Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 14

Bundaku 14

Cerita Sebelumnya : Bundaku 13

Part 14

Aku terus berlari, sesekali aku melompat melewati akar-akar pohon yang memang berukuran besar, kulihat mereka berdua berlari mencoba menyeberangi sungai, aku tidak mau kalah, aku mencoba ikut menyebrangi sungai.

Sial… gara-gara mereka aku terpaksa menunda kesenanganku dengan Bunda, kali ini mereka tak akan kubiarkan lolos.

Mereka berdua telah berhasil menyebrangi sungai, sementara aku masih berjibaku dengan derasnya air sungai, jujur aku sendiri mulai kelelahan.

“Akhirnya sampe juga.” Gumamku, sambil mengatur nafas.

Jarakku dengan mereka kini tak lebih dari 10 meter, mereka berdua berdiri didepanku sambil berkacak pinggang. Besar juga nyali mereka, sepertinya mereka tidak takut mati dikroyok orang sekampung.

“Kenapa ? Hayo sini maju… ” Tantangnya.

Aku tersenyum sinis, lalu aku menoleh kebelakang meminta bantuan para tetangga yang ikut denganku barusan. Eh… Loh kok gak ada orang ? kemana mereka pergi, apa jangan-jangan… Shitt… ! Aku tidak menyangkah ternyata mereka tertinggal diseberang sungai.

Huh… ternyata mereka takut menyebrangi sungai yang memang arusnya cukup deras.

“Bajingan… !” Geramku, tapi jujur aku takut, kini aku sendirian, mengingat mereka berdua jelas perbandingan kekuatan kami sangat berbeda.

Bunda apa yang harus kulakukan sekarang ?

“Hajar Beng.” Ujar pria satunya.

Orang yang dipanggil Beng berjalan mendekatiku, dan entah kenapa tubuhku gemetar, kedua kakiku tak mau digerakan, bahkan untuk mengepalkan kedua tangankupun tak sanggup. Oh… tuhan apakah aku harus mati disini.

Beng, menarik kerah bajuku sambil mengangkat kepalan tinjunya, lalu husss… tinju itu tepat mengenai wajahku, saat aku akan tumbang ia menahan tubuhku, lalu dengan gerakan yang sangat cepat dia mengangkat tubuhku keudara.

Sesaat aku merasa melayang diudara lalu dalam hitungan detik tubuhku terhempas kembali ketanah.

“Aawww… ” Aku menjerit, tulang pinggangku terasa mau patah.

“Masih mau sok jadi jagoan hah !” Bentaknya, lalu sebuah tendangan melayang keperutku beberapa kali membuatku muntah darah.

“Dasar anak tak tau diri, berani melawan orang tua, sudah bosan hidup ya… ”

“Anjiiing… Kalian sampah masyarakat tidak pantas hidup di dunia ini.” Kataku sembari menahan rasa sakit di perutku.

“Hahaha, dasar bocah ingusan, sudah mau mati masih bisa mengoceh. Sepertinya bocah ini sudah benar-benar bosan hidup.” Lagi tendangan mendarat diperutku.

Tidak sampai disitu saja, dia kembali menarik kerah bajuku hingga tubuh bagian atasku terangkat, lalu kepalan tinju itu kembali menghantam wajahku beberapa kali hingga aku nyaris kehilangan kesadaranku.

“Buang saja kelaut Beng.” Ujar pria yang berdiri tak jauh dari kami, sepertinya dia adalah bosnya.

Beng kembali mengangkat tubuhku, lalu membawaku kepinggiran sungai, tapi ditepian yang berbeda dari tempatku datang sebelumnya. Sekilas aku melihat aliran sungai yang deras, sepertinya disinilah akhir hidupku. Oh Tuhan, maafkan dosaku selama ini.

Seperkian detik sebelum ia melemparku kesungai, tiba-tiba tubuhku terlepas dari genggamannya, kulihat seorang berdiri dengan pose menendang keatas. Sepertinya dia baru saja menendang punggung pria tersebut tanpa disadari Beng.

Apakah aku selamat ? Tidak… tubuhku terjatuh lalu menggelinding kepinggiran sungai, dengan sisa-sisa kekuatanku aku mencengkram rerumputan yang ada disekitar pinggiran sungai, dan aku berhasil menghentikan laju tubuhku tepat ketika ujung kakiku menyentuh air sungai.

“Berengsek… ” Kudengar seorang pria berteriak lantang.

Lalu dari sudut mataku mereka berdua, tidak… mereka bertiga terlibat perkelahian sengit, Beng mencoba memukulnya, tapi wanita itu dengan gesit mengelak tinjuannya, lalu wanita itu berputar dan membalas meninju pria tersebut dan tepat… pukulannya kena telak diwajah Beng hingga ia tersungkur.

Melihat rekannya terjatuh, pria yang kukira bos segera mencabut goloknya.

“Mati kau sekarang… ”

Si Bos melayangkan goloknya, wiiss… golok itu hanya menerpa angin, karena sebelum golok itu menebas lehernya, si wanita sempat menunduk lalu memutar tubuhnya dan langsung melayangkan tendangannya, tapi ternyata si Bos cukup cekatan, dia berhasil menangkis tendangan wanita tersebut dengan tangan kirinya.

Kini pertarungan terlihat seimbang, beberapa kali kulihat mereka saling jual beli serangan. Kini Beng juga ikut bertarung, dia bangkit lalu melakukan tendangan memutar, si wanita tidak sempat mengelak sehingga tendangan itu masuk keperutnya.

Oh Tuhan wanita itu terjatuh dan si Bos sudah siap mengayunkan goloknya, tapi keajaiban kembali terjadi, ketika golok itu nyaris menghunus perutnya, tiba-tiba datang sebuah tendangan yang memaksa golok itu terlepas dari genggamannya.

Tidak sampai disitu saja, wanita yang baru saja datang itu langsung menghujamkan bogem mentahnya tepat mengenai wajah si Bos hingga diapun tersungkur.

Kini keadaan kembali berbalik, mereka berdua tanpak kewalahan menghadapi kedua perempuan itu.

Sreek… Sial rumput yang kugenggam sekarang sedikit demi sedikit tercabut hingga setengah tubuhku kini terendam air sungai, sementara pertarungan belum juga usai.

Saat aku berkonsentrasi dengan genggamanku, ternyata mereka berdua berhasil menjatuhkan para maling di rumahku hingga tak sadarkan diri. Apa semuanya telah berakhir…

“Aldi… ulurkan tanganmu.” Kudengar suara wanita diatas sana berteriak cukup lantang.

Aku mencoba menyambut uluran tangannya, tapi sayang tanganku gagal menggapai tangannya walaupun aku sudah berusaha semaksimal mungkin.

“Ayo Dek… Kakak yakin kamu bisa.” Katanya memberiku semangat, kembali aku mencobanya tapi lagi-lagi aku gagal menyambut uluran tangannya.

Tapi aku tidak mau menyerah, aku diam sejenak mengumpulkan seluruh kekuatanku, lalu dengan satu kali sentakan aku mendorong tubuhku hingga jangkauan tanganku lebi tinggi lagi.

Berhasil… Aku berhasil menyambut tangannya, kulihat ada kepuasan dari wajah mereka berdua, lalu wanita itu dengan sekuat tenaga menggenggam tanganku dan mulai menarik tanganku.

Tubuhku sedikit terangkat tapi… Sial ! Genggamannya terlepas, aku kembali terperosok, bahkan kini keseimbangan tubuhku hilang.

“Hayo coba lagi Dek.” Panggilnya khawatir.

Aku mencoba mengulanginya lagi, kukumpulkan kembali sisa kekuatanku lalu dengan satu kali sentakan kudorong tubuhku keatas, tanganku berusaha menggapai tangannya, tapi gagal, aku sudah tidak punya kekuatan lagi.

“Lakukan sekali lagi, dan kali ini kita pasti berhasil.” Katanya, aku membalasnya dengan seyuman, aku tau ini tidak akan berakhir.

“Kumohon jangan menyerah, kamu pasti bisa… Kumohon !” Ujar wanita satunya lagi, yang tadi hanya diam, kulihat dikegelapan anak perempuan itu menangis, ia tanpak begitu khwatir. Maafkan aku…

Apa yang terjadi kepadaku, aku seorang pria, seharusnya akulah yang melindungi mereka, tapi kini menolong diri sendiripun aku tak mampu. Seandainya aku bisa, seandainya aku punya kekuatan, akan kusambut uluran tangan mereka, tapi aku tak punya kekuatan itu, dan sepertinya inilah akhir perjalanan hidupku. Ibu aku akan menyusulmu di syurga, semoga kita di pertemukan.

“Maaf… aku tidak bisa.” Kataku tanpa suara, hanya gerakan bibirku saja yang terlihat.

Perlahan genggaman tanganku mulai melemah, hingga akhirnya benar-benar terlepas. Bunda… Kak Liza, Kak Sifa, Kak Peni, Kak Santi, Kak vera, Kak Nurul, Putri… dan yang lainnya, selamat tinggal maafkan aku karena tidak bisa menjadi yang terbaik buat kalian.

Byuuuuuurrrrrr…..

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*