Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 15

Bundaku 15

Cerita Sebelumnya : Bundaku 14

Part 15
****

Perlahan kubuka mataku, samar-samar kulihat beberapa orang berpakaian putih-putih tanpa mengelilingiku, apakah mereka semua malaikat ? Apakah aku sudah mati ? tidak aku masih hidup, aku merasakannya walaupun tubuhku tak meresponnya.

Oh iya aku ingat, malam itu aku sedang bercumbu dengan Bunda, lalu tiba-tiba aku mendengar teriakan salah satu penghuni kos, lalu aku keluar meninggalkan Bunda, dan mengejar sang pencuri.

Entalah aku merasa ada yang aneh dari peristiwa beberapa pekan terakhir. Untuk keempat kalinya rumah kami didatangi pencuri, dan anehnya hanya rumah kami saja yang mereka datangi, sementara rumah tetangga lainnya tidak mengalaminya.

Seseorang berseragam serba putih memegang tanganku lalu kurasakan sesuatu menempel dilenganku, rasanya dingin dan sedikit sakit, setelah itu aku kembali tak sadarkan diri.

***

“Sayang kamu sudah sadar ?”

Kembali kubuka mataku, kulihat Bunda duduk disampingku, ia nenatapku dengan raut wajah yang ditekuk, kulihat kantung matanya tampak membengkak menandakan kalau ia baru saja menangis. Ah… akhir-akhir ini aku slalu saja membuatnya menangis.

“Bunda… aku dimana ?”

“Kamu dirumah sakit sayang, kamu aman disini jangan khawatir.”

“Bagaimana dengan pencuri itu ? Kak Vera ? Putri ?” Tanyaku lirih, terakhir yang kuingat Kak Vera dan Putri mereka berdua melompat kesungai menyusulku, setelah itu aku tidak ingat apapun.

“Kak Vera sama Putri baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir.” Jelas Bunda, membuatku merasa lega.

Tak lama kemudian pintu kamarku terbuka, lalu dua orang wanita lengkap dengan seragam sekolahnya Putih Hijau berjalan mendekati kami, Kak Vera tanpa membawakanku sesuatu.

“Gimana kabarnya Dek ?” Tanya Kak Vera sembari menata buah buahan diatas piring yang berada diatas lemari kecil tepat disamping kiriku.

“Terimakasih Kak.”

“Sama-sama sayang, cepat sembuh ya.” Ujar Kak Vera, aku terseyum sambil mengangguk lemah.

“Kak… !”

“Iya, ada apa ?” Tanya Kak Vera sambil membelai rambutku.

“Pencurinya ketangkap ?” Tanyaku, saar itu raut wajah Kak Vera berubah, sedikit ada kecemasan diwajahnya.

“Jangan terlalu dipikirkan ?” Jawabnya singkat, lalu kembali terseyum seperti semula, sebuah seyumannya yang akan selalu kurindukan.

“Oh ya Kak, soal kemarin terimakasih ya… kalau gak ada Kakak mungkin adek sudah mati.”

“Huss… gak usah ngomong kek gitu, ini juga berkat bantuan Putri, kalau gak Putri mungkin kita berdua yang mati.” Kata Kak Vera sambil melirik Putri yang tersipu malu.

“Ya uda deh, kalau gitu Kakak tinggal dulu ya.” Lalu Kak Vera pergi meninggalkan kami berdua.

***

Rasanya aneh berada disatu ruangan bersama Putri setelah beberapa hari terakhir tidak saling sapa. Kulihat Putri tanpak sibuk mengupas kulit jeruk, jari-jarinya tanpak begitu lihai mengupas kulit jeruk tersebut.

“Ni… ” Katanya menyodorkannya kearahku, aku segera memakan jeruk tersebut.

“Put, makasih ya sudah mau nolongin aku kemarin, kalau gak ada kalian aku gak tau apa yang akan terjadi kepadaku.”

“Makanya lain kali jangan sok jagoan.”

“Hehehe… Habis malingnya ngejengkelin, kok cuman rumah kami yang kemalingan.” Kataku tak habis pikir dengan apa yang terjadi belakangan ini.

“Sudah ah gak usah ngomongin maling, Oh iya… tadi kamu ditanyain Umi Karimah, katanya kenapa kamu jumad kemarin gak datang kerumahnya.”

Eh… aku baru ingat kalau kemarin aku dihukum karena tidak mengumpulkan tugas, dan sebagai hukumannya aku dsuruh membersihkan perkarangan rumahnya. Gara-gara asyik dengan Bunda aku jadi lupa hukumannya.

Mungkin nanti sepulang dari rumah sakit aku akan menemui beliau.

“Gimana hubungan kamu dengan Bang Fuad, kayaknya kalian makin deket aja deh.” Singgunggku.

“Kenapa, cemburu ?” Ledeknya.

“Ngapain cemburu gak penting.”

“Ya sudah kalau gak penting gak usah nanya, Aldi nyebelin.” Katanya, lalu berdiri pergi meninggalkan aku.

Eh, dianya marah… Aku berusaha memanggilnya kembali tapi Putri tak memperdulikanku, sepertinya aku salah ngomong.

Sepi… Kini aku sendirian diruangan ini, ternyata begini rasanya tinggal dirumah sakit, apa lagi kalau ditinggal sendirian seperti saat ini. Mending aku tidur lagi saja.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*