Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 18 (Tamat)

Anak Nakal 18 (Tamat)

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 17

Bab 18
ISTRIKU AULA

“Ric?!” aku menelpon salah seorang kenalanku yang ahli dalam dunia hacking yang bernama Ricard. “Butuh bantuan lu nih.”

“Anjrit! Doni?? Masih hidup lo?” tanyanya.

“Monyet, ya hiduplah. Eh aku ada plat nomer nih, kau bisa lacak nggak rumahnya di mana?” tanyaku.
“Oh beres, like old times,” katanya. “Kirim aja ke BBM, ntar aku kasih alamatnya.”

“OK, trims ya?!”

Malam itu aku di hotel sedang galau. Tak bisa tidur. Akhirnya malam hari itu aku habiskan untuk menonton tv hingga pagi. Benar-benar bosen. Aku pun masih belum bisa tidur. Setelah sarapan yang lezat dengan nasi goreng dan teh hangat. Aku kemudian check out. Aku masih harus melanjutkan perjalananku untuk sampai di Sabang. Perjalanannya tak begitu lama sebenarnya. Hingga kemudian aku mendapatkan balasan dari Ricard. Alamatnya pun aku simpan. Tujuanku ke Sabang pun aku urungkan dulu. Mencari alamatnya.

Aku berputar-putar di Aceh, mencari alamatnya. Nyasar sana, nyasar sini, hingga kemudian sampailah di sebuah komplek. Tampak beberapa bangunan elit. Dan aku pun sampai di sebuah alamat yang ditunjukkan oleh Ricard. Sebuah rumah yang cukup megah. Dan mobil itu terparkir di dalamnya. Aku tak mungkin nyelonong masuk ke sana langsung. Kuparkirkan mobilku agak jauh dari rumah itu. Kebetulan tak jauh dari situ ada sebuah warung kecil. Sepertinya memang penduduk sekitar. Aku pun mampir ke warung itu sambil beli kopi aceh dan pisang goreng.

Tak butuh waktu lama, tangan ibu-ibu pemilik warung yang sudah pengalaman selama bertahun-tahun itu sudah membawakan aku gelas terbalik berisi kopi disebuah lepek atau piring kecil. Dan minumnya cukup unik yaitu gelasnya dimiringin sedikit. Yup, beginilah cara menikmati kopi Aceh. Aku pun kemudian tanya-tanya mengenai daerah itu, sambil menyinggung siapa pemilik rumah itu.

Dari dudukku dan kongkong selama kurang lebih 15 menit, aku pun mendapatkan informasi bahwa rumah itu adalah rumah salah seorang bangsawan asli dari Aceh. Tengku Nadhim. Harapanku pun hampir putus, apakah mbak Juni menikahi salah seorang bangsawan ini? Kalau iya…aku bakal patah hati seumur hidup. Usut punya usut ternyata tak ada yang namanya Juni. Adapun Tengku Nadhim baru saja mengangkat anak beberapa tahun yang lalu. Namanya Aula. Dahiku berkerut, berpikir keras. Namanya Aula? Kenapa? Apakah aku salah orang?

Karena ini orang besar dan bangsawan. Maka aku pun harus memperlakukan orang ini seperti bangsawan. Dengan cara yang tidak mudah–dengan bantuan Ricard tentunya, aku pun berhasil mendapatkan nomor telepon pribadinya Tengku Nadhim. Aku telepon dia. Tak ada yang mengangkat. Cukup sabar aku menelpon dia berkali-kali tapi tak diangkat. Mungkin karena nomorku tidak dikenalnya dan dia tak sembarangan memberikan nomor teleponnya. Aku pun memaklumi.

Malam itu aku menginap di hotel yang tak jauh dari komplek itu. Sambil malam harinya mengamati rumah itu dari jauh. Kalau-kalau siapa tahu mbak Juni keluar. Dan benarlah. Penantian panjangku tak sia-sia. Mbak Juni keluar dari rumah. Tampak ia membuka pagar lalu berjalan. Ia memakai jilbab lebar dan sesekali berkibar terkena angin. Ia agak buru-buru, aku mengikutinya dari kejauhan. Ternyata ia berbelok di sebuah swalayan yang tak jauh dari rumahnya. Aku mempercepat langkahku. Aku ingin menanyakan banyak sekali pertanyaan kepadanya.

Beberapa orang polisi syari’ah tampak mondar-mandir di komplek ini. Kalau aku ketahuan berduaan dengan dia bisa berabe nih. Aku pun menyusul masuk ke dalam swalayan. Di dalamnya ternyata cukup luas. Swalayan ini memanjang ke belakang. Wanita yang mirip mbak Juni itu tampak sedang berada di rak obat. Aku berjalan memutar agar bisa menyapanya dari belakang, karena aku tak mau mengejutkannya. Tapi mungkin ia lebih terkejut kalau aku sapa dari belakang.

“Mbak!” sapaku.

Wanita itu kaget. Ia berbalik ke arahku. “Kau??!”

Aku langsung memegang tangannya. Sambil meletakkan telunjukku di bibirku. “Ssshhh…!”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Mbak Juni, kenapa mbak menghilang dariku selama ini? Kenapa?” tanyaku.

“Aku bukan Juni,” katanya.

“Tidak mungkin. Kau mengenalku. Kau mengenalku kemarin. Bahkan kalau tidak kenapa kau bilang ‘Apa yang aku lakukan di sini?'”

Ia tak menjawab. Tampak matanya berkaca-kaca.

“Kumohon mas, pergilah! Aku tak mau bertemu kamu lagi,” katanya sambil terisak.

“Kenapa? Apa salahku? Ketahuilah selama ini aku mencarimu, selama ini pula aku selalu memikirkanmu. Kenapa kau menghindar?” tanyaku. Entah kenapa mataku juga berkaca-kaca. Entah karena perasaan bahagia atau karena perasaan kerinduan yang memuncak.

“Mas, sudahlah. Aku bukan Juni. Aku Aula. Juni adalah masa lalu mas. Mas jangan dekati aku lagi. Aku mohon!” katanya. Ia menarik tangannya dariku.

“Katakan anak kemarin itu adalah anakku. Hasil hubungan kita!”

Ia diam membisu. Air matanya meleleh. Ia pun terisak. “Sudah mas. Biarkan aku pergi! Kumohon!”

“Katakan apa salahku? Katakan kau masih mencintaiku!”

Ia mengangguk, “Aku masih mencintai mas. Tapi…aku tak bisa….maafkan aku mas…”

Setelah itu aku melepaskan peganganku. Ia lalu berlari menuju kasir sambil membawa obat entah apa yang ia bawa tadi. Kasir tampak kebingungan melihat ia menangis. Setelah membayar dan membawa barangnya ia segera pergi dari tempat itu. Aku tak sanggup untuk mengejarnya. Kakiku lemas. Entah apa yang sedang dialami olehnya. Kenapa ia merubah namanya segala? Tapi secercah harapan masih ada. Ia masih mencintaiku.

***

Malam itu aku bisa tidur, tapi bermimpi mengejar Juni. Tahu-tahu aku terbangun oleh suara dering telepon. Aku lihat ponselku ada panggilan dari Kak Vidia.

“Halo?” sapaku.

“Papah, koq ndak kabar-kabari sih? Katanya tiap hari ngabari? Kemarin kemana aja? Kami khawatir lho,” katanya.

“Oh iya, lupa. Habis kemarin aku bertemu dengan seseorang,” kataku.

“Hah? siapa?” tanyanya.

“Mbak Juni, ia ada di Aceh. Aku tak yakin kalau aku tak bicara langsung dengannya,” kataku.

“Syukurlaaah…trus…trus bagaimana kelanjutannya?” tanya Kak Vidia. Koq dia yang jadi senang. “Aku turut senang kalau mbak Juni sudah ketemu. Trus ia sudah menikah lagi? Anaknya bagaimana?”

“Ya mana aku tahu, ketemu aja kurang dari lima menit. Itu pun sambil kejar-kejaran,” kataku dengan suara setengah parau.

“Papah…mamah do’ain ya agar segera ketemu. Aku akan sampaikan kabar gembira ini ke yang lain. Mamah sangat senang sekali, mmuuaacchh…sampai nanti ya pah,” kak Vidia lalu menutup teleponnya. Aku menguap lebar. Hari ini aku akan coba bertamu ke rumahnya.

Dengan terpaksa sekali hari itu aku belanja baju baru, kemeja baru, celana baru, sepatu baru. Untungnya tak jauh dari boutique. Karena aku akan menghadap seorang bangsawan, paling tidak aku harus benar-benar percaya diri. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mbak Juni sampai seperti itu.

Agak sore aku memakirkan mobilku di depan pagar rumah Tengku Nadhim. Salah seorang penjaganya menanyakan keperluanku.

“Saya ingin ketemu dengan mbak Juni…ehh…maksud saya Aula,” kataku.

“Oh, maaf pak. Dia sedang ada di rumah sakit. Rumah sedang sepi,” kata penjaga.

“Memangnya siapa yang sakit ya pak?” tanyaku.

“Putranya puan Aula,” katanya.

“Tahu alamat rumah sakitnya pak?” tanyaku.

Setelah diberi alamat rumah sakitnya. Mobilku langsung meluncur di atas jalanan aspal yang panas. Jarak rumah sakitnya tak begitu jauh ternyata. Setelah tanya orang-orang di sekitar. Petunjuk jalannya pun tak begitu sulit. Sesampainya di rumah sakit aku segera bertanya ke resepsionis. Aku pun ditunjukkan kamar tempat Faiz.

Di sana ternyata berkumpul semua anggota keluarga. Ada seorang yang sudah tua, pakaiannya rapi dan perawakannya bersahaja. Aku yakin orang ini pasti Tengku Nadhim. Ketika mbak Juni alias Aula melihatku, ia permisi terlebih dahulu. Semuanya tampak mengerti kalau aku adalah tamunya. Tentunya mereka semua penasaran.

“Apa yang terjadi? Sakit apa Faiz?” tanyaku.

“Apa yang mas lakukan di sini?” tanyanya.

“Apa yang aku lakukan? Dia anakku aku tentunya terpanggil, aku juga ikut khawatir,” kataku. “Biarkan aku melihatnya!”

“Jangan mas, kumohon jangan!” mbak Juni menarik tanganku agar tak pergi.

“Kenapa?”

Matanya berkaca-kaca dan ia kembali menangis, “Kumohon, mas pergi. Kumohon mas…!”

“Katakan satu alasan kenapa aku tak boleh menemuinya? Bukankah ia anakku? Katakan kepadaku! Jelaskan!”

Seorang anak perempuan tampak keluar dari kamar itu dan menghampiri mbak Juni. Ia lebih sedikit lebih besar. Kemungkinan ia anaknya mbak Juni yang pertama. Karena aku tak pernah melihatnya sebelumnya.

“Umi, adek manggil-manggil Umi,” katanya.

“I..iya, sebentar ya sayang,” kata Mbak Juni. Ia menghapus air matanya. Lalu pergi ke kamar.

Saat itu Tengku Nadhim keluar dari kamar. Ia menemuiku. Tak ada raut marah atau apapun dari wajahnya. Ia seperti orang normal. Ia yang menyapaku duluan.

“Kamu, Doni?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

“Aku sudah menduga, hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat kita pasti akan bertemu,” terangnya. “Ikut aku, kita bicara di tempat yang lebih nyaman.”

Kami kemudian berjalan hingga menuju ke sebuah gazebo di halaman dalam rumah sakit. Gazebo itu cukup sepi, sehingga kami bisa menikmati suasana asri halaman rumah sakit yang ditumbuhi tumbuh-tumbuhan hijau. Semilir angin sepoi-sepoi membuat suasana tambah sejuk.

“Ada hal yang ingin aku ceritakan, kuharap kau tak keberatan,” katanya.

Aku menggeleng, “Silakan.”

“Aku dulu adalah orang yang terpandang di daerah sini. Seorang bangsawan yang dikenal dan terkenal. Beberapa kali kalau kepala negara singgah ke Aceh pasti singgah ke rumah kami. Dan sebagai seorang bangsawan, karena kaya dan terhormat aku pun sombong. Hampir semuanya aku beli, hampir semuanya aku dapatkan, kecuali satu. Yaitu seorang wanita yang sangat shalihah, namanya Arum. Dia bukan orang Aceh, tapi orang Jawa. Bapaknya orang biasa, bekerja sebagai salah satu kontraktor. Yang kebetulan ada pekerjaan di sini. Awal perkenalanku dengan dia adalah ketika secara tak sengaja bertemu dengan dia dan ayahnya di sebuah proyek yang memang kebetulan kami yang punya.

“Begitu melihatnya aku langsung tertarik. Segera saja aku sampaikan maksudku kepada orang tuanya untuk melamar. Tapi ternyata maksudku ditentang oleh keluargaku. Bagi mereka, aku harus menikah dengan orang bangsawan juga, bukan orang rendahan. Tapi yang namanya cinta aku pun nekad. Aku pun melamar Arum kepada bapaknya. Orang tuanya sih setuju. Tapi kemudian mendapatkan pertentangan dari kedua orang tuaku. Aku pun terusir.

“Kami kemudian pindah ke Jawa. Aku cukup lama tinggal di sana sambil membina rumah tangga bersama Arum. Kami pun mempunyai anak bernama Aula. Sampai kemudian kejadian tak terduga aku alami. Anakku diculik. Sang penculik minta tebusan. Tapi karena aku bekerja pas-pasan dan tidak punya uang. Akhirnya aku pun mencoba untuk menghubungi keluargaku. Mereka pun memberikan syarat yang tidak bisa aku tolak. Yaitu aku harus meninggalkan Arum dan Aula buah hatiku. Hancurlah hatiku. Akhirnya demi keselamatan Aula, akhirnya aku menyetujui. Uang tebusan dibayar dan anakku selamat. Tapi saat itu pula aku harus meninggalkan mereka.

“Sekembalinya di Aceh, aku membangun semuanya lagi. Aku menjadi orang yang terpandang. Tapi aku sama sekali tak pernah menikah. Karena cintaku hanya satu yaitu kepada Arum. Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku mewarisi kekayaan yang berlebih lagi. Saat itulah aku mulai mencari Arum. Ternyata kenyataan berubah. Tidak seperti yang aku harapkan. Arum sudah meninggal. Semenjak aku tinggal ia sendirian menghidupi keluarganya hingga terkena TBC. Lalu kemana Aula? Ia ternyata diadopsi. Aku lacak lagi, hingga bertahun-tahun lamanya. Kemudian aku mengetahui bahwa dia sudah menikah tapi bercerai tapi dengan nama lain. Yaitu Juni. Awalnya ia tak percaya kepadaku. Tapi kemudian aku beritahu segala hal tentang dirinya akhirnya dia pun mengerti dan mau menerima. Aku boyong ia ke Aceh dan menjadi anakku. Penerus kekayaanku.

“Ia sering bercerita tentang dirimu. Tentang orang yang sangat dicintainya. Tapi ia takut untuk bertemu denganmu. Entah apa persoalan yang kalian hadapi. Aku hanya bisa memberitahu bahwa anaknya sekarang seperti itu, kemarin demamnya tinggi dan sekarang sepertinya kena demam berdarah. Trombositnya turun drastis. Aku bisa melihat kemiripan dari wajah Faiz denganmu dengan sekali lihat. Sekarang, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah kau mencintai Aula?”

Aku tak mampu membendung air mataku, “Aku mencintainya Tengku, sangat mencintainya. Aku selama ini mencarinya. Kalau memang Tengku adalah ayahnya aku ingin melamarnya sekarang.”

“Semua itu tergantung dari Aula. Ia adalah anak yang baik. Sekalipun tahu aku kaya ia tak pernah meminta lebih. Ia tahu batasan-batasannya. Seorang wanita yang sederhana, kalau nanti ia menerimamu, jangan kecewakan dia. Aku akan berikan kalian waktu. Ayo!” ia pun mengajakku ke ruangan tempat Faiz dirawat.

Tengku Nadhim memberikan isyarat agar anggota keluarga yang lain selain Aula dan aku untuk meninggalkan kamar. Wajah mbak Juni alias Aula tampak kebingungan. Ia hanya bisa duduk di sebelah Faiz yang sekarang sedang tertidur. Ternyata ini anakku. Wajahnya tampan. Tapi aku merasa ia lebih mirip kepada ibunya daripada aku.

“Aula,” panggilku.

Aula mengambil nafas sejenak. “Apa yang dikatakan oleh ayah kepadamu?”

“Ia sudah cerita semuanya,” kataku. “Kau masih mencintaiku bukan? Kenapa kau lari?”

“Kau sudah tahu kenapa aku lari. Aku tak bisa meninggalkan ayah. Kalau aku bersamamu, itu sama artinya meninggalkan dia sendirian di sini. Aku adalah satu-satunya keluarganya sekarang,” katanya.

“Tapi kumohon Aula, jangan kau pisahkan aku juga dari anakku. Apakah kau tega melakukan ini kepadaku?”

Aula berdiri lalu memelukku. Ia benamkan wajahnya di dadaku. Ia menangis sejadi-jadinya. Keharuan pun akhirnya tak bisa dibendung lagi. Aku pun ikut menangis. Entah haru, rindu, cinta semuanya menjadi satu.

“Aku juga tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku cinta sama mas, aku cinta sama mas. Aku sangat cinta. Aku pun tak tega mas, aku tak tega,” Aula memelukku erat sekali.

Tengku Nadhim masuk ke kamar lagi.

“Aula, pergilah. Tidak apa-apa, jangan khawatirkan ayah!” katanya.

“Tapi….tapi…,” Aula beralih ke pelukan ayahnya. Ia pun menangis di sana.

“Jangan kau ulangi kesalahan ayahmu ini. Kau harusnya bersyukur ada orang yang sangat mencintaimu hingga rela berkorban apapun demi dirimu, jangan sampai kau pisahkan ayah dan anaknya. Sebab hal itu akan menjadi karma,” katanya.

“Ayah…aku tak tahu harus bagaimana,” kata Aula sambil terisak.

“Aku sudah berbicara dengan dia. Dia anak baik, dia akan jadi suamimu yang baik, pergilah kalian. Ayah rela. Aku akan serahkan putriku kepadamu. Jagalah dia baik-baik. Jangan sampai seperti diriku,” Tengku Nadhim menepuk pundakku.

Hari itu entah hari apa. Aku pun mulai tak ingat. Yang jelas. Mbak Juni kembali kepadaku. Tapi kini aku memanggilnya Aula.

***

Setelah seminggu di rumah sakit Faiz pun sembuh. Aku jadi lebih lama lagi tinggal di Aceh. Dan Tengku Nadhim pun setuju dengan hari pernikahanku dan mas kawinku. Di sela-sela menunggu hari pernikahanku, aku sempatkan diri untuk berfoto selfie di Pulau Sabang, ujung Indonesia. Sejak hari itu aku sudah telepon-teleponan dengan semua orang. Dengan Kak Vidia, dengan Nur, dengan Laura. Dengan semuanya. Memberikan kabar gembira ini. Aula tentu saja aku candain lewat telepon, SMS, ataupun BBM.

Pernikahanku dengan Aula berlangsung sederhana. Kami mengundang tetangga dan kenalan-kenalan Tengku Nadhim. Hari itu ia memakai gaun pengantin yang sangat cantik. Mungkin baru kali ini aku menikah seperti ini. Bagaimana tidak Kak Vidia dan Nur tak pernah merasakan pernikahan seperti ini. Laura juga tak pernah kunikahi secara sah seperti ini. Aku pun membayar akad nikahnya mas kawin uang sebesar 333.333. Angka terunik, mungkin karena hari itu adalah bulan maret tanggal 3. Pesta perkawinan pun cukup dihibur oleh kesenian lokal, sekalipun begitu tetap semewah khas bangsawan.

Setelah pesta perkawinan dan tamu-tamu pulang kami benar-benar seperti pengantin baru. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Kamar kami disiapkan. Baunya sangat wangi. Aula memakai gaun pengantin warna putih dan jilbabnya yang panjang itu tampak dibalut dengan rangkaian bunga melati. Make upnya pun membuat ia tambah lebih cantik lagi.

Aku duduk di pinggir ranjang. Aula duduk di meja rias. Satu per satu ia mencopot perhiasannya. Kerudung putih ia tanggalkan. Tampaklah rambutnya yang terurai. Alamaaak cantik sekali. Entah kenapa aku jadi berdebar-debar seperti ini. Aula menoleh ke arahku.

“Kenapa mas? Grogi?” tanyanya.

“I…iya,” kataku.

“Kaya’ ndak pernah ngerasain aja,” ejeknya.

“Hush, beneran aku ndak pernah merasakan seperti ini,” kataku.

Aula cekikikan.

“Tapi, ngomong-ngomong kau yakin menerimaku?” tanyaku.

Aula berdiri kemudian berbalik menghadapku. Ia melepaskan kain batik yang melekat di pinggulnya sehingga tubuh bagian bawahnya terekspos. Pahanya mulus sekali, kakinya seperti kaki seorang putri raja. Ia pun kemudian membuka baju atasannya, kancingnya dilepas satu per satu. Setelah terbuka semuanya ia melempar begitu saja baju pengantinnya. Aku sekarang melihat seorang berparas cantik dengan bra, korset dan celana dalam. KREEETTT….suara korset dilepas, kemudian Aula melemparkannya. Terpampanglah kulit perutnya yang mulus tak tampak kalau sudah melahirkan dua orang anak. Dadanya juga sepertinya ada peningkatan ukuran dari terakhir kali aku bertemu.

Ia lalu naik ke pangkuanku. Dilingkarkannya tangannya ke leherku.

“Aku cinta sama mas. Cinta mati!” katanya. Ia mencium bibirku lembut. “Aku akan terima apapun yang ada pada mas. Apapun itu, kau adalah suamiku, ayah dari anak-anakku. Janganlah kau khianati cintaku sebagaimana suamiku dulu. Kau adalah segala-galanya bagiku sekarang.”

“Oh…Aula….hhmmm,” aku sambut ciumannya dengan panggutan hangat.

Aku pun segera membuka baju atasanku, Aula membantuku. Setelah tubuh atasku telanjang, dilemparkannya baju itu ke lantai. Kemudian kami bergumul di atas ranjang. Ada kegembiraan tersendiri. Kenyamanan tersendiri yang tak bisa diungkapkan di malam pengantin ini. Walaupun mungkin soal ranjang aku sudah berkali-kali melakukannya dengan banyak wanita tapi tampaknya ini adalah klimaks. Rasanya lain. Seperti rasa dua orang yang saling menyinta yang sama-sama pasrah, sama-sama menggebu untuk bisa mencinta dan dicintai. Memang benar kata orang, rasanya orang yang bercinta sebelum menikah itu berbeda dengan yang sudah menikah.

Aku tak habis-habisnya menyedot ludah Aula. Ia pun memberikan ludahnya untukku. Aula juga menghisap ludahku. Lidah kami bertemu, memberikan rangsangan satu sama lain. Aku melepaskan celanaku, ia membantuku dengan menurunkannya dengan kakinya. Lalu kubuka kancing branya, dan kulempar penutup buah dada itu. Setelah tarikan cepat celana dalam kami pun sudah entah ada di mana. Tubuh kami telanjang, polos, dan saling memberikan kehangatan satu dengan yang lain.

“Aku rindu kamu mbak Jun…eh…Aula,…hmmhhh….,” dengusku.

“Aku juga mas Don….hhmmmmhh…,” balasnya.

Aku menciumi pipinya, lalu ke lehernya. Kuhisap kuat-kuat kulitnya, kujilati setiap inchi tubuhnya. Aula menggeliat manja. Ia sadar sekarang yang ia inginkan sejak dulu adalah aku. Aula menyerahkan seluruh tubuhnya untukku. Sekarang dirinya berada dalam keprasahan total memberikan setiap jengkal tubuhnya untuk aku sentuh, aku ciumi, aku cubit, aku gigit. Aku pun begitu, kuserahkan seluruh tubuhku untuknya untuk dia ciumi, ia hisap, ia jilat, ia gigiti.

“Tubuhku untukmu mas,” katanya.

“TUbuhku juga untukmu,” kataku.

“Ohh…suamiku,”

“Ohh…istriku.”

Kami berpelukan erat sekali seakan-akan tak ingin lepas. Dan bibirku menelusuri pundaknya. Kuhisap sari-sari tubuhnya, keringatnya pun menjadi seakan pemuas dahagaku, kutelusuri bahunya, memutar ke ketiaknya. Lidahku menyapu di seluruh permukaan kulit ketiaknya, Aula merintih, memejamkan matanya menikmati sensasi kegelian. Ia mungkin tak menyangka suaminya ini benar-benar tak ingin sejengkal dari tubuhnya lepas begitu saja.

“Ohh..masss….,”

Tetesan-tetesan peluh yang muncul di permukaan kulit kami bertemu. Malam yang dingin ini berubah menjadi hangat. Lidahku yang sudah puas di ketiaknya sekarang ke buah dadanya. Kuputari daerah aerolanya, buah dadanya padat, walaupun sedikit kendor, mungkin karena ia menyusui anak kami. Tapi tak masalah, bagiku tubuhnya sangat sempurna. Aku mendapatkan bidadari impianku. Bagiku ia adalah seorang wanita yang terbuat dari mutiara. Permukaan buah dadanya putih, harum, bau parfumnya yang semerbak menambah rangsangan untukku. Putingnya aku lumat, kukenyot dan kuhisap. Aula mengusap rambutku, didekapnya kepalaku hingga terbenam dalam kekenyalan payudaranya. Kuhisap seluruh aroma tubuhnya. Sehingga aku seperti orang yang mencari oksigen di sela-sela bukit kembarnya.

Sekali lagi Aula mengeluh, “Maasss…”

Aku menyusu lagi. Buah dada Aula membiusku, lidahku seakan tak habis-habisnya memutar-mutar di puting susunya. Aula pun tak pernah menyuruhku untuk berhenti. Tanganku meremas kedua bukit kembarnya. Aula cukup sabar membiarkanku dalam kepuasan. Ia terus memanggil-manggilku. Aku puas sekali menjelajah dua gunungnya. Kini aku bisa lihat dua bekas cupanganku di atas dua buah dadanya. Mata kami berhadapan. Aku kembali memanggutnya. Kami saling menghisap lagi. Tak ingin malam itu kami habiskan dengan bercinta yang sebentar, kami ingin memuaskan diri kami masing-masing. Lebih lama. Lebih lama lagi.

“Biarkan aku mas,” katanya. Aku didorongnya agar berbaring. Kini ia ada di atasku. Ia beranjak naik lalu memutar tubuhnya. Kini pantat Aula ada di hadapanku. Memeknya sudah basah, bau kewanitaannya membuatku makin bergairah. Tanpa diberi aba-aba, bibirku sudah maju untuk melahapnya. “Maaassss……sssshh….”

Aula keenakan sekarang. Ia pun perlahan-lahan mengocok batang kejantananku. Dijilatinya batangku, lidahnya menyapu kepala otongku, hingga benar-benar basah. Aku bisa merasakan ia beberapa kali meludah di batangku, lalu menghisap otongku. Mengulumnya dan mengocoknya dengan lembut. Buah zakarku tak luput dari sasaran mulutnya. Ia beberapa kali berhenti melakukan aktivitas oralnya ketika lidahku menyentuh klitorisnya. Dan Aula membenamkan penisku ke mulutnya, kepalanya naik turun. Ibaratnya penisku sekarang ini seperti permen lolipop berukuran jumbo. Tak ada rasa jijik, bahkan ketika cairan bening keluar di lubang kencingnya, Aula menjilati dan menyedotnya. Aku menggigit klitorisnya dengan bibirku, Aula menjerit.

“Maasss…nikmat….terus mass!” katanya.

Aku tak bisa berhenti. Kegiatanku mengoral kemaluannya terus berlangsung hingga ia sepertinya ingin orgasme. Kucolok-colok lidahku ke lubang senggamanya, lalu kuhisap klitorisnya. Bersamaan dengan itu Aula menggoyang-goyangkan pantatnya menjadikan hidungku sebagai alat untuk memuaskan kegatalan pada kemaluannya. Aula pun orgasme mulutku seperti disiram cairan yang banyak. Sebagian aku telan. Aula kemudian beranjak. Berguling ke kiri.

Kakiku ada di sebelah kepalanya dan kakinya ada di sebelah kepalaku. Tangannya masih menggenggam senjataku. Ia sepertinya ingin mengambil nafas dulu. Aku cukup mengerti. Ia perlu sedikit waktu. Maka dari itu, aku menciumi kakinya. Badanku agak miring. Kutarik kaki kanannya dan dengan cepat kutangkap jari jempolnya, lalu aku emut dimulutku. Seketika itu kurasakan bulu kuduk di sekujur kakinya seperti berdiri.

“Maasss….,” keluhnya.

Kakinya sangat cantik. Bersih. Jemarinya lentik. Lidahku berperang melawan jempol kakinya sekarang. Aula meronta-ronta, ia melepaskan batang kemaluanku. Tangan kirinya diletakkan di dahinya. Matanya memejam, inilah titik sensitif seorang wanita. Jempol kakinya. Saat ini Aula benar-benar merasa geli dan melayang. Kalau aku teruskan mungkin ia bisa lemas. Maka dari itulah aku tak mau berlama-lama. Tubuhku kuangkat, aku sudah siap bertempur dengannya. Aku sekarang memposisikan diri tepat berada di atasnya.

“Aula, cintaku. Mas mau masuk ya?” tanyaku.

Ia membuka matanya, kemudian kedua tangannya mengusap dadaku. Anggukan mantapnya membuat seluruh tubuhku serasa punya energi 1 juta watt. Penisku sudah max on. Kubimbing adik kecilku itu ke sebuah lubang kenikmatan yang dulu pernah ia rasakan. Tapi kali ini serasa berbeda. Semuanya berbeda. Kepalanya yang besar sudah berada di mulut liang senggama. Perlahan-lahan batang itu masuk, tanpa ada halangan yang berarti, separuh, lagi dan lagi, hingga terbenamlah semuanya. Tapi rasanya sempit, seret. Padahal ia sudah punya dua anak. Tapi rasanya lain. Penisku berdenyut-denyut, kembali ke tempat di mana ia dulu pernah masuk. Sekarang seluruh perasaan cintaku tertumpah di sini semua. Seluruh kulit kemaluanku merasakan kehangatan. Dan kemaluan Aula, sekarang meremas batangku. Meremas-remas seperti tak ingin melepaskan diriku begitu saja.

“Aahkk…sayang, kamu apain itu?” tanyaku.

Ia tak menjawab. Kakinya kemudian dilingkarkan ke pinggangku. “Aku milikmu sekarang mas, ayo lakukan! Kita raih bersama kenikmatan ini.”

“Aku ingin punya anak darimu lagi, aku ingin kita punya banyak anak,” kataku.

“Mass..apapun kata mas, mas ingin punya anak sepuluh pun akan Aula berikan. Tubuh ini milik mas, semuanya,” katanya.

“Bidadariku, ohh…aku ingin merasakan semuanya, semua bagian tubuhmu,” kataku.

Aku pun bergoyang. Naik turun. Gaya misionari ini sudah cukup memberikan kenikmatan yang tak terhingga bagiku. Enak sekali. Berbeda sekali rasanya. Rasa bercinta ini seperti ketika aku bercinta bersama bunda. Ya, rasanya seperti itu. Bagaimana seluruh perasaanku tertumpah di sini. Perasaan haru, rindu, gembira, semuanya jadi satu. Testisku membentur-bentur kulit kemaluannya karena batangku kumasukkan sampai mentok. Aula memejamkan matanya, menikmati setiap sodokan yang aku berikan. Aku pun juga menikmati setiap gesekang-gesekan yang membuat kepala penisku serasa gatal, geli dan nikmat.

Tiba-tiba rasanya penisku sudah mentok. Cairan ejakulasi sudah mengumpul di satu titik. Kepala penisku serasa gatal ingin mengeluarkan sesuatu. Aku tak kuat lagi, aku ingin orgasme. Tidak, ini terlalu cepat. Aku tak biasanya orgasme secepat ini.

“Mas mau keluar ya sayang?” tanya Aula.

“Koq kamu tahu?” tanyaku.

“Aku tahu tentang suamiku, karena kau adalah belahan jiwaku. Keluarkanlah, semburkanlah benih-benih itu, hamili aku mas. Aku sayang ama mas, cinta ama mas,” Aula merangkulku. Kami berpelukan dan pantatku makin cepat naik turun, kemudian dari batangku keluarlah semburan lahar hangat, membasahi rahimnya. Aku tak begitu mempermasalahkan seberapa banyak cairan benihku keluar. Orgasme itu serasa sangat lama, walaupun mungkin kami bersamaan keluarnya hanya beberapa detik. Aku seperti memeluk Aula selama bermenit-menit.

Kuangkat wajahku. Kutempelkan keningku ke keningnya. Dadaku bisa merasakan detak jantungnya. Nafasnya terengah-engah. Peluh kami bercucuran di malam yang sedingin ini. Kemudian perlahan-lahan kakinya tidak lagi melingkar di pinggangku. Aku menarik sedikit demi sedikit penisku yang berlepotan cairan. Ketika kepala penisku sudah keluar dari liang senggama. Aula meringis tersentak. Aku lalu berbaring di sebelahnya. Lubang kemaluannya mengalir sedikit lendir berwarna putih. Menetes di atas sprei tempat tidur.

Aula membelakangiku, aku pun merangkulnya dari belakang. Kutarik selimut. Kami sekarang berada di dalam satu selimut. Perasaan kami sangat nyaman. Perasaan cinta sejati yang tak akan mungkin bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Ibaratnya kamilah pemilik dunia, yang lainnya ngontrak.

“Aku tak pernah bercinta seperti itu tadi,” bisikku.

“Sama, aku juga,” kata Aula.

“Aula, aku sangat mencintaimu,” kataku. “Setelah ini, aku akan memboyongmu ke rumahku. Di rumah sudah menunggu Kak Vidia, Nur dan Laura. Mereka semua menerimamu.”

“Sudah punya berapa anak kamu dari mereka?” tanya Aula.

“Kak Vidia sekarang sedang mengandung, 2 bulan. Nur juga. Laura sudah punya anak satu,” jawabku. “Ceritanya panjang lika-liku kehidupan kami.”

“Bundamu?”

“Beliau sudah tiada,” kataku.

Aula tampak terkejut. Tentu saja ia tak pernah tahu berita ini. “Maaf, aku tak tahu.”

“Tak apa-apa, beliau sudah tenang di alam sana,” kataku. “Anaknya pun sudah besar sekarang.”

“Anakmu?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

Aula mencium tanganku. “Mas, mungkin akulah wanita yang paling sabar. Aku menerimamu dengan segala kekuaranganmu. Akulah satu-satunya yang bisa mencintaimu sekarang ini. Aku hanya ingin kau jangan meninggalkan aku. Berjanjilah, kau sudah menjadi nyawaku sekarang.”

“Iya, aku berjanji,” jawabku.

“Awalnya aku sangat takut, namun melihat kebersamaan kalian. Melihat bagaimana kejujuran mas, melihat bagaimana perjuangan mas, bahkan sampai ke sini, mencariku dan masih mencintaiku sampai sekarang. Mas juga peduli dengan anak kita, hatiku serasa meleleh. Kau sekarang adalah orang yang bisa membuatku hidup,” katanya.

Kami pun kemudian berbicara tentang banyak hal. Tentang petualanganku, pengalamanku, hingga kenekatanku touring seorang diri lintas sumatera. Ketika berbicara panjang lebar itulah, aku mengusap-usap payudaranya lagi. Kuremas-remas buah dadanya dan kupelintir-pelintir putingnya. Aku tahu Aula lagi-lagi terangsang. Penisku mengeras lagi.

“Kepingin lagi?” tanyanya.

“Kalau kamu tidak capek,” jawabku.

Ia menggeleng. “Nggak koq.”

Ia naikkan pantatnya sedikit, menempatkan penisku tepat di lubangnya. Satu sentakan penisku langsung masuk seperti kartu ATM yang ditelan oleh mesin ATM. Dengan posisi gaya miring dari belakang ini, kembali aku memacu untuk meraih kenikmatan. Kubolak-balikkan tubuh Aula. Kami benar-benar bergairah. Rasa rindu kami selama ini tercurahkan pada malam ini. Kami bercinta hingga benar-benar puas. Malam itu entah berapa banyak kami orgasme. Sebab setiap kali bercinta pasti kalau tidak sekali atau dua kali kami orgasme. Dan itu berulang-ulang. Istirahat sebentar bercinta lagi, istirahat sebentar bercinta lagi. Sampai kami bangun kesiangan. Itu pun yang membangunkan Faiz yang sekarang sudah sehat. Ia nyelonong masuk ke kamar saat kami tidak pakai baju. Tapi untungnya kami berada dalam satu selimut. Aku ternyata lupa mengunci pintu kamar dari kemarin. Dasar kalau sudah kepingin lupa segalanya.

***

Hari berikutnya kami benar-benar seperti raja dan ratu di rumah. Tengku Nadhim orangnya baik. Bahkan ia tertarik untuk berbisnis denganku. Rencananya juga ia akan membeli waralaba tokoku. Bisnis tetaplah bisnis. Kami membicarakan banyak hal seputar bisnis hingga lupa waktu. Pembicaraan kami pun mulai mengarah ke arah penempatan toko di beberapa titik yang mana itu adalah tanah milik Tengku Nadhim di Aceh ini. Luar biasa ternyata orangnya.

Aula datang langsung memelukku, “Ayah, suamiku ini kalau sudah bicara bisnis lupa waktu. Jadi keluar?”

“Oh, iya hahaha, tapi dia ini menyenangkan kalau diajak bicara. Kamu tak salah pilih suami Aula. Maaf kalau mengganggu acara kalian,” kata Tengku Nadhim.

“Tidak apa-apa ayah,” kataku.

“Sudah sana, aku tahu kalian ingin melepaskan kerinduan. Hati-hati!” kata Tengku Nadhim.

“Titip Faiz sebentar ya, ayah?” kata Aula. Ia mencium tangan ayahnya. Aku pun mengikutinya.

“Faiz cukup senang bersama kakeknya, kau tenang saja. Kalau Putri sudah sering ditinggal-tinggal. Ia bisa menghibur adiknya koq,” kata ayah mertuaku. “Mereka cuma harus menerima ayah baru, itu saja.”

Iya, Aula mulai mengenalkan kepada Faiz bahwa aku adalah ayahnya. Ayah kandungnya. Faiz sangat gembira bahkan ia memang ingin punya ayah. Sedari pagi tadi aku bercanda dengan Faiz sebelum bicara dengan Tengku Nadhim. Aku senang sekali bisa bertemu dengan buah hatiku.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

“Ke pantai yuk?” usul Aula. “Jaraknya tak jauh dari sini.”

Aku sih Ok saja. Selama aku mengemudikan mobil, tanganku memegang tangan Aula. Duh rasanya jantungku berdegup kencang. Apakah ini yang namanya cinta? Cinta sejati???

“Mas, tahu nggak? Sekarang ini hati Aula berdebar-debar. Senang sekali, haru, bercampur jadi satu,” katanya.

“Sama. Aku juga,” kataku.

“Seandainya kita bertemu sejak dulu ya mas,” gumamnya.

Setelah beberapa jam perjalanan kami sampai di lokasi. Kami sempat istirahat sejenak di sebuah restoran untuk makan siang. Sepanjang jalan kami habiskan untuk bercanda dan bercengkrama. Mobil kuparkir sampai di batas jalan. Tapi masih menghadap ke pantai. Kami keluar dari mobil dan kemudian duduk di atas kap mesin. Aula menyandarkan kepalanya ke bahuku. Ia sangat cantik hari itu. Bahkan mungkin menjadi wanita yang paling cantik sejagad ini. Kami menikmati sunset. Matahari mulai sedikit-demi-sedikit turun ke cakrawala. Warnanya pun berubah.

Mungkin pemandangan sekarang ini seakan-akan pemandangan paling romantis yang pernah aku ketahui. Duduk di atas mobil, menikmati pemandangan sunset, berduaan dengan orang yang dicintai. Rasanya dunia milik berdua yang lain ngontrak. Kerudung Aula berkibar-kibar tertiup angin. Kami berdua tidak berbicara sama sekali. Rasanya seolah-olah pikiran kami melakukan telepati yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang mengetahuinya. Tangan Aula menggenggamku erat. Ia seolah-olah tak ingin melepaskan diri dariku.

“Kau tahu, matahari sudah hampir tenggelam. Apakah kita akan terus di sini?” tanyaku.

“Sebentar mas. Ijinkan aku merasakan saat-saat seperti ini. Aku sudah lama sekali ingin merasakan hal ini,” katanya.

Apapun untuknya. Kami berada di tempat itu hingga matahari menghilang.

***

Agaknya benar, mungkin kita ini sedang dilanda jatuh cinta. Dan aku benar-benar merasakan yang namanya cinta. Aku pernah mencium wanita, tapi tak pernah selezat ketika aku mencium Aula istriku. Seperti malam ini, kami minta ijin tidak pulang ke rumah dan menghabiskan malam di sebuah hotel di dekat pantai. Begitu kami masuk kamar, aku langsung nyosor ke bibir Aula. Panggutan Aula tak kalah panas. Lidahku menyapu giginya, mencari lidahnya, setelah bertemu, kami saling menghisap. Ludah kami bercampur, rasanya manis, padahal kami tak memakan gula.

Kerudungnya kulepas, rambutnya tergerai indah. Istriku ini punya rambut lurus, panjang dan aku bisa mencium bau shampoo yang ia gunakan tadi pagi masih menempel. Bibirku masih menggelamuti bibirnya. Kuhisap bibir bawahnya, Ia pun menjilati bibir atasku. Lidah kami bertemu lagi dan saling menjilat dan menghisap.

“Ohh…suamiku…hhhmmmhh…” Aula sudah dipacu oleh birahi.

Bajuku pun satu demi satu terlepas. Baju istriku pun satu demi satu terlepas. Kami sudah tak berbusana tapi masih memanggut. Aku dan Aula ambruk di ranjang. Aku selipkan tanganku ke punggungnya, tubuhku menindih Aula. Saat bibir kami berpisah, kutatap wajahnya. Ia pun merangkulku.

“Mas….entah kenapa, perasaanku sekarang sangat bahagia,” kata Aula.

“Aku juga. Mari kita habiskan malam ini dengan memberikan cinta kita,” kataku.

“Ohh….maasss…!” suara Aula mendesah. Bibirku sudah menyapu lehernya. Mencipoki lehernya yang mulus itu. Aula memberikan lehernya kepadaku. Ia serahkan kulit mulusnya untuk aku jelajahi, kuhisap, kujilati rasanya yang manis itu.

“Aula, kulitmu manis sekali,” kataku.

“Suamiku, nikmatilah aku sepuasmu. Susuku dong!” pintanya manja.

Aku langsung membenamkan wajahku di payudaranya. Kuhisap teteknya, kusedot dan kujilati putingnya. Nikmat sekali. Inikah buah dada orang yang aku cintai. Dulu rasanya tidak seperti ini. Tapi kali ini sangat nikmat. Jauh lebih nikmat. Entah mengapa.

“Cintaku….ohh…cintaku menyusu kepadaku seperti adek bayi,” Aula melirikku mempermainkan dadanya yang kenyal itu. Dadanya tak begitu padat, tapi kulitnya lembut, fleksibel, kenyal. Enak dipegang dan sangat menggairahkan. Aku tak pernah bosan untuk menghisapnya dan mencumbu kedua buah dadanya itu.

Lidahku menjelajahi daerah aerolanya. Putingnya mengacung keras. Ia terangsang sekali. Rambutku sudah diacak-acak olehnya karena rangsangan-rangsangan yang kuberikan. Pangkal payudaranya yang menjadi salah satu titik gspot tak luput dari hisapan dan jilatanku. Aula makin menjerit. Dia menggigit bibir bawahnya. Merasakan setiap sentuhan bibirku di tubuhnya. Aku pergi ke ketiaknya. Bagian bawah ketiak dekat dengan buah dadanya juga adalah area gspot. Kujilati daerah itu. Aula mengerang seperti orang kesetrum.

“Geli mas….oohhhhhh…,” katanya. Aku terus menjilati daerah itu. Aula makin menggelinjang. Erangannya terdengar di kamar ini. Keringatnya pun mulai keluar. Bibirku kali ini menjelajah ke bawah, ke perutnya yang mulus. Walaupun ia pernah melahirkan dua kali, tapi tak ada satupun selulit di perutnya. Indah sekali. Kuciumi perutnya itu, hingga aku sampai di kemaluannya.

“Aula….ohhmmmmhh,” mulutku sudah mengunyah belahan vaginanya.

Vagina yang baunya semerbak dan basah itu kini sudah kulahap. Lidahku tak henti-hentinya menjilati dan mecoloki liang senggamanya. Paha Aula melebar dan mengapit kepalaku. Titik-titik sensitif di kemaluannya aku sentuh semuanya. Mengakibatkan dia mungkin sekarang sedang melayang ke angkasa. Sesekali kusenggol dan kusedot klitorisnya. Aula mengangkat pantatnya ketika daerah itu disentuh.

“Ohh..iya…iya ….cintaku….sayangku, aku….aku….mau nyampee…!” Aula merintih-rintih. Pinggulnya bergerak tak beraturan. Kadang kiri, kadang kanan, kadang maju mundur. Dan semakin ia hampir orgasme, pinggangnya makin cepat bergoyang menggesek-gesek mulutku. Tangan kami saling berpegangan. Pahanya makin erat menjepit kepalaku. Dan…..serrrrr…serrr…ia pun keluar.

Cairan itu aku hisap. Gurih ataupun asin aku hanya tahu bahwa rasanya manis. Seluruh yang ada pada tubuh istriku ini rasanya manis. Aku kemudian bangkit. Penisku kuposisikan di depan kemaluannya.

“Sayang, aku masuk ya?” tanyaku.

Aula tak perlu diberitahu. Ia sudah tahu aku akan melakukan ini. Kepala otongku sudah menggesek-gesek kemaluannya yang becek. Cukup sedikit dorongan tongkat ajaib itu sudah masuk. OHhh….nikmatnya. Aula menggelinjang, tubuhnya sedikit terangkat. Ia mungkin sedikit kaget. Kemudian ku goyang sedikit pinggangku. Aku tak ingin terlalu terburu-buru. Kutekuk lututnya dan ku angkat. Kemaluanku pun sekarang sudah menggesek-gesek dengan lancarnya. Rasanya? Nikmat sekali. Lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya. Sama seperti tadi. Aku belum pernah merasakan gesekan-gesekan kemaluan yang sangat nikmat seperti ini. Rasanya setiap kali aku bercinta dengan Aula, rasa kenikmatan itu makin bertambah.

Dengan cepat Aula bangkit. Ia memelukku lalu mendorongku hingga aku berbaring.

“Aku belum pernah bercinta seenak ini mas,” katanya.

“Iya, sayang. Aku juga. Kenapa ya?” tanyaku.

Ia menggeleng. Kini ia ada di atas. Buah dadanya bergantungan. Ia memasukkan batangku ke dalam liang senggamanya. Mengocoknya maju mundur, memberikanku kenikmatan yang tak bisa aku lukiskan. Kuremas-remas dadanya, Aula sangat bersemangat dalam bercinta kali ini. Entah mengapa aku pun lama sekali keluarnya. Padahal empot-empot yang dilakukan Aula bisa membuatku ngilu. Aku pun kemudian bangkit kupeluk dia. Kami berpanggutan lagi. Aula menaik turunkan pantatnya. Penisku makin serasa sedap. Keras banget. Aula benar-benar menggairahkan. Tubuhnya benar-benar seksi. Kuremas-remas pantatnya saking gemasnya.

Aula pun kemudian berbalik. Ia menungging. Diserahkannya pantanya itu kepadaku. Aku gemas sekali, aku lalu menggigit-gigit kecil bongkahan pantatnya itu sambil kuremas. Kuhisap, kujilat, kukenyoti.

“Maass…ohh…pantatku enak kah?” tanyanya.

“Iya, enak sayang,” kataku.

Aku sedikit jongkok. Segera aku posisikan batang penisku ke liang vaginanya. Masuk lagi. Ohh…nikmat sekali. Aku goyang lagi pinggulku. Pantatnya oohhh…menggairahkan sekali. Kuusap-usap punggungnya yang mulus itu. Nikmat sekali penisku menggesek-gesek liang senggama itu dari belakang. Makin lama lubang senggama itu makin licin. Aku juga tak tahu kenapa lama sekali keluar padahal rasa kenikmatan lagi dan lagi selalu aku rasakan.

“Ohh….sayang, hebat sekali kamu….hhhmmhhh…aku nyampe lagi sayangku…,” katanya.

Aku makin cepat menusuk-nusukkan penisku. Aula makin menjadi-jadi jeritannya. Tanganku meremas-remas bongkahan pantatnya membuat sensasi tersendiri bagi Aula. Ia membenamkan wajahnya di bantal lalu mendorong pantatnya ke belakang dan mengejang. Penisku sampai penuh masuk dan menyentuh rahimnya.

“Sayaaannngg…..aahhhh…ahhhh…hhmmhhh….nyamp e sayangg….!” gumam Aula.

Perlahan-lahan Aula menarik pantatnya sehingga penisku yang kini berbalut cairan kewanitaanya yang berwarna putih itu mengkilat. Aula berbalik. Di pegangnya batang penisku. Ia mengocok batang itu lembut. Nikmat sekali kocokannya. Kemudian ia posisikan di lubang kemaluannya.

“Masukin mas, pliiss!” katanya. “Keluarkan benih-benih cintamu lagi. Ayo!”

Aku bersemangat lagi. Rasanya staminaku tak ada habisnya untuk bercinta dengan istriku ini. Aku tindih lagi dia. Kemudian kupompa keluar masuk kemaluanku. Peluh kami sudah berbaur. Di kening Aula aku bisa melihat titik-titik peluh. Matanya terpejam. Rasanya ia juga tak ingin ini selesai begitu saja tanpa orgasme yang dahsyat. Aku rasanya pun ingin mengakhiri ini. Kepala penisku sudah mulai gatal. Rasanya aku ingin meledak. Dan ledakan ini amat dahsyat.

“Ohh…sayang…cintaku…hhmhh..kamu ingin keluar kan?” tanyanya.

“I…iyaa…..aa….kuu…mau…ke..lu….aaarrr.. …aaaaahh…!” jawabku.

“Keluarin aja sayang. Aku juga mau nyampe lagi….!” katanya.

Makin lama goyanganku makin cepat. Aula erat sekali memelukku. Aku juga. Tubuh kami berhimpitan erat. Seakan-akan tak ingin lepas begitu saja. Dan batang penisku makin keras keras keras lagi…..Daaann….CROOTTT….CROOOTT…CROOOTT… CROOOTT…CROOOTT…CROOOTT…CROOOTT…CROOOTT… CROOOTT!!

Semprotan maniku menyiram rahimnya. Kami berciuman hangat, orgasme terdahsyat yang pernah aku lakukan. Inikah kekuatan cinta itu? Membuat persenggamaan kami sangat dahsyat. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Termasuk dengan istri-istriku yang lain. Ini luar biasa. Setelah itu kami benar-benar kelelahan. Penisku rasanya ngilu sekali. Setelah itu kami tertidur pulas saling memeluk satu sama lain. Kehangatan ini tak akan pernah kami lupakan untuk seumur hidup kami.

***

Pulang ke Jawa, aku naik pesawat. Aku bawa rombongan keluarga Aula ke rumahku. Di sana mereka disambut hangat oleh keluargaku. Semuanya senang, semuanya gembira. Tentunya yang bahagia juga adalah Kak Vidia dan Nur. Mereka bertemu lagi dengan mbak Juninya yang dulu. Sekarang bernama Aula.

Kami hidup bahagia. Sekarang Aula punya lima orang anak. Jarak masing-masing anak ketiga, keempat dan kelima adalah setahun. Yah, karena aku benar-benar sangat mencintai dia. Dan hampir tiap hari aku bercinta dengan Aula. Tak kenal waktu, tak kenal tempat. Tapi juga harus membagi cintaku kepada istri-istriku yang lain. Tapi karena mereka semua sabar dan tahu aku paling mencintai Aula, mereka sama sekali tak pernah ada rasa cemburu. Ini kisahku, jangan pernah coba-coba untuk mencoba cara yang aku lakukan karena aku banyak melakukan kesalahan. Seharusnya aku cukup mencintai seseorang yaitu Aula. Tapi karena aku juga mencintai anggota keluargaku, tentunya aku tak bisa mencampakkan mereka begitu saja.

— END —

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*