Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 13

Bundaku 13

Cerita Sebelumnya : Bundaku 12

Part 13

Alarm jam diatas meja belajarku berbunyi nyaring, itu artinya saat ini sudah jam 7 pagi. Biasanya kalau bukan hari libur jam alarmku akan berbunyi di jam 5 pagi, tapi karena ini hari jum’ad, maka jam alarmku akan berbunyi tepat pada jam 7 pagi.

Catatan, hari libur disekolahku berbeda dengan hari libur pada umumnya, biasanya hari libur sekolah tepat di hari minggu, tapi disekolahku, hari libur berada di hari jum’ad.

Kulihat pintu kamarku terbuka, lalu dengan jari-jarinya yang lentik Bunda mematikan alarmku.

“Pagi Bunda !” Sapaku, sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku.

“Hayo buruan bangun sudah siang.” Jawab Bunda yang akhir-akhir ini menurutku sangat berbeda dari biasanya.

Setelah itu Bunda hendak meninggalkan kamarku, tapi aku buru-buru menghentikannya. Aku segera bangkit mengejarnya, tepat ketika ia ingin membuka kamarku, aku memeluknya dengan sangat erat, Bunda yang kaget berusaha memberontak, tapi pelukanku yang erat membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.

“Lepaskan Aldi.” Katanya setengah berteriak.

“Maaf Bunda… maafin Adek, kemarin Adek benar-benar khilaf, Adek mohon Bunda jangan marah lagi.” Kataku sambil terisak, jujur beberapa hari ini dadaku terasa sakit, aku masih sulit menerima kenyataan kalau saat ini Bunda sangat marah.

Mendengar permohonanku Bunda berhenti memberontak, bahkan kini tubuh Bunda terguncang, lalu disusul dengan suara isak tangis. Tidak… apa Bunda menangis ? Oh tuhan, apa yang telah kulakukan, kenapa aku selalu membuatnya bersedih.

Kulepas pelukanku, lalu Bunda berbalik menghadapku, tapi yang kulihat berbanding kebalik dari yang kuperkirakan, Bunda terseyum, walau matanya berair.

“Kamu tidak salah sayang, tidak ada yang salah apa yang telah kamu lakukan sama Bunda, karena… karena Bunda juga menginginkannya.” Aku terperangah mendengarnya, kulihat wajah Bunda merah padam menahan sesuatu.

Lalu Bunda berjalan melewatiku, duduk ditepian ranjangku. Ia menepuk kasurku, memberi kode kepadaku untuk duduk disampingnya, aku mengikuti keinginannya lalu duduk disampingnya, Bunda memegangi tanganku sambil menatapku.

“Ma… maksud Bunda ?” Kataku tak yakin dengan apa yang kudengar barusan.

“Bunda tau ini gila, tapi sebelum Bunda membahas masalah yang kemarin, ada yang ingin Bunda sampaikan kepadamu, Bunda berharap kamu tidak marah. Sudah saatnya Bunda ingin berkata jujur kepadamu, dan Bunda berharap kamu bisa mengerti.” Aku mengangguk harap-harap cemas menunggu penjelasan Bunda. “Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung Bunda… ” Deg ! Ini pasti bohong.

Rasanya, bagaikan disambar gledek saat aku mengetahui ternyata aku bukanlah anak kandungnya, lalu siapa orang tua kandungku ? kenapa selama ini mereka merahasiakannya dariku.

Seharusnya aku sudah tau masalah ini, karena jujur saja diriku sama sekali tidak ada kemiripan dengan mereka, baik itu dari bentuk wajah maupun postur tubuhku.

“Maafkan Bunda karena telah merahasiakan ini darimu.” Katanya, kemudian dia merangkulku dan memelukku.

“Bunda bohongkan ?”

“Tidak sayang, Bunda jujur apa adanya… kamu bukanlah anak kami, tapi bagi kami kamu seperti anak kami sendiri.”

“Lalu kenapa aku ada disini, dan siapa orang tua kandungku ?” Aku mencecar beberapa pertanyaan kepadanya.

Bunda menarik nafas panjang, lalu diapun mulai bercerita tentang asal usulku. “Ibu kandungmu meninggal tepat saat melahirkan dirimu, saat itu Bunda sendiri yang mengantarkan kepergian alm Ibumu, sebelum beliau meninggal, ia sempat berpesan kepada Bunda untuk menjaga dan merawatmu seperti anak Bunda sendiri. Itulah alasannya kenapa kamu ada bisa berada disini, maafkan Bunda karena selama ini tidak perna jujur kepadamu” Bunda berhenti sejenak.

“Nama Ibumu Kurniawati, sedang Ayahmu bernama Idris, saat kami mengambilmu, Ayahmu seorang pengangguran, jadi tidak mungkin Ayah kamu bisa merawatmu.”

“Apa Ayah kandungku sampai saat ini masi pengangguran ?”

“Tentu saja tidak, ia sudah berpenghasilan sekarang dan dia juga sudah menikah kembali dengan seorang wanita.”

“Lalu kenapa aku tidak dikembalikan ?”

“Ini amanah dari Ibumu, dia meminta Bunda untuk tidak menyerahkanmu ke Ayah kandungmu. Maafkan Bunda, tapi Bunda berjanji akan membawamu menemui Ayah kandungmu.” Katanya sambil sesekali menyeka air matanya.

“Bunda siap kalau nanti harus kehilangan kamu.” Jelasnya.

Saat ini hatiku menjadi tidak menentu, disisi lain aku sangat kecewa, tapi di sisi lainnya aku merasa tidak sanggup kalau harus berpisah dengan mereka.

“Tidak Bunda… Pengakuan Bunda memang membuatku merasa sangat kecewa, tapi kalau harus berpisah dari Bunda, tentu Adek tidak akan sanggup.” Kuangkat kepalaku, kutatap matanya. “Bagi Adek, Bunda adalah Bunda, tidak akan ada yang bisa menggantikan Bunda di hati Adek.” Tidak disangkah ucapanku membuat Bunda semakin menangis.

Apa yang kukatan memang benar adanya, selama ini merekalah yang merawatku, mendidiku hingga aku sebesar ini, tapi ada satu hal yang mengganjal hatiku, kenapa Bunda baru menceritakannya ? kalau memang benar Bunda merahasiakan identitasku yang sebenarnya, kenapa Bunda akhirnya menceritakan yang sebenarnya tentang diriku ? Bunda ada apa sebenarnya ?

“Kenapa Bunda baru menceritakannya sekarang ?” Tanyaku.

“Karena Bunda merasa, ini adalah saat yang tepat bagi Bunda untuk meberi tahumu yang sebenarnya.”

Lalu disaat aku masih dibingungkan oleh jawaban Bunda, tiba-tiba Bunda berdiri dan melepas kerudungnya, membiarkan rambut hitamnya tergerai indah. Tidak sampai disitu saja, Bunda melucuti gaun tidurnya, hingga ia hanya mengenakan pakaian dalam serba hitam yang melekat ditubuhnya.

“Apa yang kamu katakan kemarin benar adanya, Bunda kesepian sayang, Bunda butuh kamu untuk memuaskan hasrat seks Bunda yang terpendam selama ini.”

“Maksud Bunda ?”

“Bunda tau ini dosa, tapi setidaknya kita tidak melakukan hubungan sedarah atau biasa disebut incest, karena kamu bukan darah daging Bunda.” Ujarnya lalu terseyum.

Aku hanya diam seribu bahasa saat tiba-tiba Bunda duduk lalu mencium bibirku, tangan kanannya menyelusup masuk kedalam celana tidurku, mencari-cari kontolku lalu tangannya yang lembut mulai bergerak naik turun mengocok kontolku.

Akupun mulai hanyut dengan permainannya, aku membalas lumatan bibirnya, tanganku bergerak kedadanya, kuremas kasar tapi sangat teratur.

Bunda melepas lumatannya di bibirku, lalu dia berjongkok sambil menarik lepas celanaku hingga kontolkupun terbebas, dia kembali mengocok kontolku, tapi kali ini diiringi dengan sapuan lidanya di lobang kencingku. Uuhh… rasanya ngilu tapi enak sekali.

Bibir seksinya terbuka, lalu melahap kontolku, kurasakan hisapan mulutnya yang begitu nikmat.

“Bundaa… Aakkk… enaaak !” Aku meracau tak jelas sambil memegangi kepalanya.

“Hisap terus Bunda, Yaa… ngilu Bunda, aaampuuun… Ooo… ooo… ” Rintihanku semakin kencang ketika Bunda dengan kasarnya meremas kantung pelirku.

Tubuhku terasa meleleh, walau sedikit sakit tapi rasanya begitu nikmat, Bunda begitu pandai meransangku membuatku akhirnya menyerah, dan sedetik kemudian aku menumpakan lahar panasku kedalam mulutnya. Sembari terseyum Bunda menelan sisa spermaku yang menempel di pinggiran bibirnya yang merekah.

Bunda naik keatas tempat tidur, lalu dengan gaya yang menantang ia berbaring disampingku.

Kubalas kau Bunda. Walau tubuhku masih lemas, aku segera bergerak menindih tubuh Bunda, bibirku menciumi sekujur wajahnya, dan tak luput aku mengulum bibirnya, menghisap dan membelit lidahnya.

“Aahkk… Eehmmpp… ” Rintihan Bunda yang membuatku semakin bersemangat.

“Ini balasannya kalau berani nantangin Aldi.” Bisikku, lalu kutarik branya hingga putus.

“Aawww… ” Bunda berteriak ketika pelindung payudarahnya putus hingga payudarahnya yang besar sempat terguncang.

Untuk kesekian kalinya aku terperangah melihat payudarahnya, putting yang besar sebesar ujung tutup spidol sangat menggodaku, tak butuh lama aku segera melahapnya, menghisap puttingnya yang begitu menggemaskan.

Tangan kananku turun kebawah, kubelai lembut pahanya, lalu naik hingga keselangkangannya, kudapatkan celana dalam Bunda yang sudah teramat basah.

“Aahkk… ” Lenguhan Bunda.

Gerakan jariku yang meggesek-gesek bibir vaginanya membuat Bunda sangat terangsang, kaki kirinya yang jenjang menekuk, lalu menekan jariku agar semakin kuat menekan bibir vaginanya.

Puas bermain didadanya ciumanku pun turun keperutnya, lidaku menari-nari menggelitik perutnya, sementara kedua tanganku dengan kompak menarik celana dalamnnya, pinggul Bunda sedikit terangkat membantuku melepas celana dalamnya.

Perlahan matakupun menangkap rambut memek Bunda yang mengintip, cukup lebat tapi tertata rapi. Ketika celana dalam itu benar-benar melewati pantatnya, hidungku langsung dapat mencium aroma khas dari memeknya, aroma yang sangat menggairahkan bagi siapapun.

“Bunda… !” Panggilku dengan suara berat, lalu jari-jariku dengan perlahan memainkan bibir memeknya yang basah.

“Ughkk… ” Tubuhnya bergetar, matanya terpejam sambil menggigit bibir bawahnya, ekspresi wajahnya membuatku semakin terangsang, kontolku yang tadi sempat tertidur kini ia kembali terbangun.

“Sadar Bunda, ini salah !” Kataku mulai memancing emosinya.

“Aahkk… Adek jahat, Eehkk… ” Dia melenguh semakin panjang ketika kedua jariku menyeruak masuk kedalam memeknya, lalu dengan gerakan mencongkel, aku mengorek-ngorek liangnya.

“Jahat kenapa Bunda, aku anakmu, Bunda tidak boleh seperti ini, apa yang nanti dikatakan orang luar kalau tau Bunda ngentotin anaknya sendiri.” Lalu kembali kuciumi perutnya, tepat didekat permukaan memeknya.

“Sayaaang… Bunda tidak perduli apa yang dikatakan orang, entotin Bunda sekarang sayang.” Pintanya yang terdengar semakin memelas, tapi aku tidak ingin buru-buru.

Tangan kiriku meraih buah dadanya, lalu dengan kedua jariku aku mencubit puttingnya yang sudah mengeras.

Jilatanku kini turun kepermukaan memeknya, kujilati rambut hitam yang tanpak bergelombang, membuatnya terlihat basah dan sangat menggairahkan. Reflek Bunda menekuk kedua kakinya dengan posisi mengangkang, tangannya meraih kepalaku, mengarahkannya tepat diselangkangannya.

Kuturuti keinginannya, kujilati clitorisnya, kuhisap lembut clitorisnya diringi dengan kocokan jariku yang semakin cepat, hingga menimbulkan suara “kcipok.” yang terdengar begitu merdu.

“Oooo Tuhaaan aku keluar ” Pekik Bunda, punggunya terangkat lalu tiba-tiba kurasakan semburan hangat dari dalam memeknya.

***

Kulihat dada Bunda naik turun, mencoba mengatur nafasnya setelah berjuang mati-matian menghadapi orgasmenya.

Aku merengkak naik keatas tubuh Bunda, kedua tungkai kakinya kuangkat lalu kuletakan di pundakku. Dengan bantuan tangan kananku, kuarahkan terpedoku tepat dihadapan memeknya yang merekah, lalu perlahan aku menggesek-gesekkan kontolku dilipatan bibir memeknya.

“Bunda sudah siap ?” Tanyaku memburuh.

“Lakukan sayang, entotin Bundamu ini, memek Bunda sudah sangat gatal minta dientot oleh kamu.” Katanya berapi-api, sambil mencengkram kedua lenganku.

Perlahan kudorong kontolku, dan langsung disambut jepitan dinding memeknya, Aahk… rasanya begitu hangat dan nikmat.

“Adeeek… Aahk !”

“Bunda nakal, memeknya enak banget, kontol Adek kerasa kejepit.” Rengekku memejamkan mataku.

“Kontol kamu keras sayang ! Aaahkk… ”

Aku mulai menggerakan pinggulku maju mundur, lalu kedua tanganku kugunakan untuk kembali meremas payudarahnya, memainkan puttingnya yang begitu menggemaskan.

Akhirnya… akhirnya… aku bisa merasakan menyetubuhi Bundaku sendiri, sungguh apa yang terjadi hari ini terasa mimpi bagiku, aku tak menyangkah bisa ngentotin Bunda, mimpi yang kini menjadi kenyataan.

“Aaahkk… Aahkk… !”

“Bunda sayang Aldi, nikmatin tubuh Bunda sayang ! Aaahkk… ” Ujarnya lirih sambil merangkul leherku, lalu kamipun berciuman, lidah kami saling membelit.

Aku semakin mempercepat sodokanku, menikmati sensai kontolku yang sedang bergesekan langsung dengan dinding memek Bunda yang sedang menjepitnya sangat kuat sekali, tak lama kemudian kurasakan kontolku mulai panas, seperti ada sesuatu yang ingin meledak di bawa sana.

“Bunda aku mau keluar !” Kataku setengah berbisik.

“Keluarin didalam aja sayang.”

“Tapi… ?”

“Gak papa, kan ada Ayah kamu nanti yang bertanghung jawab.” Jawabnya sebelum sempat aku bertanya.

“Bundaaaaa… aku keluar !”

“Bunda juga sayang.”

***

Tubuhku ambruk kesamping tubuhnya setelah menguras sisa spermaku, sementara Bunda tetap seperti semula, dadanya naik turun mengikuti irama nafasnya.

Kutatap wajah Bunda, sepertinya kali ini tidak ada penyesalan diraut wajah Bunda, dia tampak begitu bahagia, membuatku benar-benar bahagia. Kupejamkan mataku, lalu perlahan rasa kantuk mulai menyerang kedua mataku.

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya antara aku dan Bunda setelah kejadian ini.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*