Home » Cerita Seks Mama Anak » Anak Nakal 10

Anak Nakal 10

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 9

Bab 10
ANAK TETANGGAKU NAURA

Setelah pengalamanku dengan tetanggaku Erna. Aku pun jadi iseng. Penyakit lamaku agaknya kumat. Aku sendiri lebih ngelirik ke para ABG. Aku pun browsing di internet, mencari anak-anak ABG. Tapi semuanya tak menarik buatku. Aku mencari yang imut dan berjilbab. Agaknya kenanganku dengan NUr ketika memperawaninya tak bisa aku lupakan.

Saat itulah aku sedang jalan-jalan sendirian di sebuah taman. Terus terang, pekerjaan, kemudian mengurusi bunda dan lain-lainnya membuatku stress dan capek. Aku lalu kemudian duduk di sebuah bangku sambil menyaksikan bintang-bintang di langit. Malam-malam begini di taman pasti lagi banyak para ABG pacaran. Dan memang benar. Mereka lalu lalang. Cukup ramai. Saat itulah ada seorang cewek yang tiba-tiba duduk di bangku. Aku cukup kaget, karena sepertinya aku pernah melihat cewek ini tapi entah di mana.

Cewek ini sedang menangis. Ia mengusap air matanya dengan tissue. Aku melihatnya berjilbab tapi bukan jilbab lebar seperti bunda, Kak Vidia, maupun adikku Nur.

“Kenapa non?” tanyaku.

Ia tak menjawab.

“Diputus pacar?” tanyaku lagi.

Ia mengangguk. Owalah.

“Om, bisa bantu saya om?” tanyanya kepadaku.

“Bantu apaan?” tanyaku.

“Pura-pura jadi pacarku,” jawabnya. “Aku mau beri pelajaran ama dia. Plis ya
om. Nanti aku bayar deh, berapapun om minta. Sebentar aja koq.”

“Aku ndak mau ah, itu kan urusan pribadi koq aku ikut-ikutan? Ntar kalau
biniku tahu berabe,” kataku.

“Ayolah om, plisss…ndak bakal ketahuan koq. Aku ingin buktiin kalau aku juga
bisa punya pacar baru dan dia bukan satu-satunya lelaki di dunia ini,”
katanya.

Ia mengiba dan aku paling benci untuk menolaknya. “Oke deh, sebentar lho ya?
Tapi aku tak mau membayarmu. Ini kulakukan untuk menolongmu, tulus.”

Ia pun tersenyum. Ia mengusap air matanya.

“Masih kelihatan baru nangis ndak om?” tanyanya.

“Coba cuci muka di situ, di pancuran taman,” kataku.

Ia pun segera pergi untuk cuci muka. Lalu setelah itu ia bersihkan pakai tissue. Ia cukup cakep. Aku jadi teringat ketika Nur masih muda dulu, ketika masih perawan. Ia pun menghampiriku lagi.

“Namaku Naura om, om siapa namanya?” tanyanya.

“Doni, panggil Mas aja deh,” jawabku. “Usiaku baru 28 tahun.”

Ia tersenyum, “Tapi kelihatan tua, apa karena kumis tipisnya ya?”

Aku tertawa. “Atau mungkin karena aku bawa mobil, punya istri dan punya perusahaan besar. Biasa aku dipanggil pak. Tapi para tetanggaku banyak juga koq yang manggil mas, karena memang aku masih muda.”

“Ndak nyangka om…eh…mas masih muda, yuk om. Nemuin cowokku yang bangsat itu,” katanya. Aku pun digandengnya. Kami akhirnya berjalan menyusuri taman yang cukup luas sih menurutku. Hingga sampai di sebuah sudut pohon yang ada batunya. Tampak di sana ada dua sejoli yang sedang duduk berduaan. Dan pemandangannya tak kalah menariknya. Tangan si cowok sudah masuk ke bajunya si cewek. Melihat aku dan Naura datang, ia buru-buru mengeluarkan tangannya dari sana.

“Heh, Andi! Nih lihat aku juga punya cowok, emangnya cuma kamu saja yang bisa dapatin cewek semaumu. Aku juga bisa!” katanya.

Cowok itu pun berdiri, “Oh, selamat deh kalau begitu. Ya udah habis ini kita ndak usah ketemuan lagi. Aku udah muak ama kamu.”

“Dasar cowok playboy. Bajingan, kurang ajar. Hei kamu, ntar kamu nyesel hubungan sama dia. Dia tiap kota ceweknya beda!” Naura membentak-bentak.

“Urusan gue dong,” kata si cewek.

“Pergi yuk, percuma ngeladenin cewek murahan kayak dia!” kata si cowok.

Terus terang, aku paling tidak suka kalau ada yang menghina seorang cewek baik-baik disebut murahan. Aku langsung menarik kerah baju si Andi ini. Aku lalu memukul perutnya. Ia mengaduh sambil memegangi perutnya. Ceweknya tampak panik melihat aksiku.

“Kurang ajar, loe bilang apa? Cewek murahan? Lo bilang Naura cewek murahan? Kurang ajar banget lo ya? Habis manis sepah dibuang? Lo sendiri apa? Sekali lagi lo bilang aneh-aneh ama Naura, gua habisi lu!” aku melotot ke arah matanya. Tampak Si Andi ketakutan. Naura juga terkejut ia tak menyangka aku berbuat sejauh itu. Aku lalu mendorong Andi hingga ia terjatuh.

Cewek Andi segera menolong. “Pergi yuk, pergi. Udah jangan ditanggepin.”

Andi lalu berdiri dan meninggalkan kami.

“Awas kalau lo sampai deketin Naura lagi, gua hajar lo!” kataku.

Naura cuma bengong. Ia seakan-akan tak percaya terhadap sikapku. Aku lalu berbalik menghadapnya. Naura diam.

“Kenapa?” tanyaku.

“Eh..ee..enggak om…eh, mas. Cuma kaya’nya terlalu jauh deh kalau sampai begitu,” kata Naura.

“Cowok kayak gitu harus dikasih pelajaran. Bagiku wanita baik-baik seperti kamu dikatakan murahan ya ndak bener juga kan?” kataku.

“Makasih mas,” katanya.

“Ya udah, aku mau pergi kalau begitu. Udah ya membantunya,” kataku.

“Tunggu!” katanya. “Bagaimana aku ngucapin terima kasih?”

“Ah, ndak usah, aku tulus koq membantu orang,” kataku. “Aku masih sayang istriku, ndak mau kena apa-apa nantinya.”

Aku pun meninggalkan Naura setelah itu. Tapi ternyata di luar dugaan ia mengikutiku. Aku pun bingung sekarang.

“Lho, kenapa? Ndak pulang?” tanyaku.

“Sebenarnya aku lari dari rumah mas, cuma untuk ketemu ama dia,” jawabnya.

“Trus?”

Naura pun bercerita kalau ia lari dari rumah karena hubungannya ama Andi tidak disetujui. Naura telah berkorban segalanya. Ponselnya dijual untuk biaya kuliah Andi. Bahkan mereka pun tinggal di kontrakan yang sama. Naura lari dari rumah dan tinggal di kontrakan Andi. Maka dari itulah ketika tahu Andi punya cewek lain ia sangat terpukul.

“Tinggal satu kontrakan? Apa kalian sudah melakukan itu?” tanyaku.

Naura mengangguk pelan. “Sekarang Naura bingung mau pulang mas. Papa dan mama pasti malu.”

“Kamu tinggal di mana?” tanyaku.

Naura memberitahukan alamatnya. Dan ternyata rumahnya satu komplek denganku. Ia tetangganya Nur. Itulah sebabnya aku sepertinya pernah tahu dia. Ia anak Pak Rusdi, seorang General Manajer perusahaan telekomunikasi swasta. Ia memang terkenal punya anak cewek yang cakep. Ternyata ini anaknya.

“Ya amplop, kamu anaknya Pak Rusdi?” kataku.

“I..iya mas, mas kenal?” tanyanya.

“Ya kenallah, dia tetanggaku,” jawabku.

“Oh my god, berarti mas ini tetanggaku dong. Koq ndak pernah tahu?” tanyanya
sambil ketawa.

“Makanya aku pernah ngelihat kamu di mana gitu, eh ternyata,” kataku.

“Dunia memang sempit ternyata,” katanya.

“Ya udah, trus sekarang gimana?” tanyaku. “Pak Rusdi itu orangnya baik lho. Sayang kalau kebaikannya kamu abaikan. Pulang saja dan minta maaf. Kamu pasti dimaafkan.”

Ia pun diam. Dan tiba-tiba merangkulku. Naura menangis lagi.

“Tapi aku masih takut untuk pulang mas, bawa aku kemana gitu deh, asal jangan pulang,” katanya.

“Lha, terus istriku gimana?” tanyaku. “Mau aku bawa ke mana kamu?”

“Aku juga bingung mas,” jawabnya.

“Kalau tinggal di rumahku, nanti pasti akan ada pertanyaan dari istriku. Ini siapa, dari mana, koq bisa ketemu, hubungannya apa? Nah, berabe kan?” kataku.

“Aku tak punya teman lagi mas, plis..aku sudah korbankan segalanya buat si Andi itu. Ternyata ini yang aku dapatkan. Ia cuma pingin hartaku aja,” katanya.

Aku pun terdiam. Gila ini bocah, toketnya padet banget nempel dipunggung. Bikin aku greng aja. Pikiran ngeresku pun mulai muncul lagi. Tidak, tidak, aku tak mau terburu-buru. Kalau memang jadi ya jadi tapi jangan terlalu cepat dong.

“Oke deh, aku akan bantu. Aku punya villa kosong. Engkau boleh tinggal di sana. Cuma ada syaratnya, engkau tak boleh lama-lama tinggal di sana. Nanti anggota keluargaku curiga. Para pekerjanya masih libur. Jadi bener-bener kosong. Cuma ada satpam aja sih yang berjaga di gerbang masuk. Tidak mengurusi villa. Jadi kalau misalnya ada yang tinggal di villa mereka nggak bakal mengganggu kecuali darurat. Kau bisa tinggal di sana, tapi paling lama cuma seminggu. Dan setelah seminggu aku ingin kau harus pulang dan minta maaf ke orang tuamu. Bagaimana?”

Naura melepaskan pelukannya. Ia jadi sumringah. “Beneran mas?”

“Iya bener, kamu bisa tinggal di sana,” kataku.

Akhirnya aku mengantarkan Naura untuk pergi ke Villa. Aku menyapa penjaga gerbang dan mengatakan bahwa temanku mau nginap di Villa ini untuk seminggu. Setelah itu aku masuk ke Villa.

“Kamu ndak ada baju?” tanyaku.

“Kutinggalkan semua di rumahnya Andi,” jawab Naura.

“Wah, susah nih. Di lemari ada baju-baju istriku. Coba kamu lihat. Kalau misalnya pas ya selamat deh,” kataku.

“Sekali lagi makasih mas. Mas sudah tulus banget bantu aku,” katanya.

“Iya, iya. Aku tinggal dulu ya. Jaga baik-baik villa ini,” kataku.

“Mas…,” panggilnya setelah aku berbalik. Aku menoleh lagi ke arahnya.

“Ada apa lagi?” tanyaku.

“Anu…kalau mas ndak keberatan, jangan bilang ke orang tuaku ya,” katanya
mengiba.

“Iya, aku tak akan bilang,” kataku.

“Makasih mas,” katanya.

AKu pun meninggalkannya.

***

Sudah 3 hari aku meninggalkan Naura di villa itu. Aku disibukkan oleh pekerjaanku. Dua hari lembur terus. Membuatku capek. Bunda pun mengusulkan agar aku istirahat saja. Ke mana gitu. Kak Vidia juga mengusulkanku demikian. Nur juga yang paling khawatir. Ia sempat menangis melihat kondisiku yang sedikit stress. Maklum Nur tidak pernah pacaran. Akulah satu-satunya lelaki yang sangat spesial baginya, maka dari itulah ia sangat mengkhawatirkanku. Kak Vidia sebenarnya juga demikian, tapi ia lebih marah-marah ke aku dan sewot. Aku tahu ia peduli, bahkan ia sempat mentoyorku karena kecapekan.

Mereka bertiga berkumpul di rumah bunda. Karena bunda mendekati masa-masa lahiran. Maka dari itu mereka ingin menjaga bunda di saat-saat aku sedang tidak bisa di sana. Sebenarnya sama aja sih ketika Kak Vidia atau Nur lahiran, semuanya berkumpul. Hanya saja ini spesial karena mereka tahu aku sangat sayang kepada bunda. Dan mereka semua tahu bunda itu wanita yang sangat spesial bagiku. Maka dari itulah mereka ingin memberikan perhatian yang lebih.

“Istirahat dululah mas, masa’ sampai lembur tiga hari gitu?” Nur menasehatiku. Matanya tampak sembab.

“Nur sampai nangis semaleman, mikirin papah,” kata Kak Vidia.

“Yah, mau bagaimana lagi. Ngurusin pajak ini ribetnya bukan main. Kayaknya kita butuh akuntan deh. Sayang mbak Juni ndak ada, padahal selama ini dia yang ngurusin,” kataku.

Kak Vidia lalu duduk di sebelahku. “Sudah, ndak usah mikirin mbak Juni lagi. Ntar malah tambah sakit. Kalau ia cinta sama papah, ia pasti akan datang. Kami semua tahu koq perasaan papah ke mbak Juni. Kalau misalnya ia jadi istri keempat kami rela, asalkan papah senang. Tapi mbak Juninya sendiri yang tak mau menerima kita.”

“Iya, pah, kami bertiga ikhlas koq. Apapun keputusan papah,” kata bunda sambil tersenyum.

“Sementara biar Antok saja deh yang mengurusi. Aku ingin istirahat dulu selama seminggu di villa,” kataku. “Toh pembukuannya sudah selesai.”

“Nah, begitu,” kata Nur. “Aku senang kalau papah begini.”

Aku mencium kening Nur. Ia suka dan menciumku balik. “Tapi telpon ya kalau bunda udah pembukaan, aku ndak mau melewati masa-masa anakku lahir.”

“Tenang aja pah, pasti kami telepon koq,” kata Nur.

AKhirnya aku pun pergi ke Villa. Untuk sesaat, aku lupa kalau di dalam Villa ada Naura. Karena aku masih ingat pekerjaanku dan juga menunggu kelahiran anakku. Pak Satpam penjaga menyapaku. Mobilku pun masuk ke halaman villa yang mana cukup luas. Butuh beberapa menit untuk sampai tepat di depan villa. Aku lalu keluar dari mobil dan mengambil tas di bagasi yang berisi baju-bajuku.

Aku lalu masuk begitu saja ke villa yang tidak dikunci. Aku tidak begitu perhatian dengan detail villa ini sebenarnya, walaupun kata pengurusnya beberapa kali mengganti perabotnya karena dimakan rayap. Foto-foto keluarga terpampang di ruang tengah begitu aku masuk. Mejanya berdebu, berarti tidak ada orang yang membersihkannya ya iyalah, para pengurusnya masih libur koq. Aku kemudian naik ke lantai atas, ke kamarku. Sungguh aku lupa kalau aku mempersilakan Naura tinggal di villa ini. Karena urusan pekerjaan buyar semua hal-hal sedetail ini. Aku pun merasa aneh ketika melihat pintu kamar terbuka.

Saat itulah aku kaget bukan main. Tas yang aku bawa pun terjatuh. Aku terbengong menyaksikan pemandangan ini. Naura tergeletak di atas ranjang. Sprei ranjang itu acak-acakan. Aku mencium bau yang aneh, seperti bau kemaluan wanita. Tangan kanannya berada di buah dadanya sepertinya ia baru saja meremas buah dada itu, tangan kirinya dijepit oleh kedua pahanya. Dan ia tak berbusana sehelai pun. Sebagai lelaki normal aku pun terangsang. Penisku langsung bereaksi.

Gila anak ini, mastrubasi di atas kamarku. Dan aku sangat terkejut tak jauh dari tempat ia berbaring ada fotoku. Ia tak menyadari aku ada di kamar. Langsung deh seluruh pikiranku tentang pekerjaan hilang semuanya, yang ada adalah, “ngentotin dia”

Aku langsung membuka bajuku satu persatu. Hingga telanjang. Aku lalu naik ke ranjang. AKu mendengar dengkuran halusnya. Dadanya benar-benar masih kencang. Montok. Putingnya kecil pink kecoklatan. Aku lalu berada di atasnya. Ku buka kakinya, ia tak terbangun. Aku lalu tarik tangannya yang basah dengan
lendir itu. Kubuka pahanya lebar lebar. Kemudian ku tindih dia. Kulit kami bertemu. Mendapatkan sensasi sentuhan itu Naura membuka sedikit matanya.

“Ohh…mas Doni…entotin Naura mas,” katanya. Ia mungkin masih mengira bermimpi.

Aku kemudian menciumi bibirnya. Saat itulah ia kaget. Matanya terbuka semuanya.

“Mm..mmass??? Apa yang mas lakukan?” tanyanya.

“Udah, ndak usah dipikirkan. Dinikmati saja,” kataku.

Naura sebentar bingung. Tapi tak lama kemudian ia mengerti, bahwa sekarang orang yang diimpikannya sudah ada di atas tubuhnya. Bibirnya kemudian menyambutku dengan kecupan lembut. Kurasakan bibir itu masih lembut, aku bisa rasakan lipgloss yang ia pakai. Lidah kami bertemu dan berpanggut. Kami saling menghisap ludah dan bermain lidah. Lalu aku menciumi lehernya, kuberi cupangan-cupangan di sana. Kemudian turun ke belahan dadanya yang menggoda. Ku hisap, kuciumi dan kujilati buah dadanya. Kuremas dan kuhisapi pentilnya yang mungil itu.

“Ohh…mass…aku tadi mastrubasi sambil bayangin beginian ama mas, sekarang jadi nyata….ohh…terus mas…terus…,” katanya.

Aku jilati dadanya, kulingkari putingnya dengan lidahku, lalu kucolok-colok dengan ujung lidahku. Lalu kuhisap kuat. Hal itu membuatnya menggelinjang. Aku melakukan itu bergantian. Tangannya memelukku, menikmati kegelian rangsangan ini. Aku lalu turun, ke perutnya dan kemudian aku melihat memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ia terkejut ketika lidahku menari-nari di sana. Membasahi rongga kenikmatan dan menyedot-nyedot klitorisnya.

Pantat Naura terangkat, beberapa kali ketika klitorisnya kumainkan kedua pahanya mengapitku. Kuciumi pahanya yang mulus itu. Kuberikan rangsangan ke selakangannya, membuat setiap rangsangan itu adalah sebuah pelukan dan erangan yang kluar dari mulutnya. Bibir bawahnya digigit dengan giginya yang putih. Matanya memutih menikmati setiap sensasi rangsangan yang aku berikan. Ia sudah becek sekali di bawah sana. Aku lalu kembali ke atas. Perutnya aku ciumi, kujilati, lalu ke dadanya lagi, kemudian ke lehernya. Kemudian kami berciuman penuh nafsu, aku lalu menciumi pipinya dan telinganya ku gigiti. Naura mendesah. Ia pun aktif, kini ia yang menciumiku, menggigiti telingaku, kemudian menghisap leherku, menciumi dadaku. Ia mendorongku untuk berbaring ke sampingnya.

Naura tak tinggal diam, ia terus menciumi seluruh tubuhku, menjilatinya. Kemudian ia memegang penisku. Diurut dan dipijatnya penis tersebut.

Ia lalu berbisik ke telingaku, “Penis mas gedhe banget, punya Andi ndak ada apa-apanya.”

Aku tersenyum. “Diisep dong!”

Ia tersenyum, kemudian menciumi kepala penisku. Dijilatinya kepalanya, lalu ia membuka mulutnya dan memasukkan penisku ke mulutnya. Ia hisap-hisap dan kocok.Enak sekali. Kepalanya naik turun dan tangannya mengocok penisku. Walaupun tak seenak apa yang dilakukan bunda, tapi it’s OK-lah, mungkin ia belajar dari bokep amatir.

“Kamu sering nonton bokep ya?” tanyaku.

Ia mengangguk. Naura lalu menciumi testisku, kemudian menjilatinya, ia juga menjilat bagian bawah testisku. Membuat penisku makin tegang aja. Darah berdesir ke kepalaku.

“Udah Naura, masukin aja, aku ingin merasakan memekmu,” kataku. Ia lalu duduk di atasku. Ia angkat pantatnya dan menyesuaikan kepala penisku di lubang memeknya. Ia gesek-gesek, lalu ditekannya ke bawah.

“OOOuuwww….maaasss…hhhmmmhh…,” desahnya. Penisku meluncur ke dalam memeknya. Memeknya meremas-remas penisku. Sepertinya kaget dengan ukurannya. “Itunya mas penuh, sampai mentok ke rahimku.”

Kedua telapak tangan kami saling berpegangan. Ia berjongkok dan bergerak naik turun. Buah dadanya naik turun seperti pohon pepaya. Penisku mendapatkan sensasi yang sangat nikmat. Naura kebingungan dengan posisinya karena penisku terlalu panjang dan besar. Karena itu gerakan apapun yang ia lakukan baik diputar, digesek, dikocok, naik turun atau sekedar diam, selalu memberikan efek nikmat yang luar biasa. Gesekan demi gesekan kulit kemaluan kami menimbulkan suara kecipak yang menggairahkan.

“Mas, Naura ndak kuat. Mau pipis lagi,” katanya.

“Barengan dong, sebentar,” kataku. Aku lalu duduk. Kuhisap lagi teteknya
sebentar, kemudian aku membaringkannya. “Nah begini dong. Aku ingin ngentotin
kamu pake gaya ini.”

Aku kemudian memeluknya. Dan sekali lagi pantatku naik turun memompanya.

“Ndak mas, Naura ndak kuat, mau pipis,” katanya.

“Sebentar lagi sayang, aku percepat ya,” kataku. “Biar bisa keluar bareng.”

Naura memejamkan mata. Kedua tangannya melingkar di leherku, dan ia menggigit bibirnya. Sepertinya ia sudah tak tahan lagi. Vaginanya benar-benar banjir. Suara gesekan kemaluan kamilah yang menghiasi ruangan ini. Benar-benar nikmat memeknya. Walau sudah ndak perawan lagi sih. Agak sayang sebenarnya. Aku percepat goyanganku. Penisku pun mau menembak. Tiga hari ndak main, spermaku sangat matang. Kalau Naura sedang subur, bisa hamil dia sekarng ini.

“Naura…keluar aku..keluaaarrrr,” kataku.

“Aku juga mas…..aaaahhkkk….,” katanya.

Kujambak rambutnya yang panjang berombak itu. Matanya memutih, mulutnya menganga. Aku dipeluknya erat, kedua pahanya mengapitku dan pantatnya naik ke atas menekan penisku. Dan semburan air maniku yang tak terhitung membasahi rahimnya. Ia meraba pantatku dan menekannya seolah-olah tak ingin penisku lepas begitu saja dari sana. Sekali, dua kali, tiga kali, entah berapa kali spermaku menyembur. Setelah gelombang orgasme dahsyat itu reda. Naura lemas. Aku kemudian mencabut penisku pelan-pelan. Dan ketika sudah berpisah kedua kemaluan kami, tampak wajah Naura memberikan rasa puas.

AKu lalu tidur miring di sampingnya. Tangan kiriku memegang toketnya. Tampak dadanya naik turun karena nafasnya berat. Ia terengah-engah. Tangan kanannya menutupi keningnya.

“Mas…ini tadi ML terhebat yang pernah aku rasakan,” katanya.

“Oh ya?” tanyaku.

“Iya, Andi ndak pernah seperti ini kalau bercinta. Ia tak pernah bisa membuatku orgasme sampe berkali-kali kayak tadi,” katanya. “Lagian punya mas juga gedhe.”

Aku masih meremas-remas toketnya. “Dada kamu indah banget. Dan memek kamu masih enak koq.” Di depan wajahku tampak ketiak putih Naura. Aku jadi bernafsu ingin menciumnya. kuciumlah ketiak putih tanpa bulu itu.

“Ahh..mas…ih geli,” katanya sembari menghindar.

Tapi tangan kiriku menahan tubuhnya untuk tidak lari. Akibatnya Naura menerima saja. Aku tersenyum.

“Geli mas,” katanya sambil cemberut.

“Kamu ini cantik ya, aku baru tahu kamu ketika tak pake jilbab cantik seperti ini. Bodoh itu si Andi ninggalin kamu,” kataku.

“Mas, kalau aku nanti hamil gimana?” tanyanya. “Aku lupa ndak minum pil hari ini. Lagian biasanya aku ngelakuin Andi pake kondom. Ini pertama kalinya aku ngelakin ama orang lain ndak pake kondom lagi.”

“Perasaanmu gimana?” tanyaku.

“Seneng sih, dari kemarin entah kenapa di pikiranku hanya ada mas. Bahkan sampe mastrubasi mikirin mas,” katanya.

“Kalau kamu senang, berarti ndak masalah kan?” tanyaku. “Kalau pun nanti kamu hamil pun ndak masalah. Aku akan melamarmu ke ayahmu. Hanya saja satu syarat. Engkau mau menerima seluruh keadaanku.”

“Menerima keadaan mas? Siapa yang ndak bakal nerima? Mas udah kaya, mungkin uang ndak masalah lagi. Aku pasti mau dong,” katanya.

“Bukan itu sih masalahnya,” kataku.

“Trus apa?” tanyanya.

“Aku belum bisa cerita. Biarin aku menikmati ini dulu,” kataku.

Aku menciumi bibirnya. Gairah kami pun kembali naik dan mengulangi lagi pergumulan ini. Kali ini kami melakukannya dari samping. Naura membelakangiku dan aku menyodoknya dari belakang. Pantatnya pun membuatku nikmat saat menyodok. Seharian itu aku habiskan hanya untuk ngentot dan ngentot.

Setelah makan malam, kami ngentot lagi. Esoknya juga. Bahkan selama 4 hari penuh kami seperti pasangan penganten baru. Mandi bareng, kami ngentot. Di dapur setelah makan dan cuci piring kami ngentot. Bahkan kami jarang pake pakaian. Toh setelah dipakai kami pasti buka baju lagi. Penetrasi demi penetrasi aku lakukan tiap hari. Istrihat kami hanya tidur dan makan.

Ada kejadian yang aku tak akan lupa, yaitu saat menelpon keluargaku di rumah terutama Nur. Ia yang paling khawatir terhadapku, aku bilang aku baik-baik saja dan istirahat di rumah. Saat itu aku menyodok pantat Naura di ruang tamu sambil ia tertatih-tatih berjalan. Rasanya penisku tak ingin lepas dari memeknya. Mendapat perlakuan itu Naura sangat bergairah, ia ngikik tapi tertahan dan menutup mulutnya sampai aku selesai menelpon. Baru ia tertawa lepas. Aku lalu melanjutkannya menyodok pantatnya sedang ia berpegangan di sofa. Saat mau keluar aku suruh dia untuk berlutut. Aku ingin keluar di mulutnya. Naura pun membuka mulutnya dan kuarahkan penisku di mulutnya. Keluarlah spermaku dan ia tampung di sana. Lalu ia menelannya.

Sampai pada hari kelima ia sudah siap untuk pulang. Kemudian saat itulah aku bercerita tentang keadaanku. Betapa kagetnya Naura. Ia seakan-akan tak percaya terhadap apa yang aku ceritakan. Aku sudah menduga, tak banyak orang yang akan mau menerima keadaanku yang sesungguhnya. Aku pun udah siap Naura akan menolakku.

“Mas, aku tak menyangka kalau seperti itu,” kata Naura.

“Memang benar, ini berat bagiku juga bagi semua orang. Dan aku sudah siap koq kalau kamu tidak mau menerimaku,” kataku.

Naura terdiam sebentar. “Maaf mas, aku hanya ingin berterima kasih saja kepada mas atas peristiwa kemarin. Kalau sampai sejauh itu, aku bingung jawabnya. Dan juga harus menerima mas yang seperti ini. Tapi aku yakin mas kemarin nolong aku tulus, maaf ya mas.”

“Tidak mengapa,” kataku.

Kami pun balik lagi. Rasanya hubunganku dengan Naura ini juga singkat. Ndak bakal bertahan lama. Aku mengantarnya sampai muka gang. Takut kalau ditanyai macem-macem.

“Kejadian ini, jangan diceritakan ke siapa-siapa ya mas?” bujuknya. “Aku tak mau nanti jadi sesuatu di komplek ini.”

“Iyalah, bodoh apa aku bilang-bilang. Ini rahasia kita,” kataku.

Demikianlah hubunganku yang singkat dengan Naura. Sekalipun setelah itu kami bertemu lagi, ada pandangan-pandangan aneh antara kami. Dan terus terang terkadang ia berkata kepadaku ia rindu dengan peristiwa di Villa itu. Ingin sekali rasanya mengulang saat itu. Naura pun kemudian berkata bahwa kalau aku kepingin bercinta dengan dia, kapan pun dia siap, tetapi kalau untuk serius dia tidak mau. Anggap saja kita melakukannya suka sama suka dan karena kebutuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*