Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 9

Anak Nakal 9

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 8

BAB 9

VENUS PREGNANT

Perut Bunda makin membuncit. Hasil dari USG menyatakan bayinya sehat dan
sepertinya akan lahir bayi laki-laki. Sekalipun hamil ternyata bunda makin
lama makin menarik. Aku sebenarnya takut untuk bercinta dengan wanita hamil.
Oleh karena itulah aku tak pernah terlalu bersemangat bercinta dengan kak
Vidia ataupun Nur ketika hamil. Walaupun aku suka ketika mengisap tetek mereka
yang ada isinya. Namun pengalaman bunda melebihi pengalaman Kak
Vidia dan Nur dalam masalah bercinta ketika hamil. Bunda mengerti kebutuhanku,
dan beliau tahu cara untuk memenuhi kebutuhanku. Akan aku ceritakan
pengalamanku ketika bunda hamil anakku.

Usia kandungannya sudah hampir 7 bulan. Bunda juga ngidamnya ndak aneh-aneh
seperti Kak Vidia ataupun Nur. Ngidam yang paling sulit aku lakuin adalah Nur.
Ia kepengen banget untuk bisa makan bebek peking tapi dagingnya harus dimasak
dengan bumbu ayam betutu. Ribet kan? Tapi Nur punya alasan kayak enak kalau
bebek peking dibuat seperti itu. Ndak wajar, kubilang. Tapi begitulah, kata
orang Jawa kalau ngidam nda keturutan anaknya bakalan ngiler. Akhirnya aku
masak sendiri. Beli bebek peking trus setelah itu dimasak seperti ayam betutu.
Dan bisa diprediksi dapur berantakan. Kak Vidia ketawa kerasa diceritain
masalah itu. Bunda juga ikut-ikutan.

Kata beliau waktu hamil aku dulu ngidamnya ndak aneh-aneh, paling kepingin
buah sawo padahal tidak lagi musimnya. Ayah sampai kebingungan nyari, bahkan
harus ke daerah pelosok hanya dapat 1 kg sawo itu saja masih muda. Tapi bunda
nikmat banget makannya.

Kak Vidia ngidamnya ndak terlalu, cuma agak aneh saja. Hampir seluruh
novel-novel percintaan diborong olehnya selama ngidam. Kalau biasanya ngidam
itu buah mangga atau apa, tapi Kak Vidia ini tidak. Malah ngidam buku. Ndak
cuma novel percintaan saja sih. Kalau ada buku lain yang sepertinya menarik
pasti juga dibeli. Katanya kalau nggak baca buku seharian rasanya ndak enak
banget kepengen marahan melulu.

Nah, bunda ndak aneh-aneh ngidamnya. Paling disuruh nyariin nasi padang pas
jam 2 malam. Itu pun karena pas siangnya kami menikmati nasi padang.

Entah kenapa siang itu rasanya panas sekali. Saking panasnya bunda pun
menyalakan AC dengan suhu dingin. Bunda, duduk di sofa sambil mengelus-elus
perutnya. Aku rasanya tergoda sekali ingin mengelus-elus perutnya. Bunda hari
itu hanya pakai tank top dan celana legging. Sehingga perutnya kelihatan
banget. Kayaknya dadanya makin besar. Terus terang, aku sedikit membayangkan
kalau misalnya sekarang ini aku bercinta dengannya.

“Ndak ngantor pah?” tanyanya. Semenjak identitas kami sebagai suami istri,
semuanya memanggilku dengan sebutan papah. Itu membuat hubungan kami tambah
hot.

“Nggak mah, papah kepingin di rumah saja,” kataku kemudian menghampiri bunda
yang duduk sambil mengelus-elus perutnya. Aku duduk di sebelahnya. “Males
keluar, panas banget.”

“Iya, panas banget. Mamah sampe nyalain AC,” kata bunda. Aku tahu kalau bunda
itu jarang banget nyalain AC, tapi hari ini panasnya benar-benar di luar
batas.

Bunda tidak pakai kerudung tentunya. Wajahnya masih cantik, bodynya masih
bahenol. Tapi karena hamil ini lengannya sedikit gemuk. Pipinya sedikit
chubby. Tapi tetap hal itu membuatnya menarik.

“Pijitin mamah dong pah, pinggul mamah pegel,” katanya. Aku kemudian
memasukkan tanganku ke belakang tubuhnya. Bunda menggeser tempat duduknya untuk
memberikan ruang gerak.

“Aduh duh duh…,” bunda mengaduh lalu tersenyum.

“Kenapa mah?” tanyaku

“Ini, oroknya gerak-gerak, lihat!” aku melihat perut mama tampak menonjol.
Sepertinya adik bayi sedang menendang. Kudekatkan wajahku, lalu kuciumi perut
bunda tepat di tonjolan kecil itu. Lalu tonjolan kecil itu menghilang.

“Sudah bisa gerak ya sekarang?” tanyaku.

“Sering, terutama pas ndak ada papahnya di rumah, hampir gerak tiap hari,”
jawab bunda. Tangan kiriku membelai-belai perutnya, tangan kananku tetap
memijiti pinggulnya di atas tulang ekor.

“Mah, aku makin cinta ama mamah,” kataku.

“Aku juga pah,” kata bunda. Aku lalu mencium bibirnya. “Kamu kepingin?”

Aku mengangguk. Lalu menciumnya lagi. Kami saling memanggut hot. Tangan kiriku
sekarang meremas-remas susunya. Aku bisa merasakan buah dada bunda mengeras.
Tidak seperti dulu. Mungkin sudah ada isinya.

“Ohh…mah…,” desahku.

Bunda lalu melepaskan tanktopnya. Bunda memang tak pakai bra, karena dari
tadi aku meremasi buah dadanya, aku langsung bisa merasakan kerasnya puting
susu yang kecoklatan itu. Begitu dadanya terekspos, perhatianku pun beralih ke
dadanya. Sesuatu yang aku suka yaitu ASI. Mulutku sudah mencaplok puting
susunya, kulumat, kujilati, kukulum dan kuhisap. Air susunya pun keluar.
Rasanya agak manis.

“Ohh…pahh…papah netek,” keluh bunda.

Juniorku makin tegang aja. Kini serasa sesak celana pendek yang aku pakai.
Bunda membiarku menyusu kepadanya bergantian kiri dan kanan. Tangan kirinya
mencari-cari pionku yang sudah mengeras. Ketika menemukannya, tangannya pun
menelusup ke dalam celana pendekku. Kemudian kepalanya dipencet-pencet dan
diputer-puter. Ouugghh…enaknya.

Yang aku sukai dari bunda dalam bercinta adalah ia sudah berpengalaman. Ia
juga tahu titik-titik kelemahan lelaki. Jadi setiap bercinta dengan bunda,
pasti aku mendapatkan dua hal yaitu kepuasan bunda dan kepuasanku. Dengan
tangannya saja ia bisa memberikanku kepuasan seperti bersenggama. Sebab
caranya memainkan penisku dengan tangannya berbeda dari sekedar coli. Juga
ketika oral. Bunda sangat jago. Ketika bunda belum hamil dulu, benar-benar aku
lemes dengan perlakuannya kepada penisku. Bahkan bunda tak ragu-ragu untuk
menelan seluruh spermaku hingga kering. Dalam bercinta pun seperti itu, bunda
selalu berusaha memuaskan dirinya, baru kemudian mengimbangiku. Aku
dibimbingnya untuk memuaskan titik-titik sensitifnya sehingga percintaan kami
sangat panas dan sangat bergairah. Selalu dan selalu ingin diulang.

Kupuaskan menghisap air susu bunda. Tanganku sudah tidak memijat lagi
sekarang. Tangan kiriku masuk ke celananya dan mengelus-elus bibir
kemaluannya. Bunda mendesis dan mengeluh. Kusibak bibir vaginanya yang sudah
mulai basah. Perlahan-lahan jari tengahku mencari lubangnya. Dengan lancar
jari tengahku masuk dan menggesek-gesek lubangnya. Bunda menyandarkan
kepalanya ke sofa.

“Paahh..ohh…iya itu pah, digesek-gesek,” kata bunda. Beberapa kali ia
menggeliat ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Sementara itu bibirku
masih di putingnya menyedot seluruh ASI yang ada. Aku tak peduli kalau
misalnya ASI-nya habis. Setelah yang kanan kulanjutkan yang kiri.

Tangan bunda berhenti mengocok penisku, kini ia menggenggam erat batangnya
hingga aku ngilu. Tanganku makin cepat keluar masuk di kemaluannya.

“Pahh…mamah mau nyampe, ooohh…iya begitu paahh…ooouuucchh!” pantat bunda
terangkat aku mengeluarkan tanganku dan bunda memeluk kepalaku hingga wajahku
terbenam di lautan toketnya. Tiga hentakan pinggul bunda naik ke atas.
Perutnya yang buncit itu makin membubung. Lalu bunda lemas. Ia menutup
keningnya dengan lengan kanannya, sehinga aku bisa melihat ketiaknya yang
putih.

Aku lalu menuju ke ketiaknya dan kujilati. Bunda kegelian dan mendorongku,
“Geli pah, jangan…!”

Aku tak peduli kujilati dan kuciumi keteknya sampai puas. Bunda makin berusaha
mendorongku karena kegelian, hingga kemudian ia tertawa. Ia mencubit
pinggangku.

“Aduh,” aku mengaduh.

“Kamu ini dibilang geli koq, udah ah. Masukin dong, mamah udah kepengen nih,”
katanya.

Bunda melepaskan sisa pakaiannya yang masi menempel. Tubuh wanita hamil itu
agak eksotis. Kulit perutnya halus, aku beberapa kali mengelusnya dulu dan
kuciumi. Bunda berbaring dibuka lebar kakinya. Aku bisa melihat liang
senggamanya sudah basah. Bunda menggeliat-geliat minta dimasukkan. Aku posisi
agak berlutut. Aku maju, kepala otongku udah ada di bibir memeknya yang
lembut. Bunda tak sabar, ia yang pertama majukan pantatnya. Langsung saja
otongku masuk begitu saja.

“Ohh…pahhh….enak paaaahhh,” seru mamah.

Aku juga merasakan hal yang sama. Penisku mengobok-obok memeknya sekarang.
Tangannya menggapai tanganku dan kami berpegangan. Wajah bunda mendongak,
beliau sepertinya ingin menggapai lagi kenikmatan untuk kedua kalinya setelah
orgasme tadi. Itulah sebabnya kini pinggulnya ikut bergoyang, kiri kanan. Dan
kemudian ketika beliau menggoyang ke kiri, kepala bunda menggeleng-geleng.
Rambutnya awut-awutan. Dan seperti biasa, memeknya dibuat seperti
meremas-remas otongku. Walaupun hamil, memek bunda tetap bisa memberikan
pijatan-pijatan hangat yang meremas batangku.

“Ohh…maaahh…hhmmmhh…memek mamah tetep enak, papah suka…..”

“Pahh..nungging yuk!?” mamah mengusap-usap dadaku. Aku menghentikan
aktivitasku, kuusap-usap perut mamah yang buncit. Saat itu aku meraskan
sesuatu yang menendang.

“Mah, dedeknya gerak,” kataku.

Mamah tersenyum. Ia pun merasakannya. Sepertinya anakku ini juga merasakan dia
digoyang-goyang. Mama pun bangkit, kemudian di sofa mama menungging. Pantatnya
makin semok, aku remas-remas bongkahan pantat itu dan kuhisapi dengan gemas.
Aku menggerakkan wajahku sampai mendekat ke duburnya. Lalu aku jilati bagian
antara dubur dan memeknya.

“Ouchh…pah…geli…,” katanya.

Bunda memajumundurkan pantatnya, tampaknya ia suka. Setiap kali lidahku
menjilatinya, ia memajukan pantatnya.

“Udah pah, jangan mamah geli!” bunda membenamkan wajahnya ke sofa. Walaupun ia
bilang begitu tapi sepertinya merasakan nikmat. Kenikmatan-kenikmatan bisa
jadi sekarang sedang mengguyur mamah. Jilatanku makin cepat dan menggelitik.
Lidahku menelusup ke vaginanya. Dan dengan sapuan buas lidahku menyapu
klitoris, belahan memeknya sampai duburnya. Mama menggoyang-goyangkan
pantatnya lalu memajukan pantatnya.

“Pahh…mamah…mamah pipis paahh…!”

Aku kaget ketika bunda mengeluarkan cairan menyemprotku. Semprotannya tak cuma
sekali dua kali, tapi berkali-kali sampai ia lemas. Ternyata itu titik
sensitif bunda. Sofa kami jadi basah dengan squirtnya bunda.

Aku kemudian memposisikan senjataku ke depan mulut memeknya. Aku meraih buah
dadanya dan kuremasi gemas. Bersamaan dengan itu pantatku maju. Rudal coklat
dengan kepala pelurunya berwarna kemerahan mulai menerobos liang kewanitaan
bunda. Kulitnya sudah berkilat-kilat memantulkan cahaya karena terkena lendir
senggama. Kemudian gesekan-gesekan lembut mulai dilakukan. Penetrasi untuk
kedua kalinya ini sensasinya bikin kepala penisku gatal. Mungkin karena banyak
squirt bunda yang keluar. Atau mungkin karena memang aku sudah benar-benar
horni. Setiap aku menghujamkan penisku, aku selalu menghantamkan perutku ke
pantat bunda. Dan bunda setiap terkena hentakan menjerit.

“Aww…oohh…Aww…Awww…ppaahhh….te…rruuuss …yang cepet paahhh,” kata
bunda.

Aku kemudian mulai mempercepat temponya. Maju mundur dengan cepat. Terus aku
pompa makin cepat, kepala bunda pun menggeleng-geleng.

“Paah…mamah keluar lagi pah…he-eh…pah….cepet gitu,
cepet…teruss…fuck me pah….fuck meee…..!” rancau bunda.

Aku makin percepat, suara benturan pantat dengan perutku memenuhi ruangan.
Memberikan kesan erotis. Tak pernah kubayangkan sebelumnya aku bakal bisa
ngentotin bundaku. Bunda yang selalu mendidikku sejak kecil. Ketika kecil aku
yang dimandikan olehnya sekarang kita biasa mandi bersama. Aku yang dulu
menyusu sekarang aku menyusu lagi. Dulu aku yang keluar dari lubang kecil ini
sekarang aku masuk lagi. Dulu dari rahim ini aku keluar sekarang aku sudah
menabur benihku di sana. Aku dulu tak pernah membayangkan bakal menjadi
suami dari bundaku. Bunda yang selalu meyayangiku. Kini kasih sayang itu lebih
besar lagi, tak hanya sekedar seorang anak, tapi lebih kepada suami, sebuah
cinta yang tak akan dimengerti oleh orang lain. Kami merengkuh birahi bersama
dan kedudukanku sekarang mengisi hatinya menggantikan ayah.

Aku hampir orgasme bahkan mungkin beberapa saat lagi benih-benih cintaku yang
kental akan menyemprot di dalam rahimnya. Aku ingin mengingat setiap memory
bersama bunda. Entah kenapa tapi sebelum orgasme aku ingin mengingat semuanya,
mengingat semuanya hingga aku yakin setiap waktu, setiap kesempatan, setiap
kenangan. Memory itu makin jelas. Bunda, aku butuh bunda, aku butuh bunda
untuk birahiku.

“Pah….punya papah makin keras, enak pah…mamah dientot
papah…ohhh….suamiku….mamah keluar paahh…oohhh…punya papah sesek di
dalam…..,” bunda mengimbangi goyanganku.

Ujung penisku mulai gatel. Testisku sudah sesak, sepertinya sudah benar-benar
tak kuat lagi ingin mengeluarkan sperma. Benar kata bunda, punyaku udah
benar-benar tegang. Kubayangkan seluruh memory ketika aku orgasme ke dalam
rahimnya, ketika aku merasakan nikmatnya menyemprotkan spermaku ketika
melakukan titfuck kepadanya, atau ketika ia mau menerima semburan spermaku di
mulutnya, semua memory itu terkumpul untuk sebuah momen ini. Momenku
menyemburkan seluruh isi testisku.

“Bundaaa…..bundaku…kuentoooott…. terimalah buah cinta anakmu ini!!!”
teriakku.

“Ohh….anakku sayang, papahku….ohhhhhh!”

CROOTT CROOTT CROOOOTT CROOOTTT CROOOTT

Banyak sekali semburan spermaku. Aku tak bisa menghitungnya tapi
setiap punyaku berkedut maka setiap itu pula spermaku keluar. Bunda yang
tersirami sperma hangat itu mendongakkan kepalanya sambil menjerit, memanggil
namaku. Tubuhnya menegang, pantatnya bergetar hebat. Punyaku seperti
diremas-remas. Aku tak bisa membohongi diri kalau aku sebenarnya sangat
mencintai bunda. Melebihi Kak Vidia maupun Nur. Mungkin karena bunda adalah
wanita pertama yang melepas keperjakaanku. Wanita pertama yang menerima
spermaku di rahimnya, wanita pertama yang mau mengoralku dan keluar di dalam
mulutnya. Mengingat itu semua membuatku terus meledak dalam kedahsyatan
orgasme yang tak pernah kurasakan selama ini.

Bunda bertahan dalam posisi menungging. Punyaku masih di dalam, dan itu dalam
keadaan tegang, walaupun sudah menyusut sedikit. Perlahan-lahan aku
mencabutnya. Aku lalu duduk di sofa. Kuamati batangku yang terbungkus cairan
putih, campuran antara spermaku dan cairan kewanitaan bunda. Bunda masih
menungging nafasnya tampak tersengal-sengal. Butuh waktu sejenak untuk bunda
bisa tenang rupanya. Kulihat dari belahan memeknya tampak spermaku meleleh.
Rupanya aku keluar banyak sekali. Aku bisa melihat lubangnya penuh dengan
cairan kental berwarna putih. Bunda lalu perlahan-lahan mulai duduk. Tubuhnya
disandarkan ke sofa. Aku duduk di sampingnya. Kemudian bunda bersandar ke
bahuku. Tangan kirinya menggenggam tangan kananku.

“Pah…tadi… papah hebat sekali…bunda sampai ngerasa papah keluarnya
banyak banget,” kata bunda.

“Iya mah…papah mengingat-ingat semua peristiwa persenggamaan kita, itu
membuat papah bergairah dan bisa orgasme sedahsyat ini,” kataku.

PReeettt!! terdengar suara dari memek bunda.

“Apa itu mah?” tanyaku.

“Hihihi, sperma papah keluar, ditolak ama rahim, kan udah ada isinya,” jawab
mamah sambil tertawa kecil.

Bunda kemudian bangkit dan melihat sofa. Dari tempatnya duduk, kulihat ada
cairan kental berwarna putih di situ.

“Ini bersihinnya gimana ya? Kalau ada tamu masa’ harus bilang kalau kita maen
di sini,” kata bunda.

Aku tertawa. “Beli sofa baru?”

“Pemborosan ah, coba deh papah yang tanggung jawab bersihin. Kan itu punya
papah, horni koq di ruang tamu,” bunda menjulurkan lidahnya.

Melihat beliau berdiri telanjang. Dadanya besar, perut besar, pantat montok
membuat aku tegang lagi. Gila nih otong. Ndak puas-puas. Otongku langsung
mengembang lagi.

“Wah, udah kepingin lagi?” tanya bunda.

“Iya nih mah, lihat mamah tanpa baju sehelai pun, membuat papah horni,”
jawabku.

“Tapi mamah capek pah,” kata bunda, lalu berlutut di hadapanku. Buah dadanya
bertumpu di atas pahaku. “Pake oral aja yah?”

Aku mengangguk. Aku menggeser tubuhku untuk maju. Agar perut bundaku tidak
menyentuh pinggiran sofa. Lutut mamah ditekuk, jadi ia duduk di atas kakinya.
Saat itu terdengar suara lagi. PREEETTT…

“Benih papah keluar lagi nih. Sebanyak apa sih tadi keluarnya? Masa’ sampe
seliter?” canda bunda.

“Ndak tau mah, pokoknya setiap kedutan tadi keluar terus,” jawabku.

“Apakah bunda ini sebegitu membuat anak bunda yang sudah jadi suami bunda ini
horni?” tanya bunda. Bunda mulai beraksi. Aku duduk dipinggir sofa. Pahaku
terbuka lebar, jemari bunda mulai mengusap-usap pahaku lalu selakanganku.
Bunda mulai merangsang titik-titik sensitifku. Diciumnya seluruh bagian
pahaku.

“Mamah, mamah memang sangat hebat kalau merangsangku,” kataku.

Bunda konsentrasi menciumi dan menghisapi pahaku. Kemudian mulai mendekat ke
batangku yang sedang di pegangnya. Batangku dikocok lembut, bagian kepalanya
dielus-elus oleh telunjuknya. Wajahnya pun kemudian ke bagian buah zakarku.
Menciumi apa saja yang ada di sana. Senjataku makin mengeras dan on lagi.
Bunda mengejar-ngejar buah zakarku. Aku merintih-rintih keenakan dengan
perlakuannya. Kedua tanganku mengusapi tangannya yang melakukan kocokan
lembut.

Mulutnya lalu bergerak ke batangku sekarang. Dijilatinya batangku yang masih
ada campuran spermaku dan cairan kewanitaannya. Lidah Bunda menari-nari di
batangku, hingga sampai ke ujung lubang kencing, lalu mulutnya dibuka dan
bibirnya maju untuk menghisap penisku. OOOuuwww…. Terlihat ujung bibirnya
menutupi lubang kencingku dan lidahnya menari-nari di lubang penisku.
Sensasinya ndak bisa dikatakan.

“Mah..mamah..mamah apain itu? Enak banget?” tanyaku.

“Vidia ama Nur ndak pernah giniin kamu?” tanyanya.

“Tidak pernah mah, aku selalu bebaskan cara mereka memuaskanku,” jawabku.

“Besok aku ajarin mereka biar tahu cara memuaskan suaminya ini,” kata bunda.

Kembali lagi mempermainkan lubang kencingku. Lalu sesaat kemudian mulutnya
tiba melahap kepalanya lalu kembali lagi mempermainkan lubang kencingku.
Alamaakk…enak banget aku diperlakukan seperti itu. Lalu pinggiran kepalaku
yang cukup sensitif dijilatinya memutar. Dan tangannya mengocok batangku
dengan cepat sembari mengerjai kepalanya.

“Mahh…mahh…aduhhhh…nikmat banget mah…,” kataku.

Bunda mengulumnya sekarang, tapi lidahnya tetap mengerjai pinggiran kepalanya,
melumeri kepala penisku dengan lidahnya lalu menghisap kuat-kuat. Kemudian
diulangnya lagi. Sedangkan tangannya terus mengocok dengan cepat.

“Maahh…udah mah.., boleh dong papah ngerasain titfuck?” kataku memohon.

Bunda menghentikan aktivitasnya. Ia tersenyum mengetahui imajinasiku. Diangkat
buah dadanya. Rudalku yang sudah sangat tegang itu lalu kumajukan agar bisa
diapit oleh bukit kembarnya yang benar-benar montok. Bunda menggerakkan
dadanya naik turun. Ohhh….nikmat sekali. Wajah bunda menunduk dan setiap
kepala penisku mendekat ia menjilatnya. Pantatku pun tak mau diam, ikut naik
turun. Aku lalu ikut memegang toketnya yang biadab itu. Dadanya kumainkan naik
turun mengapit batangku. Otot-otot penisku makin mengeras, agaknya ingin
keluar lagi.

“Kayaknya mau keluar ya pah?” tanya bunda.

“Koq tahu mah?” tanyaku.

“Akukan ibumu, jadi tahu semua tentang anaknya, apalagi kita telah jadi suami
istri dan selalu tahu bagaimana tegangnya kepunyaan suaminya ketika ingin
menembak,” jawabnya.

“Maahh….papah mau keluar mah…,” kataku.

“Semprotin aja pah,” kata bunda.

“Ohh…maahh…keluar di wajah mamah ya?” kataku.

Bunda mengangguk, kemudian wajahnya mendekat. Penisku aku kocok dan
menyemprotlah spermaku ke wajahnya. Lima tembakan ke wajah bunda. Setelah 5
kali tembakan, bunda memasukkan penisku ke mulutnya dan mengocoknya lembut.
Sisa spermaku keluar di mulutnya. Bunda menelan sisa-sisa yang keluar di
penisku. Kulihat keningnya, matanya, hidung dan pipinya terkena spermaku. Aku
lemas di atas sofa. Bunda kemudian menjilati spermaku yang ada di wajahnya. Ia
masukkan semua itu ke mulutnya dengan bantuan tangannya. Terlihat sangat
rakus. Aku suka pemandangan itu dan menyaksikannya hingga wajahnya bersih
lagi. Bunda lalu berdiri.

“Udah ah, ngeres mulu pikiran papah. Ingat lho mamah lagi hamil, cepet capek,”
katanya sambil meremas batangku.

“Aduh!” kataku. Batangku ngilu rasanya. “Habis mamah seksi sih.”

“Simpan tenaga buat malam nanti ya pah, malam nanti dilanjut kalau masih
kepengen,” katanya. “Sekarang bersihin tuh, sofa ama lantainya!”

Aku tertawa kecil, “Iya iya mah.”

Malam harinya aku mengulanginya lagi dengan bunda di ranjang. Bunda
memperingatkanku agar jangan sering-sering ML, karena capek juga. Aku
mengerti kondisi beliau. Maka dari itu kalau ML aku selalu berakhir dipuaskan
dengan jurus oralnya atau titfuck. Satu yang aku sukai dengan bunda adalah
beliau cukup sabar dengan perlakuanku selama bercinta. Menerima seluruh
keinginanku, dan tahu bagaimana cara memuaskanku. Maka dari itulah, ketika
setelah oral aku minta oral lagi beliau tak menolak. Bahkan ketika beliau
capek beliau berbaring miring dan aku menggarapnya dari belakang. Beliau tetap
bersabar sambil terus menerima sodokanku. Akhirnya setelah puas 4 ronde. Aku
tertidur di dalam selimut sambil memeluk bunda dari belakang.

Dalam rumah tangga kami selalu harmonis. Walaupun aku harus membagi waktuku
dengan kedua saudariku yang lain. Itu karena aku selalu memberikan sentuhan.
Baik itu sentuhan sekedar mengelus tangannya, atau menciumnya. Atau
sentuhan-sentuhan yang lain. Apabila sentuhan itu makin hot, maka yang terjadi
adalah dituntaskan di ranjang. Mereka sangat mencintaiku, maka dari itulah
kalau misalnya tahu ada wanita lain yang aku sukai, mereka pasti akan bertanya
siapa wanita itu? Apakah mau menerima keadaanku ataukah tidak? Dan aku jujur
ketika menyukai mbak Juni yang sekarang entah ada dimana itu. Sedangkan yang
main-main aku tak pernah menceritakannya kepada semua istriku. Bukan berarti
aku tidak jujur, tapi agar keluargaku tetap utuh. Aku anggap itu semua cuma
variasi saja dalam berhubungan. Toh, kebanyakan mereka yang telah berhubungan
dengaku adalah menginginkan aku. Bukan sebaliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*