Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 13

Anak Nakal 13

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 12

Bab 13
PERKOSAAN YANG DINIKMATI
— NARASI LAURA —

Aku sudah dihajar habis-habisan oleh Doni. Aku baru tahu ada lelaki yang sangat kuat di atas ranjang seperti dia. Suamiku sendiri tak ada apa-apanya. Dan jujur aku suka bercinta model ini, dia sangat mirip dengan ayahnya. Aku akhirnya tahu apa alasan ibunya sampai takluk kepada anaknya sendiri. Dan itu penisnya luar biasa sampai sesak memekku. Hanya saja aku tak menyangka ia tega memakankan diriku kepada tiga orang temannya. Sebut saja Bejo, Parto dan Tanto. Sebenarnya aku sudah pasrah diperkosa oleh Doni. Semenjak aku tahu dia ada di ruangan itu aku sudah pasrah kalau ia akan memperkosaku. Dan benar ia memperkosaku. Awalnya aku ada perasaan melawan. Tapi setelah itu entah kenapa aku seperti terhipnotis. Aku jadi menikmatinya. Menikmati setiap jengkal tubuhnya memperlakukanku. Aku tak tahu apakah aku suka disiksa seperti ini, ataukah karena hubunganku dengan suamiku selalu monoton? Sehingga aku bisa mendapatkan kepuasan dari laki-laki penyuka keluarganya sendiri ini???

Tapi sekarang aku tak bisa protes lagi. Ketika Doni pergi dan ketiga orang preman itu masuk. Aku sudah pasrah. Aku tak punya kekuatan untuk melawan. Bahkan ketika ketiganya telanjang bulat di hadapanku dengan kemaluan mereka yang besar dan berurat. Rasanya aku akan dihabisi hari ini oleh mereka bertiga.

Segera Bejo yang punya kepala penis lebih besar daripada kedua rekannya menyuruhku untuk mengulum penisnya. Ughh..rasanya ndak muat dan aku mau muntah mencium bau pesing penisnya. Tapi kedua rekannya mengejutkanku ketika orang yang bernama Parto tiba-tiba sudah menghujamkan penisnya ke dalam memekku. Penisnya juga besar, hitam dan panjang. Seluruh urat-uratnya menggesek lubang memekku membuatku tersentak. Dan si Tanto menghisap puting susuku dan memainkannya. Entah kenapa aku jadi menikmati perkosaan ini. Apakah aku sudah menjadi wanita yang binal??

Iya, aku sudah jadi wanita binal. Kepalaku entah bagaimana bisa maju mundur sendiri sambil menyedot penis Bejo.

“Dasar perek, enak banget sepongan elu?” kata Bejo.

“Iya bro, memeknya juga legit..ouuuhhh…,” kata Parto.

Parto memegangi lututku dan penisnya sudah lancar masuk ke dalam memekku tanpa halangan. Lendirku bercampur dengan sperma Doni yang ditumpahkannya tadi ke dalam rahimku. Apakah aku bodoh menolak persyaratannya tadi? Padahal kalau aku menerima persyaratannya tadi aku pasti tidak akan diperkosa oleh ketiga makhluk buas ini. Tapi kalau aku menerima persyaratannya aku benar-benar hancur. Aku akan kehilangan suami dan anakku. Aku harus bagaimana?

Bejo tampak merasakan kenikmatan setiap penisnya masuk ke dalam mulutku dan lidahku bereaksi memberikan stimulus-stimulus di kepala penisnya. Aku kemudian konsentrasi ingin memberikan kenikmatan kepada Bejo ini agar ia bisa puas dan mengakhirinya walaupun aku tak yakin seberapa puas dia akan memperkosaku. Aku harus kuat, ini tekadku. Aku harus bisa mengakhiri ini. Aku tak akan mungkin melayani mereka sampai besok. Aku akan ambil syarat yang diajukan DOni kepadaku. Mau tak mau ini yang akan aku lakukan. Entah kenapa Doni menjadi orang yang saat ini aku butuhkan, padahal dia memperkosaku. Padahal aku benci dia, kenapa?

Aku pun mulai membayangkan ketiga orang ini adalah Doni. Iya, aku akan bayangkan itu. Aku akan anggap mereka menjadi Doni. Ohh…Doni…maafkan aku, aku tak bermaksud berbuat jahat kepadamu. Aku pun sudah gila. Aku sudah gila, gila karena dia.

Tanganku mulai menyentuh penis Tanto. Penisnya pun sudah perkasa. Kuurut dan kukocok. Tanto yang sedang menghisap tetekku sekarang merasakan kenikmatan, ia mengeluh saat aku meremas buah pelernya dan mengocok penisnya.

“Iya sayang, di situ ohhh….enak banget,” kata Tanto.

Bejo mulai memaju mundurkan penisnya. Karena seponganku benar-benar membuatnya mabuk. Tak cukup itu aku pun mengusap-usap pantatnya yang berwarna hitam itu. Bejo mulai gelisah. Ia memegangi kepalaku.

“Ahh…bangsat, perek ini bikin aku mau meledak. Jago banget nyepongnya….nih…aku tembakin di mulut. Rasain…!!” Bejo menembakkan pejunya yang rasanya asin ke dalam mulutku. Aku tersedak. Kepalaku ditekan hingga ujung penisnya menyentuh tenggorokanku. Setelah spermanya keluar semua, ia pun mencabutnya dan kepalaku lemas di atas bantal. Sebagian spermanya keluar dari mulutku aku keluarkan.

Tapi aku tak merasa jijik, aku tetap bayangkan Bejo ini adalah Doni. Yang telah memberikan kepuasan kepadaku tadi. Disusul kemudian Parto. Ia makin ganas menggoyang pantatnya dan menyodok kemaluanku.

“Anjing, memeknya seret banget, penis gua sampe ngilu!” katanya.

Aku memang menjepit penisnya agar memberikan kenikmatan kepadanya agar ia cepat keluar. Tergantung orangnya sih, padahal aku tadi juga memberikan jurus ini kepada Doni, tapi dia lama banget keluarnya. Sampai aku sendiri yang orgasme. Si Parto ini dengan sangat bernafsu terus mengocok. Ranjang kami bergetar hebat dan suara pantatku bertabrakan dengan selakangannya makin membuat suasana menjadi lebih panas. Aku terus disodok seperti disebutuhi oleh anjing.

“Ohh…perek sialan, memekmu enak banget, aku muncrat….JIAAAANN*********KK!” Parto mengumpat sambil menyemburkan spermanya di dalam rahimku. Entah berapa tembakan, aku tak bisa menghitungnya. Kemudian Tanto mendorongnya.

“Gantian! Aku penasaran ama rasa memeknya!” kata Tanto. Parto lalu mundur ia kemudian duduk di kursi menikmati orgasme yang baru saja ia rasakan. Dari lubang penisnya keluar cairan putih yang meleleh ke lantai.

Tanto ini cukup lembut. Ia tetap menetek kepadaku, apa ia terobsesi oleh montoknya tetekku? Ia pun lalu menusukkan penisnya ke lubang memekku. BLESS…tanpa halangan. Sejurus kemudian ia bergoyang lembut.

“Uhh….enak mbak’e, pantes bos kepengen ngentotin kamu. Ouuhh…memekmu bener-bener seret, istriku aja kalah,” katanya. Ia kemudian menaik turunkan pantatnya dengan lembut. Ada yang aku sukai dari orang ini. Ia memperkosaku dengan lembut. Ia mulai memberikan stimulus di leherku, menciumi pipiku, dan sesekali membelai rambutku seperti layaknya seorang kekasih.

Aku mulai suka gaya Tanto ini. Ia memelukku dengan erat. Sembari mengentotku ia berikan cupangan-cupangan di buah dadaku, bersama cupangan-cupangan Doni. Ohhh..aku jadi bergairah. Pinggangnya aku apit, selakanganku gatal sekali. Aku pun ikut menggoyangkan pantatku. Hal itu membuat Tanto belingsatan. Ia makin bernafsu untuk menggagahiku.

“Mbak’e enak banget,” katanya. Goyangan demi goyangan kulakukan agar ia pun bisa menikmati dan segera kelar perkosaan ini. Tapi sepertinya Tanto lebih menguasaiku. Terbukti ia sangat lihai dalam menaikkan nafsuku. Goyangannya kian cepat mengebor memekku. Aku mengeluh, menelan ludahku yang sudah tercampur dengan sperma Bejo tadi.

“Ahh…aaaahhh!” aku pun berteriak karena nikmat.

Dan saat aku hampir saja orgasme karena perkosaan ini, ia menghentikan begitu saja, membuat memekku berkedut-kedut hebat. Tanto tertawa.

“Belum saatnya manis, aku masih ingin menikmati pantatmu juga,” katanya. Ia pun mencabut penisnya. Kemudian aku disuruh untuk menungging. Aku dibalikkan lagi-lagi dengan lembut. Aku membenamkan wajahku di bantal. Aku malu, malu sekali bisa menikmati saat-saat aku diperkosa.

OUuwww…lagi-lagi Tanto menyerangku. Penisnya menyodokku hingga ke rahimku. Lagi-lagi urat-uratnya yang kasar itu menggesek dinding kemaluanku. Rangsangan demi rangsangan ia terus berikan. Ia makin bernafsu kepada bongkahan pantatku. Berkali-kali pantatku di remasnya, dipukulinya dengan gemas. Kemudian ia menjambak rambutku. Ternyata di depanku sudah ada Parto. Ia sudah siap untuk memasukkan penisnya yang tadi sudah menggagahiku. Mulutku terbuka dan ia pun memasukkanya. Mau tak mau aku harus mengoral penis itu. Rasanya bercampur dengan sperma.

Aku sekarang diserang dari dua arah depan dan belakang. Dengan gemas Tanto menyerang pantatku. Tiba-tiba Bejo sudah meremas-remas toketku dan menyusu di bawahku. Lelaki ini cukup gemas dengan tubuhku. Toketku dihisapnya kuat-kuat sepertinya ingin agar air susuku keluar. Tubuhku diusap-usapnya, dielus-elusnya. Perlakuannya ini membatku makin gila. Memekku gatal sekali.

Tanto makin ganas menggenjotku dari belakang. Aku pun makin ganas menghisapi penis Parto. Ia pun makin keenakan. Aku tahu Parto ini tipe orang yang cepat terangsang. Dengan satu tangan aku pun membantu mengocok penisnya. Sedangkan kepala penisnya masih ada di dalam mulutnya. Kepalaku mengangguk-angguk setiap kali ia pun ikut menyodokkan penisku sampai ke tenggorokanku. Lidahku berputar-putar memerikan rangsangan-rangsangan, Parto merem melek. Penisnya makin tegang.

“Ahh..sialan, perek ini bikin aku kepengen keluar lagi,” benar apa yang kupikirkan ia mudah terangsang.

Tanto masih menyodokku. Kali ini iramanya makin cepat.

“Aahh…aku juga mau keluar…manis aku keluarin di dalem ya??” kata Tanto.

Tiba-tiba ia menghentikan sodokannya dan menekan pantatku kuat-kuat, bersamaan dengan itu Parto menekanku juga, penisnya mengeras dan akhirnya menembakkan spermanya ke dalam mulutku. Dan sialnya, aku juga orgasme. Memekku berkedut-kedut. Cairan kewanitaanku keluar membanjiri penis Tanto. Sperma Parto aku telan semua. Ia sempat memeriksa isi mulutku.

“Telan dong sayang, telan!” katanya. AKu menelanya habis.

Parto tampak senang sekali ia pun akhirnya menyingkir diikuti oleh Tanto yang telah puas pun kini menyingkir. Ia cabut pelan-pelan penisnya. Bejo kini mengatur posisi agar aku menjadi di atas. Kini posisiku seperti menduduki penisnya. Penisnya cukup lancar masuk ke liangku.

Kembali persetubuhan itu terjadi. Aku bergoyang naik turun. Buah dadaku pun bergoyang naik turun sambil diremas-remas oleh Bejo. Tangannya yang kasar itu meremas-remas buah dadaku yang lembut. Sangat kontras kulit kami. Ia hitam aku putih. Mungkin Bejo kali ini sangat terangsang sekali dengan persenggamaan ini. Ia mungkin selalu memimpikan ngentot dengan wanita seperti aku. Aku tetap menganggap pria-pria ini adalah Doni. Ohh…aku terangsang sekali. Aku benar-benar menjadi wanita binal. Aku peluk Bejo.

“Mass…cepetan yah..aku sudah capek,” kataku.

“Tapi abang belum puas,” katanya.

Aku makin percepat pantatku menggoyang sambil kuempot-empot batang penisnya. Bejo memejamkan mata menikmati persetubuhan ini. Kuhisap leher Bejo, dan putingnya aku jilati. Bejo tak kuasa. Pantatnya makin bergoyang cepat mendapatkan perlakuanku.

“Ahhh…perek sialan, aku mau keluar lagi!” katanya. Aku makin cepat menggoyang… dan…pura-pura orgasme.

“AARGGGHH…!!” Bejo memelukku erat. Diciuminya bibirku, ia kelihatan puas sekali. Lalu mendorong tubuhku hingga berbaring di samping. Aku capek sekali. Kugunakan untuk istirahat. Aku pun saking lemahnya tak sanggup untuk membuka mataku. Entah apakah mereka lagi-lagi memperkosa aku apa tidak.

***

Aku terbangun oleh sentuhan tangan lembut. Ketika kubuka mataku, tampak mataku lengket. Dan sebuah tissue basah menyeka wajahku. Saat itulah kulihat Doni. Wajah yang selama ini kubenci entah kenapa aku sekarang bisa merasa aman dengannya. Ohh..apakah aku jatuh cinta??? Ini tidak mungkin. Kenapa aku cinta kepada musuhku sendiri??? Kenapa???

Ketika aku membuka mataku. Dia tersenyum. Entah kenapa senyumannya itu adalah senyuman terindah yang pernah aku lihat. Aku menoleh wajahku ke sebuah cermin di lemari aju. Kumelihat diriku di cermin itu seperti pelacur. Tubuhku telanjang dan dadaku, wajahku, semuanya penuh dengan sperma. Sepertinya mereka akhiri perkosaan ini dengan mengeluarkan sisa-sisa peju mereka ke wajah dan tubuhku.

“Kamu bisa berdiri?” tanya Doni.

Aku menggeleng.

“Ya sudah, istirahat saja,” katanya. Aku ketahui hanya dirinya dan diriku di ruangan ini.

“Don?” kataku.

Ia menatapku.

“Aku setuju syaratmu. Aku akan minta maaf kepada istri-istrimu, aku akan meninggalkan keluargaku, dan aku rela engkau hamili. Tapi kumohon jangan kau berikan aku kepada orang-orang itu tadi. Tapi…aku juga ingin minta satu syarat saja, kumohon…..!” aku mengiba.

Doni mengangguk, “Katakan saja!”

“Aku ingin, kau selalu menemuiku kapan pun engkau kehendaki. Aku akan melepas semuanya, aku telah salah selama ini. Kumohon!” kataku.

Doni terdiam beberapa saat.

“Kenapa?”

“Aku ingin bercerita kepadamu suatu hal. Semua ini semuanya berasal dariku. Semua kesalahan ini, semua dosa ini berawal dari aku. Aku akan ceritakan semua hal yang aku tidak pernah ceritakan kepada siapapun. Rahasia terbesar ini aku simpan sampai saat ini,” kataku.

Doni kemudian mendengarkan dengan serius.

“Anisa adalah anak ayahmu, bukan anak suamiku,” kataku. Raut wajahnya pun berubah seketika itu. Ia seakan-akan tak percaya.

“Kau bohong, kau tidak hamil ketika ayah berhubungan denganmu,” kata Doni.

“Benar, itu ketika aku masih remaja, tapi ayahmu masih meminta jatah kepadaku setelah itu dan kami melakukannya sembunyi-sembunyi. Kau bisa tes DNA untuk membuktikannya. Toh, sekarang aku tak bisa apa-apa lagi. AKu malu untuk pulang dengan keadaan begini…,” aku pun terisak. “Itulah sebabnya aku marah sekali mengetahui Anisa bisa hamil olehmu. Ternyata kutukan ini tak akan pernah berakhir. Dan aku berharap, kutukan ini berakhir dengan engkau menghamiliku, jadikanlah aku istrimu agar semua ini berakhir. Kumohon!”

Doni lalu memegang wajahku. Dia menatap mataku lekat-lekat. Aku sama sekali tak berkedip. Ia menggeleng-geleng. Lalu dia pergi ke wastafel. Ia seakan-akan tak percaya terhadap apa yang sudah aku bilang. Ia mencuci mukanya hingga bajunya pun ikut basah.

“Ceritakan, ceritakan kepadaku!” katanya.

Dan aku pun mulai bercerita tentang masa laluku.

*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*