Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 6

Anak Nakal 6

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 5

BAB 6

TETANGGAKU DIAN

Aku mulai membangun rumah sendiri, terlebih ketika Nur melahirkan anak
pertama kami yang imut dan lucu. Berjenis kelamin perempuan. Anaknya sangat
montok. Kami semua bahagia dan usia kehamilan Kak Vidia pun udah masuk ke
empat bulan, mulai kelihatan perutnya membuncit.

Aku bangun rumah sendiri untuk Kak Vidia, juga Nur. Walaupun tak begitu mewah
seperti rumah kami sekarang, tapi cukup untuk membangun rumah tangga di sini.
Posisinya juga tidak terlalu jauh, masih satu kota walaupun beda perumahan.
Identitasku sekarang kuubah, agar hubungan incest kami tak ketahuan. Kami
membayar beberapa orang pengurus catatan sipil untuk bisa memalsukan
identitasku. Dan sekarang aku pun punya tiga istri. Yang mana aku harus adil
dalam membagi jatah.

Aku benar-benar ingin membahagiakan mereka semua. Terutama bunda. Jatah bunda
sekarang lebih banyak. Ini adalah inisiatif dari Nuraini dan kak Vidia. Mereka
sepakat untuk melakukannya. Mereka malah yang menyemangati bunda agar bisa
menyusul mereka.

“Rumah jadi sepi ya Don, semenjak kedua saudarimu ke rumah mereka
masing-masing,” kata bunda.

“Ini kan juga untuk membahagiakan bunda juga, kalau semuanya di sini bingung
ngurus cucu-cucunya bunda,” kataku.

Bunda memakai kerudung lebarnya dan ia sedang duduk di sofa ruang tamu sambil
melihat halaman dari jendela. Walaupun sekarang usianya sudah kepala 4, tapi
tubuhnya masih sintal. Masih bagus, beliau sering melakukan perawatan tubuh,
aku bisa melihatnya sendiri. Ini adalah hari pertamaku membagi jatah ke bunda.
Karena aku dapat jatah 4 hari di rumah bunda.

“Masih belum ada kabar mengenai mbak Juni, Don?” tanya bunda.

“Belum ada, Doni sudah cari kemana-mana tapi tidak ketemu. Rumahnya yang dulu
pun sudah sepi tak ada barang-barang apapun. Dia seperti hilang ditelan bumi,”
jawabku. “Aku menyesal sekali sepertinya.”

“Kalau dihitung berarti usia kehamilannya hampir sama seperti Vidia,” kata
bunda. “Lebih muda dikit.”

“Iya,” kataku singkat.

“Tapi jangan khawatir. Kalau ia mencintaimu, ia pasti akan mencarimu, atau
bahkan ia tak akan bisa melupakanmu. Ia cuma belum siap menerima keadaan ini.
Kau sendiri tahu kan? Ia masih mencintaimu bunda yakin karena bunda ini juga
wanita,” kata bunda menghiburku. “Bunda yakin ketika nanti anaknya lahir
engkau pasti akan diberi tahu, bahkan mungkin bunda yakin ia pasti akan
menerimamu apa adanya.”

“Bagaimana bunda bisa yakin?” tanyaku.

“Sebab, Juni itu sudah suka kepadamu sejak lama. Bunda tahu itu, saat
melihatmu ia sering melamun dan senyum-senyum sendiri. Bahkan ketika kalian
berhubungan wajahnya lebih sumringah daripada sebelumnya. Ia memang janda
muda, tapi ia masih memiliki cinta. Dan ia baru saja menemukan cinta
sejatinya,” kata bunda. “Sebagaimana bunda juga masih mencintai ayahmu sampai
sekarang walaupun sudah ditinggalkan. Dan sekarang bunda melihat sosok ayahmu
pada dirimu. Bunda makin cinta kepadamu.”

Aku menghampiri bunda dan duduk di sebelahnya. Tanpa dikomando aku mencium
bibirnya.

“Bunda tahu, apapun yang bunda lakukan, tubuh bunda tetap menarik bagi Doni,”
kataku.

“Kamu sudah kepingin?” tanyanya.

“Kalau melihat bunda rasanya kepingin terus,” jawabku.

Kami berpanggutan lagi dengan hot. Lidah kami menari-nari saling menghisap.
Aku membuka kancing gamisnya, kulepas gamis itu, branya juga kulepas. Bunda
menarik T-Shirt-ku dan menurunkan celana trainingku.

“Isep dong bunda,” kataku.

Aku berdiri di hadapannya. Bunda duduk di sofa ia majukan wajahnya dan melahap
penisku. Ia mengulumnya dengan ganas. Ia jilati ujungnya, lalu ia kulum lagi,
tangan kirinya aktif meremas-remas testisku. Tangan kanannya mengusap-usap
perutku, lalu terkadang memijat-mijat batang penisku, mengurutnya dan
mengocoknya lembut.

“Ohhh…bunda….hhmmhhh…,”

Bunda masih memakai kerudungnya. Beliau agak aneh dengan fantasiku yang
bercinta dengannya tapi memakai kerudung. Tapi ia sama sekali tak masalah
dengan itu. Berkali-kali spermaku harus aku keluarkan di wajahnya di saat oral
mengenai kerudung hitamnya. Ia menganggap fantasi sex tiap lelaki berbeda. Ia
pernah bercerita kalau fantasi sex ayah dulu adalah ngentotin bunda di kebun
atau di alam terbuka. Bahkan katanya hamilnya anak pertama dulu, karena mereka
berhubungan intim di pegunungan. Pantas saja Kak Vidia suka banget hiking.

Sedangkan aku? Bunda menceritakan sesuatu yang tidak pernah diceritakan kepada
Kak Vidia maupun Nuraini. Yaitu ayah pernah menyukai keponakannya sendiri. Dan
ia jujur kepada bunda. Karena itulah bunda bersedih. Setiap bercinta selalu
yang ada pada bayangan ayah adalah keponakannya itu yang bernama Laura. Aku
pernah bertemu sepupuku itu tapi sudah lama, sekarang ia punya anak bernama
Anisa. Dan boleh dibilang ayah pernah sekali bercinta dengan keponakannya itu,
tapi tidak sampai hamil.

Bunda terpukul dengan itu, namun ketika melihat bunda hamil diriku, akhirnya
ayah pun mengakui dirinya salah dan akhirnya mulai menyayangiku seperti
anaknya. Mungkin karena itulah sifatku seperti ini. Dan secara tak disangka
aku sangat mirip ayahku.

Hari ini aku tak mau menyia-nyiakan spermaku, aku ingin semua spermaku tumpah
di rahimnya. Kita punya banyak waktu hari ini. Aku ingin mengentot bunda sampe
ngilu penisku. Maka dari itulah, sebentar saja bundaku mengoralku. Aku
sekarang sudah menciumi seluruh tubuhnya. Kujilati dadanya, kuhisap kuat-kuat
putingnya hingga mengeras. Bunda mengeluh. Ku hisap pula klitorisnya kumainkan
dan kugigit gemas. Bunda makin tergelepar-gelepar seperti ular. Berkali-kali
ia berusaha mendorongku karena rangsanganku telalu membuatnya geli. Dan bunda
pun orgasme hingga menjambak rambutku kuat-kuat. Nyaris itu rambutku dicabut
dari tempatnya.

“Don…kamu bener-bener lain hari ini, rasanya nafsuin banget,” katanya.

Aku tersenyum. Aku kemudian melumat bibirnya. Punyaku pun langsung kumasukkan
sambil kutekan. Bunda kaget dan tersentak. Pinggulnya terangkat. Saat itulah
aku menggoyan tubuhnya, ku benamkan sedalam-dalamnya otongku hingga mentok.
Bunda mengeluh lagi. Kami berpelukan erat, kerudungnya masih menempel dan aku
menghisap lidahnya. Ia mencakari punggungku ketika kenikmatan demi kenikmatan
menjalar di selakangan kami.

“Don..enak…bunda keenakan…terusss…ssshhh…aahhh…hhmmmhh,” katanya.

Aku konsentrasi di bawah sana. Aku terus mengobok-obok vaginanya hingga dia
kayaknya hampir orgasme lagi, dahinya mengerut, alisnya menyatu dan ia menatap
mataku. Mulutnya membentuk huruf O.

“Bunda…ohhh mau keluar….,” katanya.

“Bunda keluar? keluar aja bunda,” kataku. “Papah masih belum.”

Bunda pun mengapit pinggangku erat-erat. Pantatnya bergetar, kuku-kukunya
menggaruk punggungku, ia memelukku erat seakan tak ingin melepaskanku. Kutunggu hingga
bunda merasakan rilex sejenak dan pegangannya melemah.

Kubalikkan tubuhnya, kini ia menungging di sofa. Aku kemudian menghujamkan
penisku ke vaginanya dari belakang. Bunda bertumpu pada pinggiran sofa. Ia
masih mengeluh ah dan uh…saat kusodok ia mengimbangiku dengan memaju
mundurkan pantatnya. Rongga kemaluannya menggesek setiap syaraf kemaluanku,
membuatku terbuai oleh ekstasi persetubuhan yang panas. Pantatnya yang montok
memberikan sensasi tersendiri kepada area pribadiku. Testisku berkali-kali
menghantam bibir vaginanya karena aku menyodoknya sampai dalam. Yang aku suka
dari ketiga keluargaku adalah vagina mereka benar-benar bisa meremas penisku.
Bunda juga demikian. Aku meremas-remas toketnya ketika menusuknya. Sesekali ku
remas juga bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Puas dengan doggy style, aku
lalu berbaring.

Kami berhadapan. Pahanya kuangkat, penisku masuk lagi. Vagina bunda udah
sangat becek. Dada kami berhimpitan, terasa debaran jantung kami. Bunda sudah
lelah, ia hanya bisa menerima panggutanku saja dan mendesis pelan. Aku
pelan-pelan menggesek kemaluanku keluar masuk. Sambil aku mantapkan tusukanku,
rasanya kepala penisku geli sekali.

“Don, bunda rasanya ngilu banget, belum keluar juga?” tanya bunda.

“Ini mau keluar bunda. Peluklah Doni. Peluk yang erat bunda,” kataku.

“Ohh…papah, keluarkan pejuh papa yang banyak yah buahin bunda,” katanya.

Pantatku kugoyangkan agak cepat, kepala penisku sudah gatal ingin menyemburkan
sperma. Makin cepat-makin cepat, bunda pun memelukku erat sekali, dan kami pun
orgasme bersamaan lagi. Bunda melingkarkan kakinya ke pinggulku, aku menghujam
penisku dalam-dalam sampai mentok, dan semburan demi semburan cairan kental
membasahi rahimnya.

“Ohh…bunda udah lama tidak merasakan ini. Enak….enak banget…,” katanya.

Orgasme itu serasa sangat lama, penisku benar-benar ngilu. Kubiarkan penisku di dalam
kemaluannya, hingga mengecil sendiri. Kami pun tertidur di sofa. Kelelahan.
Senggama yang hebat. Hari itu kami tak pernah habiskan waktu yang sia-sia.
Bercinta, bercinta dan bercinta. Berbagai gaya kami coba. Kami istirahat hanya
untuk makan, tidur dan mandi. Kemudian bercinta lagi. Empat hari yang tidak
sia-sia. Hampir tiap hari kami tidak pakai baju. Dan hampir tiap waktu kami
hanya bicara dengan sentuhan, rayuan dan cumbuan.

****

Keesokan harinya aku ke tempat Nur. Ia sangat kangen denganku. Ia juga senang
dengan buah hati kami dan setiap hari bermain dengannya. Aku menyewa seorang
pembantu yang membantunya di rumah. Kebetulan ia juga adalah tetanggaku
sendiri namanya Dian.

Dian ini orangnya imut. Rambutnya seleher. Bibirnya tipis. Suaminya bekerja
sebagai buruh pabrik dan ia ini pengantin baru. Entah bagaimana cepat sekali
ia akrab dengan Nur. Bahkan sering aku dengar mereka ketawa ketiwi sendiri
kalau sedang ngerumpi. Pekerjaan Dian juga telaten. Semua pekerjaannya rapi
dan bersih. Semuanya OK, tapi ada satu yang tidak. Apa itu? Pakaiannya itu
lho. Kalau bekerja di rumah, ia selalu pakai baju lengan pendek dengan
ketiaknya yang bisa dilihat. Bagian atasnya sangat longgar sehingga kalau ia
membungkuk aku bisa melihat toketnya yang menggantung dan kulitnya yang putih.
Ditambah ia pakai hotpants. Dan ia tidak risih.

Bisa jadi pakaiannya itu agar ia mudah untuk bekerja. Mungkin Dian tidak tahu
kalau aku selalu melihatnya ketika bekerja, dan pelampiasanku, tentu saja ke
Nur. Nur hanya mengira aku memang lagi kepengen karena lama tidak menyentuhnya
tapi sebenarnya bukan itu sih.

Satu atau dua kali kuanggap wajar, tapi karena sudah berkali-kali akhirnya aku
kepingin juga ngentotin dia. Tapi bagaimana caranya? Aku sudah membuang
kloroformku dulu. Dan tak mungkin pakai cara itu. Dan sebenarnya peristiwa ini
kebetulan saja sih. Kebetulan inilah yang membuat Dian akhirnya takluk juga.

Suami Dian yang buruh pabrik itu sering pergi jam 5 sore pulang jam 5 pagi.
Jadi malam hari ia sering tidak di rumah. Pagi hari sampai sore selalu di
rumah, sedangkan pagi sampai sore Dian bekerja di rumah kami. Karena frekuensi
jarang ketemu inilah yang membuat kebutuhan Dian akan urusan ranjang kurang.
Mereka jarang main, kecuali di hari minggu. Ini kuketahui nanti.

Di RT kami kebetulan pak RT-nya mengadakan inisiatif untuk mengadakan ronda.
Ronda ini selalu digilir oleh bapak-bapak kampung. Namun sekali pun tidak ada
jadwal boleh koq siapa saja ikutan. Pos rondanya agak jauh sih dari rumah
kami, ada di ujung jalan.

“Mah, papah mau ikutan ronda,” kataku.

“Lho, emang jadwalnya?” tanyanya.

“Hehehe, nggak sih kebetulan kepengen nonton bola bareng di pos ronda. Jadi ya
sekalian saja ikutan ama bapak-bapak di sini biar akrab,” alasanku.

Aku lalu melihat anakku yang sedang lucu-lucunya tampak bicara sendiri. Aku
lalu mengajaknya bicara sampai ketawa. Nur tampak senang sekali melihat polah
tingkahku yang bercanda dengan anakku.

“Udah ah pah, ntar malah ndak tidur-tidur dibecandain melulu,” kata Nur.

“Papah gemes banget ama pipinya ini lho,” aku lalu mencium anakku. “Apa sih
sayang? Ikut papah yuk, nonton bola di pos kamling. Hehehe, ketawa lagi.”

Nur lalu memelukku dan mencium pipiku. “Udah, berangkat sana!” Ia
mengusap-usap pipiku.

“Agak nanti aja, masih jam 9 koq,” kataku.

“Kalau ndak berangkat sekarang ntar malah ndak tidur-tidur Si Laila,” kata Nur
sedikit ngambek. “Dari tadi siang dibecandain melulu soalnya.”

Aku lalu bangkit dan mencium kening Nur. “Ya udah, berangkat dulu.” Aku
mengusap kepalanya.

“Pah, mamah cinta kamu,” kata Nur.

“Papah juga koq,” kami berpisah dengan berciuman bibir untuk sepuluh detik.
Aku selalu melakukannya kalau ingin pergi keluar rumah. Hal itu menambah
kemesraan kami. Dan pernah sih hal ini ketahuan ama Dian. Dan ia buru-buru
menyingkir.

Aku pun pergi keluar rumah. Di pos kamling aku bertemu dengan beberapa orang
bapak-bapak yang juga tidak ada jadwal ronda tapi ikutan ronda. Di perumahan
ini memang belum ada satpamnya, makanya kami mengambil inisiatif seperti ini.
Pertandingan bolanya sih jam 2 malam. Dan kami sudah mengobrol ngalor ngidul
sampai jam 12. Entah kenapa waktu itu udara dingin banget, sehingga aku lupa
bawa sarung. Mau pulang dulu ambil sarung.

“Awas pak Doni, nanti kalau udah pulang takutnya ndak bisa balik lagi. Hawanya
dingin banget,” kata salah satu bapak-bapak.

“Kayaknya sih begitu,” candaku. Kemudian disambung ketawa bapak-bapak yang
lain.

“Maklum pak, penganten baru ya seperti itu,” sahut yang lain.

Aku pun segera menuju rumahku. Perumahan ini benar-benar sepi kalau malam.
Ndak ada satu pun penjual makanan yang lewat. Aku kemudian sudah sampai di
rumah. Namun tampak tetanggaku Dian sedang ada di luar rumah membawa senter
dan menerangi sekering listriknya di luar rumah. Lampu rumahnya mati.

“Kenapa mbak?” tanyaku.

“Ini mas, listriknya mati, bingung nyalainnya gimana,” jawabnya. Ini mungkin
kesempatannya. Pikirku.

Agak tak jelas sih ia pakai baju apa, karena gelap.

“Boleh saya bantu?” tanyaku.

Ia diam sejenak. Mungkin berpikir panjang, karena aku bukan suaminya. Tapi
kemudian ia mempersilakan. Aku lalu meminta gunting dan obeng. Kulihat
kabel sekringnya putus. Kusuruh untuk mencabut seluruh peralatan listrik
kemudian aku mengambil kabel dan membetulkan listriknya. Setelah sekeringnya
aku betulkan di bawah sorot lampu senternya dan terus terang bau parfumnya
sangat menggoda, akhirnya listriknya bisa nyala lagi. Aku memperbaiki sekering
di dalam rumahnya, dan tentu saja karena hawanya dingin pintu tertutup.

“Makasih ya mas, malah merepotkan,” katanya.

“Oh tidak masalah,” jawabku. Dan saat itulah aku terkejut karena tiba-tiba
tvnya nyala dan kulihat tampak ada adegan bokep. Rupanya ia lupa mencabut
saklar tv dan DVD-nya. Walaupun tidak bersuara otomatis kami berdua tahulah
film apa itu yang sedang diputar. Wajah Dian memerah, ditambah lagi di meja
aku menemukan sesuatu yang mirip penis. Dildo!?

Dian yang memakai sarung itu buru-buru mematikan dan mengambil dildonya lalu
masuk ke kamar. Aku tersenyum aja. Barangkali ia sedang mastrubasi sambil
nonton film itu kemudian lampunya mati.

Tak berapa lama kemudian ia keluar kamarnya. Wajahnya memerah, ia sepertinya
malu sekali. “Yang tadi maaf ya mas.”

“Tidak mengapa aku tahu koq kebutuhan wanita itu seperti apa,” kataku.

“Maklum, Mas Joko sering keluar malam, jadinya ya ini satu-satunya pelampiasan
kalau sedang sendiri,” katanya sambil sedikit tertawa kecil.

“Tadi sudah tuntas belum?” candaku.

Dian bingung menjawab, lalu ia menggeleng.

“Trus kalau belum apa yang dilakukan habis ini? Melanjutkan?” tanyaku.

Ia mengangguk, sebentar kemudian menggeleng, sebentar mengangguk lagi. Ini
kesempatan bagiku, setan sudah menguasai otakku. Aku lalu mendekat dan
memeluknya, ia kaget dan menatap wajahku.

“Mas, jangan mas. Bagaimana dengan mbak Nur?” tanyanya.

“Kamu mau dituntaskan tidak?” tanyaku. “Ndak enak kalau main sendiri.”

“Tapi mas, a..aa..ku…,” ia kaget ketika aku mencium keningnya. Kemudian
pipi, hidung dan bibirnya. Kami berciuman hot. Awalnya ia diam, lama kelamaan
ia memanggut juga. Ia menghisap mulutku dan ia sangat panas mainnya. Ia sangat
ahli dalam frenchkiss. Aku pun meraba dadanya yang ternyata tak memakai bra,
aku bisa merasakan putingnya mengeras.

Sarungnya aku lepaskan hingga jatuh ke lantai. Ia pun menarik kaosku ke atas
dan menciumi dadaku yang bidang. Ia mengusap-usap dadaku dan menciumi dadaku
hingga ke perut, lalu ia buka celanaku. Burungku langsung melompat keluar saat
ia menurunkan celana dan CD-ku. Ia berhenti sejenak.

“Pantas mbak Nur suka sama mas, ininya gedhe banget, aku sudah horni banget
mas, maaf ya mbak Nur,” kata Dian. Ia pun melahap penisku, dikulum dan
disedot. Dimainkan kepala penisku. Mendapat perlakuan ini aku pun memegangi
kepalanya dan memaju mundurkan penisku. Dian sangat ahli sekali.

Tidak butuh waktu lama untukku bisa menarik bajunya ke atas, ia sekarang sudah
tak memakai baju lagi. kepalanya maju mundur sambil melirik ke arahku yang
mengamatinya. Ia bahkan terkadang melakukan deep throat. Yang membuatku makin
melayang. Setelah aku beri kode ia untuk berbaring di sofa ia pun menghentikan
oralnya. Ia menarikku kemudian terjadilah pergumulan di sofa. Aku memastikan
kalau dadanya ukurannya hampir sama seperti Nur, tapi lebih kecil sedikit
dengan puting yang sudah mengeras seperti kacang berwarna coklat.

“Ohh…mas…puasin aku mas,” katanya.

Tanpa dikomando aku sudah menyusu kepadanya. Menghisap dan memainkan puting
susunya sambil meremasnya bergantian. Dian menggelinjang dan memeluk leherku.
Tanganku yang lain sudah mengobok-obok vaginanya. Kuusap-usap bibir memeknya,
lalu jari tanganku leluasa masuk ke dalam lubangnya yang udah basah, sisa-sia
mastrubasinya tadi.

“Ohhh…mass…baru kali ini ada jemari lelaki lain masuk di sana,” katanya.

Aku gesek-gesek sambil kumainkan buah dadanya yang berwarna putih itu.
Kemudian aku naik ke lehernya, lalu menyusuri pipi dan kugigiti telinganya.
Hal itu membuatnya makin terangsang ia pun mengigiti telingaku. Aku lalu ke
bawah, dan kuciumi perutnya, selakangannya, pahanya, kemudian kulahap juga itu
bibir memeknya yang berwarna pink kecoklatan.

“Ahhkk…enak mas, enak…ahhkk terus..!!” katanya. Kuhisap dan kuemuti bibir
memeknya, lalu lidahku menyapu sampai ke ujungnya dan kutemukan daging
menonjol. Klitorisnya itu bisa kurasakan dengan lidahku, ujung lidahku
merasakan asinnya lendir kewanitaannya yang terus memancar setiap kali aku
mengusap-usap klitorisnya. Pantat Dian terangkat dan ia terus-menerus
mendesis.

“Udah mas, udah…Dian mau keluar…mau keluar…jangan digituin…geli…geli
mas…udahh…aduuuuhh….pipis deh…mas nakaaal..memek dian basah
deh….aaaahkk!” Dian menggelinjang hebat dan mengangkat pantatnya
tinggi-tinggi. Aku biarkan ia sejenak.

Dian meringkuk seperti bayi. Sesekali pantatnya maju mundur sendiri. Ia
seperti ulat kesetrum. Matanya memejam erat, bibir bawahnya digigit dan
tangannya memeluk lututnya. Aku siapkan senjataku sekarang.

Ia tak kuijinkan berlama-lama menikmati orgasmenya. Aku lalu mengatur posisi.
Lututnya aku angkat sampai ke pundaknya, buah dadanya aku atur hingga ia
seperti menjepit dadanya sendiri. Dengan begitu memeknya terlihat jelas. Aku
bertumpu pada lututku, kemudian penisku cukup aku tekan sedikit dan masuk
begitu saja. Tapi…ada sesuatu yang aneh. Di dalam sana penisku seperti
merobek sesuatu. BRETT…!!

Mata Dian terbelalak. Ia menatapku agak berkaca-kaca, mulutnya ternganga. Ia
melingkarkan tangannya ke leherku.

“Mass…perih…,” katanya.

“Lho, kamu masih gadis?” tanyaku.

“Tidaklah mas, sudah dipake koq,” jawabku.

“Lha trus ini?” tanyaku.

“Aku tidak tahu, mas Joko penisnya kecil, ndak sampe penuh masuknya. Aku juga
kaget lihat penis mas segitu, ndak tau tapi aku kerasa perih,” jawabnya.

Mungkinkah penis suaminya ndak sampai merobek selaput daranya? Kalau iya, ini
rejeki yang langka. Aku lalu menggoyangnya pelan-pelan. Tarik, tekan, tarik,
tekan. Biar ia tak terlalu sakit dulu.

“Yang cepat aja mas, ndak apa-apa!” kata Dian.

Aku pun mengikutinya. Kupompa agak cepat. Dian pun bereaksi. Ia mengeluh,
menggelinjang. Matanya terpejam, bibirnya menggairahkan sekali, berkali-kali
aku menghisapnya. Wajahnya meringis seperti kesakitan padahal ia terasa
nikmat. Memeknya benar-benar meremas-remasku dan menyedot-nyedot seperti
vakum. Sepertinya Dian ini benar-benar masih gadis, aku tak peduli. Hal ini
membuatku makin kepingin cepat keluar saja.

“Dian…keluar nih,” kataku.

“He-eh mas, keluarin aja…barengan yuk,” katanya.

“Ohh…Dian…kamu sexy sekali, mas kepengen ngentotin kamu
terus…keluar..kkellluuuaaarr!!” aku menjerit.

Dian pun menjerit, “Maasss….aaahhkk!”

Spermaku pun tumpah di rahimnya. Ia memelukku erat untuk beberapa saat hingga
kemudian ia lemas. Aku lalu menarik penisku. Saat itulah aku melihat sesuatu
yang aneh. Cairan sperma yang meleleh dari lubang memeknya bercampur bercak
darah. Ia beneran masih gadis ternyata. Lha trus? Sebesar apa sih penis
suaminya sampai ndak bisa menjebol milik istrinya sendiri??

Untuk beberapa saat kami terdiam. Dian sedang menikmati multiple orgasmenya.
Tampak wajah kepuasan terpancar dari wajahnya.

“Mas, makasih ya, udah nemenin aku malam ini,” katanya. Ia pun kemudian
bangkit dan melihat bercak darah bercampur sperma di sofanya. Diambilnya
tissue lalu dibersihkannya noda itu.

“Koq bisa kamu masih perawan?” tanyaku.

Ia kemudian memelukku sambil bercerita. Ceritanya sih ia dan suaminya sudah
pacaran lama. Dan setelah menikah ia baru tahu kalau penis suaminya kecil.
Meskipun kecil, mereka pun bisa koq terpuasi di ranjang. Malam pengantin
mereka lewati seperti layaknya suami istri. Memang awalnya sakit banget ketika
penis suaminya masuk. Tapi tidak seperti teman-teman wanitanya yang bercerita
kalau malam pengantin itu sakit ketika selaput daranya robek. Namun robeknya
seperti apa Dian tidak tahu. Yang jelas awal dimasuki memang perih, setelah
itu ia terbiasa. Namun entah kenapa ketika baru saja melakukan denganku
rasanya perih banget sampai merasa ada yang robek. Aku menduga suaminya memang
tidak pernah merobek selaput daranya. Ketika ia memberitahu ukuran penis
suaminya aku pun terkejut. Sangat kecil, seperti penisnya anak kecil.

Dian memang heran karena ketika ia lihat bokep sendiri bule-bule punya penis
besar. Awalnya ia tak protes, karena mungkin rata-rata orang Indonesia sama
bule berbeda. Tapi ia baru sadar ketika melihat penisku ternyata punya
suaminya jauh lebih kecil. Ia pun bercerita karena suaminya jarang dirumah ia
seperti jablay.

“Oh begitu ceritanya, kenapa ndak dibawa ke dokter aja tuh, biar penis suamimu
gedhe?” tanyaku.

“Orangnya kolot mas, ia biasa-biasa saja punya penis sebesar itu. Seperti ndak
ada beban,” katanya. Dian kemudian memain-mainkan penisku. “Aku jadi ketagihan
ama punyamu mas, gimana nih?”

Ia mengusap-usap kepala penisku dengan telunjuknya. Penisku otomatis berdiri
lagi.

“Kalau mau, tiap ada kesempatan boleh koq,” jawabku.

“Maaf ya mbak Nur, tapi penis suamimu emang menggoda, mmuuuacchh…,” ia
mencium penisku.

Aku remas dadanya lagi. Kami berpanggutan. Libido kami naik lagi. Kali ini
Dian jongkok di atas tubuhku. Ia duduk di atas penisku. Sengaja tak
dimasukkan, hanya digesek-gesek. Sepertinya ia sedang mengujiku.

“Enak mas, kalau diginikan?” tanyanya.

Aku yang bersandar disofa ini segera menyusu kepadanya. Kuremas-remas
pantatnya dan tanganku satunya mengarahkan penisku ke lubang memeknya. Dan
SLEB….

“Aww…aww..mass…ohh…,” keluhnya.

Pantat Dian naik turun memompa penisku. Aku tahu pada posisi ini wanita lebih
cepat keluarnya. Aku tetap sabar untuk bisa memberikan kepuasan kepadanya.
Buah dadanya naik turun, kadang-kadang menampar-nampar bibirku. Aku jadi gemas
sehingga memencet dan menghisap puting susunya dengan mulutku. Ia kelonjotan
dan makin beringas. Tak hanya naik turun, ia juga memutar-mutar pantatnya.

“Mas, koq cepet keluar ya? Aduh…udah mau keluar lagi….aahhhhkk,” Dian
menghentikan aktivitasnya. Ia benamkan penisku dalam-dalam ke rahimnya. Ia
memelukku erat seperti orgasmenya tadi. Perlahan-lahan aku mencabut senjataku.
Kubimbing Dian untuk menungging di sofa. Ia mengerti apa yang aku inginkan.
Aku berdiri dan pantatnya diangkat. Kubuka kakiku untuk menyesuaikan
tingginya. Lalu kuarahkan pionku menuju sarangnya. Dengan satu sentakan ia
mengeluh dan menengadahkan kepalanya.

Pantatnya kusodok berkali-kali. Sensasinya nikmat sekali. Sesekali aku meremas
toketnya yang bergerak naik turun seiring goyanganku itu. Rambut Dian sudah
awut-awutan. Tangannya bertumpu kepada sofa, sesekali sofa di ruang tamu itu
terdorong karena hentakanku.

“Mas, mentok mas, penis mas kerasa penuh,” katanya.

“Memekmu juga, rasanya enak,” kataku.

“Aduhhh…enak mas, mas…ahhh….ohh.”

Aku percepat goyanganku. PLOK PLOK PLOK PLOK, suara pantat Dian beradu dengan
selakanganku. Kepalanya menggeleng-geleng, ia tampak merasakan nikmat yang
luar biasa.

“Mas…Dian mau keluar lagi,” katanya. “Aduuh….enak mas..masss…udah
mas..Dian ndak kuat…Dian…keluar lagi.”

Aku pun begitu, kurasa penisku udah siap menyemburkan laharnya lagi. Dan
benarlah. Kupercepat goyanganku, “Aku juga nih…mau keluar lagi.”

Aku lalu menarik kedua lengannya ke belakang dan pantatnya aku goyang. Makin
lama makin cepat dan keluarlah laharku. Dian pun menangkat wajahnya ke atas.
Ia mendongak dan matanya memutih. Penisku seperti disiram cairan hangat. Ia
sudah orgasme. Kami berbarengan, ia kemudian ambruk, penisku langsung keluar
begitu saja ketika ia ambruk ke atas sofa. Tampak leleran lendir panjang
terbentuk ketika kedua kelamin kami berpisah. Beberapa cairan spermaku
sisa-sisanya masih menetes dan jatuh di atas pantatnya. Aku juga lemes banget.

“Mas hebat, pantas mbak Nur sayang banget ama mas,” katanya.

Aku melihat jam dinding, sudah jam 2 pagi. Berarti kami cukup lama bercinta.

“Boleh nih, pinjam kamar mandinya dulu,” kataku.

Ia mengiyakan. Aku lalu membersihkan diriku. Biar ndak disangka macam-macam
kalau balik ke pos ronda. Setelah itu aku keluar kamar mandi tampak Dian sudah
berpakaian dan membersikan sisa-sisa sperma yang tumpah ke sofa. Ia juga
menyemprotkan wewangian biar ndak ketahuan suaminya kalau ada sperma tumpah di
situ.

“Udah ya, mau balik,” kataku. “Ntar bapak-bapak curiga malahan.”

“Iya, mas. Makasih ya,” katanya. “Kalau boleh, mas main lagi ya? Tapi jangan
sampai mas Joko tahu.”

“Iya deh, bisa diatur,” kataku. Aku pun mencium bibirnya sebelum keluar
rumahnya.

Setelah itu aku pulang sebentar mengambil jaket dan sarung. Nur tampak
tertidur sambil menjaga anakku. Aku mencium keningnya sebentar.

“Koq udah pulang mas?” tanya Nur tak curiga.

“Ngambil jaket dan sarung. Dingin banget soalnya,” kataku.

“Ohh…ya udah,” katanya.

Sekembalinya ke pos ronda, bapak-bapak meledekku lagi. “Nah iya kan, lama
banget baliknya.”

Kami pun akhirnya nonton bareng sampe subuh. Lalu kembali ke rumah
masing-masing. Pagi itu aku tidur sampe siang. Untungnya istriku pengertian
banget karena mengira aku memang beneran nonton bareng ama bapak-bapak. Di
kamar aku terkapar karena kelelahan habis main sama Dian. Aku tahu paginya
Dian sudah ke rumahku untuk membantu-bantu istriku. Hanya saja, siangnya ada
sesuatu yang aneh.

Penisku geli banget. Seperti ada sesuatu yang menggelitikinya. Aku kira itu
Nur. Mataku masih terpejam. Mungkin Nur sudah kangen karena beberapa waktu ini
kita memang tidak main. Semenjak setelah nifasnya selesai lebih tepatnya. Aku
biarkan saja. Penisku dikocok-kocok, lalu setelah itu diemut. Diputar-putarnya
kepala penisku dengan lidah. Setelah itu testisku disedot-sedot. Kemudian
dijilatlah dari pangkal hingga ujung. Kemudian batangnya disedot dan diciumi.
Setelah itu dimasukkan ke mulutnya hingga mentok. Aku bisa merasakan itu dari
nafas hidungnya yang hampir menyentuh perutku. Aku jadi bingung, Nur ndak
mungkin melakukan ini, sebab mulutnya terlalu kecil dan ia tak pernah
melakukan deep throat kecuali…..

Mataku lalu terbuka, aku melihat Dian tampak mengoral penisku.

“Dian?” aku terkejut.

“Udah bangun mas? Enak nda?” tanyanya.

“I…iya, Nur dimana?” tanyaku.

“Dia sedang ke puskesmas, imunisasi katanya. Takut bangunin mas jadi dia pergi
sendiri,” katanya.

“Lha trus kamu? Nanti ketahuan lho,” kataku.

“Nggaklah, mas. Aku tahu koq sudah kuatur. Aku kangen ini soalnya,” katanya
sambil mengocok penisku.

“Tapi…,”

“Udah, deh. Pake toket aja ya?” katanya.

Ia lalu membuka bajunya, kemudian branya, tampaknya buah dadanya menggantung
bebas. Ia lalu berbaring di atas kakiku dan memposisikan penisku dijepit oleh
bukit kembarnya. Ouuhh…nikmat. Penisku dipijat-pijat, ia sesekali menghisap
dan menciumnya. Penisku makin tegang dan mau muncrat.

“Dian, udah aku mau keluar…ooouuuhhhh….!!” aku menjerit tertahan. Dian
malahan mempercepat kocokan toketnya. Maka menyemburlah air maniku. Tumpah
semuanya di dada dan sebagian ke lehernya. Ia tertawa menyaksikan ini.

Setelah penisku lemas ia meratakan spermaku di dadanya. Kemudian ia menghisap
penisku dan menjilati sisa-sisa spermanya. Penisku ngilu banget.

“Udah ya,hihihi,” ia cekikikan lalu meninggalkanku yang ngerasain penis ngilu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*