Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 14

Anak Nakal 14

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 13

BAB 14
FLASH BACK

—NARASI LAURA—

Pada waktu itu aku masih duduk di SMP. Sebenarnya aku ini termasuk anak yang tidak baik, bagaimana tidak, aku banyak bergaul dengan teman-teman yang tidak “waras”. Hampir kegilaan-kegilaan yang tak lazim sering kami lakukan. Mulai dari nyoba minum bir, nyoba nyimeng, bahkan kami berani mengoral pacar-pacar kami. Ya sebatas oral saja, ndak sampai lebih jauh walaupun mereka meminta. Aku masuk dalam sebuah geng cewek yang bernama “Ladies”. Tubuhku cukup menarik, dadaku lebih gedhe daripada anak-anak SMA. Dadaku sering naik turun dan terlihat menonjol dari balik baju olahraga yang aku kenakan. Itu mungkin membuat teman-teman cewekku iri dan aku sering dilirik oleh cowok-cowok di sekolahan. Bahkan aku tahu kalau ada salah seorang guruku yang suka menjahiliku.

Hanya saja, kegembiraanku dan kerianganku ini berubah ketika aku menyukai pamanku sendiri. Aku sebenarnya tak tahu kalau punya paman seganteng itu. Ia sudah punya istri, punya seorang anak yang masih kecil. Namanya Nasir. Om Nasir ini punya toko swalayan sendiri yang ia kelola sendiri. AWal perjumpaannya adalah ketika lebaran. Aku kaget saja ketika ayah bilang ia adalah adik iparnya. Berarti adiknya ayah adalah istrinya. Buset dah dibandingkan aku yang nakal ini, istrinya sangat alim. Pake jilbab lebar, tertutup banget tapi murah senyum.

Rasanya aku sudah kalah sebelum bertanding untuk memperebutkan hati suaminya. Terlebih lagi ia menganggapku sebagai keponakan. Tapi ternyata dugaanku salah. Semua pria sama saja ternyata. Hari lebaran itu seluruh keluarga berkumpul. Tak terkecuali aku. Setelah acara sungkem-sungkeman. Aku lalu bermain bersama sepupuku Vidia. Ia masih berusia satu tahun. Lagi lucu-lucunya, pipinya tembem. Setiap aku gendong ia senang sekali dan aktif. Duh jadi kepingin punya bayi sendiri.

Saat itulah Pamanku yang satu ini selalu melihatku, entah melihat anaknya yang aku gendong atau melihatku. Wajahnya yang teduh telah membuat hatiku rontok. Aku beberapa kali membuang muka saat mata kami bertemu. Dan entah kenapa satu per satu anggota keluargaku keluar sebentar ingin melihat kebun dan memetik buah anggur yang ditanam oleh ayahku. Paman Nasir masih di ruang tamu, ia tak ikut. Aku juga tidak. Males kalau harus ke sana. Dan bibi menyerahkan Vidia kepadaku untuk aku gendong karena sepertinya tak rewel.

Aku pun canggung. Pamanku itu kini sendirian denganku.

“Kamu kelas berapa?” tanyanya.

“Kelas 2 SMP Om,” jawabku.

“Oh, kukira sudah SMA. Anak sekarang emang bongsor-bongsor,” katanya.

Aku mengiyakan aja dengan mengangguk. Ia berdiri dan menghampiriku. Kemudian ia mengudang anaknya sampai ngekek. Kemudian tangannya menyentuh punggungku, ia mencium pipi anaknya. Entah ia sengaja melakukannya atau tidak, tapi ia memberikan sentuhan lembut. Membuatku seperti kesetrum. Aku mencium bau parfumnya, gileee ini parfum kesukaanku. Aku selalu suka mencium bau parfum seperti ini. Entah kenapa aku memejamkan mata waktu itu. Aku seperti terbang ke awan.

“Sini aku gendong si Vidia!” katanya. “Nanti kamu capek.”

Aku langsung tersadar. Aku bermaksud menjulurkan tanganku untuk menyerahkan Vidia, tapi tangannya sudah memegang tubuh Vidia sehingga ia menyenggol payudaraku. Tidak, tidak, ia sengaja menyenggol putingku dengan alasan mengambil anaknya dari gendonganku. Sebuah perasaan langsung berdesir. Ini mungkin yang disebut horni. Untuk beberapa waktu aku mematung.

“Kamu tak apa-apa?” tanya Om Nasir. Sekaligus aku pun seperti meleleh. Gila ini orang, apa dia punya ilmu gendam?

Tapi kalau dilihat ia sangat religius. Tak mungkin ia punya ilmu gendam atau hipnotis. Tapi benar, pamanku yang satu ini benar-benar mempesona. Aku tak tahu kalau ia sangat tampan. Dan sudah pasti Bibi akan sangat puas punya suami seperti dia. Dan apakah di ranjang juga pamanku ini hebat? Kalau melihat bulu-bulunya sangat macho. Lengannya juga duh…entah kenapa aku jadi suka ama pamanku yang satu ini.

Aku langsung pergi. Lama-lama bersama orang ini bisa membuatku berfantasi yang enggak-enggak. Tapi itulah yang terjadi. Keluarga mereka menginap di rumahku malam itu. Aku merasa senang, entah senang kenapa. Apakah karena Paman Nasir ada di sini?

Malam itu aku serasa haus sekali. Bermaksud untuk minum. Dengan langkah agak gontai aku menuju ke dapur untuk mencari air dingin. Kuambil air yang ada di sebuah botol tumbler dan kemudian kuminum seperti orang kehausan. Setelah membasahi kerongkonganku, aku kembali ke kamar. Namun saat melintasi kamar tamu, aku sayup-sayup mendengar sesuatu. Dengan mengendap-endap, aku dekatkan telingaku ke pintu kamar. Alamak, paman dan bibiku sedang bercinta. Karena penasaran, aku pun mengintip dari lubang kunci.

Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Paman Nasir sedang berada di bawah, bibi ada di atas. Ia menaik turunkan pantatnya. Sedangkan paman meremas toket bibi. Melihat itu aku menjadi basah. Kutelan ludahku padahal aku tak merasa dahaga. Mereka tampak menikmati hal ini. Tak berapa lama kemudian, kedua insan suami istri itu berganti posisi. Paman sekarang berada di atas. Mereka berciuman penuh nafsu, berguling ke sana-kemari sambil kedua selakangan mereka tak pernah lepas. Saat paman berada di atas. Ia menghisapi tetek istrinya. Istrinya mengeluh. Kubisa melihat puting istrinya yang mengacung itu dijilati dan dimainkan. Aku tiba-tiba berfantasi aneh, kenapa aku membayangkan putingku digituin oleh pamanku? Buah dadanya diremas-remas, bergantian kiri dan kanan dihisapnya tetek itu. Ohh..aku jadi horni. Tanpa disadari aku sudah memasukkan tangan kiriku ke dalam celana dalamku. Kusentuh klitorisku, memberikan kenikmatan sendiri.

Sambil tetap mengintip, kukocok kemaluanku sendiri. Kubayangkan paman sedang menyetubuhiku. Jemariku itu kuanggap penisnya yang besar dan berotot. Urat-uratnya pasti memberikan kenikmatan di setiap rongga kemaluanku. Pantat paman naik turun, ia memeluk bibiku. Mereka lalu berciuman dan makin lama goyangannya makin hebat. Bibiku menjerit keenakan. Paman terus memompa sepertinya mau menuju orgasme. Kocokanku kepada vaginaku makin cepat, kutambahkan tangan kananku meremas payudaraku sendiri. Saat itulah paman menghujamkan penisnya dalam-dalam, aku bisa lihat ia mendongak ke atas. Bersamaan dengan bibi. Aku pun demikian. Rasa gatal di kemaluanku membuatku mengerutkan dahi dan memuncratkan air mani. Aku berusaha untuk tidak berteriak. Kemudian aku buru-buru ke kamarku setelah melihat kedua insan itu selesai.

Di dalam kamar. Aku mastrubasi lagi dengan membayangkan pamanku. Gila, pamanku benar-benar tampan. Aku bahkan bisa membayangkan bercinta dengannya. Fuck…..

****

“Kami mau nyekar dulu ke makamnya mbah,” kata ayah.

“Trus, aku di rumah sendirian?” tanyaku.

“Ya mau bagaimana lagi?” kata ayah.

Aku cemberut. Si mbah makamnya jauh dari rumah, kurang lebih satu hari perjalanan. Sebab ada di sebuah desa terpencil. Di sana masih ada family jauh kami. Dan biasanya juga kami menginap di rumahnya baru besoknya pulang. Jadi 2 sampai 3 hari biasanya kami ada di sana.

“Gini aja deh, biar mas saja yang nemenin Laura,” usul bibi.

“Hah? Koq aku?” tanyanya.

“Ya mau bagaimana lagi? Nggak apa-apa, inikan ayah kami. Biar aku sama keluarga Mas Dedi saja yang pergi, mas di rumah saja menunggu bersama Vidia. Kamu bisa jaga adek bayi kan Laura?” tanya bibi.

Aku ragu-ragu menjawab. Memang sih aku pernah jaga adik bayi tetangga. Tapi kalau lama waktunya ya bingung juga. Bibi kemudian menjelaskan apa saja yang mestinya aku lakukan. Iya, aku bisa. Menyiapkan susu, mengganti popok dan menidurkannya. Setelah itu aku pun setuju. Akhirnya aku dan paman Nasir berada di rumah sendirian. Entah apa yang akan terjadi nanti.

Jam 9 pagi mereka pun pergi. Inilah saat aku sendirian dengan pamanku. Pagi itu ia berlatih sendiri di teras. Push-up, sit up, kemudian lari-lari. Pulangnya tubuhnya yang berbalut kaos sexy itu menampakkan lekuk-lekuk badannya yang atletis, apalagi keringatnya membuat ia tambah macho. Aku tak bisa pura-pura tidak menyukainya. Aku selalu memperhatikan dia sambil menjaga Vidia di ayunan bayi.

Saat ia masuk ke rumah lalu minum susu yang sudah ia siapkan, bau keringatnya bercampur bau parfum yang selalu ia pakai. Ughh…memikirkan tadi malam rasanya aku jadi horni lagi. Eh… dia menghampiriku!

“Kamu sudah mandi?” tanya paman.

Aku menggeleng.

“Kenapa dari tadi ngelihatin aku? Naksir?” tanyanya.

“Idih…maunya,” kataku.

Ia tertawa, lalu duduk di sofa. “Aku sering olahraga seperti ini. Biar tetap fit.”

“Iya, pastilah. Bibi pasti ketagihan begituan sama paman, ups!” aku keceplosan.

“Hah?” paman tampak terkejut. “Begituan apaan?”

“Eh..endak-ndak….lupakan saja,” kataku. Mukaku langsung berubah merah.

“Oh, jadi kamu tadi malem denger ya?” kata paman. “Maaf, habis tadi siang soalnya aku melihat sesuatu yang membuatku tak bisa tidak harus disalurkan.”

Aku jadi penasaran. “Melihat apa?”

“Rahasia,” katanya.

Aku lalu mencubit perutnya, “Ihh..hayo melihat apa? cerita dong!”

Paman tampak membisu. Ia kemudian pergi ke belakang. “Rahasia….aku mau mandi dulu.”

Sebel. Melihat apaan sampai ia harus menyalurkan?

Lima menit berlalu dan Vidia sudah tertidur di dalam ayunan. Aku lalu pergi ke belakang. Aku melintasi kamar mandi. Iseng, aku coba ingin mengintip pamanku ini mandi. Di samping kamar mandi ada undakan yang bisa dibuat untuk naik. Aku pun naik ke sana. Perlu di ketahui, kamar mandiku atapnya cukup jauh dan tidak tertutup langit-langit. Memang ayah tidak punya uang untuk bisa menutupi bagian dapur dan kamar mandi dengan langit-langit. Dan saat aku bisa melongokkan kepalaku sedikit aku bisa melihat tubuh pamanku sudah berbalut sabun. Ia mengaca di cermin. Tapi agak aneh. Tititnya besar banget! Dan ia mengocoknya.

“Ohh…Laura…hhmmm….ayo bercinta denganku….oohh!” gumamnya. AKu terkejut. Ia membayangkan aku sambil coli.

Gilaaaa…penisnya berurat. Daging itu berwarna coklat. Ia genggam batang berurat itu dan terus mengocoknya, makin lama-makin cepat. Kutelan ludahku. Entah kenapa aku bisa menikmati pemandangan itu. Tubuh atletis. Macho dan penisnya aduuuhh… Sepertinya kalau aku minta bercinta dengan pamanku, bisa-bisa aku bercinta beneran dengannya. Tapi…memang di antara kawan-kawanku, hanya aku yang masih perawan. Apa aku bisa memberikan keperawananku kepadanya?

Pamanku makin lama mengocok penisnya dan ia pun keluar. Spermanya muncrat membasahi cermin. Lendir kental itu kemudian meleleh turun ke bawah. Tampak ekspresi wajahnya sangat puas. Ia membuka matanya dan kemudian mengguyur badannya. Aku buru-buru pergi dari tempat itu.

Setelah itu, aku benar-benar punya perasaan aneh. Ingin bersama pamanku ini. Ada sebuah perasaan berdebar, perasaan penasaran dan setiap kali aku memikirkan paman, rasa kepalaku serasa ringan seperti terkena obat bius. Hatiku sangat sejuk ketika bersama pamanku ini, apa aku jatuh cinta? Apalagi setelah dia membayangkanku sambil onani. Penisnya itu ukurannya normal sih. Ndak begitu besar ataupun kecil. Aku jadi penasaran ingin menyentuhnya, dan rasa penasaran makin menjadi ketika aku teringat bagaimana teman-temanku yang sudah tidak perawan lagi menceritakan pengalaman mereka kehilangan keperawanannya. Akhirnya aku pun punya tekad kalau malam ini aku harus bisa mendapatkan pamanku.

Malamnya aku nonton tv. Suasana sangat sepi karena memang sedang momen lebaran. Tetangga-tetangga banyak yang mudik. Aku sudah siapkan semuanya. Mulai dari parfumku yang wangi, mandi, bersih-bersih dan pakai pakaian yang sexy. Pokoknya kalau pamanku yang mendapatkan keperawananku malam ini aku rela deh. Aku sudah bersiap pokoknya, sengaja aku tak pakai pakaian dalam. Ditambah dengan hot pants, siapapun pasti akan ngiler kalau melihat posisiku sekarang. Duduk miring memperlihatkan paha mulusku dan aku memakai T-Shirt dengan belahan dada rendah, sehingga kalau sedikit saja orang melongok di atasku, pasti akan melihat toketku.

Paman tampak sedang berada di kamarnya menidurkan Vidia kecil. Malam kian larut, dan pada pukul 21.00, ia menyusulku di ruang tamu. Aku menelan ludah melihat pakaiannya. Ia memakai boxer dan kaos singlet ketat. Dadanya bidang banget seperti lapangan badminton kelurahan. Dan itu tititnya sedikit menyembul. Bau tubuh khas lelakinya langsung membuat dadaku berdesir.

“Nonton apa?” tanyanya.

“N..nnonton film aja koq,” jawabku sedikit gugup. Dan dia pun duduk di sebelahku. Glek…kemudian tangannya menjulur ke pundakku.

Suasana ini makin panas saja. Walaupun kami cuma pakai pakaian tipis itu membuatku sedikit gugup. Tangan paman Nasir mengusap-usap pundakku. Entah bagaimana aku kemudian bisa bersandar di dadanya. Dan sedikit gerakan ia sudah memelukku.

“Kamu tadi ngintip aku mandi ya?” tanya paman Nasir.

Aku sangat terkejut. Dan malu.. Mungkin kalau ia melihat wajahku sekarang ini pasti akan terkejut. Pipiku memerah.

“Kenapa ngintip mandi segala?” tanyanya.

“Om sendiri, koq bayangin Laura sih sambil onani?” tanyaku.

Ia lalu mengangkat wajahku. Dan heiii….ia mencium bibirku. AKu gelagapan. Bingung, tapi sentuhan bibirnya sangat lembut. Jurus sedetik itu benar-benar membuatku kaget. Mataku terbelalak. Sedetik yang mengejutkan.

“Karena aku suka ama kamu Laura,” katanya.

Kemudian aku diciumnya lagi, bibirku dipanggutnya. Seperti tersihir, aku pun pasrah. Kubiarkan ia menciumiku, kemudian perlahan-lahan tangannya mulai menggerayangi dadaku. Putingku mengeras, mungkin kalau aku berdiri, putingku bisa membekas di bajuku.

“Om…ohh…,” aku mengeluh saat ia mulai menciumi leherku, lidahnya menari-nari dan menyedot-nyedotku. Aku juga diremponnya, ohh…jantungku berdebar-debar. Ada rasa takut dan bersalah kepada bibiku, kepada orang tuaku, tapi aku juga butuh ini. Rasanya cinta kesampaian.

“Laura…nggak apa-apa om lakukan ini?” tanyanya.

“Pelan-pelan ya om, Laura juga cinta ama om…,” kataku.

“Sungguh?” tanyanya. Aku mengangguk.

Aku kemudian dibopong, “Di kamarmu aja ya?”

Aku mengangguk. AKu sudah horni. Ohh…apa yang aku lakukan? Ia lalu membawaku ke kamar, menurunkan tubuhku di atas ranjang. Sejurus kemudian, tubuhku bagian atas sudah tak tertutupi apapun. Ia sudah mengenyot payudaraku. Ohhh…inikah rasanya dikenyot payudara itu? Nikmat sekali. Geli, rasanya sangat geli. Aku seperti seorang ibu yang punya bayi besar. Pamanku sendri menyusu kepadaku. Ohh…lidahnya menari-nari diputingku yag makin keras. Aku mengusap-usap rambutnya. Meremas-remasnya ketika lidahnya menyentuh titik sensitifku. Dia terus bergelut dengan payudaraku. Rasanya sangat nikmat sekali. Kenikmatan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dadaku yang sebelah kanan diremas-remas. Kemudian beralih ke yang kiri. Ia lakukan itu sambil mengisapi tetekku. Ohh…nikmat. Kemudian ia bangkit sejenak, dibuka singletnya hingga ia telanjang dada. Dadanya yang bidah itu kini menempel di dadaku. Aku kembali dipanggutnya. Ohh, lidahnya menghisap air liurku. Sepertinya air liurku ini adalah air yang sangat manis. Lidahnya menari-nari di lidahku, menjelajahi rongga mulutku. Hingga aku sulit bernafas.

Ia pun melepaskan ciumannya. Senyumnya kepadaku membuat hatiku makin leleh, lumer seperti es krim yang terkena panasnya matahari. Lebih jauh lagi. Bibirnya kemudian mencium keningku, kelopak mataku, pipiku, hidungku, telingaku, lalu turun ke leherku, dadaku, perutku. Ia elus-elus kedua pahaku. Geli banget, vaginaku mulai banjir. Dari hotpantsku ia menciumi kemaluanku. Ohh..malunya aku.

“Om…ohh….jangan omm…geli,” kataku.

Ia pun mencoba melepaskan hot pantsku. Dan set, dengan satu gerakan pantatku kunaikan ia sudah dengan cepat meloloskan pakaian yang menutup daerah kemaluanku itu.

“Kamu koq ndak pakai pakaian dalam?” tanyanya.

AKu tak menjawabnya. Karena aku sudah haus dengan belaian dan perlakuannya. Eh…apa yang dilakukannya sekarang? Aku merasa kemaluanku dibuka, dibibir kemaluanku seperti ada sesuatu yang basah yang ingin masuk. Apa itu? Aku melirik ke bawah. Tampak kepala omku ada di belahan pahaku. Mulutnya berada di kemaluanku dan matanya terpejam. Ia mengoralku. Ohh…suara kecipak lidahnya benar-benar membuatku makin horni. Ketika lidahnya menyapu kemaluanku sampai ke klitoris, aku berjingkat dan pantatku naik. Pamanku begitu terbius oleh cairan kemaluanku ia terus menyedot dan menjilat. Mungkin ia ingin jadi orang yang tak ingin membuang kesempatan bersetubuh dengan seorang gadis perawan yang ranum belum pernah terjamah lelaki manapun.

“Omm..udah om…Laura ndak tahan…pliis jangan siksa Laura…ohhhhh…oooommmm!” rancauku.

Tapi pamanku ini masa bodoh. Ia terus mengobok-obok vaginaku dengan lidah mautnya. Aku tak kuasa menahan kenikmatan-kenikmatan yang ia berikan. Hingga aku pun ingin memancarkan cairan kewanitaanku.

“Ohhmmmm….LLLaaauurrraaa piiipiiiisssss…….aaaaawwwwwwhhhh…!” aku menekan kepala omku kuat-kuat ke vaginaku. Aku benar-benar merasakan orgasme yang luar biasa. Sampai-sampai otakku serasa terkena mint. Ekstasi ini membuatku mendongak ke atas dan kedua pahaku mengapit kepala pamanku sendiri. Aku orgasme di mulutnya…….. Beberapa detik kemudian aku lemas.

Pamanku sudah ada di atasku. Dibuka lebarnya kedua pahaku dan penisnya mengacung tegak seperti senapan. Ia mau menggagahiku. Ohh…apa yang harus aku lakukan. Dibelainya rambutku, Lalu dikecupnya bibirku.

“Tahan ya, mungkin agak perih,” katanya.

Aku mengangguk dan memejamkan mata. Aku tak tahu apa yang terjadi. Yang jelas. Kemaluanku serasa seperti ada benda besar ingin masuk. Dan benda itu serasa lunak tapi keras, berkedut-kedut. Dinding kemaluanku meresponnya, perih rasanya. Pamanku cukup pengalaman ternyata. Ia tahan sejenak saat aku meringis kesakitan. Ia tarik perlahan dan dorong lagi. Terus seperti itu, sampai cukup dalam ia masuk. Aku pun merasakan sesuatu yang menembus kemaluanku. Sakiiiiittt rasanya. Kemaluanku dan kemaluannya pun berhasil menyatu. Aku melihat ke bawah dan kulihat kemaluan pamanku masuk semua. Dinding kemaluanku serasa meremas-remas batangnya yang berotot.

“Omm..sakit!” kataku.

“Sabar ya sayang, sebentar lagi nggak koq,” katanya.

Ia menggoyangku dengan pelan. Pantatnya naik turun, menuntun penisnya untuk memberikan gesekan-gesekan nikmat di dalam sana. Rongga vaginaku makin terbuka lebar menyesuaikan lebar penis pamanku ini. Aku baru kali ini merasakan sakit perihnya. Namun lama kelamaan setelah gesekan demi gesekan dilakukan pamanku dan mulai lancar. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Setiap penisnya menggesek dinding kemaluanku, bersamaan dengan itu pula seluruh tubuhku seperti kesetrum kenikmatan berjuta-juta volt. Penisnya makin mengeras dan makin mengeras lagi saat ia bilang ingin keluar. Kemaluanku pun rasanya sudah tak bisa ditahan lagi. Kemaluanku makin keras menjepit penisnya. Pamanku mencium bibirku. Kami berciuman hingga semprotan-semprotan sperma untuk pertama kali membasahi rahimku. Sebuah sensasi kehangatan puncak dari hubungan percintaan yang menggelora. Kujepitkan pahaku dipinggangnya. Penisnya menghujam sampai se dalam-dalamnya di dalam rahimku. Aku pun keluar untuk kedua kalinya. Air mani kami bercampur dan rasa kenikmatan yang tak bisa dilukiskan ini, membuatku serentak tersadar. Bahwa hubungan ini telah berakhir.

Pamanku berbaring di sebelahku. Ia cabut penisnya. Aku bisa melihat mengkilatnya itu benda yang besarnya sebesar mentimun. Tak dapat kusangka vagina yang harusnya aku lindungi untuk suamiku sekarang malah bisa aku serahkan dengan sukarela kepada orang lain. Dan orang itu adalah pamanku sendiri. Aku pun tidur sambil memeluknya tanpa busana.

Itulah awal mula aku berhubungan dengan pamanku. Dan itu adalah awal mula kesalahanku. Setelah malam itu, esoknya kami mengulanginya lagi dengan berbagai gaya. Karena anggota keluarga lainnya masih 3 hari di luar kota. Aku mengurus Vidia, tapi juga mengurus ayahnya. Mungkin karena aku masih perawan jadi paman Nasir ini menggarapku hampir tiap jam. Ia istirahat kalau Vidia nangis minta makan atau buang air. Atau ketika kami makan. Tapi di rumah ini aku hampir tak pernah pakai baju. Yang ada di pikiranku hanya ngentot dan memuaskan burungnya. Pernah ketika memberikan susu kepada Vidia aku harus menyepongnya, atau ketika menggantikan popok ia menyodokku dari belakang dan ejakulasi di dalam.

Kami lupa waktu dan saat itulah keluargaku pulang dan kami dalam keadaan masih dalam satu selimut. Saat itu aku baru saja orgasme dan pamanku juga orgasme. Saat itulah betapa kagetnya kami ketika bibi masuk kamar. Betapa malunya ayahku waktu itu melihat kami melakukan hubungan terlarang ini. Kami pun disidang.

Kami dilarang lagi bertemu dan seketika itu juga hubungan bibi dengan keluarga kami renggang. Aku pun tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan paman. Aku menyesal, tapi aku masih rindu. Aku tetap merindukan pamanku. Aku tetap merindukan saat-saat kami bersama walaupun singkat.

Setelah 5 tahun kemudian, aku dengar kalau paman punya anak lagi. Sepertinya ia rujuk dengan istrinya. Ini tidak adil. Kenapa harus aku yang kehilangan cinta? Aku sudah kehilangan keperawananku dan mungkin akan sedikit orang yang mau denganku. Aku pun kemudian mengutuk bibiku sendiri. Semoga dia juga akan merasakan hubungan incest. Dan dia akan ketagihan dengannya.

Dan secara tak sengaja, aku bertemu pamanku lagi sewaktu aku mau ke luar negeri. Secara tak sengaja pula tujuan kami sama, yaitu Singapura. Awalnya kami canggung. Aku ke Singapura untuk kuliah. Dan paman ke Singapura untuk liburan menenangkan diri. Dan perjumpaan kami ini tidak kami lewatkan begitu saja. Sekali lagi kami bercinta. Kami menginap di hotel dan memuaskan diri bahkan aku lupa kalau waktu itu aku lagi masa subur. Setelah selama 2 minggu ia ada di Singpura ia pun pulang. Dan kemudian aku tak tahu kalau aku hamil. Aku baru sadar ketika usia kandungan sudah 3 bulan. Aku yakin ini adalah benih pamanku sendiri. Tapi aku tak tahu bagaimana laporannya kepada ayahku.

Untunglah aku kenal dengan orang yang sangat care terhadapku. Ia adalah suamiku sekarang. Jadi ia rela menjadikanku istri dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku. Tak berapa lama kemudian kami menikah. Dan Anisa lahir. William merupakan suamiku, tapi ia sadar tak akan mungkin menggantikan ayah bagi Anisa, tapi ia akan berusaha. Ketulusannya itulah yang membuatku mencintainya. Dan aku pun melupakan Om Nasir, hingga kemudian aku bertemu lagi dengan keluarga mereka.

**** End of Narasi Laura ****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*