Home » Cerita Seks Mama Anak » Indahnya Duniaku 1

Indahnya Duniaku 1

Cerita Sex Sedarah dengan Mama : Indahnya Duniaku

“Ah membosankan sekali didesa ini. Sepi. Gak ada yang asik sama sekali. Kenapa sih ibu mau pindah ke tempat seperti ini?” gerutuku dalam hati.
“Adeeeeee. kenapa kamu sering sekali diatas pohon sana sih? Sarapan dulu Sini”
“Hhhhh. Iya umi. Sebentar” jawabku malas.

Yah inilah aku. Hidup yang tadinya dikota, meskipun tak bergelimang harta sih tapi selalu berkecukupan. Mulai dua bulan lalu aku harus pindah ke desa terpencil disuatu daerah di pulau Jawa. Entah apa yang dipikirkan oleh umiku. Setelah ditinggal mati oleh ayahku dua tahun lalu tinggal dirumah lama katanya membuat bebannya menjadi tambah berat. Jadilah rumah lamaku dijual dan pas ada tawaran mengajar didesa ini. Yak kami pun pindah. Disini aku diberi pilihan oleh ibuku memang. Ikut kakak perempuanku yang kuliah atau ikut umiku. Yah karena aku laki-laki dan aku harus menjaga umiku. Sekarang aku tinggal bersama umiku, dan satu kakak perempuankui. Rumah yang aku tinggali saat ini adalah pemberian mbak Reksa, anak perempuan dari pemilik sekolah tempat umiku bekerja.

UMI

“Reksa. Maaf yah, si Bintang memang kekanak-kanakan. Bahkan sarapan saja harus disiapkan seperti ini. Kalo engga disiapin engga bakal makan dia”
“Maklum mbak. Dia kan masih kecil.”
“Hahaha. Badan sebesar ini masih kecil sa? Umur sudah tua, jenggot sudah lebat gitu. Masih kecil dari mana”
“Umi……..” kataku mendelik.
“Duh emang masih kecil. Masih imut gitu. Haha”
“Mbak reksa….”
“Iya nih anak ibu emang imut-imut kata tetangga.” kata ibuku dengan pedenya.
“Ya ampun. Iya lah imut. Ibunya aja imut. Kok mbak gak nikah lagi?”

Uhuuukk. Tetiba umiku batuk. Suasana berubah. Tadinya ceria sekarang jadi suram, dingin. Tiba tiba bunyi krieeeettttt ( oke ini bohong). Yak. Umi memang sangat sensitif apabila diungkit masalah “menikah lagi”. Aku juga gatau kenapa.

“Sudahlah reksa. Jangan bahas ini. Aku malas membicarakannya”
“Iya mbak. Reksa minta maaf. Sangat amat minta maaf”
“Yaudah. Yuk berangkat ke sekolah. Sudah terlalu siang. Ade mandi. Jangan terlambat masuk sekolah”
“Aye, aye umi. Tenang aja. Yang jaga piket pak akbar soalnya. Galak dia”
“Hush bintang” ibuku memandang dengan marah.
“Canda umiii”
“Yaudah bintang. Daaaaa. Jangan nakal ya” kata mbak reksa dengan manja sambil mengedipkan mata. Sekarang aku gak tau artinya kedipan mata itu. Tapi nanti aku akan tau apa arti kedipan mata itu.

————TRAGEDI ITU DATANG (POV UMI)————–
“Ayolah tyan. Kita bersenang-senang. Kamu tau kan kita biaa hepi-hepi. Tak ada suamimu disini”
“Iya. Bentat ya mas bambang. Sebentar lagi akan tyan akan kasih kejutan ke mas”

Tiba-tiba. Braaaaakkk. Pintu terdengar dibanting.
“OH JADI INI YANG KAMU LAKUKAN TYAN. KAMU BELUM TOBAT TERNYATA TIAN!” teriak seorang lelaki dengan marahnya.
“Mas maafkan tyan mas. Maafkan..”
“TIDAK ADA URUSAN TYAN. TIDAK ADA URUSAN LAGI. SEKARANG KAMU SAMA BAMBANG SAJA! TERSERAH! TINGGALKAN AKU SEKARANG!”
“Tyan. Disini ada ku tyan.” kata
“Tidak mas bambang. Aku harus mengejarnya”
“Tidak usah tyan. Tak usah”
“Aku harus”
“Tyan. Tyan. Tyan”

Dan aku terbangun.
“Tyan. Ya ampun kok malah tidur sih?
“Oh maaf bu. Mungkin karena lelah”
“Yasudah. Sudah waktunya kamu ngajar. Cuci muka dulj sana”
“Iya bu. Maaf.”
“Jangan terlalu lelah ya tyan.”

Dengan gontai dan lemas aku merapikan buku-buku dan pergi untuk cuci muka terlebih dahulu. Kenapa aku memimpikam hal itu. Hal yang membuatku trauma. Hal yang….. Ah sudahlah. Ada apa sebenarnya? Aku sudah melupakan semua itu. Kenapa harus muncul kembali? Aku tak mau lagi membuka tabir gelap tahun yang sudab lewat. Aku tak ingin lagi pergi ke dua tahun lalu yang pemuh dengan masa kelam. Aku mengajar dengan tidak gairah. Aku merasa lemas dan berfikiran yang macam-macam.

“Ibu kenapa? Ibu gulu sakit?” tanya seorang muridku membuyarkan lamunanku.
“Ah engga nak. Ibu hanya sedang tidak enak badan”
Kuputuskan menyudahi kegiatan belajar mengajarku hari itu. Aku meminta izin untuk segera pulang dan beristirahat kepada kepala sekolah. Tak dinyana pulang cepatku hari itu menjadi sebuah tragedi besar yang akan merubah semua hal mengenai hidupku beserta anak anakku.

Kulangkahkan kaki dengan cepat melewati sawah yang luas dan mulai memasuki daerah perkebunan yang sepi nan gelap. Sebuah bayangan berkelabat melewatiku dan segera mendorong tubuhku merapat ke sebuah pepohonan.
Didekapnya tubuhku erat-erat dengan kedua lengannya yang kokoh. Kulihat wajahnya sekilas dan aku tau itu Parjo. Penjaga kebun samping rumahku. Kurang ajar dia. Dia berniat memperkosaku. Kemudian sambil sedikit menundukkan kepalanya, bibir Parjo yang tebal mulai menyentuh bibirku. Lidahnya mulai menerobos bibirku dan mencari-cari lidahku.
Napasnya mendengus-dengus menggebu-gebu. Aku tidak mampu menghindar karena tubuhku terjepit lengannya yang begitu kokoh.

ÔÇ£Hmmngghh.. Ughh..ÔÇØ, saat lidah Parjo dapat menemukan lidahku, ia mulai mengerang dengan suara yang benar-benar maskulin. Aku yang tadinya berusaha meronta ronta, mulai berdesir darahku mendengar erangan maskulinnya itu.

Aku merasa betapa dekapan Parjo begitu ketat menarik tubuhku hingga tubuhku dan tubuhnya berhimpitan sangat ketat. Aku dapat merasakan ada benda yang mengganjal di perutku dari balik celana Parjo. Tangan Parjo yang mendekapku mulai bergerak nakal. Satu tangannya mulai meremas buah pantatku dari luar rok ketatku sedangkan tangan satunya sangat ketat mendekap punggungku.

Aku mulai terangsang saat lidah Parjo yang bergerak liar di dalam mulutku mulai mendorong-dorong lidahku dan tangannya yang tadinya meremas-remas buah pantatku mulai menyingkap rokku ke atas. Rokku ditariknya ke atas hingga pantatku yang tertutup CD segera tersentuh langsung oleh telapak tangannya yang kasar. Aku menggerinjal karena tangannya yang kasar terasa geli di pantatku yang halus.

ÔÇ£Hhsshh.. Oughh..ÔÇØ tanpa sadar aku sedikit melenguh karena tangan kasar Parjo meremas buah pantatku yang terbuka dengan gemasnya. Napasku mulai memburu dan gairahku mulai terusik. Apalagi bau keringat Parjo yang menusuk sangat maskulin dalam penciumanku.

ÔÇ£Ja.. Jangan.. Joo.. Ohh.. SshhÔÇØ antara sadar dan tidak aku masih sempat meronta dan mulutku masih mencoba mencegah perbuatan Parjo lebih jauh. Namun seolah tak peduli dengan desisanku atau mungkin karena penolakanku tidak begitu sungguh-sungguh, Parjo tetap saja merangsekku dengan serbuan-serbuan erotisnya.

Lidah Parjo terus saja menjilat-jilat mulutku dan turun ke daguku. Aku semakin gelisah menerima rangsangan ini, apalagi tangan Parjo yang tadinya meremas-remasa pantatku kini bergeser ke depan dan mulai mengelus-elus daerah perut di bagian bawah pusarku. Tubuhku bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakal Parjo yang sudah mulai merambah daerah selangkanganku.

ÔÇ£Joo.. Jang.. Jangannhh.. Ohh..ÔÇØ aku semakin mendesis antara menolak dan tidak.

Buaaaaaaggggghhhhhh. Anakku memukul parjo dengan keras hingga terjengkang.
“Pergi lo setan. Anjing bener lo berani merkosa umi gue. Lo ketemu ama gue lagi abis lo bangsat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*