa sekarang juga”.

“Silahkan anakku sayang! Asal kamu berjanji… untuk memberitahu mama… apapun hasilnya… OK?”, kata Weni dengan pasrah. “Kalau kamu tidak menepati janjimu… mama akan meninggalkanmu sendirian disini pada hari ini juga… papa tirimu itu baru sebulan lagi kembali kerumah ini… tinggal kamu berdua dengan Diro saja…!”.

“Dini tidak mau memikirkan tentang itu sekarang… Dini akan menelpon papa sekarang juga”, kata Dini kesal dan bergegas kembali kekamarnya dan mambanting pintu kamarnya itu dengan keras dari dalam kamarnya.

Sedangkan Weni berjalan kembali dengan tenang dan kalem saja melangkah kembali ke kamarnya. Belajar banyak dari Diro, anak tirinya itu, lewat persetubuhannya dengan Diro selama 1 jam itu. Begitu sampai didalam kamarnya, mengumpulkan barang-barangnya seakan siap melakukan perjalanan panjang… entah kemana!

***

<Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!> <Kriiinggg…!>

BB milik pak Danang berdering nyaring. Sedangkan didalam kamar hotel itu juga ada 2 ABG SMP, kelas 2 dan kelas 3… bugil tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka yang bersama-sama sedang sibuk melakukan oral seks pada penis pak Danang secara bergantian.

Pak Danang mendengar saja pengaduan Dini, anak tirinya. Lalu berkata lewat BB-nya.

<“Ya… sudah, lakukan apa yang diinginkan Diro padamu dan katakan pada Diro bahwa dia dari mulai saat detik ini, dia tidak usah memanggilmu sebagai kakak lagi… ini kesalahan fatal yang telah papa lakukan padanya, jangan melewati batas waktu yang telah ditentukan Diro tadi. Apa yang diinginkan Diro adalah juga keinginan papa juga, lakukan dengan patuh. Kalau tidak… papa akan mengirimmu kembali pada ayah kandungmu hari ini juga, mungkin beliau ingin mencicipi tubuh anak kandungnya yang jelita ini. Papa memperingatkanmu JANGAN PERNAH MEREMEHKAN DIRO! Dan jangan lagi merecoki papa dengan telepon-mu ini! Kalau tidak kau boleh angkat kaki dari rumah… terserah kemana tujuanmu!”>.

Terbayang lagi peristiwa setahun lalu, dimana dia seorang diri… malah masih perawan dikala itu… di-gangbang oleh ayah kandungnya bersama-sama dengan 4 orang teman mabuknya. Ayah kandungnyalah yang memerawaninya…! Sungguh sangat tragis sekali, peristiwa yang telah dialami oleh gadis muda belia ini! Kembali kerumah ayahnya…? Oh… tidak! Lebih baik dia melacurkan dirinya… menunggu calon pelanggannya ditepi jalan!

Ternganga mulutnya mendengarkan kata-kata ayah tirinya, walaupun disampaikan dengan lembut tapi sarat dengan ancaman yang amat menakutkan dirinya. Rupanya selama ini dia cuma sebagai pelampiasan nafsu seks semata bagi ayah tirinya yang suka mengobral janji dan pujian itu. Persis sama seperti apa yang telah dikatakan oleh ibu kandungnya… belum juga lama sesaat tadi barusan!

Buru-buru Dini membuka pintu kamarnya sambil berderai airmata bodohnya itu… bergegas menemui ibu kandungnya untuk… mengadukan semuanya itu, yang masih berada dikamar tidur utama.

Lewat 30 menit kemudian, Dini keluar dari kamar ibu kandungnya dengan berat hati serta langkah-langkah kakinya seakan dihentak-hentaknya ke lantai keramik. Ada suara yang memanggilnya dari sang ibu kandung.

“Dini! Jangan lupa… lepaskan dahulu semua pakaian dalammu… cepat”, kata ibu kandungnya dengan nada sangat khawatir sekali. ‘Dini… anakku sayang yang cantik… yang sangat bodoh sekali! Kalau kau ingin menyusahkan dirimu sendiri… silahkan, tapi jangan mama ikut terseret-seret jadinya!’, Weni menangis didalam hatinya… dan sangat menyesali dirinya… kenapa dia sebagai seorang ibu kandung bagi Dini… gagal mendidik anak kandungnya sendiri!

Dini dengan kesal melepas CD G-string nya dan… melemparkannya pas jatuh diatas meja makan.

Diketoknya pintu kamar Diro, tapi tidak ada jawaban… ditunggunya sejenak didepan pintu kamar Diro yang masih tertutup. ‘Apa sudah tertidur si bangsat gila ini!’, makinya dalam hati dengan kesalnya. Akhirnya dengan nekat Dini membuka pintu itu perlahan. Dilihatnya Diro sedang tidur-tiduran terlentang diatas tempat tidurnya… dengan santainya. Diro diam saja sambil mengawasi gerak-geriknya dengan seksama.

Setelah Dini dengan seluruh tubuhnya telah masuk kedalam kamar, barulah Diro berkata pada saudari tirinya yang cantik ini dengan suara sangat lembut sekali. “Tutup pintunya kembali… sayang! Tidak usah dikunci!”. Agak bergetar hati Dini jadinya… mendengar suara lembut itu… yang kalau didengar dengan seksama… ada nada wibawa dan ketegasan didalamnya, tapi… Dini mana ada kemampuan untuk mengartikan itu semua. Dini cuma seorang gadis cantik rupawan, pemuas nafsu pria, dan… sangat bebal sekali.

Kemudian Dini memutarkan dirinya menghadap kearah Diro.

“Tanggalkan bajumu sekarang!”, perintah Diro dengan lembut tapi berwibawa.

Pelan saja tapi penuh rasa kesal, Dini melepaskan bajunya dan… membiarkan baju itu bertumpuk diatas karpet hijau dilantai kamar. Kini Dini bertelanjang bulat didepan Diro, anak kandung ayah tirinya.

Diro melihat dangan seksama tubuh telanjang gadis remaja itu, dan memberi kode agar Dini datang mendekatinya. “Indah dan cantiknya bentuk tubuhmu kak Din…!”. Dengan telapak tangan kanannya mengusap-usap bulu pubis yang mulai tumbuh lagi semenjak cukurannya 10 hari yang lalu. “Sudah mulai terasa kesat nih kak Din… cukur lagi ya kak dan licinkan kembali, kalau tidak tahu caranya… minta tolong sama mama kandungmu. Lalu telapak tangan kanannya mulai bergerak keatas dan… sampai payudara montok dan mulus milik Dini, meremas-remas buahdada yang sebelah kanan dan berakhir pada puting kecil berwarna maroon sangat muda… memelintirkannya dengan jepitan telunjuk dan ibu jari dan memilin-milinnya sejenak. “Benar-benar sangat indah, mulus dan… sekal sekali…!”.

Menarik kedua tangan Dini, yang menyebabkan tubuh Dini terjerembab kedepan dan menindih tubuh kekar Diro. Dengan memegang pipi Dini dengan kedua telapak tangan pada kedua sisinya, kemudian mendaratkan bibirnya pada mulut seksi gadis itu, dan… melakukan FK awal yang sangat lembut sekali. Saking lembutnya dirasa oleh Dini yang serta-merta membalas FK dengan sama lembutnya. <Seerrr…!> keluar semprotan kecil dari dalam vagina-nya, yang langsung melicinkan ‘jalan’ menuju ke gua nikmat vagina-nya.

Kemudian meminta Dini untuk duduk dipinggir tempat tidur yang dekat dengan Diro. Sambil meremas-remas mesra buahdada sekal sebelah kanan dengan lembut dan perlahan, Diro mulai bertanya pada saudari tirinya ini. “Apa kata papa… tadi ditelpon?”.

“Kata papa, mulai detik ini… tidak usah memanggil namaku dengan kata ‘kak’…”, kata Dini pelan yang sekarang gejolak nafsunya mulai timbul akibat perlakuan halus, lembut dan sangat mesra dirasakan oleh Dini. ‘Oohh… seandainya papa bisa selembut… tangan kekar bangsat ini…!’.

‘Dasar papa-ku yang bodoh, memang tak salah penilaianku pada papa… Bertindak dahulu, berpikir belakangan… kenapa papa tidak langsung menelpon dan memberitahukanku langsung… kenapa pula lewat ‘mistress’ papa yang jelita ini, tapi… tidak ada ‘inner beauty’-nya barang sebutir pasir pun besarnya didalam dirinya, dan… bebalnya… minta ampun! Kok ‘kebodohan’ dipelihara terus… papa-ku sayang…!’.

“Kulihat… kamu habis menangis ya Din?”, tanya Diro dengan lembut, tapi telapak tangan kanannya masih saja terus meremas-remas mesra buahdada Dini yang sekal itu.

Diam sejenak…

Dini menjawabnya dengan sangat pelan. “Iya… mmm… ma-sss…”, kata Dini yang agak sungkan melafalkan kata ‘mas’ pada saudara tirinya itu.

“Ya sudah… pakai bajumu kembali dan… bukankah kamu belum sarapan tadi… tapi sebelumnya aku minta tolong supaya memberitahukan mama, supaya beliau datang kemari… aku menunggunya!”, kata Diro dengan lembut dan kalem tapi berwibawa.

Tidak pake lama… Weni, ibu kandung Dini segera menyatroni kamar Diro. Weni membuka pintu kamar Diro perlahan, ketika sudah berada didalam dan memutarkan badannya untuk menutup pintu kamar itu.

Diro yang sudah berdiri disamping tempat tidurnya, berkata dengan lembut pada Weni, ibu tirinya yang cantik jelita. “Tutup saja ma pintunya… tidak usah dikunci lagi”, sembari dengan perlahan menanggalkan bajunya satu persatu… terlihat lagi tubuh telanjang bak tubuh tegap dan kekar milik… Ares, dewa perang dalam cerita Yunani kuno…

Begitu Weni, ibu tirinya berbalik badan kembali… terkesiap Weni sejenak memandang tubuh tegap dan kekar yang bertelanjang bulat didepannya ini. “Oohhh…! Diro… gagah sekali kamu sayang…!”, dan diikuti dengan… <seerrr…!> sebuah semprotan kecil keluar dari vagina-nya yang klimis dan mulus… melicinkan sebagian lorong menuju gua nikmat dalam vagina-nya itu. Segera saja Weni menanggalkan gaunnya… memperlihatkan bak tubuh indah Aphrodite, sang dewi cinta dalam cerita Yunani kuno… Weni melipat gaunnya itu dan menaruhnya diatas meja belajar Diro.

Mereka, ibu dan putera tiri ini, saling mendekat dan berpelukan penuh birahi. Weni berbisik mesra didekat telinga kanan Diro, “Kok… cepat sekali sayang… dengan Dini?”.

“Aku tidak sampai hati… ma! Dia lelah sehabis menangis… mungkin saja akibat ditegur papa… barangkali…”, jawab Diro sambil mengusap-usap lembut punggung mulus Weni, ibu tirinya itu.

“Maafkan Dini ya… sayang… mungkin saja akibat dia dilahirkan terlalu dini, sehingga dia tidak mampu berpikir cerdas seperti dirimu, sayang…”, kata Weni lembut sambil meminta maaf atas kelakuan Dini, puteri kandungnya itu serta menekankan lekat payudara-nya yang sekal dan indah itu pada dada Diro yang bidang dan kekar.

“Oooh… jadi ini alasan mama memberi dia dengan nama Dini… ya ma?”, tanya Diro dengan lembut sembari meremas-remas lembut pada kedua bungkahan bokong Weni yang masih kencang dan sekal itu.

“Benar sekali sayang… itulah alasan mama memberinya nama… Dini”, jawab Weni agak pilu bila mengingat kejadian pada saat Dini dilahirkan secara lebih awal lewat operasi ‘caesarean’ (pembedahan pada kulit di perut untuk mengeluarkan sang bayi).

“Diro pikir pada 6 bulan terakhir ini, papa jugs mempunyai andil yang besar atas kemunduran intelektual Dini…! Papa mempunyai sifat yang sangat mendasar yaitu ‘bertindak dahulu, berpikir belakangan’. Seharusnya papa jangan terlalu muda menyuruh Diro dengan memanggil Dini dengan imbuhan ‘kak’ atau ‘kakak’… ini menutup peluang Diro untuk bisa secara perlahan membimbingnya dan menasihatinya… karena Dini keburu menjadi ‘besar kepala’ dan merasa telah menang diatas angin… kasihan Dini, cewek yang sangat cantik tapi daya berpikirnya malas untuk dilatih”, jelas Diro panjang lebar tentang saudari tirinya itu.

“Mama pikir… maafkan mama dahulu… papa-mu seharusnya bisa belajar banyak darimu sayang”, kata Weni sangat berhati-hati.

“Tidak mengapa ma… apalagi itu memang betul adanya…!”, kata Diro sambil mulai melakukan FK yang lembut tapi penuh nafsu pada mama tirinya ini. FK mesra itu tidak berlangsung lama, karena Diro melepaskan tautan bibir gasangnya dan ibu tirinya yang jelita. “Sudah sarapan… atau belum ma?”.

“Sudah sayang…”, jawab Weni singkat karena merasa sedikit kecewa karena FK nikmat itu dihentikan tiba-tiba.

“Kalau begitu, mama jangan terlalu lama berdiri… ini akan melelahkan mama nantinya… bagaimana kalau mama tidur terlentang ditengah-tengah tempat tidur, biarkan Diro yang akan memcumbu tubuh mama yang indah ini…”, kata Diro menggiring ibu tirinya… mendekat tepi tempat tidur dan melepaskan dekapan eratnya pada tubuh telanjang Weni.

Segera saja Weni naik keatas tempat tidur… membaringkan tubuhnya terlentang serta mengangkangkan paha mulusnya lebar-lebar…

***

Dini selesai menghabiskan sarapannya, kemudian berdiri. Dilihatnya G-string yang dilemparnya tadi masih berada diatas meja makan. “Ahhh… sebodoh amat lah! Biar yang tak senang melihatnya… silahkan memindahkan sendiri G-string itu… sebalnya aku…!”, katanya kesal, dasar bebal ya… tetap saja bebal! Tiada niatan samasekali untuk lebih baik sedikit saja… sedikit saja pada permulaan ini sebagai awal untuk memulihkan tubuhnya yang multi pribadi itu… semuanya pribadi-pribadi itu tidak ada yang baik, dan tidak ada satupun yang bermutu…

Dini melangkah mendekat pada pintu kamar Diro, ingin menempelkan telinga kanannya untuk menguping… ‘Sedang terjadi apa gerangan… didalam kamar bangsat ini… sekarang?!’, pikir Dini penuh rasa keculasannya yang tinggi. Akibatnya… pintu ini menjadi terdorong terbuka lagi sedikit… terkesiap dan tercekat hatinya, saking terkejut dan takutnya. ‘Dasar sialan! Pintu ini ikut-ikutan menjadi bangsat sama dengan pemiliknya…!’, umpat Dini dalam hatinya… sangat terkejut.

Dini berdiri berdiam diri kaku sejenak… mata indah melirik kedalam kamar bagian kiri dari pintu itu… ‘Oh… dasar bangsat ini lagi sial, dan… aku yang beruntung!’. Didalam sana… dengan leluasa dia bisa menyaksikan semua hal yang sedang terjadi diatas tempat tidur Diro… lewat bayangan semu didalam cermin kaca yang sangat lebar pada daun pintu lemari pakaian milik Diro, yang diletakkan merapat pada dinding tembok dan menghadap… persis ke tempat tidur Diro!

‘Hhmmm… sungguh beruntung aku… ini adalah ‘kartu as’ yang bisa memulihkan hubunganku dengan papa lagi…! Akan aku laporkan perselingkuhan mama dengan putera kandung papa tiri-ku… TAMAT SUDAH riwayatmu BANGSAT! Rasakan pembalasanku dan hukuman dari papa kandungmu sendiri, dan… mama-ku sayang pergilah jauh-jauh dari kehidupanku dan jangah pernah mendekati aku lagi! Jangan takut ma! Aku bukanlah seorang anak yang tidak tahu berterima kasih… akan aku santuni mama dengan uang yang banyak setiap bulannya agar mama bisa makan makanan enak yang banyak dan… tidak usah memikirkan hal-hal lainnya yang ribet… cukup makan… dan makan terus biar tubuh mama menjadi tambun dan gemuk dan… tidak lagi menjadi pesaingku lagi…!’, pikir Dini dengan penuh rasa kedengkian!

Segera Dini bergegas menuju kamarnya sendiri dan menelpon dengan penuh rasa kemenangan… kemenangan yang belum ada ditangannya barang secuil pun…! Bodohnya gadis cantik muda belia ini! Beruntung bagi Dini… dia tidak dapat menghubungi ayah tirinya karena BB itu sudah di-‘off’ oleh pemiliknya sendiri, yang lagi ‘sibuk berat’… menggenjot dengan penuh semangat tubuh telanjang gadis yang paling muda, yaitu gadis ABG SMP kelas 2.

Kemudian Dini jatuh terduduk lemas dipinggir tempat tidurnya yang masih acak-acakan karena belum sempat dirapikan lagi. Barulah dia bisa berpikir tenang kembali… seingatnya tadi, ketika dia berbincang lewat sambungan cellular pertama tadi… teringatlah dia akan perkataan ayah tirinya yang penuh ancaman yang sangat menakutkannya saat tadi… bukankah dia tidak boleh menghubungi lagi ayah tirinya! Kalau tidak… dia harus hengkang dari rumah hari ini juga!

‘Oh… untung aku tidak bisa menghubungi papa…!’, langsung Dini menangis tersedu merasa selamat… lewat lubang jarum! Akhirnya dia merebahkan dirinya meringkuk bagai anak kucing yang kedinginan dan… tertidur pulas…

***

Sekitar pukul 16:30 BB-nya Diro berbunyi dengan RBT getar-nya
<Drzzz…> <drzzz…> <drzzz…>

<“Halo Dir… Diro…!”> dari ujung ‘sana’ ada yang menyapa.

<“Ya… Diro disini… ada apa?”>, jawab Diro ogah-ogahan.

<“Tahu nggak? Siapa yang ngomong padamu sekarang… sayang”>, kata yang di-‘sana’ berkata lagi.

‘Oh… mama toh, emangnya ada apa menelponku sekarang?’, langsung buru-buru Diro menjawab telepon dari ibundanya itu, maklum saja… tadi kurang jelas terdengar.

<“Tau-tau… cintaku pada pandangan pertama kan… he-he-he…!”>, kata Diro lancar sembari merayu dengan bercanda pada Daniati, ibunya yang tercinta.

<“Kamu ini… ngomong sama mama kok begitu sih…!? Sering-sering aja… kenapa? Hi-hi-hi…”> Daniati membalas canda Diro dengan candaan juga. <“Besok kan ada 2 hari libur berturut-turut… temanin mama dong…! Opa-mu besok pagi-pagi sekali mau berangkat ke Bali untuk sesuatu hal… tanya aja deh langsung sama yang bersangkutan…”>. Ada suara berat Darso, kakeknya Diro angkat bicara lewat sambungan telekomunikasi cellular itu. <“Halo Diro apa baik-baik semua disana? Eh… maksud opa kamu sehat wal’afiat kan? Kalau yang lainnya yang disana sih… opa nggak mau mikirin! Opa besok… subuh nanti berangkat ke Bali untuk 2 atau 3 hari pakai pesawat… untuk keperluan keluarga besar kita… kamu bisa kan Dir…? Menemani mama-mu… daripada nanti digondol sama orang… ayoo… gimana?! Ha-ha-ha…! Aduh…!”> suara Darso, kakeknya Diro terhenti seketika, karena… sesuatu.

<“Halo opa… emangnya ada apa disana… pake aduh-aduhan segala…?!”> tanya Diro, ingin tahu sekarang sedang terjadi apa di ujung sana. Ada jawaban dari kakeknya, seakan sedang berbisik pada Diro seorang…

<“Tahu nih… Dir! Dicubit mama-mu! Mungkin merasa urung barangkali mendapatkan jatahnya besok hari Sabtu… Ha-ha-ha… sudah deh opa kembalikan saja BB ini pada pemiliknya… daripada dicubit lagi… ha-ha-ha…!”>. Yang langsung disambung langsung oleh ibunya, Daniati. <“Tahu nih… heran deh… mungkin opa-mu sedang dalam kondisi puber ke-dua ‘kali! Hi-hi-hi…”> Daniati tertawa lepas, gembira punya alasan untuk bisa meledek ayah kandungnya, Darso… ‘the old crack but still going strong’ ini, berperawakan tinggi besar, tapi heran… perutnya kok masih rata saja.

<“Emangnya apa hubungan mama dengan ‘jatah’ itu…?”, tanya Diro antusias ingin tahu detail lagi.

<“Nah… itu dia! Kebetulan yang tidak bisa dihindari… hi-hi-hi… pengen tahu jawabannya sayang… datang aja kemari..! Dan hati-hati dijalan… jangan ngebut dengan mobil tua-mu itu… hi-hi-hi… Bye… see you tomorrow morning, sayang…!”>, ibunya langsung memutuskan sambungan cellular itu.

‘Mendingan aku mandi dulu… lalu makan… kemudian ngobrol dan pamitan pada mama Weni… istirahat sejenak dan tidur lebih awal untuk bangun sekitar pukul 4 kurang, pagi hari…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*