Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 17

Bundaku 17

Cerita Sebelumnya : Bundaku 16

Part 17

Kalian perna merasakan tidur dirumah sakit ? Tau bagaimana rasanya ketika dokter memperbolehkan kita pulang ? Senang bukan, rasanya seperti dikasih hadiah special dari orang yang kita sayangi, dan itulah yang kurasakan saat ini, rasanya seperti mimpi ketika aku bisa kembali lagi kerumahku sendiri, rasanya sudah bertahun-tahun aku meninggalkan rumahku.

Sore itu seperti biasanya aku menghabiskan waktuku duduk santai dikursi kebesaranku, tepat disamping jendela aku duduk sambil menikmati segelas susu hangat bikinan Bunda.

“Adek… !” Huff, satu orang keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya. Kak Santi yang selama ini selalu berpakaian sopan kini berdiri dekat denganku hanya mengenakan sehelai handuk, kulitnya yang hitam manis, khas kulit orang jawa mengingatkanku dengan seorang artis Farah Quin, ya… siapa yang tidak mengenal pemilik kulit erotis ini.

“Sore Kak, gimana kabarnya ?” Ujarku sembari meletakan kedua tanganku di gagang jendela kamarku.

“Kamu itu kabarnya yang gimana ? Kok pulang dari rumah sakit gak bilang-bilang Kakak.”

“Kalau adek bilang nanti gak supraise lagi dong.”

“Huh, dasar kamu.” Jawab Kak Santi sembari memasang wajah imutnya. “Ya uda deh, Kakak mandi dulu ya Dek, keburu sore nanti.” Katanya sambil memainkan ujung rambutnya.

Setelah pintu kamar mandinya tertutup, aku segera melompati jendelaku. Mungkin kalian mengira kalau aku ingin ngintipin Kak Santi mandi bukan ? Kalian salah besar, aku sama sekali tidak berniat ngintipin Kak Santi mandi, dari pada ngintipin Kak Santi mandi mending aku nyamperin Kak Liza yang sedang berada dikamarnya.

Tanpa permisi lagi aku langsung membuka kamar Kak Liza, dia tampak terkejut saat melihat kehadiranku. Tentu saja ia terkejut karena ia baru saja hendak mengganti pakaian, buru-buru Kak Liza melilitkan kainnya kembali lalu mengambil dan mengenakan kerudung kebesarannya.

“Hayo liatin apa ?” Tegur Kak Liza.

“Gak liatin apa-apa kok Kak, emang mau ngeliatin apa ?” Kataku berpura-pura polos, lalu naik keatas tempat tidurnya, kubiarkan kedua kakiku menjuntai kebawah, lalu kuayunkan kedua kakiku secara bersamaan.

Mataku tak lepas memandangi Kak Liza yang sedang mengaitkan branya diluar kain yang ia kenakan, lalu ia memutar bra tersebut sehingga bagian kaitannya berada dipunggungnya, dengan perlahan ia menyangkutkan kedua tali branya diatas pundaknya, kini Kak Liza terlihat seperti badut. Bagaimana tidak, ia mengenakan branya diluar kain panjangnya, tentu itu membuatnya terlihat sangat lucu sekali.

Tapi pertunjukan yang sebenarnya baru dimulai, dengan satu tarikan kebawah, maka bra tersebut langsung nyangkut dikedua gunung kembarnya. Kok bisa gitu ya ? Tapi sayang dengan begitu aku tidak bisa melihat gunung kembarnya.

“Kenapa ? Ngarep… ” Katanya yang terdengar seperti mengejekku. Sepertinya dia tau apa yang sedang kupikirkan saat ini.

“Kepedeaan.” Elakku tak kalah sengit.

Kak Liza membuka lemari bajunya, lalu ia mengambil celana dalamnya yang berwarna biru langit bermotif bunga-bunga, pinggiran celananya terdapat renda-renda yang menghiasi celana dalamnya itu, membuatnya terlihat semakin indah.

“Tutup matanya.” Perintah Kak Liza.

Aku tak memperdulikan perintahnya, mataku lurus menatap bagian bawah tubuhnya yang sedang membelakangiku, lalu dengan perlahan ia mengangkat kainnya setinggi pinggangnya.

Oohww… Sial penisku langsung berdiri saat melihat penampakan pantatnya.

Pantat Kak Liza hampir mirip dengan miliknya Bunda, walaupun tak sebesar milik Bunda tapi pantat Kak Liza sangat kencang, didukung oleh kulitnya yang putih bersih, maklum Kak Liza memang keturunan chinese sehingga ia memiliki kulit yang sangat putih dan kulit putihnya membuat ia terlihat semakin sempurna.

Kak Liza mengangkat satu kakinya, lalu memasukan kedalam celana dalamnya, setelah itu ia melakukan hal yang sama dengan kaki kirinya.

Aku membungkukan tubuhku sehingga wajahku sejajar dengan pantatnya, walaupun tak begitu dekat tapi aku dapat melihat bibir vaginanya yang mengkilat. Dasar… Kak Liza nakal, mungkin dia pikir aku masih seperti Aldi yang dulu yang hanya berani menatap tanpa berbuat apapun.

Tapi biarlah Kak Liza berpikiran seperti itu, toh aku cukup menikmati peranku yang seperti ini.

Perlahan Kak Liza menggoyang pantatnya ketika ia menarik celana dalamnya hingga membungkus selangkangannya. Setelah itu tepat saat ia memutar tubuhnya aku langsung menutup mataku.

“Anak pintar.” Puji Kak Liza.

“Sudah belum Kak, capek ni… ”

“Iya gak sabaran banget sih Dek, sekarang matanya sudah boleh dibuka.”

Segera kubuka mataku, shiitt… ternyata Kak Liza sudah mengenakan gaun tidurnya, sedikit kecewa sih, tapi tak apalah ini sudah lebih dari cukup.

“Adek pulang dulu ya Kak, sudah sore.” Ujarku lalu turun dari atas ranjangnya.

“Pintunya jangan lupa ditutup lagi.”

“Iya… ” Jawabku, sembari membanting pintu kamarnya.

***

“Sebelumnya kami benar-benar meminta maaf, kalau kedatangan kami ini sangat lancang. Saya pikir Ibu sudah tau tujuan kami datang kesini.” Aku tak sengaja mendengar obrolan Bunda dengan ketiga tamunya.

Aku berjalan berjinjit lalu bersembunyi dibalik tembok yang memisahkan ruang tamu dan keluarga. Siapa malam-malam begini yang datang bertamu kerumah kami ? Dasar tamu yang gak tau sopan santun.

“Iya, ini yang ketiga kalinya anda datang kerumah saya.”

“Lalu apa jawaban Ibu ?”

“Saya belum bisa memutuskannya, tunggu kedatangan Suami saya dulu.” Jawab Bunda, kulihat dari wajahnya terpancar ketidak sukaan terhadap ketiga tamunya.

“Baiklah kami tidak akan memaksa, tapi saya dengar katanya beberapa pekan terakhir kampung Ibu sering didatangi perampok, bahkan menurut kabar yang kami dapatkan, anak kandung Ibu nyaris saja celaka.”

“Maksud anda.” Kata Bunda dengan intonasi nada yang cukup tinggi menandakan kalau ia tersinggung dengan ucapan pria berkumis tersebut.

“Sekali lagi kami meminta maaf, tapi apakah itu tidak bisa menjadi pertimbangan bagi Ibu untuk segera menjual rumah ini, saya hanya khawatir, takutnya mereka datang lagi dan salah satu keluarga Ibu menjadi korbannya.”

Deg… apa maksudnya ? Mereka mengancam Bunda ? Berani sekali mereka…

Aku hendak melabrak mereka dan hendak menanyakan maksud perkataan mereka, tapi belum sempat kaki ini melangkah Bunda lebih dulu mengambil sikap tegas.

“Maaf kedatangan anda dirumah saya sangat tidak diharapkan, jadi silakan tinggalkan rumah saya sekarang juga.” Bentak Bunda sambil menunjuk kearah pintu.

“Baiklah, saya berharap Ibu tidak menyesal.”

Mereka segera mengambil kembali berkas mereka yang tergeletak diatas meja, lalu dengan terburu-buru keluar dari Rumah kami. Aku merasa sedikit legah saat mereka meninggalkan rumah kami.

***

Tok… tok… tok…

“Iya siapa ?”

“Aku Bun, boleh masuk ?”

Kreek… Pintu kamar Bunda terbuka, kulihat Bunda berdiri didepan pintu hanya mengenakan gaun sutra yang amat tipis hingga aku dapat melihat pakaian dalam Bunda yang serba merah, selain itu Bunda juga mengenakan kerudung lebarnya membuatku semakin terangsang.

Jujur aku suka wanita berkerudung, nafsuku akan naik dua kali lipat setiap kali melihat wanita berkerudung, apa lagi kondisinya seperti saat ini. Mungkin ini semua di karenakan aku slalu dikelilingi wanita berkerudung, makanya aku lebih suka wanita berkerudung.

“Bu… Bunda !”

“Kok bengong ? Sini peluk Bunda.” Panggilnya, lalu aku berhamburan memeluk tubuhnya.

Kami naik keatas tempat tidur, sambil berpelukan kusambut undangan darinya dengan memberinya sebuah ciuman hangat di bibirnya, tangan kananku membelai lembut dadanya, memerasnya dengan pelan, menikmati kelembutan payudarahnya.

“Kamu sudah keras sayang !”

“Iya Bunda, ini karena Bunda.” Balasku, sembari membuka kaosku, lalu disusul celanaku hingga aku telanjang bulat.

Bunda segera meraih penisku, mengocoknya dengan perlahan sambil menjilati kepalanya. Uuhkk… jilatan Bunda memang tidak ada duanya, apa lagi ketika lidahnya menyapu lobang kencingku rasanya ngilu-ngilu tapi enak.

Segera kubelai kepalanya yang tertutup kerudung berwarna merah cerah, apa yang kulihat saat ini adalah pemandangan terindah yang perna kulihat, seorang wanita paruh baya lengkap dengan kerudungnya sedang sibuk mengoral penis anaknya sendiri.

Bayangkan, betapa nikmatnya sensasi yang kurasakan saat ini.

Puas menerima oral dari mulutnya, aku meminta Bunda kembali terlentang. Kutindih tubuhnya lalu kulumat bibir merahnya, sementara tanganku membelai pahanya.

“Hmmppp… Hmmpp… ”

Bunda menggeliat, hingga aku melepaskan lumatannya.

“Kamu hebat sayang !”

“Bunda juga hebat sekali, ciuman Bunda hangat sehangat kasih sayang Bunda ke Adek.” Pujiku sambil membelai wajahnya.

Perlahan aku membuka gaun sutranya, lalu kulempar kepojokan. Kupandangi tubuh Bunda yang kini hanya mengenakan pakaian dalam, dia terlihat begitu sempurna di usianya yang sudah memasuki kepala empat.

“Kok ngeliatnya gitu, jelek ya ?”

“Eh… gak Kok Bunda, malahan Bunda sangat cantik, ni burungku aja sampe gak mau tidur lagi.” Kataku sambil memperlihatkan burungku.

“Duh… kasian, sini buruan di masukin.” Bunda meraih penisku lalu ia menyingkap kesamping celana dalamnya, kemudian ia mengarahkan penisku kebibir vaginanya yang sudah basah.

Perlahan aku mulai mendorong pinggulku, bleess… dengan satu kali hentakan burungku kini bersarang didalam tubuhnya.

Aku mulai memompa tubuhnya dengan ritme perlahan, sangat teratur menikmati setiap gesekan antara kulit penisku dengan dinding vaginanya. Jepitannya yang begitu kuat menimbulkan sensasi geli ditubuhku.

“Aahkk… enak sayang, Ughkk… kontol kamu nikmat Nak.” Lenguh Bunda, kedua tangannya dengan erat mencengkram bantalnya.

“Iyaaa Bunda, memek Bunda juga enak bangeeett… Aahkk… Bunda.”

“Kamu suka memek Bunda sayang ?”

“Suka… suka banget.” Jawabku.

Lalu dengan sedikit kasar aku membuka branya, melepas pelindung terakhir dadanya, hingga payudarahnya yang sebesar pepaya melompat keluar. Tak ingin membuang waktu, sambil mengocok penisku didalam vagina Bunda, aku mengulum payudarahnya, layaknya seorang bayi yang sedang menyusu kepada Ibunya.

Puas dengan gaya konvensional, aku meminta Bunda untuk menungging. Kutarik lepas pelindung terakhirnya, hingga kini aku dapat melihat sepenuhnya tubuh telanjang Bunda.

Kembali kuarahkan penisku kebibir vaginanya yang sudah becek, tanpa kesulitan berarti aku kembali menyetubuhinya.

Plaakk… sebuah tamparan mendarat dipantatnya yang sedang bergoyang.

“Pukul lebih keras sayang ! Bunda hampir sampai.” Pintanya, sembari ikut menubrukan pinggulnya keselangkanganku.

Aku tau Bunda memang suka sedikit bermain lebih kasar, seperti sekarang saat aku memukul pantatnya Bunda sangat menikmatinya, membuatku semakin sering memukuli pantatnya hingga meninggalkan bekas merah dipantatnya.

Lama-lama akupun mulai tergoda ingin menggoda anus Bunda, yang tampak mengintip disaat aku menyodok vaginanya, iseng aku mulai membelai anusnya, lalu dengan perlahan kucoba memasukan jari telunjukku kedalam anusnya. Ternyata tidak semudah yang kubanyangkan, tapi berkat kesabaranku akhirnya jari telunjukku berhasil tenggelam kedalam anusnya.

“Sa… sayang apa yang kamu lakukan ?” Protes Bunda.

“Hehehe… Bunda nikmatin aja ya, Adek yakin Bunda pasti suka.” Kataku sembari menggerakan jari telunjukku keluar masuk beriringan dengan sodokan penisku.

“Gilaaa… Aahkk… kamu nakal sayang.” Erangnya.

Plok.. plokk… plok… suara benturan pantatnya yang menabrak pahaku ketika aku menghujamkan penisku semakin dalam kedalam lorong vaginanya.

Aku semakin gila, membuatku kesetanan mengorek-ngorek anusnya. Shitt… kalau begini terus aku benar-benar bisa gila.

“Bunda… boleh kumasukan kontolku kedalam pantat Bunda?” Tanyaku ragu-ragu, takut kalau nanti Bunda marah.

“Eehk… kamu serius ?”

“Iya, Adek serius Bunda, Adek menginginkan lobang yang satunya.” Kataku penuh keyakinan.

“Kalau kamu memang suka pantat Bunda, lakukan saja sayang.” Sungguh aku tidak menyangkah dengan apa yang kudengar, mengingat Bunda bukan tipe wanita nakal

Jawaban Bunda nyaris saja membuatku melompat kegirangan.

Karena sudah mendapat izin dari Bunda, aku segera mencabut penisku, lalu menggesek-gesekkannya kelubang anusnya, tapi sepertinya lobang perawan itu cukup sulit untuk segera kutembus.

“Uuhkk… Pelaaan-pelan sayang ! Bunda belom perna melakukannya.” Bunda melenguh, wajahnya semakin tenggelam kedalam bantalnya, sementara kedua tangannya mencengkram erat seprei miliknya yang sudah tak lagi berbentuk.

Perlahan tapi pasti, akhirnya kepala penisku berhasil mendobrak pintu anusnya, sesaat kurasakan anus Bunda mencengkrang erat penisku yang semakin lama semakin dalam masuk kedalam anusnya.

Harus kuakui ini adalah pengalaman pertama bagiku bermain anal sex, dan baru kutau ternyata sensasi yang kudapatkan sangat berbeda dibandingkan ketika aku menyodok vaginanya. Tapi walaupun begitu kedua-duanya terasa nikmat.

“Sempiiiit banget Bunda Aahkk… tapi Bunda suka kan pantatnya Adek entotin kayak gini.” Desahku sembari menarik kerudung merahnya sehingga wajah Bunda tertarik, mengadah kedepan.

“Naa aam… Aahkk… ini nikmat sekali sayang, enttooot pantat Bunda sayang, lebiiih dalam lagi… Aahkkk… aahkk… ” Desahnya semakin keras membuatku semakin bersemangat menyetubuhi anusnya.

Tak terasa sepuluh menit berlalu, aku mulai tak sanggup lagi menahan sensasi jepitan anusnya dibatang kemaluanku, rasanya aku sudah hampir meledak.

“Bundaa… adek mau keluar !”

“Keluarriiiin yang banyak sayang, keluarin semuanya didalam pantat Bunda.” Bunda mengeram, begitu juga dengan diriku.

Dan… Croott… seerrrr… crottt… seerrr… secara bersamaan kami mengakhiri permainan ini dengan mendapatkan klimaks yang sangat luar biasa.

Perlahan kucabut penisku dari lobang anusnya diiringi lelehan sperma yang tadi sempat memenuhi liang anusnya.

Gilaaaa…. ini benar-benar gila, aku baru saja menyodomi Ibuku sendiri dan Sumpah rasanya nikmat sekali, aku akan mencobanya lagi nanti, mungkin tidak hanya dengan Bunda, bisa jadi dengan yang lainnya juga.

Kurebahkan tubuhku disamping tubuhnya, tak terasa mataku mulai terasa berat, hingga akhirnya akupun tertidur disampingnya.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*