Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 16

Bundaku 16

Cerita Sebelumnya : Bundaku 15

Part 16

Aku terbangun ditengah malam, kulihat disampingku Kak Nurul tampak sibuk memainkan hpnya, sesekali ia terseyum, lalu detik berikutnya ia tampak begitu gemas. Sepertinya Kak Nurul sedang sibuk bermain game di hpnya.

Memang secara bergantian mereka datang menjagaku, ada yang jaga siang ada juga yang jaga malam, kalau pagi itu bagian Bunda yang menjagaku. Dan malam ini giliran Kak Nurul yang datang menjagaku. Terkadang aku merasa beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangiku.

“Eh uda bangun Dek ?” Kak Nurul segera meletakan hpnya kedalam saku piyamanya.

“He em… Kakak sudah lama datangnya.” Tanyaku, hanya sekedar berbasa-basi.

“Iya, dari jam tujuh tadi waktu kamu masih tidur. Eh… gimana keadaan kamu, udah mendingan ?” Tanyanya sambil meletakan punggung tangannya diatas keningku.

“Alhamdulillah udah agak baikan.”

“Bagus deh, cepet sembuh ya sayang, soalnya dirumah sepi kalau gak ada Adek.” Goda Kak Nurul seraya terseyum kepadaku.

Lalu kamipun kembali terdiam ketika ada suara pesan masuk di hpnya.

Cukup lama aku memperhatikan dirinya, baru beberapa hari tidak bertemu aku sudah merasa begitu kangen kepadanya, biasanya sepulang sekolah aku selalu menyempatkan diriku untuk bermanja-manja kepadanya, tapi beberapa hari belakangan ini aku tak bisa melakukannya.

Selesai membalas pesan di hpnya, Kak Nurul segera memasukan Hpnya kedalam saku piyama tidurnya.

“Kak, aku mau pipis.” Ujarku.

“Sini biar Kakak bantu !” Katanya, sambil memegangi tanganku saat aku ingin turun dari tempat tidurku, saat ia berusaha menahan tubuhku agar tidak terjatuh, tanpa disengaja payudarahnya yang kenyal menekan lenganku.

“Apa tuh Kak empuk banget !” Godaku, duh… sudah lama aku tidak menggodanya, lalu Kak Nurul membalasnya dengan mencubit perutku.

“Masih sakit udah berani nakal ya hihi”

“Habis malam ini Kakak sangat cantik sekali, jadi pengen gitu-gituan sama Kakak.”

“Gitu-gituan gimana ? Ih… Kakak gak ngerti ah.” Ia mengerenyitkan dahinya, membuatku semakin gemes kepadanya.

Perlahan dengan dibantu Kak Nurul aku masuk kedalam kamar mandi, lalu tiba-tiba Kak Nurul menutup pintu kamar mandi. Kami saling berpandangan, entah siapa yang memulai duluan tiba-tiba bibir kami sudah saling menyatu.

Segera kepeluk tubuhnya dengan sangat erat, tanganku bergerak meremas-remas pantatnya dari balik celana yang ia kenakan.

Lalu Kak Nurul menurunkan celana piayamanya sekaligus celana dalamnya sebatas lututnya, sehingga aku dapat melihat vaginanya yang ternyata sudah dicukur habis hingga botak. Kak Nurul membelakangiku sambil sedikit menunggingkan pantatnya.

“Buruan sayang nanti orang diluar curiga.” Pinta Kak Nurul.

Ya benar, aku dirawar dikelas dua sehingga diruangan ini aku tidak tinggal sendirian, melainkan bersama 2 orang lainnya. Tidak heran kalau Kak Nurul khawatir kalau pasien yang lainnya curiga melihat kami berlama-lama didalam kamar mandi.

Aku tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, aku berjongkok lalu dengan kedua tanganku aku membuka kedua lipatan pantatnya sehingga aku dapat melihat anus dan bibir memeknya yang sudah sangat basah.

Jujur siapapun melihat keadaan Kak Nurul saat ini pasti akan ikut terangsang. Dia berdiri dengan pose sedikit menungging, pakaian atasnya masih lengkap, kerudung putih dan piyama putih masih melekat ditubuhnya, tapi dibagian bawahnya, celananya sudah melorot hingga sebatas lututnya, menampakan pantatnya yang bahenol.

“Aaahkk… jilat lebih dalam sayang.” Rintihnya saat aku mulai menjilati bongkahan pantatnya.

Sapuan lidahku bergerak menelusuri belahan pantatnya, lalu berhenti tepat dianusnya, entah kenapa aku tidak merasa jijik menjilati anusnya, bahkan aku sengaja menusukkan lidaku disana, mengorek-ngorek anusnya dengan lidahku, sementara tanganku menggosok-gosok memeknya yang terasa semakin basah.

Tok… tok… tok…

“Maaf yang didalam sudah selesai belum ya ?”

Kami berdua saling berpandangan. Sial, padahal baru saja mau mulai tapi sudah ada gangguan dari luar.

Kak Nurul meletakan jari telunjuknya didepan bibirnya, memberi tanda kepadaku agar aku tetap diam dan melanjutkan aksinya, aku mengangguk setuju, persetan dengan mereka yang berada diluar.

Aku kembali melanjutkan aksiku, menjilati anusnya, lalu turun menjilati memeknya. Sementara kedua jariku bergerak cepat keluar masuk dari lobang memeknya.

Entah kenapa kondisi seperti ini membuatku semakin bergairah, rasa takut ketahuan membuatku malah semakin bersemangat.

“Kakak sudah siap ?” Bisikku, Kakak Nurul mengangguk sambil menutup mulutnya dengan tangan agar suara desahannya tidak sampai terdengar keluar.

Lalu perlahan kudorong terpedoku masuk kedalam memeknya. Aaah… nikmat sekali rasanya, memek Kak Nurul terasa begitu hangat tidak kalah nikmatnya denga memek Bundaku.

“Hallo… uda kebelet ni.” Lagi suara di luar mengganggu kami.

“Sebentar Mas !” Jawabku sembari menggoyang pinggulku maju mundur, menghentak pantat Kak Nurul.

“Cepet sayang… Aahkk… aahkj… ” Kak Nurul ikut menggoyang pantatnya, menyambut setiap sodokan penisku.

Kupegangi pinggulnya sambil berkonsentrasi penuh menikmati setiap gesekan kulit kontolku dengan dinding memeknya, sesekali tak sadar aku menceracau tak jelas menikmati persetubuhan kami.

Puas bermain dari belakang, aku meminta Kak Nurul menghadap kearahku, lalu satu kakinya kuangkat dengan lenganku sembari kembali memasukan kontolku kedalam memeknya.

Diposisi ini aku dapat melihat wajahnya yang yang sedang terbakar nafsu.

Duh melihat Kak Nurul yang masih mengenakan kerudung membuatku semakin bernafsu. Tangan kananku mulai nakal membelai dadanya dari luar, lalu bibirku kembali melumat bibirnya, aahk… rasanya nikmat sekali.

“Mass… buruan !” Deg… aku benar-benar terkejut mendengar teriakan orang yang berada diluar sampe-sampe ciuaman kami terlepas sanking kagetnya.

Gak sabaran banget ni orang, gak tau apa aku lagi enak-enaknya ngentotin Kak Nurul.

“Iya Mas, ini aku lagi sakit perut.” Balasku dengan nada yang kubuat tidak kalah tiinggi. Kak Nurul cekikikan melihatku yang mulai emosi.

“Udah gak usah diduliin, ayo entot Kakak lebih dalam sayang.” Bisik Kak Nurul, sambil melingkarkan tangannya dileherku.

Pinggulku kembali bergerak cepat menyodok memeknya, sementara bibir kami kembali menyatu, lidah kami saling membelit mesrah, tak lama kemudian aku merasakan sesuatu yang ingin meledak di ujung kontolku.

“Kak Adek mau keluar.” Bisikku lirih.

“Ayo sayang, barengaaan… Kakak Juga mau keluar.”

Kurasakan jepetin memek Kak Nurul semakin kuat, membuatku akhirnya menyerah dan menumpahkan seluruh spermaku kedalan rahimnya, begitu juga dengan Kak Nurul, dia mengerang, kakinya gemetaran ketika orgasme itu menghantam dirinya.

“Nikmat sayang.” Desahnya.

***

Buru-buru kami merapikan diri kami masing-masing, lalu dengan satu tarikan nafas aku membuka pintu kamar, tepat didepanku tampak seorang pemuda melongok melihat kami berdua keluar dari dalam kamar mandi.

Kak Nurul sepertinya tidak risih dengan tatapan curiga dari sang pria, ia tetap menggandengku menuju ranjangku.

Aku kembali tiduran diatas tempat tidurku, sekilas kami sempat kembali berpandangan lalu tersenyum berbarengan, ini gila mengingat apa yang telah kami lakukan barusan, bercinta didalam kamar mandi rumah sakit.

Pengalaman menegangkan ini tak akan perna kulupakan seumur hidupku.

***

Syukurlah ternyata lukaku tak begitu parah, setelah empat hari menginap dirumah sakit, aku sudah diperbolehkan pulang.

Kulihat Bunda dan Kak Vera sibuk membereskan perabotanku, selama aku dirumah sakit memang hanya mereka berdua yang telaten datang menjengukku, sementara yang lain hanya sesekali saja datang menjengukku, itupun tak lama, kecuali Kak Nurul yang sempat menginap semalam menjagaku.

“Sayang ada telpon dari Ayah.” Ujar Bunda sambil menyerahkan handpone genggam miliknya kepadaku.

“Halo Yah… ”

“Iya, alhamdulillah sudah baikan, hari ini adek pulang, Ayah kapan pulang.”

“Kalau pulang jangan lupa bawak oleh-oleh ya.”

“Waalaikumsalam.” Tutupku, lalu mengembalikan handpone tersebut kepada Bunda.

Aku kembali tiduran diatas ranjangku, ketika Bunda sibuk mengurus admistrasiVera dan menebus obatku, sementara Kak Vera diminta untuk menemaniku.

“Kamu kenapa Dek, kok senyum-senyum sendiri ?”

“Seneng aja Kak, kan bentar lagi pulang.”

“Duh seneng banget kayaknya yang mau pulang hihi !” Ujar KakVera sambil mengucek-ngucek rambutku, aku hanya tersenyum membalas guraiannya.

Tak lama kemudian Bunda kembali masuk kedalam ruangan tempat aku dirawat.

“Ayo sayang, taksinya sudah nunggu dibawah.” Ajak Bunda sambil mengangkat koperku.

“Beneran ni Bunda Adek sudah boleh pulang ?” Tanyaku masih sulit untuk percaya kalau hari ini aku sudah diperbolehkan pulang.

“Ya beneran dong sayang, emang kenapa ? kamu masih mau tinggal disini ?” Ledek Bunda.

“Eh…gak deh Bun, makasi… ” Jawabku, lalu buru-buru aku turun mengajak Bunda dan Kak Vera untuk segera meninggalkan rumah sakit. Kak Vera hanya tertawa melihat tingkahku yang kekanak-kanakan.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*