Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 3

Anak Nakal 3

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 2

BAB 3

KAK VIDIA

Sebagai seorang aktivis di kampus, kak Vidia selalu memakai jilbab lebar.
Bahkan terkadang ia curhat juga kepadaku. Karena saking baiknya terkadang aku
masih diperlakukan seperti anak kecil. Namun melihatku yang sangat berbakti
kepada bunda, hal itu membuatnya menjadi iri. Ia ingin bisa juga berbakti tapi
karena ia masih kuliah, ia pun menyadari bahwa ia tak bisa sepertiku. Makanya
ia sangat menghormatiku. Apapun yang aku inginkan pasti diturutinya.
Seandainya saja ia mau melepas keperawanannya untukku.

Well, jatah kloroformku masih banyak koq. Tapi kayaknya aku tak kan
menggunakannya lagi. Bukan untuk kak Vidia.

Bunda sekarang mulai rajin senam, padahal tubuhnya masih bagus lho. Buah
dadanya juga masih padat, kulitnya masih mulus. Tapi hal itu semata-mata ingin
mengimbangiku di ranjang aja katanya. Aku bebas menginginkan bundaku kapan
saja. Bagaimana awal mula aku dengan Kak Vidia?

Awalnya adalah aku harus menemaninya naik gunung. Nah lho? Yup, karena ia
adalah seorang aktivis maka aku harus menemaninya. Muhrimnya bo’. Awalnya aku
menolak, tapi ia bilang, “Aku belum punya suami, dan kamu adikku!”

Yah, jadinya aku ikut deh. Acara naik gunung itu merupakan acara ekstra
kampus. Kami terpisah jadi beberapa group. Aku pun berkenalan dengan
teman-teman kakakku, terutama yang cewek dong. Mengetahui hal itu malah aku
dijewer ama kak Vidia. Tingkah polah kami memang kekanakan kalau bersama-sama.
Hal itu membuat hiburan tersendiri bagi teman-temannya. Karena tak biasanya
kakak adik seakrab itu.

Nah, ketika malam harinya setelah acara api unggun. Kak Vidia memanggilku. Aku
yang sedang ngobrol dengan teman-temannya menghampirinya.

“Ada apa kak?” tanyaku.

“Aduh, kebelet pipis nih!” katanya. “Anterin dong.”

“Waduh….” kataku.

“Koq waduh, kayak kita bukan saudara aja,” katanya. “Tolong anterin! Masak aku
minta anak cowok lain?”

“Iya deh, iya deh,” kataku.

Kami berdua pun menjauh dari kemah. Agak jauhan dikit sih tapi itulah sialnya.
Aku lupa jalan. Kak Vidia membawa tissu. Kemudian ia bersembunyi di balik
pohon. Aku cuma bawa senter saja. Setelah beberapa saat kemudian, kak Vidia
selesai.

“Udah, balik yuk!” katanya.

“Yuk!” kataku.

Nah, saat itulah aku lupa arah.

“Sebentar tadi kita ke kanan atau ke kiri?” tanyaku.

“Waduh, aku ya mana tau? Kamu gimana sih?” tanyanya panik.

“Ya udah, kita ke kanan aja,” kataku.

Kami pun ke kanan. Karena ini bukan jalan setapak, tapi rerumputan dan semak
belukar, kami pun bingung. Setelah lama berjalan, kami makin jauh masuk ke
dalam hutan. Perfect. Mana malam hari lagi.

“Lho, koq makin jauh ke hutan?” gumamku.

“GImana sih? Tersesat kaaaan?????” katanya.

“Sebentar…balik lagi yuk,” kataku. Aku pun berbalik lagi. Kami
berputar-putar hingga tak tahu arah. Saat itulah aku pun makin sadar bahwa
kami makin tersesat.

“Bagus, sekarang kita makin tersesat,” kataku.

“Aduh…gimana dong?” tanyanya.

“Aku ndak bawa Handphone nih,” kataku.

“Aku juga, tapi di sini mana ada sinyal dodol!” katanya.

“Eh, situkan yang suruh dianterin, mana aku tahu kalau kita nanti bakal
tersesat?” kataku.

“Wooooiii!!” teriak kakakku.

“SSSTTTT!!” kataku.

“Apa sih? Biar ada orang yang denger tauk!” katanya.

“Bego ya kamu? Kalau kamu teriak-teriak, siapa yang akan datang? Kita ini di
hutan! Ingat itu!” kataku.

Kak Vidia menangis. Ia memelukku.

“Koq jadi begini???” tanyanya. Ia menangis tersedu-sedu, “Bunda, Vidia mau
pulang.”

“Udah ah, koq nangis sih? Kita cari sungai saja. Biasanya kalau ada sungai
maka kita tinggal ikuti aja muaranya pasti akan ketemu peradaban,” kataku.

Aku mencoba menghibur kak Vidia. Akhirnya ia berhenti menangis. Kami pun
berjalan lagi, membelah hutan, tanpa arah. Akhirnya kami menemukan suara yang
deras. AIR TERJUN!

Tapi karena malam hari, kami tak tahu apapun dan bagaimana pemandangannya.
Hanya nyala senter saja yang bisa menerangi sekarang ini. Kemudian saat itulah
aku melihat sebuah gua. Lho? Ada gua?

“Lihat, ada gua!” seruku. “Kita istirahat di situ saja dulu. Besok kita
lanjutkan. Ini sudah malam dan dingin banget.”

Kabut pun makin tebal. Kak Vidia dan aku masuk ke gua itu. Cukup bersih. Gua
itu ada di sebelah air terjun. Kak Vidia duduk di dalam gua, aku mencari kayu
bakar dan mencoba menyalakan api. Cukup susah payah agku melakukannya sampai
kemudian aku pun bisa menyalakannya. Untung saja aku membawa korek api. Paling
tidak malam ini jadi tak begitu dingin.

Aku duduk bersandar di dinding gua sambil menjaga api agar tetap hangat. Saat
itulah kak Vidia tampak menggigil. Sebenarnya aku juga menggigil. Aku pun
mendekat ke kakakku dan memeluknya. Kami pun berpelukan erat untuk mengusir
dingin.

Malam makin larut. Api mulai menghangati ruangan gua.

“Aku takut Don, ndak ketemu bunda lagi,” katanya.

“Jangan gitulah, besok kita pasti akan tahu jalan pulang. Karena percuma kalau
sekarang kita paksa juga, ndak tau jalan. Kalau saja kita tahu arah utara,
mungkin kita bisa pulang, karena kalau terus ke utara kita akan ketemu posko
pintu masuk tadi,” kataku.

Kak Vidia mengangguk. Api mulai mengecil, kayunya pun mulai habis. Aku makin
erat memeluk kak Vidia. Kak Vidia juga makin erat memelukku. Dan…apinya
padam. Hawa dingin mulai menusuk lagi.

“Kak, sebaiknya kak Vidia aku pangku saja,” kataku.

“Ih, ogah ah, Kenapa memangnya?” tanyanya.

“Biar hangat, coba deh sini,” kataku.

Kak Vidia pun mengikutiku. Ia duduk di pangkuanku. Trus memelukku, “Begini?”

“Bukan, buka baju kakak bagian atas!” kataku.

“Kamu gila ya? Aku ini kakakmu jangan macam-macam!” katanya.

“Kita ini darurat, aku janji deh ndak macam-macam. Ikuti saja!” kataku.

Kak Vidia ragu. Ia berpikir. Sambil giginya gemertuk.

“Ya udah deh, tapi ingat jangan macem-macem ya!?” katanya.

Ia membuka kancing bajunya. Aku tak bisa melihatnya karena gelap. Aku pun
membuka bajuku yang atas.

“Sudah,” katanya.

“Peluk aku,” kataku.

Ia pun memelukku.

“Eh, tunggu!” kataku. “Branya dicopot juga dong!”

“Kamu udah gila ya?”

“Kak, kita perlu menghangatkan diri pakai tubuh kita, kakak mau mati
kedinginan di sini?” tanyaku.
Ia pun akhirnya luluh juga. Dicopot pengait branya. Kemudian ia naikkan
branya, sehingga buah dadanya terekspos. Sayangnya gelap. Aku tak bisa jelas
melihatnya. Sementara yang di bawah sana tak bisa diajak kompromi. Langsung
tegang.

“Sekarang peluk aku!” kataku.

Dan kami pun berpelukan, tanganku masuk ke dalam bajunya. Tangan kakakku juga
masuk ke dalam bajuku. Kami saling mendekap erat untuk memberikan kehangatan. Dadaku beradu dengan
buah dadanya. Aku bisa merasakan putingnya yang mengeras karena dingin menekan
dadaku. Dan, yang agak mengejutkan adalah selakangan kami saling
menempel. Tentu saja kakakku merasakan sesuatu di bawah sana.

“Dik, jangan macem-macem ya, ingat aku kakakmu,” katanya.

“Iya, aku mengerti kak, tapi akukan juga lelaki normal,” kataku.

Lama kami berpelukan seperti itu. Dada kami mulai menghangat.

“Mulai hangat dek,” kata Kak Vidia.

“Iya,” kataku.

“Kak Vidia, maaf ya. Aku melakukan ini,” kataku.

“Tidak mengapa. Kakak ngerti koq,” katanya.

Saat itulah, entah kenapa aku menggosok-gosok punggung kakakku. Dia juga
demikian. Aku masih ingat warna pink puting kakakku. Setan pun datang. Aku
berdebar-debar. Kak Vidia bisa merasakan debaran jantungku. Dia juga demikian.

“Baru kali ini kakak beginian dengan lelaki, rasanya nyaman,” katanya.

“Kak, boleh Doni memegang dada kakak?” tanyaku.

“Dek, ingat aku kakakmu,” katanya.

“Iya, aku tahu, sebentar saja kak. Doni ndak pernah megang punya wanita,
kepengen aja. Gakpapa kan? Kita juga kan pernah mandi bersama dulu,” kataku.

“Tapi kan itu kita masih kecil,” katanya.

“Boleh ya kak, sebentar saja,” kataku.

Kak Vidia ragu. Ia takut membuatku marah akhirnya tak bisa menghangatkan diri
lagi dan bisa mati kedinginan. Ia pun bilang, “Iya, sebentar saja ya.”

YeS pikirku.

Tanganku pun bergerak memegang buah dada yang sejak dulu ingin aku pegang dari
dulu. Pertama aku cuma memegang saja, selanjutnya, aku meraba, mengusap, dan
memijatnya lembut. Penisku makin tegang aja di bawah sana. Putingnya yang
berwarna pink itu aku pencet-pencet.

“Dek…udah…jangan….!” katanya.

Aku terus melakukannya, merempon istilahnya. Sambil sesekali
memelintir-melintir. Kak Vidia mulai gelisah. Kalau ia lepas pelukannya, maka
ia takut, kalau ia biarkan, maka aku akan bebas melakukan apapun kepada
tubuhnya. Dan dugaannya tak meleset. Kak Vidia lalu mengeluarkan tangannya
dari balik bajuku dan memeluk leherku.

“Jangan dek….aku kakakmu!” rintihnya.

Tanganku bergantian meremas buah dadanya. Kiri kanan. Sedangkan tangan kiriku
mengusap-usap pantatnya dengan memasukkannya ke dalam roknya dan CDnya.
Ruangan gua makin panas. Kak Vidia dilema. Ia cuma membiarkanku melakukan hal
itu kepadanya. Aku lalu berhadapan dengannya, aku tak tahu raut wajahnya
seperti apa sekarang, tapi aku tahu tempat bibirnya di mana. Bibirku kemudian
menempel di bibirnya. Kak Vidia makin pasrah. Ia membiarkan lidahku
menari-nari di dalam mulutnya menghisap lidahnya, menyapu langit-langitnya.
French Kiss itu membuat Kak Vidia klepek-klepek.

“Kak, aku cinta ama kakak,” kataku.

“Dek Doni…, jangan..hhhmmm,” aku menciumnya lagi. Aku lalu turun ke dadanya,
kuhisap putingnya. Kujilati. Manis sekali. “Deeekk….oohhh…hhhmmm..”

Aku terus meremas, menciumi dan menyusu ke dadanya. Kak Vidia makin gelisah.
Kalau ia melepaskanku ia takut kedinginan. Akhirnya ia pun nekat, ia
mendorongku. Ia menjauh dariku.

“Adek, kenapa adek melakukan hal ini?” tanyaku.

Aku diam.

Cukup lama aku diam menunggu reaksinya. Kemudian aku merasakan ia meraba-raba
dalam gelap mencari kakiku. Ketika ia merasakan kakiku, ia pun memelukku.

“Maafkan kakak, karena salah kakak adek jadi begini,” katanya.

Aku tak tinggal diam. Aku tak ingin melepaskannya lagi. Segera aku peluk dia,
kupangguti bibirnya. Ia gelapan. Aku baringkan dia di atas batu gua. Aku
kemudian menurunkan celana trainingnya, juga CDnya. Roknya aku naikkan.
Celananya sudah lepas dan aku melepaskan celanaku, aku segera turun ke sana
dan menghisap memek perawanya.

“Dek…jangaaan….aahhkk!” keluhnya.

Ia meronta-ronta, tapi tak ingin melepaskanku. Aku menjilati memeknya yang
bersih itu, tak ada bau kencing, bukti bahwa ia sangat bersih menjaga tempat
privasinya. Aku sapu lidahku di bibir vaginanya. Lalu aku jilat-jilat seperti
kucing, kucolok-colok di lubangnya. Dan yang terakhir aku hisap klitorisnya.
Klitoris kakakku ini lebih besar dari punya bunda. Aku hisap hingga pinggulnya
terangkat.

“Deekk…enak…kakak enak…” katanya.

Aku mengulangi lagi “memakan” daging kenyal itu. Kuhisap-hisap, dan
kutekan-tekan lubang itu dengan lidahku. Klitorisnya aku mainkan, kuhisap,
kujilat dan kupijat-pijat dengan bibirku. Kak Vidia menggeleng-gelengkan
kepalanya.

“Dek…kakak mau pipis….kakak mau pipis….maaf dek….pipiiiiiiiissss!!”
kata kak Vidia.

Benar saja, kak Vidia banjir. Ia orgasme. Aku mengisapnya. Beberapa lendir itu
kuminum. Agak hangat dan asin. Aku membersihkan bibirku. Kak Vidia lemas di
atas batu gua. Aku tersenyum. Kuposisikan penisku. Kuangkat pantatnya. Penisku
pun mulai masuk perlahan….perlahan…Kepalanya masuk, tapi susah.

“AAhhkkk…deekk…sakit….jangan!” katanya. Tangannya meraba memeknya dan
mendorong perutku. Tapi tak begitu kuat. Aku dorong lagi. Jemarinya menyentuh
penisku. Memeknya berkedut-kedut, seolah-olah menyedot-nyedot punyaku.

Aku tarik lagi kemudian dorong, pelan-pelan. Tarik dorong-tarik dorong. Setiap
aku dorong tubuhnya bergetar, kudorong, bergetar lagi dan…SREETTT…aku
seperti merobek sesuatu dan tiba-tiba seluruh penisku masuk semua.

“Adeeeekk…..oooohhh….,” ia meraba penisku yang sudah masuk semua. “Kenapa
adek melakukan ini? Kenapa adek rela memerawaniku?”

“Kak, aku cinta ama kakak,” kataku. Kemudian aku menggoyang. Aku menindih
tubuhnya. Ruangan itu menjadi panas. PLOK PLOK PLOK, suara selakangan kami
beradu. Rasa dingin sudah tak ada artinya lagi. Yang ada adalah usaha untuk
meraih kenikmatan bersama.

Awalnya kak Vidia mengeluh sakit dan perih. Tapi lama kelamaan ia cuma
mengeluh nikmat. Ah dan uh keluar dari mulutnya. Pikiran kami cuma ada nafsu.
Gua itu menjadi saksi bisu bagaimana kedua kelamin kami bersatu. Aku menghisap
putingnya lagi. Putingnya sangat mengeras. Aku yakin ia sangat menggairahkan
kalau aku bisa melihatnya. Aku masih membayangkan mulusnya dan putihnya kulit
kakakku dari video-video yang aku simpan.

Pantatku terus bergoyang hingga aku tak tahu lagi kapan aku bertahan dengan
posisi seperti ini, tapi aku makin cepat menggoyangnya.

“Dek, kakak mau keluar lagi. Kakak mau pipis,” katanya.

“Kak, aku juga udah di ujung. Keluar bareng yuk,” kataku.

“Jangan di dalam dek, plisss…jangan….,” katanya.

“Ndak bisa kak, enak banget soalnya. OOOHHH….AAAHH,” kataku.

“Dek….kamu brengseeekk….kakakmu sendiri dientot
….pejumu…pejumu…muncrat!!”, katanya.

“Banyak kak, banyak banget!” kataku. “OH….memek kakak enak, seret, penisku
nagih kak….keluar….ooooohhhh!”

“Deek…adeku yang ganteng…jadi bapak anakku…ini masa suburku dek, aku
hamil…ohhh…hamil deh…aaaahhkkk!” rancaunya.

Satu, dua, tiga, empat, lima,….sepuluh kali semprotan. Spermaku banyak
banget memancar di rahimnya. Kami berpelukan erat sekali. Dan akhirnya, karena
kedinginan dan kelelahan, kami pun tertidur.

Sinar matahari membangunkan kami. Gua menjadi hangat. Kak Vidia terbangun
pertama kali, disusul aku. Ia melihat vaginanya yang mengeluarkan lendir putih
dan merah darah. Darah perawannya. Kak Vidia menoleh ke arahku, lalu ia
menamparku dengan keras.

“Kenapa? Kenapa adek melakukan ini?” tanyanya. “Adek sudah janji bukan?”

“Maafin adek kak,” kataku. “Doni khilaf”

“Enak saja, khilaf. Kalau kakak hamil mau tanggung jawab?” tanyanya.

“Iya, aku akan tanggung jawab,” kataku.

“Lalu bagaimana kalau sampai bunda tahu? Betapa malunya bunda,” kata kakak
sambil menangis. Ia memeluk kakinya yang tak tertutup apapun itu. Aku lalu
memeluknya. Ia tak menolakku.

“Aku akan bertanggung jawab,” kataku. “Mulai sekarang Doni yng jadi suami
kakak.”

Kakakku diam. Ia cuma menangis. Tangisnya mulai berhenti ketika aku
mengusap-usap tubuhnya. Dan aku pun memanggutnya, kami berpanggutan lagi.

“Dek, sudah dek,” katanya. “Kita pulang yuk!”

“Sekali lagi kak,” kataku.

“Adekku…suamiku,” katanya.

Aku menciumi bibirnya, kami lalu telanjang. Sinar matahari sudah masuk, kini
aku bisa melihat jelas tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Aku menciumi dan
menjilati lehernya yang jenjang. Wangi tubuhnya aku hirup. Dadanya aku
cupangi, ketiaknya aku hisap hal itu membuatnya menggelinjang hebat. Kami
memberikan usapan dan ciuman, serta hisapan. Bibir merah muda kakakku pun
menciumi tubuhku, putingku, leherku, bibirku, semuanya. Bahkan penisku pun
diciuminya.

Aku menuntunnya untuk menungging. Aku posisikan penisku tepat di bibir
vaginanya, aku dorong pelan. BLESS…masuklah semuanya. Aku lalu mulai
menggoyangnya. Kakakku merintih-rintih keenakan. Ia sepertinya tak terasa
sakit lagi. Aku menyodoknya sambil meremas-remas toketnya yang putingnya
berwarna pink itu. Cukup lama aku menyodoknya dari belakang. Pantatnya
membentur-bentur selakanganku. Aku pun meremas-remas pantatnya, sambil kubelai
dengan kukuku punggungnya.

“Ampun dek, ampun, jangan! ahh…ahh….oh…” keluhnya.

“Kak, pantat kakak enak, memek kakak juga enak,” kataku.

Aku terus memompa keluar masuk. Sepertinya waktu itu sangat lama. Aku bisa
menikmati setiap centi penisku menggesek kulit rongga vagina kakakku. Dan aku
terkadang menghujam sedalam-dalamnya, vaginanya benar-benar menyedot-nyedot
penisku. Aku kemudian berhenti. Kak Vidia tampak lemas. Saat penisku dicabut
ia menjerit kecil, “Aww..”

Ia terkulai, kubalikkan tubuhnya. Kubantu ia untuk bangun. Kusuruh ia duduk di
pangkuanku. Sebelumnya aku memposisikan kemaluanku masuk lagi ke dalamnya.
SLEB…SRETTT…lagi-lagi rongga vaginanya menghisap dan meremas penisku.
Oh…seperti inikah rasanya perawan itu. Kami sekarang berhadap-hadapan. Tak
ada rasa malu lagi. Ia masih memakai kerudungnya, tapi bawahnya polos.

“Aku cinta ama kakak,” kataku.

“Ini cinta nafsu dek, ini ndak bener,” katanya.

“Tapi kakak suka kan?” tanyaku sambil menekan pantatku ke atas.

“Ohh….adekku yang nakal, habis ini udah ya, kakak capek,” katanya.

Aku lalu merebahkan diri. Ia duduk di atasku. Di posisi ini ia mengangkat
pantatnya naik turun, sesekali ia gerakkan maju mundur. Buah dadanya aku
remas-remas, ia memegangi tanganku.

“Ohh…dek, kakak hina sekarang….sekarang kakak seperti pelacur….
ohh,…kakak malu,” katanya.

“Engkau pelacurku kak,” kataku. “Oh…kak Vidia.”

“Sebenarnya aku tak mau, tapi penismu dek, ohhh….bikin ketagihan. Kakak
ingin saja diperkosa kamu….hhhmmm…ohh….ahh,” katanya.

“Terus kak, goyang!” kataku.

Kak Vidia menggoyang-goyangkan pantatnya, hingga makin lama makin cepat.

“Dek, kakak mau sampai…mau sampai…samp….” ia menutup mulutnya dengan
kedua tangannya dan kedua pahanya menghimpit pinggangku. Aku merasakan sesuatu
cairan membasahi penisku. Ia lalu ambruk di atasku.

Pinggulnya bergetar, merasakan nikmatnya orgasme yang baru saja ia raih. Aku
pun kemudian melepaskan kerudungnya, tampaklah sesosok wajah yang cantik.
Matanya jeli, bibirnya tipis dan lembut. Rambutnya panjang disanggul. Aku pun
melepaskan sanggul itu. Kini rambutnya terurai. Kak Vidia diam menikmati
sisa-sisa orgasme. Aku kemudian berguling. Kini bergaya misionari.

Mata Kak Vidia masih terpejam. Aku kemudian mulai bekerja lagi. Aku sedikit
berjongkok, Pahanya aku naikkan hingga lututnya sampai ke samping kepalanya,
dengan posisi ini aku lalu memompa penisku naik turun. Kak Vidia pasrah, ia
hanya menjerit nikmat ketika penisku menggesek-gesek rongga kemaluannya.

“Aaahhkkk….deekk…nikmatt banget..,terusss….,” katanya.

Aku pompa terus keluar masuk. Kemaluannya yang gundul tanpa rambut membuatku
makin terangsang saja. Pagi-pagi kami sudah mandi keringat. Aku bisa melihat
peluh sebesar jagung di keningnya. Bahkan tubuhku pun basah oleh keringat.
Setelah itu tak berapa lama kemudian aku merasa ingin keluar. Aku posisikan
diriku menindihnya, berbaring. Kupeluk dan kucium dia. Pantatku naik turun
dengan cepat.

“Kak, aku keluar….ohh….kakk…kakkk, penisku mau nembak lagi,” kataku.

“Deekk…hamili kakak dek,…ahhhkkkk….kakak pasrah…., tembak rahim kakak
ama pejuh angetmu!!” katanya.

“Kaaaakkk…..muncraaat!” kataku.

CROOOOTTT!!…CROOOTTT!! CROOOTT CROOOOTT CROOOOOTT CROOOT

Kedua bibir kami menyatu, rasanya kami semua melayang ke awan. Kakakku rela
menerima spermaku kali ini. Ia memelukku erat, kakinya mengapit dan mengunci
pinggangku. Spermaku terbenam semua di dalam vaginanya. Aku biarkan beberapa
saat penisku ada di sana. Meresapi kedutan-kedutan rongga kemaluan Kak Vidia.
Hingga kemudian penisku mengecil sendiri. Aku kemudian menariknya.

Tampak spermaku meleleh dari kemaluannya. Kak Vidia lemas. Ia mengatur
nafasnya, matanya terpejam pahanya terbuka. Aku lalu merebahkan diri di
sebelahnya.

***

Kami setelah itu membersihkan diri di air terjun. Tentu saja mandi keramas,
tapi tanpa shampoo. Dingin sekali airnya, setelah itu kami mengikuti arah
matahari, sehingga akhirnya sampailah kami di pos yang aku maksudkan.
Rombongan kami ternyata juga mencari kami. Kami kemudian bercerita bahwa kami
tersesat kemudian bermalam di gua. Insiden itu mengubah hidup kami berdua.
Kami seperti orang pacaran sekarang. Kak Vidia selalu manja kepadaku. Awalnya
bunda tidak curiga terhadap hal ini. Bahkan Kak Vidia sekarang berani untuk
tidur di kamarku, dan kami terkadang melakukannya lagi di kamarku.

Baiklah ini cerita Kak Vidia. Hubungan kami sangat rahasia sebenarnya. Aku dan
bunda masih melakukannya, juga dengan kak Vidia. Dan untunglah, kak Vidia juga
masih menstruasi. Tidak jadi hamil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*