Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 8

Anak Nakal 8

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 7

BAB 8

TETANGGAKU ERNA

Kak Vidia pun kembali ke rumah. Dan Zahir anakku yang masih kecil itu sangat
menggemaskan. Sama seperti Laila yang juga montok. Kak Vidia lebih
mencintaiku lagi. Kami lebih selalu bermanja-manja dengan kehadiran anak kami.
Kami pun menyewa pembantu, namun Bu Isti menawarkan dirinya untuk menjadi
babysitter. Karena kami sudah kenal baik, “tentu saja aku lebih baik lagi
mengenal Bu Isti” maka kami pun mempersilakannya. Setelah bayaran disepakati,
apalagi Bu Isti di rumah juga tak bekerja hanya menjaga Luna.

Sehingga ketika pulang sekolah, Luna langsung bermain dan menjaga anakku. Jadi
punya teman main. Sedangkan aku? Tentu saja harus menggilir istri-istriku yang
lain. Jadi setiap hari tidak di rumah Kak Vidia.

Aku setelah malam dengan Bu ISti itu tidak lagi main dengannya lagi walaupun
sekali. Aneh memang dan Bu Isti sendiri tak pernah mengajakku ataupun aku
mengajaknya. Tapi setiap kali kami bertemu selalu pandangan kami penuh arti.
Mungkin karena memang kita tidak punya kesempatan untuk melakukannya, sebab
Kak Vidia selalu di rumah.

Suatu hari ketika anakku sudah usia 2 bulan dan sudah bisa tengkurap, saat
itulah satu-satunya kesempatanku untuk bisa bertemu dengan Bu Isti dan
satu-satunya kesempatan. Pak Joko sakit. Kerja shift malam membuatnya sakit
paru-paru basah. Ia dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu sampai
kondisinya membaik. Otomatis Bu Isti untuk sementara waktu tak bisa menjadi
baby sitter anakku. Malah istriku yang jadi baby sitter untuk Luna, karena Bu
Isti masih menunggui suaminya di rumah sakit.

Suatu pagi aku akan berangkat ke toko. Saat itulah istriku minta tolong, “Pah,
tolongin Bu Isti ya, berangkat ke rumah sakit, sekalian anterin anaknya ke
sekolah. Kasihan beliau udah banyak nolong kita.”

“Oh, iya, ndak masalah,” kataku.

Bu Isti pun diberitahu oleh istriku untuk barengan aja. Ia pun tidak menolak.
Sekolah Luna sebenarnya tidak jauh dari komplek. Lima menit saja sudah sampai
dengan mobilku. Kemudian Bu Isti pindah duduk di sebelahku. Saat itulah kami
pun ngobrol.

“Gimana kabarnya bu?” tanyaku.

“Baik-baik saja mas,” jawabnya. “Masnya tanya kabar yang mana?”

“Suaminya sekarang sakit, bagaimana pelampiasannya?” tanyaku. Ia pun
mencubitku.

“Masnya ini lho, koq ya ngeres aja. Ntar kubilangin istrinya lho kalau
genit-genit seperti ini,” katanya.

Aku mengemudikan mobilku melewati tempat yang agak sepi. “Ya, Bu Isti sendiri
bagaimana perasaannya setelah malam itu?”

Dia menarik nafas panjang. Aku menghentikan mobilku. Jauh dari keramaian.
Kanan kiri kami adalah perkebunan dan sawah. Jalanan ini 500meter ke depan
barulah ada pemukiman.

“Mas, sebenarnya aku agak besalah sama suamiku,” katanya. “Tapi, mas juga tak
bisa aku lupakan. Karena tiap hari ketemu. Memang, ada rasa kepengen kalau
ketemu sama mas. Tapi, aku ndak enak sama istri mas.”

“Trus, kita bagaimana Bu enaknya sekarang?” tanyaku.

Bu Isti mengusap pipiku. “Ibu masih mecintai suami ibu, tapi apau yang kita
lakukan kemarin, anggap saja sebagai kecelakaan. Ibu menyukainya, saya yakin
kamu juga demikian. Kita kubur saja ini sebagai kenangan. Aku tak enak kepada
istrimu dan menghancurkan rumah tangga kalian. Bagaimana?”

Aku terdiam dan menatap kesungguhan di matanya. Senyumannya menyungging.

“Aku ingin mengajak Ibu ke sebuah tempat, kalau boleh?” kataku.

Bu Isti bertanya, “Tempat apa?”

“Ada aja, boleh ya?” tanyaku.

Bu Isti agak ragu kemudian ia membolehkan. Aku punya tempat istirahat yang
baru saja aku beli setahun lalu. Tempat ini biasanya aku pakai kalau sedang
liburan. Tempatnya ada 1 jam perjalanan. Bu Isti tampak penasaran. Aku
merahasiakan tempat ini sampai kemudian kami sampai.

“Tempat apa ini mas?” tanyanya.

“Ini rumah istirahatku,” kataku.

“Kaya’ villa,” gumamnya. “Ndak ada yang jaga?”

Aku menggeleng. “Tidak ada. Sementara ini tidak ada. Masih kosong, tapi
perabot-perabotannya sudah ada.”

“Trus, tujuan kita ke sini buat apa?” tanyanya.

“Karena kita ingin menyudahi semua ini, aku ingin seharian ini kau menjadi
wanitaku,” kataku.

“Oh..mas, trus nanti Luna gimana pulang sekolahnya? Aku juga harus menemani
suamiku,” katanya.

“Luna kan pulangnya ke rumahku, biasanya juga kan pulang sendiri. Nanti
sebelum sore kita sudah balik kuantar ke rumah sakit. Bagaimana?” tanyaku.

Bu Isti tersenyum. “Terserah deh mas.”

Aku kemudian menggandeng tangannya. Kubuka rumah itu. Kuncinya selalu ada di
mobilku. Begitu masuk, aku langsung memanggutnya, Bu Isti pun rasanya sudah
tak tahan lagi. Ia langsung menyambutku. Kami pun melucuti pakaian kami. Aku
langsung masuk ke kamar dan membopongnya ke tempat tidur. Setelah itu kami pun
menghabiskan waktu sebaik-baiknya untuk bercinta. Aku tak menyia-nyiakan
spermaku, kutumpahkan semuanya ke vaginanya. Berbagi gaya kami lakukan dan
setelah itu rasanya tulang kami rontok semua setelah itu.

Tapi kami mengumpulkan tenaga karena harus kembali lagi. Terus terang setelah
bercinta hari itu, kami ada perasaan sedih. Dan komitmen kami adalah tidak
melakukan hal ini lagi setelah ini.

****

Sorenya aku sudah kembali dan mengantarkan Bu Isti ke rumah sakit. Aku pun
memberi alasan bertemu teman, untuk urusan bisnis karena itu tak ke kantor. Bu
Isti pun memberi alasan mampir ke rumah temannya dulu untuk bantu-bantu karena
ada pengajian.

Hari itu aku tak ke mana-mana, langsung pulang ke rumah Nur karena jatah hari
ini ke tempatnya Nur. Aku langsung tidur dan istirahat, karena capek sekali.
Untunglah Nur memijitiku ketika aku tidur, sehingga capekku bisa terobati.

****

Hari minggu, aku ke mall. Karena saat itu sedang ada tamu artis, mall sangat
ramai. Para muda-mudi sudah standby di depan panggung dan menunggu artis
pujaannya. Kalau aku sih cuma belanja aja. Aku ke mall bersama bunda. Perutnya
sudah besar, mungkin bulan depan udah lahiran. Kami belanja untuk kebutuhan
bayi.

“Capek sekali bunda pah,” kata bunda kepadaku.

Aku melihat ke sebuah stand pijat. “Mau pijit dulu bunda? Mumpung ada tuh.”

“Ide bagus, istirahat dulu ya pah. Papah jalan-jalan dulu deh beli kebutuhan,
nanti temui bunda lagi di sini,” katanya.

Aku pun mengantarkan bunda ke tempat pijit itu. Tempat pijat itu memakai kursi
pijat dan tampaknya sedang antri dari 5 kursi, masih dipakai. Bunda tak
masalah, karena memang ia sudah capek berjalan. Aku pun pamit dulu untuk
belanja.

Aku pun berjalan-jalan berbelanja sendiri. Saat itu aku melintasi sebuah stand
kosmetik. Aku sepertinya kenal dengan seseorang.

“Lho, mbak Erna?” sapaku.

“Eh, pak Doni. Apa kabar pak?” sapanya balik.

Ia adalah tetanggaku di rumahnya Kak Vidia. Saat itulah aku cukup cuci mata
dengannya. Ia pakai rok pendek, setengah paha, ia memakai blazer, dan stocking
berwarna hitam. Rambutnya sebahu, bibirnya cukup sensual dan ia tersenyum
manis kepadaku.

“Sama siapa pak? Koq sendirian?” tanyanya.

“Sama istri, masih di stand pijat. Ini sedang belanja buat si kecil,” kataku.

“Oh, begitu. Ndak nyoba kosmetiknya pak? Buat nyonya?” tanyanya.

“Boleh deh, coba apa aja yang ada?” tanyaku.

Kemudian Erna menjelaskan segala hal tentang produknya. Bahkan aku pun disuruh
untuk mencoba pelembabnya. Kami juga kadang sesekali bercanda.

“Gimana pak? Mau beli?” tanyanya.

“Wah, gimana ya?” aku bingung juga. Namun aku teringat tentang SPG-SPG yang
gatel dan bisa diajak kencan. Apa mungkin Erna tetanggaku ini mau? Tapi kucoba
aja deh, namanya juga iseng.

“Mumpung ada promo lho pak?” katanya.

“Aku bisa saja sih beli, tapi mungkin ada tambahannya,” kataku sambil
tersenyum.

“Tambahan apa?” tanyanya.

“Aku ingin membayar lebih, itu kalau kamu mau sih,” jawabku.

Erna penasaran, “Bayar lebih gimana sih pak?”

“Mungkin dengan kita kencan gitu,” kataku dengan suara hampir tak terdengar.

“Ih, bapak genit. Kubilang ke istrinya tahu rasa lho,” katanya.

“Yah, ini beneran koq. Aku bisa beli beberapa produkmu. Kamu untung dan
tentunya aku juga untung. Toh kita tak ada ruginya. Gimana?”

Erna menggigit bibirnya, “Gimana ya…?”

“Udah berapa lama kamu di sini? Daripada ndak laku lho. Kalau setuju besok
kita ketemuan di sini jam seginian,” kataku.

Erna tak menjawab. Aku pun lalu berjalan meninggalkannya. Jual mahal dikitlah.

“Pak, pak tunggu!” panggil Erna.

Aku pun berhenti, lalu menoleh kepadanya.

“I…iya deh, beneran lho ya borong semua,” katanya.

Aku mengangguk. “Kamu tahu nomor teleponku kan?”

Ia menggeleng. Kemudian aku memberikan nomor ponselku. Dan aku melanjutkan
berbelanja lagi. Aku meninggalkan Erna dengan wajah yang menerawang jauh.
Entah apa yang ada di pikirannya. Setelah berbelanja aku kembali ke tempat
bunda. Ia sudah selesai ternyata dan kami pun pulang.

Esok sorenya. Sesuai janjiku aku menunggu Erna di tempat parkir. Ia pun
menelponku.

“Bapak di mana?” tanyanya di ponsel.

“Di tempat parkir. Turun aja aku ada di pintu deket tangga koq,” kataku.

Tak berapa lama kemudian ia muncul. Kali ini bajunya agak lain. Masih pakai
blazer dan rok mini tapi warnanya merah. Dan ia tak pakai stocking.

“Bagaimana suamimu?” tanyaku.

“Aku udah ijin koq, nginap di rumah temen,” jawabnya.

“Kalau kamu tidak mau atau berubah pikiran, sekarang saja. Sebab aku tak mau
ketika di tengah jalan nanti kamu berubah pikiran,” kataku.

Ia menggeleng. “Aku siap koq pak.”

“Ok, ayo!” aku pun mengajaknya ke mobilku. Di dalam mobil aku mencoba untuk
meraba tangannya. Ia tak menolak. Bahkan tersenyum kepadaku.

“Kau sudah pernah seperti ini sebelumnya?” tanyaku.

“Sejujurnya, ini yang pertama pak,” jawabnya.

“Yang bener? Trus kenapa koq mau?” tanyaku.

“Lagi kepepet pak,” katanya.

“Panggil saja mas, saya masih belum 30 tahun koq,” kataku.

“I..iya pak, eh mas..,” katanya.

Aku memancingnya lagi, “Sekarang kita sudah masuk mobil. Kalau misalnya engkau
berubah pikiran tidak mengapa.”

Ia menggeleng. “Tidak apa-apa mas.”

Aku pun kemudian mendekat kepadanya, ku sentuh wajahnya, kemudian aku tarik
kepalanya untuk mendekat kepadaku. Bibirku pun maju menyentuh bibirnya. Aku
kemudian menghisap bibirnya, mulutnya sedikit terbuka dan menerima lidahku
masuk ke mulutnya. kami pun saling menghisap. Untuk beberapa saat ciuman itu
membuatku yakin ia sudah siap.

“Aku ingin mengajakmu ke sebuah villa, jangan ke hotel,” kataku.

Ia mengangguk, “Terserah saja deh mas.”

Mobilku pun melaju meninggalkan kota menuju ke villa. Selama perjalanan, aku
mengusap-usap paha Erna. Ternyata ia tak memakai hotpants. Aku bisa langsung
merasakan celana dalamnya ketika merogoh ke dalam rok mininya. Aku menyetir
mobil dengan tenang, ketika aku tidak mengubah gigi kopling aku kembali
mengusap-usap kemaluannya dari luar celana dalamnya. Erna hanya menggigit
bibir saja kuperlakukan seperti itu. Terkadang ia bermain ponselnya mencoba
menahan rangsangan yang aku lakukan. Tapi sepertinya percuma, karena ia
sesekali memejamkan mata, dan menggigit bibirnya. Hingga kemudian ia bersandar
di kursi menengadahkan kepalanya dan memegang tanganku erat-erat.

“Udah mas, udah….,” aku mengerti ia orgasme. Celana dalamnya becek sekali.

“Dilepas saja dong, becek tuh,” kataku.

“Mas sih, nakal banget!” katanya.

Aku tersenyum. Ia pun segera melepas celana dalamnya dan membuangnya ke
belakang jok. Aku kemudian membuka resletingku. Penisku yang sudah tegang pun
nongol.

“Nah, kalau ini enaknya diapain?” tanyaku.

“Ih, genit ya mas ini. Udah gedhe aja,” katanya.

Ia kemudian memegang benda itu. Diremas-remasnya, lalu dikocok-kocoknya.

“Gedhe banget mas, ntar kalau masuk sakit pastinya,” katanya.

“Koq bisa?” tanyaku. “Emang punya suamimu seberapa?”

“Hmm…sepertiganya kayaknya,” jawabnya. “Tapi itu aja udah enak koq mas.”

Selama perjalanan itu penisku dikocok, diremas dan dibelai-belai. Dan sampai
di tujuan, kayaknya Erna cukup capek karena belum keluar-keluar penisku.

“Mas kuat juga ya, padahal suamiku dikocok gini aja keluar lho,” katanya.

Setelah tiba, aku langsung mengajaknya masuk. Kubetulkan celanaku dan kuambil
kunci villa. Setelah masuk aku persilakan ia untuk masuk ke kamar. Kami tak
perlu dikomando. Aku sudah melepaskan bajuku. Bahkan ia kubantu untuk
melepaskan bajunya. Kami pun berciuman panas. Kupeluk Erna kubuka pakaian
dalamnya, branya kemudian aku lempar sehingga pakaian kami berserakan di
lantai.

“Mas, ohh…,” desahnya.

Aku melihat dadanya cukup besar. Kulitnya putih mulus aku langsung menghisap
putingnya. Kuhisapi lehernya, kujilati dan kuremas-rems dadanya. Aku kemudian
berlutut, penisku menantang di hadapannya. Ia mengerti tugasnya, langsung ia
duduk dan mengisap penisku. Penisku pun disentuh oleh bibirnya, lidahnya
menjilati kepalanya dan ia memasukkan penisku ke mulutnya, ia hisap dan lumuri
dengan ludahnya. Kemudian ia kocok dengan lembutnya. Testisku di
remas-remasnya, terkadang sesekali bibirnya menciumnya bergantian. Lalu
disedotnya sebentar, dan konsentrasi lagi mengulum batang penisku. Sensasi
yang ditimbulkannya sangat mebuatku geli.

“Erna…nikmat banget,” kataku.

Tanganku tak tingal diam. Aku memilin-milin putingnya sampai mengeras. Ia
terangsang ternyata. Aku lalu mendorongnya, ia pun berbaring. Aku kemudian
menciumi dadanya, perutnya lalu pergi ke bawah. Di sebuah tempat yang
rambutnya tumbuh melindungi tempat pribadinya. Aku kemudian menjilati bibir
vaginanya. Erna menggeliat sperti ulat. Ia memejamkan mata menerima
rangsangan-rangsanganku di rongga vaginanya. Klitorisnya aku sapu, beserta
rambut kemaluannya. Ia menggelinjang. Aku ulangi lagi dan aku kemudian
menggigit-gigit gemas klitorisnya.

“Maasss….aakhhh…jangan gitu dong…geli…aduhh duuhh….duh…mass….!!”

Aku terus ulangi dan ulangi hingga ia tak kuat lagi. Ditekannya kepalaku dan
pantatnya mengangkat, pahanya mengapitku dan ia berjinjit.

“Maasss….aaaaahhhhkkk,.. mas ganteng, aku jebol nih…!!” katanya. “Aku
pipis mas…pipis…”

Aku kemudian duduk, melihat polah tingkahnya yang menggeliat-geliat seperti
ulat kesetrum. Tubuhnya sangat mulus, walaupun sudah bersuami dan punya anak.
Pantatnya masih kelihatan montok, mulus. Aku lalu membalikkannya untuk
menungging.

“Aku masuk lho ya, kepingin merasakan benda ini ndak?” tanyaku.

“Iya mas, masukin. Pelan-pelan ya,” katanya.

Aku lalu perlahan masuk. Batang penisku yang sudah tegang dengan urat-uratnya
itu perlahan-lahan memasuki rongga asing, yang sama sekali asing baginya.
Perlahan-lahan daging itu menggelitik sebuah lubang yang sudah diberi pelumas
agar mudah untuk masuk. Aku pun masuk separuh, karena tampaknya masih seret.
Dan aku tarik lagi, lalu kudorong lagi, terus aku ulang seperti itu. Pantatnya
benar-benar menggairahkan. Aku meremas-remas pantatnya. Dan setiap aku
hentakkan penisku ke dalam, pantatnya pun menekan ke perutku.

“Nikmat sekali mbak,” kataku. “Pasti suamimu puas banget ya ngentotin kamu.”

Aku lalu mempercepat goyanganku. PLOK PLOK PLOK PLOK, suara pantatnya beradi
dengan selakanganku. Penisku makin masuk saja dan Erna tampak keenakan. Ia
terus mendesah, mendesis dan meraba-raba vaginanya yang dimasuki penisku.

Aku kemudian menghujamkan penisku lebih dalam hingga mentok ke rahimnya.

“Mas,…enak banget kontolnya mas…,” katanya.

Aku kemudian membalikkan badannya. Kutuntun ia untuk duduk di pangkuanku. Kami
saling beradapan. Kucium ia, lalu dadanya pun naik turun seiring tubuhnya yang
naik turun. AKu menghisapi buah dadanya, kuberi sebuah cupangan. Lalu aku
hisap putingnya.

“Mas…aduh, koq dicupangi sih? ahh…hhh…ohh… enak mas, iya dipilin-pilin
gitu…eh-eh….mas…geli..,” katanya.

Kujilati bagian di bawah ketiaknya. Ia menggelinjang dan memeluk tubuhku.
Vaginanya terangkat sedikit, pantatnya bergetar. Ia makin erat memelukku.

“Mas..aku keluar lagi..”, katanya.

Aku perlahan-lahan membaringkannya. Kemudian aku naik turunkan pantatku. Erna
sangat menggairahkan. Penisku terus mengobok-obok vaginanya. Memeknya tidak
melakukan empot-empot, tapi cukup seret. Mata kami beradu, mulut Erna
menganga. Ia melingkarkan lengannya ke leherku. Pahanya mengapit pinggangku.

“Erna, aku keluar nih,” kataku.

“Iya mas keluar aja, aku udah,” katanya.

Penisku seakan-akan mengumpulkan semua kekuatannya di ujung dan kuhujamkan
penisku sedalam-dalamnya ketika keluar. CROOT…CROOT CROOOOTT, muncratlah
penisku sebanyak-banyaknya ke rahimnya. Mata Erna memutar dan kami berciuman
lama sekali. Kami kemudian kelelahan dan istirahat sebentar.

Malam itu kami bercinta terus sampai pagi. Erna cukup kaget dengan staminaku.
Kami pun bermain hingga lima ronde dan baru selesai pukul 3 pagi. Saking
lamanya kemaluan kami benar-benar ngilu rasanya.

***

Erna dan aku tidur saling berpelukan. Aku terbangun terlebih dulu. Aku bisa
menilai Erna ini benar-benar sexy. Tubuhnya boleh dibilang sangat langsing,
tapi tidak kurus.

“Erna…udah pagi nih,” kataku.

“Bentar mas, masih dingin,” katanya sambil makin erat memelukku.

“Mandi bareng yuk?!” ajakku.

“Tapi masih dingin,” katanya.

“Ada air hangatnya koq,” kataku.

“Ayo deh,” kata Erna. Ia segera bangun.

Kami menuju kamar mandi, masih telanjang. Aku kemudian menyalakan air di bank
mandi dan keluar air panas. Di dalam kamar mandi ada cermin sehingga Erna bisa
melihat dirinya di sana. Sembari menunggu air bak mandi penuh, penisku tegang
lagi melihat tubuhnya, atau boleh dibilang kalau pagi memang seperti ini sih.
Kami pun berpanggutan lagi di dalam kamar mandi. Saling membelai dan
memberikan rangsangan. Aku mendorongnya hingga duduk di atas toilet, lalu
kuhisap buah dadanya, puting susunya pun kulahap dan kumainkan dengan lidahku.

“Ohh…mas,..pagi-pagi udah ngentot aja,” katanya.

“Iya nih, habis kamu seksi sih,” jawabku. “Sayang cuma ini kesempatan kita
ya.”

“Kalau mas mau, kapan pun bisa koq. Aku rela mas,” katanya.

“Aku kan cuma membayarmu untuk beli kosmetikmu,” kataku.

“Tak apa-apa mas, oh…kalau mas kepingin tinggal telpon aku aja atau kita
pakai kode khusus gitu, biar mbak Vidia ndak curiga,” katanya.

Penisku ku pasang di bibir memeknya, kemudian aku tekan. Memek Erna sudah
becek. Dengan leluasa aku keluar masukkan penisku.

“Aku ketagihan ngentot ama mas,” katanya.

“Baiklah, ini jadi rahasia kita ya,” kataku.

“Iya mas, ohh…penis mas penuh banget. Aku pikir bisa-bisa robek memekku,”
katanya.

“Tapi nggak kan?” tukasku. “Lagian memekmu peret banget.”

“Ohh…mass,” desahnya.

Aku cukup bermain satu ronde di kamar mandi. Dan aku percepat goyanganku. Aku
pun keluar, tapi tak sebanyak tadi malam. Mungkin habis produksi testisku.
Setelah itu kami mandi bareng, saling menggosok dan menyabuni. Kami juga
sempat berbaring sebentar di bak mandi dan bermanja-manjaan.

Pukul 9.00 ia harus sudah balik ke mall. Aku mengantarnya. Dan kami berjanji
kalau ada kesempatan akan mengulanginya lagi.

*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*