Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 16

Anak Nakal 16

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 15

Bab 16
The Twist

Malam telah merayap mengerubung seperti semut hitam. Perasaanku mulai tenang karena polisi sepertinya tak menaruh curiga kepadaku. Pulang ke rumah merupakan sesuatu hal yang lebih nyaman kurasa. Ibarat pepatah bilang, “Rumahku adalah surgaku” mungkin memang benar. Di rumah aku bisa menemukan kedamaian daripada di luar sana. Rumah sepertinya sepi, terlihat ruangan masih gelap. Maka dari itu aku tak menaruh curiga bahwa ada orang di dalam sana. Namun ketika aku memasukkan anak kunci ke lubangnya sepertinya ada yang aneh. Pintu tidak terkunci. DEG, jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Aku melihat di keset tampak ada jejak kaki. Sejujurnya aku ketakutan. Tapi karena sudah terlanjur, aku harus siap. Kubuka pintu rumah dan masuk.

Setelah beberapa langkah maju BUK! Aku tak sadar.

Tak berapa lama kemudian aku terbangun. Diriku duduk di sebuah kursi dengan keadaan tanganku terikat ke belakang. Aku mulai membuka mata. Tapi keadaan masih gelap. Kucoba untuk berdiri.

“Duduk!” sebuah suara sedikit parau mengejutkanku.

“S..siapa?” tanyaku. Aku tak bisa melihat siapa-siapa di ruangan tanpa cahaya ini. Namun kakiku menyentuh kursi.

“Duduk saja!” kata suara itu. “Sebuah revolver sudah mengarah kepadamu, kuharap kau tak macam-macam.”

Dengan gemetar, aku pun duduk.

“Siapa kau?” tanyaku.

“Tak kusangka kau benar-benar orang yang bejat. Apa kau tahu, kau telah menyakiti orang-orang yang aku sayangi?” katanya lagi. Suaranya seperti orang tua. Dari nadanya ia adalah seorang laki-laki. Ya, laki-laki yang sudah tua.

“Kau ini siapa? Apa maumu?” tanyaku.

“Apa yang aku inginkan?” katanya. “Aku tak inginkan banyak hal. Aku hanya ingin merebut kembali apa yang dulu pernah ada. Aku hanya ingin merebut kembali kebahagiaan yang dipunyai oleh orang-orang yang aku cintai. Kau tidak mengerti apa itu cinta, cinta yang butuh kepada pengorbanan, bukan nafsu semata. Nyatanya kau telah melakukan hal yang sama sekali tak pernah aku duga. Bagaimana mungkin kau bisa merengkuh cinta dari ibumu sendiri? Juga saudari-saudarimu? Bahkan punya anak dari mereka. Otakmu benar-benar sudah tidak waras.”

Aku mulai mengingat-ingat suara ini, siapa dia? Tapi aku tak pernah punya memori tentang suara orang ini. Bagaimana ia bisa mengetahui permasalahan ini sampai sedetail itu.

“Kau mungkin terkejut sekarang dan bertanya-tanya, bagaimana aku bisa tahu,” orang itu mengambil nafas sejenak. “Sebenarnya kalau hanya soal uang, aku bisa melakukannya. Membayar orang-orang yang membuat identitas palsu atas dirimu agar tak diketahui sebagai incest, aku bisa mendapatkan semuanya. Bahkan sebagai bonus, aku melihat rekaman perkosaan Laura atas dirimu dan orang-orang biadab itu. Ya, kalau kau tanya apakah aku membunuh mereka semua, benar sekali. Aku yang membunuhnya dan tak ada yang sulit bagiku.”

“Kau ini siapa?” tanyaku.

Saklar pun dinyalakan sehingga lampu ruangan menyala. Terkejutlah aku di hadapanku ada tiga orang yang sedang terikat dan mulut mereka dilakban. Kak Vidia, Nur dan ….Laura??? Bagaimana bisa mereka ada di sini. Dan seorang lelaki bertubuh tegap tampak baru saja menyalakan saklar lampu. Wajahnya menunjukkan ia sudah tua. Sementara itu Kak Vidia, Nur dan Laura terikat di kursi. Dari mata mereka yang berkaca-kaca, aku tahu bahwa mereka sama sekali tak berdaya. Apa yang terjadi? Siapa lelaki ini? Aku sama sekali tak mengenalnya.

“Aku tahu kau tak mengenalku. Tentu saja kau tidak mengenalku, karena kau tak pernah bertemu denganku. Tapi aku tahu seluruh kehidupanmu. Kalian semua masih keluargaku. Dan aku akan memberitahukan siapa aku. Namaku Burhan, ayah Laura,” katanya.

Kata-katanya itu mengejutkanku. Ayah Laura. Ta…tapi kalau memang ia pelakunya, lalu kenapa ia membunuh Anisa cucunya sendiri?

“Mungkin banyak pertanyaan-pertanyaan di benakmu sekarang ini,” ia berkata sambil sedikit terisak. Diseka matanya yang mengeluarkan air mata. Tangan kanannya masih memegang revoler berwarna perak. Saat ini jantungku berdetak lebih kencang dan rasanya adrenalinku terpacu. “Biar aku jelaskan sedikit. Melihat orang-orang brengsek itu memperkosa putriku, aku sangat terpukul. Sebagaimana aku terpukul mengetahui kenyataan bahwa ayahmu telah menghamili Laura. Aku pun telah membunuhnya. Iya, akulah orang yang telah menghabisi ayahmu. Kubuat seperti kecelakaan. Orang itu tak pantas untuk hidup. Dan semenjak itu, akupun benci kepada cucuku sendiri. Cucu yang dulu aku sayangi ternyata adalah hasil dari perbuatan zina. Rasanya dendam yang ada di dalam hatiku ini belum lunas. Apalagi setelah mengetahui adikku meninggal tapi meninggalkan seorang anak. Dengan siapa dia berhubungan? Dengan siapa ia menikah? Aku pun curiga dan mulai menggali informasi tentang siapa suaminya. Ternyata suaminya adalah kau. Anaknya sendiri.”

Burhan duduk di sofa. Revolver itu tetap berada di tangannya. Aku pun memutar otak bagaimana caranya agar bisa melumpuhkan orang ini.

“Sungguh aku terpukul. Sangat terpukul, aku dilanda amarah, kuhabisi orang-orang yang memperkosa Laura. Aku pertama kali membunuh suami Laura dan anaknya. Mereka berdua tak pantas hidup. Bagaimana mungkin ayah dan anak melakukan perbuatan itu? Dan kemudian kubunuh ketiga orang brengsek itu yang kau bayar untuk menyetubuhi Laura. Dan sekarang tinggal kau sendiri, revolver inipun tinggal satu peluru. Rasanya cukup untuk melepaskan timah panas ini ke kepalamu,” kata Burhan.

“Anak-anakku, kau apakan mereka?” tanyaku.

“Tenang saja, aku akan cari cara untuk membunuh mereka. Kau tak perlu khawatir,” jawabnya.

Brengsek. Bagaimana ini?

Laura tampak ingin berkata-kata. Tapi karena mulutnya tertutup lakban ia hanya bisa bergumam. Kak Vidia dan Nur menangis. Mereka mencoba berteriak tapi tak bisa. Kata-kata yang keluar dari mulut Burhan benar-benar membuat mereka takut. Apalagi dengan kenyataan bahwa ia pasti akan membunuh kami semua.

Burhan pun kemudian berdiri. Ia mengusap rambut putrinya. Ia ciumi kepala putrinya lalu menampar wajahnya. Orang ini sepertinya tidak waras. Kemudian ia menampar wajah Kak Vidia, disusul juga dengan Nur.

“Hentikan!” kataku.

Ia mengacungkan pistolnya ke arahku. Aku tak bisa berdiri dan hanya menyaksikan perbuatan Burhan.

“Hei pelacur?!” Burhan menjambak kerudung Kak Vidia. Ditodongkan revolver tepat di pelipisnya. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa menyaksikan semua itu. “Berapa banyak kau bercinta dengan suamimu? hah? Kau mungkin sekarang sedang ketakutan. Tak perlu khawatir, kalau kau ketakutan itu wajar. Doni, aku ingin kau tahu bahwa orang tua ini pun masih gagah, masih bisa memuaskan wanita. Aku ingin kau lihat bagaimana aku akan memperkosa istri-istrimu, hahahahaha….”

“Brengsek! Sebaiknya kau tembak aku saja daripada kau melakukan hal itu!” kataku.

“Kau kira aku tak bisa melakukannya? Tidak tidak tidak. Memang revolver ini cuma satu peluru tapi aku bisa menembak ke salah satu keluargamu. Mau Vidia dulu, ataukah Nur, ataukah anak-anakmu dulu?” Burhan mengancamku. Lagi-lagi aku cuma bisa diam. Kursi yang aku duduki sangat jauh dari manapun. Aku hanya bisa duduk. Ikatan ini sangat kuat, aku tak bisa bergerak dari kursi. Namun aku terus menerus berusaha meronta agar ikatan yang mengikat tanganku bisa lepas.

Burhan membuka lakban yang menutupi mulut Kak Vidia. Kak Vidia tampak menangis. Revolver itu mengarah ke pelipisnya dan tiba-tiba Burhan mencium bibirnya. Bangsat, aku ingin segera menghajar orang tua ini, tapi takut kalau pistol itu meletus dan kak Vidia jadi korban. Kak Vidia tak bisa melawan, ia berusaha menghindar dari lumatan lelaki yang tak lain adalah pamannya sendiri ini. Setelah puas menghisap sari mulut Kak Vidia Burhan berbuat lebih jauh lagi. Ia membuka resleting celananya dan mengeluarkan batang penisnya. Batang penisnya tampak sudah tegang.

“Jangan teriak atau peluru ini menembus kepalamu, sekarang berikan pamanmu ini kepuasan seperti yang kau berikan kepada adikmu!” perintah Burhan.

“Tidaaak…!” Kak Vidia berteriak, namun lagi-lagi ia ditampar. Bangsat aku tak bisa bergerak. Kalau saja aku bisa bergerak. Aku pun berusaha menggesek-gesek tali yang mengikatku dengan cara meronta-ronta. Lelaki ini benar-benar sudah gila.

Laura tampak menggeleng-geleng dan juga meronta-ronta. Nur pun demikian. Dari air matanya aku bisa pastikan ia sedang berusaha untuk bisa lepas dari ikatannya. Kak Vidia kemudian terdiam. Ia melirik ke arahku. Aku menggeleng agar dia tidak melakukannya. Tapi ia pun mengangguk. Ia dipaksa untuk membuka mulutnya, ujung revolver itu masuk ke mulutnya. Kak Vidia ketakutan. Akhirnya ia buka mulutnya. Saat itulah sebatang daging masuk ke dalam mulutnya dan ujung revolver itu keluar dari mulut Kak Vidia. Kak Vidia tak bisa berontak. Penis berkulit hitam dan berotot itu masuk ke mulutnya.

“Ayo hisep dasar pelacur!” Burhan mengumpat lagi. Kak Vidia tak bisa melawan. Mulutnya pun menjadi sebuah alat kenikmatan untuk memuaskan nafsu Burhan yang sudah kalap. Kak Vidia menyedot penis itu hingga pipinya kempot. Kepalanya pun ditarik-tarik dengan kasar oleh Burhan. “Ahh…bedebah, baru kali ini aku nikmatin disepong cewek berjilbab. Teruss….yaaa gitu, lidahmu juga dong mainin di kepalanya. Jangan diem aja!”

Sementara Burhan sedang menikmati sepongan Kak Vidia, aku mengatur strategi cara agar aku bisa melumpuhkannya. Dengan keadaan terikat ini aku tak mungkin bisa leluasa. Satu-satunya cara yang harus aku lakukan adalah melepaskan ikatan. Namun karena saking kuatnya ikatan ini, mungkin butuh waktu. Bisa saja aku dengan kakiku berjalan sambil tanganku masih terikat di kursi. Tapi itu ide buruk. Di film-film berjalan dengan kursi terikat itu bisa saja terjadi. Apalagi sang jagoan bisa langsung menghantamkan kursinya ke arah musuh, tapi ini realita guys! Gila apa??? Salah-salah itu revolver meletuskan isinya ke kepala kak Vidia. Tapi spekulasi juga sih, antara yakin dan tidak yakin terhadap isi dari revolver itu. Apakah benar tinggal satu pelurunya? Ataukah tidak? Atau ia cuma menggertak padahal revolver itu tidak ada isinya?

Kemudian aku punya ide yang agak gila. Tapi aku tak yakin itu akan berhasil. Meskipun begitu patut dicoba. Yang harus aku lakukan pertama kali adalah melepaskan ikatan ini. Aku terus berusaha untuk bisa lepas. Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk bisa melonggarkan ikatannya. Tanganku sakit, pergelangan tanganku mungkin sudah lecet. Aku bisa merasakan perihnya di pegelangan tanganku.

Kak Vidia masih mengoral penis Burhan. Kepalanya naik turun memberikan efek kenikmatan surgawi bagi Burhan. Burhan sendiri masih waspada. Ia menekan sampai deep throat. Kak Vidia hampir saja muntah. Ia tersedak.

“Anjing, enak banget seponganmu. Pantes saja adikmu bisa setia banget sama kamu,” kata Burhan. Kemudian lagi-lagi ia menjambak kerudung Kak Vidia lalu penisnya dimasukkan lagi ke mulut kak VIdia. Kali ini pinggulnya bergoyang dengan cepat. Kak Vidia gelagapan. Burhan sepertinya mau keluar, ekspresi wajahnya menandakan itu semua. Dan tiba-tiba ia menahan kepala Kak Vidia dan penisnya dimasukkan sedalam-dalamnya ke dalam mulut kak Vidia. Kak Vidia gelagapan. Pinggul Burhan menghentak-hentak beberapa kali. Lalu ia cabut penisnya dari mulut Kak Vidia.

“Aaaahhh….enak banget manis!” kata Burhan. “Baru kali ini aku merasakan oral seenak ini.”

Kak Vidia langsung muntah. Muntahannya bercampur dengan sperma si Burhan. Dari mulutnya tampak air liurnya meleleh. Burhan lalu tak tinggal diam. Ia segera merobek baju Kak Vidia. Gamis kak Vidia pun terbuka. Bra yang menutupinya pun kemudian ditarik ke atas. Segera saja dua bukit kembar milik Kak Vidia terekspos.

“Lho, lho, lho. Putingmu koq menggoda banget. Masih kemerahan warnanya. Pasti ini keturunan adikku bisa sampai seperti ini. Dan pasti ada ASI-nya bukan? Aku coba ya?” kata Burhan. Ia langsung mengenyoti buah dada Kak Vidia. Kak Vidia tak bisa berbuat banyak ia hanya mengaduh dan mengeluh ketika hisapan-hisapan di teteknya membuat air susunya ikut keluar. Burhan menikmatinya. Ia dengan gemas meremas-remas ke buah dada keponakannya itu.

Kak Vidia tak mampu melawan saat putingnya dirangsang. Burhan ternyata mampu menaikkan libidonya. Revolver itu sudah ditaruh di lantai. Otakku masih bekerja, aku harus tetap mencoba melepaskan tali yang mengikat ini. Sementara itu Kak Vidia terus dirangsang oleh Burhan. Burhan tak hanya mengisapi teteknya, tapi kulit payudara Kak Vidia yang putih itu pun tak luput dari hisapan-hisapan. Hingga di bawah cahaya lampu sepasang buah dada itu mengkilat karena ludah dari Burhan. Lebih jauh lagi sekarang Burhan menaikkan rok Kak Vidia dan mengangkat kedua paha kakakku itu.

Ia dengan kasar menarik celana dalam Kak Vidia dan dilempar begitu saja. Burhan berhenti sejenak. Ia menoleh ke arahku. Aku menatap matanya dengan tajam.

“Sialan, pantes saja kamu suka ama kakakmu sendiri. Memeknya legit seperti ini,” kata Burhan. Sejurus kemudian mulutnya sudah berada di belahan memek Kak Vidia. Kak Vidia meronta-ronta dan menjerit. Siapapun wanita kalau dirangsang seperti itu pasti tak akan tahan. Kak Vidia meneteskan air mata. Ia menggigit bibirnya menahan rasa geli yang kini mulai menyerang sekujur tubuhnya. Tangan Burhan masih saja menggerayangi toket kakakku itu.

Lidah Burhan sudah basah oleh cairan kemaluan Kak Vidia. Ditambah lagi ia menjilati klitoris kakakku sehingga kak Vidia tak bisa lagi menahan kegelian ini. Ia mendekapkan pahanya hingga mengapit kepala Burhan. Burhan kemudian tertawa terbahak-bahak ia menghisapi cairan kewanitaan Kak Vidia hingga tak bersisa.

“Hahahaha….aku ternyata bisa membuatmu orgasme ya?” kata Burhan.

Aku merasakan tali yang mengikatku sudah terasa sedikit longgar. Berarti usahaku tak sia-sia. Aku ulangi lagi menggesek-gesek tali yang mengikatku. Dan dengan terpaksa lagi-lagi aku harus menikmati perkosaan Kak Vidia di hadapanku. Burhan sudah menurunkan celananya. Kini tubuh bagian bawahnya sudah tak punya penghalang lagi. Kak Vidia terikat di kursi, kakinya dinaikkan dan ditekuk, sehingga ia tak bisa meronta selain menerima apa pun yang akan dilakukan Burhan. Penis Burhan yang besar itu mulai menyentuh bibir kemaluan Kak Vidia. Kemudian dengan dorongan pelan kepala penis berwarna kemerahan itu masuk ke liang senggama. Liang yang selama ini aku masuki sekarang dimasuki penis lain.

“Ohhh….anjiingg….enak banget….” rancau Burhan. “Pantes kamu kepengen banget ngentot kakakmu sendiri.”

Burhan pun kemudian menggoyang pinggulnya maju mundur. Ia merem melek merasakan kenikmatan yang dia rasakan. Burhan mendapatkan kenikmatan surgawi. Gesekan-gesekan kemaluannya dengan kemaluan Kak Vidia membuatnya melayang. Ia menatap wajah kak Vidia yang menyiratkan kenikmatan juga. Bibir kak Vidia terkatup dan giginya menggigit bibir bawah. Wajah kak Vidia yang cantik makin membuat Burhan bersemangat untuk menggenjot kakakku itu. Aku terus berusaha melepaskan diri, sedikit lagi tali itu bisa lepas. Revolver Burhan sudah ada di lantai, aku punya kesempatan.

Burhan terus menggoyangkan pantatnya maju mundur, Laura terus meraung-raung tertahan agar bisa lepas. Nur pun sudah tak sanggup lagi melihat apa yang terjadi dengan kakaknya. Ia mungkin merasa sebentar lagi adalah gilirannya. Ia pun pasrah, terlebih lagi melihatku yang tak bisa berbuat apa-apa. Namun karena rasa khawatirnya Nur itulah aku makin bersemangat untuk bisa melepaskan diri. Sedikit lagi, aku bisa lepas. Dan yang pertama kali aku lakukan adalah membanting kursi ini ke kepala Burhan.

Burhan terus bergoyang, “Aaahh…enak…ohh….hhmmmmhh…paman mau ngecret nih, enak banget empot-empotmu Vidia. Ohhh…yaahh..yaaahh…paman..pamaaaaan mau keluuuuuaaarr….!” Burhan mempercepat goyangannya. Pertanda orgasmenya sudah diujung penisnya.

Saat itulah aku bisa terlepas. Aku yang tersadar sudah terlepas dari ikatan ini segera melepaskan tali yang membelit lenganku dan kursi. Setelah itu kuangkat kursi yang kududuki. Kuhantamkan ke kepala Burhan. BRAK!! Kursi itu terbuat dari kayu jati. Pastinya rasanya sakit dan kayu jati ini sangat keras. Bukan seperti yang ada di film-film kursinya mudah hancur. Yang ini tak bisa hancur begitu saja. Burhan tentu saja kaget. Tapi ia tak sempat bergerak karena, pukulan kursi itu tidak sekali, tapi berkali-kali. Hingga ia tersungkur di lantai. Saat itu penisnya tercabut dan ketika jatuh spermanya muncrat dan penisnya berkedut-kedut. Ia ejakulasi sambil pingsan. Dan yang terakhir aku menendak revolvernya agar jauh dari jangkauannya. Spesial kutendang buah zakarnya. Ia pun menjerit lalu pingsan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*