Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 5

Anak Nakal 5

Cerita Sebelumnya : Anak nakal 4

BAB 5

MBAK JUNI

Kembali ke masa sekarang. Ketika usaha kami sudah menjadi waralaba. Mbak Juni
yang selama ini membantu kami pun jabatannya menjadi manajer yang mengelola
waralaba. Seiring besarnya toko kami, maka kehidupan mbak Juni pun mulai
berubah. Ia boleh dibilang sekarang jadi orang berduit dan sangat loyal kepada
kami. Ia jugalah yang mengawal kesuksesan keluarga kami hingga sekarang
waralaba kami sudah ada seratus toko tersebar di seluruh daerah.

Kabar gembira adalah ketika Nuraini hamil, kami sekeluarga sangat senang.
Bahkan bunda sangat mewanti-wanti agar Nur jangan banyak pekerjaan yang
melelahkan. Nuraini tahun ini lulus SMA, setelah kami melakukan hubungan ini
akhirnya ia hamil juga. Mungkin karena ia banyak kegiatanlah yang membuat
Nuraini tidak hamil-hamil walaupun frekuensi hubungan intimku dengan Nur lebih
banyak daripada bunda dan Kak Vidia. Sebab Kak Vidia masih sibuk dengan
kuliahnya dan sekarang sedang mempersiapkan skripsi. Dan bunda juga sibuk
dengan urusan tokonya, sehingga jatah mereka diberikan kepada Nuraini. Dan
alhasil Nuraini sekarang hamil tiga bulan.

Aku makin sayang dengan keluargaku. Aku pun sekarang berusaha tidak mengganggu
kehamilan Nur, bisa fatal kan kalau misalnya kehamilannya terganggu. Dan
karena ketiganya tak bisa aku ganggu, akibatnya aku kentang banget selama dua
bulan ini. Bingung melakukan pelampiasan. Kak Vidia menolakku dengan halus
ketika aku sedang kepingin. Ia sedang konsen skripsi dan itu sangat
melelahkan, bunda juga demikian, bertemu dengan banyak investor, distributor
dan berbagai macam orang.

Aku juga mengurus toko sih. Menandatangani surat-surat, memeriksa stok,
menghitung faktur dan macem-macem. Dan di kantor pusat yang ada di toko utama
kami aku selalu bertemu dengan mbak Juni. Toko utama kami berdempetan dengan
rumah. Sudah banyak renovasi di sana-sini. Kami juga sudah punya banyak
pegawai. Toko buka tutup sudah ada yang mengurus. Sedangkan aku dan Mbak Juni
mengurusi hal-hal yang lain. Setiap malam manajer toko selalu memberikan data
penjualan hari itu, lalu paginya aku yang mengecek dan aku beri ACC.

Mbak Juni beda ruangan denganku. Tapi aku setiap hari selalu melihatnya. Masih
ingat dong pertama kali ia kerja di toko kami. Ia biasanya pakai T-Shirt dan
jeans. Sekarang setelah jabatannya sudah tinggi dan menjadi orang kepercayaan
kami, ia pakai blazer dan rok. Seperti pekerja kantoran.

Aku ada di kantor sampai malam. Beberapa kali Nur menelponku.

“Kak, kapan pulang? Udah malem nih, Nur sendirian di rumah,” kata Nur di
telepon. Padahal rumah sama kantor itu ya tinggal jalan saja sih. Karena letak
rumah kami ada di belakang toko. Sedangkan kantornya ada di depan toko.

“Iya, sebentar lagi,” kataku. “Masih banyak data yang harus diaudit, bunda
soalnya masih keluar kota.”

“Biar mbak Juni saja yang beresin,” katanya.

“Ndak bisa dong, bagiannya beda, tidur saja dulu. Udah malem ini,” kataku.

“Kepengen dipeluk,” katanya.

“Iya nanti aku peluk dan cium deh,” kataku.

“Janji ya?” katanya.

“Iya, janji,” kataku.

“MMuuacchh suamiku, cepetan ya,” katanya.

Aku balas, “Muuacchh.”

Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku, dan semuanya baru selesai pukul 23.00.
Aku melihat mbak Juni masih mengetik. Aku pun kemudian bangkit dan
menghampirinya di ruangannya yang hanya terpisah dengan kaca.

“Belum pulang mbak? Pulang aja udah malem lho. Nanti anaknya mencari-cari,”
kataku.

“Ndak apa-apa mas, udah dijaga ama neneknya koq. Tadi juga udah bilang mungkin
baru balik jam dua belas malem. Tapi kayaknya sampe pagi. Mumpung besok libur
sih,” katanya.

“Ngurusin apa sih? Masih soal pajak?” tanyaku.

“Iya nih mas, petugas pajak soalnya agak ruwet. Terlebih sekarang ada masalah
waralaba juga. Tambah ruwet lagi deh. Kukelarin agar besok senin tinggal lapor
ke dinas pajak,” katanya.

Aku berdiri di belakangnya dan melihat layar monitornya. Tampak ia menyusun
file-file excel kemudian mencatat angka-angka. Aku memegang pundaknya dan
menepuknya.

“Oke deh, aku tinggal dulu kalau begitu,” kataku. “Sendirian saja berani kan?”

“Kaya’ anak kecil aja mas, berani dong,” katanya.

Aku kemudian beranjak dari tempat itu dan meninggalkan mbak Juni sendirian.
Aku keluar kantor dan pergi ke rumah. Aku kemudian masuk rumah, ke kamar
mandi, membersihkan diri dan masuk ke kamar adikku. Ia tampak sudah tertidur.
Wajahnya makin cantik saja kalau hamil. Aku cium perutnya, lalu keningnya,
setelah itu aku masuk ke selimutnya. Kupeluk dia. Nur terbangun.

“Kakak? hmm,” kami berciuman lalu tertidur. Aku memeluknya.

Jam 03:00 aku dikejutkan dengan suara ponsel. Aku kemudian mengangkatnya.

“Mas, aku kaya’nya kehilangan kunci deh,” kata suara di telepon. Karena masih
mengantuk, aku bingung suara siapa ini. Kemudian aku baru ingat setelah
melihat nomor teleponnya. Nomor kantor. mbak Juni?

“Kunci apa mbak?” tanyaku.

“Maaf ya kalau ganggu mas, kunci kantor. Tadi sepertinya sudah ada di tas,
tapi koq ndak ada, maaf mas kalau malam-malam ganggu,” katanya.

“Ya udah, aku ke sana deh, tunggu ya!” kataku.

“Iya mas, maaf ganggu waktu istirahat,” katanya.

“Tidak apa-apa koq,” kataku.

“Siapa kak?” tanya Nur.

“Mbak Juni, kuncinya hilang. Kakak ke kantor dulu ya,” kataku.

“Belum pulang mbak Juninya?” tanya Nur.

“Belum, masih ngurusin pajak katanya tadi, ini mau pulang sepertinya,” kataku.
“Biasanya yang ngurusin pajak bunda, tapi karena bunda ndak ada pekerjaannya
jadi dobel.”

“Oh begitu, yaudah deh. Kalau ia mengantuk suruh tidur di kamar tamu aja kak,
kasihan kalau jam segini pulang. Jalanan sepi,” kata Nur.

“Itukan terserah orangnya,” kataku. Aku kecup kening Nur lalu meninggalkannya
sambil membawa kunci kantor.

Dingin banget malam ini. Aku berjalan sambil mendekap tubuhku sendiri, sampai
kemudian aku melihat mbak Juni ada di depan kantor.

“Maaf ya mas, mengganggu,” katanya.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Aku kemudian mengunci kantor.

“Nanti aku cari lagi deh kuncinya,” kata mbak Juni.

“Nanti biar aku urus, mungkin lupa kamunya. Oh iya mbak, udah malem nih,
nginep sini aja!” kataku.

“Ndak ah mas, ntar dicari orang rumah,” katanya.

“Katanya sudah sama neneknya anaknya?”

“Iya, cuma kan ya ndak enak juga belum ijin.”

“Mbak sudah ngantuk kan? Mendingan nginep di rumah aja, kalau keadaan ngantuk
begini nyetir mobil bahaya,” kataku.

“Aku ndak punya mobil mas,” kata mbak Juni.

“Oh iya, lupa. Kamu pakai sepeda motor,” kataku. “Ya udah, nginep ajalah.
Nggak apa-apa koq. Aku ijinin. Emang ini resiko kalau pekerjaan dobel.”

Mbak Juni agak ragu dan bingung.

“Atau telepon dulu deh rumahnya, biar ndak ada yang khawatir,” kataku.

Akhirnya mbak Juni menelpon rumah. Ibunya akhirnya mengijinkan setelah bicara
agak lama.

“Oke deh mas,” katanya.

“Nah, begitu. Yuk,” ajakku.

Kami kemudian masuk ke rumahku. Aku kemudian menunjukkan kamar tamu. Di dalam
rumah hangat tidak seperti di luar.

“Ini kamar tamu, kalau ingin mandi dan bersih-bersih di dalam sudah ada kamar
mandi, langsung aja pakai. Kalau butuh apa-apa, aku ada di kamar atas, tinggal
ketuk pintu atau panggil saja,” kataku.

“Makasih mas,” katanya.

Aku sebenarnya sudah lama tak melakukan ini yaitu mengerjai orang lain. Pakai
kamera pengintai. Untungnya aku membawa gantungan kunci itu. Ketika aku
menunjukkan kamar mandi aku menaruhnya di tempat yang sangat strategis. Mbak
Juni tak menyadarinya bahwa aku sudah siap merekam. Entah kenapa aku jadi
penasaran dengan mbak Juni.

Setelah itu aku tinggalkan dia dan masuk ke kamar adikku. Aku pun tertidur.

***

Pagi hari aku bangun lebih dulu, mandi, olahraga dan membantu Nur dan Kak
Vidia memasak di dapur.

“Minggu ini liburan kemana?” tanyaku kepada keduanya.

“Mau di rumah aja ah kak,” kata Nur.

“Tumben, biasanya kamu semangat kalau diajak keluar,” kata kak Vidia.

“Entahlah, kali ini rasanya males buat ngapa-ngapain,” kata Nur.

“Bawaan oroknya kali,” kataku.

Kak Vidia mengelus-elus perut Nur, “Kakak jadi iri deh.”

“Selesaikan dulu itu skripsi baru mikir ini,” kata Nur sambil menunjukkan
perutnya.

“Huu,…kamu aja belum lulus sudah isi,” kata Kak Vidia. “Don, pokoknya kalau
skripsi sudah selesai kakak bakal ambil jatahnya Nur.”

“Iya iya, kakakku yang manis,” aku mencubit pantatnya. Ia memukul tanganku.

Kami tertawa.

“Oh iya, mbak Juni mana?” tanya Nur.

“Belum bangun kayaknya,” jawabku. “Aku cek dulu deh.”

Aku akhirnya pergi ke kamarnya. Kuketuk pintunya, tak ada jawaban. Mungkin ia
masih tidur. Kupanggil-panggil, “Mbak?!” tak ada jawaban. Aku pun iseng sambil
tolah-toleh ke dapur kalau-kalau saudari-saudariku datang. Aku buka pintu
kamar yang tidak terkunci itu.

Aku pun membuka sedikit pintunya. Saat itulah betapa terkejutnya aku.
Pemandangan ini tak pernah aku sangka sebelumnya. Di hadapanku ada mbak Juni
dengan vaginanya yang berbulu itu terekspos. Ia membuka pahanya dan ada tangan
kirinya menyentuh vaginanya. Apa ia baru saja mastrubasi? Dan penisku pun
langsung tegang. Siapa yang tak tegang menyaksikan pemandangan indah ini? Aku
pun punya ide. Aku tutup kembali kamar itu lalu ke kamarku, kubongkar tempat
simpanan kloroformku. Kuambil sapu tangan dan kutuangkan disitu sedikit,
sesuai dosis yang kupakai ke bunda dulu.

Setelah itu aku simpan di saku celana. Aku pergi ke dapur untuk membuat
alasan.

“Mbak Juni belum bangun-bangun, dikunci pula kamarnya, tapi kayaknya ia sedang
tidur, maklum pagi-pagi sekali ia baru tidur,” kataku. “Aku mau olahraga
dulu.”

“Oh, baiklah, habis olahraga sarapan ya kak,” kata Nur.

“Iya dong,” kataku. Aku mencium pipi Nur, lalu Kak Vidia. Setelah itu aku
meninggalkan mereka. Aku kemudian buru-buru ke kamar tamu.

Setelah itu aku kunci kamar itu, kupersiapkan sapu tangan berkloroform.
Daan…kubekap mbak Juni. Ia memberontak sedikit, tapi kemudian ia lemas.
Yes…

Aku tak menduga kalau tubuh mbak Juni seindah ini. Ia cuma pakai bra saja
tidurnya. Aku lalu melepaskan kaitan branya. Buseet, toketnya gedhe juga.
Mirip ama toket bunda. Karena aku sudah bernafsu, segera aku hisapi toket itu.
Saking bernafsunya aku tak peduli lagi siapa mbak Juni. Aku sudah tak tahan
lagi, langsunglah aku masukkan penisku ke tempatnya. Pelan-pelan kudorong dan
bless, licin sekali. Mungkin karena mastrubasinya tadi. Aku goyang pinggangku.

Aneh, ia sudah punya anak, tapi masih seret juga ini memeknya. Walaupun
berbulu dan punyaku gundul, tapi rasanya ada sensasi tersendiri. kupeluk tubuh
telanjang mbak Juni kuhisap bibirnya.

“Ohh…mbak,…enak banget,” bisikku.

Aku mungkin karena sudah lama tidak main, karena sangat bersemangat apalagi
ini memek baru, rasanya baru. Tubuh mbak Juni aku gerayangi, kuciumi lehernya,
pundaknya, sambil pantatku maju mundur menusuk-nusuk vaginanya
sedalam-dalamnya. Kemudian aku cabut punyaku, kubalikkan tubuhnya. Kuangkat
pantatnya sedikit kuposisikan penisku ke sarangnya, lalu blesss…aku pompa
lagi. Pantatnya membiusku, membuat suara yang aneh di dalam kamar ini.

“Mbak, pantat mbak enak lho, kalau aku sampe ngecret gimana?” kataku.

Sial aku ndak kuat lagi, sebelum keluar aku cabut dulu punyaku. Kuatur
nafasku, penisku pun tak jadi merasa gatal ingin muncrat. Aku balikkan lagi
tubuhnya. Kuangkat kakinya dan kutekuk, kemudian aku sedikit berlutut,
kumasukkan lagi burungku. Ohh…enak dan hangat vaginanya. Aku goyang hingga
terasa lagi penisku mau meledak.

“Mbaak….kukeluarin yah….keluar..ke…lu… aaaarr!” aku tekan dalam-dalam
penisku hingga mentok. Sperma hangat langsung meluncur deras dari testisku.
Membasahi dinding rahimnya, luar biasa. Nikmat sekali, aku lalu ciumi bibir
mbak juni. Setelah itu aku terkulai di sebelahnya.

***

Aku lalu terbangun, mbak Juni menggeliyat, dan ia terkejut ketika melihatku
ada di sebelahnya tanpa busana. Kami berdua tanpa busana. Aku ternyata
tertidur beberapa lama di kamarnya, hingga tak tahu pengaruh obat bius itu
sudah habis dan mbak Juni terbangun.

“Mas Doni? Apa yang mas…?” Mbak Juni melihat ke vaginanya ada cairan puti
spermaku meleleh di sana. Aku langsung menutup mulutnya.

“Ssshhh….aku bisa jelaskan asal jangan teriak. OK?” kataku.

Matanya tampak berkaca-kaca. Ia mengangguk. Aku lalu melepaskan tanganku yang
menutup mulutnya.

“Apa yang mas lakuin? Kenapa? kenapa?” tanyanya.

“Maafkan aku, aku khilaf. Sebab tadi ketika aku bangunin mbak Juni, ternyata
mbak Juni habis mastrubasi. Melihat mbak seperti itu aku jadi tergoda dan
melakukannya,” kataku.

Kami pun diam. Mbak Juni menghapus air matanya lalu menghempaskan diri ke atas
ranjang. Ia mendesah panjang.

“Mbak juga salah mas, harusnya mbak ndak begini. Ini semua karena mbak sudah
lama sekali tidak melakukan ini, selama ini yang jadi pelampiasan ya cuma
mastrubasi,” katanya. “Maafin mbak ya.”

Aku menggeleng. “Mbak masih cantik pasti banyak yang suka.”

“Ah tidak juga, ketika ada pria yang mendekatiku aku selalu bilang aku sudah
tidak perawan lagi, karena sudah punya anak. Dan kebanyakan dari mereka mundur
teratur,” katanya.

“Tidak mbak, punya mbak masih seret koq, masih enak,” kataku.

“Jangan menghiburku yang tidak-tidak mas,” katanya.

“Laah, kalau tidak mana mungkin aku tadi melakukan itu ke mbak?” tanyaku.

Mbak Juni menoleh ke arahku. Aku lalu sambut dengan ciuman di bibir. Mbak Juni
terkejut. Kami berpanggutan, matanya terpejam, merasakan lidah lelaki lain
yang bukan suaminya setelah lama ia tak pernah merasakannya. Lidahku
menari-nari di mulutnya, menghisap, mencampurkan ludah, lalu saling menghisap
lagi. Tangannya lalu menyentuh penisku. Ia tampak kaget, ciuman kami berhenti.

“Mas, ini punya mas? Besar banget?” pujinya. Ia lalu mengocok pelan.

“Emang punya suamimu seberapa?” tanyaku.

“Punya suamiku sih separuh ini,” jawabnya jujur. Ia tiba-tiba berada di atas.
Kemudian ia posisikan penisku berada di mulut vaginanya. Ia lalu menekannya
sehingga penisku meluncur masuk ke dalam vaginanya. Meskipun begitu lancar
masuk,terasa vaginanya dengan erat mencengkram penisku.

“Ohhh….mbakk…” kataku.

“Masuk mas, oohh…penuh rasanya. HHmmmmhh…,” keluhnya. Ia pun menggoyangnya
maju mundur sambil sesekali mengangkat pantatnya. “Mass….enak mass…”

Posisi WOT ini sangat menggairahkan. Mbak Juni menggoyang-goyangkan kepalanya,
aku memegangi toketnya yang menggantung indah itu. Pantatku pun ikut aku
goyangkan agar menambahkan rasa nikmat. Mbak Juni ini mirip banget seperti
bintang film porno yang aku lihat. Ia meliuk-liukkan kepalanya seolah-olah
menikmati rasa gesekan kelamin kami. Tapi ia cukup tenang, tak berisik, selalu
mendesis seperti ular ketika penisku menggesek rongga vaginanya. Sementara itu
kemaluan kami telah benar-benar becek dengan pelumasnya.

“Mbakk….punyaku diapain itu?” bisikku.

“Ini namanya empot-empot mas, enak ya?? ohhh…” katanya. “Punya mas penuh
banget, mbak Juni jadi nagih nih….”

Mbak Juni terus melakukan empot-empot itu, aku terus bertahan. Cukup lama kami
bercinta dengan posisi WOT. Mbak Juni mulai kehabisan nafas, ia makin
mempercepat goyangannya.

“Mas, mas udah mau keluar belum?” bisiknya mesra.

“Belum mbak, mbak mau keluar?” tanyanya.

“He…eh..mas kuat banget, padahal suami mbak dulu pasti teler kalau kena
jurus empot-empot ini,” katanya. “Mass…mas…mbak mau keluar…mbaakkk
pipiiiissss….!!!”

Mbak Juni ambruk menindih tubuhku, pantatnya menekan penisku. Ia memelukku dan
meringkuk seperti bayi di atas tubuhku. Ia mencium bibirku. Kami berpanggutan.
Kemudian ia berguling dan merebahkan diri.

“Tuntasin mas, mas kan belum keluar,” katanya.

Aku tersenyum.

Aku berada di atas. Kuposisikan penisku ke mulut vaginanya. Kemudian kutekan.
Ketika urat-urat penisku menggesek rongga vaginanya, mulut mbak Juni membentuk
huruf O sambil menatap mataku. Kedua pahanya kini mengapit pinggangku.

“Enak mbak?” tanyaku.

“Enak mas, mas enak banget…..,” katanya.

Aku goyang pinggulku. Kami sama-sama bergoyang, mbak Juni tetap memakai jurus
empot-empotnya, aku pun makin cepat menggoyang, agar spermaku bisa membasahi
rahimnya lagi. Aku terus berusaha. Mungkin karena tadi aku udah keluar
sebelumnya sehingga untuk memproduksi sperma lagi testisku butuh waktu. Karena
itulah mbak Juni benar-benar agak KO. Kepalanya menggeleng-geleng, ia pun
mengulurkan kedua tangannya melingkar di leherku.

“Maass…mbak mau keluar lagi…ohh…aahh..mbak ndak pernah bercinta seperti
ini. Sampai multiple orgasme,” katanya.

“Mbak, aku keluarrrrr…,” kataku.

Saat itulah mbak Juni agak aneh, ia menatapku. Matanya tampak menunjukkan
keraguan, “Lho, aku lupa mas ini saat suburku…. nanti bisa hamil.”

“Tadi aku sudah keluarin di dalem koq. Nanggung nih,” kataku.

Mbak Juni lalu memejamkan matanya, tampaknya ia pasrah, “Terserah deh mas,
hamil hamil deh.”

Aku pun keluar. Spermaku masih banyak aja, sampai menyemprot berkali-kali di
dalam rahimnya. Aku pun kemudian terkulai di atas tubuh mbak Juni wajahku
kudekatkan ke puting susunya dan kuhisap lemas. Perlahan-lahan penisku keluar
sendiri. Entah kenapa, tiba-tiba mbak Juni memelukku. Kami pun berpelukan
untuk beberapa saat.

“Mas… maafin mbak Juni ya,” katanya. “Gara-gara mbak, ini semua terjadi.”

“Trus bagaimana?” tanyaku.

“Kalau misalnya nanti hamil mbak akan terima koq, baik mas tak mau menikahiku
ataupun tidak. Mbak juga sebenarnya punya perasaan ama mas,” katanya. “Sejak
dulu mbak sudah naksir sama mas. Dan entahlah, kenapa koq ya hari ini datang.
Makanya ketika tahu mas melakukannya ama mbak, mbak sedikit kaget. Tapi
kemudian sedikit senang, karena impian mbak selama ini jadi nyata. Bahkan
mastrubasi tadi juga bayangin mas. Dan ternyata mas sendiri yang masukin. Tapi
sungguh ndak menyangka kalau penis mas besar juga ya.”

Aku tersenyum. Kami berciuman.

“Ijinkan mbak tetap mencintai mas ya, walaupun mungkin nanti mas punya pacar
atau istri,” katanya.

“Mas tetap akan mencintai mbak. Kalau perlu nikah sama mbak aja deh sekalian,”
kataku.

Mbak Juni menggeleng, “Jangan mas. Aku tak mau mas menikahiku karena kasihan.
Lagipula ku yakin mas tidak mencintaiku. Mas melakukan ini karena nafsu, bukan
karena cinta. Aku tak mau mas nanti malah menyakitiku ketika sudah jadi suami
istri. Seperti apa yang dilakukan oleh suamiku dulu, karena itulah kami dulu
bercerai.”

“Trus hubungan kita jadi apa dong?” tanyaku.

“Kita jalani saja deh mas, kalau memang kita ada chemistry, maka kita lanjut,
kalau tidak ya berarti memang bukan jodoh,” jawabnya.

“Baiklah, kalau itu yang terbaik. Ngomong-ngomong, sebaiknya aku segera keluar
deh, daripada dicurigai nanti,” kataku.

“Iya, ayuk ah.”

Kami pun bangun. Aku segera berpakaian dan melihat keadaan, kuintip sebentar
ruangan kalau-kalau ada Nur atau kak Vidia ternyata sepi. Aku pun segera
keluar kamar tamu dan pergi ke ruang makan. Di sana ada Kak Vidia dan Nur
sedang makan.

“Kakak koq lama sih? Kami sudah nunggu dari tadi lho. Ya udah ditinggal aja,”
kata Nur.

“Oh maaf Nur,” kataku.

“Ya udah, maka sana gih!” kata Kak Vidia.

***

Hubunganku dengan mbak Juni makin canggung setelah itu. Ketika di kantor, kami
saling melirik penuh arti. Dan setiap mata kami bertemu kami tersenyum.
Minggu-minggu berikutnya semua berjalan seperti biasa. Namun sebenarnya ada
rasa aneh yang kami rasakan setiap kali kami bersama. Ketika aku mendekat
kepadanya memberikan laporan, dan ketika kami bercanda ada rasa-rasa yang
bergetar, demikian juga yang dirasakan oleh mbak Juni.

Ia mengirimiku email, isinya seperti ini:

MAS DONI TERSAYANG,

Sungguh akhir-akhir ini perasaan mbak terasa kurang kalau tidak dekat dengan
mas. Dan merasa setiap hari adalah hari-hari terindah dalam kehidupanku adalah
ketika bertemu dengan mas. Maka dari itulah aku selalu kangen kalau pulang,
walaupun anakku sudah bisa memberikan perasaan yang lega ketika melihatnya,
tapi entah kenapa rasa ini masih ada.

Perasaan cintaku kepada mas makin besar dan aku harus mengakuinya. Aku tak
bisa berpisah dari mas. Apakah aku harus mencintai mas, ataukah tidak aku
tidak tau. Aku bingung sekarang. Aku takut kalau mas nanti malah kecewa ketika
menjalin hubungan denganku.

Peristiwa kecelakaan itu, aku berusaha melupakannya, tapi aku tak bisa. Rasa
rinduku makin besar. Rasa cintaku makin besar. Tolonglah aku mas. Apa yang
harus aku lakukan? Apakah aku harus mencintai mas? Aku bingung.

TTD

JUNI

Itulah isi emailnya. Aku pun bingung menjawabnya. Aku tak tahu kapan ia
mengirim emailnya kalau dilihat dari waktunya sih ketika bekerja. Jadi selama
bekerja ia benar-benar memikirkanku selama ini. Aku kemudian berusaha menjawab
emailnya semampuku.

MBAK JUNI TERSAYANG,

Aku tak tahu harus bilang apa. Mungkin memang benar, peristiwa itu mengubah
cara kita menyapa selama ini, mengubah juga apa yang kita rasakan selama ini.
Kalau mbak memang ingin agar aku menjadi kekasih mbak, aku pun siap. Bukan
karena nafsu, tapi benar-benar kekasih.

Kalau mbak memang ingin menjadikanku kekasih, aku akan menerima apapun yang
ada pada mbak Juni. Aku akan menerimanya, dan apakah mbak Juni mau menerima
apapun yang ada padaku?

TTD

DONI

***

Esoknya aku bekerja seperti biasa. Mbak Juni tampak serius kerjanya. Ketika
mau istirahat, aku lalu menghampiri mejanya. Mbak Juni mendongak, aku lalu
menariknya ia terkejut. Aku langsung mencium bibirnya yang lembut itu.
Keterkejutan mbak Juni membuatnya gemetar. Tapi setelah itu ia mengerti. Ia
pun menikmatinya. Beberapa saat kemudian aku melepaskannya.

“Mas…i..ini,” katanya terbata-bata.

“Tak perlu bicara, ini jawabannya. Aku suka kamu dan aku tak peduli kamu
siapa, kamu seperti apa, aku akan menerimamu,” kataku.

“Mass..,” mbak Juni memelukku.

Kami berpelukan agak lama, sampai kemudian aku berbisik, “Jangan lama-lama,
ntar dilihat orang.”

Kami pun lalu salah tingkah dan tertawa.

Hubungaku dengan mbak Juni setelah itu seperti orang pacaran. Mesra banget
kalau di kantor. Sementara ini hal ini tidak diketahui oleh semuanya.

Perut Nur makin besar, ini sudah menginjak bulan kelima dan bertepatan dengan
kak Vidia selesai wisuda. Ia senang banget lulus dengan hasil memuaskan. Bunda
bangga sekali dengan anak pertamanya ini. Di rumah Kak Vidia benar-benar manja
banget denganku. Ia menagih janjiku untuk selalu bersamanya sampai ia
benar-benar hamil. Yah, janji harus ditepati.

Aku benar-benar harus membagi waktu antara mbak Juni dan Kak Vidia. Kalau mbak
Juni butuh sesuatu ya aku harus ke tempatnya. Dan kalau kak Vidia butuh aku ya
aku harus ke tempatnya. Aku tak ingin mbak Juni curiga, dan aku tak mau yang
lain juga cemburu.

***

Aku duduk di tepi ranjang. Menyaksikan Kak Vidia yang tertidur lelap. Kami
baru saja main sampai beberapa ronde. Kak Vidia benar-benar cemburu dengan
Nur. Ia benar-benar ingin punya anak. Mungkin besok aku akan istirahat
sebentar. Saat ini aku terus berpikir tentang keadaanku. Aku sendiri bingung.
Memang soal harta aku sama sekali tak kekurangan, apakah sekarang ini aku
butuh seorang pendamping? Tapi kalau soal istri aku bisa memiliki siapa saja.
Bahkan saudari-saudariku dan bunda saja bisa aku dapatkan.

Aku sekarang galau. Malam itu aku tak bisa tidur. Aku akhirnya bersandar di
ranjang. Dan kak Vidia pun memelukku. Ia merasa nyaman. Sebenarnya juga punya
rasa tak ingin kehilangan aku.

Hubunganku dengan mbak Juni mulai panas. Di kantor aku tak malu-malu lagi
untuk mencium bibirnya. Misalnya hari ini. Mungkin karena bunda tidak ada maka
aku cuma berdua saja dengan mbak Juni. Saat itulah, aku agak iseng.

“Mbak, boleh nih kita sedikit panas,” usulku.

“Panas seperti apa? kompor?” tanyanya sambil ngikik.

Aku lalu tarik lengannya dan langsung mencium bibirnya. Mbak Juni gelagapan
menerima seranganku. Aku meremas-remas toketnya. Ia mendorongku.

“Jangan dulu mas, ndak aman di sini. Ntar kalau Si Rendy masuk bahaya lho,”
katanya. Rendy adalah manajer toko.

“Biarin ajah,” kataku.

“Ndak ah,” katanya.

“Trus gimana nih?” tanyaku sambil menunjuk penisku yang sudah tegang.

“Sini deh!” ia pun menarikku.

Ia kemudian menarikku ke mejaku. Sesampainya di sana aku didorongnya hingga
duduk ke kursi. Ia pun merangkak ke bawah meja. Di bawah meja ia tersenyum
kepadaku. Kemudian dibukanya resleting celanaku. Kemudian ia mengusap-usap
penisku yang sudah tegang.

“Ini ya yang ndak sabar?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Ia lalu menarik sedikit celanaku hingga rudal berurat itu pun keluar. Ia
tersenyum dan menekan kepala penisku dengan jari telunjuknya, lalu
menekan-nekan lubang kencingku.

“Apaan sih mbak? Geli!” kataku.

“Biarin, kamu nakal sih,” ia malah bicara dengan penisku. Lalu ia mencium
dengan hidungnya, menghirup aroma penisku. “Aku suka baunya.”

“Oh..mbak….,” aku jadi horny.

“Mau dipuasin?” tanyanya.

“I…iya,” aku mengangguk.

Lidahnya kini terjulur, lalu menyapu penisku dari buah dzakar sampai ke ujung.
Aku menahan nafas. Perlakuannya ini membuatku makin terangsang. Penisku
langsung lebih mengeras dari sebelumnya.

“Oww…enak ya? sampai tegang gini,” katanya sambil ketawa.

Lalu Ia menciumi kepala penisku, menjilatinya, kemudian ia masukkan ke
mulutnya. Ia hisap sekuat tenaga, lalu ia kocok dengan mulutnya. Ohhh…nikmat
sekali. Aku terus menyaksikan perlakuannya kepada penisku, dan matanya terus
melihatku. Aku suka sekali kebinalan mbak Juni. Saat itulah aku dikejutkan
dengan Rendy yang datang ke mejaku.

“Maaf mas, kemarin aku belum ngasih laporan komputernya ngadat,” katanya
tiba-tiba. Terus terang aku gelagapan. Untungnya ia tak bisa melihat Mbak Juni
yang ada di kolong meja. Karena mejaku tertutup.

“Oh…i..itu, terus kamu sudah ngirim?” tanyaku.

“Belum mas, mungkin harus dibenerin dulu itu komputernya,” jawab Rendy.

Sialnya, mbak Juni menghisapi buah dzakarku sambil mengurut penisku hingga
tegang sekali. Lalu ia menjilati ujung kepalanya dengan lidahnya. Lidahnya
menari-nari memberikan stimulus yang membuatku lemas.

“Panggil teknisi saja deh….pp..Pak Udin gitu, tahu nomor teleponnya kan?”
tanyaku.

“Iya mas, tahu. Berarti bagaimana kondisi pembukuannya? Didobel saja atau
bagaimana?” tanyanya.

“Nggak apa-apa…,” keringat dingin mengucur dari dahiku. Mungkin di bawah
meja mbak Juni sangat senang bahkan ketawa menyaksikan salah tingkahku. “Dobel
saja ndak apa-apa. Atau minta saran Pak Udin, ia lebih faham soal
softwarenya.”

“Oh baik mas, mas ndak apa-apa? Koq kayaknya kurang enak badan?” tanyanya.

“NGgak apa-apa koq,” jawabku sambil tersenyum. Padahal yang di bawah ada
apa-apa.

“Baik mas, mari,” kata Rendy. Ia meninggalkan mejaku dan keluar dari kantor.

Aku lalu melihat ke arah mbak Juni, “Gila mbak, kalau ketahuan gimana?”

“Biarin, biar orang-orang tahu kalau mas suka ama aku,” katanya sambil ngikik.
“Mungkin bisa masuk koran mas, bos berbuat mesum dengan anak buahnya.
hihihi…”

Ia melanjutkan oralnya. Aku hanya geleng-geleng. Saking gemesnya aku pun
meremas-remas dadanya. Tanganku masuk ke dalam kemejanya, lalu ke dalam branya
mencari-cari putingnya, lalu aku gesek-gesek dan pelintir-pelintir. Mbak Juni
makin semangat saja mengoralku. Penisku ia masukkan jauh ke mulutnya, aku
keenakan, kemudian ia mainkan kepalanya dengan lidahnya. Itu membuatku makin
ndak bisa menahan diri, rasanya ingin muncrat. Tapi dengan perilakuku
merangsang puting susunya, ia pun terkadang berhenti mengoral.

“Mas, mas bikin mbak horny nih,” katanya.

Aku lalu mendorongnya, kemudian berdiri. Aku lalu menariknya agar berdiri,
kemudian aku angkat tubuhnya dan kududukkan di meja. Kemudian aku naikkan
roknya, kuturnkan celana dalamnya. Celanaku ku turunkan, penisku lalu
kuposisikan di depan mulut vaginanya yang merekah.

“Mas, nanti ada yang lihat,” katanya.

“Aku tak peduli, biar aja,” balasku. Aku membuka kemejanya, kunaikkan branya,
hingga buah dadanya terekspos. Aku pun menyusu kepadanya sebentar, lalu
pinggulku menekan selakangannya. SLEEBBB….

“Ohh…masss…masuk,” katanya.

Aku goyang pinggulku menyodok kemaluannya. Mbak Juni memelukku dan kedua
kakinya mengunci pinggangku.

“Mbak, enak banget,” kataku.

“Ohh…kontol mas gedhe banget, penuh…..hhmm…..,” rancaunya.

Kami lalu berciuman, berpanggutan, aku tetap menggoyang. Ada rasa takut
ketahuan, tapi juga ada rasa ingin memuaskan diri. Benar-benar kami ingin
merasakan luapan birahi kami yang sudah ditahan sejak kemarin. Aku juga tak
tahu kalau vaginanya sudah becek, karena rangsanganku kepada putingnya.

“Mas…..mass…agak cepet mas, aku mau sampe,” katanya.

Aku turuti dia, kupercepat goyanganku. Kakinya makin erat mengunci pinggangku,
dan ia pun kemudian menaikkan pantatnya sehingga serasa aku menggendongnya.
Penisku ditekan kuat dan ia memelukku dengan erat, ia menghirup nafasku dalam
ciuman panasnya. Ia sudah orgasme, selama sepuluh detik kami berpelukan ia
kugendong dan penisku masih menancap di sana. Lalu ia turun. Penisku tercabut
begitu saja. Tampak penisku penuh dengan lendir. Mbak Juni aku peluk lalu aku
balikkan tubuhnya. Ia mengerti keinginanku. Mbak Juni menunggingkan pantatnya.
Aku lalu memasukkan penisku ke vaginanya tanpa susah. Dan aku lalu
mendorongnya.

“OHhhh…mbak, pantat mbak enak….,” kataku.

“Ohh…sodok aku mas, sodok…terus!” katanya.

Aku sodok pantatnya meja kerjaku bergoyang-goyang karena mbak Juni bertumpu
kepadanya. Dadanya bergoyang-goyang menggantung. Ekspresi wajahnya bisa aku
lihat di kaca yang terpantul. Matanya terpejam nikmat, dan ia menggigit bibir
bawahnya sambil mendesis. Aku lalu memegang toketnya dan kuremas-remas.

“Masss…ohh…enak…terus mas….terusss,” katanya.

Aku dorong lagi lebih kuat, mbak Juni pun kemudian tengkurap di atas mejaku.
Buah dadanya melekat di mejaku yang kebetulan di atasnya ada kaca. Aku terus
menyodoknya kuat-kuat hingga sepertinya testisku mau berproduksi lagi.

“Mbak…mbak…aku keluar mbak,” kataku.

“Ayo mas, keluar…keluar bareng!! AAHHH AHHHH…penis mas keras
banget….kerass…aduhhh…enakkkk!” katanya.

“Mbak ini mbak, terima pejuhku,” kataku.

CREETTT CREETTT CRREEETT CREEETT!!

Spermaku memancar dengan beberapa kali tembakan. Dan aku menekan kuat hingga
mungkin sampai ke rahimnya. Mbak Juni memejamkan mata dan tampak lemas.
Kudiamkan sejenak hingga seluruh spermaku keluar dan habis. Baru setelah itu
perlahan-lahan aku cabut.

Perlahan-lahan mbak Juni bangkit dari mejaku. Ia tersenyum dengan nafas
terengah-engah. Kami tutup aktivitas kami dengan berciuman panas. Mbak Juni
membetulkan bajunya dan mengambil tissue yang ada di mejaku untuk membersihkan
spermaku yang meleleh ke pahanya.

“Udah ah, kerja lagi,” ia mengedipkan matanya kepadaku.

“Kalau mau tidur dulu karena capek silakan lho,” candaku.

“Ndak ah, kalau tidur nanti malah dikerjai lagi,” katanya.

Aku menciumnya lagi, setelah itu kami beraktivitas seperti biasa.

****

Kak Vidia sore itu sedikit beda. Aku juga heran. Ia tak banyak bicara. Bahkan
setiap kali aku tanya kenapa ia tak menjawab. Malam itu aku sendirian tidur di
kamar, karena Kak Vidia mengunci dirinya di kamar. Aku tak mengerti, namun
kemudian saat tengah malam aku dikejutkan dengan Kak Vidia yang tanpa busana
masuk ke selimutku.

“Kak?” sapaku. “Ada apa sebenarnya?”

“Berjanjilah kepadaku satu hal dek!” katanya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kakak sudah melihat semuanya, semua video yang ada di dalam komputermu sudah
kakak lihat,” jawab Kak Vidia. “Aku tak tahu kalau adekku ini sangat terobsesi
kepada keluarganya sendiri sejak dulu.”

“Trus, apa pendapat kakak?” tanyaku.

“Aku ingin kamu berjanji kepadaku satu hal,” katanya. “Jangan pernah tinggalin
kakak, bunda dan Nur. Kalau misalnya kamu nanti menikah, maka pasanganmu itu
harus tahu keadaan kita seperti apa. Aku tak mau ia nanti tersakiti karena
melihat keadaan kita yang sesungguhnya. Kak Vidia juga tahu kamu suka ama mbak
Juni, bahkan kakak tahu kalau kamu sudah begituan juga dengan mbak Juni, tapi
apa mbak Juni tahu keadaan kita? Memang mungkin ia bisa mencintaimu dek, tapi
itu karena ia tidak tahu apa yang terjadi dengan kita sebenarnya. Aku takut,
hal itu malah akan membuatnya kecewa dan membencimu, membenci kita. Ia memang
sudah baik dengan kita selama ini, tapi pikirkanlah lagi hal ini.”

Aku terdiam. Kak Vidia lalu memelukku. Benar apa yang dikatakan kak Vidia.
Mungkin sudah saatnya aku hapus saja semua gambar dan video itu. Kak Vidia
masih memelukku dan kepalanya disandarkan ke dadaku.

“Malam ini, adalah masa suburku dek,” kata Kak Vidia. “Sudah tiga tahun kita
beginian, tapi belum juga berhasil. Kali ini Kakak sangat berharap.”

Tangan kak Vidia menelusup ke dalam celana kolorku. Ia lalu memainkan isinya.
Diurut-urutnya penisku, penisku pun otomatis menegang. Aku mendongakkan
wajahnya, lalu menatap wajahnya dalam-dalam. Kemudian aku cium bibirnya, kami
berpanggutan, tangan kiriku memainkan putingnya yang berwarna pink itu.
Walaupun kami sering bercinta tapi buah dadanya sama sekali tak kendor, malah
makin menantang saja tiap hari.

“Hamili aku dek,” bisik kak Vidia. “Berikanlah benih-benihmu ke rahimku. Aku
rela.”

Aku kemudian membaringkan tubuhnya telentang. Kemudian kuciumi lehernya,
kuhisap, kujilat. Permainanku kali ini lebih panas dari malam-malam
sebelumnya. Aku menciumi dadanya, kupijat, kuremas, dan bergantian aku cupangi
kiri dan kanan, kemudian kuhisap puting pinknya bergantian. Aku juga
gigit-gigit kecil dengan gemas. Hal itu memberikan rangsangan yang membuat
Kak Vidia mengangkat punggungnya.

“Ohh…dekkk…enak dek,” katanya.

Tangan kiriku beralih ke vaginanya, Kugesek-gesekkan jari telunjukku, kucari
clitorisnya dan kugesek-gesek. Kak Vidia makin bergairah, ia memelukku, tangan
kanannya masih meremas-remas penisku, aku kemudian menciumi ketiaknya,
kujilati dan itu membuatnya menggelinjang lagi. Aku ciumi tubuhnya bagian
samping, lalu aku hisap. Ia menggelinjang lagi. Kutelusuri seluruh tubuhnya
dengan bibirku, kemudian ke pahanya, hingga bibirku dan bibir kemaluannya
bertemu.

“Ohhh…papah…terusin yaa..enaaakk…,” kata kak Vidia.

Aku jilati bibir kemaluannya, kuciumi, lalu tepat di klitorisnya aku sapu
lidahku di sana. Ia mengangkat pantatnya sambil memekik tertahan. Ia
remas-remas rambutku, seiring aku menjilati rongga-rongga vaginanya. Saat
lidahku menari-nari di dinding vaginanya, ia mengapit kepalaku, terkadang
menjambak rambutku.

“Deek…udah dong,..masukin aja dek, kakak udah ndak tahan,” katanya.

Aku mematuhinya. Kini aku siapkan diriku di atasnya. Pakaianku kulepaskan
semua, aku lalu mengangkat sedikit pahanya, lalu lututnya aku pegang dan
kutekan hingga berada di samping kepalanya, pantatnya sedikit terangkat dan
aku berlutut, penisku sudah siap di depan mulut kemaluannya. Satu hentakan dan
penisku masuk.

“Ooohh….iya dek…papah…hamilin mamah ya..,” katanya.

Aku goyang pinggangku. Kak Vidia memejamkan matanya, merasakan kenikmatan ini.
Ia mengusap-usap dadaku, untuk memberikan kepadaku kenikmatan juga. Aku resapi
setiap rangsangan pada urat-urat penisku yang diremas-remas oleh vaginanya.
Rongga kemaluan kakakku benar-benar membuatku seperti terbuai oleh obat bius.
Aku kemudian melebaran pahanya dan ambruk di atasnya, kupeluk dirinya.
Pinggangku tetang bergoyang kali ini lebih cepat. Kedua bibir kami pun
bertemu, saling menghisap. Cukup lama aku bertahan dengan posisi itu, hingga
entah berapa menit kemudian kak Vidia orgasme, ia menjerit keras ketika
orgasme. Mungkin kalau saja ada orang di luar kamar akan kedengaran.

Tapi aku belum orgasme, mungkin karena tadi siang bercinta dengan mbak Juni.
Sehingga produksi spermaku sedikit terhambat. Aku lalu membalikkan tubuhnya.
Kak Vidia mengerti, ia menungging. Aku pun menyodoknya dengan doggy style.
Puas dengan doggy style, aku lanjutkan dengan WOT. Kak VIdia tahu kalau aku
suka dengan buah dadanya. Maka dari itulah ia membiarkan tanganku meremas buah
dadanya dan mempermainkan putingnya. Kak Vidia orgasme lagi. Karena pada
dasarnya wanita lebih banyak menyerah kalau melakukan WOT.

Kalau ingin cepat punya anak ada dua macam gaya, yaitu doggy style bagi yang
rahimnya sulit dibuahi, dan gaya misionari bagi yang mudah dibuahi. Itu hanya
mitos sih. Aku tak peduli, aku kemudian pakai gaya misionari. Aku peluk
kakakku dengan erat dan kugoyang pantatku. Karena sepertinya sudah mentok
ingin keluar.

“Kak…aku mau keluu….aaarrr….oohh…ini..ini..,” kataku.

“Iya pah, mamah udah mau keluar lagi,” kata kak Vidia.

“Papah ngecreeeettt….ohh…bunting dah kamu, bunting kamu kak Vidia,
oh…kakakku yang punya puting pink, tubuh semok, tubuh mulus, rasain pejuh
panasku!” kataku.

“OOhh…papah, kak Vidia dientot adek sendiri….enakkk….kuterima
pah…penismu enakkk….aawwww!!” kak Vidia tampak matanya memutih, serasa ia
merasakan sperma hangatku membasahi ruang rahimnya. Penisku serasa ngilu
sekali. Baru kali ini aku bercinta seperti ini. Aku diamkan posisi ini
beberapa saat. Kemudian penisku mengecil sendiri, seluruh energiku rasanya
habis, tulang-tulangku rasanya mau copot.

Kak Vidia kemudian mengambil bantal dan mengganjal pinggangnya.

“Kenapa kak?” tanyaku.

“Ini katanya biar cepat hamil,” jawabnya.

Kami kemudian tidur dalam satu selimut. Kupeluk dia hingga pagi menyapa.

***

Memang mungkin semestinya aku jujur kepada mbak Juni. Aku perlu waktu
memikirkan itu. File-file video dan gambar hasil keisenganku sudah aku hapus
semuanya semenjak hari itu. Mungkin sudah saatnya aku full mencintai semua
keluargaku dan mulai mencari pendamping hidup. Tapi tidak mudah seorang wanita
mau menerima keadaanku yang seperti ini.

Tiap kali bertemu dengan mbak Juni aku kini agak lain. Selalu terdiam. Atau
kadang pikiranku menerawang. Mbak Juni pun mencium ketidak beresan ini. Ia
selalu bertanya kepadaku ada apa, tapi aku menjawab aku belum bisa
mengatakannya sekarang.

Kuubah konsentrasiku kepada pekerjaan. Tapi tak bisa. Tiap hari aku bertemu
mbak Juni dan setiap ada kesempatan kami pasti bercinta. Baik ketika keluar
kota, di kantor atau bahkan kami menyewa kamar hotel untuk bermalam.

Kak Vidia pun hamil, ia mual-mual pada hari itu. Dan ia memberikan hasil
testpack-nya kepadaku. Betapa senangnya aku. Kak Vidia lebih senang lagi.
Sebentar lagi aku bakal jadi ayah dari dua orang anak. Tinggal bunda yang
belum. Padahal beliaulah orang yang pertama kali aku setubuhi. Tapi karena ia
sering keluar kota dan beberapa waktu ini sibuk untuk mengurus bisnis
waralabanya, akhirnya hubunganku dengan bunda libur sejenak.

Ketika aku ke kantor bertemu mbak Juni ia pun mengabariku sesuatu yang lebih
mengejutkan lagi. “Aku hamil mas.”

Aku sangat senang sekali bahkan hampir tak percaya. “Tok cer ya?”

“Habis kita sering begituan, ndak kenal tempat. Aku yakin ini jadinya waktu di
hotel kemarin itu,” katanya. “Kalau hitunganku tak salah lho ya.”

Mungkin sekarang saat yang tepat aku mengatakannya.

“Trus, bagaimana hubungan kita selanjutnya? Mau serius?” tanyaku.

“Hmmm…gimana ya, masa’ atasan mengawini bawahan?” ia bertanya kepadaku
dengan nada serius campur bercanda.

“Terserah kamunya, tapi kalau pun engkau tak mau aku tetap akan bertanggung
jawab atas anak itu,” kataku.

“Tentu aku mau serius,” katanya.

“Baiklah, cuma aku ingin cerita sedikit tentang diriku. Kalau kamu bisa
menerimaku, maka kita lanjut. Kalau tidak maka itu semua kembali kepada
dirimu,” kataku.

Mbak Juni serius mendengarkan ceritaku. Tentu saja ia sangat kaget mendengar
penjelasanku tentang masalah mother complex dan sister complex. Ia bahkan
hampir saja tak percaya terhadap apa yang terjadi. Saat itulah ia pun
menangis. Ia tak percaya aku adalah orang seperti itu.

“Inilah aku mbak, aku jujur kepadamu sekarang. Aku tak ingin menyimpannya
lagi. Kalau mbak menerimaku, maka kita lanjut dengan segala kekuranganku.
Kalau mbak tidak bisa menerimaku, maka aku bisa mengerti,” kataku.

“Aku tak percaya aku bertemu dengan lelaki sepertimu, lalu kenapa kamu
melakukannya sama mbak? Aku tak bisa menerimanya, tapi….aku bingung, anak
ini bagaimana?” katanya.

“Aku tetap akan bertanggung jawab, mbak tidak perlu khawatir,” kataku.

“Bukan masalah itu, aku takut ketika ia bertanya kepadaku tentang seperti apa
ayahnya, apa yang bisa aku jawab?” tanyanya.

“Kita akan lewati bersama mbak, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri
apapun yang akan terjadi aku tetap akan menerima mbak, baik mbak menolakku
atau apapun aku akan selalu ada buat mbak,” kataku.

Mbak Juni menarik nafas panjang. “Aku perlu berfikir, sebab ini tak mudah
bagiku. Maaf mas, mungkin aku harus menyendiri dulu untuk sementara waktu.”

Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mbak Juni. Sebab setelah itu ia
tak masuk kantor lagi. Dan setelah beberapa minggu ia pun mengajukan surat
pengunduran diri. Sungguh aku terpukul sekali. Apalagi mbak Juni adalah orang
kepercayaan bunda sejak dulu. Ponselnya tidak aktif lagi, bahkan kontak BBMnya
pun tidak aktif. Ia bagai menghilang begitu saja.

Peristiwa itu pun aku ceritakan ke seluruh keluargaku. Bunda lalu menghiburku.
Kak Vidia juga, dan Nur. Mereka membesarkan hatiku bahwa sulit untuk mencari
wanita yang bisa menerima apa yang kita punyai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*