Home » Cerita Seks Mama Anak » Indahnya Duniaku 2

Indahnya Duniaku 2

Cerita Sebelumnya : Indahnya Duniaku 1

-UMIKU BERUBAH (OV BINTANG)-

“Kok umi tiba-tiba keluar sendirian? Buru-buru lagi. Ada apa ya?” pikirku tak fokus menghadapi pelajaran si guru aneh bin ajaib yang jelas jelas ga ngerti apa apa mengenai sastra. “Cabut ah”

“Nin. Misi nin. Gue mau ke toilet” kataku kepada teman sebangku yang sebenernya jutek banget.
“Kamu mau bolos lagi?” bisiknya perlahan.
“Urusan gue lah. Suka-suka gue”
“Eh aku disuruh jagain kamu tau sama pak akbar. Nanti aku kena hukum sama pak akbar bintang” jawabnya agak keras.
“Ssssttt. Berisik nih. Lagian lo mau aja disuruh jagain gue. Emangnya lo mau jadi satpam?”
“Engga lah. Cita citaku itu mau jadi dokter. Karena ibuku….”
“Se-kip. Malah curhat. Udah sekarang gue mau ke toilet. Kebelet ini”
“Engga mau. Nanti kamu kabur”
“Etdah ini cewek. Minta dijitak banget”
“Jitak aja kalo bisa. Weee”

Sial. Ini cewek ngeselin banget sumpah. Gue khawatir sama ibu gue ini. Oke. Mesti pake cara kasar.

“Pak” teriakku dengan keras.
“Iya bintang”
“Saya ijin ke toilet pak”
“Ya ampun saya kirain kenapa. Kenapa gak maju kedepan dan ngomong pelan pelan aja”
“Ini pak. Masa saya dilarang sama nindy. Kalo saya ngompol kan berabe pak”
“Nindy mau nemenin bintang ke toilet?”
Dan anak-anak sekelas pun tertawa renyah. Sukurin lo ndi. Malu kan lo. Haha.
“Udah. Udah. Sana kamu pergi ke toilet. Nanti pesing lagi kelasnya”
“Oke pak”

Weee. Kujulurkan lidahku pada nindy untuk membalasnya. Segera kupercepat langkahku menuju toilet untuk satu hal. Kabur. Ya kabur. Toilet laki laki disekolah ini bau pesingnya luar biasa jadi enggan ada yang memakainya. Dan di samping toilet ada pohon yang tumbuh cukup tinggi melewati pagar. Lewat situlah aku biasanya pergi membolos sekolah. Dan tiba tiba.
“Bintaaaaannnngggg….”
Oh my god. Anjing penjaga sekolah dateng. The most enemy of bintang menghadap. Tanpa ba bi bu lagi aku lari. Toilet bagaikan jauh. Degup jantungku jadi tiga kali lipat karena harus lari dan takut tertangkap si anjing penjaga yang ga jelas itu. Dengan mudah aku memanjat pohon. Lompat ke atas tembok sekolah. Dan meluncur keluar. Teriakan-teriakan si anjing penjaga sekolah itu mulai pudar. Ah mungkin karena usia. Udah tua pake lari lari plus teriak teriak lagi. Sok banget. Mau ngejar anak muda. Cukup sekali aku tertangkap olehnya ketika kabur. Dan kalian mau tau apa hukumannya? Minum air putih enam gelas sekaligus. Kembung perutku saat itu. Dan aku harus mondar mandir ke toilet untuk buang air kecil. Iya ditoilet yang super pesing dan ga jelas bentuknya itu. Esoknya kukerjai si anjing penjaga sekolah alias pak akbar. Tas butut berwarna hitamnya aku masukkan cacing cacing tanah. Alhasil hari itu dia sensitif kepada seluruh warga sekolah. Dia berjanji akan menjadikan orang yang menaruh cacing cacing itu di dalam tasnya akan menyesal seumur hidup.

“Hap” Kakiku menyentuh jalanan yang berbatu. Untungnya aku jatuh dibagian berumputnya bukan dibagian batunya. Sekolahku ini sebenarnya dikelilingi oleh sawah nan luas. Tapi dipinggiran sekolahnya ada jalan setapak yang cukup luas yang biasanya dipakai untuk jalan para petani disin. Sekitar 400 meter dari sekolah ke arah utara ada perkebunan yang cukup luas disisi kiri dan kanan jalan desa. Lalu setelah melewati perkebunan itu selama 15 baru sampai dirumahku.

Oke saatnya nyusul umi. Ada apa sih umi buru buru seperti itu. Enggak biasanya. Aku lari perlahan mengejar umi. Panasnya matahari tak kuhiraukan, lumpur-lumpur kotor aku lompati dan tiba-tiba muncul seekor harimau (oke ini udah lebay). Umi. Sosok yang kuhormati karena beliau tegas dan bersahaja kepada seluruh anaknya. Beliau adalah orang yang berpendidikan dan selalu mengutanakan keluarganya. Itulah yang kulihat dari seorang umi nadia. Bahkan umi dapat mengajar disekolah ini pun karena channel yang dia punya ketika S2 di salah satu perguruan tinggi. Aku agak kesal sih kenapa harus pindah kesini.

Dikejauhan aku melihat sosok laki laki yang terlihat seperti memeluk pohon. Ah paling dia lagi kencing atau orang itu punya kepercayaan mistik. Tapi makin dekat aku dengan orang itu makin jelas dia melakukan apa. Seorang perempuan dengan blazer putih dan rok span panjang berada dalam pelukannya. Pakaiannya sudah terkoyak dan tangannya sudah berada dimana-mana. Dan…. Itu ibuku. Sialan. Brengsek. dan lebih brengseknya lagi itu parjo! Kupercepat lariku, emosiku menggelegak yak menentu. Daaaaannn. Buaaaaggghhhh. Kupukul dengan sekencang-kencangnya parjo brengsek itu.

“Pergi lo setan. Anjing bener lo berani merkosa umi gue. Lo ketemu ama gue lagi abis lo bangsat” teriakku dengan kencangnya.

Aku berdiri melindungi ibuku dengan gagahnya. Layaknya seorang superman yang melindungi orang-orang. Berkibar bajuku ditiup angin menambah suasana kepahlawananku.
“Umi gapapa? Umi baik baik aja?”
“Iya bintang. Umi baik-baik saja sayang”
“Yaudah umi sekarang bintang anterin pulang ya”
“Iya bintang”

Kupapah umiku berdiri. Selama perjalanan pulang ke rumah kami lebih banyak diam. Suasana seperti kaku. Aku berkutat pada pemikiranku sendiri begitupun juga umi. Mungkin umi juga masih shock karena peristiwa tadi. Dan aku masih sangat amat kesal. Bagaimana mungkin parjo berani untuk memerkosa ibuku. Memang ibuku masih sangat cantik diusianya ke 39. Yah namanya juga mantan tante tante gaul kota. Dia sangat menjaga bentuk tubuhnya. Dengan tinggi tubuh sedang menurut ukuran wanita, kulit putih dengan ukuran dada yang sedang dan pas ditubuh umi pasti menarik untuk semua laki-laki. Akupun kalo bukan anaknya sudah kupacari beliau. Haha.

Sesampainya dirumah segera kubuatkan teh manis hangat untuk umi. Yah kata orang yang manis itu kan bisa membuat stres seseorang hilang atau kalo engga hilang minimal mengurangi lah.

“Makasih ya bintang. Perhatian banget sama umi”
“Iyalah. Anaknya siapa dulu. Umi nadia!”
“Iya perhatian. Tapi tetep aja bolos sekolah sih”
“Eh…. Oh….”
“Uang jajannya umi potong ya bintang”
“Yah kok gitu sih umiiiii. Jahaaaatttt….”
“Hahaha” umi tertawa renyah. Mudah mudahan umi tidak mengalami trauma atas kejadian tadi. Tapi setelah itu suasanan dingin menyelimuti bahkan setelah kak Tyan pulang. Hari itu ditutup dengan terpaksanya umi mencoba untuk melakukan hal dengan biasa. Dan kami tak bercerita apa-apa.

Hari-hari setelah kejadian itu ada yang aneh dengan umi. Sekarang dia dirumah seringkali berpakaian minim. Bahkan ke sekolah pun mulai pakai rok span yang pendek walaupun masih dalam batas wajar. Tapi entah kenapa dia yang selama 5 bulan terakhir selalu menggunakan roknya yang panjang sekarang ditinggalkannya. Dirumah pun sering hanya menggunakan tanktop dan hot pants yang selalu dia gunakan sewaktu di rumah dulu. Bahkan sekarang ketika selesai mandi dia memakai handuk saja lalu memasak dan menonton televisi, padahal sebelumnya tidak sama sekali. Pernah kulihat umi sedang ganti pakaian dengan pintu kamar setengah terbuka.

Hari ini puncaknya ketika aku pulang dari jalan-jalan sore terlihat umi sedang tidur dengan masih berpakaian lengkap setelah mengajar. Kugoyangkan badannya untuk membangunkannya. “Umiii. Bangun. Mandi dulu kalau mau tidur… Umiii..”
Sudah kugoyang tubuhnya dengan agak kencang namun dia tak bangun juga. Dengan agak keras aku bersuara “umiii… Bangun mi..”
Tapi tak bangun juga. Ah mungkin dia kelelahan. Kuputuskan untuk menungguinya. Duduk sambil menonton televisi. Sesekali umi bergerak dalam tidurnya. Aku tak menghiraukan pada awalnya. Tapi lama kelamaan tidurnya makin berantakan. Kemejanya terangkat sedikit sehingga perut putihnya sedikit terlihat. Tidak ada timbunan lemak diperutnya. Rok nya terangkat hingga paha. Menimbulkan nafsu bagi yang melihat paha mulus dan kaki jenjangnya. Dengan tubuh seperti ini pantesan si parjo ngiler ngelihatnya. Dadanya yang membusung seirama dengan nafasnya. Naik turuun. Ah menggoda sekali. Ingin ku remas rasanya. Oke. Ini berlebihan. Aku kan anaknya. Stop berfikir macam macam.

Umi bergerak lagi. Kali ini dia tidur terlentang. Kemejanya makin terangkat. Perutnya yang indah makin terkspos. Kaki kanannya bergerak menekuk. Membuka roknya, memperlihatkan celana dalam berwarna merah yang berenda. Tapi kuamati dengan seksama nampaknya bukan celana dalam. Dan penisku mulai membesar. Gimana engga. Didepanku seorang wanita molek cantik dan idaman para pria terlelap dan terkspos. Stop….. Dia adalah ibuku. Orang yang aku kagumi dan aku sayangi sepenuh hati. Tapi aku tak tahan kalau begini terus. Wajahnya yang putih. Uh dadanya yang pas sekali ditubuhnya.. Dan dalemannya yang berwarna merah. Aku berdiri mendekati umi. Ku raba tangannya lalu pindah ke betisnya hingga naik ke pahanya. STOOP!. dia ibuku. Tak boleh aku melakukan ini. Kuputuskan pergi ke kamar setelah mengunci semua pintu dan menutup semua jendela. Aku tak mau ibuku menjadi korban pemerkosaan lagi. Apalagi oleh anaknya sendiri.

-AKU DIKUASAI NAFSU (POV UMI)-

Hhhh. Aku menghela nafas panjang. Setelah kejadian dengan parjo itu membangkitka semua birahiku. Sudah dua tahun aku tak disentuh oleh lelaki. Bukan karena aku sok suci karena pada dasarnya aku ini tak suci. Aku takut kejadian yang ada di mimpi-mimpiku dan masa laluku terulang kembali. Tapi kejadian dengan parjo memunculkan kebiasaan buruk ekshibku. Tapi aku hanya berani melakukan itu dirumah. Belum berani aku melakukannya di luar rumah seperti dulu. Jikalau dulu aku sering ekshib diluar dan berkelakuan baik didepan anggota keluargaku. Sekarang aku hanya berani didalam rumah. Menggoda satu satunya lelaki yang ada didalam rumah. “BINTANG”. Ya bintang. Dialah sasaran eksib ku sekarang ini. Gak tau dan persetan dengan apa yang ada dalam pikirannya. Sering sekali kugoda dia dengan memakai hotpans dan tanktop tanpa bra. Setelah mandi tak memakai baju dahulu tapi berlama lama dengan handukku. Kulihat tatapan matanya makin lama makin penuh nafsu meskipun dia berusaha menangkisnya. Dan untuk meredakan nafsuku, selain eksib aku hanya bisa bermartubasi. Ya banyak dildo yang dulu sering kupakai ketika aku tinggal di kota. Setelah dua tahun aku tak memakainya kini kupakai kembali.

Hari ini nafsuku penuh menggelegak, tapi juga letih karena sehabis mengajar full menggantikan bu Dita. Dia merasa pusing dan ingin istirahat di UKS. Dan ketika di UKS aku melihat bu Dita digoyang oleh Parjo. Ya oleh parjo, apasih yang dipikirkan oleh bu Dita sehingga mau digumuli oleh parjo. Kulihat penisnya tak besar besar amat kok. Dasar. Katanya sakit tapi malah main enak di UKS.
Sesampainya dirumah aku merasa makin terangsang dan bernafsu. Tapi letih ini menggangguku. Didalam rumah kulihat tak ada satu orang pun. Ah paling Bintang pergi jalan jalan sejenak dan 10 menit lagi pulang. Tyan tampaknya masih kerja di Puskesmas sebagai tenaga pembantu mengingat ekskulnya di PMR. Kuputuskan aku tidur sejenak.
.
“Umiii. Bangun. Mandi dulu kalau mau tidur… Umiii..” tubuhku digoyangnya dengan agak kencang. Aku segera sadar dari mimpiku. Sejenak terlintas. Ah aku ingin menggoda bintang. Dengan agak keras kembali bintang bersuara “umiii… Bangun mi..”

Kuputuskan untuk tak menghiraukannya. Ingin aku melakukan sesuatu untuknya. Ah nafsuku kembali meningkat. Kuputuskan untuk menarik sedikit kemejaku hingga perutku yang langsing terlihat. Aku sedikit bergerak untuk menyamankan posisiku. Rokku pun ku angkat hingga sepaha sedikit demi sedikit. Semua itu kusamarkan dalam gerak tidurku. Hingga pada akhirnya aku bergerak terlentang. Kemeja kuangkat hingga hampir batas dari braku. Semua bagian perutku tersingkap. Kaki kanan kutekuk dan agak kukangkangkan kedua kakiku. Pasti sekarang terlihat sudah bagian dari pahaku. Bukan hanya pahaku, g-string merahku pasti sudah terlihat olehnya. Bintang terlihat gelisah. Duduknya tak menentu. Dia akhirnya berdiri. Meraba punggung tanganku kali ini pindah kebetis kananku dan terus naik keatas hingga pahaku. Aku sejenak berhenti bernafas. Ingin kusudahi atau kuteruskan dan aku putuskan untuk membiarkannya saja. Dan…. Ah aku kecewa tangannya kembali diangkat. Anak baik.

Di dalam kamar, aku sempat terheran heran dengan kejadian itu. Ada apa denganku ini, mengapa aku bertingkah seperti seorang wanita murahan. Belum pernah sekalipun aku merasa terangsang kembali seperti ini. Aku meraba ke dalam g-stringku, basah. Aku pun melucuti baju yang kukenakan, dan masuk ke kamar mandi untuk berendam. 45 menit dengan cepat terlewati tanpa kusadari. Kukeringkan tubuhku dan akupun kemudian rebahan di atas tempat tidur. Pikiranku kembali ke saat di mana aku memberikan tontonan g stringku ke Bintang. Keinginan untuk kembali menggodanya semakin kuat kurasakan. Semakin lama memikirkan itu, semakin basah aku rasakan di antara kakiku. Aku berjalan ke arah cermin, kuperhatikan kedua payudaraku yang membusung menantang dengan kedua putingnya yang berwarna merah kecoklatan. Kuremas remas pelan kedua payudaraku. Aku mendesah ketika tanganku secara tidak sengaja mengenai putingku. Ketika tanganku turun ke arah memek ku yang hairless, kurasakan lendir melekat di jemariku. Kujulurkan lidahku, kuoleskan lendir itu ke cermin di depanku, tepat di daerah lidahku yang sedang menjulur.

Kutatap tajam tajam kedua mataku di depan cermin, “Dasar lu Perek Murahan!” kataku kepada bayanganku di depan cermin sambil kuremas remas kedua payudaraku. Kurasakan sengatan listrik di sekujur tubuhku ketika aku mengatai diriku sendiri. Tidak tau mengapa aku sangat suka mengata ngatai diriku sendiri sebagai wanita murahan.”Ahhh….” aku mendesah waktu kupencet keras kedua putingku. Kudekatkan mukaku ke depan cermin, tanpa rasa jijik, kujilat cairan vaginaku sendiri yang melekat di cermin. Tingkah gila yang kulakukan benar benar membuatku semakin terangsang. Kusambar sebatang lipstick merah terang dan kusapukan di bibirku. Keingingan untuk kembali menggoda Bintang kembali menerpaku.

Akupun mengendap endap turun sambil memakai mantel handuk berwarna putih, aku mengintip kamar Bintang. Aku cuma bisa melihat wajah Bintang yang tertidur. Akupun masuk ke dalam dan mengambil sebotol air dingin dan dengan pelan aku membuka pintu kamarnya. Aku berjalan tanpa menimbulkan suara ke arah kamar Bintang, tapi betapa kagetnya aku ketika aku melihat bahwa Bintang tidak memakai celana dan semua kancing bajunya terbuka. Ternyata Bintang sedang tertidur, setelah masturbasi. Aku masih bisa melihat spermanya yang berceceran di lantai masih belom mengering. Bukannya memalingkan muka, aku malah bengong melihat besarnya batang yg tergantung di antara kakinya. suatu hal yang lumrah bagiku melihat penis yang hitam, besar dan berurat mengingatkanku pada penis sesorang dahulu dan penisnya jauh lebih besar dari penis suamiku dulu. Tubuhnya yang hitam, perut dan dadanya yang terlihat keras, dan jembutnya yang lebat membuatku semakin bingung harus berbuat apa. Aku tidak ingin berhenti melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya, tetapi aku aku juga takut jika tiba tiba Bintang terbangun dan memergoki aku tengah melihatnya.

Tetapi, bukannya segera melangkahkan kakiku dan segera beranjak dari tempat itu, tanganku dengan sendirinya bergerak ke kedua buah dadaku. Sambil tetap melihat penis di hadapanku, aku mulai menyentuh diriku sendiri, kumainkan kedua putingku, kuremas remas payudaraku dari luar mantelku. Akal sehatku menyuruhku kedua tanganku berhenti, tapi rangsangan demi rangsangan di payudaraku membuat akal sehatku kalah. Kutarik pelan tali yang mengikat mantelku, kubuka mantelku dan kulemparkan ke lantai. Sekarang aku telanjang di depan seorang lelaki yang merupakan anakku sendiri. Angin malam menerpa tubuhku membuatku menggigil. Aku berjalan pelan mencoba tidak mengeluarkan bunyi apapun. Kuamati penis hitam itu dengan seksama. Kepalanya yang hitam, dan batangnya yang panjang dan besar dan berurat, kedua buah pelir yang berukuran jumbo dan tergantung bebas, bulu jembutnya yang tebal seolah menunjukkan kejantanannya. Ketika kulihat ke lantai, banyak sekali ceceran sperma yang tumpah di sana. Kueranikan diri untuk masuk ke dalam kamar Bintang yang berukuran 5 x 5 meter itu. Kurasakan bau sperma yang menyengat. Kulihat tetesan keringat mengalir dari dada Bintang. Dengan pelan, aku berjongkok di hadapannya. Wajahku menjadi sejajar dengan penisnya. Ketika kulihat dia masih tertidur, aku beranikan diri memegang kepala penisnya dengan ujung jariku. Ketika jariku menyentuh kepala penisnya, kulihat mata Bintang masih terpejam. Kudekatkan wajahku ke penis itu, kuhirup aroma sperma yang sangat menyengat. Ingin sekali kukecup pelan penis itu tapi segera kuurungkan niatku.

Pelan pelan kubuka lebar lebar kedua kakiku dan kugesek gesekkan telapak tanganku ke klitorisku. Tangan kiriku menyapu puting payudaraku dari kiri ke kanan. Kunikmati permainan kedua tanganku sambil memejamkan mata. Kutahan sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara rintihan. Baru kali ini aku bertindak senekat ini. Rasa deg degan yang menyerangku membuatku semakin bersemangat. Beberapa kali aku harus sedikit membuka mataku untuk melihat ke wajah anakku yang masih tertidur. Kubayangkan aku memberIkan anakku sebuah kenikmatan berupa oral sex. Beberapa waktu berlalu dan aku sampai di puncak orgasme ku. Kurasakan nafasku yang memburu, jantungku yang berdetak sangat kencang serta cairanku yang menetes di tanganku. Meskipun aku baru orgasme, aku masih sangat terangsang. Hasratku yang belom terpenuhi membuatku ingin sekali lagi melakukan masturbasi.

Dengan pelan kutinggalkan kamar Bintang itu, mengambil mantelku dan segera kekamarku. Kubuka pintu kamar dan kucari dildoku yang berukuran agak besar sambil melepas mantelku lagi. Kucium dildo itu dan kuarahkan menuju vaginaku. “Aaahhhh” rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku ketika dildo itu menyentuh kugesek gesekkan ke memekku yang sudah basah. Kuangkat dildo itu dan kumasukkan ke mulutku, kujilat jilat sambil kubayangkan penis Bintang. Ketika batang dildo itu sudah hampir seluruhnya kulumuri dengan ludahku, kubimbing dildo itu ke pintu masuk lubang kenikmatanku sementara kurebahkan tubuhku di atas kasur.
Ogghhhhhkkkk……. Bintang enak banget kontol kamu naaaakk” kataku berfantasi sedang disetubuhi oleh Bintang sambil mendorong masuk seluruh dildo itu.

Kukeluar masukkan dildo itu pelan pelan sambil aku mendesah dan meracau. Aku mulai tenggelam dengan permainanku sendiri. Kupejamkan kedua mataku dan setelah beberapa saat, aku mulai berkata kata jorok membayangkan Bintang sedang menyetubuhiku. Aku meracau memohon kepada Bintang untuk menyetubuhi pelacurnya keras keras.

“Iya adeeeee.. Adeeee…… Oooooohh bintang.. Adeeeee….! Perek ade mau keluar………..” Kataku agak keras.

“umi!” Tiba tiba ada suara dari depanku ketika aku sudah sangat dekat dengan orgasme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*