Home » Cerita Seks Ayah Anak » Istana Pasir Milik Sang Ayah 1

Istana Pasir Milik Sang Ayah 1

Pelaku peran:

Darso (57) = duda, ayah Daniati, kakek Diro.
Danang (38) = mantan duda, sekarang suami Weni.
Daniati (37) = janda, ibu kandung Diro.
Weni (36) = mantan janda, sekarang isteri Danang.
Dini (18) = (pr), anak kandung Weni.
Diro (18) = (lk), anak kandung Danang & Daniati.

Bagian 1 – Tidak Muda, Tua Pun Jadi

Sekarang hari Jum’at, di pagi hari, malahan masih sangat pagi!

<Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!> <Tenggg…!>
Bunyi lonceng antik berdentang 4 kali. Bunyi yang sangat mengganggu bagi telinga Diro yang tengah asyik menonton siaran langsung Liga Champion. Diro sempat tidur cukup lama guna persiapan menonton tayangan langsung ini, rupanya ‘alarm system’ pada tubuhnya masih berfungsi dengan baik. Dia terbangun dari tidur nyenyaknya, tepat 15 menit sebelum tayangan ini dimulai.

Jam antik ini yang kelihatannya biasa saja tidak ada hal khusus bagi siapa saja yang melihatnya, sama dengan jam antik lainnya, apalagi bagi mata seseorang yang memang tidak terlalu ekstrim sebagai penggemarnya. Tapi bila seseorang diberitahu berapa harga beli untuk memilikinya, bukan mata tapi telinga mereka yang akan ‘melotot’ mendengarkannya. Tidak kurang dari Rp 1 milyard untuk dapat memilikinya! Memang sejak penggangkatan Danang pada jabatan baru yang disandangkan padanya, jumlah uang sebegitu banyaknya… bagaikan tidak ada artinya dan inilah merubah total sifat dan tingkah laku Danang, bahkan… ingkar dengan ikrar sucinya tatkala memadu kasih dengan sekarang yang jadi mantan isterinya, Daniati, wanita ayu, cantik jelita dan ramah serta berperasaan halus itu. Tidak ada satu pun yang kurang dari tubuh dan penampilan ibundanya Diro ini. Begitulah akibatnya bila seseorang yang dahaga meminum air laut… yang semakin banyak diminum… malah semakin haus jadinya.

Ingin saja Diro memindahkan lonceng antik itu dari ruang TV ini, tapi… kemana? Kamar tidur saudari tirinya, anak kandung dari ibu tirinya yang bernama Dini adalah juga ‘domain’ ayah kandungnya, Danang. Sedangkan kamar ibu tirinya, Weni sudahlah pasti ‘domain’ ibu tirinya bersama dengan ayah kandungnya. Mungkin di ruang tamu, kiranya tepat untuk tempat jam berisik ini, demikian pikir Diro yang lebih suka dengan suasana yang penuh ketenangan ini. Tubuhnya yang berotot seperti binaragawan, tegap dan ganteng pula, sangat disegani oleh kawan dan calon lawannya kalau pun itu ada.

Sebenarnya Diro tidak terlalu nyaman tinggal dirumah ayah kandungnya ini, dia belum lama tinggal bersama ayah kandungnya dirumah ini, belum juga genap setahun, paling sekitar 6 bulanan saja. Itu juga karena Diro ingin melanjutkan kuliahnya pada universitas yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggalnya sekarang yaitu rumah ayah kandungnya disini.

Dua makhluk wanita yang ada dirumah ini, sangat jelita dimata Diro yang masih perjaka, bagaimana tidak…? Kedua wanita, ibu dan anak gadisnya yang sudah tidak perawan ini, sungguh seksi dan rupawan, cukup ramah dan… sangat ‘terbuka’ sekali! Setiap hari Diro selalu disuguhi pemandangan yang syur…! Menyebabkan penis perjaka-nya kerap kali terbangun tegang jadinya… Apalagi Dini, saudari tirinya ini, yang sama-sama berumur 18 tahun, betul-betul ‘jinak-jinak merpati’ yang bisa dilihat… tak mungkin didapat!

Diro diharuskan oleh ayah kandung untuk memanggil Dini (saudari tirinya) dengan imbuhan sebutan kata ‘kakak’ didepan namanya yang Dini itu. Ya… nasib! Kenapa pula ibunda kandung tercintanya, tidak melahirkannya ke dunia ini 1 bulan lebih awal! Beliau sekarang tinggal dirumah ayahnya, Darso (kakeknya Diro dari pihak ibunya) di lahan pertanian yang sangat luas ada sekitar 200 hektar. Orang yang terkaya didaerahnya dan sekitar, bahkan jumlah hasil korupsi uang negara akibat jabatan baru Danang… boleh disatukan semuanya, masih belum pantas untuk dibandingkan dengan kekayaan Darso, mantan mertua Danang ini. Uang dari hasil garapan lahan yang luas ini telah dikelola dengan baik oleh 2 generasi terdahulu, yang sekarang dilimpahkan pada Darso untuk pengelolaannya, telah dilaksanakanya dengan sukses dan profesional. Duda berusia 57 tahun ini, yang ditinggal mati oleh isterinya karena kanker, tidak punya keinginan lagi untuk menikah, karena itulah, Darso lebih fokus mengurus lahan pertaniannya ini.

Danang dan Daniati, orangtua kandung Diro, telah berpisah secara baik-baik karena Daniati tidak punya hasrat untuk dimadu oleh calon isteri baru suaminya ini. Hal ini terjadi belum lama, sebulan kurang dari lamanya Diro tinggal dirumah ini.

Rumah bersama mereka dulu itu (Danang & Daniati + Diro) bagaikan sebuah istana pasir… hilang lenyap tersapu oleh badai perceraian ini. Rumah itu telah dijual ke pemiliknya yang baru dan uang hasil penjualan rumah ini seluruhnya dimasukkan kedalam rekening Diro, anak mereka untuk menopang biaya pendidikan Diro kelak.

Karena status ‘mantan isteri’ memang selalu akan jadi ada, akibat suatu perceraian dan kematian, tetapi… status ‘mantan anak’ tidaklah akan pernah ada… apapun alasannya! Danang meminta anak kandungnya ini untuk tinggal dirumah ini ketimbang harus tinggal ditempat kost. Ini tidaklah menyebabkan Diro merasa beruntung, malah sebaliknya seakan merasa tertekan hidupnya dalam rumah ayah kandungnya ini.

Sedangkan kakek Diro yang kaya-raya itu, Darso, tidak mempermasalahkan semuanya itu, yang pasti dia selalu mengirim per 3 bulanan untuk biaya hidup Diro dan tidak perduli apakah Diro tinggal di kost atau pun tinggal dirumah mantan mantunya ini. Uang ini dikirim via pos cabang yang ada di lingkungan kampusnya. Diro adalah cucu sejati dari kakeknya, Darso sesosok figur petani tekun yang berpendidikan tinggi. Darso percaya sepenuhnya akan ‘langkah kaki’ yang ditempuh oleh cucu yang paling disayang dan sangat dibanggakannya ini, tanpa harus gembor-gembor pada orang disekelilingnya yang memang tidak punya kepentingan untuk itu.

Seperempat jam kemudian, ayah kandung Diro keluar dari kamar tidur Dini, dan melihat Diro sedang asyik menonton TV. “Kamu begadang ya Dir?!”, tanya Danang pada Diro, anak kandungnya itu’

“Tidak pa… Diro baru saja bangun 15 menit barusan”.

“Kalau begitu… kamu ikut ke ruang kerja papa… sekarang!”, kata Danang meminta Diro mengikutinya sampai masuk kedalam ruang kerjanya. Sampai disana, Danang membuka brandkas-nya dan menutupnya kembali dengan 3 tumpuk uang dari pecahan Rp 100 ribuan sudah berada dalam ditangannya (= Rp30 juta), dan kemudian memberikannya pada Diro, anak kandungnya. “Ini sebagai pegangan untuk keperluan semua kebutuhan kamu, Dir. Papa akan memulai perjalanan dinas untuk waktu yang lumayan lama… mungkin 1 bulan atau lebih. Jangan pernah meminta uang pada mama-mu yang disini (ibu tiri)… jagalah gengsi-mu! Tak perlu memberitahu pada siapa saja, ini adalah urusan diantara kita berdua saja!”, kata Danang tegas tanpa ingin ada penolakan sedikitpun dari putera kandungnya, Diro.

Diro yang sudah jadi jutawan tanpa bekerja ini, tidak terlalu mempersoalkannya. Diro adalah tipe kawula muda yang sederhana, tidak suka pesta dan berfoya-foya, apalagi… ngedugem! Dia lebih senang menggunakan waktu berharganya untuk belajar dan… belajar saja. Seandainya masih memiliki sisa waktu, Diro lebih suka ‘menghabiskan’-nya dengan mempergunakan dan memanfaatkannya pada notebook (laptop) yang dipandang Diro sebagai miliknya yang paling berharga.

Kemudian Danang keluar dari ruang kerjanya, melangkah menuju kamar tidur utama, dimana isteri barunya, Weni sedang tertidur pulas dengan gaun sutera tipisnya tersingkap sampai ke pinggangnya yang ramping, mempertontonkan paha mulus dan vagina-nya yang klimis, maklum saja beliau tidur tanpa mengenakan CD lagi! Danang melihatnya sekilas, tidak terusik gairahnya, karena.. bara api gejolak gairahnya sudah ‘disiram’ tuntas oleh anak perempuan tirinya… tadi malam ditempat tidur Dini sendiri.

Sambil menggerutu dalam hati. ‘Dasar punya bakat exhibitionist! Tubuhnya selalu terbuka… telanjang saja!’, dan melangkah kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Bagi Danang, apa yang bisa dilihat matanya, juga… dapat dilihat oleh putera kandungnya. Sebetulnya Danang adalah seorang pria yang sangat pencemburu… tapi kecemburuannya ini tidak diberlakukan pada Diro, putera kandung tunggalnya! Bahkan bila Diro ingin menggauli ibu dan saudari tirinya… tidak jadi masaalah baginya. Tapi dia belum dan… tidak mau memberitahu Diro secara langsung mengenai ‘green-card’ ini… karena gengsi-nya sebagai ayah kandungnya Diro, mencegahnya untuk melakukan itu.

***

Diro kembali dengan 3 gepok uang dari pecahan Rp100 ribuan dalam gengaman tangan kekarnya. Sampai didalam kamarnya, Diro menutup dan mengunci kamarnya dari dalam, kemudian melempar begitu saja gepokan uang sejumlah 30 juta keatas meja belajarnya.

‘Merepotkanku saja!’, katanya kesal didalam hatinya.

Besok hari Senin, 3 hari lagi dari hari ini, sembari akan masuk kuliah, Diro akan mampir dahulu ke bank yang lain dari bank yang menerbitkan kartu ATM yang sudah lama dimilikinya. Diro akan membuka rekening pada bank baru yang akan dipilihnya pada hari Senin mendatang. Memang Diro rada curiga dengan uang yang diberikan dari sedikit saja kekayaan tunai milik ayah kandungnya ini. Sebab dalam pikirannya yang cerdas berpendapat bahwa bila ada uang sejumlah besar yang diberikan begitu mudahnya, tentu… lebih mudah lagi cara mendapatkannya. Di jaman yang sulit ini… banyak demo-demo dari kalangan organisasi buruh yang menuntut kenaikan gaji dari upah minimum yang mereka dapatkan setiap bulannya… maka sudah sepatutnya uang yang diberikan padanya ini, wajar untuk dicurigai muasal… asal-usul darimana uang ini berasal.

‘Papa-papa! Papaku sayang… sadarlah! Sebelum semuanya… terlambat!’, katanya dalam hati dengan rasa sedih yang sangat mendalam, tanpa adanya walaupun setetes saja keluar dari matanya yang punya sorot pandang yang sangat tajam. Tiada niatan dalam hati yang paling dalam untuk mengurui ayah kandungnya perihal sepak terjang beliau.

Cukup sudah dia meneteskan airmata atas kemalangan yang di derita oleh ibundanya yang sangat dikasihi sepenuh hatinya, akibat perceraian yang tak terhindari, itupun hanya… setetes saja airmatanya yang keluar… mengalir pelan turun kebawah menyusuri rahangnya yang amat maskulin itu. Dia sebagai anak mereka sudah tidak mungkin menyatukan kembali berkumpul sebagai satu keluarga bahagia yang utuh. Ungkapan kata yang tepat untuk menggambarkan situasi pelik ini adalah ‘sudah patah arang’…!

Diambilnya 3 gepok uang yang masih dibalut oleh sepotong kertas yang menyatukan setiap bundel 100 lembar yang mempunyai nomor seri yang berurutan, dan dimasukkan kedalam laci kecil yang terletak dibawah daun meja belajarnya itu.

Kemudian Diro membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yang empuk dan selalu rapi itu, segera terlelap tidur guna melunasi waktu tidurnya yang tadi dihabiskannya untuk menonton siaran langsung tayangan olahraga sepakbola Liga Champion.

***

Di siang hari, sekitar jam 12:30, ada ketokan pelan pada pintu kamar tidur Diro.

<Tokk-tokk-tokk…>

“Diro… Diro sayang, sudah pukul setengah satu siang nih… Haayooo… bangun sebentar! Mari… bersama-sama mama… kita makan siang yuukkk…!”, tegur Weni dengan seruan merdu yang lembut, mencoba membangunkan Diro, anak tirinya yang kebablasan tidur sehabis menonton tayangan langsung olahraga pada subuh tadi. Weni menunggunya sejenak… karena didengar agak samar, ada suara gerakan seorang yang bangun dan turun dari tempat tidur…

Tak lama kemudian… <klik…!> bunyi suara kunci pintu kamar ini dibuka. Baru juga Weni mulai berkata lagi… keburu sebuah tangan kekar menarik tubuhnya masuk kedalam kamar Diro ini. Kemudian… <klik…!> pintu kamar ini di kunci kembali dari dalam! Dengan sangat tenang Diro memeluk tubuh sintal Weni yang masih terbalut gaun tidur sutera tipis dan… tidak memakai daleman samasekali!

Weni terkejut menerima perlakuan seperti ini, spontan dia meronta berusaha melepaskan dirinya dari dekapan kuat tangan-tangan kekar Diro, anak tirinya ini, sambil berkata, “Diro! Kamu masih ngigau ya sayang…! Ini mama-mu ingin mengajak kamu… makan siang bersama! Lepaskan pelukanmu… sekarang! Cepat! Dengar tidak…!”, kata Weni berusaha tegas dan menjaga reputasi-nya sebagai seorang ibu dirumah ini.

Dengan sangat tenang dan penuh keyakinan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, Diro melepaskan dekapan eratnya pada tubuh seksi ibu tirinya. Dengan kalem dia membuka kembali pintu kamarnya… <klik…!> serta menarik daun pintu itu membuka kedalam dan berkata dengan berwibawa dan mantap.

“Silahkan… mama-ku yang cantik jelita… cuma ada 2 pilihan yang harus mama pilih…! Dan ingat! Jangan pernah berharap ada kata permintaan maaf… walaupun hanya sebutir pasir besarnya… dari mulut Diro…! Mama tinggal memilih apa yang mama ingin lakukan… pertama keluar dari kamar ini… mungkin ingin merangkai kata laporan untuk… papa kandungku, mungkin juga ingin kontak menelpon papa dengan tenang dari kamar tidur mama sendiri…! Atau… pilihan yang kedua… buka dahulu gaun tidur mama yang tipis ini… lalu segera berbaring terlentang ditengah-tengah tempat tidur Diro… cukup empuk kok… rasakan saja sendiri…!”.

“Kamu… Diro…”, terkesiap terdiam Weni menghentikan perkataannya, ketika menatap mata Diro, anat tirinya ini… begitu tajam sorotan mata maskulin-nya… tanpa terlihat adanya setitikpun nada kebencian didalamnya… yang hanya terlihat oleh Weni wanita cantik jelita berumur 36 tahun ini adalah… bayang-bayang gairah penuh birahi dari orang muda yang berumur setengah dari umur Weni sendiri!

Hening sejenak… Weni berpikir cepat… apalagi dia sudah seminggu tidak mendapatkan ‘jatah batin…’. Danang, suaminya lebih suka jatahnya ini diberikan semuanya pada tubuh yang jauh lebih muda… puteri kandungnya sendiri, Dini, yang seumuran dengan Diro yang berusia 18 tahun ini. Untuk melaporkan tindakan yang dianggap Weni… ‘kurang ajar’ ini… tidak pernah terbersit didalam benaknya yang cerdik… walaupun hanya setengah detik sekalipun! Diro adalah figur setengan belahan jiwa-raga ayah kandungnya…! Memberitahukan perilaku anak tirinya pada ayah kandungnya… sama saja melempar dirinya sendiri… keluar dari kehidupan bersama suami barunya ini… untuk selamanya!

Akhirnya… dengan tenang dan pasrah… Weni melepaskan sendiri gaun tidur suteranya yang tipis, melipatnya dan ditaruh diatas meja belajar Diro.

Sedang Diro dengan tenang menutup kembali pintu kamar tidurnya dengan sangat perlahan, kemudian mengunci pintu itu dari dalam kamar… <klik…!> Masih dengan tenang… penuh keyakinan, melucuti sendiri seluruh pakaian yang dikenakan pada tubuhnya. Terlihatlah… tubuh telanjang bulatnya… bak tubuh kekar perkasa dari sosok tubuh Ares, dewa perang dalam cerita Yunani kuno.

Segera tubuh tegap Diro naik keatas tempat tidurnya, langsung menindih dengan lembut bak tubuh telanjang Aphrodite yang mendekati umur paruh baya, Weni yang bertubuh sintal… putih mulus dan csntik jelita ini. Diro tidak langsung mendaratkan ciuman pada bibir sexy ibu tirinya… yang terlentang pasrah dan hanya menunggu saja dengan sabar serta mengikuti dengan matanya yang berbulu mata lentik yang melengkung keatas sangat erotis sekali… tanpa bersuara… <seerrr…!> keluar semprotan kecil dari dalam vagina-nya, langsung melicinkan ‘jalan’ menuju ke gua nikmat vagina-nya… yang sudah amat haus akan belaian kasih dan sodokan nikmat didalam lorong vagina-nya… yang sudah seminggu tak kunjung disatroni oleh penis tegang milik suami barunya, Danang.

Diro berbisik di telinga kanan Weni dan berbisik mesra dengan lembut. “Mama sungguh cantik sekali… mulus jelita lagi tubuh mulus mama-ku ini, sayang… Maafkan papa Diro ya ma! Tidak seharusnya papa berlaku pilih kasih terhadap mama…! Jangan khawatir ma… Diro yang mewakili papa dan melunasi semua ‘jatah’ yang sudah alpa… papa berikan pada mama… isterinya sendiri!”.

Weni tak sanggup berkata-kata… apalagi menimpali kata-kata lembut yang keluar dari mulut anak tirinya ini. ‘Andainya saja Danang… suamiku itu santun tutur katanya dan perlakuannya yang lemah-lembut dalam menikmati tubuh telanjangku yang pasrah ini seperti yang sedang dilakukan Diro sekarang ini. Oooh… Danang suamiku… belajarlah pada Diro, anak kandungmu sendiri…!’.

Kemudian Diro melakukan French Kissing yang super lembut… yang tak mungkin menyesakkan napasnya yang mulai tersengal nikmat. Tubuh Weni bagaikan melayang-layang di udara, diterpa dan melewati awan nikmat beraroma nafsu birahi yang memabukkannya <seerrr…!> ada semprotan kecil ke-dua yang melicinkan sempurna seluruh permukaan lorong gua nikmat didalam vagina-nya yang labia majora-nya terlihat bagaikan mulut dari seekor ikan maskoki yang megap-megap karena kekurangan zat oksigen…

“Mama-ku sayang… tolong pegang dan masukkan penis Diro kedalam vagina mama… Ayo dong… ma!”, kata Diro lembut meminta pada ibu tirinya ini.

Agak ragu dan sungkan, Weni memenuhi permintaan lembut Diro, anak tirinya ini. Terkesiap kaget campur kagum, ketika tangan halus menggapai dan langsung menggenggam batang penis Diro yang amat keras dan tegang. Sejenak Weni mencoba melingkarkan jari-jari tangan kanannya yang lentik… dan mengurut penis keras milik anak tirinya dan mulai dapat memperkirakan seberapa panjangnya penis itu. Penis keras itu Weni memperkirakan panjang penis keras itu dari pangkal (dekat bulu pubis-nya) sampai pada ujung ‘helm’ palkon-nya dibandingkan dengan lebar telapak tangannya… kira-kira panjangnya 17 cm kurang 1 cm saja dari panjang penis suaminya… tapi kekerasannya 2 X lebih keras… mungkin lebih keras lagi…!

Buru-buru diarahkannya palkon Diro dan menekannya sedikit dengan pinggul mulusnya yang diangkat, melewati katupan labia majora dan berhenti pas didepan mulut gua nikmat vagina-nya.

“Tekan… sayang!”, ujar Weni, singkat saja.

<Bleeesss…!> masuk sudah seluruh batang penis Diro yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh ‘gua nikmat’-nya… Dimulailah pompaan-pompaan nikmat yang bagaikan gerakan piston penis keras Diro yang bergerak didalam silinder lorong nikmat vagina Weni, ibu tirinya… masuk-keluar… masuk-keluar… tarik-dorong… tarik-dorong… konstan saja speed-nya serta non-stop… Terhentak-hentak merasakan nikmatnya persetubuhan pengganti ‘jatah’-nya itu, Weni mendesah-desah mulutnya… tidak jelas kata-kata apa yang diucapkannya itu… Sedangkan Diro yang masih terus saja mengayun-ayunkan pinggul yang kekar… turun-naik… turun-naik…

Diro tidak fokus dan juga tidak serius sekali menikmati senggama perdana-nya… lumayan istimewa sih… karena cewek pasangan ngeseks… tidak lain dan tidak bukan adalah ibu tirinya sendiri, isteri ke-dua ayah kandungnya, Danang! Karena jepitan labia majora vagina Weni yang menjepit lembut batang penis keras Diro serta cengkeraman sangat kuat dari otot-otot elastis disepanjang lorong nikmat didalam vagina mulus Weni… menjebabkan ketegangan penis Diro… terjaga dengan baik…!

Sembari melakukan itu semua, pikiran Diro lagi mengingat-ingat nama bank untuk rekening baru penyimpanan uang yang diberi ayah kandung tadi pagi… uang hasil korupsi uang negara yang dilakukan Danang… ayah kandung Diro.

Yang tidak disadari Diro adalah bahwa persenggamaanya dengan ibu tirinya itu, telah berlangsung hampir satu jam lama! Yang menyebabkan setiap 10 menitnya, Weni seakan ‘terpaksa’ harus menerima orgasme-nya. Mendekati menit-menit mendekati untuk melengkapi waktu 1 jam, barulah tersungging senyumannya. “Ooohhh… iya! Baru aku ingat sekarang… bukankah nama bank itu adalah kata lain dari ‘batu perhiasan’, he-he-he… baru aku bisa ingat sekarang. Hari Senin, 3 hari lagi aku akan membuka nomor rekening baru untuk uang Rp30 juta ‘uang panas’ pada bank itu. He-he-he… kenapa aku jadi pelupa ya… sekarang?!’, Diro mula menghentikan lamunan tentang nama bank itu dan mulai fokus lagi pada acara ngeseks-nya dengan serius! Tidaklah terlalu lama… dengan genjotan pinggul kekar yang dipercepat… <CROTTT…!> <Crottt…!> <Crottt…!> cukup 5 menit saja untuk Diro mendapatkan orgasme perdana-nya… yang ditukar dengan perjaka-nya.

“Terimakasih banyak… mama-ku yang cantik…!”, kata Diro dengan lembut didekat telinga kanan sang ibu tiri.

Mana bisa didengar oleh Weni… beliau sedang berpetualang yang baru lagi… di alam ‘negeri antah berantah…’. Terlihat senyum puas pada bibirnya yang seksi serta bernapas pelan dan konstan menyebabkan alunan dadanya berayun secara teratur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*