Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 15

Anak Nakal 15

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 14

BAB 15
HORROR

Narasi Doni

AKu tak percaya atas apa yang barusan diceritakan oleh Laura. Tapi kalau itu kenyataan maka, Anisa dan aku sama saja incest. Dan aku telah melakukan sebuah kesalahan.

“Kalau begitu celaka!” gumamku. Aku segera keluar dari rumah itu.

“Don, ada apa? Ada apa?” tanya Laura.

“Tetap di sini, tunggu sampai aku kembali!” kataku.

Mobil aku pacu dengan sangat kencang. Tujuanku hanyalah satu, yaitu sampai ke rumah Anisa tepat waktu. Sebab aku sudah menyuruh orang untuk menyuntikkan obat perangsang ke tubuh si William itu suaminya Laura agar ia jadi horni dan menyetubuhi Anisa. Bodohnya aku, tapi aku juga tak tahu semua ini. Ini semua salah ayah. Kenapa ia melakukan hal ini. Kalau saja aku tahu Anisa itu saudariku sendiri aku tak akan melakukannya bodooooohhh!!

Butuh waktu kurang lebih 2 jam hingga aku sampai di rumahnya. Dan 2 jam ini waktu yang sangat lama karena harus bergelut dengan kemacetan yang biadab. Setelah aku sampai tidak jauh dari rumah Anisa, aku memakirkan mobilku. Suasana perumahan ini sepi, tapi paling tidak kalau parkir mobilku jauh dari rumahnya tak akan ada orang yang curiga.

Sebenarnya tujuanku adalah agar suami Laura bisa bercinta dengan Anisa dengan obat perangsang itu. Tapi mendengar cerita Laura, aku yakin rencanaku berantakan semua. Aku memang orang yang bodoh karena sudah dibutakan oleh balas dendam. Aku memakai jaket hitam dan topi. Sebisa mungkin jangan sampai ada orang yang mengenaliku. Dengan langkah terburu-buru aku pun menuju ke rumahnya. Pagar langsung aku buka dan masuk ke halaman.

Aku segera masuk ke rumah Anisa tanpa permisi. Pintu aku dobrak dan bergegas aku segera masuk ke kamarnya. Suasana rumah ini terlalu sepi. Lebih sepi daripada yang aku duga. Sampai-sampai telingaku berdengung karena sepinya. Perasaanku mulai tak enak. Sesuatu membisiki agar aku tak usah ke kamarnya. Tapi aku harus. Aku harus menghentikan ini karena aku tidak mau melanjutkan permainan ini. Aku cukup bisa menghajar si William itu dan mengambil Anisa.

Dan aku terlambat. Tubuh keduanya telanjang, saling bertumpuk. Tapi ada yang aneh, aku mencium bau anyir darah. Kepala William berlubang dan darah mengucur Anisa juga demikian. Apa yang terjadi???

William menindih Anisa, tangannya masih seolah seperti menumpu tubuhnya. Sepertinya ia sedang bercinta dengan Anisa. Sedangkan Anisa dengan ekspresi terbelalak menatap langit. Di kepalanya juga ada lubang menganga berasap. Paling tidak mereka berdua sepertinya baru saja dibunuh. Kenapa? Siapa pelakunya? Aku berpikir keras. Apakah teman-teman gengku? Tak mungkin, aku tak pernah menyuruh mereka untuk membunuh. Lalu siapa? Laura juga tak mungkin. Kedua istriku? Tidak mereka terlalu alim dan brutal untuk bisa membunuh kedua orang ini dengan sadis.

Aku pun panik, karena aku baru kali ini melihat mayat. Aku telepon polisi? Tidak mungkin. Kalau polisi bertanya-tanya tentang apa yang terjadi apa jawabku? Aku berpikir keras. Menyingkirkan mayat ini pun tidak mungkin. Satu-satunya cara adalah aku harus pergi dari tempat ini. Kubersihkan seluruh tempat yang pernah aku sentuh agar tak meninggalkan sidik jari.

Mulutku gemetar dan aku segera meninggalkan rumah Anisa. Sialnya adalah aku membawa mobil, semoga tak akan ada yang bisa mengenali mobilku. Secepat kilat aku segera kembali ke tempat Laura. Kuhubungi satu per satu nomor teman-teman gengku. Tapi ponsel Tanto mati, ponsel Parto mati, ponsel Bejo juga mati. Ada apa ini? Pulang pergi itu membuatku melakukan perjalanan seharian. Aku pun sampai ke tempat Laura disekap.

Rumah itu sepi, tak ada tanda-tanda keberadaan Bejo dan yang lain. Aku segera masuk dan membuka kamar Laura. Ia duduk di sana dengan sudah memakai baju. Ia pasti kebingungan melihatku gemetar. Kutak tega untuk menceritakan apa yang terjadi. Tapi aku harus membuatnya tenang dahulu.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau ketakutan seperti itu?” tanya Laura.

“Ada sesuatu yang terjadi,” kataku.

“Apa?” tampak Laura makin penasaran.

“Kuharap kau tenang,” kataku.

“Iya, katakan apa yang terjadi? Apakah ini tentang Anisa?” tanya Laura.

Aku mengangguk.

“Apa yang terjadi kepadanya?” tanya Laura panik. Naluri keibuannya pun bangkit.

“Sebentar, aku kalau tidak salah punya video cctv. Sebentar!” aku segera keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ruang tengah. Di sana aku mengeluarkan mesin CCTV yang ada di bahwa rak TV. Aku kemudian melihat tanda lampunya masih menyala. Bagus, berarti aku pastinya masih bisa melihat streamingnya.

Laura mengikutiku turun dari kamarnya. Aku mulai melihat seluruh rekaman. Kusetting waktunya ketika kemarin sewaktu aku menyekap Laura. Saat itulah tubuhku lemas. William suaminya Laura di dalam rekaman itu sedang mencumbui Anisa. Dan Anisa pun tampaknya pasrah. Laura menutup mukanya, ia pun menangis.

“Apa yang tejadiiii??? ohh….tidaaakk, tidaakk….Don, kenapa kau biarkan mereka. Kenapa??? Kalau kau ingin hancurkan hidupku jangan libatkan anakku!” kata Laura.

“Bukan ini!” kataku. “Lihat setelah ini!”

Laura memperhatikan videonya dengan seksama. Aku pun mempercepat video dari kamera cctv yang aku pasang di kamar Anisa. Di rekaman yang dipercepatkan itu, aku benar-benar melihat pemandangan yang sangat menggairahkan. Tampak Anisa mengoral William, kemudian bergantian ia dioral. Lalu mereka saling menyatu dan bercinta dengan hebat. William orgasme berkali-kali. Mereka melakukan dengan berbagai gaya dan wajah Anisa tampak melakukannya tanpa dosa. Dan pada saat terakhir ketika William berada di atas saat itulah ada orang dengan memakai pakaian serba hitam dan topeng masuk ke kamar. William dan Anisa belum sempat berbuat apa-apa keduanya ditembak persis di kepala. Laura yang melihat itu menutup mulutnya. Ia tak mampu berkata apa-apa.

“Ini di luar kehendakku,” kataku. “Aku tak tahu siapa dia, dan lihat…beberapa saat setelah ia keluar aku masuk ke kamar dan ketakutan, panik, kubersihkan seluruh tempat yang pernah aku sentuh.”

“Siapa pelakunya?” tanya Laura.

“Aku tak tahu, apa suamimu pernah punya musuh?” tanyaku.

Ia menggeleng.

“Sebaiknya kita pergi dari sini,” kataku.

Aku segera menarik tangan Laura. Kami pun segera meninggalkan tempat tersebut. Aku tak punya tujuan, dan tak bisa kembali. Kalau aku kembali aku pasti akan jadi saksi dari pihak kepolisian, tapi karena aku yang terakhir masuk ke sana aku pasti jadi tersangka. Saat dalam perjalanan itulah ada SMS masuk dari Bejo. Isinya agar aku segera menemuinya di tempat ia biasa nongkrong. Kalau waktu malam seperti ini biasanya ia nongkrong di bawah jembatan bersama teman-temannya.

Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya kami sampai di muka gang. Kuparkir mobilku tidak jauh dari sana. Perasaanku berkecamuk, antara percaya dan tidak. Tiba-tiba aku punya saudari dan tiba-tiba juga dia sudah tewas begitu saja. Dan tiba-tiba juga aku baru saja bercinta dengan sepupuku sendiri. Tiba-tiba juga aku melihat suaminya tewas di saat sedang bercinta dengan anaknya. Kepalaku makin berat dan pusing memikirkan ini semua.

Dari gang kecil itu, aku terus berjalan hingga melewati jalanan berkelok-kelok, menyusuri anak tangga yang menurun, kemudian sampai ke sebuah pinggiran sungai. Kurang lebih 100 meter dari tempat itu ada sebuah jembatan. Jembatan itu dihiasi lampu-lampu yang mentereng, sehingga pantulannya di sungai sangat indah. Bau air yang tercemar polusi itu serasa tak menjadi soal bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai. Terlebih jam seperti ini masih ada saja mereka yang memanfaatkan air yang tercemar itu. Beberapa waktu kemudian aku sampai di bawah jembatan.

Tapi tempat itu sepi sekali. Karena tak ada penerangan, aku hanya bisa bingung di mana Bejo. Makin bingung lagi ketika aku mendapatkan SMS darinya.

“Bejo sudah tiada. Silakan cari mayatnya disekeliling tempatmu berdiri”

Isi SMS itu sangat mengejutkanku. Aku kemudian memakai cahaya di ponselku untuk bisa menerangi beberapa sudut tempat di bawah kolong jembatan. Hingga aku menemukan seseorang sedang bersandar di tembok. Betapa kagetnya aku. Aku bisa mengenali kalau itu adalah Bejo. Mulutnya mengeluarkan darah banyak. Kuhampiri dengan perlahan setelah beberapa saat berada di depannya. Aku menyoroti mulutnya dengan ponselku. Tampak mulutnya ditembak hingga tembus ke belakang. Serasa perutku mual saat itu juga. Aku pun muntah-muntah.

Laura pun tak tahan, hingga kami berdua mual. Siapa orang ini? Siapa yang membawa ponsel Bejo? Dan setelah itu SMS yang mengejutkan datang lagi. Kali ini bersamaan. Dari Parto dan Tanto. Isinya sama.

“Temui Aku Di Rumah, Penting!”

Akhirnya mau tak mau aku harus pergi dari tempat itu. Aku menuju rumah Parto. Hasilnya pun sama. Dan lebih sadis, seluruh keluarga mereka dibantai. Caranya sama, ditembak sampai mati. Siapa mereka ini? Kenapa mereka melakukan hal ini. Dan di rumah Tanto pun demikian. Tanto dibunuh beserta keluarganya. Dengan cara ditembak sampai mati. Mau tak mau akhirnya aku dan Laura harus menyembunyikan diri di sebuah hotel. Kami menyewa sebuah hotel untuk tempat bersembunyi sementara waktu dan menunggu perkembangan lebih lanjut.

Laura dan aku menggigil. Ia memelukku dan berusaha menenangkanku. Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa dibunuh begitu saja. Siapa pelakunya. Kalau ia bisa meneleponku dari ponsel Bejo, berarti ia tahu siapa aku. Jadi kurang lebih aku adalah sasaran mereka. Mereka? Apakah pelakunya lebih dari satu? Aku tidak tahu. Laura tak sanggup lagi menemaniku hingga ia lelah dan tertidur. Aku masih membuka mataku berpikir siapakah musuhku kali ini. Apakah aku harus pulang? Tidak. Kalau aku pulang, mereka pasti akan menarget keluargaku juga. Aku pun kemudian menelpon Kak Vidia dan Nur.

“Halo?” sapaku.

“Ya…oh…papah, ada apa?” Tampak kudengar suara Kak Vidia sedikit parau. “Malem banget nelponnya, ada sesuatu?”

“Oh, tidak ada apa-apa, c..cuma ingin dengar suaramu saja,” kataku.

“Ah papah, romantis banget malem-malem gini. Gombalnya besok aja deh, capek nih ngurus si kecil. Apa papah lagi kepengen?” tanyanya.

“I..iya nih, kangen ama kamu,” kataku.

“Mau kami kerjai lagi seperti kemarin?” tanyanya.

“Hush, awas ya! Besok aku balas kamu,” kataku.

“Hihihi, coba aja, udah ah…ngantuk nih pah, sambung besok ya?” katanya.

“Iya, selamat tidur sayangku,” kataku.

“Bye papah,” kata Kak Vidia setelah itu menutup telepon.

Kemudian aku menelpon Nur.

“Halo, Nur?” sapaku.

“Hmm…siapa ini…??” suaranya parau. Ia juga terbangun sepertinya.

“Ini aku,” kataku.

“Oh..papah, ada apa pah?” tanyanya.

“Tidak ada apa-apa, cuma ingin nelpon saja. Gimana si kecil?” tanyaku.

“Baik-baik saja sih, tadi sempat rewel sebentar tapi udah tenang setelah mimik susu,” katanya.

“Oh begitu, baiklah lanjutkan tidur saja kalau begitu,” kataku.

Semua keluargaku aman. Kalau begitu siapa yang melakukan semua ini? Apakah tetangga-tetanggaku itu? Mungkinkah suami mereka marah karena perlakuanku kepada istri-istri mereka? Aku tak habis pikir. Dan aku pun terlalu lelah setelah menyetir seharian dan menemukan banyak mayat. Aku pun tertidur di samping Laura.

***

Pagi sudah datang, aku kesiangan. Jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi. Laura masih tertidur, dengkurannya halus. Entah kenapa aku sekarang jadi orang yang sangat ingin menjaga sepupuku ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku yang harus menjadi targetnya? Aku mengambil bungkus rokok, kubuka pakaianku dan kubuka jendela. Angin segera masuk dari jendela. Kunyalakan dan kuhisap rokokku dalam-dalam. Sambil terus berpikir apa yang setelah ini aku lakukan. Banyak pertanyaan dan banyak yan tak bisa kujawab.

Dari lantai dua hotel ini, aku bisa melihat halaman parkir. Tampak kendaraan-kendaraan sedang mengantri karena macet di jalan raya. Beberapa jendela kamar hotel pun terbuka. Nampaknya tamu hotel kali ini cukup banyak. Aku teringat mungkin ada berita tentang pembunuhan yang terjadi barusan. Aku segera menghidupkan tv. Dan benar, tepat ketika aku menyalakan chanel tv lokal, langsung ada berita pembunuhan. Berita pembunuhan Bejo, kemudian berita pembunuhan keluarga Parto dan Tanto. Lalu disusul berita pembunuhan ayah dan anak ketika sedang beradegan ranjang. Mereka semua dikenal baik oleh para tetangga dan tak punya musuh. Polisi masih melakukan visum terhadap mayat-mayat yang ditemukan. Dan sepertinya mereka mempunyai benang merah bahwa kasus tersebut berhubungan, karena projektil peluru yang ditemukan ukurannya sama, dan sepertinya dari senjata yang sejenis.

Laura terbangun, dan menyaksikan berita itu.

“Apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Laura.

“Sementara ini kita masih menunggu keadaan. Sebentar lagi mungkin kau akan dihubungi oleh pihak yang berwajib. Aku ingin kau tak menceritakan apapun tentang apa yang kita lakukan,” kataku.

“Iyalah, bodoh apa aku?” katanya.

“Tapi aku tak percaya kepadamu, camkan itu. Kalau sampai kau bilang sesuatu yang membahayakan aku, aku akan memburumu!” kataku.

“Don, sudahlah. Aku sudah minta maaf kepadamu. Aku rela sekarang engkau lakukan apapun kepadaku, bahkan engkau bunuh aku pun agar kau puas aku rela!” kata Laura.

Aku lalu menjambak rambutnya. Ia menatapku dengan tajam. Matanya tampak seperti tak ingin lepas dariku.

“Aku bersungguh-sungguh,” kata Laura. “Aku sudah janji kepadamu. Aku bukan orang yang sering mengingkari janji.”

Aku lalu melepaskannya. Terlalu percuma energiku kuhabiskan untuk marah-marah. Aku ingin menghabiskan energiku untuk hal yang lain, seperti menelpon ponsel Bejo atau Parto atau Tanto misalnya. Aku kemudian mulai menelpon Bejo. Tak ada jawaban. Parto kutelpon tak ada jawaban, Tanto pun begitu. Namun ponsel mereka masih nyambung. Itu artinya ponsel mereka dibawa oleh pelaku. Dan pelaku tahu kalau aku akan menelpon. Berkali-kali aku menelponnya tapi tak ada yang mengangkat akhirnya aku pun menyerah. Kubiarkan ia menelponku. Ia pasti akan menelponku, sang pelaku pasti ingin sesuatu dariku.

Satu hari kami menginap di hotel. Polisi pun sudah menelpon Laura dan memberitahu kondisinya. Aku pun menyuruh Laura untuk pulang saja agar polisi tidak curiga. Akhirnya ia setuju untuk pulang. Aku yang mengantarnya sampai di rumahnya. Setelah itu aku kembali lagi ke hotel. Dua hari, tiga hari berlalu dan tak ada kabar dari si pelaku. Entah apa maksudnya dengan membunuh orang-orang itu. Akhirnya pada hari keempat, aku pun pulang. Lebih tepatnya ke rumah bunda. Terakhir kali rumah itu dihuni oleh Kak Vidia dan Nur, tidak tahu sekarang apakah sepi ataukah ada orangnya.

Tinggal selama beberapa hari di hotel merupakan keputusan yang tepat kurasa. Aku tak dicari siapapun. Tak ada yang menelponku kecuali istri-istriku. Aku kira semuanya fine-fine saja, hingga aku tak percaya terhadap apa yang terjadi setelah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*