Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 11

Anak Nakal 11

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 10

BAB 11
KEPONAKANKU ANISA

Bunda akhirnya lahiran. Anaknya cowok. Bunda sangat senang sekali. Bahkan anaknya sangat mirip aku. Aku seperti yang lainnya juga menunggu proses lahiran. Mulai dari muncul kepalanya hingga keluar semua. Kukecup kening bunda. Ia benar-benar wanita yang hebat. Nama anak kami kunamai Pandu.

“Habis ini bakal rebutan ama papahnya nih,” kataku. Bunda ketawa.

“Papahnya ngalah dulu ya?” katanya sambil menciumku.

Kebahagiaan keluarga kami bertambah. Kemudian yang tidak disangka pun datang. Sepupuku yang pernah tidur dengan ayahku, Laura. Aku memang cuma sekali bertemu dengannya, mendengar bunda lahiran ia pun datang ke rumah sakit menjenguk. Ketika melihatku ia sangat kaget. Ia kira aku adalah ayahku. Tapi ketika melihat bunda ia pun jadi mengerti kalau aku bukan ayah.

Tampak seorang gadis yang kira-kira masih SMA bersama Laura.

“Bibi, apa kabar?” sapanya.

“La..Laura?” bunda tampak terkejut. “Kudengar bibi lahiran, makanya aku ke
sini. Anak siapa? Anak dia?”

“Mau apa kamu ke sini?” tampak bunda kesal dengannya. Pastilah, orang yang pernah merebut cinta bunda koq.

“Ternyata kita sama aja ya, suka ama keluarga sendiri. Tidak ayah tidak anak sama saja,” kata Laura dengan senyum sinis. “Untung dulu ayahmu ndak pernah ngehamilin aku, sekarang aku sudah punya anak dari orang lain. Tapi aku ke sini cuma ingin memberikan pernyataan menang. Kutukanku berhasil bukan?”

Aku juga rasanya agak marah ama Laura.

“Apa maumu?” tanyaku.

“Tidak ada koq, aku cuma ingin mengucapkan selamat aja tidak lebih. Oh iya, kenalkan anakku Anisa,” katanya sambil menunjuk Anisa yang baru saja masuk.

Bunda menitikkan air mata.

“Sebaiknya kamu pergi aja deh!” kataku.

“Kalau ingin membalasku silakan saja, tapi toh kata-kataku benar bukan? Like father like son. Untungnya paman itu anak tunggal, coba kalau ndak, aku tidak tau apa yang akan terjadi ama kalian semua,” kata Laura.

Sialan ini cewek. Kepengen aku kerjai aja. Ketika aku melihat ke arah Anisa alamaak cakep banget. Wajahnya mirip para personel Cherrybelle. Mulus dan bening. Aku tak tahu kalau Laura punya anak secantik ini.

Setelah memanas-manasi bunda, Laura pun pergi. Bunda sangat bersedih. Rupanya Laura mendendam kepadanya. Aku sangat sedih dengan apa yang terjadi kepada bunda. Dan aku punya rencana jahat. Sangat jahat, bahkan ia tak akan pernah melupakan seumur hidupnya.

***

Anisa duduk di bangku SMK. Ia adalah seorang blasteran. Ayahnya orang Kaukasia, pantas saja cakep. Hari ini aku ingin melakukan pembalasan. Aku sengaja mengikuti Anisa dari sejak pulang sekolah, tujuanku hanya satu, yaitu buntingin dia sama Laura. Biar itu si Laura bunuh diri sekalian deh. Karena ia sudah membuat bunda menangis semaleman.

Anisa jalan ama temen-temennya, kemudian dia ngemall, aku tetap ikuti dia. Hingga aku membuat sekenario. Aku secara tak sengaja bertemu dengannya di mall.

“Lho, Anisa?” sapaku.

Ia kebingungan. “Siapa ya?”

“Aku Doni pamanmu,” jawabku.

“Oh, yang kemarin. Maafin mama ya om,” katanya. “Aku ndak tau ada apa di
antara kalian sampai-sampai mama kayak gitu.”

“Iya, aku bisa mengerti koq, sendirian aja?” tanyaku.

“Iya nih, sedang cari-cari buku,” katanya.

“Oh, kebetulan aku juga sedang cari buku,” aku berbohong. “Sama-sama yuk?”

Ia tersenyum dan mengiyakan. Kami kemudian berjalan-jalan, sesekali bergurau. Kemudian setelah kami mendapatkan buku yang dicari, kemudian kami pun pulang, ia kuantar pulang. Aku memohon kepadanya agar tidak menceritakan pertemuan kita ke ibunya, nanti malah berabe. Ia pun setuju dan kami berjanji untuk ketemu lagi, saling tukar nomor hape.

Aku dan Anisa sering bertemu. Aku mulai mendekati Anisa, seperti merayunya, memberikan dia hadiah, dan kejutan-kejutan yang ia tak pernah sangka sebelumnya. Intinya semua sikap itu aku berikan kepada Anisa, hingga aku ingin ia takluk kepadaku. Dari ketika mengajak dia jalan, awalnya dia enggan untuk ku gandeng, kemudian setelah itu kami tidak enggan lagi. Bahkan Anisa lebih aktif untuk menggandeng tanganku setiap jalan.

Anisa termasuk gadis yang sedikit pemalu sebenarnya. Semenjak aku dekat dengannya dan memberikan kejutan-kejutan, ia pun sudah tidak malu-malu lagi. Katanya ia sangat nyaman kalau dekat denganku. Walaupun kami tak resmi bilang pacaran, tapi kami sudah sangat dekat, mendekati orang pacaran.

***

Hal yang mengejutkanku pun datang. Bunda sakit. Terkena stroke. Tentu saja aku kaget, bagaimana anak kami? Kubisa melihat wajah bunda yang sendu. Selama semingu aku menungguinya di rumah sakit. Beliau tidak sadarkan diri selama seminggu ini. Padahal beliau baru kurang dari sebulan ini lahiran. Ditambah tidak mendapatkan asupan makanan karena tidak sadarkan diri, bunda harus transfusi darah. Sebenarnya dokter tahu kalau aku hubungan incest dengan bunda tapi aku telah mengatakan kepadanya untuk merahasiakan ini. Ia pun mengerti dan aku bersyukur karena itu. Dengan darahku bunda yang mengalami pendarahan bisa tertolong.

Akulah yang setiap hari menjagai selang infusnya. Aku juga yang setiap hari membersihkan dia kalau sedang buang air. Aku juga yang setiap hari menyeka tubuhnya. Kak Vidia menawarkan diri untuk menjaga bunda, tapi aku tolak. Aku lebih memilih agar anakku saja dijaga. Hampir tiap hari Kak Vidia dan Nur datang ke rumah sakit menjenguk kami berdua. Mereka mungkin bisa merasakan capeknya diriku. Mataku pun mulai sembab. Tiap malam aku selalu disampingnya, bahkan sampai lupa makan.

“Pah, papah jangan begitu dong. Masa’ sampai lupa makan?” Nur marah-marah kepadaku. “Aku tahu papah lebih sayang kepada bunda, tapi ingat kondisi juga, jangan sampai kami semua lebih sedih lagi!”

Kak Vidia pun ikutan marah, “Malu-maluin papah sampe jatuh tadi di lorong gara-gara lupa makan. Kalau papah sakit juga, kami bagaimana?”

“Iya, aku minta maaf,” kataku. “Aku sangat khawatir kondisi bunda sehingga nggak tau lagi harus bagaimana.”

Kak Vidia lalu mencium keningku, lalu menggosok-gosok bekas ciumannya. “Aku tahu koq papah sangaaaaat cinta ama bunda. Bahkan, mamah bisa tahu setiap kali bercinta ama mamah, papah pasti ingat bunda. Tapi itu tak membuat mamah marah. Mamah akan lakukan apapun untuk kalian berdua.”

“Kak Vid,” aku pun memeluknya. “Makasih ya.”

Nur juga memelukku untuk membesarkan hatiku. Ia pun berbisik, “Optimis saja mamah pasti sembuh.”

Akhirnya setelah kejadian itu, setiap pagi Nur datang ke rumah sakit, sorenya kak Vidia. Sudah 2 minggu bunda di rumah sakit. Untung sekali kami punya asuransi, jadi dokter akan berusaha sebaik-baiknya untuk menolong bunda. Terlebih kami punya fasilitas asuransi gold dengan premi yang besar, sehingga penanganan bunda nantinya bisa maksimal. Selama menunggui bunda aku selalu memegang tangannya yang lembut. Sambil sesekali aku kecup keningnya. Aku perlu mempersiapkan tissue dan menyeka bibirnya berkali-kali ketika busa keluar. Entah kenapa koq rasanya sekarang aku jadi anak yang tidak durhaka, padahal selama ini aku berbuat yang sangat buruk kepada bunda. Menyetubuhi ibu sendiri itu dosa, sungguh hal itu sekarang aku rasakan. Apakah ini cobaan ataukah ini siksaan? Aku sudah lama juga tidak sholat. Sekali-kali saja aku sholat, kalau ingat, kalau nggak ya nggak. Akhirnya entah siapa yang menggerakkanku. Malam itu aku pun jadi religius. Aku sholat malam dan berdo’a hingga subuh. Melihat bunda seperti ini pun aku tak tega. Akhirnya aku berdo’a, “Tuhan, kalau misalnya kematian lebih baik bagi bundaku, aku rela. Asalkan jangan engkau perlihatkan kepadaku ia menderita sakit seperti ini. Kami sadar kami lakukan banyak hal yang salah, tapi….apa yang bisa aku lakukan sekarang?”

Malam itu pun aku menangis mengharap kesembuhan bundaku. Pagi sudah memunculkan mentari dari ufuk timur. Dan aku masih di kamar bunda menanti-nanti suster atau dokter yang mengecek dan mengontrol kondisi bunda.
Setelah mereka selesai mengecek, aku sholat lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku banyak sholat. Ketika Kak Vidia menjengukku dan bunda, dia menyaksikanku bersujud, ia pun duduk menantiku selesai. Setelah itu aku bangkit menghampirinya. Dia menitikkan air mata dan memelukku. Kami menangis.

Perasaanku hari itu tak enak. Rasanya aku harus ada di dekatnya. Tak cuma aku tapi juga Kak Vidia dan Nur pun begitu. Mereka ada di kamar bunda dan berdekatan denganku. Saat itulah bunda membuka matanya. Aku tak bisa menahan haru akhirnya bunda siuman. Aku segera memanggil suster ketika tahu bunda sudah siuman. Bunda tak bicara, mereka hanya melihat kami.

“Bunda, bunda sudah siuman?” tanyaku gembira.

Semuanya gembira, namun ketika dokter hadir semuanya jadi cemas. Dokter memeriksa bunda. Melihat matanya dan mengecek tekanan darahnya. Ia pun menggeleng.

“Kenapa dok?” tanyaku.

“Maafkan saya pak, kayaknya istri anda tidak bisa ditolong,” jawabnya.

“Tapi dok, dia siuman dia membuka matanya!” kataku.

“Iya, tapi itu pengaruh pembuluh darahnya sudah pecah di otak. Sehingga merangsang syaraf mata di otak, dan akibatnya ia bisa membuka matanya. Tapi ia tak bisa apa-apa. Tapi sekarang ini ia mendengar kalian semua. Yang bisa saya katakan adalah waktunya tak banyak, ucapkanlah kata-kata terakhir karena ia akan menghadap sang kuasa sebentar lagi,” kata dokter sambil memegang pundakku kuat-kuat.

Tubuhku gemetar. Aku melihat bunda membuka matanya tapi ternyata justru ini saat-saat terakhirnya. Aku bersedih, sangat bersedih. Aku pun berkali-kali berkata, “Maafkan aku, maafkan aku bunda maafkan aku.”

Kak Vidia dan Nur ikut bersedih. Aku pun merasakannya, ketika tangan bunda mendadak dingin dan kemudian seluruh tubuhnya mendingin. Matanya kini menutup dan sebuah senyuman menyungging di bibirnya, seperti ia hendak ingin bicara. Tapi ternyata nyawanya telah pergi. Bunda telah tiada hari itu. Kak Vidia dan Nur bersedih, mereka menangis tanpa henti.

***

Aku berdiri di depan nisan bunda. Kak Vidia dan Nur ada di belakangku. Kak Vidia mengajakku untuk pergi, tapi rasanya aku tak bisa meninggalkan bunda di dalam kuburannya. Aku pun meremas tanah kuburannya. Orang yang aku cintai pergi lagi. Tapi yang ini pergi untuk selamanya. Tak ada lagi orang yang mau memelukku dengan hangat, tak ada lagi yang selalu menyanjungku, tak ada lagi bunda. Saat itulah aku teringat Laura. Bunda pasti perasaannya tertekan dengan kata-kata Laura. Sebab setelah itu aku bisa melihat bunda berubah. Aku pun punya satu tujuan. Yaitu kuhancurkan hidupnya. Aku kemudian berdiri dan kuajak Kak Vidia dan Nur pergi. Aku pun merancang rencana balas dendamku.

***

Perusahaanku makin besar. Aku pun bekerja sama dengan investor asing untuk bisa memperluas bisnisku ke luar negeri. Untuk sesaat, aku bisa melupakan bunda dengan kesibukanku. Dan hubunganku dengan Anisa tetap jalan selama setahun ini. Dan kami malah lebih tepatnya seperti seseorang yang pacaran. Aku pun mulai melakukan hal yang gila. Kami pun mulai berani kencan itu pun sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan sepupuku Laura.

Pada malam minggu kami kencan untuk nonton. Kami pun sempat terlibat pembicaraan. Padahal itu minggu-minggu akan ujian nasional. Ya, Anisa mau lulus.

“Kalau misalnya Anisa nanti lulus, aku akan ajak ke luar negeri. Terserah deh mau pilih yang mana,” kataku.

“Serius? Tapi ndak ah. Ntar diapa-apain sama paklik,” katanya sambil ngikik.

“Yah, yaudah kalau tak mau. Aku bisa sendiri koq,” kataku.

“Ya udah deh, sebenarnya aku ndak mau ke luar negeri. Maunya di dalam negeri
saja,” katanya.

“OK, tak masalah,” kataku.

Waktu pun bergulir. Setelah kelulusan aku pun mengajak Anisa selama seminggu untuk pergi liburan jalan-jalan di Indonesia. Sebenarnya hal ini adalah ideku untuk bisa tidur sama Anisa. Tujuan awal kami adalah pantai Losari. Kami satu pesawat, bahkan semenjak di pesawat kami asyik sendiri. Ngobrol ngalor ngidul dan aku pun mulai berani untuk pegang tangan bahkan tanpa dikomando, bibir kami menyatu begitu saja. Setelah itu kami diam, tapi tangan kami makin erat menyatu.

Semenjak turun pesawat kami seperti orang pacaran. Kemana-mana nempel terus, bahkan ketika sampai di hotel dan check in, kami memesan one room, one bed. Awalnya aku pesan 2 kamar, tapi ia menolak. Aku pun keheranan. Aku sih OK OK aja. Saat masuk kamar itulah aku tahu kenapa.

“Mas, Anisa kepingin berduaan saja ama mas,” kata Anisa.

“Kamu kenapa Nis?” tanyaku.

“Aku suka ama mas. Sewaktu mas mengajakku liburan aku sudah siap koq mas
melakukan ini,” katanya.

“Melakukan apa?” tanyaku memancing.

“Aku sudah tahu semua tentang mas dari mamah. Dan aku tahu mas berusaha mendekatiku selama ini. Mungkin mas kesepian karena selama ini hanya berhubungan dengan keluarga mas saja. Apalagi bibi sudah meninggal. Mas, perasaanku setiap ketemu mas selalu berdebar-debar. Aku selalu membayangkan mas, aku selalu ingat mas. Tiap makan ingat ama mas, tiap belajar ingat ama mas. Tahu nggak sih kalau aku sangat suka ama mas?” kata-kata Anisa itu tak pernah kuduga sebelumnya. Aku saja tidak merencanakan kalau ia akan seperti ini. Jadi rencanaku lebih cepat dari jadwal.

Aku memegang dagunya lalu mengangkatnya, “Mas juga punya perasaan yang sama ana Nisa.”

Kami lalu berciuman dan berpelukan. Anisa memelukku erat sekali, seakan-akan tak mau melepaskanku. Dari dadanya aku bisa merasakan debaran jantungnya. Anisa lebih pendek dari aku sebahu, sehingga ketika ciuman ia perlu berjinjit. Setelah berciuman ia tersenyum kepadaku.

“Hari ini, maukah mas memberikanku sesuatu yang tak terlupakan?” tanyanya.

“Apa itu?” tanyaku.

“Aku ingin memberikan keperawananku kepada mas,” jawabnya.

“Waduh, ntar ibumu nanti bagaimana kalau tahu?” tanyaku.

Ia menggeleng. “Aku tak peduli ama mamah. Obsesi mamah cuma kepingin kaya saja, aku saja di rumah dicuekin. Plis mas, aku ingin merasakan robeknya keperawananku!”

Aku takjub dengannya. Kuambil nafas sebentar. Ini bakal jadi hubungan sedarahku lagi. Aku belai rambutnya.

“Baiklah kalau itu maumu, tapi kita lakukan nanti ya,” kataku. Aku ingin melihat kesungguhannya dulu. Siapa tahu dia cuma main-main.

“OK,” katanya.

Wajah Anisa tampak cerah. Kami berdua mengeluarkan isi koper, kemudian ganti baju. Saat itulah aku melihat Anisa membuka bajunya, ia ganti baju tanpa risih kepadaku. Aku bengong.

“Koq bengong?” tanyanya. “Kesengsem?”

Aku tertawa. Kemudian aku juga mencopot bajuku, kami berdua telanjang di kamar. Anisa gantian yang bengong. Ia menelan ludah.

“Kenapa Nis?” tanyaku.

“Tidak apa-apa mas, boleh aku peluk mas?” tanyanya.

Aku diam saja, lalu mengangguk. Ia pun maju dan memelukku. Kulit kami pun bersentuhan memberikan rasa horny. Saat puting susunya menempel di dadaku darahku berdesir ke ubun-ubun. Sialan, bau parfumnya menusuk hidungku dan menggoda, penisku pun mulai tegang.

“Mas, tolong jangan pergi ya, pliiss. Aku suka sama mas, tolong jangan tinggalin aku. Aku rela pergi dari rumah, aku rela ninggalin mamah asalkan bisa bersama mas,” katanya. Tangannya melingkar ke punggungku. Ia tampak nyaman bersandar di dadaku.

Gilaaaa…aku bisa nafsu ama dia sekarang. Dan akhirnya OK deh, let’s go.

Aku lalu menatap wajahnya. Kami berciuman lagi. Tapi kali ini lebih hot. Lidah kami saling menghisap, melumat, bertukar ludah dan lidahku sudah menjelajahi rongga mulutnya. Merasakan rasa permen yang ia makan tadi ketika di dalam pesawat.

“Koq kepengen sekarang mas? Katanya nanti?” tanyanya.

“Kamu kepengen sekarang apa nanti?” tanyaku.

“Terserah mas sih,” katanya.

“Ada bidadari secantik ini di hadapanku masa’ aku diam saja?” tanyaku. Lalu aku mencium lehernya, kuhisap, kujilat dan kucupangi. Ada tiga cupangan di sana dan itu membuat Anisa merinding.

“Ohh…maasss..hhhmmmhh…,” desahnya.

Aku kemudian mengajaknya berbaring. Karena ia masih perawan, aku tak mau terburu-buru. Kunikmati pelan-pelan dulu tubuhnya. Aku tak mau menyia-nyiakan tubuh yang belum pernah terjamah lelaki mana pun ini. Aku menciumi pipinya, hidungnya, kelopak matanya, keningnya, dan kujilati wajahnya. Aku lalu mengigiti daun telinganya, beralih ke leher kirinya kuberi cupangan lagi. Aku bisa merasakan bulu kuduknya merinding.

“Mas…ohhh,” desahnya.

Tangan kananku pun aktif meremasi toketnya yang ndak terlalu besar sih, mungkin karena masih ABG. Putingnya yang kemerahan aku pelintir-pelintir. Aku lalu menciumi buah dadanya, kuhisapi hingga bercupang, kemudian aku hisapi juga putingnya, kujilati dan kumainkan.

“Ohh…terus mas…Nisa suka mas gituin, rengkuh kenikmatan dari tubuh Nisa. Jadiin Nisa istri mas,” katanya merancau.

Aku kini konsentrasi untuk menciumi seluruh tubuhnya. Kuberikan stimulus-stimulus yang bisa merangsangnya. Akhirnya aku tahu titik-titik sensitifnya sekarang, yaitu di bawah ketiak, perut bagian bawah dekat dengan memeknya, pinggangnya dan jempol kakinya. Setiap kali aku mencium atau menghisap tempat itu ia menggelinjang hebat. Apalagi ketika jempol kakinya aku hisap, ia meronta-ronta untuk dilepaskan. Aku makin kesetanan mengemut jempol kakinya ia pun orgasme tanpa aku apa-apain. Cuma ngisep jempol kakinya. Ternyata apa yang aku lakukan bisa merangsangnya seperti itu. Beda dengan Kak Vidia maupun Nur, walaupun itu juga titik sensitifnya tapi tak sebegitunya juga. Aku jadi yakin kalau sepertinya Anisa sudah horni dari tadi.

“Mas, masukin dong mas…. pliiiss Nisa udah geli, udah kepingin merasakannya. Kumohon maasss….,” Nisa mengeluh. Pinggulnya sekarang bergerak kiri kanan, aku bisa mencium bau cairan kewanitaannya yang memabukkan.

Aku lalu menciumi pahanya, kakinya kuangkat sedikit agar bisa kubuka dan melingkar di pinggangku. Wajah Anisa tampak pasrah, ia memejamkan mata. Badanku maju menindihnya. Penisku sudah berada tepat di mulut memeknya. Aku gesek-gesek dulu kepala penisku, pelan-pelan kugesek. Rasa kenikmatan langsung menyebar ke seluruh tubuhku dan naik ke ubun-ubun. Rasa ini mirip ketika aku memerawani Nur.

“Maass…oohhh..geli mas…,” katanya.

Aku kemudian mendorong sedikit kepala penisku. Susah, memang cairan pelumasnya banyak, tapi kepala penisku yang cukup besar itu begitu susah masuk. Apa karena dia masih ABG? Pinggangku pun maju mundur dengan pelan-pelan. Kepala penisku geli sekali, berkali-kali cairan kewanitaannya keluar membuat kepala penisku gatel. Susah sekali untuk bisa masuk, maklum tentunya karena tak pernah dimasuki. Anisa memelukku. Dan makin erat ketika aku makin menekan ke dalam. Untuk mengurangi rasa sakit aku merangsang dirinya pada bagian tubuh yang lain seperti leher dan dada. Kuhisap-hisap teteknya, kemudian ketika ia sakit lagi, kuhisap lehernya. Ketika mendorong dan ia meringis kesakitan aku tahan sebentar. Kutarik lalu kudorong lagi. Penisku berkedut-kedut, bahkan vaginanya pun makin meremas-remas batangku. Permukaan penisku mulai disirami oleh cairan pelumasnya. Dan serasa makin gatel ingin terus masuk.

“Sakit Nis?” tanyaku.

“He..eh…sakit, tapi teruskan saja mas, aku ingin menjadikan hari ini sebagai
hari yang tidak terlupakan,” katanya.

Dan aku agak menghentakkan pantatku. Hal itu membuat ia kaget, seketika itu juga batangku bisa masuk semua hingga penuh. Di dalam memeknya yang hangat dan berkedut-kedut itu penisku benar-benar merasakan kehangatan. Anisa mencium bibirku, aku tak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya ketika keperawanan dirobek. Tapi rasa sakit itu cuma sebentar. Tergantung dari perlakuan pihak laki-lakinya. Terkadang ada yang sampai brutal. Sudah tahu pasangannya sakit tapi diterobos terus hingga itu menjadikan sebuah mimpi buruk. Bahkan sampai berminggu-minggu rasa sakitnya belum hilang. Untunglah aku tidak pernah melakukan hal itu kepada siapapun. Baik kepada Kak Vidia ataupun Nur. Mereka menikmati percintaan yang aku berikan kepada mereka.

Kak Vidia sudah memendam perasaan kepadaku ketika aku memerawaninya di gua waktu itu. Dan setelah keperawanannya lepas, ia tak merasakan sakit lagi setelah itu. Itu merupakan sebuah perasaan psikologis yang ada pada diri seorang wanita. Ketika ia harus menerima cinta dan kerelaan, maka secara psikologis, ia merasakan dirinya tercabik untuk pertama kalinya. Dan ketika kerelaan itu dibarengi dengan rasa nyaman ketika berhubungan hal itu membuat dirinya rileks, membuat percintaan yang hangat tanpa takut ketika keperawanan telah direnggut oleh orang yang ia cintai.

Sekarang aku tak perlu ragu lagi menggagahi Anisa. Ia sekarang pasrah. Aku bisa merasakan sekarang pinggulnya ikut mencari kenikmatan bersamaan dengan goyangan pantatku. Tangan Anisa menekan pantatku, seolah-olah adalah instruksi agar aku lebih dalam lagi menghujamkan senjataku. Aku pun makin bersemangat untuk menggenjot. Bulir-bulir keringat sebesar jagung bisa keluar dari kamar hotel ber-AC ini. Tubuh kami sekarang sedang dibakar oleh bara api asmara. Panggutan demi panggutan, remasan demi remasan membuat kami mabuk kepayang. Setiap gerakan pinggul kami membuat sensasi kenikmatan birahi yang tak bisa diucapkan lagi dengan kata-kata.

Anisa menikmati sensasi setiap gesekan kulit kelamin kami. Matanya terpejam dan menyipit. Ia meringis, mengeluh, mendesah, ia berusaha mencari-cari bibirku untuk diciumi. Setelah itu ia kembali menjerit. Desahan-demi-desahan membuat ia mabuk. Ia sudah tak ingat lagi akan dunia ini. Baginya menuju kepuasan adalah sebuah perjuangan yang maha dahsyat. Pinggul Anisa bergoyang-goyang seperti goyangan penyanyi dangdut, berusaha memancingku agar cepat orgasme. Senjataku yang ada di dalam sana makin enak saja dengan perlakuannya. Kupompa makin cepat keluar masuk.

“Aduh Nis…kamu apain punyaku???” kataku.

“Yang penting enak mas…enaakk…ooohh…jangan berhenti…terus…!!” katanya.

“Nis, maaf aku ndak kuat lagi…,” kataku.

“Massss….oohhh keras banget Nisa ngerasa mau pipis juga!” katanya.

“Niss…nisss…..nyemprot NIIIS!!!” kataku menghentak-hentakkan pinggulku dan kuhujamkan ke dalam, aku ndak kuat lagi ingin mengeluarkan benih-benihku. Aku tak peduli ia orgasme atau tidak. Tapi rasanya kami keluar bersamaan, karena kurasakan ia memelukku erat dan kakinya melingkar di pinggangku. Aku menindih Anisa yang sedang terlena karena air mani hangat sekarang membasahi rahimnya.

Anisa memejamkan mata. Di ciuminya wajahku. Bibirku pun mendekat ke bibirnya, mencari-cari bibirnya. Kami berpanggutan, nafas kami memburu karena baru saja melakukan aktivitas yang setara naik turun tangga 3 kali. Perlahan-lahan kucabut burungku dari sarangnya. Kubangkit sejenak melihat hasil perbuatanku. Aku melihat bercak darah di kepala penisku. Dan cairan sperma di vagina Anisa meluber keluar bercampur warna merah. Aku lalu berbaring di samping Anisa.

“Mandi yuk?” ajakku.

“Sebentar mas, Anisa masih capek,” jawabnya. “Tunggu sebentar ya sayang. Mas hebat banget. Aku sering diceritain kalau selaput dara ketika robek itu sakit, tapi ketika mas melakukannya tadi Nisa hanya merasa perih di awalnya setelah itu tidak.”

“Nis, boleh om tanya?” tanyaku.

“Apa mas?” tanyanya.

“Kalau misalnya kamu hamil, gimana?” tanyaku.

Nisa membuka matanya dan menoleh ke arahku. Ia mengangguk, “Tidak apa-apa mas. Kalau sampai hamil Nisa siap. Mas juga jangan pergi ya? Nikahi Nisa, Nisa rela berbagi ama mbak Vidia ataupun ama mbak Nur.”

“Tidak semudah itu Nis, aku ingin bercerita kepadamu sesuatu,” kataku. Nisa lalu mendengarkanku dengan seksama rahasia keluarga kami. Apa hubungan Laura ibunya Anisa dengan ayahku dan semuanya. Dan aku menceritakan bagaimana perlakuan Laura kepadanya. Nisa pun menitikkan air mata. Ia sepertinya faham akan kesedihanku. Lalu memelukku.

“Tidak apa-apa mas, ini semua salah mamah. Aku mengerti bagaimana perasaannya bibi, aku mengerti,” katanya.

“Aku ingin menghamilimu Nis, aku ingin memberikan hukuman kepada Laura. Kamu bersedia kan? Aku ingin menghamilimu,” kataku.

Anisa tersenyum dan menciumku, “Aku bersedia, entot aku sepuasmu mas. Hamili aku, hamili aku sesukamu. Aku suka kalau punya anak dari mas. Kalau misalnya itu bisa menghukum mamah Nisa akan sangat senang.”

“Satu hal lagi,” kataku.

“Apa mas?”

“Aku ingin membalas mamamu dengan cara yang lain, aku ingin dia merasakan
penderitaan,” kataku.

“Mas mau apain mamah?” tanyanya. “Jangan sakiti mamah!”

“Aku bukan orang bodoh yang mau menyakiti dia sampai mati. Tidak, aku ingin dia tunduk kepadaku. Dan memohon ampun. Aku tak mungkin membunuh dia,” kataku. “Aku ingin kau bekerja sama denganku. Maukan?”

“Janji mas ndak bakal nyakitin mamah?” tanyanya.

“Kalau nyakitin iya, tapi ndak sampai melukainya, dan aku janji,” kataku.

“Apapun deh kata suamiku,” Anisa memelukku.

“Mandi yuk?!” ajakku. Anisa mengangguk. Kami kemudian bangkit dan menuju kamar mandi.

Liburan itu ibaratnya kami berbulan madu. Bagaimana tidak? Kami terus-menerus bercinta hari itu. Anisa rela aku hamili, maka dari itulah aku tak menyia-nyiakan spermaku begitu saja. Aku pasti semprotkan ke rahimnya. Selain itu ndak maulah aku sia-siakan liburan selain jalan-jalan. Maka kami pun jalan-jalan di tepi pantai dan menikmati keindahannya. Anisa dan aku seperti orang yang dimabuk cinta, kami bermanjaan dan kemana-mana bergandengan tangan. Kemudian tibalah hari di mana kami harus pulang.

“Mas, ini sprei bekas darahnya gimana?” tanya Anisa. “Kata mas-masnya disuruh beli, karena dianggap merusak properti hotel.”

“Lho, koq bisa?” kami berdua tertawa. “Bawa juga ndak mungkin kan?”

“Trus gimana? Aku juga ndak mungkin bawa,” katanya.

“Kita paketkan saja deh, buat kenang-kenangan,” kataku.

“Mas, aku akan mengingat saat-saat ini. Aku tak akan lupakan liburan ini bersama mas,” katanya. “Walaupun sedikit kita lebih lama di sini.”

“Iya, aku juga. Sesampainya di rumah. Aku akan melakukan rencanaku kepada mamahmu,” kataku. “Sebagaimana yang aku katakan kemarin.”

“Aku mengerti mas, aku tak sabar menunggu saat kita bersama nantinya,” kata Anisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*