Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal 2

Anak Nakal 2

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal 1

BAB 2

****

Bunda terbangun setengah jam kemudian. Ia keluar kamar ketika aku masih
menghitung stok toko. Ia menggeliat.

“Kenapa bunda?” tanyaku.

“Entahlah, bunda koq tidurnya nyenyak ya? Tapi badan bunda pegel-pegel semua.
Seperti habis olahraga aja,” jawab bunda. Tapi dalam hati aku senang sekali
karena tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hari itu aku membantu menjaga toko sampai sore. Dan setelah itu aku habiskan
waktuku di kamar sambil melihat foto-foto hasil ngentotku dengan bunda tadi.
Aku melakukan coli berkali-kali sampai penisku ngilu dan lemas. Malam itu aku
tidur nyenyak sekali, entah berapa banyak tissu yang kuhabiskan yang jelas aku
baru sadar tissue di meja kamarku tinggal sedikit sekali.

Hari-hari setelah itu aku jadi berbeda. Siang hari setelah aku pulang sekolah,
aku menyiapkan teh hangat untuk bunda, kemudian pasti ia mengantuk dan tidur.
Setelah itu aku pasti ngentotin beliau seperti sebelum-sebelumnya, dan kini
aku tidak takut lagi seperti dulu. Tapi aku tak melakukannya setiap hari,
hanya kalau ada kesempatan saja. Dan itu tidak pasti atau jarang. Kalau aku
sedang kepingin saja. Kalau tiap hari bisa bikin bunda curiga. Aku ingin
bercinta dengan bundaku dalam keadaan sadar, karena aku setiap ngentot dengan
bundaku selalu aku dengar rintihannya memanggil-manggil aku dalam mimpinya. Ia
seperti membayangkan ngentot dengan aku. Ini tanda tanya besar. Dan itu
terjawab ketika aku melihat rekaman di kamar mandi pada suatu siang setelah
aku pulang dari ujian di sekolah.

Aku melihat rekaman video bunda mastrubasi dengan jarinya di kamar mandi. Ia
mengocok-ngocok memeknya, sambil berkali-kali memanggil namaku. Kenapa? Apakah
ia mengalami “mother complex”?? Setelah ia mengeluh panjang, ia lalu menutupi
wajahnya sambil menggumam.

“Kenapa dengan aku? kenapa? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menginginkan
anakku sendiri?” DEG….betapa kagetnya aku mendengar pengakuan bundaku
sendiri dari rekaman itu. Ternyata benar, bunda menginginkan aku. Aku jadi
ingin saja ngentotin dia setelah ini. Obsesiku kepada ibuku sendiri makin
besar. Terlebih ketika tahu bahwa bunda masih haidh, masih produktif berarti.

Malamnya bunda sedang menghitung-hitung penghasilan. Kami di rumah sendirian.
Nuraini ikut mabid atau apalah namanya. Kak Vidia juga sedang nginap di
kampus ada kegiatan apa gitu. Aku sedang menonton tv sambil sesekali mengamati
bunda, mengamatinya saja bikin aku terangsang. Aku berusaha menyembunyikan
tegangnya penisku.

“Bunda, bunda capek kayaknya, ndak istirahat?” tanyaku.

“Nanti dulu Don, masih kurang dikit lagi,” katanya.

“Kalau bunda capek, aku menawarkan diri untuk mijitin bunda kalau tidak
keberatan,” kataku.

Bunda tersenyum renyah kepadaku. Ia kemudian masih melanjutkan pekerjaannya.
Hingga kemudian acara tv selesai dan aku mematikan tv. Bunda kemudian duduk di
sampingku. Aku hampir aja beranjak.

“Lho, katanya mau mijitin bunda?” tanyanya.

“Oh jadi toh?” kataku.

“Iya dong,” katanya.

Bunda kemudian membelakangiku. Aku lalu mulai memijitinya. Ia masih memakai
kerudungunya yang lebar. Aku mulai memijiti pundaknya.

“Oh, enak sekali Don, pinter juga kamu memijat,” katanya.

“Siapa dulu dong,” kataku.

Aku berinisiatif kalau malam ini aku harus bisa ngentot ama bunda. Aku pun
mulai pembicaraan.

“Bunda, boleh tanya?” tanyaku.

“Tanya apa?” tanyanya.

“Doni waktu itu lupa sesuatu, trus pulang lagi ke rumah. Nah, Doni mendengar
bunda manggil-manggil nama Doni di kamar mandi sambil merintih, emangnya
kenapa itu bunda?” tanyaku.

Bunda terkejut. Jantungnya berdebar-debar, ia bingung mau jawab apa. Ia pun
bertanya balik, “Kapan itu?”

“Beberapa waktu lalu, emangnya bunda ngapain sih di kamar mandi?” tanyaku.

“I…itu…nggak ada apa-apa koq,” jawabnya.

“Tapi koq, manggil-manggil nama Doni?” tanyaku.

Bunda terdiam. Aku lalu memeluk bunda dari belakang. Dari situlah aku tahu
bahwa jantung beliau berdebar-debar. Bunda lalu bersandar di dadaku. Matanya
berkaca-kaca. Ia lalu menutup wajahnya.

“Bunda, kalau bunda misalnya rindu sama ayah, Doni bisa mengerti koq. Mungkin
wajah Doni mirip ama ayah,” kataku.

Bunda lalu terisak, kami berpelukan. Bunda bersandar di pundakku. Ia tak
berani melihat wajahku. Ia terus memelukku dan aku membelai kerudungnya yang
panjang. Cukup lama ia bersandar di pundakku. Sampai aku kemudian mulai
memberanikan diri untuk melihat wajahnya.

“Maafkan bunda, engkau mirip sekali dengan ayahmu, dan bunda rindu dengan
sentuhan ayahmu,” katanya.

“Boleh Doni minta sesuatu bunda?” tanyaku.

“Apa itu?” tanyanya.

“Doni ingin mencium bunda,” kataku.

Ia tersenyum, “Boleh saja, kenapa memangnya?”

“Tapi bukan di pipi, di sini,” kataku sambil menyentuhkan telunjukku di
bibirnya.

“Ah, Doni ini koq kolokan banget? Aku ini bundamu, bukan kekasihmu,” kata
bunda.

“Sekali saja bunda, Doni ingin tahu rasanya ciuman, please….sekali saja,”
kataku.

Bunda terdiam. Ia menatap wajahku. Ia mengangguk walau agak ragu. Aku senang
sekali, tersenyum. YES! dalam hatiku.

Aku perlahan mendekatkan wajahku, wajah bundaku tarik ke arahku dan bibirku
menempel di bibirnya. Pertama cuma menempel, selanjutnya aku mulai menghisap
bibir bunda. Lagi dan lagi. Dan akhirnya kami berpanggutan. Nafas bunda mulai
memburu. Tiba-tiba bunda mendorongku.

“Tidak Don, tidak. Kita terlalu jauh. Kita ini ibu dan anak. Ndak boleh
beginian,” katanya.

“Lalu kenapa bunda mastrubasi sambil manggil-manggil Doni?” tanyaku.

“Kamu tahu?” tanyanya.

“Iya, Doni tahu. Itu artinya bunda kepingin kan?” tanyaku. “Sampai berfantasi
ama Doni.”

Ia tak menjawab. Tampaknya aku menang. Bunda sepertinya pasrah. Aku ingin coba
lagi. Kupegang kedua tangannya, aku memajukan wajahku lagi, kini ciumanku
disambut. Wajah kami makin panas karena gairah. Lama sekali kami berpanggutan,
nafas ibuku makin memburu.

Aku lalu menarik wajahku lagi, “Kalau misalnya bunda kepingin dan tidak ada
yang bisa memuaskan bunda, Doni bisa koq. Tapi jangan sampai semuanya tahu.”

“Tidak Don…hhmm…”, bibir bunda aku cium lagi sebelum selesai berkata-kata.
Ia berusaha mendorongku. “Sudah Don, sudah….bunda ndak mau, ingat kita ibu
dan anak.”

“Lalu kenapa bunda membayangkan dientotin Doni?” tanyaku lagi. Kucium lagi
bibirnya.

“Itu…hmmmm…itu….itu karena bunda khilaf, maafin bund…hhmfff,” bunda
tak kuberi kesempatan melakukan penjelasan. Kuremas-remas dadanya dari luar
gamisnya. Bunda pun mendorongku lebih kuat lagi.

“Baiklah,..baiklah…bunda memang ingin kamu, bunda ingin ngentot dengan kamu,
ayo ngentotin bunda! Sekarang!” katanya. “Buka bajumu!”

Aku lalu menghentikan aktivitasku. Melihat air matanya berlinang, aku
mengurungkan niatku. Aku berdiri. “Maafin Doni bunda. Maaf!”

Aku mencium tangannya lalu berbalik dan masuk ke kamarku. Perasaanku campur
aduk setelah itu. Beberapa kali bunda mengetuk pintu kamarku, tapi tak
kutanggapi, aku pun tertidur.

***

Paginya aku bangun, kemudian ingin ke kamar mandi. Saat itulah aku dikejutkan
karena ternyata bunda ada di dalam kamar mandi telanjang, bener-bener polos.
Aku terkejut dan mematung.

“Doni!!??” bunda terkejut.

“Oh, maaf bund,” aku segera menutup pintu kembali. Untuk beberapa saat aku
diam di depan pintu kamar mandi. “Biasanya DOni mandi duluan, ndak tau kalau
bunda mandi duluan. Habis bunda ndak ngunci sih.”

“Kamu mau mandi?” tanyanya. “Masuk aja!”

“Lho, bundakan di dalam,” kataku.

“Gak papa, sama bunda sendiri koq malu?” katanya.

Aku agak ragu, tapi kemudian aku pun masuk. Bunda melirikku sambil tersenyum,
“Ndak usah malu, copot sana bajunya.”

Aku pun mencopot seluruh pakaianku. Bunda menyiram badannya di bawah shower.
Terus terang hal itu membuatku terangsang banget. Penisku langsung menegang.
Dan setan pun masuk ke otakku, aku melihat bundaku seperti seorang bidadari,
segera aku memeluknya dari belakang, penisku yang sedang tegang maksimal
menempel di pantatnya.

“Bunda, maafin Doni, tapi Doni ndak tahan lagi!” kataku. Bunda terkejut dengan
seranganku. Aku meremas-remas toketnya, kupeluk erat bunda.

“Doni…sabar Don, sabar!” kata bunda.

“Tapi, aku tak mau melepaskan bunda,” kataku.

Bunda mematikan shower, kemudian membelai tanganku. Aku menciumi lehernya dan
menghisapnya dalam-dalam.

“Oh, Doni…anak bunda sekarang sudah besar….,” katanya. Tangan satunya
tiba-tiba menyentuh kepala penisku. Penisku yang sudah tegang itu dipegangnya,
makin tegang lagi, lebih keras dari sebelumnya. Kemudian bunda mengocoknya
lembut. “Kamu ingin ini kan?”

Aku mengangguk.

“Bunda tahu koq, kamu kan anak bunda,” katanya. “Lepasin bunda sebentar.”

Aku lalu melepaskan pelukanku. Bunda berbalik, tinggi kami hampir sama, tapi
aku lebih tinggi sedikit. Matanya menatapku lekat-lekat.

“Bunda, mengakui punya hasrat kepada anak bunda sendiri. Bunda tidak bohong.
Itu semata-mata bunda rindu dengan belaian ayahmu. Dan bunda selama ini juga
takut untuk bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tapi…bunda berpikir
keras, apa jadinya kalau bunda berhubungan dengan anak sendiri, itu kan
tabu…tapi bunda merasa nyaman bersamamu, hanya denganmu bunda sepertinya
ingin, bukan lelaki lain. Dan bunda juga butuh itu,” kata bunda sambil terus
mengocok lembut otongku yang udah tegang max.

Aku makin keenakan tak konsen apa yang diucapkan olehnya, tapi ketika ia
berlutut di hadapanku dan menciumi kepala penisku, aku baru yakin dan ini
bukan mimpi. Bunda mengoral penisku.

“Oh bunda,” kataku.

“Bunda akan berikan sesuatu yang engkau tak pernah sangka sebelumnya,” kata
bunda. Ia lalu menjilati kepala penisku. Lubang kencingku dijilati seperti
kucing. Kedua tangannya aktif sekali, yang satu meremas-remas telurku yang
satunya mengocok-ngocok penisku. Penisku yang sudah tegang makin tegang saja.

“Bunda,…bunda…enak sekali,” kataku.

Lidah bunda menjelajah seluruh permukaan penisku yang tanpa rambut itu. Bunda
menjilati pinggiran kepala penisku, membuatku lemas saja. Lalu seluruh
batangku dijilatinya. Kemudian dimasukkanlah kepala penisku ke mulutnya. Ia
kemudian perlahan-lahan memaju mundurkan kepalanya. Penisku yang besar itu
makin masuk ke rongga mulutnya. Ia kemudian menghisapnya dengan kuat. Aku
makin lemas. Lemas keenakan.

Bunda lalu mengusap-usap perutku, sesekali meremas-remas pantatku, tanganku
pun secara otomatis meremas rambutnya. Kalau misalnya ini film bokep aku pasti
sudah coli. Tapi ini tak perlu coli karena ada yang bertugas mengocok penisku
di bawah sana. Dengan mulutnya dan oh…lidahnya menari-nari mengitari kepala
penisku, aku benar-benar keenakan.

“Bunda…oh…enak banget, udah bunda,
bunda….Doni…kelu…aaaaarrrr.. AAAAHHHH!” aku keluar. Spermaku tak bisa
ditahan lagi. Bunda makin cepat memaju mundurkan kepalanya, penisku seperti
ingin meledak dan SRETTT CROOOTTT CROOOOTTT, entah berapa kali aku menekan
penisku ke kerongkongannya sampai ia agak tersedak. Spermaku banyak sekali
muncrat di dalam mulutnya.

Bunda mendiamkan sebentar penisku hingga tenang dan tidak keluar lagi. Ia lau
menyedotnya hingga spermanya tidak keluar lagi. Ia lalu mengeluarkan penisku.
Ia menengadahkan tangannya, kemudian ia keluarkan spermaku. Mungkin ada kalau
5 sendok makan. Karena pipi bunda sampai seperti menyimpan banyak air di
mulutnya.

“Banyak banget spermamu,” Bunda lalu menciumi baunya. “Baunya bunda suka.”

Bunda lalu berdiri menyalakan shower. Membersikan mulut dan tangannya.

“Mandi bareng yuk,” kata bunda.

“I…iya,” kataku.

Kami pun mandi bersama. Pertama bunda menyabuni tubuhku. Dari dadaku, perutku,
punggungku, kakiku dan penisku pun disabuni. Penisku tegang lagi.

“Ih…masih ingin lagi,” kata bunda sambil menyentil penisku.

“Habis, bunda seksi sih,” kataku.

Bunda tersenyum. “Nanti ya, habis ini.”

Aku pun bergantian menyabuni bunda. Saat itu mungkin aku bukan menyabuni, tapi
membelainya. Aku jadi tidak malu lagi untuk mencumbunya. Aku menggosok
tubuhnya. Punggungnya aku sabuni, ketiaknya, dadanya aku pijat-pijat,
putingnya aku pelintir-pelintir, ia mencubitku.

“Anak Nakal! Ibu nanti jadi terangsang. Sebentar, sabar dulu,” katanya.

Aku tak peduli, shower aku nyalakan untuk membersihkan sabun-sabun di tubuh
kami. Aku memanggut bibir bunda. Kemudian aku menetek kepada bunda, kuhisapi
putingnya.

“Don, di kamar bunda aja yuk,” katanya. “Mumpung Vidia sama Nur belum pulang.”

Aku mengangguk.

Bunda mengambil handuk dan membersihkan air di tubuhnya, aku pun melakukannya.
Dan agak mengejutkannya aku segera membopongnya.

“Eh…apa ini?” ia terkejut.

“Doni, ndak sabar lagi,” kataku.

“Oh…anak bunda, jiwa muda,” katanya.

Kami keluar dari kamar mandi, aku masih telanjang, demikian juga bunda. Kami
lalu masuk ke kamar bunda. Segera bunda aku letakkan di ranjang, kamar aku
kunci. Bunda segera mulutnya kupanggut, kuciumi lehernya, payudaranya pun aku
hisap-hisap. Kuremas, putingnya aku pelintir-pelintir, kuputar-putar, bunda
menggelinjang. Ia remas-remas rambutku. Kuhisap buah dadanya yang putih dan
ranum itu hingga membentuk cupangan. Cupangan demi cupangan membekas di buah
dadanya.

“Nak…ohh….bunda terangsang banget,” katanya.

“Bunda, ohh..”, aku menciumnya lagi.

Sekarang aku turun ke perutnya, lalu ke tempat pribadinya. Aku tak tinggal
diam, segera aku ciumi, aku jilati, aku sapu memeknya yang basah sekali itu.

“Ohhhh…., Donn…..i…itu….aahhh…,” bunda menggelinjang. Kakinya
terbuka aku memegangi pahanya. Kulahap habis itu memeknya, klitorisnya pun aku
jilati, hal itu membuatnya menggelinjang hebat.

Nafas Bunda mulai memburu. Ia meremas-remas rambutku, ketika aku menuju titik
sensitifnya ia semakin menekan kepalaku. Aku pun makin semakin menekan
lidahku, hal itu membuatnya bergetar hebat.

“Don…bunda…bunda keluar…aaahhhh…..ahhhh….ahhhhhhhh!!” pinggul bunda
bergetar. Sama seperti orgasme-orgasme sebelumnya. Aku pun segera bangkit,
melihat reaksi bunda. pahanya menekan pinggangku. Saat itulah penisku sudah
menegang, siap untuk masuk ke sarangnya.

“Bunda…bunda siap?” tanyaku.

“Masukkan…masukkan! Bunda sedang orgasme,” katanya.

Aku pun memposisikan penisku tepat di depan lubangnya, kugesek-gesek, bunda
lalu mengangkat kepalanya. Matanya memutih, saat itulah pinggulnya naik dan
penisku masuk begitu saja. BLESS!!!

“Ohhhh…..!” mulut bunda membentuk huruf O, menganga merasakan sesuatu yang
selama ini ia inginkan. Ia memelukku, dada kami beradu dan aku memanggutnya.

Bunda merebahkan dirinya lagi. Aku menindihnya. Aku peluk bundaku.

“Bunda, Doni masuk lagi. Masuk lagi ke tempat Doni lahir,” kataku.

“Doni…ohh….iya, iya,….sudah masuk, rasanya penuh….ohhh,” kata bunda.

Aku lalu menaik turunkan pantatku. Penisku otomatis menggesek-gesek rongga
vaginanya yang becek. Kami berpandangan, mata kami beradu. Pinggul bunda
bergerak kiri-kanan membuat penisku makin enak.

“Bunda, bunda…ohh….perjaka Doni buat bunda….ohh…enak bunda….bunda
apain penis Doni?” tanyaku sambil melihat matanya.

“Anakku, ohh….bunda enak banget, kepingin keluar lagi, ohh….bunda ndak
pernah keluar berkali-kali seperti ini….ohh…aahhh….sshhh,” bunda
menatapku lekat-lekat. Kening kami menempel. Bibir kami saling mengecup
berkali-kali.

Tak hanya di situ saja, aku sesekali menghisap puting susunya. Keringat kami
setelah mandi keluar lagi. Tubuh bundaku yang seksi ini membuatku makin
bersemangat untuk menyetubuhinya. Bunda….aku ingin menghamilimu.

“Bunda…ohhh…keluar ….ahh…ahh…di mana?” tanyaku.

“Ohh….ahh..ahh, terserah Doni,” kata bunda. “Tapi…ohh…jangan di
dalam…di luar aja…bunda takut hamil…..”

“Maaf bunda, tak bisa, Doni ingin menghamili bunda. Bunda, Doni
sampai….Sperma perjaka Doni buat bunda…..ini…ini…!!”

“Jangan…jangan…..Doni….ahhh…aduh…bun da juga
keluar…..sama-sama…tapi…ahkhh…jangan di dalam….ahhhhhhhhhhh!” bunda
mengeluh panjang.

Aku mencium bunda bibir kami bertemu dan pantatku makin cepat bergoyang dan di
akhirnya menghujam sedalam-dalamnya ke rahim bunda. Spermaku memancar seperti
semprotan selang pemadam kebakaran. Kutumpahkan semua kepuasan ke dalam
tempatku dulu dilahirkan. Mata bunda memutih. Pantatnya bergetar hebat karena
orgasme. Ia mengunci pinggulku, aku menindihnya dan memeluk erat dirinya
sambil menciumnya. Entah berapa kali tembakan, yang jelas lebih dari sebelas.
Karena saking banyaknya orgasme itu berasa lama. Memek bunda berkedut-kedut
meremas-remas penisku, aku masih membiarkan penisku ada di dalam sana.

Butuh waktu sepuluh menit hingga penisku mengecil sendiri, dan kakinya
melemas. Aku pun kemudian bangkit. Bunda tampak lemas, ia seakan tak berdaya.
Penisku serasa ngilu. Aku melihat ke vaginanya. Tampak cairan putih menggenang
di dalam lubang vaginanya. Aku tersenyum melihatnya. Aku kemudian merebahkan
diri di sebelah bunda. Kemudian bunda memelukku, kami pun tidur terlelap.

Siang hari kami terbangun. Aku dulu yang terbangun. Melihat tubuh bundaku
telanjang memelukku membuatku terangsang lagi. Aku menciumi bibirnya. Bunda
masih tertidur. Aku lalu menggeser badanku, kemudian bangkit. Penisku sudah on
lagi, mungkin karena melihat tubuh bundaku. Aku kemudian membuka pantatnya
mencari lubang vaginanya. Kemudian segera saja aku masukkan. SLEB…bisa
masuk! Masih basah. Mungkin karena sebagian spermaku masih ada di dalam sana.

Aku pun menggoyang-goyang. Maju mundur. Posisiku berlutut sambil bertumpu
kepada kedua tanganku. Pinggulku mengebor pantatnya. Bunda membuka matanya, ia
tersenyum melihat ulahku.

“Dasar anak muda, ndak ada puasnya,” katanya.

“Bunda…Doni enak bunda….,” kataku.

Bunda cuma diam melihatku. Aku sesekali meremas toketnya. Aku goyang terus
sambil kulihat wajahnya. Bunda memejamkan mata, mulutnya sedikit terbuka,
mengeluh pelan.

“Bunda, enak banget…..hhhmmmmhh….keluar…Doni keluar lagi bunda….”
kataku. “Pantat bunda enak banget.”

“Doni…ahhh….aaaaahhh…bunda juga…koq bisa ya??” kata bundaku.

Tangannya menarik tanganku, aku berlutut sambil menghujamkan sekeras-kerasnya
ke memeknya. Aku pun keluar lagi. Tapi tak seperti tadi. Kali ini cuma lima kali tembakan,
tapi begitu terasa. Setelah itu aku mencabut penisku dan ambruk.

“Bunda, Doni cinta ama bunda,” kataku.

“Cinta karena nafsu, kamu bernafsu dengan bunda, makanya seperti ini,”
katanya.

“Tapi bunda juga bukan?” kataku menyanggah.

Bunda diam.

“Bunda tidak bangun? Tidak buka toko?” tanyaku.

“Toko tutup dulu, kemarin ibu bilang ke Mbak Juni untuk tutup dulu,” kata
bunda. “Bunda ingin istirahat dulu. Badan bunda serasa sakit semua, sebab
sudah lama tidak bercinta lagi.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, Doni pergi dulu,” kataku.

“Ke mana?” tanyanya.

Aku terdiam.

“Ke mana?” tanyanya lagi.

“Bunda merasa kehilanganku? Berarti bunda juga mencintaiku,” kataku.

Ia mencubit perutku.

“Maunya,” katanya. Kami berpanggutan sebentar untuk beberapa lama sebelum
kemudian aku meninggalkan kamar bunda tanpa baju.

*****

Setelah itu, hubunganku dengan bunda berjalan sembunyi-sembunyi. Bunda sering
dan selalu melarangku untuk mengeluarkan spermaku di dalam rahimnya, tapi aku
tak peduli. Kalau ada kesempatan, saat itulah kami bercinta. Di dapur apalagi.
Dan itu pengalaman yang sangat mendebarkan. Bunda bertumpu kepada wastafel.
Dan aku menyodoknya dari belakang. Kami melakukan fast-sex karena saat itu Kak
Vidia dan Nuraini ada di rumah. Bahkan terkadang kami mencicil hubungan sex
kami ketika Kak Vidia dan Nuraini bolak-balik ke dapur.

Belum, bunda belum hamil. Ia masih menstruasi. Tapi nanti ada saatnya beliau
hamil. Karena aku yang memaksanya. Tapi itu nanti. Sekarang beralih ke Kak
Vidia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*