Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 4

Anak Nakal 4

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 3

BAB 4

NURAINI

Satu-satunya yang memergokiku bercinta dengan bunda adalah Nuraini. Saat itu
aku tak mengira kalau Nuraini akan pulang lebih awal. Aku dan ibuku sedang
bercinta hebat di atas kasur. Dan saat itu akulah yang sadar. Aku lupa menutup
pintu, ibuku membelakangi pintu dan posisiku saat itu memangkunya. Terlihat
jelas penisku masuk ke kemaluannya dan Nuraini terbelalak menyaksikan kami
berdua. Ia mematung sejenak, namun karena aku juga menatap matanya, ia pun
segera pergi. Segera setelah itu aku menggenjot bunda lebih cepat untuk
orgasme. Setelah selesai. Aku buru-buru mencabut penisku.

“Tumben cepet, ada apa?” tanyaku.

“Nuraini melihat kita bunda,” jawabku.

“Apa?” bunda kaget sekali.

Ia segera berpakaian. Aku juga. Dan saat itu tampak Nuraini diam saja
melintasi kamar kami. Aku dan bunda saling berpandangan.

“Nur! Nur!” panggil bunda. Tapi Nuraini tak menoleh.

****

Malamnya Nuraini tampak membisu di depan tv. Aku dan bunda pun ada di sana.

“Kenapa bunda dan kakak melakukan hal itu?” tanyanya.

“Maafkan bunda Nur, bunda melakukannya karena memang ini salah bunda. Karena
bunda sudah lama ditinggal ayahmu. Dan karena bunda takut untuk dekat dengan
lelaki lain,” kata bunda.

“Tapi kenapa harus kak Doni?” tanyanya.

“Ya karena bunda takut dengan lelaki lain, itulah sebabnya,” jawab bunda.

Nuraini menutup wajahnya.

“Terus terang Nur malu bunda, malu. Kenapa bunda malah melakukan hal yang
memalukan itu bersama anak sendiri?” tanyanya.

“Nur, dengarlah….kakak melakukan ini karena suka sama suka. Bukan karena
paksaan dan juga karena kakak kasihan kepada bunda. Tahukah kamu bagaimana
bunda sangat merindukan ayah? Kalau misalnya bunda dengan lelaki lain yang
tidak jelas melakukannya apa kamu rela? Mau kamu bersama lelaki lain yang
tidak jelas asal-usulnya, rela kamu punya ayah baru yang tidak bisa
membahagiakan bunda?” tanyaku.

Nuraini diam. Ia menatapku. Ia berpikir sejenak.

“Tapi…. kenapa harus kakak?” tanyanya.

“Karena kakak orang yang mendekati ayah. Kakaklah orang yang dibutuhkan oleh
bunda dan karena kakak selalu ada di samping bunda, makanya siapa lagi yang
bisa dipercaya oleh bunda? Kakak selalu ada di sisi Bunda, kakak tahu ini
salah, tapi apakah kamu tega dengan perasaan bunda?” tanyaku.

Nuraini terdiam. Ia melihat ke arah bundanya.

“Nur, maafkan bunda,” bunda memeluk Nuraini.

“Nur, bisa memaafkan bunda. Asalkan Nur minta satu hal bunda,” kata Nur.

“Apa itu sayangku?” tanya bunda.

“Ijinkan Nur bersama bunda menjadi suami kakak,” kata Nur dengan lugu. Kami
berdua terkejut.

“Nur, itu tidak mungkin,” kata bunda. “Kamu adiknya.”

“Kalau bunda boleh kenapa Nur tidak? Sebenarnya saya sudah lama mengagumi
kakak sendiri, mungkin Nur terkena sister complex, tetapi terus terang Nur
kecewa ketika melihat Kak Doni begituan ama bunda, cemburu Nur. Cemburu ama
bunda,” kata Nur sambil terisak.

Bunda terdiam. Ia pun bingung. Saat itulah Kak Vidia baru pulang dari kampus.
Ketika melihat kami semua berkumpul ia pun bingung.

“Ada apa?” tanya Kak Vidia.

“Baiklah, memang semuanya harus tahu apa yang terjadi karena kita adalah
keluarga,” kataku. Kemudian aku menceritakan semuanya. Hubunganku dengan
bunda, dan bagaimana aku suka kepada kakakku sendiri. Kemudian juga Nur yang
juga suka. Ini benar-benar keluarga incest.

“Kita semua memang salah, ini sudah terlanjur,” kata bunda. “Maafkan bunda
yang tidak bisa mendidik kalian. Baiklah ini hanya jadi rahasia kita. Maukah
kalian menjaganya? Vidia? Doni? Nur?”

Kak Vidia tampak matanya berkaca-kaca.

“Mulai sekarang, Doni adalah kepala rumah tangga. Terserah kepada dia ingin
menggilir siapa. Bunda ijinkan dia menjadi suami kalian. Demi keutuhan
keluarga ini. Bagaimana? Kalian setuju?” tanya bunda.

Kak Vidia langsung memeluk bundanya, “Bunda, Vidia sangat bahagia sekali.”

Nur juga memeluk bundanya. Aku terdiam. Bingung dengan keadaan ini sekarang.

“Doni, sekarang kamu adalah suami kami. Perlakukanlah kami dengan baik. Di
luar memang kita adalah keluarga, tapi di dalam kamu tahu apa yang harus kamu
lakukan. Jadilah kepala keluarga yang baik. Malam ini bunda akan menyiapkan
Nur untukmu, karena Nur masih gadis. Vidia, tolong siapkan suamimu,” kata
bunda.

Kak Vidia mengangguk.

Aku kemudian digandeng kak Vidia ke kamarnya. Di dalam kamarnya kak Vidia
mencubit pipiku.

“Kalau sainganku bukan bunda dan adikku sendiri, maka aku pasti akan marah
habis-habisan kepadamu dek. Tega-teganya berselingkuh,” kata Vidia.

“Maafkan aku,” kataku.

Kak Vidia menggeleng. “Kau tidak salah. Ibu memang sedang rindu kepada ayah,
pantas kalau beliau memilihmu. Karena kamu sangat mirip ayah. Entah kenapa,
aku malah senang. Sini copot bajunya, aku mandiin”

Kak Vidia cekikian. Dia kemudian melepaskan bajuku satu per satu. Lalu ia pun
begitu. Kami berdua masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya Kak Vidia.
Baru bulan kemarin kami membangun kamar mandi ini. Di dalam kamar mandi ini
kami membersihkan diri, tapi juga sebenarnya adalah saling membelai. Aku
menciumnya sambil memberikan sabun ke tubuhnya. Kak Vidia juga begitu, ia
mengusap sabun ke seluruh tubuhku, bahkan menggosok-gosok dadaku, perut,
ketiakku, penisku diurut-urut. Aku juga menyabuni buah dadanya, pantatnya.
Ketika penisku yang tegang itu menyentuh kemaluannya ia mencubit perutku.

“Simpan tenagamu buat Nur, kita lakukan ini besok saja ya. Ini nih, udah besar
nakal juga ternyata,” ia meremas otongku. Aku mengangguk.

Air pun mengguyur tubuh kami, terasa wangi tubuhku. Setelah itu aku balik ke
kamarku, meninggalkan kak Vidia di kamarnya.Di sana aku memakai baju yang
terbaik. Entahlah, aku koq malah seperti pengantin. Di dalam kamarku aku
menunggu. Entah apa yang akan terjadi kemudian. Saat itulah pintu kamar di
ketuk, Kak Vidia sudah ganti baju. Ia lalu duduk di sebelahku.

“Malam ini, engkau akan mengambil keperawanan Nur. Ada rasa tak rela sih, tapi
karena Nur adalah adikku juga maka aku nasehatkan kepadamu, tolong jangan
sakiti dia seperti engkau menyakitiku dulu,” katanya.

“Apakah dulu aku menyakiti kakak?” tanyaku.

“Bukan, maksudku saat pertama kali masuk, aku sangat perih, perih sekali. Aku
takut dia nanti kaget dengan ukuranmu itu. Hati-hatilah, nikmatilah malam
pertama ini. Aku akan tunggu kamu besok, ok?” kak Vidia mengedipkan mata. Kami
lalu berciuman sebentar setelah itu ia meninggalkanku.

Tak berapa lama kemudian pintu diketuk lagi, Nur masuk diantar oleh bunda.
Alamak cantik sekali. Aku tak pernah melihat Nur secantik ini. Ia didandani
oleh bunda seperti bidadari. Ia masuk ke kamarku.

“Bunda tinggal ya,” kata bunda. Lalu ia pergi.

Nur kemudian duduk di sampingku.

“Ini Nur? pangling kakak,” kataku.

“Kak, Nur masih tak tahu bimbinglah ya,” katanya.

Aku mengangkat wajahnya. Kukecup keningnya. Kedua kelopak matanya, hidungnya,
pipinya, lalu bibirnya. Saat itu Nur masih kaku. Tapi aku tuntun. Kubuka
sedikit mulutnya dan lidahku dan lidahnya sudah saling menghisap. Lipgloss
yang ia pakai terasa manis. Aku kemudian mengajak dia berdiri. Nur tak terlalu
tinggi. Ia setelingaku. Kulepas bajunya satu per satu. Ia pun melepas bajuku.
Kini kami berdua hanya memakai celana dalam. Kerudungnya aku lempar ke lantai. Kusuruh
ia berlutut.

“Buka celana dalamku ya,” kataku.

Nur melihat tonjolan besar di dalam sana. Ia penasaran dan ragu. Kemudian
perlahan ia menurunkannya. Sebatang daging keras, berurat, panjang dan besar
tiba-tiba keluar. Ia agak kaget. Entah karena ukurannya atau yang lain.

“Coba pegang, ciumi dan rasakan,” kataku.

Nur pun melakukannya. Ia masih amatir. Terasa kaku bila memegang penisku. Ia
ciumi kepala penisku. Rasanya tak muat kalau penis ini masuk ke mulutnya yang
mungil. Kutuntun dia untuk mengurut penisku. Kemudian aku ajari untuk
menjilatinya, Nur tidak jijik, malah ia antusias, selalu bertanya, “Seperti
ini? Apakah seperti ini?”

Ia kutuntun untuk menghisap telurku, menjilati pangkal penisku, kemudian
memasukkan penisku ke mulutnya. Benar penisku tak cukup. Bahkan cuma kepalanya
saja yang bisa masuk ke mulutnya yang mungil. Maka dari itu ia berikan
rangsangan dengan memainkan lidah di ujung penisku, sambil mengocoknya. Enak
sekali. Aku nikmati sensasi mulutnya, lidahnya memberikan rangsangan yang luar
biasa, mungkin karena ia masih lugu ia melakukan apapun yang aku inginkan.
Setelah agak lama ia mengoral, aku menyuruhnya menyudahinya.

Nur aku suruh berdiri, kuciumi dia. Ia menyambut ciumanku, kemudian kuciumi
dan kuhisap lehernya, kujilati telinganya. Ia menggelinjang. Saat aku hisap
lehernya, kutinggalkan bekas di sana. Aku merasakan bulu kuduknya merinding.
Kemudian aku turun ke buah dadanya yang mirip bunda besarnya. Aku memang
seakan tak percaya ia masih kecil tapi buah dadanya besar. Kubuka pengait
branya. Saat itulah seolah-olah bra itu menahan luapan susu. Langsung buah
dada itu seperti meloncat. Bra itu pun aku buang. Kemudian aku beri lagi
cupangan-cupangan di buah dadanya yang putih, seputih susu. Lalu ia aku ajak
untuk merebahkan diri ke ranjang.

Kuremas-remas buah dadanya, kanan dan kiri. Kupenceti putingnya.

“Ohh….kaakk…,” keluhnya.

Aku menghisapnya, menghisap puting yang berwarna pink kecoklatan itu.
Kujilati, kuhisap lembut, kuat sambil kuremas. Nur meremas-remas rambutku,
meremas-remas kepalaku. Kurasakan bulu kuduknya merinding lagi. Dan ketika aku
jilati di bagian buah dada dan ketiaknya, ia merintih hebat. Sepertinya itu
titik hotspotnya. Kumainkan lidahku di sana.

“Kakk…jangan disitu, geli…Nur…Nur mau pipis…,” katanya.

Aku tak peduli, ia mendorong tubuhku agar tidak melakukan hal itu di situ. Aku
tetap pada pendirianku, kujilati tempat itu pantatnya pun terangkat dan ia
meringkuk.

“Nur pipis kak, Nur pipis,” katanya.

Aku menghentikan aktivitasku. Kuraba kemaluannya. Becek, banjir lendir. Ia
sudah orgasme hanya dengan begitu saja? Aku lalu turun ke perutnya. Kuciumi
perutnya, ketika kuciumi tempat di bawah perutnya antara vagina dan perut, ia
merinding lagi. Kuteruskan sampai ke vaginanya, ia menghimpit kepalaku dengan
kedua pahanya.

“Kak, Nur pipis lagi,” katanya.

SERRR…SERRR, aku melihat cairan bening kental menyemprot dari vaginanya. Ia
sudah orgasme untuk kedua kali? Aku menggeleng-geleng. Kuciumi pahanya,
kujilati, kuhisap keharuman tubuhnya. Dan sepertinya mau tak mau Nur harus
siap sekarang.

“Kaak,… itunya Nur gatel banget,” katanya.

“Nur, kakak mau masukin, udah siap?” tanyaku.

“Siap kak, masukin aja,” katanya.

Aku dengan perlahan memposisikan penisku untuk masuk. Lendir yang keluar dari
kemaluannya mempermudah posisi penisku untuk bisa masuk, sesenti dua senti.
Nur meremas sprei tempat tidurku. Tidak bisa masuk. Aku tekan tarik tekan
tarik, hingga kepala penisku masuk semua. Dan ketika aku dorong lagi ada
sesuatu yang mengganjal. Wajah Nur berubah. Ia memejamkan matanya kuat-kuat
dan meringis. Aku menciumi bibirnya untuk memberikan efek agar ia tak merasa
sakit. Penisku berkedut-kedut, ditambah rongga kemaluannya yang makin lama
makin meremas-remasku. Satu tekanan dan SREEETTT….Nur memelukku erat.

Ia mencakar punggungku dengan kukunya, aku menindihnya memeluknya sambil
kucium dia. Kedua pahanya mengapit pinggulku. Penisku diremas-remas oleh
rongga yang sempit. Memek Nur serasa vacum cleaner, menyedot-nyedot penisku,
meremas-remas seperti penggiling, ngilu rasanya tapi enak. Aku mendiamkannya
sejenak merasakan sensasi ini.

“Kak, Nur udah tidak perawan ya sekarang?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Ia memelukku, “Nur bahagia banget bisa mempersembahkan keperawanan Nur buat
kakak.”

Aku lalu mendorong naik turun. Nur meringis lagi. Awalnya ia kesakitan,
setelah agak lama aku goyang secara teratur ia pun tak sakit lagi, malah ikut
menggoyangkan pantatnya.

“Kak, seperti inikah rasanya bercinta. Nur merasa enak sekali, penis kakak
serasa penuh,” katanya.

“Nur, kakak merasa enak juga. Memek Nur meremas-remas penis kakak,” kataku.

“Kakak suka?” tanyanya.

“Iya, kakak suka,” jawabku.

“Aku cinta ama kakak,” katanya.

“Aku juga,” kataku.

Aku pun berpacu lagi, menuju puncak kenikmatan. Suara selakangan kami memenuhi
kamarku. CLEKK CLEEKK CLEEEK…becek sekali vagina Nur, membuat pelumas untuk
bisa penisku bergerak keluar masuk.

“Nur, kakak mau keluar,” kataku. AKu sudah tak kuat lagi, rangsangan memeknya
terlalu kuat, aku seperti diremas-remas, apalagi Nur juga pinggulnya ikut
gerak. Sensasi ini tak bisa kutahan lagi untuk ditumpahkan.

“Nur ingin hamil kak, Nur ingin punya anak dari kakak,” katanya.

“Nur…ohhh,”

“Kaaakkk….aahh…ahhh….aaahhhhh,”

Meledaklah spermaku di dalam rahimnya. Nur memelukku erat, penisku banjir oleh
lendir. Rahimnya kusemprot berkali-kali, entah belasan kali rasanya. Ngilu
sekali, apalagi aku benamkan penisku sedalam-dalamnya hingga mentok. Aku yakin
itu spermaku berhamburan mencari ovum. Di dalam sana penisku berkedut-kedut,
menyeruak memompa cairan-cairan kenikmatan mencari tempatnya. Membasahi rongga
yang dingin, menghangatkan rahim Nur. Nur mengapit pinggulku dengan kedua
pahanya. Dada kami bersatu, tubuh kami bersatu, hingga kemudian ia pun lemas.

Aku tak mencabut penisku dulu. Membiarkan semprotannya berhenti, aku tekan
biar semua spermaku habis dulu, setelah itu perlahan aku cabut. Nur meringis
ketika penis itu aku cabut. Seketika itu sebagian sperma ikut keluar bersama
darah perawan, bercampur menjadi satu.

Setelah itu kami tidur dalam satu selimut. Nur memelukku. Kami melewati malam
yang indah itu dan tak terasa pagi pun menjelang.

****

Aku terbangun, tak mendapati Nur. Tapi di meja kamarku aku bisa mencium aroma
kopi. Apakah itu yang membuat Nur?

Aku kemudian bangun dan melihat spreiku ada bercak darah. Aku pun berpakaian
dan keluar kamar. Masih sepi, orang-orang belum melakukan aktivitas. Nur
sepertinya mandi aku pun ke kamar mandi. Aku tak perlu mengetuk pintu,
langsung masuk. Ternyata benar. Ia mandi.

“Kakak?” ia tersenyum.

Aku kemudian ikut mandi bersama. Kulepaskan bajuku. Kami kemudian berpelukan
di bawah shower. Berciuman, saling membelai. Aku pun terangsang lagi. Ia
kudorong ke dinding kamar mandi. Kaki kirinya aku angkat, dan penisku aku
masukkan ke memeknya. BLESS, lancar. Aku pun menggoyangnya. Nuraini memejamkan
matanya,aku menghisapi teteknya, pantatku menghujam ke memeknya dengan irama
yang menggairahkan. Karena masih pagi mungkin, aku cepat sekali keluar.
Apalagi memeknya masih seret dan menyedot-nyedot. Spermaku pun keluar. Ia
memelukku.

“Kakak ih, belum apa-apa udah langsung nyerang. Nur pipis lagi nih,” katanya.

“Kamu koq gampang banget pipis sih?” tanyaku.

“Ndak tau kak,” katanya.

Penisku aku cabut.

“Sini aku bersihin,” kata Nur.

Ia pun menyabuni tubuhku. Hari itu adalah hari teraneh dan terbahagia dalam
hidupku.

Begitulah ceritaku terhadap keluarga-keluargaku. Menjadi suami dari ketiga
anggota keluarga sendiri itu tak mudah. Tapi walaupun begitu, tak ada satu
rasa cemburu. Bahkan ketika aku ngentot dengan Kak Vidia di ruang tamu
misalnya, bunda tahu tapi membiarkan. Atau ketika aku bercinta dengan bunda di
dapur misalnya, aku tak malu lagi atau sembunyi-sembunyi. Ketika Nur
melihatnya ia diam saja, memaklumi. Dan ketika Nur menjerit-jerit keenakan
ketika kami bercinta di sofa, Kak Vidia malah bilang agar jangan
kenceng-kenceng jeritnya.

Pengalaman yang aneh adalah ketika mereka bertiga mengoral penisku. Awalnya
sih cuma bercanda saja.

“Ih kak Doni, kepengen bercinta di mana aja. Di dapur, di sofa, di ruang tamu,
di kamar mandi. Dasar,” kata Nur.

“Iya nih, mentang-mentang punya tiga istri,” kata Kak Vidia.

Saat itu bunda sedang mengoralku. Aku duduk di sofa dan bunda berlutut di
hadapanku.

“Kalau mau, ya silakan ikutan,” kataku sambil tertawa.

Nur dan Vidia berpandangan, mereka berdua mengangguk. Lalu tiba-tiba mereka
berada di dekat bunda berlutut juga di hadapanku. Mereka membagi penisku.
Menjilati bergantian, mengoral bergantian. Kadang berebut telurku. Aku yang
mendapatkan perlakuan ini tentu saja mana tahan. Dan ketika spermaku keluar,
mereka saling berebut untuk menghisapnya dan menjilatinya sampai bersih. Ohhh…nikmatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*